Anda di halaman 1dari 6

BAB 10

TEORI BIAYA PRODUKSI

Teori Biaya dan Konsep Efisiensi

1. Fungsi Biaya Jangka Pendek dan Panjang

Analisis mengenai biaya produksi perusahaan perlu dibedakan kepada dua jangka waktu: jangka pendek
dan jangka panjang. Jangka pendek adalah jangka waktu dimana perusahaan dapat menambah salah
satu factor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Dengan perkataan lain, dalam analisis
dimisalkan bahwa sebagian dari factor-faktor produksi yang digunakan dianggap tetap jumlahnya.
Sedangkan jangka panjang adalah jangka waktu dimana semua factor produksi dapat mengalami
perubahan, yaitu jumlahnya dapat ditambah apabila pertambahan itu diperlukan.

Biaya produksi, menurut Sadono Sukirno didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh
perusahaan untuk memperoleh factor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan
untuk menciptakan barang-barang yang akan diproduksikan perusahaan tersebut. (Sadono Sukirno
2008:208). Biaya produksi yang dikeuarkan perusahaan dapat dibedakan menjadi dua jenis: biaya
eksplisit dan biaya tersembunyi (imputed cost). Biaya eksplisit adalah pengeluaran-pengeluaran
perusahaan yang berupa pembayaran dengan uang untuk mendapatkan factor-faktor produksi dan
bahan mentah yang dibutuhkan. Sedangkan biaya produksi adalah taksiran pengeluaran terhadap
factor-faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri.

Menurut Karl E. Case & Ray C. Fair dalam jangka pendek, semua perusahaan (kompetitif maupun
nonkompetitif) memiliki biaya yang harus mereka tanggung apapun output mereka. Sebenarnya,
beberapa biaya tetap harus dibayar meskipun berusaha berhenti berproduksi yakni, meskipun
outputnya nol. Jenis biaya ini disebut biaya tetap, biaya tetap adalah segala biaya yang tidak tergantung
pada tingkat output perusahaan. Biaya ini tetap timbul meskipun perusahaan tidak memproduksi
apapun. Tidak ada biaya tetap dalam jangka panjang, dan perusahaan tidak bisa melakukan apapun
dalam jangka pendek untuk menghindarinya atau mengubahnya. Dalam jangka panjang, suatu
perusahaan tidak memiliki biaya tetap, karena perusahaan itu bisa memperluas, mempersempit, atau
keluar dari industry.

Perusahaan memang memiliki biaya tertentu dalam jangka panjang yang tergantung pada tingkat output
yang mereka pilih. Jenis biaya ini disebut dengan biaya varibel, biaya variable adalah baiya yang
tergantung pada tingkat produksi yang dipilih. Biaya tetap dan biaya variable merupakan penyusun
biaya total, biaya total adalah biaya tetap ditambah biaya variable.

1.1 Pengertian Biaya Produksi Jangka Pendek

Tabel 10.1 menunjukkan nilai-nilai berbagai pengertian biaya produksi yang dikeluarkan untuk
menghasilkan suatu barang. Dalam membuat contoh yang terdapat dalam table 10.1 tersebut
dimisalkan tenaga kerja adalah factor produksi yang berubah-ubah jumlahnya, sedangkan factor
produksi yang lain jumlahnya tetap. Sehingga keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan
produsen dapat dibedakan kepada dua jenis pembiayaan yaitu biaya yang selalu berubah dan biaya
tetap.

Tabel 10.1 Biaya Produksi dalam Jangka Pendek (dalam ribuan rupiah)

Jumlah Jumlah Biaya Biaya Biaya Biaya Biaya Biaya Biaya


pekerja produksi tetap berubah total marjinal tetap berubah total
(1) (2) total total (5) (6) rata-rata rata-rata rata-rata
(3) (4) (7) (8) (9)
0 0 50 0 50 - - - -
1 2 50 50 100 25 25 25 50
2 6 50 100 150 12.5 12.5 16.7 25
3 12 50 150 200 8.3 8.3 12.5 16.7
4 20 50 200 250 6.25 10 12.5
6.25
5 27 50 250 300 7.1 7.1 9.3 11.1
6 33 50 300 350 8.3 8.3 9.1 10.6
7 38 50 350 400 10.0 10.0 9.2 10.5
8 42 50 400 450 12.5 12.7 9.5 10.7
9 45 50 450 500 16.7 16.7 10 11.1
10 47 50 500 550 25 25 10.6 11.7
11 48 50 550 600 50 50 11.5 12.5

BIAYA TOTAL DAN JENIS-JENIS BIAYA TOTAL


1.1.1 Biaya Total (TC)

Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan yang terdiri dari
biaya tetap dan biaya variabel.

Biaya total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

TC = TFC + TVC

1.1.2 Biaya Tetap Total (TFC)

Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah mengikuti tingkat produksi. Sebagai contoh adalah
biaya peneliharaan pabrik dan asuransi, biaya abonemen telepon bulanan. Biaya tetap dapat dihitung
sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penuruanan rumus
tersebut, adalah: TC = FC + VC
FC = TC VC

Dalam Tabel 10.1 besarnya biaya tetap total, yang ditunjukkan dalam kolom (3), adalah Rp 50.000

1.1.3 Biaya Berubah Total (TVC)

Biaya variabel merupakan biaya yang berubah secara linier sesuai dengan volume output operasi
perusahaan. Sebagai contoh adalah biaya pulsa telepon bulanan, biaya pengeluaran untuk upah dan
bahan baku. Biaya variabel dapat dihitung dari penurunan rumus menghitung biaya total, yaitu:
TC = FC + VC

VC = TC FC

Dalam table 10.1, dimisalkan setiap tenaga kerja yang digunakan memperoleh pendapatan sebesar Rp
50.000. Berdasarkan pemisalan ini, biaya berubah total ditunjukkan dalam kolom (4).

1.1.4 Biaya Tetap Rata-rata (AFC)

Biaya tetap rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya tetap (FC) untuk memproduksi sejumlah
barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi tersebut. Biaya tetap rata-rata dapat dihitung
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

AFC = TFC / Q

1.1.5 Biaya Berubah Rata-rata (AVC)

Biaya variabel rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya variabel (VC) untuk memproduksi sejumlah
baran (Q) dibagi dengan jumlah produksi tertentu. Biaya variabel rata-rata dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu:

AVC = TVC / Q

1.1.6 Biaya Total Rata-rata (AC)

Biaya total rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya total (TC) untuk memproduksi sejumlah barang
tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi oleh perusahaan. Biaya total rata-rata dapat dihitung
dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu:

AC = TC / Q atau AC = AFC + AVC

1.1.7 Biaya Marjinal (MC)

Biaya marginal dapat juga dikatakan sebagai biaya pertambahan (incremental cost). Biaya marginal
merupakan kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk menambah produksi sebanyak satu unit
keluaran tambahan. Biaya marginal dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

MCn = TCn TC n-1 atau MCn = TC / Q


Perhatikan Tabel 10.1. Misalkan jumlah tenaga kerja bertambah dari 2 menjadi 3. Dapat dilihat bahwa
produksi bertambah dari 6 menjadi 12 unit (jadi bertambah 6 unit) dan biaya produksi bertambah
sebanyak Rp 50.000, yaitu dari sebanyak Rp 150.000 menjadi Rp 200.000. Dengan demikian biaya
marjinal adalah Rp 50.000 / 6 unit = Rp 8333

2. Bentuk Kurva Biaya Jangka Pendek

Gambar 10.1

2.1 Kurva Biaya-Biaya Total

Dalam gambar diatas digambarkan 3 jenis kurva yang termasuk dalam golongan kurva-kurva biaya total
rata-rata, yaitu:

Kurva TFC yang menggambarkan biaya tetap total


Kurva TVC yang menggambarakan biaya berubah total
Kurva TC yang menggambarkan biaya total
Pada permulaannya apabila jumlah factor berubah adalah sedikit, produksi marjinal meningkat dan
menyebabkan TVC berbentuk agak landai (lihat bagian ab) tetapi, apabila produksi sudah semakin
banyak, produksi marjinal semakin berkurang dan menyebabkan kurva TVC semakin tegak (lihat bagian
bc).

2.2 Kurva Biaya Rata-Rata

Kurva-kurva dalam gambar 10.2 dilukis berdasarkan kepada angka-angka yang terdapat dalam table
10.1. Kurva biaya tetap rata-rata berbentuk menurun dari kiri atas ke kanan bawah. Bentuk yang
demikian disebabkan karna ia menggambarkan bahwa semakin besar jumlah produksi, semakin kecil
biaya tetap rata-rata.
Gambar 10.2

2.3 Hubungan Kurva FC dengan AVC dan AC

Dalam menggambarkan kurva-kurva biaya rata-rata perlulah disadari dan diingat bahwa kurva AVC dan
AC dipotong oleh kurva MC pada titik terendah dari masing-masing kurva tersebut. Hal itu harus dibuat
agar tidak menyalahi hukum matematik.
2.4 Menggambarkan Kurva MC

Gambar 10.4

Kurva MC menimbulkan sedikit masalah dalam menggambarkan, karena ia menunjukkan


pertamn=bahan biaya kalau produksi naik satu unit. Dengan demikian ada dua tingkat produksi yang
berkaitan dengan efek tersebut, tingkat produksi sebelum dan sesudah kenaikan produksi. Disebabkan
oleh hal ini, titik-titik yang menggambarkan biaya merjian harus digambarkan diantara kedua-dua
tingkat produksi tersebut. Ini berarti, sebagai conoh, titik yang menggambarkan biaya marjinal naik dari
0 unit menjadi 1 unit harus dibuat ditengah-tengah unit produksi 0 dan 1 titik. Contoh lain, untuk
menggambarkan biaya marjinal pada waktu produksi naik dari 6 unit menjadi 12 unit, harus dibuat
diatas tingkat produksi sebanyak 9 unit (karena unit produksi ke-9 adalah ditengah-tengah 6 unit dan 12
unit). Keadaan ini menggambarkan titik A. Menggambarkan contoh lain, perhatikan cara menentukan
titik pada MC pada ketika jumlah produksi bertambah dari 33 unit menjadi 38 unit. Untuk kenaikan
produksi ini MC = Rp 10000. Keadaan ini digambarkan oleh titik B. Gambar 10.4 secara khusus
menunjukkan kurva MC yang dilukis berdasarkan data biaya marjinal pada table 10.1

3. BIAYA PRODUKSI DALAM JANGKA PANJANG