Anda di halaman 1dari 11

FILARIASIS

(PENYAKIT KAKI GAJAH)

OLEH :

RESTI DWI SAFARIANI


RISNA DWI PANDYANI
RIZAL MIFTAH FARIZ
SANTI
SHINVANY
TINGKAT IB

MAKALAH MIKROBIOLOGI
AKADEMI FARMASI MUHAMMADIYAH CIREBON

2014
1. Pengertian
Filariasis atau yang lebih dikenal juga dengan penyakit kaki gajah
merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing
filaria dan ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini dapat
menimbulkan cacat seumur hidup berupa pembesaran tangan, kaki, payudara, dan
buah zakar. Cacing filaria hidup di saluran dan kelenjar getah bening. Infeksi
cacing filaria dapat menyebabkan gejala klinis akut dan atau kronik (Depkes RI,
2005).

2. Etiologi
Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang hidup di saluran dan
kelenjar getah bening. Anak cacing yang disebut mikrofilaria, hidup dalam darah.
Mikrofilaria ditemukan dalam darah tepi pada malam hari.
Cacing filaria berasal dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Filariasis di
Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu:
a. Wuchereria bancrofti
b. Brugia malayi
c. Brugia timori

A B C
Gambar 1. Mikrofilaria Wuchereria bancrofti (A), Brugia malayi (B), dan Brugia
timori (C).
Cacing Wuchereria bancrofti inilah yang dapat menyebabkan penyakit
kaki gajah karena sifatnya yang dapat mengganggu peredaran getah bening.
Sedangkan Brugia malayi dan Brugia timori tidak.
Pada Wuchereria bancrofti, mikrofilarianya berukuran 250, cacing
betina dewasa berukuran panjang 65 100mm dan cacing jantan dewasa
berukuran panjang 40mm. Di ujung daerah kepala membesar, mulutnya berupa
lubang sederhana tanpa bibir (Oral stylet) seperti terlihat pada Gambar 2.
Sedangkan pada Brugia malayi dan Brugia timori, mikrofilarianya berukuran
280. Cacing jantan dewasa panjangnya 23mm dan cacing betina dewasa
panjangnya 39mm. Mikrofilaria dilindungi oleh suatu selubung transparan yang
mengelilingi tubuhnya. Aktifitas mikrofilaria lebih banyak terjadi pada malam
hari dibandingkan siang hari. Pada malam hari mikrofilaria dapat ditemukan
beredar di dalam sistem pembuluh darah tepi. Hal ini terjadi karena mikrofilaria
memiliki granula-granula flouresen yang peka terhadap sinar matahari. Bila
terdapat sinar matahari maka mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler-
kapiler paru-paru. Ketika tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke
dalam sistem pembuluh darah tepi. Mikrofilaria ini muncul di peredaran darah
pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan
hidup hingga 5 10 tahun.

Gambar 2. Struktur tubuh mikrofilaria Wuchereria bancrofti.

3. Vektor
Di Indonesia telah terindentifikasi 23 spesies nyamuk dari 5 genus yaitu
Mansonia, Anopheles, Culex, Aedes, dan Armigeres yang menjadi vektor
filariasis. Sepuluh spesies nyamuk Anopheles diidentifikasikan sebagai vektor
Wuchereria bancrofti tipe pedesaan. Culex quinquefasciatus merupakan vektor
Wuchereria bancrofti tipe perkotaan. Enam spesies Mansonia merupakan vektor
Brugia malayi.
Di Indonesia bagian timur, Mansonia dan Anopheles barbirostris
merupakan vektor filariasis yang paling penting. Beberapa spesies Mansonia
dapat menjadi vektor Brugia malayi tipe subperiodik nokturna. Sementara
Anopheles barbirostris merupakan vektor penting Brugia malayi yang terdapat di
Nusa Tenggara Timur dan kepulauan Maluku Selatan.

4. Hospes
A. Manusia
Setiap orang mempunyai peluang yang sama untuk dapat tertular
filariasis apabila digigit oleh nyamuk infektif (mengandung larva stadium III).
Manusia yang mengandung parasit selalu dapat menjadi sumber infeksi bagi
orang lain yang rentan (suseptibel). Biasanya pendatang baru ke daerah endemis
(transmigran) lebih rentan terhadap infeksi filariasis dan lebih menderita dari pada
penduduk asli. Pada umumya laki-laki banyak terkena infeksi karena lebih banyak
kesempatan untuk mendapat infeksi (exposure). Gejala penyakit lebih nyata pada
laki-laki karena pekerjaan fisik yang lebih berat.
B. Hewan
Beberapa jenis hewan dapat berperan sebagai sumber penularan
filariasis (hewan reservoir). Hanya Brugia malayi tipe sub periodik nokturna dan
non periodik yang ditemukan pada lutung (Presbytis criatatus), kera (Macaca
fascicularis), dan kucing (Felis catus) (Depkes RI, 2005).

5. Siklus Hidup Cacing Filaria


Siklus hidup cacing Filaria terjadi melalui dua tahap, yaitu:
a. Tahap pertama, perkembangan cacing Filaria dalam tubuh nyamuk
sebagai vector yang masa pertumbuhannya kurang lebih 2 minggu.
b. Tahap kedua, perkembangan cacing Filaria dalam tubuh manusia
(hospes) kurang lebih 7 bulan.

Siklus hidup cacing Filaria dalam tubuh nyamuk


Siklus hidup pada tubuh nyamuk terjadi apabila nyamuk tersebut
menggigit dan menghisap darah orang yang terkena filariasais, sehingga
mikrofilaria yang terdapat di tubuh penderita ikut terhisap ke dalam tubuh
nyamuk. Mikrofilaria yang masuk lepaskan sarung pembungkusnya, kemudian
mikrofilaria menembus dinding lambung dan bersarang di antara otot-otot dada
(toraks).
Bentuk cacing Filaria menyerupai sosis yang disebut larva stadium I.
Dalam waktu kurang lebih 1 minggu, larva ini berganti kulit, tumbuh akan lebih
gemuk dan panjang yang disebut larva stadium II. Pada hari ke sepuluh dan
seterusnya, larva berganti kulit untuk kedua kalinya, sehingga tumbuh semakin
panjang dan lebih kurus, ini yang sering disebut larva stadium III. Gerak larva
stadium III ini sangat aktif, sehingga larva mulai bermigrasi (pindah), mula-mula
ke rongga perut (abdomen) kemudian pindah ke kepala dan ke alat tusuk nyamuk.

Perkembangan filaria dalam tubuh manusia


Siklus hidup cacing Filaria dalam tubuh manusia terjadi apabila nyamuk
yang mengendung mikrofilaria ini menggigit manusia. Maka mikrofilaria yang
sudah berbentuk larva infektif (larva stadium III) secara aktif ikut masuk ke dalam
tubuh manusia (hospes).
Bersama-sama dengan aliran darah pada tubuh manusia, larva keluar dari
pembuluh darah kapiler dan masuk ke pembuluh limfe. Di dalam pembuluh limfe,
larva mengalami dua kali pergantian kulit dan tumbuh menjadi cacing dewasa
yang sering disebut larva stadium IV dan stadium V. Cacing Filaria yang sudah
dewasa bertempat di pembuluh limfe, sehingga akan menyumbat pembuluh limfe
dan akan terjadi pembengkakan, misalnya pada kaki dan disebut kaki gajah
(filariasis).

6. Pola Penyebaran
Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu
Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Wuchereria bancrofti
ditemukan di daerah perkotaan seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Semarang, dan
Pekalongan. Wuchereria bancrofti bersifat periodik nokturna, artinya mikrofilaria
banyak terdapat dalam darah tepi pada malam hari. Wuchereria bancrofti tipe
perkotaan ditularkan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus yang berkembangbiak
di air limbah rumah tangga, sedangkan Wuchereria bancrofti tipe pedesaan
ditularkan oleh nyamuk dengan berbagai spesies antara lain Anopheles, Culex,
dan Aedes.
Brugia malayi tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa
pulau di Maluku. Brugia malayi tipe periodik nokturna, mikrofilaria ditemukan
dalam darah tepi pada malam hari. Nyamuk penularnya adalah
Anophelesbarbirostispadadaerah persawahan. Brugia malayi tipe subperiodik
nokturna, mikrofilaria ditemukan lebih banyak pada siang hari dalam darah tepi.
Nyamuk penularnya adalah Mansonia sp pada daerah rawa.
Brugia timori tersebar di kepulauan Flores, Alor, Rote, Timor, dan Sumba. Brugia
timorii tipe non periodik, mikrofilaria ditemukan dalam darah tepi pada malam
maupun siang hari. Nyamuk penularnya adalah Mansonia uniformis yang
ditemukan di hutan rimba. Brugia timori tipe periodik nokturna, mikrofilaria
ditemukan dalam darah tepi pada malam hari. Nyamuk penularnya adalah
Anopheles barbostis di daerah persawahan di Nusa Tenggara Timur dan Maluku
Tenggara.

7. Gejala
Gejala-gejala yang terdapat pada penderita Filariasis meliputi gejala awal
(akut) dan gejala lanjut (kronik). Gejala awal (akut) ditandai dengan demam
berulang 1-2 kali atau lebih setiap bulan selama 3-4 hari apabila bekerja berat,
timbul benjolan yang terasa panas dan nyeri pada lipat paha atau ketiak tanpa
adanya luka di badan, dan teraba adanya tali urat seperti tali yang bewarna merah
dan sakit mulai dari pangkal paha atau ketiak dan berjalan kearah ujung kaki atau
tangan. Gejala lanjut (kronis) ditandai dengan pembesaran pada kaki, tangan,
kantong buah zakar, payudara dan alat kelamin wanita sehingga menimbulkan
cacat yang menetap (Depkes RI, 2005).

8. Tindakan Pencegahan dan Pemberantasan Filariasis


Menurut Depkes RI (2005), tindakan pencegahan dan pemberantasan
filariasis yang dapat dilakukan adalah:
Melaporkan ke Puskesmas bila menemukan warga desa dengan
pembesaran kaki, tangan, kantong buah zakar, atau payudara.
Ikut serta dalam pemeriksaan darah jari yang dilakukan pada malam hari
oleh petugas kesehatan.
Minum obat anti filariasis yang diberikan oleh petugas kesehatan.
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar bebas dari nyamuk
penular.
Menjaga diri dari gigitan nyamuk misalnya dengan menggunakan kelambu
pada saat tidur.

9. Penanggulangan dan Pengobatan


Tujuan utama dalam penanganan dini terhadap penderita penyakit kaki
gajah adalah membasmi parasit atau larva yang berkembang dalam tubuh
penderita, sehingga tingkat penularan dapat ditekan dan dikurangi.
Dietilkarbamasin {diethylcarbamazine (DEC)} adalah satu-satunya obat
filariasis yang ampuh baik untuk filariasis bancrofti maupun malayi, bersifat
makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini tergolong murah, aman dan tidak
ada resistensi obat. Penderita yang mendapatkan terapi obat ini mungkin akan
memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara dan
mudah diatasi dengan obat simtomatik.
Dietilkarbamasin tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan
diberikan oral sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak
dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih. Dietilkarbamasin
tidak diberikanpada anak berumur kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan
penderita sakit berat ataudalam keadaan lemah.
Namun pada kasus penyakit kaki gajah yang cukup parah (sudah
membesar) karena tidak terdeteksi dini, selain pemberian obat-obatan tentunya
memerlukan langkah lanjutan seperti tindakan operasi.
Untuk memberantas penyakit filariasis ini sampai tuntas WHO sudah
menetapkan Kesepakatan Global, yaitu The Global Goal of Elimination of
Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020 (ANONIM,
2002). Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan masal dengandengan
kombinasi diethyl carbamazine (DEC) dan albendazole (Alb) yang
direkomendasikan setahun sekali selama lima tahun.
10. Kebijakan Program dan Strategi Pemberantasan Filariasis
Menyusul kesepakatan global pada tahun 1997, WHA yang menetapkan
filariasis sebagai masalah kesehatan masyarakat dan diperkuat dengan keputusan
WHO pada tahun 2000 untuk mengeliminasi fiariasis pada tahun 2020, Indonesia
sepakat untuk melakukan program eliminasi filariasis yang dimulai pada tahun
2002.
Berdasarkan surat edaran Menteri Kesehatan nomor
612/MENKES/VI/2004 maka kepada Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh
Indonesia melaksanakan pemetaan eliminasi filariasis gobal, pengobatan massal
daerah endemis filariasis, dan tata laksana penderita filariasis di semua daerah.
Program pelaksaan kasus filariasis ditetapkan sebagai salah satu wewenang wajib
pemerintah daerah sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor:
1457/MENKES/SK/X/2003 tentang standar pelayanan minimal bidang kesehatan
di Kabupaten/Kota.
Kebijakan yang ditetapkan dalam program pemberantasan filariasis
adalah:
a. Eliminasi filariasis merupakan salah satu prioritas nasional dalam program
pemberantasan penyakit menular.
b. Melaksanakan eliminasi filariasis di Indonesia dengan menerapkan
program eliminasi filariasis limfatik global dari WHO yaitu memutuskan
rantai penularan filariasis dan mencegah serta membatasi kecacatan.
c. Satuan lokasi pelaksanaan (implementation unit) eliminasi filariasis adalah
Kabupaten/Kota.
d. Mencegah penyebaran filariasis antar kabupaten, propinsi dan negara.
Strategi yang dilakukan dalam mendukung kebijakan dalam program
pemeberantasan filariasis adalah:
Memutuskan rantai penularan filariasis melalui pengobatan massal di
daerah endemis filariasis.
Mencegah dan membatasasi kecacatan melalui penatalaksanaan kasus
klinis filariasis.
Pengendalian vektor secara terpadu.
Memperkuat kerjasama lintas batas daerah dan negara.
Memperkuat survailans dan mengembangkan penelitian.

11. Faktor yang mempengaruhi Filariasis


o Lingkungan fisik : Iklim, Geografis, Air dan lainnnya,
o Lingkungan biologik: lingkungan Hayati yang mempengaruhi
penularan; hutan, reservoir, vector.
o Lingkungan social ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan
perilaku, adat Istiadat, Kebiasaan dsb,
o Ekonomi: Cara Bertani, Mencari Rotan, Petik Cengkeh dan Coklat
Dsb
LAMPIRAN

Gambar 1. Penderita filariasis pada buah zakar.

Gambar 2. Penderita filariasis pada kaki.

Gambar 3. Filariasis pada hewan.


DAFTAR PUSTAKA

1. Entjang, Indan. 1982. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung : Penerbit


Alumni.
2. Prianto, Juni L.A., dkk. 1999. Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
3. Abercrombie, et al. 1997. Kamus Lengkap Biologi. Jakarta : Erlangga.
4. Anonim. How is LF contracted? Diakses dari situs
http://www.filariasis.org pada tanggal 18 Juni 2015.
5. Eka. 2008. Pengobatan Massal Penyakit Filariasis Secara Gratis. Diakses
dari situs http://www.enrekangkab.go.id. pada tanggal 18 Juni 2015.