Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

ANALISIS POLA RUANG

Pola ruang merupakan peruntukan ruang dalam suatu kawasan meliputi peruntukan
ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Kawasan dengan
fungsi lindung adalah wilayah yang ditetepkan dengan fungsi utama untuk melindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumber daya buatan.
Sementra itu, kawasan dengan fungsi budidaya adalah wilayah yang memiliki fungsi untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan
sumber daya buatan. Peruntukan kawasan lindung dan budidaya suatu kawasan dapat
diketahui salah satunya melalui analisis kemampuan lahan. Pedoman yang digunakan dalam
analisis ini adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum NO.20/PRT/M/2007 tentang Pedoman
Teknik Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam
Penyusunan Rencana Tata Ruang.

4.1 Kerangka Analisis


Dalam melakukan analisis pola ruang melalui teknik analisis kemampuan lahan,
terdapat beberapa masukan data yang harus tersedia data fisik dasar yaitu data klimatologi,
topografi, geologi, hidrologi, bencana alam dan penggunaan lahan. Masing-masing data
tersebut akan diolah melalui teknik analisis kemampuan lahan yang terdiri dari SKL
Morfologi, SKL Kemudahan Dikerjakan, SKL Kestabilan Lereng, SKL Kestabilan Pondasi,
SKL Ketersediaan Air, SKL Drainase, SKL terhadap Erosi, SKL Pembuangan Limbah dan
SKL Terhadap Bencana Alam. Setelah diolah melalui analisis kemampuan lahan, hasil dari
analisis tersebut adalah kelas kemampuan lahan yang masing-masing kelas mewakili
klasifikasi kawasan yaitu, Kawasan Budidaya Tinggi, Kawasan Budidaya, Kawasan Budidaya
Terbatas dan Kawasan Lindung (non Budidaya). Untuk lebih jelasnya, berikut merupakan
kerangka analisis pola ruang melalui teknik analisis kemampuan lahan:

Gambar Skema Kerangka Analisis Kemampuan Lahan


Sumber: Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016
4.2 Kondisi Fisik Dasar Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar
4.2.1 Kondisi Klimatologi
Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah termasuk kedalam iklim topis
dengan dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan dengan bulan kering bekisar
antara 2 sampai 4 bulan. Berikut kondisi klimatologi Kecamatan Jaten berdasarkan rata-rata
jumlah curah hujan pada tahun 2015:

Tabel Curah Hujan masing-masing Desa di Kecamatan Jaten


N DESA Curah Hujan (mm/th)
O
1 Ngringo 1500-2000
2 Sroyo 1500-2000
3 Dagen 1500-2000
4 Jetis 1500-2000
5 Brujul 1500-2000
6 Jaten 2000-2500
7 Jati 2000-2500
8 Suruhkalang 2000-2500
Sumber: BPBD, 2014

4.2.2 Kondisi Topografi


Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar memiliki ketinggian rata-rata 110,03 mdpl.
Berikut merupakan data ketinggian rata-rata setiap desa di Kecamatan Jaten:

Tabel Curah Hujan masing-masing Desa di Kecamatan Jaten


N DESA Ketingian/Elevasi (mdpl)
O
1 Ngringo 100
2 Sroyo 96
3 Dagen 107
4 Jetis 90
5 Brujul 110
6 Jaten 109
7 Jati 136
8 Suruhkalang 133
Sumber: Kecamatan Jaten dalam angka, 2015

Selain ketinggian, topografi atau kelerengan dapat didefinisikan sebagai suatu


kemiringan tanah dimana sudut kemiringan dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang
horozontal. Kondisi topografi berkaitan dengan bentang alam dan kemiringannya, yang dapat
dilihat dari data morfologi dan kemiringan lereng. Berdasarkan data dari Bappeda Kabupaten
Karanganyar, Seluruh wilayah di Kecamatan Jaten memiliki kemiringan lereng antara 0-2%
dengan morfologi datar.

4.2.3 Kondisi Geologi


Kondisi geologi suatu kawasan dapat ditinjau dari jenis tanah maupun jenis batuan.
Berikut merupakan tinjauan masing-masing aspek geologi di Kecamatan Jaten
a. Jenis tanah
Tanah merupakan akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar planet
bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat dari
pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindaj terhadap bahan induk dalam keadaan relief
tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Jenis tanah ini dibedakan berdasarkan bahan
yang terkandung didalamnya. Berikut merupakan tabel jenis tanah yang terdapat di
masing-masing desa di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar:

Tabel Jenis Tanah Kecamatan Jaten


JENIS TANAH DESA KETERANGAN
Berasal dari bahan-bahan yang diangkut dan
diendapkan. Teksturnya alluvium yaitu
Brujul, Jaten, Jati dan
Aluvial Kelabu cenderung kasar apa bila dekat dengan aliran
Suruh Kalang
air dan bertekstur lebih halus apabila dekat
paparan banjir.
Berwarna kelabu, tekstur tanah biasanya
Ngringo, Sroyo, Dagen dan kasar, struktur kersai atau remah, konsistensi
Regosol Kelabu
Jetis lepas sampai gembur, belum membentuk
agregat sehingga peka terhadap erosi
Sumber: Bappeda Karanganyar yang diolah, 2016

b. Jenis Batuan
Jenis batuan di seluruh wilayah di Kecamatan Jaten termasuk batuan sedimen. Batuan
sedimen adalah batuan dengan suatu akumulasi atau kumpulan material batuan
terlapukkan atau terurai dari batuan induk yang terbentuk di permukaan bumi kemudian
diendapkan pada suatu cekungan dibawah kondisi temperatur dan tekanan rendah serta
mempunyai karakteristik tentang lingkungan pengendapannya.

4.2.4 Bencana Alam


Potensi bencana yang ada di Kecamatan Jaten adalah bencana banjir. Bencana banjir
tersebut memiliki intensitas sedang, sehingga tidak terlalu memberikan dampak besar pada
masyarakat. Daerah yang memiliki potensi banjir terdapat di Desa Ngringo dan Sroyo.
Bencana banjir terjadi akibat curah hujan dengan intensitas sedang-tinggi melebihi kapasitas
saluran drainase.

4.2.5 Penggunaan Lahan


Penggunaan lahan merupakan suatu bentuk pemanfaatan atau fungsi dari perwujudan
suatu bentuk penutup lahan. Istilah penggunaan lahan didasari pada fungsi kenampakan
penutup lahan bagi kehidupan, baik itu kenampakan alami atau buatan manusia. Berikut
merupakan data luas penggunaan lahan setiap desa di Kecamatan Jaten Kabupaten
Karanganyar.
Tabel Luas Penggunaan Lahan Setiap Desa di Kecamatan Jaten
Penggunaan Lahan (Ha)
Sawah Bangunan/
Desa Sawah Jumlah
tadah Pekaranga Kebun Padang Tambak Lainnya
irigasi
hujan n
Suruhkalang 204,70 0 73,55 1,62 0 0 22,71 302,58
Jati 153,00 0 94,22 0 0,69 0 17,56 265,47
Jaten 92,00 0 165,97 0 0 0 19,40 277,37
Dagen 125,60 0 131,25 0 0 0 26,65 283,50
Ngringo 60,70 0 322,06 3,10 0 0 34,41 420,27
Jetis 127,00 0 120,39 1,31 0.96 0 12,95 262,61
Sroyo 257,80 0 173,23 3,00 4,48 0 21,27 459,8
Brujul 191,32 0 80,28 2,92 0 0 8,71 283,23
Jumlah 1.212,12 0 1.160,95 11,95 6,13 0 163,66 2.554,81
Sumber: Kecamatan Jaten dalam angka, 2015

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan lahan di Kecamatan


Jaten didominasi oleh bangunan/pekarangan dapat berupa permukima, industri, maupun
perdagangan jasa. Selain bangunan/pekarangan, penggunaan lahan juga didominasi oleh
sawah berupa sawah irigasi.

4.3 Analisis Pola Ruang dengan Teknik Analisis Kemampuan Lahan


4.3.1 Satuan Kemampuan Lahan (SKL)
Satuan kemampuan lahan merupakan variabel untuk menghitung kemampuan lahan.
Satuan Kemampuan Lahan (SKL) terdiri atas beberapa macam yaitu SKL Morfologi, SKL
Kemudahan Dikerjakan, SKL Kestabilan Lereng, SKL Kestabilan Pondasi, SKL Ketersediaan
Air, SKL Drainase, SKL terhadap Erosi, SKL Pembuangan Limbah dan SKL Terhadap
Bencana Alam. Berikut merupakan hasil masing-masing SKL yang telah dihitung berdasarkan
kondisi fisik Dasar yang terdapat di setiap Desa di Kecamatan Jaten.
a. SKL Morfologi
SKL morfologi bertujuan untuk memilah bentuk bentang alam/morfologi pada
wilayah dan/atau kawasan perencanaan yang mampu untuk dikembangkan sesuai dengan
fungsinya. Berdasarkan hasil analisis SKL Morfologi terhadap kondisi fisik dasar di
Kecamatan Jaten diketahui bahwa seluruh desa di Kecamatan Jaten memiliki morfologi
rendah dengan nilai SKL yaitu 5. Berikut merupakan tabel SKL Morfologi setiap desa di
Kecamatan Jaten:
Tabel Hasil Analisis SKL Morfologi Kecamatan Jaten
No. Desa Nilai SKL SKL Morfologi
1 Ngringo 5 Morfologi Rendah
2 Sroyo 5 Morfologi Rendah
3 Dagen 5 Morfologi Rendah
4 Jetis 5 Morfologi Rendah
5 Brujul 5 Morfologi Rendah
6 Jaten 5 Morfologi Rendah
7 Jati 5 Morfologi Rendah
8 Suruhkalang 5 Morfologi Rendah
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016

b. SKL Kemudahan Dikerjakan


SKL kemudahan dikerjakan digunakan untuk mengetahui tingkat kemudahan lahan
di wilayah dan/atau kawasan untuk digali, ditimbun, dibangun dalam rangka
pengembangan kawasan sesuai dengan fungsi lahan. Berdasarkan hasil analisis SKL
Kemudahan Dikerjakan terhadap kondisi fisik dasar di Kecamatan Jaten, dapat
disimpulkan bahwa hampir seluruh Desa di Kecamatan Jaten memiliki kemudahan tinggi
untuk dikerjakan, hanya ada dua desa yakni desa Brujul dan Jaten yang memiliki
kemudahan cukup untuk dikerjakan. Berikut merupakan tabel SKL Kemudahan Dikerjakan
setiap desa di Kecamatan Jaten:
Tabel Hasil Analisis SKL Kemudahan Dikerjakan Kecamatan Jaten
SKL Kemudahan
No. Desa Nilai SKL
Dikerjakan
1 Ngringo 5 Kemudahan Tinggi
2 Sroyo 5 Kemudahan Tinggi
3 Dagen 5 Kemudahan Tinggi
4 Jetis 5 Kemudahan Tinggi
5 Brujul 4 Kemudahan Cukup
6 Jaten 4 Kemudahan Cukup
7 Jati 5 Kemudahan Tinggi
8 Suruhkalang 5 Kemudahan Tinggi
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016

c. SKL Kestabilan Lereng


Kestabilan lereng artinya wilayah tersebut dapat dikatakan stabil atau tidak kondisi
lahannya dengan melihat kemiringan lereng di lahan tersebut. Kemampuan lahan
kestabilan lereng dipengaruhi oleh karakteristik (sifat fisik) batuan dan tanah penyusun,
dimana faktor-faktor tersebut terkait dan saling mempengaruhi satu dengan laiinnya. SKL
kestabilan lereng bertujuan untuk mengetahui tingkat kestabilan lereng morfologi serta
sifat fisik batuan dan tanah yang ada di kawasan. Berdasarkan analisis SKL Kestabilan
Lereng terhadap kondisi fisik dasar di Kecamatan Jaten, maka dapat disimpulkan bahwa
kestabilan lereng wilayah Kecamatan Jaten didominasi Kestabilan Lereng sedang. Untuk
lebih jelasnya, berikut merupakan tabel SKL Kestabilan Lereng setiap Desa di Kecamatan
Jaten:
Tabel Hasil Analisis SKL Kestabilan Lereng Kecamatan Jaten
No. Desa Nilai SKL SKL Kestabilan Lereng
1 Ngringo 3 Kestabilan Lereng Sedang
2 Sroyo 3 Kestabilan Lereng Sedang
3 Dagen 5 Kestabilan Lereng Tinggi
4 Jetis 4 Kestabilan Lereng Tinggi
5 Brujul 5 Kestabilan Lereng Tinggi
6 Jaten 5 Kestabilan Lereng Tinggi
7 Jati 3 Kestabilan Lereng Sedang
8 Suruhkalang 3 Kestabilan Lereng Sedang
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016

d. SKL Kestabilan Pondasi


Perhitungan SKL kestabilan pondasi dilakukan untuk mengetahui tingkat
kemampuan lahan dalam mendukung berat dalam pengembangan kawasan, serta jenis-
jenis pondasi yang sesuai untuk masing-masing tingkatan. Berdasarkan analisis SKL
Kestabilan Pondasi terhdap kondisi fisik dasar Kecamatan Jaten, dapat disimpulkan bahwa
daya dukung dan kestabilan pondasi didominasi kestabilan tinggi, hanya Desa Brujul yang
memiliki kestabilan pondasi kurang. Berikut merupakan tabel SKL Kestabilan Pondasi
setiap desa di Kecamatan Jaten:
Tabel Hasil Analisis SKL Kestabilan Pondasi Kecamatan Jaten
No. Desa Nilai SKL SKL Kestabilan Pondasi
1 Ngringo 5 Kestabilan Pondasi Tinggi
2 Sroyo 5 Kestabilan Pondasi Tinggi
3 Dagen 5 Kestabilan Pondasi Tinggi
4 Jetis 5 Kestabilan Pondasi Tinggi
5 Brujul 3 Kestabilan Pondasi Kurang
6 Jaten 5 Kestabilan Pondasi Tinggi
7 Jati 5 Kestabilan Pondasi Tinggi
8 Suruhkalang 5 Kestabilan Pondasi Tinggi
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016

e. SKL Ketersediaan Air


SKL ketersediaan air bertujuan untuk mengetahui tingkat ketersediaan air dan
kemampuan penyediaan air di kawasan studi, baik air permukaan maupun air tanah.
Berdasarkan hasil analisis SKL Ketersedian Air terhadap kondisi fisk dasar di Kecamatan
Jaten maka dapat disimpulkan bahwa seluruh desa di Kecamatan Jaten memiliki
ketersediaan air tinggi. Berikut merupakan tabel SKL Ketersediaan Air setiap desa di
Kecamatan Jaten:
Tabel Hasil Analisis SKL Ketersediaan Air Kecamatan Jaten
No. Desa Nilai SKL SKL Ketersediaan Air
1 Ngringo 5 Ketersediaan Air Tinggi
2 Sroyo 5 Ketersediaan Air Tinggi
3 Dagen 5 Ketersediaan Air Tinggi
4 Jetis 5 Ketersediaan Air Tinggi
5 Brujul 5 Ketersediaan Air Tinggi
6 Jaten 5 Ketersediaan Air Tinggi
7 Jati 5 Ketersediaan Air Tinggi
8 Suruhkalang 5 Ketersediaan Air Tinggi
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016

f. SKL terhadap Erosi


Perhitungan SKL terhadap erosi dilakukan untuk mengetahui tingkat keterkikisan
dan ketahanan tanah terhadap erosi yang ada di Kecamatan Jaten. Selain itu dapat
diketahui pula mudah atau tidaknya lapisan tanah terbawa air atau angin sehingga dapat
diidentifikasi tingkatan kemampuan lahan terhadap erosi. Berdasarkan analisis SKL
terhadap Erosi dengan Kondisi fisik dasar di Kecamatan Jaten, maka dapat diketahui
bahwa hampir seluruh desa di Kecamatan Jaten tidak berpotensi erosi (tidak ada erosi).
Untuk lebih jelasnya, berikut merupakan tabel SKL terhadap Erosi tiap Desa di Kecamatan
Jaten.

Tabel Hasil Analisis SKL terhadap Erosi Kecamatan Jaten


No. Desa Nilai SKL SKL terhadap Erosi
1 Ngringo 4 Erosi sangat Rendah
2 Sroyo 4 Erosi sangat Rendah
3 Dagen 5 Tidak ada Erosi
4 Jetis 4 Erosi sangat Rendah
5 Brujul 5 Tidak ada Erosi
6 Jaten 5 Tidak ada Erosi
7 Jati 5 Tidak ada Erosi
8 Suruhkalang 5 Tidak ada Erosi
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016

g. SKL untuk Drainse


SKL untuk drainase bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan drainase dalam
menampung air hujan secara alami, sehingga kemungkinan genangan baik bersifat lokal
ataupun meluas dapat dihindari. Semakin rendah kemampuan drainse, semakin sulit
kawasan untuk mengalirkan air sehingga resiko genangan tinggi. Berdasarkan analisis SKL
untuk Drainase terhadap kondisi fisik dasar di Kecamatan Jaten, maka dapat disimpulkan
bahwa kemampuan drainse di Kecamatan Jaten berkisar antara rendah dan cukup. Berikut
merupakan hasil analisis SKL untuk Drainse setiap Desa di Kecamatan Jaten:
Tabel Hasil Analisis SKL untuk Drainse Kecamatan Jaten
No. Desa Nilai SKL SKL Untuk Drainse
1 Ngringo 2 Drainase Rendah
2 Sroyo 2 Drainase Rendah
3 Dagen 3 Drainase Cukup
4 Jetis 3 Drainase Cukup
5 Brujul 1 Drainase Rendah
6 Jaten 1 Drainase Rendah
7 Jati 2 Drainase Rendah
8 Suruhkalang 2 Drainase Rendah
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016

h. SKL Bencana Alam


SKL bencana alam bertujuan untuk mengetahui potensi dan tingkat kerawanan
terhadap bencana alam yang terdapat di Kecamtan Jaten. Dengan mengetahui potensi dan
tingkat kerawanan bencana, maka dapat diketahui lokasi yang kerawanannya memiliki
akibat langsung terhadap aktivitas penduduk. Selain itu dengan mengetahui tingkat
kerawanan terhadap bencana alam maka dapat menjadi pertimbangan antisipasi rawan
bencana terhadap kawasan studi. Berdasarkan analisis SKL Bencana Alam, dapat
disimpulkan bahwa terdapat keberagaman potensi bencana yang terdapat di setiap desa di
Kecamatan Jaten. Untuk lebih jelasnya, berikut merupakan hasil analisis SKL Bencana
Alam setiap Desa di Kecamatan Jaten:

Tabel Hasil Analisis SKL Bencana Alam Kecamatan Jaten


No. Desa Nilai SKL SKL Bencana Alam
1 Ngringo 3 Potensi bencana alam cukup
2 Sroyo 3 Potensi bencana alam cukup
3 Dagen 4 Potensi bencana alam kurang
4 Jetis 5 Potensi bencana alam kurang
5 Brujul 4 Potensi bencana alam kurang
6 Jaten 4 Potensi bencana alam kurang
7 Jati 5 Potensi bencana alam kurang
8 Suruhkalang 5 Potensi bencana alam kurang
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016

4.3.2 Analisis Kemampuan Lahan


Analisis kemampuan lahan merupakan analisis terhadap kemampuan lahan untuk
dikembangkan menjadi kawasan budidaya atau kawasan lindung. Keluaran dari analisis ini
adalah klasifikasi kawasan pengembangan yang sesuai dengan karakteristik kawasan yang
sudah ditetapkan. Maka dari itu dalam analisis kemampuan lahan perlu dilakukan perhitungan
9 analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) terlebih dahulu. Satuan kemampuan lahan
tersebut antara lain, satuan kemampuan lahan morfologi, satuan kemampuan lahan
kemudahan dikerjakan, satuan kemampuan lahan kestabilan lereng, satuan kemampuan lahan
kestabilan pondasi, satuan kemampuan lahan ketersediaan air, satuan kemampuan lahan
terhadap erosi, satuan kemampuan lahan kemampuan drainase, satuan kemampuan lahan
pembuangan limbah, dan satuan kemampuan lahan terhadap bencana alam. Masing-masing
SKL tersebut memiliki bobot masing-masing sebelum dijumlahkan. Berikut adalah tabel
pembobotan masing-masing SKL:
Tabel Bobot Satuan Kemampuan Lahan
No Satuan Kemampuan Lahan Bobot
1 SKL Morfologi 5
2 SKL Kemudahan Dikerjakan 1
3 SKL Kestabilan Lereng 5
4 SKL Kestabilan Pondasi 3
5 SKL Ketersediaan Air 5
6 SKL Terhadap Erosi 3
7 SKL Drainase 5
8 SKL Pembuangan Limbah 0
9 SKL Bencana Alam 5
Kemampuan Lahan Total Nilai
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007

Setelah mendapatkan hasil dari 9 analisis satuan kemampuan lahan, kemudian dilaku-
kan analisis kemampuan lahan. Analisis kemampuan lahan dilakukan dengan cara
menjumlahkan hasil perkalian nilai kali bobot dari seluruh satuan kemampuan lahan, sehingga
diperoleh kisaran nilai yang menunjukkan nilai kemampuan lahan masing-masing wilayah.
Berikut merupakan tabel klasifikasi kelas kemampuan lahan dan tabel hasil analisis
kemampuan lahan berdasarkan PerMen PU No.20/PRT/M/2007:

Tabel Klasifikasi Kawasan Setiap Kelas Kemampuan Lahan


Total Kelas Kemampuan
Arah Pengembangan Klasifikasi Kawasan
Nilai Lahan
Kemempuan pengembangan Lindung, Budidaya
32 58 Kelas A
sangat rendah non manusia
Kemempuan pengembangan
59 83 Kelas B Budidaya Terbatas
Rendah
84 109 Kelas C Kemempuan pengembangan Budidaya Terbatas
Total Kelas Kemampuan
Arah Pengembangan Klasifikasi Kawasan
Nilai Lahan
Sedang
Kemempuan pengembangan
110 134 Kelas D Budidaya
agak tinggi
Kemempuan pengembangan
135 160 Kelas E Budidaya Tinggi
sangat tinggi
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007

Berdasarkan hasil analisis kemampuan lahan, dapat diketahui bahwa Kecamtan


Jaten tergolong pada kelas kemampuan lahan D dan E, dengan kemampuan
pengembangan agak tinggi hingga tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa,
seluruh Desa di Kecamatan Jaten memiliki klasifikasi kawasan budidaya dan budidaya
tinggi, sehingga cocok untuk dikembangkan pemanfaatan lahan fungsi budidaya seperti
permukiman, industri, perdagangan jasa maupun pertanian. Untuk lebih jelasnya, berikut
rincian perhitungan analisis kemampuan lahan Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel Rincian Perhitungan Analisis Kemampuan Lahan Kecamatan Jaten

SKL Ketersediaan Air

SKL Bencana Alam


SKL untuk Drainse
SKL terhdap Erosi
SKL Kemudahan

SKL Kestabilan

SKL Kestabilan
SKL Morfologi

Dikerjakan

Pondasi
Lereng
DESA

Bobot
5 1 5 3 5 3 5 5
Desa Ngringo 5 5 3 5 5 4 2 3 122 D Agak tinggi Budidaya
Desa Sroyo 5 5 3 5 5 4 2 3 122 D Agak tinggi Budidaya
Desa Dagen 5 5 5 5 5 5 3 4 145 E Tinggi Budidaya Tinggi
Desa Jetis 5 5 4 5 5 4 3 5 142 E Tinggi Budidaya Tinggi
Desa Brujul 5 4 5 3 5 5 1 4 128 D Agak tinggi Budidaya
Desa Jaten 5 4 5 5 5 5 1 4 134 D Agak tinggi Budidaya
Desa Jati 5 5 3 5 5 5 2 5 135 E Tinggi Budidaya Tinggi
Desa Suruhkalang 5 5 3 5 5 5 2 5 135 E Tinggi Budidaya Tinggi
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016
Gambar Peta Klasifikasi Kawasan Lindung Budidaya Berdasarkan Analisis Kemampuan Lahan
Sumber: Hasil Analisis Kelompok Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, 2016