Anda di halaman 1dari 16

RS SELARAS

BAB I
DEFINISI

A. Pengertian

1. Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan
kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.

2. Keluarga terdekat adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung ,anak-anak kandung
atau saudara-saudara kandung.

3. Tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang selanjutnya disebut tindakan


kedokteran adalah suatu tindakan medis berupa preventif, diagnostik, terapeutik atau
rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien.

4. Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi
keutuhan jaringan tubuh pasien.

5. Tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang
berdasarkan tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian atau
kecacatan.

6. Dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi
spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di
luar negeri yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

7. Persetujuan Tindakan Medik atau Informed consent dalam profesi kedokteran adalah
persetujuan dari pasien terhadap tindakan medic yang akan dilakukan terhadap dirinya.
Persetujuan diberikan setelah pasien tersebut diberikan penjelasan yang lengkap dan
objektif tentang diagnosis penyakit ,upaya penyembuhan,tujuan dan pilihan tindakan yang
akan dilakukan.

8. Pasien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit baik dalam keadaan
sehat maupun sakit.
9. Gangguan Mental adalah sekelompok gejala psikologis atau perilaku yang secara klinis
menimbulkan penderitaan dan gangguan dalam fungsi kehidupan seseorang mencakup
Gangguan Mental Berat, Retardasi Mental Sedang, Retardasi Mental Berat, Dementia
Senilis.

10. Pasien Gawat Darurat ,adalah pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau
akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat)
bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.

TIM HPK 1
RS SELARAS

Penandatanganan formulir informed concent maupuan informed refusal sangat penting


dilakukan baik sebagai terpenuhinya etika kedokteran namun juga secara hukum. Tetapi
jauh lebih penting adalah diskusi antara dokter dengan pasien sebelum terjadinya
pernyataan pasien dalam bentuk tanda tangan informed concent maupuan informed
refusal.

Ketika dokter atau dokter gigi mendapatkan persetujuan tindakan kedokteran ,maka
harus diartikan bahwa persetujuan tersebut terbatas pada hal-hal yang telah disetujui.
Dokter atau dokter gigi tidak boleh bertindak melebihi lingkup persetujuan tersebut,
kecuali dalam keadaan darurat, yaitu dalam rangka menyelamatkan nyawa pasien atau
mencegah kecacatan. Oleh karena itu sangat penting diupayakan agar persetujuan juga
mencakup apa yang harus dilakukan jika terjadi peristiwa yang tidak diharapkan
dalam pelaksanaan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi tersebut.

B. Tujuan

Tujuan dari informed consent ini sendiri adalah :


1. Bagi pasien adalah untuk menentukan sikap atas tindakan medis yang
mengandung resiko atau akibat yang bakal tidak menyenangkan pasien.
2. Bagi dokter adalah sebagai sarana untuk memperoleh legitimasi (pengesahan) atas
tindakan medis yang akan dilakukan yang berakibat terciptanya suatu hubungan
hukum antara dokter dengan pasien.

TIM HPK 2
RS SELARAS

BAB II
TATA LAKSANA

A. Persetujuan Tindakan Kedokteran

Dalam menetapkan dan Persetujuan Tindakan Kedokteran harus memperhatikan ketentuan-


ketentuan sebagai berikut:
1. Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
2. Persetujuan tindakan kedokteran dapat diberikan secara tertulis maupun lisan.
3. Persetujuan tindakan kedokteran diberikan setelah pasien mendapat penjelasan yang
diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran dilakukan.
4. Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh
persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
5. Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan sebagaimana dimaksud poin
4,dapat diberikan dengan persetujuan lisan.
6. Persetujuan tertulis tindakan kedokteran dibuat dalam bentuk pernyataan yang tertuang
dalam formulir khusus yang dibuat untuk itu.
7. Dalam hal persetujuan lisanyang diberikan sebagaimana dimaksud pada tindakan
kedokteran dianggap meragukan,maka dapat dimintakan persetujuan tertulis.
8. Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah
kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran.
9. Keputusan untuk melakukan tindakan kedokteran diputuskan oleh dokter atau dokter gigi
dan dicatat didalam rekam medik.
10. Dalam hal dilakukannya tindakan kedokteran, dokter atau dokter gigi wajib memberikan
penjelasan sesegera mungkin kepada pasien setelah pasien sadar atau kepada keluarga
terdekat.
11. Persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi
persetujuan sebelum dimulainya tindakan.
12. Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran harus dilakukan secara tertulis oleh yang
memberi persetujuan.
13. Segala akibat yang timbul dari pembatalan persetujuan tindakan kedokteran,
menjadi tanggung jawab yang membatalkan persetujuan.
14. Memperoleh Informasi dan penjelasan merupakan hak pasien dan sebaliknya
memberikan informasi dan penjelasan adalah kewajiban dokter atau dokter gigi.
15. Pelaksanaan Persetujuan Tindakan kedokteran dianggap benar jika memenuhi persyaratan
dibawah ini:
a. Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan untuk tindakan
kedokteran yang dinyatakan secara spesifik (The Consent must be for what will be
actually performied)
b. Persetujuan Tindakan Kedokteran diberikan tanpa paksaan (Voluntary)
c. Persetujuan Tindakan Kedokteran diberikan oleh seseorang (pasien) yang sehat
mental dan yang memang berhak memberikannya dari segi hukum
d. Persetujuan Tindakan Kedokteran diberikan setelah diberikan cukup (adekuat)
informasi dan penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran
dilakukan.

TIM HPK 3
RS SELARAS

B. Penjelasan

1. Informasi atau Penjelasan tentang tindakan kedokteran harus diberikan langsung kepada
pasien dan/atau keluarga terdekat,baik diminta maupun tidak diminta.
2. Informasi tentang tindakan medik harus diberikan oleh dokter, dengan informasi yang
selengkap-lengkapnya, keculai bila dokter menilai bahwa informasi yang diberikan dapat
merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan informasi .
3. Dalam hal informasi tidak bisa diberikan kepada pasien maka dengan persetujuan pasien
dokter dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi
seorang perawat/ paramedis sebagai saksi.
4. Informasi yang diberikan meliputi
a. Diagnosa yang telah ditegakkan
b. Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan
c. Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut.
Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan kedokteran
tersebut.
d. Konsekuensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif cara
pengobatan yang lain
e. Resiko resiko yang harus diinformasikan,
1) Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut,
2) Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya.
3) Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran,
dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan
5. Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud dalam point
3), merupakan dasar daripada persetujuan
6. Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar,penjelasan diberikan kepada
keluarganya atau yang mengantar.
7. Penjelasan tentang diagnosis dan keadaan kesehatan pasien dapat meliputi: Temuan klinis
dari hasil pemeriksaan medis hingga saat tersebut Penjelasan tentang tindakan kedokteran
yang dilakukan meliputi:
8. Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan preventif, diagnostik,
terapeutik,ataupun rehabilitatif.
9. Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien selama dan sesudah tindakan,
serta efek samping atau ketidaknyamanan yang mungkin terjadi.
10. Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan kekurangannya dibandingkan dengan
tindakan yang direncanakan.
11. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing alternative tindakan.
12. Perluasan tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengatasi keadaan darurat akibat risiko
dan komplikasi tersebut atau keadaan tak terduga lainnya.
13. Penjelasan tentang risiko dan komplikasi tindakan kedokteran adalah semua risiko dan
komplikasi yang dapat terjadi mengikuti tindakan kedokteran yang dilakukan,kecuali:
a. Risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum
b. Risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau yang dampaknya sangat
ringan
c. Risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya (unforeseeable).
14. Penjelasan tentang prognosis meliputi:
a. Prognosis tentang hidup matinya (advitam)

TIM HPK 4
RS SELARAS

b. Prognosis tentang fungsinya (adfunctionam)


c. Prognosis tentang kesembuhan (adsanationam).
(1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus diberikan secara lengkap
dengan bahasa yang mudah dimengerti atau cara lain.
(2) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dan didokumentasikan
dalam berkas rekam medis oleh dokter atau dokter gigi yang memberikan
penjelasan dengan mencantumkan tanggal, waktu, nama,dan tanda tangan
pemberi penjelasan dan penerima penjelasan.
(3) Dalam hal dokter atau dokter gigi menilai bahwa penjelasan tersebut dapat
merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan
penjelasan,maka dokter atau dokter gigi dapat memberikan penjelasan tersebut
kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain
sebagai saksi.
(4) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal9 diberikan oleh dokter atau
dokter gigi yang merawat pasien atau salah satu dokter atau dokter gigi dari tim
dokter yang merawatnya.
a. Tenaga kesehatantertentu dapat membantu memberikan penjelasansesuaidengan
kewenangannya.
(5) Tenaga kesehatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tenaga
kesehatan yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada
pasien.
a. Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran juga
harus diberikan penjelasan.
b. Perluasan tindakan kedokteran yang tidak terdapat indikasi sebelumnya, hanya
dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien.
c. Setelah perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat(2)
dilakukan, dokter atau dokter gigi harus memberikan penjelasan kepada pasien
atau keluarga terdekat.
C. Pemberi Informasi

1. Dokter pemberi perawatan atau pelaku pemeriksaan tindakan untuk memastikan


bahwa persetujuan tersebut diperoleh secara benar dan layak. Dokter memang dapat
mendelegasikan proses pemberian informasi dan penerimaan persetujuan, namun
tanggung jawab tetap berada pada dokter pemberi delegasi untuk memastikan
bahwa persetujuan diperoleh secara benar dan layak.
2. Jika seorang dokter akan memberikan informasi dan menerima persetujuan pasien
atas nama dokter lain, maka dokter tersebut harus yakin bahwa dirinya mampu
menjawab secara penuh pertanyaan apapun yang diajukan pasien berkenaan dengan
tindakan yang akan dilakukan terhadapnya ,untuk memastikan bahwa persetujuan
tersebut dibuat secara benar dan layak.

TIM HPK 5
RS SELARAS

D. Penerima Informasi dan Pemberi Persetujuan

Persetujuan diberikan oleh individu yang kompeten. Ditinjau dari segi usia, maka
seseorang dianggap kompeten apabila berusia18 tahun keatas atau telah pernah menikah.
Sedangkan anak-anak yang berusia 16 tahun atau lebih tetapi belum berusia 18 tahun
dapat membuat persetujuan tindakan kedokteran tertentu yang tidak berisiko tinggi
apabila mereka dapat menunjukkan kompetensinya dalam membuat keputusan.
Alasan hokum yang mendasarinya adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan KUH Perdata maka seseorang yang berumur 21 tahun atau lebih atau
telah menikah dianggap sebagai orang dewasa dan oleh karenanya dapat
memberikan persetujuan.
2. Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun2002tentang Perlindungan Anak maka setiap
orang yang berusia18 tahun atau lebih dianggap sebagai orang yang sudah bukan
anak-anak. Dengan demikian mereka dapat diperlakukan sebagaimana orang
dewasa yang kompeten,dan oleh karenanya dapat memberikan persetujuan.
3. Mereka yang telah berusia 16 tahun tetapi belum 18 tahun memang masih
tergolong anak menurut hukum, namun dengan menghargai hak individu untuk
berpendapat sebagaimana juga diatur dalam UU 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak , maka mereka dapat diperlakukan seperti orang dewasa dan
dapat memberikan persetujuan tindakan kedokteran tertentu, khususnya yang
tidak berisiko tinggi. Untuk itu mereka harus dapat menunjukkan kompetensinya
dalam menerima informasi dan membuat keputusan dengan bebas. Selain itu,
persetujuan atau penolakan mereka dapat dibatalkan oleh orang tua atau wali atau
penetapan pengadilan.

E. Kompetensi Pasien dan/atau Keluarga yang menandatangani Informed Consent


atau Informed Refusal.

Seseorang dianggap kompeten untuk memberikan persetujuan apabila:

1. Mampu memahami informasi yang telah diberikan kepadanya dengan cara


yang jelas, menggunakan bahasa yang sederhana dan tanpa istilah yang terlalu
teknis.
2. Mampu mempercayai informasi yang telah diberikan.

TIM HPK 6
RS SELARAS

3. Mampu mempertahankan pemahaman informasi tersebut untuk waktu yangcukup


lama dan mampu menganalisisnya dan menggunakannya untuk membuat keputusan
secara bebas.
Terhadap pasien yang mempunyai kesulitan dalam menahan informasi atau yang
kompetensinya hilang timbul (intermiten), harus diberikan semua bantuan yang pasien
perlukan untuk mencapai pilihan/keputusan yang terinformasi.
Dokumentasikan semua keputusan yang pasien buat saat pasien kompeten,
termasuk diskusi yang terjadi. Setelah beberapa waktu, saat pasien kompeten lagi.
Keputusan tersebut harus didiskusikan lagi dengan pasien untuk memastikan
keputusannya konsisten.

F. Persetujuan Pada Individu Yang Tidak Kompeten

Keluarga terdekat atau pengampu pasien, dapat memberikan persetujuan


tindakan kedokteran bagi orang dewasa lain yang tidak kompeten.Yang dimaksud
keluarga terdekat adalah:
1. Suami/istri
2. Orangtua yang sah
3. Anak yang kompeten (lihat keterangan umur dan kompetensi diatas)
4. Saudarakandungyangkompeten (lihat keterangan umur dan kompetensi
diatas)
Didalam hal tidak ada kesepakatan didalam keluarga, maka dianjurkan agar Dokter
mempersilahkan keluarga untuk bermufakat dan hanya menerima persetujuan atau
penolakan yang sudah disepakati bersama.
Dokter dan Rumah Sakit Selaras tidak dibebani kewajiban untuk membuktikan
hubungan kekeluargaan pembuat persetujuan dengan pasien, demikian pula penentuan
mana yang lebih sah mewakili pasien dalam hal terdapat lebih dari satu istri atau suami
atau anak. Dokter dan Rumah Sakit Selaras berhak memperoleh pernyataan yang benar
dari pasien atau keluarganya.
Pada pasien yang tidak mau menerima informasi, perlu dimintakan siapa yang
ditunjuk oleh pasien tersebut sebagai wakil dalam menerima informasi dan membuat
keputusan apabila pasien menghendakinya demikian, misalnya wali atau keluarga
terdekatnya. Demikian pula pada pasien yang tidak mau menandatangani formulir
persetujuan, padahal ia menghendaki tindakan tersebut dilakukan.
Pada pasien yang tidak kompeten yang menghadapi keadaan gawat darurat
medis, sedangkan yang sah mewakilinya memberikan persetujuan tidak ditemukan, maka
Dokter dan Rumah Sakit Selaras dapat melakukan tindakan kedokteran demi kepentingan
terbaik pasien. Dalam hal demikian, penjelasan dapat diberikan kemudian.

G. CaraPemberianInformasi

a. Informasi diberikan dalam konteks nilai, budaya dan latar belakang mereka.

Sehingga menghadirkan seorang interpreter bila mungkin.

TIM HPK 7
RS SELARAS

b. Dapat menggunakan alat bantu,seperti leaflet atau bentuk publikasi lain apabila hal
itu dapat membantu memberikan informasi yang bersifat rinci. Berdasarkan
informasi yang terakhir,dapat ia bawa pulang dan digunakan untuk berpikir lebih
lanjut, tetapi jangan sampai mengakibatkan tidak ada diskusi.
c. Apabila dapat membantu, tawarkan kepada pasien untuk membawa keluarga atau
teman dalam diskusi atau membuat rekaman dengan tape recorder.
d. Memastikan bahwa informasi yang membuat pasien tertekan (distress ) agar
diberikan dengan cara yang sensitive dan empati.
e. Mengikutsertakan salah satu anggota tim pelayanan kesehatan dalam diskusi
f. Menjawab semua pertanyaan pasien dengan benar dan jelas
g. Memberikan cukup waktu bagi pasien untuk memahami informasi yang diberikan,
dan kesempatan bertanya

H. Tindakan Yang Berisiko Tinggi Yang Memerlukan Persetujuan Tertulis.


KSM BEDAH
1. MATA
1. Katarak Ektraksi
2. Bedah Filtrasi (Glukoma)
3. Eviserasi
4. Insisi hordeolum/kalazion
5. Eksisi granuloma
6. Ekstirpasi karpus alienum
7. Eksisi pterysium (CLG atau Bare Sklera)
8. Eksisi Tumor Palpetra
9. Rekonstruksi Palpetra
10. Hechting Konjungtiva, Kornea,Sclera

2. KSM Bedah Syaraf


1. Tumor Otak
2. PErdarahan Intra Cranial (EDH,SDH, ICH)
3. KElainan Vascular (Hemangioma/Aneurisma/Aura)
4. Tumor Myelum
5. HNP (Hernia Nucleus Pulposus)
6. Canal Stenosis Cervical / Lumbal / Thoracal
7. Fraktur Depressed Calvaria
8. Fraktur Tulang BElakang / Spinal Trauma / Sinal Cord Injury
9. Kelainan Congenital ( Hidrosepalus/Meningocepal/myelocepal)
10. Kelainan Infeksi (Meningitis/encephalitis (ABSES)

3. THT
1. Evakuasi Serumen
2. Tampon Telinga
3. Tampon Hidung
4. Polipektomi
5. Punksi Rahang
6. Lepas Tampon Hidung

TIM HPK 8
RS SELARAS

7. Ambil benda asing Hidung


8. Ambil Benda Asing Telinga
9. Ambil duri di Tonsil
10. Laringoskop Indirek

4. Bedah Umum
1. Tiroidectomi
2. Apendicitis
3. Herniotomi
4. Explorasi
5. Debridement & Jahit Luka
6. Open Biopsi
7. Vesikolitotomi
8. Sirkumsisi
9. Eksisi soft Tisuetumor
10. Pasang Thorax drain
11. Hemoroidektomi
12. Plate & wire Fraktur tulang wajah

5. Kebidanan dan Kandungan


1. SC
2. Histerectomi
3. Operasi Kista Ovarium
4. Operasi Kontrasepsi Wanita Mantap
5. Kuratase
6. Tindakan Circlage
7. Operasi Kista bartholine
8. Tindakan drip Oksitosin
9. Tindakan Vakum Extraksi
10. Tindakan / pertolongan persalinan Sungsang
11. Operasi KET

6. Bedah Orthopedi
1. ORIF
2. Pemasangan gips & reposisi
3. Debridement
4. Pemasangan eksternal fixsasi
5. Operasi ganti sendi
6. Operasi rekonstruksi tulang
7. Operasi amputasi
8. Pelepasan implant ORIF
9. Pelepasan implant external fixsasi
10. Operasi tulang belakang

TIM HPK 9
RS SELARAS

7. Bedah Plastik
1. Operasi bibir sumbing
2. Trauma maxillofacial
3. Luka bakar
4. Transplantasi kulit
5. Rekonstruksi pasca pengangkatan tumor
6. Tumor jinak pada kulit
7. Hemangioma
8. Bedah estetik
9. Hipospadia
10. Kelainan bawaan tangan
8. Bedah Digestif

9. Bedah Urologi

KSM Non Bedah


1. Patologi Klinik
1. BMP (Bone Maarrow Puncture)
2. Transfusi Darah
3. Sebelum Test HIV
2. Fisioterapi dan Rehabilitasi Medik
1. Dry Needing
2. Injeksi Botulinum Toxin/Phenol (Khusus untuk kondidi Spastisitas)
3. Injeksi Intraartikular
4. Injeksi MTPS (Injeksi Trigger Point)
5. Injeksi Sensitivity Spinal Segmental
6. Spray & Strecth
7. Taping & Strapping
3. Radiologi
1. BNO + IVP
2. Colon _inloop
3. Lopografi
4. Uretro Cystografi
5. Appendicogram
6. CT-Scan Otak dengan Kontras
7. CT-Scan Abdomen dengan Kontras
8. CT-Scan Thorax dengan Kontras
9. CT-Scan Sinus Paranasal dengan Kontras
10. CT-Scan Vertebrae dengan Kontras
11. Cholesistografi
12. OMD/Upper GI

4. Penyakit Dalam
1. Periardiosentesis (Pungsi Perikard)
2. Manajemen Perioperatif Pada Operasi Nonkardiak

TIM HPK 10
RS SELARAS

3. Test Treadmill
4. Pungsi Cairan Pleura
5. Biopsi Aspirasi Jarum Halus
6. Pleurodesis
7. Biopsi Pleura
8. Penyuntikan Intra-Artikular
9. Aspirasi Cairan Sendi/Artrosentesis
10. Biopsi Ginjal
11. Peritoneal Dialisis Akut
12. Peritoneal Dialisis Mandiri Berkesinambungan
13. Pungsi Sumsum Tulang
14. Biopsi Sumsum Tulang
15. Transfusi Darah
16. Plebotomi
17. Tes Tempel (Patch Test)
18. Tes Tusuk (Skin Prick Test)
19. Kolonoskopi
20. Pemasangan Selang Nasogastrik
21. Esofago-Gastro-Duodenoskopi
22. Biopsi Aspirasi Jarum Halus
23. Parasentesis Abdomen
5. Kesehatan Anak
1. Pemasangan NGT
2. Pemasangan Infus
3. Pemberian Obat
6. Syaraf
1. Lumbal pungsi
7. Jiwa
1. Fiksasi
2. Surat keterangan sehat jiwa/tidak
3. Surat pengampuan (terutama pada pasca demensia)
8. Anestesia
1. Anestesi Umum
2. Anestesi regional dengan spinal blok
3. Anestesi regional dengan epidural
4. Anestesi local dengan blok perifer
5. Pemasangan infuse vena dalam
6. Pemasangan vena sentral
7. Pemasangan alat bantu nafas dengan endotracheal tube
8. Pemasangan alat bantu nafas dengan ventilator
9. Analgesia epidural untuk persalinan
10. Analgesia epidural untuk pain management
# GIGI DAN MULUT
1. Drainase abses dan / incisi abses
2. Odontektomi/odontotomi
3. Alveolektomi
4. Gingivektomi
5. Operkulektomi

TIM HPK 11
RS SELARAS

6. Kuretase Gingiva
7. Replantasi Gigi
8. Tindakan Prostodonsi ( Valplast, Gigi Tiruan Lengkap, Mahkota Porselain)
9. Pencabutan Gigi dengan Komplikasi
10. Tindakan Estetika Gigi (Whitening, Veenering, Pearching)

TIM HPK 12
RS SELARAS

BAB III
DOKUMENTASI

1. Pencatatan dan pelaporan dilakukan oleh seluruh penyelenggara Rumah Sakit Selaras
dengan menggunakan format yang sudah disediakan oleh Rekam Medis.
2. Penjelasan yang diberikan oleh dokter atau tim medis tentang pengobatan atau
tindakan, pendokumentasian dilakukan dengan format Persetujuan atau Penolakan
Tindakan atau Pengobatan setelah pasien, keluarga, atau wali mendapatkan
penjelasan dari dokter atau tim medis.
3. Formulir Informed Concent atau Informed Refusal tersebut ditandatangani oleh kedua
belah pihak disertai saksi.
4. Seluruh isian dokumen rekam medis disimpan di Unit Rekam Medis dan diserahkan
dalam waktu 2 x24 jam bila memungkinkan.
5. Apabila Persetujuan atau Penolakan dilakukan oleh orang yang bukan merupakan
keluarga dekat atau wali pasien maka harus menggunakan Surat Kuasa.

TIM HPK 13
RS SELARAS

BAB IV
PENUTUP

Dengan ditetapkannya buku Panduan Informed Consent dan Informed Refusal kepada
Pasien dan Keluarga, maka setiap karyawan Rumah Sakit Selaras dapat melaksanakan
prosedur pemberian penjelasan kepada paseien dan keluarga secara baik dan benar serta
melayani pasien dengan memuaskan.

TIM HPK 14
RS SELARAS

TIM HPK 15
RS SELARAS

TIM HPK 16

Anda mungkin juga menyukai