Anda di halaman 1dari 14

SEJARAH PERTANAHAN DI INDONESIA

LATAR BELAKANG

Sebutan agraria tidak selalu dipakai dalam arti yang sama. Dalam bahasa
latin ager berarti tanah atau sebidang tanah. Agrarius berarti perladangan,
persawahan, pertanian (Prent K. Adisubrata, J. Poerwadaminta, W.J.S.,1960,
Kamus Latin Indonesia, Yayasan Kanisisus, Semarang).
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1994, edisi kedua cetakan ketiga,
balai pustaka, departemen pendidikan dan kebudayaan, Jakarta) agrarian
berarti urusan pertanian atau tanah pertanian, juga urusan pemilikan tanah.
(balai pustaka, Jakarta).
Maka sebutan agrarian atau dalam bahasa Inggris agrarian selalu diartikan
tanah dan dihubungkan dengan usaha pertanian (blacks law dictionary,
1983, west publishing Co., St paul, minn.). sebutan agrarian laws bahkan
seringkali digunakan untuk menunjuk kepada perangkat peraturan-peraturan
hukum yang bertujuan mengadakan pembagian tanah-tanah yang luas dalam
rangka lebih meratakan penguasaan dan pemilikannya.
Di Indonesia sebutan agrarian di lingkungan administrasi pemerintahan
dipakai dalam arti tanah, baik tanah pertanian maupun non pertanian.
Tetapi agrarisch recht atau hukum agrarian di lingkungan administrasi
pemerintahan di batasi pada perangkat-perangkat peraturan perundang-
undangan yang memberikan landasan hukum bagi penguasa dalam
melaksanakan kebijakannya di bidang pertanahan. maka perangkat hukum
tersebut merupakan bagian dari hukum administrasi Negara.
Dengan mulai berlakunya UUPA terjadi perubahan fundamental pada hukum
agrarian di Indonesia, terutama hukum di bidang pertanahan, yang kita
sebut hukum tanah, yang dikalangan pemerintahan dan umum juga dikenal
sebagai hukum agraria.
Perubahan itu bersifat mendasar atau fundamental, karena baik mengenai
struktur perangkat hukumnya, mengenai konsepsi yang mendasarinya,
maupun isinya, yang dinyatakan dalam bagian berpendapat UUPA harus
sesuai dengan kepentingan rakyat Indonesia serta memenuhi pula
keperluannya menurut permintaan zaman.
Sebelum berlakunya UUPA berlaku bersamaan berbagai perangkat hukum
agrarian. Ada yang bersumber pada hukum adat, yang berkonsepsi
komunalistik religius. Ada yang bersumber pada hukum perdata barat yang
individualistic-liberal dan ada pula yang berasal dari berbagai bekas
pemerintahan Swapraja, yang umumnya berkonsepsi feodal.
A. Cultuur-stelsel

Adalah politik yang memaksa penduduk bangsa Indonesia menanam


tanaman yang diperintahkan oleh pemerintah agung. Contoh tanaman yang
diperintahkan adalah : gula, kopi, nila, dan sebagainya dan hasil-hasilnya
harus diserahkan kepada pemerintah
(verplichte,cultuurdiensten,contingenten en leverantien).
Culuurstelsel ini memberikan banyak kerugian bagi rakyat dan memberikan
keuntungan bagi pemerintah belanda, bumi putra yang memiliki tanah 1/5
harus ditanami dengan tanaman komoditi yang bisa di export jika tidak
memiliki tanah harus kerja rodi kurang lebih 66 hari dalam setahun.
Pada waktu tengah giat-giatnya dilaksanakannya apa yang dikenal sebagai
cultuur-stelsel (system tanam paksa) sejak tahun 1830, sangatlah terbatas
kemungkinannya bagi para pengusaha besar. Sejalan dengan politik
monopolo Negara dalam pengusahaan tanaman-tanaman untuk export, bagi
pengusaha besar swasta yang belum memiliki sendiri tanah yang luas
dengan hak eigendom, sebagai apa yang dikenal dengan sebutan tanah
partikelir, tidak ada kemungkinan untuk memperoleh tanah yang
diperlukannya dengan hak yang kuat dan dengan jangka waktu penguasaan
yang cukup lama.
Sebelum terbentuknya AW pada tahun 1870 satu-satunya cara yang terbuka
adalah menyewa tanah dari pemerintah.
Sebelum tahun 1839 memang ada tanah-tanah yang belum dikuasai dan
diusahakan oleh rakyat (tanah-tanah Negara yang kosong) yang disewakan
oleh pemerintah untuk usaha-usaha perkebunan swasta.
Tetapi sejak tahun 1839 sejalan dengan dilaksanakannya cultuur-stelsel,
tidak lagi diadakan persewaan baru. Baru dengan adanya RR 1854/pasal 62
ayat 3, secara tegas dibuka kembali kesempatan untuk menyewa tanah dari
pemerintah, yang peraturannya, dimuat dalam algemenee matregel van
bestuur (AMVB) yang diundangkan dalm S.I 856-64
Sementara itu, para pengusaha besar belanda di negeri belanda, karena
keberhasilan usahanya mengalami kelebihan modal. Karenanya memerlukan
bidang usaha baru untuk menginvestasikannya, mengingat bahwa masih
banyak tersedia tanah hutan di hindia belanda yang belum dibuka dan
diusahakan, maka sejak pertengahan abad 19, mereka menuntut
diberikannya kesempatan unruk berusaha di bidang perkebunan besar.
Sejalan dengan semangat liberalisme yang sedang berkembang, dituntut
penggantian system monopoli Negara dan kerja paksa dalam melaksanakan
cultuur-stelsel, dengan system persaingan bebas dan system kerja bebas,
berdasarkan konsepsi kapaitalisme liberal.
Tuntutan untuk mengakhiri system tanam paksa dan kerja paksa dengan
tujuan bisnis tersebut, sejalan dengan tuntutan berdasarkan pertimbangan
kemanusiaan dari golongan lain di negeri belanda, yang melihat terjadinya
penderitaan sangat hebat di kalangan petani di jawa, sebagai akibat penyalah
gunaan wewenang dalam melaksanakan cultuur-stelsel oleh para pejabat
yang bersangkutan.
Sebaliknya ada juga golongan yang ingin tetap melaksanakan system yang
ada, atas pertimbangan bahwa pelaksanaan cultuur-stelsel telah mampu
menyelamatkan negeri belanda, yang pernah mengalami krisis keuangan
sebagai akibat perang pemisahan dengan belgia di eropa dan perang
diponegoro di jawa. Golongan ini berpendapat bahwa cultuur-stelsel dan
monopoli Negara masih perlu dipertahankan sebagai sumber utama pengisi
schtkist negerinya, dari hindia belanda, sebagai dareah jajahan yang
merupakan wingewest.
Menurut van derventer jumlah keuntungan pemerintah dari tahun 1840-1875
ada 780.000.000 euro atau 22.000.000 tiap tahunnya . uangnya itu
dipergunakan oleh pemerintah belanda untuk mengadakan pembanguunan di
negerinya sendiri yang baru menderita kerusakan-kerusakan sebagai akibat
peperangan dengan belgia. Pemerintah sangat takut akan mendapat
persaingan yang hebat yang akan melenyapkan segala keuntungan jika
perusahaan-perusahaan partikelir di beri izin untuk berkembang di
Indonesia. Namun demikian dengan memuncaknya penderitaan rakyat,
kesengsaraan, kelaparan, berjangkitnya berbagai macam penyakit, kematian
dan laian-lain ditambah dengan serangan-serangan dalam majalah-majalah,
surat kabar dan juga parlemen belanda, pemerintah terpaksa lambat laun
mengubah haluan dan tunduk pada desakan-desakan itu.

B. Agrarische wet

Apa yang disebut agrarische wet adalah undang-undang (dalam bahasa


belanda disebut Wet) yang dibuat di negeri belanda pada tahun 1870.
agraische wet (aw) diundangkan dalam s 1870-55 sebagai tambahan ayat-
ayat baru pada pasal 62 regerings reglement hindia belanda tahun 1854.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, agrarische wet adalah merupakan
pokok yang terpenting dari hukum agrarian dan semua peraturan yang ada di
selenggarakan oleh pemerintah dahulu berdasarkan wet ini. Adapun istilah
isinya ialah memberikan kesempatan kepada perusahaan-perusahaan
pertanian yang besar-besar untuk berkembang di Indonesia dan hak-hak
tanahnya harus diperhatikan juga.
Dasar-dasar dalam agraische wet tersebut di follow-up yang tercantum
dalam keputusan s. 1870-118. pasal 1 dari keputusan agrarian mengandung
suatu dasar atau lazim di sebut asas umum tanah Negara atau pernyataan
umum tanah Negara. (algemeen domein beginsel atau algemeen
domeinverkalring) yaitu suatu pernyataan umum, bahwa semua tanah yang
tidak dapat dibuktikan sebagai hak eigendom adalah tanah milik (domein)
negara. Untuk menjaga jangan sampai bangsa Indonesia tidak mempunyai
tanah, sudah pasti akan menimbulkan banyak kesulitan bagi pemerintah.
Karena itu dengan S. 1875-179 diadakan larangan penjualan tanah dari
bangsa Indonesia kepada bukan bangsa Indonesia, karena peraturan-
peraturan tersebut sangat penting maka kita akan bicarakan lebih lanjut
dengan mengutip peraturan tersebut seluruhnya.
Akan tetapi penggarisan pemberian perlindungan hukum kepada rakyat
pribumi itu bukan merupakan tujuan AW. Tujuan AW adalah memberikan
dasar bagi berkembangnya perusahaan-perusahaan kebun besar swasta.
Dikhawatirkan bahwa dalam usaha dan kegiatan mengembangkan
perusahaan-perusahaan kebun besar tersebut memerlukan tanah yang luas,
hak-hak rakyat akan dilanggar atau dikorbankan. Kekhawatiran tersebut
tercermin dalam pembahasan AW di parlemen belanda dan rancangan-
rancangan sebelumnya serta dalam pemberian perintah kepada gubernur
jenderal sloet van de beele untuk membuat suatu pernyataan pada tahun
1866. tetapi bagaimana pun bukan merupakan tujuan AW untuk juga
mensejahtrakan rakyat pribumi. Terhadap rakyat pribumi pendekatannya
pasif, bukanaktif seperti halnya terhadap pihak pengusaha. Dalam
praktik pelaksanaan AW, kepentingan pengusaha dalam banyak hal lebih
didahulukan dari pada kepentingan rakyat pribumi.
Tetapi biarpun demikian, tujuan utamanya memang bukan untuk
menyejahtrakan rakyat pribumi, dibandingkan dengan tujuan dan rumusan
pokok politik pertanahan nasional kita yang dituangkan dalam pasal 33 ayat
3 UUD 1945, jelas tampak perbedaannya yang hakiki. Rumusan :
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai
oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Jelas menunjukan bahwa tujuannya yang utama adalah menyejahtrakan
rakyat Indonesia.
Oleh karena itu, dilihat dari tujuannya, hukum tanah administrative
pemerintah hindia belanda tidak dapat di pertahankan dan harus diganti
dengan hukum tanah administrative nasional, yang memberikan dukungan
hukum kepada pemerintah nasional dalam melaksanakan politik pertanahan
nasional yang digariskan dalam UUD 1945 tersebut.
C. Agrarisch besluit

Sebagai pelaksanaan Agrarische Wet dengan keputusan raja tanggal 20 juli


1870-15 (S.1870-118) telah ditetapkan keputusan yang dinamakan
keputusan agrarian (agrarische besluit). Peraturan ini hanya ada di daerah-
daerah di jawa dan madura, tetapi kemudian pernyataan domein tersebut
diberlakukan juga untuk daerah pemerintahan langsung di luar jawa dan
madura, dengan suatu ordonansi yang diundangkan dalam S.1875-119a.
sedangkan mengenai hal-hal yang telah di tetapkan dalam peraturan ini akan
diatur dengan ordonansi sesuai dengan agrarische wet dan dasar-dasar dari
keputusan agrarian tersebut yang terpenting ialah pasal 1 yang memuat
pernyataan umum tanah Negara (Algemeenedomein verklaring) yang
menetapkan sebagai berikut :
Selain menurut apa yang telah ditentukan dalam nomor dua dan tiga dari
wet tersebut maka tetap dipertahankan pendirian ( asas ), bahwa semua tanah
yang tidak bertuan dan / tidak dapat dibuktikan bahwa tanah itu milik
eigendom orang lain, adalah tanah Negara (domein van de staat)
. Pernyataandomein khusus di terjemehkan sebagai berikut :
Semua tanah kosong dalam daerah pemerintahan langsung adalah domein
Negara,kecuali yang di usahakan oleh para penduduk asli dengan hak-hak
yang bersumber pada hak-hak membuka hutan.mengenai tanahtanah
Negara tersebut kewenangang untuk mmemutuskan pemberiannya kepada
pihak lain hanya ada pada penerintah tanpa mengurangi hak yang sudah di
punyai oleh penduduk untuk membukanya
Maksud pernyataan tersebut adalah untuk menegaskan agar tidak ada
keraguan, bahwa satu-satunya penguasa yang memberikan tanah-tanah yang
di maksud itu kepada pihak lain adalah pemerintah.
FUNGSI DOMEIN VERKLARING
Dalam praktik UU pertanahan domein verkalring berfungsi :
1. sebagai landasan hukum bagi pemerintah yang mewakili
Negara sebagai pemilik tanah untuk memberikan tanah dengan
hak-hak tanah yang diatur dalam KUHPdt seperti hak
erfah,hak postal,dan lain-lain .dalam rangka domein
verklaring,pemberian tanah dengan hak eigendom dilakukan
dengan cara pemindahan hak milik Negara kepada penerima
tanah
2. di bidang pembuktian pemilikan apa yang dinyatakan dalam
pasal 1 agrarisch besluit bukan hal yang baru ,karena sudah
ada ketentuannya dalam pasal 519 dan 520 KUHPdt setiap
bidang tanah harus ada yang memiliki kalau tidak di miliki
oleh perorangan atau badan hukum, maka Negaralah
pemilikinya karena asas domein itu sudah ada sebelumnya
maka pernyataan dalam agaraische besluit menggunakan
bahasa bliff het beginsel
menururt van vollen hoven masih ada 3 tafsiran lain mengenai tanah-tanah
yang tercakup dalam domein verkalring ;
1. tanah domei negara adalah bukan tanah hak eigendom yang diatur
dalam KUHPer
2. tanah domei Negara adalah yang bukan tanah hak
eigendom,hakagrarische eigendom dan bukan pula tanah milik
rakyat yang telah bebas dari kungkungan hak rakyat.
3. tanah domein Negara adalah yang bukan tanah hak eigendom,hak
agaraische eigemndom dan bukan pula tanah milik rakyat baik
yang sudah maupun yang belum bebas dari kungkungan hak ulayat.

Dalam tafsiran pemerintah Hindia Belanda, tanah-tanah yang dipunyai


rakyat dengan hak milik adat, demikian juga tanah-tanah ulayat masyarakat-
masyarakat hukum adat adalah tanah domein Negara.
Hak milik adat sebagai hak yang paling kuat dalam Hukum Tanah Adat tidak
disamakan dengan hak milik dalam KUHPdt yang disebut dengan hak
eigendom. Oleh karenanya tidak diakui sebagai hak memakai tanah domein
Negara dan dalam perundang-undangan disebut erfelijk individueel
geruiksreecht (hak memakai individual yang turun menurun). Kemudian,
pemilik dianggap mempunyai kedudukan menguasai (bezitter)bezitrecht.
Tetapi bagaimanapun adanya hubungan hukum dengan tanah yang
bersangkutan diakui. Dan sebagaimana telah kita ketahui juga dilindungi
oleh Agrarische Wet dan diperhatikan dalam pasal 1 Agrarisch Besluit.

D Pasal 62 R.R.

Pasal 62 RR kemudian menjadi Pasal 51 Indische Staatregeling (IS) pada


tahun 1925
Lengkapnya isi pasal 51 IS adalah sbb :
1. gubernur jenderal di larang membuang tanah
2. boleh menjual tanah sempit apabila untuk kepentingan umum
perluasan jalan ,desa dan perindustrian.
3. gubernur jenderal boleh menyewakan tanah ,termasuk tanah di kelola
oleh orang bumi putra.
Agraris wet (S .1870 / 55) berbunyi :
1. menurut aturan yang di tetapkan dengan ordonansi,di berikan tanah-
tanah dengan erfpacht,yang lamanya tidak boleh dari 75 tahun.
2. gubernur jenderal menjaga, jangan sampai ada sesuatu pemberian
tanah hak-hak penduduk asli(bangsa Indonesia)
3. tanah-tanah di usahakan (di pergunakan ) bangsa Indonesia untuk
keperluan sendiri, atau tanah-tanah yang berupa tanah pengembalaan
umum atau karena salah suatu sebab ter masuk turut kampung (desa-
desa), tidak di kuasai gubernur jenderal kecuali untuk keperluan
umum berdasarkan pasal 133 I.S dan untuk tanaman-tanaman yang di
adakan oleh pemerintah agung menurut aturan-aturan yang
berhubungan dengan itu dengan pemberian keugian yang layak.
4. kepada orang Indonesia yang mempunyai tanah milik dengan sah,atas
permintaannya di berikan hak eigendom atas tanah itu dengan
memakai pembatasan-pembatasan kekuasaan untuk menjualnya
kepada bukan bangsa Indonesia ,pembatasan-pembatasan mana akan
di tetapkan dengan ordonansi dan akan di sebutkan dalam eigendom
itu.
5. menyewakan tanah atau menyerahkan tanah untuk di pakaimoleh
orang Indonesia kepada bukan orang Indonesia dilaksanakan menurut
aturan-aturan yang di tentukan dengan ordonansi.
Seluruh pasal di atas adalah pasal 51 I.S /indice startlegeling ada 8 ayat yaitu
3 ayat dari 62 RR dan 5 ayat dari agraris wet).karena belum lengkap dari
gabungan pasal di atas maka di bentuklah agraris besluit S.1870 /118 .
setelah mengalami beberapa perubahan dan tambahan ,nama RR itu di ganti
dengan I.S dan di undangkan lagi seluruhnya dalam S.1925-447 .pasal 51 I.S
memuat larangan menjual tanah untuk mencegah bertambahnya tanah-tanah
partikelir yang merupakan tanah Negara dalam Negara hal ini di pandang
dari sudut politik membahayakan . Yang menjadi tujuan dari agararis wet
adalah untuk membuka kemungkinan dan memberikan jaminan hukum
kepada pengusaha swasta agar dapat berkembang di hindia belanda . Dari
isi pasal 51 IS { pasal 62 RR ) ayat 5 dan ayat 6 kita mengetahui bahwa
agararis wet juga mengariskan perlindungan kepada rakyat pribumi . Harus
dijaga agar pemberian tanah kepada para pengusaha besar tidak melanggar
hak rakyat pribumi (ayat 5 ) . pengambilan tanah-tanah pribumi hanya boleh
bagi kepentingan umum, melalui acara pencabutan hak dan disertai
pemberianganti rugi keugian yang layak(ayat 6).
Tetapi pengarisan pemberian perlindungan hukum kepada rakyat pribumi
bukan merupakan tujuan agararis wet . tujuan agraris wet adalah
memberikan dasar bagi berkembangnya perusahaan-perusahaan kebun besar
swasta. Dikhawatirkan bahwa dalam usaha dan kegiatan mengembangkan
perusahaan-perusahaan kebun besar tersebut, yang akan memerlukan tanah
yang luas,hak-hak rakyat akan di langgar atau di korbankan .kekhawatiran
tersebut tercermin dalam pembahasan agrariche wet di parlemen belanda dan
rancangan-rancangan sebelumnya serta dalam pemberian perintah kepada
gubernur jenderal slot van de beele untuk membuat suatu pernyataan pada
tahun 1866.tetapi bagaimanapun bukan merupakan tujuan agararische wet
untuk juga mensejahtrakan rakyat pribumi. Terhadap rakyat pribumi
pendekatannya pasif bukan aktif seperti halnya terhadap pihak penguasa.
Dalam praktik pelaksanaan agrarische wet ,kepentingan pengusaha lebih di
dahulukan dari pada rakyat pribumi.

D. Pasal 51 I.S

Salah satu tujuan pokok diadakanya UUPA adalah untuk meletakaan dasar-
dasar dalam mengadakan kesatuan dan kesederhanaan di bidang Hukum
yang mengantar pertanahan. Dicabutnya berbagai peraturan oleh UUPA dan
dinyatakannya Hukum Adat sebagai dasar Hukum Tanah Nasional adalah
dalam rangka mewujudkan kesatuan dan kesederhanaan hukum tersebut.
Bahwa pasal 51 IS itu perlu dicabut, kiranya sudah jelas kita ketahui dari
uraian agrarische wet. Yang menjadi pertanyaan ialah. Apakah dengan
dicabutnya pasal 51 IS itu semua peraturan dan keputusan tata usaha yang
merupakan pelaksanaan dari politik agrarian yang ditentukan di dalamnya,
yang kita sebut Hukum Tanah Administratif itu, menjadi tidak berlaku juga
dengan sendirinya?tidak dengan sendirinya peraturan dan keputusan-
keputusan itu menjadi tidak berlaku, hanya karena pencabutan pasal 51 IS
tersebut. Bahwa pembuat UUPA juga berpendapat demikian, terbukti dari
dicabutnya juga secara khusus semua pernyataan domein dan peraturan-
peraturan tentang hak agrarisch eigendom tersebut diatas. Pasal 51 IS pada
hakikatnya bukan merupakan peraturan dasar bagi berlakunya peraturan-
peraturan agrarian yang lainnya. Pasal 51 IS pada hakikatnya hanya memuat
pokok-pokok kebijakan politik agraria dari pembentuk undang-undang dan
pemerintah Belanda / Hindia Belanda. Banyak peraturan agraria yang
tingkatannya sama dengan pasal 51IS itu.
Tetapi biarpun demikian tidaklah berarti bahwa peraturan agrarian yang
dimaksudkan itu sekarang ini semuanya masih berlaku. Boleh dikatakan
hamper semua peraturan peraturan Hukum Tanah Administratif itu tidak
berlaku lagi. Tetapi tidak berlakunya lagi itu bukan karena pencabutan pasal
51 IS tersebut, melainkan karena bertentangan dengan jiwa atau ketentuan
UUPA (pasal 56, 57 dan 58)
E. Aliran Liberalisme

Konsepsi individualistic berpangkal dan berpusat pada hak individu atas


tanah yang bersifat pribadi semata-mata. Hal ini jelas tercermin pada
rumusan hak individu yang tertinggi, yang dalam KUHPdt disebut hak
eigendom (pasal 570).
Hak eigendom adalah hak untuk dengan leluasa menikmati kegunaan
sesuatu benda, dan untuk berbuat bebas terhadap benda yang bersangkutan
dengan kekuasaan yang sepenuhnya, asal tidak bertentangan dengan undang-
undang dan peraturan-peraturan lainnya yang ditetapkan oleh penguasa yang
berwenag dan tidak mengganggu hak-hak pihak lain;semuanya itu terkecuali
pencabutan hak untuk kepentingan umum, dengan pemberian ganti kerugian
yang layak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kewenangan individu yang demikian luas dan kuatnya, pembatasannya
sempit dan legalistic, yaitu terbatas pada hak-hak pihak lain dan ketentuan
undang-undang, keleluasaan dan kebebasan tersebut dalam pelaksanaaanya
mendapat dukungan semangat liberalisme, yang menjadi cri abad ke-19
lalu. Ini membuat hak eigendom bersifat pribadi semata-mata. Dalam arti
bahwa dalam pelaksanaanya kepentingan pribadilah yang menjadi satu-
satunya tujuan dan pedomannya. Kepentingan pribadilah yang menentukan
apakah tanah yang yang dimiliki akan digunakan atau tidak. Dan jika
digunakan, dalam menentukan peruntukan dan cara penggunaanya,
kepentingan dan kebebasan pribadilahyyang menjadi tolak ukur dan
penentuannya.
Adalah merupakan keyakinan pada abad ke-19, bahwa dengan bertoplak
pada individu yang diberi keleluasaan dn kebebasan berusaha, akan dicapai
tingkat kemakmuran yang setinggi-tingginya. Tugas Negara terbatas pula
pada memelihara tata tertib serta melindungi jiwa dan harta kekayaan
rakyatnya (police state).
Kemudian ternyata bahwa kemakmuran hanya dinikmati oleh sebagian kecil
rakyat yang menguasai modal dan alat produksi. Kemakmuran mmang
meningkat, tetapi tidak terbagi secara adil dan merata. Maka dalam lingkup
konsepsi individualistic-liberal yang murni tersebut diadakan modifikasi,
dengan memasukan unsure masyarakat atau unsure kebersamaan dalam
pelaksanaan dan penggunaanya. Kebebasan individu dikurangi. Dimasukan
unsure kebersamaan kedalam hak individu yang semula pribadi semata-
mata. Dalam melaksanakan haknya, wajib diperhatikan juga kepentingsn
bersama. Maka hak-hak individu atas tanah dinyatakan mempunyai fungsi
social.
Tugas Negara yang mewakili kepentingan bersama menjadi lebih luas dalm
mengusahakan peningkatan kemakmuran yang adil dan merata (welfare
state).

F. Koninklijk Besluit

Diantaranya yang perlu dibahas adalah suatu Koninklijk besluit yang dikenal
dengan sebutan Agrarisch Besluit. Koninklijk Besluit ini diundangkan dalam
S. 1870-118.
Dalam pasal agrarisch besluit tersebut dimuat suatu pernyataan asas yang
sangat penting bagi perkembangan dan pelaksanaan Hukum Tanah
Administratif Hindia Belanda. Asas tersebut dinilai sebagai kurang
menghargai, bahkan memperkosa hak-hak rakyat atas tanah yang
bersumber pada hukum adat.
Sebenarnya dalam pemberian hak-hak eigendom, Negara tidak (perlu)
bertindak sebagai pemilik, melainkan sebagai Badan penguasa.
Pada abad 20 terjadi perubahan anggapan, bahwa tanpa perlu bertindak
sebagai pemilik, Negara selaku penguasa dap[at memberikan tanah yang
dikuasainya dengn hak-hak eigendom, asal ada peraturan (undang-undang)
yang memberikan kepadanya kewenangan untuk itu. Kebenaran pendirian
ini dapat kita lihat buktinya dalam suatu Koninklijk Besluit yang
diundangkan dalam S. 1915-474.
Dinyatakan dalam Konsiderans peraturan tersebut, bahwa perlu diberikan
penegasan, agar tidak ada keraguan, bahwa tanah-tanah di daerah-daerah
Swapraja dapat diberikan kepada orang-orang atau badan hukum yang
tunduk pada hukum Barat oleh pemerintah Swapraja yang bersangkutan
dengan hak-hak barat dan bahwa di daerah-daerah tersebut juga bias ada
tanah-tanah yang dihaki dengan tanah-tanah hak barat, sedang yang
memberikanjuga bukan badan hukum Barat.
Dalam pemberian hak tersebut, pemerintah Swapraja bertindak selaku
penguasa (Engelbrecht, 1960, halaman 2141).
UUPA juga berpendirian demikian (penjelasan Umum bagian II butir 2).
Hak agrarisch eigendom ini berasal dari hak milik adapt yang atas
permohonannya pemiliknya, melalui suatu prosedur tertentu, diakui
keberadaanya oleh pengadilan. Pengaturannya dalam Koninklijk Besluit
S.1872-117 dan ordonansi S.1873-38 (engelbrecht,1960, halaman 2110).
Demikianlah maka menurut penafsiran resmi pemerintahan ini, semua tanah
yang tidak dapat dibuktikan oleh yang menguasainya, bahwa tanah yang
bersangkutan dipunyai dengan hak eigendom atau hak agrarisch eigendom
adalah tanah domain Negara. Dan dasar hukumnya Koninklijk Besluit April
1872 no. 17 dan peraturan pelaksana.
SEJARAH PERTANAHAN DI INDONESIA

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas


Mata kuliah Hukum Agraria

Di susun oleh :

M. Afif Abdul Q. 10040005193


Yusep Tri Susanto 10040005220
Ahmad Saptari 10040005215
Maulana Ginanjar R. 10040005201
Siti Novianti K.W. 10040005209
Yogi Suprayoga 10040005174
Rahmawita Juliana 10040005197

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2007