Anda di halaman 1dari 69

______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

MODUL KULIAH

FILSAFAT ILMU

Oleh:
ADE HIDAYAT, S.Fil., M.Pd.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MATHLAUL ANWAR BANTEN
2014

0
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

SILABUS PERKULIAHAN
FILSAFAT ILMU

A. Deskripsi Mata Kuliah


Dalam mata kuliah ini akan dikaji konsep dasar tentang filsafat ilmu,
kedudukan, fokus, cakupan, tujuan dan fungsinya. Berikutnya dibahas pula tentang
karakteristik filsafat, ilmu dan pendidikan serta jalinan fungsional antara ilmu,
filsafat dan agama. Selanjutnya dibahas mengenal sistematika, permasalahan,
keragaman pendekatan dan paradigma (pola pikir) dalam pengkajian dan
pengembangan ilmu dan dimensi ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Kemudian dikaji mengenai makna, implikasi dan implementasi filsafat ilmu
sebagai landasan dalam rangka pengembangan keilmuan dan kependidikan dengan
penggunaan alternatif metodologi penelitian, baik pendekatan kualitatif, kuantitatif,
maupun perpaduan keduanya.

B. Tujuan Mata Kuliah


Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan peserta pendidikan memiliki
kemampuan: 1) Memahami konsep dasar filsafat ilmu, kedudukan, fokus, cakupan,
tujuan dan fungsinya untuk dapat dijadikan landasan pemikiran, perencanaan dan
pengembangan ilmu dan pendidikan secara akademik dan profesional; 2) Mampu
memahami filsafat ilmu untuk mengembangkan diri sebagai ilmuwan maupun
sebagai pendidik dengan penggunaan alternatif metodologi penelitian, baik
pendekatan kualitatif, kuantitatif, maupun perpaduan keduanya dalam konsentrasi
bidang studi yang menjadi minat utamanya; 3) Mampu menerapkan filsafat ilmu
sebagai dasar pemikiran, perencanaan dan pengembangan khususnya landasan
keilmuan dan landasan pendidikan yang dijiwai nilai-nilai ajaran agama dan nilai-
nilai luhur budaya masyarakat Indonesia yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa
dan negara serta umat manusia dalam pemahaman dan perkembangan lingkungan
dinamika global.

C. Pokok-pokok Perkuliahan
I. PENGERTIAN FILSAFAT
1. Arti istilah dan rumusan filsafat
2. Objek studi dan metode filsafat
3. Bidang kajian filsafat: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
4. Klasifikasi filsafat
5. Cabang-cabang filsafat
6. Jalinan ilmu, filsafat dan agama.
II. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
1. Definisi filsafat ilmu

1
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

2. Cakupan dan permasalahan filsafat ilmu


3. Berbagai pendekatan filsafat ilmu
4. Sejarah dan Perkembangan filsafat ilmu
5. Fungsi dan arah filsafat ilmu
III. SUBSTANSI FILSAFAT ILMU
1. Kenyataan atau fakta
2. Kebenaran
3. Konfirmasi
4. Logika Inferensi
5. Telaah konstruksi teori
IV. DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU
1. Dimensi Ontologis
2. Dimensi Epistemologis
3. Dimensi Aksiologis
V. PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN TEORI
1. Pengembangan teori dan alternatif metodologinya.
2. Etika dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi
3. Jalinan fungsional Agama, Filsafat dan Ilmu.
4. Implikasi dan Implementasi Filsafat Ilmu dalam pengembangan
Keilmuan dan Kependidikan.

2
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

BAB I
PENGERTIAN FILSAFAT

A. Arti Istilah dan Rumusan Filsafat


Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal
dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau
philein (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia atau shopos (hikmah,
kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, atau pengalaman praktis inteligensi).
Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Plato
menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam pengertian pencinta
kebijaksanaan. Kata falsafah merupakan arabisasi yang berarti pencarian yang
dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat
menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan
dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya.
Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal
sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual.
Sebelum Socrates ada satu kelompok yang menyebut diri mereka sophist
(kaum sofis) yang berarti cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia
sebagai ukuran realitas dan menggunakan hujah-hujah yang keliru dalam
kesimpulan mereka. Sehingga kata sofis mengalami reduksi makna yaitu berpikir
yang menyesatkan. Socrates karena kerendahan hati dan menghindarkan diri dari
pengidentifikasian dengan kaum sofis, melarang dirinya disebut dengan seorang
sofis (cendekiawan). Oleh karena itu istilah filosof tidak pakai orang sebelum
Socrates (Muthahhari, 2002).
Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki
manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoretis dan
filsafat praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti:
fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan
matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan metafisika. Filsafat praktis mencakup:
(1) norma-norma (akhlak); (2) urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik.
Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu
secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses
bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu
usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti
dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu
diterima atau ditolak. Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik
tertentu (Takwin, 2001).
Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah masalah falsafi pula.
Menurut para ahli logika ketika seseorang menanyakan pengertian
(definisi/hakikat) sesuatu, sesungguhnya ia sedang bertanya tentang macam-macam
perkara. Tetapi paling tidak bisa dikatakan bahwa falsafah itu kira-kira
merupakan studi yang didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen
dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis,

3
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

mencari solusi untuk ini, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk
solusi tertentu dan akhirnya dari proses-proses sebelumnya ini dimasukkan ke
dalam sebuah dialektika. Dialektika ini secara singkat bisa dikatakan merupakan
sebuah bentuk daripada dialog.
Adapun beberapa pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof
adalah:
1) Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap
tentang seluruh realitas.
2) Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara nyata.
3) Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan sumber daya,
hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.
4) Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan
yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
5) Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu seseorang melihat apa yang
dikatakannya dan untuk menyatakan apa yang dilihatnya.
Plato (427348 SM) menyatakan filsafat ialah pengetahuan yang bersifat
untuk mencapai kebenaran yang asli. Sedangkan Aristoteles (382322 SM)
mendefinisikan filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang
terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi,
politik, dan estetika. Sedangkan filosof lainnya Cicero (106043 SM) menyatakan
filsafat ialah ibu dari semua ilmu pengetahuan lainnya. Filsafat ialah ilmu
pengetahuan terluhur dan keinginan untuk mendapatkannya.
Menurut Descartes (15961650), filsafat ialah kumpulan segala pengetahuan
di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya. Sedangkan
Immanuel Kant (17241804) berpendapat filsafat ialah ilmu pengetahuan yang
menjadi pokok dan pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat
persoalan:
1. Apakah yang dapat kita ketahui? Jawabannya termasuk dalam bidang
metafisika.
2. Apakah yang seharusnya kita kerjakan? Jawabannya termasuk dalam bidang
etika.
3. Sampai di manakah harapan kita? Jawabannya termasuk pada bidang agama.
4. Apakah yang dinamakan manusia itu? Jawabannya termasuk pada bidang
antropologi.
Setidaknya ada tiga karakteristik berpikir filsafat yakni:
1) Sifat menyeluruh: seseorang ilmuwan tidak akan pernah puas jika hanya
mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin tahu hakikat
ilmu dari sudut pandang lain, kaitannya dengan moralitas, serta ingin yakin
apakah ilmu ini akan membawa kebahagiaan dirinya. Hal ini akan membuat
ilmuwan tidak merasa sombong dan paling hebat. Di atas langit masih ada
langit. contoh: Socrates menyatakan dia tidak tahu apa-apa.
2) Sifat mendasar: yaitu sifat yang tidak saja begitu percaya bahwa ilmu itu benar.

4
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria


tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu
apa? Seperti sebuah pertanyaan yang melingkar yang harus dimulai dengan
menentukan titik yang benar.
3) Spekulatif: dalam menyusun lingkaran dan menentukan titik awal sebuah
lingkaran yang sekaligus menjadi titik akhirnya dibutuhkan sifat spekulatif baik
sisi proses, analisis maupun pembuktiannya. Sehingga dapat dipisahkan mana
yang logis atau tidak.
Sir Isacc Newton, seorang ilmuwan terkenal dianggap memiliki ketiga
karakteristik di atas. Ada banyak penyempurnaan penemuan-penemuan ilmuwan
sebelumnya yang dilakukannya. Dalam pencariannya akan ilmu, Newton tidak
hanya percaya pada kebenaran yang sudah ada (ilmu pada saat itu). Ia menggugat
(meneliti ulang) hasil penelitian terdahulu seperti logika aristotelian tentang gerak
dan kosmologi, atau logika cartesian tentang materi gerak, cahaya, dan struktur
kosmos. Saya tidak mendefinisikan ruang, tempat, waktu dan gerak sebagaimana
yang diketahui banyak orang ujar Newton. Bagi Newton tak ada keparipurnaan,
yang ada hanya pencarian yang dinamis, selalu mungkin berubah dan tak pernah
selesai. kutekuni sebuah subjek secara terus menerus dan kutunggu sampai cahaya
fajar pertama datang perlahan, sedikit demi sedikit sampai betul-betul terang.

B. Objek Studi dan Metode Filsafat


1. Objek Studi Filsafat
Menurut Susanto (2011), isi Filsafat ditentukan oleh objek yang dipikirkan.
Objek sendiri adalah sesuatu yang menjadi bahan dari kajian dari suatu
penelaahan/penelitian tentang pengetahuan.Objek yang diselidiki oleh filosof
meliputi objek material dan objek formal.
Objek material dari filsafat adalah suatu kajian penelaahan atau pembentukan
pengetahuan itu,yaitu segala sesuatu yang ada dan mungkin ada,mencakup segala
hal,baik hal-hal yang kongkret/nyata maupun hal-hal yang abstrak atau tak tampak.
Mengenai objek material filsafat ini banyak kesamaan dengan objek material sains.
Hanya terdapat dua perbedaan, yaitu pertama sains menyelidiki objek material yang
empiris, sementara filsafat ilmu menyelidiki bagian objek yang abstrak. Kedua, ada
objek material filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan,
hari kiamat, yaitu objek material yang selamanya tidak empiris.
Jadi, dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa objek filsafat meliputi
beberapa hal, atau dengan kata lain objek filsafat ini tak terbatas. Begitu luasnya
kajian atau objek filsafat ini menyangkut hal-hal yang fisik atau nampak maupun
psikis atau yang tidak nampak. Ini meliputi alam semesta, semua keberadaan,
masalah hidup dan masalah manusia. Sedangkan hal-hal yang psikis (non fisik)
adalah masalah Tuhan, kepercayaan, norma-norma, nilai, keyakinan, dsb.
Sedangkan objek formal, yaitu sifat penelitian, penyelidikan yang
mendalam.Kata mendalam berarti ingin tahu tentang objek yang tidak empiris.
Menurut Lasiyo dan Yuwono (1985: 6), objek formal adalah sudut pandang yang
menyeluruh secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya.

5
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Jadi objek formal filsafat ini membahas objek materialnya sampai ke hakikat/esensi
dari yang dibahasnya.
Dewasa ini, corak dan ragam ilmu pengetahuan sangatlah banyak. Corak dan
ragam yang berbeda-beda ini timbul karena adanya perbedaan cara pandang dalam
memahami objek ilmu pengetahuan. objek ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang
merupakan bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan. Inti pembahasan
atau pokok persoalan dan sasaran material dalam ilmu pengetahuan sering disebut
sebagai objek material ilmu pengetahuan. Sedangkan cara pandang atau
pendekatan-pendekatan terhadap objek material ilmu pengetahuan biasa disebut
sebagai objek formal. Dari berbeda-bedanya objek ilmu pengetahuan ini, timbullah
ragam dan corak ilmu pengetahuan. Dengan mengetahui objek material dan objek
formal ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui bidang keilmuan apakah yang
dimungkinkan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan
permasalahan yang kita miliki.
2. Metode Filsafat
Metode berasal dari kata Yunani Methodos, sumbangan kata depan meta
(menuju, melalui, mengikuti, sesudah), dan kata benda hodos (jalan, perjalanan,
cara, arah). Kata Methodos sendiri berarti penelitian, jalan ilmiah, hipotesa ilmiah.
Sehingga dapat disebutkan bahwa metode adalah cara bertindak menurut sistem
aturan tertentu. Maksud metode adalah agar kegiatan praktis terlaksana secara
rasional dan terarah, agar mencapai hasil optimal (Bakker, 1986).
Metode dan filsafat mempunyai hubungan erat, karena secara tidak langsung
filsafat membutuhkan metode untuk mempermudah dalam berfilsafat. Untuk
mempelajari filsafat ada tiga macam metode: (1) metode sistematis, (2) metode
historis, dan (3) metode kritis.
Menggunakan metode sistematis, berarti seseorang menghadapi dan
mempelajari karya filsafat. Misalnya mula-mula ia menghadapi teori pengetahuan
yang terdiri atas beberapa cabang filsafat, setelah itu ia mempelajari teori hakikat
yang merupakan cabang lain. Kemudian ia mempelajari teori nilai atau filsafat
tatkala membahas setiap cabang atau cabang itu, aliran-aliran akan terbahas.
Dengan belajar filsafat melalui metode ini perhatiannya terpusat pada isi filsafat,
bukan pada tokoh atau pun periode.
Adapun metode historis digunakan apabila seseorang mempelajari filsafat
dengan cara mengikuti sejarah, terutama sejarah pemikiran. Metode ini dapat
dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam
sejarah, misalnya dimulai dari membicarakan filsafat Thales, membicarakan
riwayat hidupnya, pokok ajarannya, lantas dalam teori pengetahuan, teori hakikat,
maupun dalam teori nilai. Lantas setelah mengetahui Thales dari mulai
pemikiranya, dilanjutkan lagi misalnya Heraklitus, Pramendes, Sokrates,
Demokritus, Plato, dan tokoh-tokoh lainnya (Suryabrata, 1987).
Metode kritis digunakan oleh orang yang mempelajari filsafat tingkat
intensif. Pengguna metode ini haruslah sedikit-banyak telah memiliki pengetahuan
filsafat, langkah pertama dengan memahami isi ajaran, kemudian mengajukan
kritiknya. Kritik itu dapat menggunakan pendapatnya sendiri atau pun

6
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

menggunakan filsafat/pemikiran lain (Tafsir, 1990).

C. Bidang Kajian Filsafat: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi


Louis O. Katsoff dalam bukunya Elements of Philosophy menyatakan
bahwa kegiatan filsafat merupakan perenungan, yaitu suatu jenis pemikiran yang
meliputi kegiatan meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan,
menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lainnya,
menanyakan mengapa mencari jawaban yang lebih baik ketimbang jawaban
pada pandangan mata. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan,
keutuhan, dan keadaan memadainya pengetahuan agar dapat diperoleh pemahaman.
Tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin,
mengajukan kritik dan menilai pengetahuan. Berdasarkan tujuan tersebut, terdapat
tiga bidang kajian filsafat yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga bidang
filsafat ini merupakan pilar utama bangunan filsafat.
Ontologi adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit
lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial
ontologi terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut Stephen Little
John (1996), ontologi adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah
gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan eksistensi
kemanusiaan.
Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode,
dan batasan pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan kriteria bagi penilaian
terhadap kebenaran dan kepalsuan. Epistemologi pada dasarnya adalah cara
bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh dalam prosesnya
menggunakan metode ilmiah. Metode adalah tata cara dari suatu kegiatan
berdasarkan perencanaan yang matang dan mapan, sekaligus sistematis dan logis.
Aksiologis adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai seperti etika,
estetika. Little John menyebutkan bahwa aksiologis, merupakan bidang kajian
filosofis yang membahas value (nilai-nilai).

D. Klasifikasi Filsafat
Di seluruh dunia, banyak orang yang menanyakan pertanyaan yang sama dan
membangun tradisi filsafat, menanggapi dan meneruskan banyak karya-karya
sesama mereka. Oleh karena itu filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah
geografis dan budaya. Pada dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi: Filsafat
Barat, Filsafat Timur, dan Filsafat Islam.
1. Filsafat Barat
Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di
universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini
berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno. Menurut Takwin (2001) dalam
pemikiran barat konvensional pemikiran yang sistematis, radikal, dan kritis
seringkali merujuk pengertian yang ketat dan harus mengandung kebenaran logis.
Misalnya aliran empirisme, positivisme, dan filsafat analitik memberikan kriteria

7
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

bahwa pemikiran dianggap filosofis jika mengadung kebenaran korespondensi dan


koherensi. Korespondensi yakni sebuah pengetahuan dinilai benar jika pernyataan
itu sesuai dengan kenyataan empiris. Contoh: jika pernyataan Saat ini hujan
turun, adalah benar jika indra kita menangkap hujan turun, jika kenyataannya tidak
maka pernyataannya dianggap salah. Koherensi berarti sebuah pernyataan dinilai
benar jika pernyataan itu mengandung koherensi logis (dapat diuji dengan logika
barat).
Dalam filsafat barat secara sistematis terbagi menjadi tiga bagian besar yakni:
(a) bagian filsafat yang mengkaji tentang ada atau being (ontologi), (b) bidang
filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistemologi dalam arti luas), (c) bidang
filsafat yang mengkaji nilai-nilai menentukan apa yang seharusnya dilakukan
manusia (aksiologi).
Beberapa tokoh dalam filsafat barat yaitu:
1) Wittgenstein mempunyai aliran analitik (filsafat analitik) yang dikembangkan
di negara-negara yang berbahasa Inggris, tetapi juga diteruskan di Polandia.
Filsafat analitik menolak setiap bentuk filsafat yang berbau metafisik.
Filsafat analitik menyerupai ilmu-ilmu alam yang empiris, sehingga kriteria
yang berlaku dalam ilmu eksata juga harus dapat diterapkan pada filsafat. Yang
menjadi obyek penelitian filsafat analitik sebetulnya bukan barang-barang,
peristiwa-peristiwa, melainkan pernyataan, aksioma, prinsip. Filsafat analitik
menggali dasar-dasar teori ilmu yang berlaku bagi setiap ilmu tersendiri. Yang
menjadi pokok perhatian filsafat analitik ialah analisa logika bahasa sehari-hari,
maupun dalam mengembangkan sistem bahasa buatan.
2) Imanuel Kant mempunyai aliran atau filsafat kritik yang tidak mau melewati
batas kemungkinan pemikiran manusiawi. Rasionalisme dan empirisme ingin
disintesakannya. Untuk itu ia membedakan akal, budi, rasio, dan pengalaman
inderawi. Pengetahuan merupakan hasil kerja sama antara pengalaman inderawi
yang aposteriori dan keaktifan akal, faktor priori. Struktur pengetahuan harus
kita teliti. Kant terkenal karena tiga tulisan: (1) Kritik atas rasio murni, apa yang
saya dapat ketahui. Ding an sich, hakikat kenyataan yang dapat diketahui.
Manusia hanya dapat mengetahui gejala-gejala yang kemudian oleh akal terus
ditampung oleh dua wadah pokok, yakni ruang dan waktu. Kemudian diperinci
lagi misalnya menurut kategori sebab dan akibat, dst. Seluruh pengetahuan kita
berkiblat pada Tuhan, jiwa, dan dunia. (2) Kritik atas rasio praktis, apa yang
harus saya buat. Kelakuan manusia ditentukan oleh kategori imperatif,
keharusan mutlak: kau harus begini dan begitu. Ini mengandaikan tiga postulat:
kebebasan, jiwa yang tak dapat mati, adanya Tuhan. (3) Kritik atas daya
pertimbangan. Di sini Kant membicarakan peranan perasaan dan fantasi,
jembatan antara yang umum dan khusus.
3) Rene Descartes. Berpendapat bahwa kebenaran terletak pada diri subyek.
Mencari titik pangkal pasti dalam pikiran dan pengetahuan manusia, khusus
dalam ilmu alam. Metode untuk memperoleh kepastian ialah menyangsikan
segala sesuatu. Hanya satu kenyataan tak dapat disangsikan, yakni aku berpikir,
maka aku ada (cogito ergo sum). Dalam mencari proses kebenaran hendaknya
kita pergunakan ide-ide yang jelas dan tajam. Setiap orang, sejak ia dIlahirkan,

8
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

dilengkapi dengan ide-ide tertentu, khusus mengenai adanya Tuhan dan dalil-
dalil matematika. Pandangannya tentang alam bersifat mekanistik dan
kuantitatif. Kenyataan dibaginya menjadi dua yaitu: res extensa dan res
cogitans.
2. Filsafat Timur
Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia,
khususnya di India, Tiongkok, nusantara, dan daerah-daerah lain yang pernah
dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas filsafat timur ialah dekatnya hubungan
filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk
filsafat barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat an sich
masih lebih menonjol daripada agama. Nama-nama beberapa filosof: Lao Tse,
Kong Hu Cu, Zhuang Zi, dan lain-lain.
Pemikiran filsafat timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak
rasional, tidak sistematis, dan tidak kritis. Hal ini disebabkan pemikiran timur lebih
dianggap agama dibanding filsafat. Pemikiran timur tidak menampilkan sistematika
seperti dalam filsafat barat. Misalnya dalam pemikiran Cina, sistematikanya
berdasarkan pada konstrusksi kronologis mulai dari penciptaan alam hingga
meninggalnya manusia dijalin secara runut (Takwin, 2001).
Belakangan ini, beberapa intelektual barat telah beralih ke filsafat timur,
misalnya Fritjop Capra, seorang ahli fisika yang mendalami taoisme, untuk
membangun kembali bangunan ilmu pengetahuan yang sudah terlanjur dirongrong
oleh relativisme dan skeptisisme (Bagir, 2005). Skeptisisme terhadap metafisika
dan filsafat dipelopori oleh Rene Descartes dan William Ockham.
3. Filsafat Islam
Filsafat Islam ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa. Sebab dilihat
dari sejarah, para filosof dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan
ahli waris tradisi Filsafat Barat (Yunani). Terdapat dua pendapat mengenai
sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus
berkembang hingga saat ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropa
belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang
disalin oleh St. Agustine (354430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius
Manlius Boethius (480524 M) dan John Scotus. Pendapat kedua menyatakan
bahwa orang Eropa belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filsafat
Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti
Al-Kindi dan Al-Farabi.
Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya, karena
menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories, dan
Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi
mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang
oleh negara. Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan
Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa,
maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak akan
menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan
berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam (Haerudin, 2003).

9
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Majid Fakhri (2006) cenderung menganggap filsafat Islam sebagai mata


rantai yang menghubungkan Yunani dengan Eropa modern. Kecenderungan ini
disebut europosentris yang berpendapat filsafat Islam telah berakhir sejak kematian
Ibn Rusyd. Pendapat ini ditentang oleh Henry Corbin dan Louis Massignon yang
menilai adanya eksistensi filsafat Islam. Dalam filsafat Islam ada empat aliran
yakni:
1) Peripatetik (memutar atau berkeliling) merujuk kebiasaan Aristoteles yang
selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya ketika mengajarkan filsafat. Ciri
khas aliran ini secara metodologis atau epistimologis adalah menggunakan
logika formal yang berdasarkan penalaran akal (silogisme), serta penekanan
yang kuat pada daya-daya rasio. Tokoh-tokohnya yang terkenal yakni: Al Kindi
(w. 866), Al Farabi (w. 950), Ibnu Sina (w. 1037), Ibn Rusyd (w. 1196), dan
Nashir al Din Thusi (w.1274).
2) Aliran Iluminasionis (Israqi). Didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi Al
Maqtul (w. 1191). Aliran ini memberikan tempat yang penting bagi metode
intuitif (irfani). Menurutnya dunia ini terdiri dari cahaya dan kegelapan.
Baginya Tuhan adalah cahaya sebagai satu-satunya realitas sejati (nur al
anwar), cahaya di atas cahaya.
3) Aliran Irfani (Tasawuf). Tasawuf bertumpu pada pengalaman mistis yang
bersifat supra-rasional. Jika pengenalan rasional bertumpu pada akal maka
pengenalan sufistik bertumpu pada hati. Tokoh yang terkenal adalah Jalaluddin
Rumi dan Ibn Arabi.
4) Aliran Hikmah Mutaaliyyah (Teosofi Transeden). Diwakili oleh seorang
filosof syiah yakni Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami yang dikenal
dengan nama Shadr al Din al Syirazi, Atau yang dikenal dengan Mulla Shadra
yaitu seorang filosof yang berhasil mensintesiskan ketiga aliran di atas.
Dalam Islam ilmu merupakan hal yang sangat dianjurkan. Dalam Al Quran
kata al-ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih 780 kali. Hadis juga
menyatakan mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Dalam pandangan Allamah
Faydh Kasyani dalam bukunya Al Wafi: ilmu yang diwajibkan kepada setiap
muslim adalah ilmu yang mengangkat posisi manusia pada hari akhirat, dan
mengantarkannya pada pengetahuan tentang dirinya, penciptanya, para nabinya,
utusan Allah, pemimpin Islam, sifat Tuhan, hari akhirat, dan hal-hal yang
mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam pandangan keilmuan Islam, fenomena alam tidaklah berdiri tanpa
relasi dan relevansinya dengan kuasa Ilahi. Mempelajari alam berarti akan
mempelajari dan mengenal dari dekat cara kerja Tuhan. Dengan demikian
penelitian alam semesta (jejak-jejak Ilahi) akan mendorong manusia untuk
mengenal Tuhan dan menambah keyakinan terhadapnya. Fenomena alam bukanlah
realitas-realitas independen melainkan tanda-tanda Allah SWT. Fenomena alam
adalah ayat-ayat yang bersifat qauniyyah, sedangkan kitab suci ayat-ayat yang
besifat qauliyah. Oleh karena itu ilmu-ilmu agama dan umum menempati posisi
yang mulia sebagai obyek ilmu.

10
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

E. Cabang-cabang Filsafat
Filsafat itu selalu bersifat "filsafat tentang" sesuatu yang tertentu karena
filsafat bertanya tentang seluruh kenyataan. Contohnya filsafat tentang manusia,
filsafat alam, filsafat kebudayaan, filsafat seni, filsafat agama, filsafat bahasa,
filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat pengetahuan dan seterusnya. Seluruh jenis
filsafat tersebut dapat dikembalikan lagi kepada empat bidang induk, seperti dalam
skema ini.
Tabel 1.1. Skema Kajian Filsafat

Epistemologi : pengetahuan tentang pengetahuan


Logika : menyelidiki aturan-aturan yang harus diperhatikan
supaya berpikir sehat
Kritik ilmu-ilmu : menyelidiki titik pangkal, metode dan objek dari ilmu-
ilmu
Ontologi : pengetahuan tentang semua pengada sejauh mereka
ada
Teologi metafisik : (disebut juga teodise atau filsafat ketuhanan) berbicara
tentang pertanyaan apakah Tuhan ada dan nama-nama
tentang Ilahi
Antropologi : berbicara tentang manusia
Kosmologi : (disebut juga filsafat alam) berbicara tentang alam,
kosmos
Etika : (disebut juga filsafat moral) berbicara tentang tindakan
manusia
Estetika : (disebut juga filsafat seni) menyelidiki mengapa
sesuatu dialami sebagai indah
Sejarah filsafat : mengajarkan apa jawaban pemikir-pemikir sepanjang
zaman

Tidak semua ahli filsafat setuju dengan pembagian seperti yang diuraikan di
atas. Ada filsuf yang menyangkal kemungkinan ontologi atau seluruh metafisika.

11
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Namun pembagian ini adalah skema yang paling klasik dan paling umum diterima.

F. Jalinan Ilmu, Filsafat dan Agama


Sebelum membahas bagaimana jalinan antara ilmu, filsafat dan agama,
alangkah baiknya apabila kita mencoba kembali mengungkap definisi dari ilmu,
filsafat dan agama tersebut walaupun sebenarnya sulit sekali mengungkap sebuah
definisi karena biasanya dipengaruhi oleh perbedaan sudut pandang orang yang
akan membuat definisi tersebut. Demikian yang diungkapkan Juhaya (2005) ketika
akan memberikan definisi-definisi tentang ilmu, filsafat dan agama.
Dalam bukunya yang berjudul Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Juhaya
membuat definisi tentang ilmu, filsafat dan agama. Menurutnya yang dimaksud
dengan ilmu adalah sesuatu yang melekat pada manusia di mana ia dapat
mengetahui sesuatu yang asalnya tidak ia ketahui. Jadi secara umum sebenarnya
ilmu itu berarti tahu/pengetahuan. Seseorang yang banyak ilmunya bisa dikatakan
sebagai seorang ilmuwan, ulama, ahli pengetahuan dan sebagainya. Pada dasarnya
ilmu/pengetahuan mempunyai tiga kriteria, yaitu: (a) adanya suatu sistem gagasan
dalam pikiran; (b) persesuaian antara gagasan itu dengan benda-benda sebenarnya;
dan (c) adanya keyakinan tentang persesuaian itu.
Filsafat mempunyai arti yang diambil dari kata philosophia, kata majemuk
yang terdiri dari kata Philos yang artinya cinta atau suka dan shopia artinya
bijaksana. Dengan demikian kata filsafat memberikan pengertian cinta
kebijaksanaan. Orangnya disebut philosopher atau failasuf. Secara terminologis,
filsafat mempunyai arti yang bermacam-macam diantaranya yang diungkapkan Al-
Farabi (wafat 950 M) seorang filsuf Muslim mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu
pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat sebenarnya.
Agama memiliki arti yang berasal dari bahasa sansakerta yaitu a-gama,
a=tidak; gama=kacau; agama berarti tidak kacau. Dalam arti luas agama
mempunyai makna bahwa manusia yang beragama atau menjalankan aturan agama
maka hidupnya tidak akan kacau balau.
Lalu bagaimana sebetulnya jalinan antara ilmu, filsafat dan agama? Marilah
kita kaji dimana titik temu antara ilmu dengan filsafat dan titik temu antara agama
dan filsafat. Ada beberapa hal dimana filsafat dan ilmu pengetahuan dapat saling
bertemu. Dalam beberapa abad terakhir, filsafat telah mengembangkan kerja sama
yang baik dengan ilmu pengetahuan. Filsafat dan ilmu pengetahuan kedua-duanya
menggunakan metode pemikiran reflektif dalam usaha untuk menghadapi fakta-
fakta dunia dan kehidupan. Keduanya menunjukkan sikap kritik, dengan pikiran
terbuka dan kemauan yang tidak memihak, untuk mengetahui hakikat kebenaran.
Mereka berkepentingan untuk mendapatkan pengetahuan yang teratur.
Ilmu membekali filsafat dengan bahan-bahan yang deskriptif dan faktual
yang sangat penting untuk membangun filsafat, ilmu pengetahuan juga melakukan
pengecekan terhadap filsafat, dengan menghilangakan ide-ide yang tidak sesuai
dengan pengetahuan ilmiah. Sementara filsafat mengambil pengetahuan yang
terpotong-potong dari berbagai ilmu, kemudian mengaturnya dalam pandangan
hidup yang lebih sempurna dan terpadu. Sebagai contoh tentang konsep evolusi

12
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

mendorong kita untuk meninjau kembali pemikiran kita hampir dalam segala
bidang.
Kesimpulannya kontribusi lebih jauh yang diberikan filsafat terhadap ilmu
pengetahuan adalah kritik tentang asumsi, postulat ilmu dan analisa kritik tentang
istilah-istilah yang dipakai. Ilmu dan filsafat kedua-duanya memberikan
penjelasan-penjelasan dan arti-arti dari objeknya masing-masing. Banyak filsuf
yang mendapat pendidikan tentang metode ilmiah dan mereka saling memupuk
perhatian dalam beberapa disiplin ilmu.
Dalam perjalanannya, filsafat dengan ilmu juga terkadang memiliki
pertentangan pada kecondongan atau titik penekanan, bukan pada penekanan yang
mutlak. Penekanan itu dapat dilihat dari perbedaan-perbedaan berikut ini, yaitu:
Ilmu-ilmu tertentu menyelidiki bidang-bidang yang terbatas, sedangkan
filsafat mencoba melayani seluruh manusia dan lebih bersifat inklusif tidak
ekslusif;
Ilmu lebih analitik dan lebih deskriptif, sedangkan filsafat lebih sintetik dan
sinoptik;
Ilmu menganalisis seluruh unsur yang menjadi bagian-bagiannya;
sedangkan filsafat berusaha untuk mengembangkan benda-benda dalam
sintesa yang interpretatif;
Jika ilmu berusaha untuk menghilangkan faktor-faktor pribadi, sedangkan
filsafat lebih mementingkan personalitas, nilai-nilai dan juga bidang
pengalaman;
Ilmu lebih menekankan kebenaran yang bersifat logis dan objektif,
sedangkan filsafat bersifat radikal dan subjektif;
Adapun titik temu antara agama dan filsafat adalah baik agama maupun
filsafat pada dasarnya mempunyai kesamaan, keduanya memiliki tujuan yang sama,
yakni mencapai kebenaran yang sejati. Agama yang dimaksud di sini adalah agama
Samawi, yaitu agama yang diwahyukan tuhan kepada nabi dan rasul-Nya.
Dibalik persamaan itu terdapat pula perbedaan antara keduanya. Dalam
agama ada hal-hal yang penting, misalnya Tuhan, kebijakan, baik dan buruk, surga
dan neraka, dan lain-lain. Hal-hal tersebut diselidiki pula oleh filsafat. Oleh karena
hal-hal tersebut ada-atau paling tidak-mungkin ada, karena objek penyelidikan
filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.
Alasan filsafat untuk menerima kebenaran bukanlah kepercayaan, melainkan
penyelidikan sendiri, hasil pikiran belaka. Filsafat tidak mengingkari atau
mengurangi wahyu, tetapi ia tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu.
Lapangan filsafat dan agama dalam beberapa hal mungkin sama, akan tetapi
dasarnya amat berlainan. Tegasnya akan kita lihat perbedaan-perbedaan antara
agama dan filsafat sebagai berikut:
Filsafat berdasarkan pikiran belaka, sedangkan agama berdasarkan wahyu
Ilahi, oleh karena itu agama sering juga disebut kepercayaan alasannya
karena yang diwahyukan oleh Tuhan haruslah dipercayai;

13
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Dalam filsafat untuk mendapatkan kebenaran hakiki, manusia harus


mencarinya sendiri dengan mempergunakan alat yang dimilikinya berupa
segala potensi lahir dan batin, sedangkan dalam agama untuk mendapatkan
kebenaran hakiki itu manusia tidak hanya mencarinya sendiri, melainkan
harus menerima (baca: iman atau percaya) hal-hal yang diwahyukan Tuhan.
Agama beralatkan kepercayaan, sedangkan filsafat berdasarkan penelitian.
Demikianlah antara ilmu, filsafat dan agama sebenarnya mempunyai jalinan
dan saling berhubungan satu sama lain yang memiliki kesamaan yaitu mencari
hakikat kebenaran, meski ada beberapa perbedaan terutama yang berkaitan dengan
objek forma, sumber, cara pandang, hasil serta alat ukurnya.
Titik temu dari ketiga disiplin itu adalah bahwa ilmu menggunakan
pengamatan, eksperimen dan pengalaman inderawi kemudian filsafat berusaha
menghubungkan penemuan-penemuan ilmu dengan maksud menemukan hakikat
kebenaran dan agama menentukan arah dalam mendapatkan kebenaran yang hakiki
itu berlandaskan pada keyakinan dan keimanan.

14
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

BAB II
PENGERTIAN FILSAFAT ILMU

A. Definisi Filsafat Ilmu


Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisamenjumpai
pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji
kesahihan dan akuntabilitas pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan intelektual (Bagir, 2005).
Menurut kamus Webster New World Dictionary, kata ilmu atau science
berasal dari kata latin, scire yang artinya mengetahui. Secara bahasa science berarti
keadaan atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam arti pengetahuan
(knowledge) yang dikontraskan melalui intuisi atau kepercayaan. Namun kata ini
mengalami perkembangan dan perubahan makna sehingga berarti pengetahuan
sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan untuk
menentukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji. Sedangkan dalam bahasa Arab,
ilmu berasal dari kata ilm, alima yang artinya mengetahui.
Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan science yang berasal
dari kata scire. Namun ilmu memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan science
(sains). Sains hanya dibatasi pada bidang-bidang empirismepositiviesme
sedangkan ilmu melampuinya dengan nonempirisme seperti matematika dan
metafisika (Kartanegara, 2003).
Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat. Tugas
filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana pengetahuan tentang sesuatu
sebagaimana adanya. Will Duran dalam bukunya The story of Philosophy
mengibaratkan bahwa filsafat seperti pasukan marinir yang merebut pantai untuk
pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri dianalagikan sebagai pengetahuan
termasuk di dalamnya ilmu. Sehingga dapat dikatakan filsafat membantu dan
memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan.
Semua ilmu, baik ilmu alam maupun sosial bertolak dari pengembangannya
sebagai filsafat. Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural philosophy) dan
nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy). Issac Newton (1642-
1627) pencetus banyak hukum fisika dikatakan sebagai Philosophiae Naturalis
Principia Mathematica (1686) dan Adam Smith (1723-1790) bapak ilmu ekonomi
penulis The Wealth Of Nation (1776) disebut sebagai Professor of Moral
Philosophy di Universitas Glasgow.
Agus Comte dalam Scientific Metaphysic, Philosophy, Religion and Science,
1963 membagi tiga tingkat perkembangan ilmu pengetahuan yaitu: religius,
metafisik dan positif. Dalam tahap awal asas religilah yang dijadikan postulat
ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran religi. Tahap berikutnya
orang mulai berspekulasi tentang metafisika dan keberadaan wujud yang menjadi
obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem
pengetahuan di atas dasar postulat metafisik. Tahap terakhir adalah tahap

15
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

pengetahuan ilmiah (ilmu) di mana asas-asas yang digunakan diuji secara positif
dalam proses verifikasi yang obyektif. Tahap terakhir Inilah karakteristik sains yang
paling mendasar selain matematika.
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut
epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti
knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali
dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni
epistemology dan ontology (on=being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori
tentang apa).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang
menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini
berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang
tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja,
yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi
sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural,
metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran
ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah
dapat dipertanggungjawabkan.
Sedang pengetahuan tak-ilmiah adalah yang masih tergolong pra-ilmiah.
Dalam hal ini berupa pengetahuan hasil serapan inderawi yang secara sadar
diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Di samping itu termasuk
yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit,
atau wahyu (oleh nabi).
Tabel 2.1. Ragam Pengetahuan Manusia

Pengetahuan Objek Paradigma Metode Kriteria

Sains Empiris Sains Metode Rasional empiris


ilmiah

Filsafat Abstrak Rasional Metode Rasional


rasional rasional

Mistis Abstrak Mistis Latihan Rasa, iman, logis,


suprarasional percaya kadang empiris

Sumber: Tafsir (2006). Filsafat Ilmu


Dengan lain perkataan, pengetahuan ilmiah diperoleh secara sadar, aktif,
sistematis, jelas prosesnya secara prosedural, metodis dan teknis, tidak bersifat
acak, kemudian diakhiri dengan verifikasi atau diuji kebenaran (validitas)
ilmiahnya. Sedangkan pengetahuan yang pra-ilmiah, walaupun sesungguhnya
diperoleh secara sadar dan aktif, namun bersifat acak, yaitu tanpa metode, apalagi
yang berupa intuisi, sehingga tidak dimasukkan dalam ilmu. Dengan demikian,
pengetahuan pra-ilmiah karena tidak diperoleh secara sistematis-metodologis ada
yang cenderung menyebutnya sebagai pengetahuan naluriah.

16
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

B. Obyek Material dan Obyek Formal Filsafat Ilmu


Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material
adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan. Objek
material adalah objek yang di jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau
objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah
pengetahuan itu sendiri, yakni pengetahuan ilmiah (scientific knowledge)
pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu,
sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara umum (Adib, 2010:
53).
Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang
sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang
bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka
dihasilkanlah sistem filsafat ilmu.
Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya.
Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin
dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi (merupakan hal yang ada dalam
setiap pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat
dapat diungkapkan menjadi tersurat.
Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. Segala manusia ingin mengetahui,
itu kalimat pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Obyek materialnya adalah
gejala manusia tahu. Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu berdasarkan
sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali kebenaran (versus kepalsuan),
kepastian (versus keraguan), obyektivitas (versus subyektivitas),
abstraksi, intuisi, dari mana asal pengetahuan dan ke mana arah pengetahuan.
Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan menjadi obyek material juga, dan
kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan menurut sebab-musabab pertama)
menghasilkan filsafat ilmu pengetahuan. Kekhususan gejala ilmu pengetahuan
terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan teliti. Kekhususan itu terletak dalam
cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.
Jadi, dapat dikatakan bahwa objek formal adalah sudut pandang dari mana
sang subjek menelaah objek materialnya. Yang menyangkut asal usul, struktur,
metode, dan validitas ilmu. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi)
ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap
problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan,
bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi
manusia.

C. Cakupan dan Permasalahan Filsafat Ilmu


Apakah batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu
berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain?
Apakah yang menjadi karakteristik obyek ontologi ilmu yang membedakan ilmu
dari pengetahuan-pengetahuan lainnya? Jawab dari semua pertanyaan itu adalah
sangat sederhana: ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan

17
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

berhenti pada batas pengalaman manusia. Jadi ilmu tidak mempelajari masalah
surga dan neraka dan juga tidak mempelajari sebab musabab kejadian terjadinya
manusia, sebab kejadian itu berada di luar jangkauan pengalaman manusia.
Mengapa ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam
pengalaman kita? Jawabnya terletak pada fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan
manusia; yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah yang
dihadapi sehari-hari. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas
pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun
yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah
di luar batas pengalaman empirisnya, bagaimanakah kita melakukan suatu
kontradiksi yang menghilangkan kesahihan metode ilmiah?
Kalau begitu maka sempit sekali batas jelajah ilmu, kata seorang, cuma
sepotong dari sekian permasalahan kehidupan. Memang demikian, jawab filsuf
ilmu, bahkan dalam batas pengalaman manusia pun, ilmu hanya berwenang dalam
menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan. Tentang baik dan buruk, semua
berpaling kepada sumber-sumber moral; tentang indah dan jelek semua berpaling
kepada pengkajian estetik.
Ruang penjelajahan keilmuan kemudian kita kapling-kapling dalam
berbagai displin keilmuan. Kapling ini makin lama makin sempit sesuai dengan
perkembangan kuatitatif displin keilmuan. Kalau pada fase permualaan hanya
terdapat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial maka sekarang ini terdapat lebih dari
650 cabang keilmuan.
1. Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Filsafat Ilmu sampai tahun sembilan puluhan telah berkembang begitu pesat
sehingga menjadi suatu bidang pengetahuan yang amat luas dan begitu mendalam.
Lingkupan filsafat ilmu berkembang begitu pesat sehingga menjadi suatu bidang
pengetahuan yang amat luas dan mendalam. Lingkupan filsafat ilmu sebagaimana
telah dibahas oleh para pakar filsafat kontemporer, dapat dikemukakan secara
ringkas seperti di bawah ini.
Menurut Peter Angeles (1981: 250), filsafat ilmu mempunyai empat
bidang konsentrasi utama: (1) Telaah mengenai berbagai konsep, praanggapan,
dan metode Ilmu, berikut analisis, perluasan dan penyusunannya untuk
memperoleh pengetahuan yang lebih ajeg dan cermat; (2) Telaah dan
pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut struktur
perlambangnya; (3) Telaah mengenai kaitan diantara berbagai ilmu; (4) Telaah
mengenai akibat-akibat pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan
pencerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas, hubungan logika dan
matematika dengan realitas, entitas teoritis, sumber dan keabsahan pengetahuan,
serta sifat dasar kemanusiaan.
A. Cornelius Benjamin (Runes, ed., 1975: 284-285) membagi pokok soal
filsafat ilmu dalam tiga bidang: (1) Telaah mengenai metode ilmu, lambing
ilmiah, dan struktur logis dari sistem perlambang ilmiah. Telaah ini banyak
menyangkut logika dan teori pengetahuan, dan teori umum tentang tanda; (2)
Penjelasan mengenai konsep dasar, praanggapan, dan pangkal pendirian ilmu,

18
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

berikut landasan-landasan dasar empiris, rasional, atau pragmatis yang menjadi


tempat tumpuannya. Segi ini dalam banyak hal berkaitan dengan metafisika,
karena mencakup telaah terhadap berbagai keyakinan mengenai dunia
kenyataan, keseberagaman alam, dan rasionalitas dari proses ilmiah; (3) Aneka
telaah mengenai saling kait diantara berbagai ilmu dan implikasinya bagi suatu
teori alam semesta seperti misalnya idealisme, materialisme, monisme dan
pluralisme.
Arthur Danto (1967: 296-297) menyatakan, lingkupan filsafat ilmu
cukup luas mencakup pada kutub yang satu, yaitu,persoalan-persoalan konsep
yang demikian erat bertalian dengan ilmu itu sendiri, sehingga pemecahannya
dapat seketika dipandang sebagai suatu sumbangan kepada ilmu daripada
kepada filsafat, dan pada kutub yang lain persoalan-persoalan begitu umum
dengan suatu pertalian filasafati sehingga pemecahannya akan sebanyak
merupakan suatu sumbangan kepada metafisika atau epistimologi seperti
kepada filsafat ilmu yang sesungguhnya. Begitu pula, rentangan masalah -
masalah yang diselidiki oleh filsuf-filsuf ilmu dapat demikian sempit sehingga
menyangkut keterangan tentang sesuatu konsep tunggal yang dianggap penting
dalam suatu cabang ilmu tunggal, dan begitu umum sehingga bersangkutan
dengan ciri-ciri struktural yang tetap bagi semua cabang ilmu yang
diperlakukan sebagai suatu himpunan.
Edward Madden (19968: 31) berpendapat bahwa apapun lingkup filsafat
umum, tiga bidang tentu merupakan bahan perbincangannya yaitu: (1)
Probabilitas; (2) Induksi; (3) Hipotesis.
Ernest Nagel (1974: 14) menyimpulkan bahwa filsafat ilmu mencakup
tiga bidang luas: (1) Pola logis yang ditunjukkan oleh penjelasan dalam ilmu.
(2) Pembentukan konsep ilmiah. (3) Pembuktian keabsahan kesimpulan ilmiah.
Menurut P. H. Nidditch (1971: 2) lingkupan filsafat ilmu luas dan
beraneka ragam. Isinya dapat digambarkan dengan mendaftar serangkaian
pembagian dwi bidang yang saling melengkapi: (1) Logika ilmu yang
berlawanan dengan epistimologi Ilmu. (2) Filsafat ilmu-ilmu kealaman yang
berlawanan dengan filsafat ilmu-ilmu kemanusiaan. (3) Filsafat ilmu yang
berlawanan dengan telaah masalah-masalah filsafati dari suatu ilmu khusus. (4)
Filsafat ilmu yang berlawanan dengan sejarah ilmu. Selain itu, telaah mengenai
hubungan ilmu dengan agama juga termasuk filsafat ilmu.
Israel Scheffler (1969: 3) berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari
pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan
oleh ilmu. Lingkupannya mencakup tiga bidang: (1) Menelaah hubungan-
hubungan antara faktor-faktor kemasyarakatan dan ide-ide ilmiah. (2) Berusaha
melukiskan asal mula dan struktur alam semesta menurut teori-teori yang
terbaik dan penemuan-penemuan dalam kosmologi. (3) Menyelidiki metode
umum, bentuk logis, cara penyimpulan, dan konsep dasar dari ilmu-ilmu.
J.J.C. Smart (1968: 5) menganggap filsafat ilmu mempunyai dua
komponen utama: (1) Bahan analitis dan metodologis tentang ilmu. (2)
Penggunaan ilmu untuk membantu pemecahan problem-problem filsafati.

19
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Menurut Marx Wartofsky (1963: vii), rentangan luas dari soal-soal


interdispliner dalam filsafat ilmu meliputi: (1) Perenungan mengenai konsep
dasar, struktur formal, dan metodologi Ilmu; (2) Persoalan-persoalan ontologi
dan epistemologi yang khas bersifat filasafati dengan pembahasan yang
memadukan peralatan analitis dari logika modern dan model konseptual dari
penyelidikan ilmiah.
Akhirnya untuk memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai ruang
lingkup dan topik persoalan dari filsafat ilmu dewasa ini, berikut dikutipkan
rincian lengkap yang dikemukakan dalam Encyclopedia Britannica, 15 th
Edition (1982: 728-729).
1) Sifat dasar dan lingkupan filsafat ilmu dan hubungannya dengan cabang-
cabang ilmu lain; aneka ragam soal dan metoda-metoda hampiran terhadap
filsafat ilmu.
2) Perkembangan Historis dari filsafat Ilmu
i. Masa-masa purba dan abad pertengahan: pandangan-pandangan yang
silih ganti berbeda dari aliran-aliran kaum Stoic dan Epicorus serta
penganut-penganut Plato dan Aristoteles.
ii. Abad XVII: perbincangan mengenai metodologi ilmiah; hampiran
induktif dari Bacon dan hampiran deduktif dari Descartes.
iii. Abad XVIII: Kaum empiris, rasionalis, dan tafsiran penganut Kant
mengenai fisika Newton.
iv. Sejak awal abad XIX samapai Perang Dunia I: pengaruh dari keyakinan
Kant dalam rasionalitas khas perpaduan klasik antara Euclid dan Newton
v. Perbincangan abad XX: tanggapan terhadap relativitas, mekanika
kuantum, dan perubahan-perubahan mendalam lainnya dalam ilmu-ilmu
kealaman; Positivisme Logis lawan Neo-Kantianisme
3) Unsur-Unsur Usaha Ilmiah
i. Unsur-unsur empiris, konseptual, dan formal serta tafsiran teoritisnya;
aneka ragam pandangan mengenai pentingnya secara relatif dari
pengamatan, teori dan perumusan matematis.
ii. Prosedur empiris dari ilmu
(a) Pengukuran; teori dan problem filasafati mengenai penentuan
hubungan-hubungan kuantitatif
(b) Perancangan percobaan: penerapan logika induktif dan asas-asas
teoritis lainnya pada prosedur praktis.
iii. Penggolongan: problem taksonomi
(a) Struktur formal ilmu: problem menyusun suatu analisis formal secara
murni dari penyimpulan ilmiah; perbedaan antara dalil ilmiah dan
generalisasi empiris.
(b) Perubahan konseptual dan perkembangan ilmu: problem kesejarahan
mengenai organisasi teoritis dari ilmu yang berubah.

20
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

4) Gerakan-gerakan pemikiran ilmiah: prosedur dasar dari perkembangan


intelektual dari ilmu
i. Penemuan ilmiah; kedudukan terujung dari formalisme yang menekankan
unsur-unsur rasional dari penemuan ilmiah, dan dari irrasionalisme yang
menekankan peranan ilham, perkiraan, dan kebetulan
ii. Pembuktian keabsahan dan pembenaran dari konsep dan teori baru:
pandangan bahwa peramalan merupakan ujian yang menentukan dari
keabsahan ilmiah; pandangan bahwa pertautan, keajegan, dan
keseluruhan merupakan persyaratan penting dari suatu teori ilmiah
iii. Penyatuan teori-teori dan konsep-konsep dari ilmu-ilmu yang terpisah:
usaha menyusun suatu sistem aksiomatis bagi semua ilmu kealaman;
problem penyederhanaan untuk mencapai suatu landasan konseptual
yang ajeg bagi dua atau lebih ilmu
5) Kedudukan filsafat dari teori ilmiah
i. Kedudukan proposisi ilmiah dan konsep dari entitas: pandangan-
pandangan aneka ragam mengenai kedudukan epistemologi dari proporsi
ilmiah dan mengenai kedudukan dari konsep ilmiah
ii. Hubungan antara analisis filsafat dan praktek ilmiah: penerapan dari
ajaran-ajaran filasafati dan hampiran-hampiran yang berlainan pada ilmu-
ilmu yang berbeda
6) Pentingnya pengetahuan ilmiah bagi bidang-bidang lain dari pengalaman
dan soal manusia: kepentingan sosial dari ilmu dan sikap ilmiah;
keterbatasan usaha manusia
7) Hubungan antara ilmu dan pengetahuan humaniora: persoalan tentang
perbedaan antara metodologi ilmiah dan metodologi humaniora.
Berdasarkan perkembangan filsafat ilmu sampai dewasa ini, ahli filsafat
sejarah John Loose (2001: 1-3) menyimpulkan bahwa filsafat ilmu dapat
digolongkan menjadi empat konsepsi: (1) Filsafat ilmu yang berusaha
menyusun pandangan-pandangan dunia yang sesuai atau berdasarkan teori-teori
ilmiah yang penting; (2) Filsafat ilmu yang berusaha memaparkan praanggapan
dan kecendrungan para ilmuwan (misalnya praanggapan bahwa alam semesta
mempunyai keteraturan); (3) Filsafat Ilmu sebagai suatu cabang pengetahuan
yang menganalisis dan menerangkan konsep dan teori dari ilmu; (4) Filsafat
ilmu sebagai pengetahuan kritis derajat kedua yang menelaah ilmu sebagai
sasarannya.
Dalam tingkat konsepsi Losee pengetahuan manusia mengenal tiga tingkatan:
Tingkat 0 : Fakta-fakta
Tingkat 1 : Penjelasan mengenai fakta-fakta dan ini dijelaskan oleh ilmu
Tingkat 2 : Analisis mengenai prosedur dan logika dari penjelasan ilmiah. Ini
merupakan bidang filsafat ilmu. Filsafat ilmu sebagai pemikiran tingkat 2
melakukan analisis-analisis terhadap ilmu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
berikut:

21
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

1) Ciri-ciri apakah yang membedakan penyelidikan ilmiah dari ragam-ragam


penyelidikan lainnya?
2) Prosedur apakah yang harus ditempuh para ilmuwan dalam menyelidiki alam?
3) Persyaratan apakah yang harus dipenuhi agar suatu penjelasan ilmiah betul?
4) Apakah kedudukan kognitif dari dalil dan asas ilmu?
Selain pembagian filsafat ilmu menurut Losee dalam empat konsepsi tersebut
di atas, beberapa filsuf mempunyai konsepsi dikotomi yang membedakan filsafat
ilmu dalam dua bagian. Dua pembagian paling umum dikemukakan oleh antara lain
Arthur Pap (1967: vii). Menurutnya untuk menghindarkan kekacauan, filsafat ilmu
perlu dibedakan menjadi: (1) Filsafat ilmu-seumumnya. Filsafat ilmu ini menelaah
konsep-konsep dan metode-metode yang terdapat dalam semua ilmu, misalnya
pengertian penjelasan, generalisasi induktif, dan kebenaran; (2) Filsafat ilmu-ilmu
khusus, seperti misalnya filsafat fisika atau filsafat psikologi. Masing-masing
filsafat ilmu khusus itu menangani konsep-konsep yang khusus berlaku dalam
lingkupannya masing-masing seperti misalnya unsur-unsur waktu dan gaya dalam
fisika, realitas obyektif dalam mekanika kuantum, variabel sela dalam psikologi,
dan penjelasan teologis dalam biologi.
Mirip dengan dikotomi dari Pap itu ialah dwi pembagian Michael Scriven
(1968: 84) dalam substantive philosophy of science dan structural philosophy of
science. Filsafat ilmu substansif berkaitan dengan isi masing-masing ilmu khusus,
sedang filsafat ilmu struktural menyangkut topik-topik seperti penyimpulan ilmiah,
penggolongan, penjelasan, peramalan, pengukuran, probabilitas, dan determinisme.
2. Problem-Problem Dalam Filsafat Ilmu
Filsafat sebagai suatu ilmu khusus merupakan salah satu cabang dari ruang
lingkup filsafat ilmu seumumnya. Pada kelanjutannya filsafat ilmu merupakan
suatu bagian dari filsafat. Dengan demikian, pembahasan mengenai lingkupan
filsafat sesuatu ilmu khusus tidak terlepas dari kaitan dengan persoalan-persoalan
dan filsafat ilmu dan problem-problem filsafat pada umumnya. Clarence Irving
Lewis (1956) juga mengemukakan adanya dua gugus persoalan yakni, problem-
problem reflektif dalam suatu ilmu khusus yang dapat dikatakan membentuk
filsafat dari ilmu tersebut dan problem-problem mengenai asas permulaan dan
ukuran-ukuran yang berlaku umum bagi semua ilmu maupun aktivitas kehidupan
seumumnya.
Problem menurut definisi A. Cornelius Benjamin ialah sesuatu situasi
praktis atau teoritis yang untuk itu tidak ada jawaban lazim atau otomatis yang
memadai, dan yang oleh sebab itu memerlukan proses-proses refleksi. (Runes, ed.,
1975: 55).
Banyak sekali pendapat para ahli filsafat ilmu mengenai kelompok atau
perincian problem apa saja yang diperbincangkan dalam filsafat ilmu. Untuk
medapat gambaran yang lebih jelas perlulah kiranya dikutipkan pendapat-pendapat
berikut:
A. Cornelius Benjamin (1977: 542-547) menggolong-golongkan segenap
persoalan filsafat ilmu dalam tiga bidang: (1) Bidang pertama meliputi semua

22
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

persoalan yang bertalian secara langsung atau tidak langsung dengan suatu
pertimbangan mengenai metode ilmu; (2) Persoalan-persoalan dalam bidang
kesdua dalam filsafat ilmu agak kurang terumuskan baik dari problem-problem
tentang metode. Dalam suatu makna, banyak darinya merupakan pula
persoalan-persoalan metode. Tetapi, penunjukannya secara langsung lebih
kepada pokok soal daripada kepada prosedur sehingga persoalan-persoalan itu
menyangkut apa yang umumnya disebut pertimbangan-pertimbangan metafisis
dalam suatu cara bidang terdahulu tidak menyangkutnya. Ini bertalian dengan
analisis terhadap konsep-konsep dasar dan praanggapan-praanggapan dari
ilmu-ilmu; (3) Bidang ketiga dari filsafat ilmu, terdiri dari aneka ragam
kelompok persoalan yang tidak mudah terpengaruh oleh suatu penggolongan
sistematis. Kesemua itu dapat secara kasar dilukiskan sebagaimana bersangkut
paut dengan implikasi-implikasi yang dipunyai ilmu dalam isi maupun
metodenya bagi aspek-aspek lain dari kehidupan kita.
Michael Berry (Bullock & Stallybrass, 1977: 559-560) mengemukakan
dua problem yang berikut: (1) Bagaimana kuantitas dari rumusan dalam teori -
teori ilmiah? (misalnya suatu ciri dalam genetika atau momentum dalam
mekanika Newton) berkaitan dengan peristiwa-peristiwa dalam dunia alamiah
di luar pikiran kita; (2) Bagaimana dapat dikatakan bahwa teori atau dalil ilmiah
adalah benar berdasarkan induksi dari sejumlah persoalan yang terbatas?
Menurut B. Van Fraassen dan H. Margenau (1968: 25-27) problem-
problem utama dalam filsafat ilmu setelah tahun-tahun enam puluhan ialah: (1)
Metodologi (Hal-hal yang menonjol yang banyak diperbincangkan adalah
mengenai sifat dasar dari penjelasan ilmiah, dan teori pengukuran). (2)
Landasan ilmu-ilmu (ilmu-ilmu empiris hendaknya melakukan penelitian
mengenai landasannya dan mencapai sukses seperti halnya landasan
matematik). (3) Ontologi (Persoalan utama yang diperbincangkan ialah
menyangkut konsep-konsep substansi, proses, waktu, ruang, kausalitas,
hubungan budi dan materi, serta status dari entitas-entitas teoritis).
David Hull (1974) seorang ahli filsafat dan biologi ini mengemukakan
persoalan yang berikut:
Persoalan menyampingkan yang meliputi jilid-jilid belakangan ini (seri
Foundations of Philosophy) ialah apakah pembagian tradisional dari ilmu-ilmu
empiris dalam cabang-cabang pengetahuan yang terpisah seperti geologi,
astronomi dan sosiologi mencerminkan semata-mata perbedaan dalam pokok
soal ataukah hasil dari perbedaan pokok dalam metodologi. Secara singkat,
adakah suatu filsafat ilmu tunggal yang berlaku merata pada semua bidang ilmu
kealaman, atau adakah beberapa filsafat ilmu yang masing-masing cocok dalam
ruang lingkupnya sendiri? (Hull, 1974: 1-2)
Victor Lenzen (1965: 94) mengajukan dua problem: (1) Struktur Ilmu,
yaitu metode dan bentuk pengetahuan ilmiah; (2) Pentingnya ilmu bagi praktek
dan pengetahuan tentang realitas.
J. J. C. Smart (1968: 4-5) mengumpamakan kalau seorang awam bukan
filsuf membuka-buka beberapa nomor dari majalah Amerika serikat berjudul

23
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Philosophy of Science dan majalah Inggris The British Journal of the


Philosophy of science, maka akan dijumpainya dua jenis persoalan: (1)
Pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu, misalnya pola-pola perbincangan ilmiah,
langkah-langkah pengujian teori ilmiah, sifat dasar dari dalil dan teori dan cara-
cara merumuskan konsep ilmiah; (2) Perbincangan filsafati yang
mempergunakan ilmu, misalnya bahwa hasil-hasil penyelidikan ilmiah akan
menolong para filsuf menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang manusia dan
alam semesta.
Joseph Sneed (Butts & Hintikka, eds., 1977: 245) menyatakan bahwa
pembedaan dalam jenis problem-problem filsafat ilmu khusus (misalnya
variabel tersembunyi, determinisme dalam mekanika quantum) dan jenis
problem-problem filsafat ilmu seumumnya (misalnya ciri-ciri teori ilmiah)
yang telah umum diterima adalah menyesatkan. Hal itu dinyatakannya
demikian, Saya menyarankan bahwa dualitas diantara problem-problem
filsafat ilmu ini adalah menyesatkan. Saya berpendapat bahwa problem-
problem filasafati tentang sifat dasar ilmu seumumnya tidaklah, dalam suatu
cara yang mendasar, berbeda dengan problem-problem filasafati yang bertalian
semata-mata dengan ilmu-ilmu khusus. Secara khusus tidaklah ada makna
khusus bahwa filsafat ilmu seumumnya merupakan sustu usaha normatif,
sedangkan filsafat ilmu-ilmu khusus tidak.
Menurut Frederick Supple (1974: 3), problem yang paling pokok atau
penting dalam filsafat ilmu adalah sifat dasar atau struktur teori ilmiah.
Alasannya ialah kerena teori merupakan roda dari pengetahuan ilmiah dan
terlibat dalam hampir semua segi usaha ilmiah. Tanpa teori tidak akan ada
problem-problem mengenai entitas teoritis, istilah teoritis, pembuktian
kebenaran, dan kepentingan kognitif. Tanpa teori yang perlu diuji atau
diterapkan, rancangan percobaan tidak ada artinya. Oleh karena itu hanyalah
agak sedikit melebih-lebihkan bilamana dinyatakan bahwa filsafat ilmu adalah
suatu analisis mengenai teori dan peranannya dalam usaha ilmiah.
D.W. Theobald (1968: 5-6) menyatakan bahwa filsafat ilmu terdapat dua
kategori problem yaitu: (1) Problem-problem Metodologis yang menyangkut
struktur pernyataan ilmiah dan hubungan-hubungan diantara mereka. Misalnya
analisis probabilitas, peranan kesederhanaan dalam ilmu, realitas dari entitas
teoritis, dalil ilmiah, sifat dasar penjelasan, dan hubungan antara penjelasan dan
peramalan.
2) Problem-problem tentang ilmu yang menyelidiki arti dan implikasi dari
konsep-konsep yang dipakai para ilmuwan. Misalnya kausalitas, waktu,
ruang, dan alam semesta.
Pakar filsafat sejarah W. H. Walsh (1960: 9) menyatakan bahwa filsafat
ilmu mencakup problem yang timbul dari metode dan praanggapan dari ilmu
serta sifat dasar dan persyaratan dari pengetahuan ilmiah.
Walter Weimer (1979: 2-3) mengemukakan empat problem filsafat ilmu
sebagai berikut:
1) Pencarian terhadap suatu teori penyimpulan rasional (ini berkisar pada

24
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

penyimpulan induktif, sifat dasarnya dan pembenarannya).


2) Teori dan ukuran bagi pertumbuhan atau kemajuan ilmiah (Ini berkisar pada
pertumbuhan pengetahuan ilmiah, pencarian dan penjelasannya. Misalnya
dalam menilai bahwa teori Einstein lebih unggul daripada teori sebelumnya,
apakah ukurannya?)
3) Pencarian terhadap suatu teori tindakan Pragmatis (dalam menentukan salah
satu teori di antara teori-teori yang salah, bagaimanakah caranya untuk
mengetahui secara pasti teori yang paling terkecil kesalahannya?)
4) Problem mengenai kejujuran intelektual (Ini menyangkut usaha
mencocokkan prilaku senyatanya, dari para ilmuwan dengan teori yang
mereka anut setia).
Philip Wiener (Bronstein, 1957: 226) menyatakan bahwa para pakar
filsafat ilmu dewasa ini membahas problem-problem yang menyangkut: (1)
Struktur logis atau ciri-ciri metodologis umum dari ilmu-ilmu; (2) Saling
hubungan antara ilmu-ilmu; (3) Hubungan ilmu-ilmu yang sedang tumbuh
dengan tahapan-tahapan lainnya dari peradaban, yaitu kesusilaan, politik, seni
dan agama.
Problem-problem filsafat secara umum berkisar pada enam hal pokok,
yaitu pengetahuan, keberadaan, metode, penyimpulan, moralitas, dan
keindahan. Berdasarkan keenam sasaran itu, bidang filsafat dapat secara
sistematis dibagi dalam enam cabang pokok, yaitu epistemologi
(teoripengetahuan), metafisika (teori mengenai apa yang ada), metodologi
(studi tentang metode), logika (teori penyimpulan), etika (ajaran moralitas) dan
estetika (teori keindahan).
Oleh karena filsafat ilmu merupakan suatu bagian dari filsafat
keseluruhan, maka problem-problem dalam filsafat ilmu secara sistematis juga
dapat digolongkan menjadi enam kelompok sesuai dengan cabang-cabang
pokok filsafat itu. Dengan demikian, seluruh problem dalam filsafat ilmu dapat
ditertibkan menjadi:
1) Problem-problem epistemologis tentang ilmu
2) Problem-problem metafisis tentang ilmu
3) Problem-problem metodologis tentang ilmu
4) Problem-problem logis tentang ilmu
5) Problem-problem etis tentang ilmu
6) Problem-problem estetis tentang ilmu
Menurut R. Harre (Edwards, ed., 1967: 289), problem-problem
epitemologis, metafisis, dan logis yang bertalian dengan ilmu-ilmu mulai
memperoleh perhatian para filsuf dan ilmuwan pada awal abad ke-19.
Problem-problem secara metodologis telah secara tegas disebutkan oleh
D. W. Theobald dimuka sebagai salah satu kategori problem dalam filsafat ilmu.
Problem-problem etis yang menyangkut ilmu juga telah disebutkan dimuka
oleh Walter Weimer (menyangkut kejujuran intelektual para ilmuwan dan oleh

25
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Philip Weiner (menyangkut hubungan ilmu dengan kesusilaan sebagai suatu


segi perdaban manusia). Problem-problem estetis yang menyangkut ilmu pada
dasawarsa terakhir ini dimulai menjadi topik perbincangan oleh sebagian filsuf
dan ilmuwan. Dalam tahun 1980 diadakan sebuah konferensi para ahli yang
membahas dimensi estetis dari ilmu.
Berdasarkan pemaparan-pemaparan ahli di atas, maka problem filsafat ilmu
dibicarakan sejajar dengan diskusi yang berkaitan dengan landasan pengembangan
ilmu pengetahuan, yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Secara
ringkas, permasalahan atau problema filsafat ilmu mencakup: Pertama,
problem ontologi ilmu; perkembangan dan kebenaran ilmu sesungguhnya
bertumpu pada landasan ontologis (apa yang terjadi = eksistensi suatu
entitas). Kedua, problem epistemologi; adalah bahasan tentang asal muasal,
sifat alami, batasan (konsep), asumsi, landasan berfikir, validitas, reliabilitas
sampai soal kebenaran (bagaimana ilmu diturunkan = metoda untuk
menghasilkan kebenaran). Ketiga, Problem aksiologi; implikasi etis, aspek
estetis, pemaparan serta penafsiran mengenai peranan (manfaat) ilmu dalam
peradaban manusia. Ketiganya digunakan sebagai landasan penelaahan ilmu.

D. Berbagai Pendekatan Filsafat Ilmu


Untuk mengenalkan berbagai wawasan ada dua alternatif yang dapat
diketengahkan, yaitu: memperkenalkan aliran-aliran dominan dalarn filsafat ilmu
atau memperkenalkan berbagai pendekatan yang menonjol dalam pengembangan
ilmu. Berpegang pada aliran-aliran, dikhawatirkan fungsi telaah berubah menjadi
harus menjelaskan tuntas tentang sesuatu aliran. Agar studi filsafat ilmu tidak
menjadi historis melainkan sistematis sekaligus fungsional, maka ditempuh dengan
memperkenalkan berbagai pendekatan yang lazim digunakan dalam pengembangan
ilmu. Secara garis besar ada empat pendekatan dalam filsafat ilmu, yaitu: (1)
Rasionalisme, (2) Empirisme dan Positivisme, (3) Rasionalisme Kritis, dan (4)
Kontruktivisme.
Pertama, pandangan aliran rasionalisme menekankan bahwa ilmu
pengetahuan sering dipertautkan dengan akal. Dalam arti sempit, rasionalisme
berarti anggapan mengenai teori pengetahuan yang menekankan akal dan atau ratio,
untuk membentuk pengetahuan. Ini berarti bahwa sumbangan akal lebih besar dari
pada sumbangan sumbangan indera. Mengenai ilmu diketengahkan oleh
rasionalisme bahwa mustahillah membentuk ilmu hanya berdasarkan fakta, data
empiris, atau pengamatan.
Kedua, pandangan aliran empirisme dan positivisme. Pandangan aliran
empirisme memberi kelonggaran pada peranan data kenyataan untuk
mengembangkan bahkan mengubah struktur ilmu pengetahuan. Maka empirisme
dalam filsafat ilmu dapat lebih mengindahkan keharusan selalu mengubah dan
mencocokan sistem ilmu dengan data empiris. Dalam membangun teori, empirisme
memiliki siklus yang selalu dimulai dari observasi, kemudian melahirkan hukum
empiris, selanjutnya dibangun teori. Aliran empirisme berpendapat bahwa induksi
sangat penting, karena jalan pikirannya berangkat dari yang diketahui menuju ke

26
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

yang tidak diketahui. Karena ilmu pengetahuan selalu ada unsur rasionalismenya,
aliran empirisme mengalami kesulitan dalam kaidah-kaidah logika dan matematika.
Disinilah aliran positivisme muncul untuk mengatasi masalah tersebut. Data
observasi yang diperoleh dapat digunakan untuk menghitung, atau melakukan
penjabaran logis dan deduksi, sebagaimana yang terjadi pada aliran rasionalisme.
Dengan demikian, empirisme dan positivisme memberikan kelonggaran lebih besar
kepada masukan dari empiris dalam membangun ilmu pengetahuan.
Ketiga, pandangan aliran rasionalisme kritis. Seperti penjelasan di atas, aliran
rasionalisme dan empirisme termasuk positivisme merupakan dua aliran yang
bertentangan. Rasionalisme kritis berupaya menghubungkan unsur rasional dan
empiris dalam pengetahuan ilmiah. Dengan demikian ilmu pengetahuan yang
dibangun dari proses induktif, harus selalu terbuka terhadap kritik. Ilmu
pengetahuan tersebut terbuka upaya penyangkalan atau pembuktian salah
(falsifikasi) yang secara terus menerus sehingga dapat lebih dikokohkan
(corroborated).
Di samping itu, titik suatu ilmu terletak pada melihat situasi permasalahan.
Lewat proses trial and error dan error eliminitian, ilmu yang dikembangkan atas
permasalahan tadi, dapat mendekatan kebenaran.
Keempat, pandangan aliran konstruktivisme yang menekankan pada sifat
kontekstual ilmu pengetahuan, yaitu pentingnya seluruh konteks demi terjadinya
suatu sistem ilmiah. Konteks dan ilmu dapat saling mempengaruhi. Apabila ilmu
bertentangan dengan konteks atu pengalaman, maka tidak berarti bahwa ilmu
tersebut runtuh. Dalam hal terjadi pertentangan dan ketidaksesuasian tersebut,
diperlukan terjemahan untuk memperbaharui sistem ilmu tadi.

E. Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu


Filsafat ilmu sebagai bagian integral dari filsafat secara keseluruhan
perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan filsafat itu
sendiri secara keseluruhan. Menurut Lincoln Cuba, sebagai yang dikutip oleh Ali
Abdul Azim (1989: iv), bahwa kita mengenal tiga babakan perkembangan
paradigma dalam filsafat ilmu di Barat yaitu era prapositivisme, era positivisme dan
era pasca modernisme. Era prapositivisme adalah era paling panjang dalam sejarah
filsafat ilmu yang mencapai rentang waktu lebih dari dua ribu tahun.
Dalam uraian ini, penulis cenderung mengklasifikasi perkembangan filsafat
ilmu berdasarkan ciri khas yang mewarnai pada tiap fase perkembangan. Dari
sejarah panjang filsafat, khususnya filsafat ilmu, penulis membagi tahapan
perkembangannya ke dalam empat fase sebagai berikut: (1) Filsafat Ilmu zaman
kuno, yang dimulai sejak munculnya filsafat sampai dengan munculnya renaisans;
(2) Filsafat Ilmu sejak munculnya rennaisance sampai memasuki era positivisme;
(3) Filsafat Ilmu zaman Modern, sejak era Positivisme sampai akhir abad
kesembilan belas; dan (4) Filsafat Ilmu era kontemporer yang merupakan
perkembangan mutakhir Filsafat Ilmu sejak awal abad keduapuluh sampai
sekarang.
Perkembangan Filsafat ilmu pada keempat fase tersebut diuraikan dengan

27
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

mengedepankan aspek-aspek yang mewarnai perkembangan filsafat ilmu di


masanya sekaligus yang menjadi babak baru dan ciri khas fase tersebut yang
membedakannya dari fase-fase sebelum dan atau sesudahnya. Di samping itu
diungkap juga tentang peran filosof di dunia Islam, Cina, India, dan Jepang,
walaupun bukan dalam suatu fase tersendiri.
1. Filsafat Ilmu Zaman Kuno
Filsafat yang dipandang sebagai induk ilmu pengetahuan telah dikenal
manusia pada masa Yunani Kuno. Di Miletos suatu tempat perantauan Yunani yang
menjadi tempat asal mula munculnya filsafat, ditandai dengan munculnya pemikir-
pemikir (baca: filosof) besar seperti Thales, Anaximandros dan Anaximenes
(Kattsof, 1989: 1). Pemikiran filsafat yang memiliki ciri-ciri dan metode tersendiri
ini berkembang terus pada masa selanjutnya.
Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah
peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir
mitosentris (pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk
menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi). Gempa bumi
tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang
menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, fenomena
alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam
yang terjadi secara kausalitas.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales
(624-546 SM) mempertanyakan Apa sebenarnya asal usul alam semesta ini?
Ia mengatakan asal alam adalah air karena air unsur penting bagi setiap
makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti uap dan benda
dapat, seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air.
Sedangkan Heraklitos mempunyai kesimpulan bahwa yang mendasar
dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan
penyebabnya, yaitu api. Api adalah unsur yang paling asasi dalam alam karena
api dapat mengeraskan adonan roti dan di sisi lain dapat melunakkan es.
Artinya, api adalah aktor pengubah dalam alam ini, sehingga api pantas
dianggap sebagai simbol perubahan itu sendiri.
Pythagoras (580-500 SM) berpendapat bahwa bilangan adalah unsur
utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur bilangan merupakan juga
unsur yang terdapat dalam segala sesuatu. Unsur-unsur bilangan itu adalah
genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Menurut Abu Al Hasan Al Amiri,
seorang filosof muslim Pythagoras belajar geometri dan matematika dari orang-
orang mesir (Rowston, dalam Kartanegara, 2003).
Filosof alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan,
sehingga timbullah kaum sofis. Kaum sofis ini memulai kajian tentang
manusia dan menyatakan bahwa ini memulai kajian tentang manusia dan
menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah
Protagoras (481-411 SM). Ia menyatakan bahwa manusia adalah ukuran
kebenaran.
Ilmu juga mendapat ruang yang sangat kondusif dalam pemikiran kaum

28
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

sofis karena mereka memberi ruang untuk berspekulasi dan sekaligus


merelatifkan teori ilmu, sehingga muncul sintesa baru.
Socrates, Plato, dan Aristoteles menolak relativisme kaum sofis. Menurut
mereka, ada kebenaran obyektif yang bergantung kepada manusia. Periode
setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan filsafat Yunani karena pada
zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan
filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat menonjol adalah Plato (429-347
SM), yang sekaligus murid Socrates. Menurutnya, kebenaran umum itu ada
bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam idea.
Pada zaman Yunani Kuno, filsafat dan ilmu merupakan suatu hal yang tidak
terpisahkan. Keduanya termasuk dalam pengertian episteme yang sepadan dengan
kata philosophia. Pemikiran tentang episteme ini oleh Aristoteles diartikan sebagai
an organized body of rational konwledge with its proper object. Jadi filsafat dan
ilmu tergolong sebagai pengetahuan yang rasional. Dalam pemikiran Aritoteles
selanjutnya pengetahuan rasional itu dapat dibedakan menjadi tiga bagian yang
disebutnya dengan praktike (pengetahuan praktis), poietike (pengetahuan
produktif), dan theoretike (pengetahuan teoritis). (Gie, 1997: 1-2).
Pemikiran dan pandangan Aritoteles seperti tersebut di atas memberikan
gambaran kepada kita bahwa nampaknya ilmu pengetahuan pada masa itu harus
didasarkan pada pengertian dan akibatnya hanya dapat dilaksanakan bagi aspek-
aspek realitas yang terjangkau pikiran. Lalu masuk akal saja kalau orang
berpendapat bahwa kegiatan ilmiah tidak lain daripada menyusun dan mengaitkan
pengertian-pengertian itu secara logis, yang akhirnya menimbulkan kesana bahwa
setiap ilmu pengetahuan mengikuti metode yang hampir sama yaitu mencari
pengertian tentang prima principia, lalu mengadakan deduksi-deduksi logis
(Melsen, 1992: 14).
Pemikirannya hal tersebut oleh generasi-generasi selanjutnya memandang
bahwa Aristoteleslah sebagai peletak dasar filsafat ilmu. Selama ribuan tahun
sampai dengan akhir abad pertengahan filsafat logika Aristoteles diterima di Eropa
sebagai otoritas yang besar. Para pemikir waktu itu mengaggap bahwa pemikiran
deduktif (logika formal atau silogistik) dan wahyu sebagai sumber pengetahuan
(Titus, et al., 1984: 257).
Aristoteles adalah peletak dasar doktrin silogisme yang sangat berpengaruh
terhadap perkembangan pemimiran di Eropa sampai dengan munculnya era
renaisans. Silogisme adalah argumentasi dan cara penalaran yang terdiri dari tiga
buah pernyataan, yaitu sebagai premis mayor, premis minor dan konklusi (Russel,
1961: 206).
2. Filsafat Ilmu Era Renaisans
Memasuki masa renaisans, otoritas Aritoteles tersisihkan oleh metode dan
pandangan baru terhadap alam yang biasa disebut Copernican Revolution yang
dipelopori oleh sekelompok sanitis antara lain Copernicus (1473-1543), Galileo
Galilei (1564-1542) dan Issac Newton (1642-1727) yang mengadakan pengamatan
ilmiah serta metode-metode eksperimen atas dasar yang kukuh (Russel, 1961: 206).
Selanjutnya pada Abad XVII, pembicaraan tentang filsafat ilmu, ditandai

29
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

dengan munculnya Roger Bacon (1561-1626). Bacon lahir di ambang masuknya


zaman modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan.
Bacon menanggapi Aristoteles bahwa ilmu sempurna tidak boleh mencari
untung namun harus bersifat kontemplatif. Menurutnya Ilmu harus mencari untung
artinya dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi, dan bahwa dalam
rangka itulah ilmu-ilmu berkembang dan menjadi nyata dalam kehidupan manusia.
Pengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuasaan mansia; human
knowledge adalah human power (Verhaak & Imam, 1991: 139).
Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang berdasar pada metode
eksperimental dana matematis memasuki abad XVI mengakibatkan pandangan
Aritotelian yang menguasai seluruh abad pertengahan akhirnya ditinggalkan secara
defenitif. Roger Bacon adalah peletak dasar filosofis untuk perkembangan ilmu
pengetahuan. Bacon mengarang Novum Organon (metode baru) dengan maksud
menggantikan teori Aristoteles tentang ilmu pengetahuan dengan teori baru.
Karyanya tersebut sangat mempengaruhi filsafat di Inggris pada masa sesudahnya
(Bertens, 1988: 44-45). Novum Organon atau New Instrumen berisi suatu
pengukuihan penerimaan teori empiris tentang penyelidikan dan tidak perlu
bertumpu sepenuhnya kepada logika deduktifnya Aritoteles sebab dia pandang
absurd (Hart, 1993: 393).
Kehadiran Bacon memberi corak baru bagi perkembangan Filsafat Ilmu,
khususnya tentang metode ilmiah. Hal ini sebagai yang dikemukakan oleh A. B.
Shah (1986) dalam Scientific Method, bahwa: Pengertian yang paling baik tentang
metode ilmiah dapat dilukiskan yang paling baik menurut induksi Bacon.
Hart mengaggap Bacon sebagai filosof pertama yang bahwa ilmu
pengetahuan dan filsafat dapat mengubah dunia dan dengan sangat efektif
menganjurkan penyelidikan ilmiah (Hart, 1993: 394). Beliaulah peletak dasar-dasar
metode induksi modern dan menjadi pelopor usaha untuk mensistimatisir secara
logis prosedur ilmiah. Seluruh asas filsafatnya bersifat praktis yaitu menjadikan
untuk manusia menguasai kekuasaan alam melalui penemauan ilmiah (Hadiwijono,
1992: 15). Menurut Bacon, jiwa manusia yang berakal mempunyai kemamapuan
triganda, yaitu ingatan (memoria), daya khayal (imaginatio) dan akal (ratio). Ketiga
aspek tersebut merupakan dasar segala pengetahuan. Ingatan menyangkut apa yang
sudah diperiksa dan diselidiki (historia), daya khayal menyangkut keindahan dan
akal menyangkut filsafat (philosophia) sebagai hasil kerja akal (Verhaak & Imam,
1991: 137).
Sebagai pelopor perkembangan filsafat ilmu pengetahuan, Roger Bacon juga
menguraikan tentang logika. Bacon menyusun logika meliputi empat macam
keterampilan (ars) yaitu bidang penemuan (ars inveniendi), bidang perumusan
kesimpulan secara tepat (ars iudicandi), bidang mempertahankan apa yang sudah
dimengerti (ars retinendi), dan bidang pengajaran (ars tradendi) (Verhaak & Imam,
1991: 141-142).
Di sini nampak bahwa di tengah kancah perkembangan ilmu yang larut
dengan pengaruh Aritoteles kehadiran Bacon berusaha untuk mengubah opini
umum tentang silogisme yang telah ditawarkan Aristoteles sebelumnya.

30
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Bacon mengatakan bahwa logika yang digunakan sejak zaman Aristoteles


lebih merugikan dari pada menguntungkan. Teori induktif Bacon lahir sebagai
jawaban atas kelemahan dari teori deduksi yang sebelumnya sering dipakai oleh
Arisototelian. Bacon, walaupun benar-benar menerima teori prosedur ilmiah
Aristoteles, di sisi lain ia mengkritik tajam terhadap cara dari prosedur ini diambil.
Dalam teori induktifnya Bacon mempermasalahkan tiga indikasi: pertama,
Aristoteles dan pengikutnya mempraktekan koleksi data yang tidak kritis. Dalam
hubungan ini Francis Bacon sangat menekankan nilai dari peralatan (instruments)
ilmiah dalam pengumpulan data. Kedua, Aristotelian cenderung
mengeneralisasikan dengan terlalu terburu-buru. Dengan memberikan sedikit
observasi-observasi, mereka juga menggunakan prinsip-prinsip tersebut untuk
mendeduksi scope yang lebih sedikit. Ketiga, Aristoteles dan pengikutnya
memberlakukan induksi dengan penghitungan yang sederhana, yang mana
hubungan-hubungan dari sifat-sifat tersebut ditemukan untuk mempertahankan
beberapa individu-individu dari sebuah tipe yang diberikan, dinyatakan sebagai
pegangan bagi keseluruhan individu dengan tipe tersebut. Namun, dalam
praktiknya hal ini sering menghantarkan pada kesimpulan-kesimpulan yang salah,
di mana hal-hal yang negatif tidak diambil sebagai catatan (Loose, 2001: 57).
Menurut Bacon, selain dengan mudah menerima ide-ide dari yang terdahulu,
para ilmuan seharusnya menyelidiki alam dengan pengamatan yang penuh kehati-
hatian dan juga menyertainya denga percobaan-percobaan. Mereka diharapkan
mampu mengumpulkan bukti-bukti sebanyak mungkin tentang fenomena yang
sedang mereka pelajari, menggunakan eksperimen-eksperimen manakala mungkin
untuk menjeneralisasikan fakta-fakta tambahan. Bagaimanapun juga, bukti-bukti
tersebut juga harus dikumpulkan, selanjutnya mereka diharuskan memegangnya
dengan penuh kehati-hatian dan memberikan kesimpulan-kesimpulan general dari
bukti-bukti penting tertentu (Velasquez, 1996: 390).
Dinyatakan di sini eksperimen adalah sangat penting dalam proses
pengambilan kesimpulan dari sebuah kesimpulan suatu teori. Kritik Bacon walau
bagaimanapun bisa dibenarkan mengingat fakta yang dikumpulkan sebagai bukti
untuk melakukan generalisasi adalah sangat penting keberadaannya, karena hal ini
juga bisa meminimalisir kesalahan dari kesimpulan yang diambil setelah proses
percobaan.
Di sisi yang lainnya Bacon menyatakan bahwa sains tidak bisa melewati cara
deduksi karena sains harus di perhatikan bersama dengan inquiri yang murni dan
sederhana (mudah), inquiri tersebut tidak dibebani dengan praduga yang diyakini.
Bacon juga memegang teguh prinsip keilmuan bahwa sains harus mulai pada gaya
ini, selanjutnya harus mengembangkan metode inquiri yang dapat diandalkan
(Gemon & Craver, 1995: 47).
Dalam perkembangan selanjutnya muncul John Locke (1632-1714) David
Hume (1711-1776) dan Immanuel Kant (1724-1804). Ketiga filosof ini memberi
pengaruh cukup besar terhadap perkembangan filsafat ilmu selanjutnya.
Locke berpendapat bahwa ketika seorang bayi lahir akalnya seperti papan
tulis yang kosong atau kamera yang merekam kesan-kesan dari luar. Pengetahuan
hanya berasal dari indra yang dibantu oleh pemikiran, ingatan, perasaan indrawi

31
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

diatur menjadi bermacam-macam pengetahuan. Locke mengakui adanya ide


bawaan (innate ideas) (Titus, et al., 1984: 363).
Dalam perkembangan pengetahuan teori Locke dikenal dengan istilah teori
tabularasa. Berdasar pada empirisme radikal yang dianutnya, Hume yakin bahwa
cara kerja logis induksi yang diperkenalkan oleh Bacon tidak mempunyai dasar
teoritis sama sekali. Logika induktif ialah kontradiksi: dua kata yang bertentangan
satu sama lain sebab induksi melanggar salah satu hukum logika yaitu bahwa
kesimpulan tidak boleh leboh luas dari pada premis. Sanggahan Hume ini secara
konsekwen sesuai dengan anggapan dasarnya bahwa hanya ada dua cara
pengetahuan, yaitu pengetahuan empiris dan abstract reasoning concerning
quantoty or number, yang keduanya deduktif (Verhaak & Imam, 1991: 145-146).
Kant dalam hal ini memperkenalkan cara pengenalan dan mengambil
kesimpulan secara sintetis yang di peroleh secara a posteriori dan putusan analitis
dan diperoleh secara a priori, di samping itu juga kesimpulan yang bersifat sintetis
yang juga diperoleh secara a priori. Ilmu pasti disusun atas putusan yang a priori
yang bersifat sintetis. Ilmu pengetahuan mengandaikan adanya putusan - putusan
yang memberikan pengertian baru (sintetis) dan yang pasti mutlak serta bersifat
umum (a priori). Maka ilmu pengetahuan menuntut adanya putusan-putusan yang
bersifat a priori yang bersifat sintesis (Hadiwijono, 1992: 65). Ketiga teorinya ini
dikenal dengan nama Kritik Rasio Murni yang dikemukakan dalam Kritik der
Reinen Vernunft (Hamersma, 1990: 29).
Memasuki abad XIX muncul Johann Gottlieb Fichte (1762-1814)
memperkenalkan filsafat Wissenchaftslehre atau Ajaran Ilmu Pengetahuan
(Epistimologi), yang bukan-nya suatu pemikiran teoritis tentang struktur dan
hubungan ilmu pengetahuan melainkan suatu penyadaran tentang pengenalan diri
sendiri yaitu penyadaran metodis di bidang pengetahuan itu sendiri (Hadiwijono,
1992: 88).
Fichte menentang Kant yang mengatakan bahwa berfikir secara ilmu-pasti
alamlah yang akan memberikan kepastian di bidang pengenalan. Fichte tidak
memisahkan antara rasio teoritis dan rasio praktis (Hadiwijono, 1992: 88).
Selanjutnya muncul John Stuart Mill (1806-1873). Dalam A system of Logic
Mill menyelidiki dasar-dasar teoritis falsafi proses kerja induksi. Mill melihat
bahwa tugas utama logika dalam bidang mengatur cara kerja induktif lebih dari
sekedar menentukan patokan deduksi logistis yang tak pernah menyampaikan
pengetahuan baru kepada kita. Dalam menguraikan logika induktif Mill mau
menghindari daya eksterm yaitu generalisasi empiris dan mencari dukungan dalam
salah satu teori mengenai induksi atau pengertian apriori (Verhaak & Imam, 1991:
147-148). Mill berpendapat bahwa induksi sangat penting, karena jalan pikirannya
dari yang diketahui menuju (proceds) ke yang tidak diketahui (Veursen, 1985: 82).
Menurut Mill, Pengetahuan yang paling umum dan lama kelamaan muncul
untuk diperiksan ialah The Course of Nature in Uniform yang merupakan asas dasar
atau aksioma umum induksi. Asas utama itu itu paling menjadi paling tampak
dalam hukum alam dasarriah yang disebutnya Law of Causality, artinya setiap
gejala alam yang kita amati mempunyai suatu cause yang dicari dalam ilmu

32
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

pengetahuan. Sebab itu adalah keseluruhan syarat-syarat yang perlu (necessary)


dan memadai (suffient) agar gejala terjadi (Verhaak & Imam, 1991: 149).
Di abad ini muncul sejumlah tokoh yang pemikirannya erat kaitannya dengan
perkembangan filsafat ilmu, antara lain William Whewel (1795-1866) yang
mendukung adanya intuisi, pertama-tama dalam ilmu pasti mengenai aksioma-
aksioma paling dasar dan menurut contoh ilmu pasti itu titik pangkal unduksi dalam
ilmu-ilmu alam juga bersifat intuitif. Hanya saja arti dan kedudukan intuitif pada
diri manusia tidak diterangkan.
Auguste Comte (1798-1857). Menurutnya sejak jaman teologis dan metafisis
sudah tiba jaman ilmu positif (empiris) yang defenitif. Dalam hal ilmu positif
Comte membedakan pengetahuan menjadi enam macam ilmu, dari yang paling
abstrak: matematika, ilmu falak, fisika, kimia, ilmu hayat dan sosiologi.
Matematika dipandang sebagai ilmu deduktif, sedangkan lima lainnya dalam
keadaan ingin mendekati deduktif itu. Dalam hal ini Comte berusaha mengadakan
kesatuan antara ilmu pasti dan ilmu empiris (Verhaak & Imam, 1991: 150).
3. Filsafat Ilmu Era Positivisme
Memasuki abad XIX perkembangan Filsafat Ilmu memasuki Era Positivisme.
Positivisme adalah aliran filsafat yang ditandai dengan evaluasi yang sangat
terhadap ilmu dan metode ilmiah. Aliran filsafat ini berawal pada abad XIX. Pada
abad XX tokoh-tokoh positivisme membentuk kelompok yang terkenal dengan
Lingkaran Wina, di antaranya Gustav Bergman, Rudolf Carnap, Philip Frank Hans
Hahn, Otto Neurath dan Moritz Schlick (Azim, 1989: v).
Pada penghujung abad XIX (sejak tahun 1895), pada Universitas Wina
Austria telah diajarkan mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan Induktif (Bertens,
1990: 165). Hal ini memberikan indikasi bahwa perkembangan filsafat ilmu telah
memasuki babak yang cukup menentukan dan sangat berpengaruh terhadap
perkembangan dalam abad selanjutnya.
Memasuki abad XX perkembangan filsafat ilmu memasuki era baru. Sejak
tahun 1920 panggung filsafat ilmu pengetahuan didominasi oleh aliran positivisme
Logis atau yang disebut Neopositivisme dan Empirisme Logis. Aliran ini muncul
dan dikembangkan oleh Lingkaran Wina (Winna Circle, Inggris, Wiener Kreis,
Jerman) (Janik & Toulmin, 1973: 208-209). Aliran ini merupakan bentuk ekstrim
dari Empirisme (Chalmers, 1983: xx). Aliran ini dalam sejarah pemikiran dikenal
dengan Positivisme Logic yang memiliki pengaruh mendasar bagi perkem-bangan
ilmu. Munculnya aliran ini akibat pengaruh dari tiga arah. Pertama, Emperisme dan
Positivisme. Kedua, metodologi ilmu empiris yang dikembangkan oleh ilmuwan
sejak abad XIX, dan Ketiga, perkembangan logika simbolik dan analisa logis
(Verhaak & Imam, 1991: 154).
Secara umum aliran ini berpendapat bahwa hanya ada satu sumber
pengetahuan yaitu pengalaman indrawi. Selain itu mereka juga mengakui adanya
dalil-dalil logika dan matematika yang dihasilkan lewat pengalaman yang memuat
serentetan tutologi -subjek dan predikat yang berguna untuk mengolah data
pengalaman indrawi menjadi keseluruhan yang meliputi segala data itu (Verhaak &
Imam, 1991: 154).

33
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Lingkaran Wina sangat memperhatikan dua masalah, yaitu analisa


pengetahuan dan pendasaran teoritis matematika, ilmu pengetahuan alam, sosiologi
dan psikologi. Menurut mereka wilayah filsafat sama dengan wilayah ilmu
pengetahuan lainnya. Tugas filsafat ialah menjalankan analisa logis terhadap
pengetahuan ilmiah. Filsafat tidak diharapkan untuk memecahkan masalah, tetapi
untuk menganalisa masalah dan menjelaskannya (Bertens, 1990: 1970). Jadi
mereka menekankan analisa logis terhadap bahasa. Trend analisa terhadap bahasa
oleh Harry Hamersma dianggap mewarnai perkembangan filsafat pada abad XX, di
mana filsafat cenderung bersifat Logosentrisme Hamersma, 1990: 141).
4. Filsafat Ilmu Kontemporer
Perkembangan Filsafat Ilmu di zaman ditandai dengan munculnya filosof-
filosof yang memberikan warna baru terhadap perkembangan Filsafat Ilmu sampai
sekarang.
Muncul Karl Raymund Popper (1902-1959) yang kehadirannya menadai
babak baru sekaligus merupakan masa transisi menuju suatu zaman yang kemudian
di sebut zaman Filsafat Ilmu Pengetahuan Baru. Hal ini disebabkan Pertama,
melalui teori falsifikasi-nya, Popper menjadi orang pertama yang mendobrak dan
meruntuhkan dominasi aliran positivisme logis dari Lingkaran Wina. Kedua,
melalui pendapatnya tentang berguru pada sejarah ilmu-ilmu, Popper
mengintroduksikan suatu zaman filsafat ilmu yang baru yang dirintis oleh Thomas
Samuel Kuhn (Verhaak & Imam, 1991: 158-161).
Para tokoh filsafat ilmu baru, antara lain Thomas S. Kuhn, Paul Feyerabend,
N.R. Hanson, Robert Palter dan Stephen Toulmin dan Imre Lakatos memiliki
perhatian yang sama untuk mendobrak perhatian besar terhadap sejarah ilmu serta
peranan sejarah ilmu dalam upaya mendapatkan serta mengkonstruksikan wajah
ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi. Gejala ini
disebut juga sebagai pemberontakan terhadap Positivisme (Verhaak & Imam, 1991:
163).
Thomas S. Kuhn populer dengan relatifisme-nya yang nampak dari gagasan-
gagasannya yang banyak direkam dalam paradigma filsafatnya yang terkenal
dengan The Structure of Scientific Revolutions (Struktur Revolusi Ilmu
Pengetahuan).
Kuhn melihat bahwa relativitas tidak hanya terjadi pada Benda yang benda
seperti yang ditemukan Einstein, tetapi juga terhadap historitas filsafat Ilmu
sehingga ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa teori ilmu pengetahuan itu terus
secara tak terhingga mengalami revolusi. Ilmu tidak berkembang secara komulatif
dan evolusioner melainkan secara revolusioner (Verhaak & Imam, 1991: 166-167).
Salah seorang pendukung aliran filsafat ilmu Baru ialah Paul Feyerabend
(Lahir di Wina, Austria, 1924) sering dinilai sebagai filosof yang paling
kontroversial, paling berani dan paling ekstrim. Penilaian ini didasarkan pada
pemikiran keilmuannya yang sangat menantang dan provokatif. Berbagai kritik
dilontarkan kepadanya yang mengundang banyak diskusi dan perdebatan pada era
1970-an (Bartens, 1988: 17).
Pemikirannya tentang Anarkisme sebagai kritik terhadap ilmu pengetahuan

34
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

seperti menemukan padanannya dengan semangat pemikiran Postmodernisme yang


mengumandangkan semangat dekonstruksionalisme. Dalam konteks ini apa yang
dimaksud Anarkisme oleh Feyerabend adalah suatu orientasi pemikiran filsafat
yang senantiasa menggugat kemapanan suatu teori ilmiah (Tim Redaksi Driya
karya, 1993: 55).
Dalam Against method, Feyerabend menyatakan bahwa pada dasarnya ilmu
pengetahuan dan perkembangannya tidak bisa diterangkan ataupun diatur segala
macam aturan dan sistim maupun hukum. Perkembangan ilmu terjadi karena
kreatifitas individual, maka satu-satunya prinsip yang tidak menghambat kemajuan
ilmu pengetahuan ialah anything goes (apa saja boleh) (Verhaak & Imam, 1991:
166).
Menurut Feyerabend, dewasa ini ilmu pengetahuan menduduki posisi yang
sama dengan posisi pada abad pertengahan. Ilmu pengetahuan tidak lagi berfungsi
membebaskan manusia, namun justru menguasai dan memperbudak manusia. Oleh
karenanya Feyerabend menekankan kebebasan individu (Verhaak & Imam, 1991:
167).
Dalam tahap perkembangan selanjutnya muncul Institut Penyelidikan Sosial
di Frankfurt, Jerman, yang dipelopori oleh Max Horkheimer (1895-1973), Theodor
Wiesengrund Adorno (1903-1969), Erich Fromm (1900-1980) dan Herbert
Marcuse (1898-1979). Mereka memperbaharui dan memperdalam masalah teoritis
dan falsafi mengenai cara kerja dan kedudukan ilmu-ilmu sosial (Verhaak & Imam,
1991: 170-171).
5. Peranan Filosof Muslim Terhadap Perkembangan Filsafat Ilmu
Di dunia Islam, perkembangan filsafat Ilmu walaupun tidak sepesat
perkembangannya di belahan dunia lain, khususnya Eropa dan Amerika, namun
sedikit banyaknya filosof-filosof Muslim juga memiliki andil yang turut mewarnai
perkembangan filsafat Ilmu secara keseluruhan. Perkembangan filsafat Islam
dengan sendirinya tidak dapat dipisahkan dan merupakan bagian integral dari
perkembangan filsafat (Hanafi, 1991: 13-15).
Filosof-filosof muslim umumnya punya metode dan teori tersendiri yang
merupakan corak dan ciri khas pemikirannya yang juga berpengaruh pada
perkembangan ilmu pengetahuan pada masa sesudahnya (Sharif, 1962). Di samping
itu perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat secara keseluruhan tidak dapat
dipisahkan dari peran ilmuwan dan filosof muslim khususnya dalam transfer dan
translating ilmu dan filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab yang kemudian pada
masa-masa selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa, Latin dan
sebagainya (Nasution, 1992: 10).
Salah seorang filosof muslim yang mendapat posisi terhormat dalam
perkembangan filsafat ilmu ialah Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin
Tarkhan, yang lebih populer dengan al-Farabi (Latin: Averroes, 257 H./870 M.
337 H./950 M.). Beliau dikenal sebagai al-Muallim al-Sani atau The Second
Teacher karena usahanya yang memberikan komentar atas logika Aristoteles (Nasr,
1986: 1964-1966). Dalam mengomentari karya Aristoteles tersebut, al-Farabi
menjadikan pemikiran sillogysm menjadi lebih mudah dipahami oleh orang-orang

35
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

sesudahnya.
Perkembangan filsafat Ilmu di Dunia Islam dewasa ini ada kesan diarahkan
pada suatu upaya mewujudkan Islamisasi sains (Hoodboy, 1996). Upaya ini
misalnya diketengahkan oleh pemikir-pemikir muslim, antara lain Maurice
Bucaille, Sayyed Husssein Nasser, Ziauddin Zardar, dan lain-lain.
6. Sejarah Perkembangan Ilmu di Cina, India, dan Jepang
Peradaban India yang pada awal telah mencapai teknologi tingkat tinggi.
Kontak Eropa dengan peradaban India sebagian besar melalui sumber
berbahasa Arab. Jelas terlihat matematika India dengan sistem bilangan dan
perhitungannya yang telah mempengaruhi aljabar Arab dan melengkapi angka
utama Arab. Tetapi ciri khasnya adalah pemikiran dengan kesadaran yang
tinggi.
Peradaban Cina, hingga zaman renaisans peradaban Cina jauh lebih maju
dibanding Barat. Menurut Francis Bacon, Tranformasi masyarakat Eropa
banyak berasal dari Cina seperti kompas magnetik, bubuk mesiu, dan mesin
cetak. Namun Eropa tidak pernah menyadari hutang budinya kepada Cina.
Kegagalan Cina dalam membuat perkembangan ilmu dan teknologi adalah
filsafat yang ada lebih berlaku praktis ketimbang prinsip-prinsip abstrak,
filsafat yang ada didasarkan analogi-analogi harmonis dan organis serta
pedagang sebagai kelas yang tidak dapat dipercaya, sehingga ciri renaisans
yang terjadi di Eropa tidak terjadi di Cina.
Peradaban Jepang selama beberapa abad terimbas dari kultur Cina. Pada
awal abad ke-17 memutuskan untuk menutup pintu dari pengaruh-pengaruh
yang dianggap membahayakan. Awal abad ke-19 memutuskan berasimilasi ke
bangsa luar dan melaksanakan dengan sungguh. Saat ini satu sisi Jepang hidup
dengan teknologi yang tinggi akan tetapi tetap mengikuti tradisi sosial yang
kuno seperti bangsa Cina.

F. Tujuan dan Fungsi Filsafat Ilmu


Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu,
tujuan dan fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari tujuan dan
fungsi filsafat itu sendiri. Jujun S. Suriasumantri (1999: 19) mengatakan bahwa
berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang
kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan
pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan terbatasi ini. Demikian
juga berfilsafat berarti mengoreksi diri sendiri, semacam keberanian untuk
berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita
jangkau.
Berdasarkan dari beberapa pendapat tentang berbagai pengertian filsafat,
maka tujuan umum pelajaran filsafat adalah sebagai berikut: (1) dengan
berfilsafat kita lebih memanusiakan diri, lebih mendidik dan membangun diri
manusia; (2) dapat mempertahankan sikap objektif dan mendasarkan pendapat
atas pengetahuan yang objektif, tidak hanya berdasarkan pertimbangan -
pertimbangan simpati dan antipati saja; (3) mengajar dan melatih kita

36
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

memandang dengan luas. Jadi, menyembuhkan kita dari kepicikan, dari aku -
isme dan aku-sentuisme hanya mementingkan aku-nya saja, yang dapat
merugikan perkembangan manusia seutuhnya; (4) dengan pelajaran filsafat
kita diharapkan mnejadi orang yang dapat berfikir sendiri, tidak menjadi yes -
man atau yes-woman. Kita harus menjadi orang yang sungguh-sungguh
mandiri, terutama dalam lapangan kerohanian dan menyempurnakan cara kita
berpikir, dan memiliki sifat kritis.
Menurut Burhanuddin Salam (2000: 19), filsafat dengan fungsinya
sebagai Mater Scientiarum (induk ilmu pengetahuan) berarti mencakup semua
ilmu pengetahuan khusus. Filsafat itu juga merupakan suatu pegangan menusia
pada masa itu, dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Dengan menguasai
filsafat pada zaman itu (sebelum masehi), dapatlah seorang ahli menjawab
segala permasalahan di dunia ini, baik masalah manusia sendiri, alamnya,
maupun Tuhannya.
Dalam perkembangan selanjutnya, sejalan dengan perkembangan zaman,
meningkatnya kebutuhan hidup manusia, dan semakin berkembangnya
kehidupan modern maka semakin terasalah kebutuhan untuk menjawab segala
tantangan yang dihadapi manusia. Dalam keadaan demikian, lahirlah apa yang
disebut ilmu-ilmu pengetahuan khusus.
Menurut Burhanuddin Salam (1988) fungsi dari filsafat itu adalah bahwa
betapa besar kepentingan filsafat bagi perwujudan dan pembangunan hidup
kita. Jadi kita menjunjung tinggi dan mempertahankan filsafat sebagai suatu
hal yang sangat berharga. Akan tetapi bersama-sama dengan itu harus kita akui
juga batas-batas atau kenisbian filsafat. Terbatasnya kemampuan akan budi
manusia dalam usahanya untuk memecahkan soal-soal tentang dunia dan
manusia, tentang hidup dan Tuhan (Salam, 1988: 109).
Secara spesifik, cara kerja filsafat ilmu memiliki pola dan model-model
yang spesifik dalam menggali dan meneliti dalam menggali pengetahuan
melalui sebab musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan. Di dalamnya
mencakup paham tentang kepastian, kebenaran, dan obyektifitas. Cara
kerjanya bertitik tolak pada gejala-gejala pengetahuan mengadakan reduksi ke
arah intuisi para ilmuwan, sehingga kegiatan ilmu-ilmu itu dapat dimengerti
sesuai dengan kekhasan masing-masing (Verhaak, dkk., 1995: 107-108),
disinilah akhirnya dapat dipahami fungsi dari filsafat ilmu.
Jadi, Fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam
memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali
kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa
filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu
berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan
theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil
ataupun besar secara sederhana. Manfaat lain mengkaji filsafat ilmu adalah
1. Tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual
2. Kritis terhadap aktivitas ilmu/keilmuan
3. Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus

37
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

sehingga ilmuwan tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur
ilmu).
4. Mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional.
5. Memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid.
6. Berpikir sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual)

G. Komponen/Anatomi Pengetahuan dan Ilmu


Pengetahuan tidak serta merta dipandang sebagai ilmu, ada prasyarat
sehingga pengetahuan bisa berproses menjadi ilmu. Proses tersebut dirangkai dalam
komponen atau anatomi yang dapat dijelaskan seperti di bawah ini.
Anatomi atau komponen ilmu dibangun dari realita alam semesta.
Komponen ilmu merupakan aspek dinamis dari perwujudan ilmu yang bersifat
abstrak dan general (umum). Komponen-komponen ilmu tersusun dari alam konkrit
(realita) hingga alam abstrak (ilmu). Komponen-komponen yang menjembataninya
yaitu fenomena, konsep, variabel, proposisi, fakta dan teori. komponen-komponen
tersebut dapat dijelaskan dalam rangkaian berikut:

Alam nyata (realita) sebagai pengetahuan

Fenomena : kejadian atau gejala-gejala yang ditangkap oleh indera manusia dan
dijadikan masalah karena belum diketahui (apa, mengapa, bagaimana)
adanya.
Konsep : istilah atau simbol yang mengandung pengertian singkat dari
fenomena atau abstraksi dari fenomena

Variabel : variasi sifat, jumlah, besaran yang mempunyai nilai kategorial


(bertingkat) baik kualitatif maupun kuantitatif sebagai hasil
penelaahan mendasar dari konsep.
Proposisi : kalimat ungkapan yang terdiri dari dua variabel atau lebih yang
menyatakan hubungan sebab-akibat.

Fakta : proposisi yang telah teruji secara empiris (hubungan yang ditunjang
oleh data empiris).

Teori : jalinan fakta menurut kerangka yang bermakna (meaningful construct)

Ilmu (alam abstrak)

Dari skema diatas terurai jelas dimana pengetahuan berangkai sebagai


tahapan perkembangan (development). Hal ini sesuai dengan ungkapan bahwa ilmu

38
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

merupakan akumulasi dari pengetahuan yang tersusun secara sistematis, bersifat


abstrak, general dan universal yang mampu menjelaskan dan meramalkan
fenomena-fenomena yang terjadi.
Melihat skema diatas dapat dijelaskan bahwa fenomena yang ditangkap oleh panca
indera manusia dari alam nyata diabstraksikan pada konsep-konsep. Penelaahan
mendasar dari konsep-konsep tersebut dijewantahkan melalui variabel-varlabel.
Variabel-variabel tersebut digolongkan berdasarkan variabel penentu (determinant)
dan variabel yang ditentukan (result), yang kemudian dicarikan korelasinya sebagai
sebab-akibat. Hal ini disebut proposisi. tersebut merupakan kesimpulan penalaran
pikiran dengan tingkat kebenarannya yang masih sementara yakni disebut hipotesis.
Apabila proposisi tersebut teruji secara empiris maka disebut fakta. Kemudian jika
beberapa fakta terjalin dalam rangkaian yang memiliki arti maka tahap ini disebut
teori. Teori-teori inilah sebenarnya yang merupakan ilmu (ilmu penuh dengan teori-
teori). Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa teori adalah seperangkat konsep-
konsep dan/atau variabel-variabel dari suatu fenomena dan proposisi-proposisi
yang berhubungan satu sama lain dan tersusun secara sistematis, dan bertujuan
untuk menjelaskan (explanation) dan meramalkan (prediction) ataupun
mengendalikan (control) fenomena-fenomena. Kesimpulan teori-teori bersifat
general dan abstrak.

H. Model Perkembangan Ilmu Menurut Khun


Menurut Khun ilmu pengetahuan berkembang dalam model skema sebagai
berikut:

P N A C R P
C
1 2
Keterangan:
P1 : Paradigma lama, ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi oleh
suatu paradigma tertentu
NC : Normal Science, Periode akumulasi ilmu pengetahuan dimana para
ilmuwan bekerja dan mengembangkan paradigma yang sedang
berpengaruh.
A : Anomalies, para ilmuwan tidak dapat mengelakkan pertentangan dan
penyimpangan yang terjadi karena ketidakmampuan paradigma yang ada di
dalam memberikan penjelasan secara memadai terhadap persoalan-
persoalan yang timbul.
C : Crisis, jika pertentangan terus terjadi, krisis akan muncul sedangkan
paradigma tadi akan mulai disangsikan validitasnya.
R : Revolution, krisis memuncak, timbul revolusi ilmiah, paradigma baru
muncul menggantikan paradigma lama.
P2 : Paradigma baru, yang mampu memecahkan persoalan yang dihadapi.
Dalam tahap ini terjadi perubahan besar dalam ilmu pengetahuan.

39
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

I. Paradigma dan Penelitian Ilmiah


Paradigma merupakan landasan penting bagi penelitian ilmiah. Selain
mengarahkan penelitian, paradigma juga mampu mengubah pandangan hidup para
ilmuwan, dimana para ilmuwan cenderung terikat dan mengacu pada aturan-aturan
dan standar yang sama untuk suatu penelitian ilmiah. Sehingga mereka cenderung
menggunakan metode yang sama untuk memecahkan persoalan yang sama.
Menurut Khun, terdapat dua jenis penelitian ilmiah, yaitu: 1) Normal
science, dan 2) Extra ordinary science.
Penelitian yang bersifat menghasilkan normal science bertolak pada suatu
kesamaan pengetahuan dan teori tertentu yang disepakati bersama dalam disiplin
ilmu tertentu. Pada normal science hanya menguji (meneliti) secara terbatas suatu
paradigma yang telah disepakati. Penelitian seperti ini tidak mendorong atau
menghasilkan teori baru. Sifatnya hanya mempertahankan status-quo dengan
menggunakan paradigma yang tersedia untuk memecahkan persoalan yang
dihadapi.
Ketika paradigma yang tersedia tidak mampu menjawab persoalan, maka
paradigma tersebut ditinjau ulang dengan sikap keragu-raguan (doubts). Keragu-
raguan ini menciptakan kondisi kebimbangan di kalangan masyarakat (ilmiah), dan
ini menyebabkan kehilangan rasa terikat pada keabsahan paradigma yang ada. Para
ilmuwan karena tidak terikat dengan paradigma yang ada, maka dalam
mengembangkan penelitiannya menggunakan pendekatan paradigma baru,
sehingga menghasilkan extra ordinary science. Situasi dan kondisi inilah disebut
dengan revolusi sains.
Paradigma yang baru lahir tidak lantas diterima begitu saja, tetapi harus
disertai dengan perubahan dan perbaikan pada perangkat teori yang membentuk dan
melandasinya. Paradigma baru tidak menambah teori-teori yang ada, tetapi bersifat
mengubah dan menggantinya.

40
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

BAB III
SUBSTANSI FILSAFAT ILMU

Telaah tentang substansi filsafat ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya


dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau
kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.
Kemudian ada tambahan yaitu mengenai telaah konstruksi teori.

A. Fakta atau Kenyataan


Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari
sudut pandang filosofis yang melandasinya. Berikut pandangan mengenai
pengertian fakta dari berbagai aliran:
1. Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi
antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.
2. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian
kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yait u adanya
korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah
koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai.
3. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara
empirik dengan skema rasional.
4. Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada
koherensi antara empiri dengan obyektif.
5. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.
Pada sisi lain, Lorens Bagus (2005) memberikan penjelasan tentang fakta
obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomena atau
bagian realitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis
manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif
dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta
obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan
teoritis. Tanpa fakta-fakta ini, bangunan teoritis itu mustahil terwujud. Fakta
ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah
dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.

B. Kebenaran (Truth)
Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran.
Namun secara tradisional, kita mengenal tiga teori kebenaran yaitu koherensi,
korespondensi dan pragmatik (Suriasumantri, 1999). Sementara, Michel
William mengenalkan lima teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran
koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran
pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir
menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001)

41
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

1. Kebenaran koherensi
Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara
sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari
sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi
ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental.
2. Kebenaran korespondensi
Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya
sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan
adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang
diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik.
3. Kebenaran performatif
Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual
dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik,
maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual.
Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.
4. Kebenaran pragmatik
Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan
memiliki kegunaan praktis.
5. Kebenaran proposisi
Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks,
yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. S uatu
kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika
Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu
proposisi.
Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat
dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benar materialnya.
6. Kebenaran struktural paradigmatik
Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan
perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis
regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai
pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya
keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu
memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.

C.Konfirmasi
Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang
akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat
ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan
konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atau axioma yang
sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan
postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi atau pemaknaan
untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif,

42
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

deduktif, ataupun reflektif.

D.Logika inferensi
Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX
adalah logika matematika, yang menguasai positivisme. Positivistik
menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Fenomenologi Russel
menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Belief pada
Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skema
moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitian berupa
kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.
Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren
antara rasional, koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan
dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral.
Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik
rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik
dengan menampilkan kebenaran struktural paradigmatik moral transensden.
(Ismaun, 2001: 9).
Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1999: 46-49) menjelaskan bahwa
penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan
tersebut dilakukan menurut cara tertentu, yakni berdasarkan logika. Secara
garis besarnya, logika terbagi ke dalam dua bagian, yaitu logika induksi dan
logika deduksi.

E. Telaah Konstruksi Teori


Kata teori secara etimologi berasal dari bahasa yunani yaitu theorea, yang
berarti melihat, theoros yang berarti pengamatan (Bagus, 2006: 1097). Adapun
pengertian teori menurut terminologi memiliki beberapa pengertian seperti yang
dikemukakan oleh ilmuwan sebagai berikut :
Kerlinger (Wattimena, 2008: 257) mengemukakan bahwa teori adalah suatu
kumpulan variabel yang saling berhubungan, defini-defini, proposisi-proposisi
yang memberikan pandangan yang sistematis tentang fenomena dengan
mempesifikasikan relasi-relasi yang ada diantara beragam variabel, dengan tujuan
untuk menjelaskan fenomena yang ada.
Cooper dan Schindler (2003) mengemukakan bahwa, a theory is a set
systematically interrelated concepst, defintion, and proposition that are advanced
to explain and predict phenomena (fact). Teori adalah seperangkat konsep, definisi
dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk
menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Teori menurut Sugiyono (2007: 52-54) adalah alur logika atau penalaran,
yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun
secara sistematis. Secara umum teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk
menjelaskan (explanation), meramalkan (prediktion), dan pengendalian
(control) suatu gejala.

43
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Bangunan teori adalah abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam
definisi-definisi. Konsep sebagai abstraksi dari banyak empiri yang telah ditemukan
kesamaan umumnya dan kepilahannya dari yang lain atau abstraksi dengan cara
menemukan sejumlah esensi pada suatu kasus, dan dilakukan berkelanjutan pada
kasus-kasus lainnya, dapat dikonstruksikan lebih jauh menjadi proposisi atau
pernyataan, dengan membuat kombinasi dari dua konsep atau lebih. Bangunan-
banguanan teori tersebut :
1. Teori Ilmu
Teori ilmu memiliki dua kutub arti teori. Kutub pertama adalah teori sebagai
hukum eksperiment muncul beragam, mulai dari hasil eksperimen tersebut meluas
ke hasil observasi phisik seperti teori tentang panas bumi. Kutu ke dua adalah
hukum sebagai kalkulus formal dapat muincul beragam pula, mulai dari yang dekat
dengan kutub pertama seperti teori sebagai eksplanasi phisik misalnya teori Galileo
tentang peredaran planet pada porosnya, teori sinar memancar melengkung bila
lewat bidang grafitasi. Selanjutnya teori sebagai interpretasi terarah atas observasi
seperti sosial statis dan sosial dinamis dari August Conte dan pada ujung kutub ke
dua adalah teori sebagai prediksi logis; dengan sifatnya berlaku umum dan
diprediksikan berlaku kapan pun, dahulu dan yang akan datang. Seperti teori
newton, teori relativitas dari Einstein yang memberikan penjelasan alternatif
tentang sumber energi yang memungkinkan matahari menghasilkan energi besar
dalam waktu yang begitu lama (Wattimena, 2008: 193).
2. Temuan Substantif Mendasar
Temuan-temuan atas bukti empirik dapat dijadikan tesis substantive, dan
diramu dalam konsep lain dapat dikonstruk menjadi teori subtantive. Asumsi
keberlakuan subtantif tersebut ada pada banyak kasus yang sama di tempat dan
waktu yang berbeda.
Demikian pula presepsi ilmuwan tentang atom, berkembang. Dari partikel
terkecil, diketemukannya unsur radioaktif pada atom dan diketemukannya unsur-
unsur elektron yang berputar mengorbit pada proton yang mempunyai kekuatan
magnetik. Kemudian pada tahun 1937 diketemukan neutron, semacam proton,
tetapi tidak mempunyai kekuatan magnetik. Berat neutron beragam dan inilah yang
menyebabkan atom satu beda beratnya dengan atom yang lain. Temuan teori atom
ini merupakan temuan ilmiah substantif mendasar (Muhadjir, 2001: 41).
3. Hukum-hukum Keteraturan
a. Hukum Keteraturan Alam
Alam semesta ini memiliki keteraturan yang determinate. Ilmu pengetahuan
alam biasa disebut hard science, karena segala proses alam yang berupa benda
anorganik sampai organik dan hubungan satu dengan lainnya dapat
diekspalanasikan dan diprediksikan relatif tepat. Kata relative tepat memuat dua
makna : pertama, bila teori yang kita gunakan untuk mebuat ekplanasi atau prediksi
sudah sangat lebih baik, dan ke dua, bila variabel yang ikut berperan terpantau
(Muhadjir, 2001: 41). Menurut al- Kindi ketertiban alam ini, baik susunan,
interaksi, relasi bagian dengan bagiannya, ketundukan suatu bagian pada bagian-
bagian lainnya, dan kekukuhan strukturnya di atas landasan prinsip yang terbaik

44
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

bagi proses penyatuan, perpisahan, dan muncul serta lenyapnya sesuatu dalam
alam, mengindikasikan adanya pengaturan yang mantap dan kebijakan yang kukuh.
Tentu ada pengatur yang maha bijaksana dibalik semua ini, yaitu Allah (Drajat,
2006: 16-17).
b. Hukum Keteraturan Hidup Manusia
Hidup manusia itu memiliki keberagaman sangat luas. Ada yang lebih suka
kerja keras dan yang lain menyukai hidup santai, ada yang tampil ulet meski selalu
gagal, yang lain mudah putus asa, ada yang berteguh pada prinsip dan sukses dalam
hidup, yang lain berteguh pada prinsip, dan tergilas habis. Kehidupan manusia
mengikuti sunnatullah, mengikuti hukum yang sifatnya indeterminate. Mampu
membaca kapan harus teguh prinsip, kapan diam dan kapan berbicara dalam nada
yang bagaimana, dia akan sukses beramal maruf nahi mungkar. Manusia
mempunyai kemampuan untuk memilih yang baik, dan menghindari yang tidak
baik. Dataran baik tersebtu dapat berada pada dataran kehidupan prakmatik sampai
pada dataran moral human ataupun moral religius. Memilih kerja yang mempunyai
prospek untuk menghidupi keluarganya, merupakan lebebasan memilih manusia
dengan konmsukuensi ditempuhnya keteraturan sunnatullah; harus tekun bekerja
dan berupaya berprestasi didunia kerjanya. Untuik diterima kepemimpinannya,
seorang pemimpin perllu berupaya menjadi siddiq, amanah, dan maksum. Keadaan
demikian berkenan dengan pemikiran ibnu bajjah yang membagi perbuatan
manusia kepada perbuatan manusia, yaitu perbuatan yang didorong oleh kehendak
/ kemauan yang dihasilkan oleh pertimbangan pemikiran, dan perbuatan hewani
yaitu perbuatan instingtif sebagaimana terdapat pada hewan, muncul karena
dorongan intim dan bukan dorongan pemikiran (Drajat, 2006: 16-17).
c. Hukum Keteraturan Rekayasa Teknologi
Keteraturan alam yang determinate, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
keteraturan substantif dan keteraturan esensial. Seperti pohon mangga golek akan
berbuah mangga golek. Ketika ilmuwan berupaya menemukan ensensi rasa enak
pada mangga, menemukan ensensi buah banyak pada mangga, dan menemukan
esensi pohon mangga baru manalagi yang enak buahnya, mebuat rekayasa agar
dapat diciptakan pohon mangga baru manalagi yang enak buahnya, banyak
buahnya, dan tahan penyakit, di sini nampak bahwa ilmuwan mencoba menemukan
keteraturan esensial pada benda organik. Produk teknologi merupakan produk
kombinasi antara pemahaman ilmuwan tentang keteraturan esensial yang
determinate dengan upaya rekayasa kreatif manusia mengikuti hukum keteraturan
sunnatullah (Muhadjir, 2001: 43).
4. Konstruk Teori Model Korespondensi
Konstruk berfikir korespondensi adalah bahwa kebenaran sesuatu dibuktikan
dengan cara menemukan relasi relevan dengan sesuatu yang lain. Tampilan
korespondensi tersebut beragam mulai dari korelasi, kausal, konstributif, sampai
mutual. Konstruk berfikir statistik kuantitatif dan juga pendekatan positifistik
menggunakan cara ini (Muhadjir, 2001: 52).
Menurut Bertand Russel suatu pernyataan benar jika materi pengetahuan
yang dikandung oleh pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan/cocok)

45
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

dengan obyek yang dituju oleh pernyataan itu, misalnya, jika ada seseorang yang
mengatakan Ibukota republik Indonesia adalah Jakarta maka pernyataan itu benar
sebab pernyataan itu sesuai dengan fakta objektif (Bakhtiar, 1997: 33).
5. Konstruk Teori Model Koherensi
Konstruk teori model koherensi merentang dari koheren dalam makana
rasional sampai dalam makna moral. Konstruk kohren dalam makna rasional adalah
kesesuaian sesuatu dengan skema rasional tertentu, termasuk juga kesesuaian
sesuatu dengan kebenaran objektif raional.
Aristoteles dalam teori koherensi memberikan standar kebenaran dengan cara
dedukatif, yaitu kebenaran yang didasarkan pada kriteria koherensi yang dapat
diungkap. Bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila
pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten denga pernyataan sebelumnya yang
dianggap benar. Bila kita menganggap benar bahwa Semua manusia pasti mati
adalah pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa Si Fulan adalah seorang
manusia dan si Fulan pasti mati adalah benar pula. sebab pernyataan ke dua adalah
konsisten dengan pernyataan yang pertama (Bakhtiar, 1997: 32).
6. Konstruk Teori Model Pragmatis
Konstruk teori pragmatis berupaya menkonstruk teorinya dari konsep-
konsep, pernyataan-pernyataan yang bersifat fungsional dalam kehidupan praktis
atau tidak. Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan
tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak; artinya suatu
pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau inflikasinya mempunyai kegunaan
praktis dalam kehidupan manusia. Kaum prakmatis berpaling pada metode ilmiah
sebagai metode untuk mencari pengetahuan tentang alam ini yang dianggap
fungsional dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala alamiah. Agama bisa
dianggap benar karena memberikan ketenangan pada jiwa dan ketertiban dalam
masyarakat. Para ilmuwan yang menganut asas ini tetap menggunakan suatu teori
tertentu selama teori itu mendatangkan manfaat (Bakhtiar, 1997: 34).
7. Konstruk Teori Iluminasi
Teori Iluminasi menurut Mehdi Hairi Yasdi adalah pengetahuan yang semua
hubungannya berada dipandang dalam kerangka dirinya sendiri, sehingga seluruh
anatomi gagasan tersebut bisa dipandang benar tanpa membutuhkan hubungan
ekterior. Artinya hubungan mengetahui, dalam bentuk pengetahuan tersebut adalah
hubungan swaobjek tanpa campur tyangan koneksi dengan objek eksternal
(Bakhtiar, 1997: 35-36).
Selanjutnya Iluminasi oleh Yasdi disebut sebagai ilmu hudhuri yaitu
pengetahuan dengan kehadiran karena ia ditandai oleh keadaan neotik dan
memiliki objek imanen yang menjadikannya pengetahuan swaobjek. Ilmu
hudhuri tidak memiliki objek di luar dirinya, tetapi objek itu sendiri ada adalah
objek subjektif ada pada dirinya. Oleh sebagian sufi, iluminasi itu adalah
pengetahuan diri tentang diri yang berasal dari penyinaran dan anugerah Tuhan
yang digambarkan dengan berbagai ungkapan dan keadaan. Ada yang
menyebutkannya dengan terbukanya hijab antara dirinya dengan Tuhan,
sehingga pengetahuan dan rahasianya dapat diketahui. Ada yang

46
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

mengungkapkan dengan rasa cinta yang sangat dalam sehingga antara dia dan
Tuhan tidak ada rahasia lain. Pengetahuan Tuhan adalah pengetahuan-Nya.
Dan ada yang menyatakan dengan kesatuan kesadaran (ittihad/hulul)
(Bakhtiar, 1997: 37).

47
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

BAB IV
DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU

Ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan tercakup


pula telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu.
Pertama, dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana yang hendak
dicapai ilmu. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial.
Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan
waktu, dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian, meliputi
fenomena yang dapat diobservasi, dapat diukur, sehingga datanya dapat diolah,
diinterpretasi, diverifikasi, dan ditarik kesimpulan. Dengan lain perkataan, tidak
menggarap hal-hal yang gaib seperti soal surga atau neraka yang menjadi garapan
ilmu keagamaan. Telaah kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi aspek
normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping
aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Kesemuanya itu
lazim disebut metode ilmiah, meliputi langkah-langkah pokok dan urutannya,
termasuk proses logika berpikir yang berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir
ilmiah yang digunakannya. Telaah ketiga ialah dari segi aksiologi yaitu terkait
dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh.
Berikut ini digambarkan batasan ruang lingkup atau bidang garapan tahapan
Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.

A. Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan
berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat
konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis yang
terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan
orang belum mampu membedakan antara penampakan dengan kenyataan.
1. Pengertian Ontologi
Menurut Bahasa, ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on / ontos =
being atau ada, dan logos = logic atau ilmu. Jadi, ontologi bisa diartikan: The theory
of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau Ilmu
tentang yang ada
Pengertian menurut Istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang
hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani
(kongkret) maupun rohani (abstrak).
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada
tahun1636 M untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis.
Dalam perkembangan selanjutnya Christian Wolf (1679-1754 M) membagi
Metafisika menjadi 2 yaitu: (1) Metafisika Umum yang disebut sebagai ontologi.
Jadi metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan
prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada; dan (2)

48
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Metafisika Khusus, terdiri dari kosmologi, psikologi, teologi.


2. Aliran-aliran dalam Ontologi
Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan
pokok/aliran-aliran pemikiran antara lain: Monoisme, Dualisme, Pluralisme,
Nihilisme, dan Agnotisisme.
a. Monoisme
Monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu
hanyalah satu saja, tidak mungkin dua, baik yang asal berupa materi ataupun rohani.
Paham ini kemudian terbagi kedalam dua aliran: (1) Materialisme, dan (2)
idealisme.
Aliran materialisme menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi,
bukan rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Bapak Filsafat yaitu Thales
(624-546 SM). Dia berpendapat bahwa sumber asal adalah air karena pentingnya
bagi kehidupan. Aliran ini sering juga disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat
mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi/alam,
sedangkan jiwa /ruh tidak berdiri sendiri. Tokoh aliran ini adalah Anaximander
(585-525 SM). Dia berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara dengan alasan
bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Dari segi dimensinya,
paham ini sering dikaitkan dengan teori atomisme, bahwa semua materi tersusun
dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat
dirusakkan. Bagian-bagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan atom-atom.
Tokoh aliran ini adalah Demokritos (460-370 SM). Ia berpendapat bahwa hakikat
alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat di hitung dan
amat halus. Atom-atom inilah yang merupkan asal kejadian alam.
Idealisme diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa.
Idelisme sebagai lawan materialisme, dinamakan juga spiritualisme. Idealisme
berarti serbacita, spiritualisme berarti serba ruh. Aliran idealisme beranggapan
bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma)
atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
Tokoh aliran idealisme diantaranya:
1) Plato (428 -348 SM) dengan teori ide-nya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di
alam mesti ada idenya, yaitu konsep universal dari setiap sesuatu.
2) Aristoteles (384-322 SM), memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang
menggambarkan alam ide itu sebagai sesuatu tenaga yang berada dalam benda-
benda itu sendiri dan menjalankan pengaruhnya dari dalam benda itu.
3) Pada Filsafat modern padangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley
(1685-1753 M) yang menyatakan objek-objek fisis adalah ide-ide.
4) Kemudian Immanuel Kant (1724-1804 M), Fichte (1762-1814 M), Hegel (1770-
1831 M), dan Schelling (1775-1854 M).
b. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari 2 macam hakikat sebagai asal
sumbernya yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit.

49
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai


bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia
kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan).
Tokoh yang lain : Benedictus De spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried
Wilhelm Von Leibniz (1646-1716 M).
c. Pluralisme
Paham pluralisme berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan
kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan alam ini
tersusun dari banyak unsur.
Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles
yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur,
yaitu tanah, air, api, dan udara.
Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M) yang terkenal
sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of
Truth, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku
umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Apa
yang kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi/diubah oleh pengalaman
berikutnya.
d. Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada.
Doktrin tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya yaitu
Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu:
Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis
Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui
Ketiga, sekalipun realits itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beritahukan
kepada orang lain.
Tokoh modern aliran ini diantaranya: IvanTurgeniev (1862 M) dari Rusia
dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M), ia dIlahirkan di Rocken di Prusia dari
keluarga pendeta.
e. Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat
benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa
Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown A artinya not Gno (know).
Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya
seperti:
a. Soren Kierkegaar (1813-1855 M), yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak
Filsafat Eksistensialisme
b. Martin Heidegger (1889-1976 M) seorang filosof Jerman
c. Jean Paul Sartre (1905-1980 M), seorang filosof dan sastrawan Prancis yang
atheis

50
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

B. Epistemologi
Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang
pengetahuan. Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai sub sistem
dari filsafat. Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang
bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologiseperti juga
lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan
betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-
tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme
pemikiran. Ketika kita membicarakan epistemologi, berarti kita sedang
menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah untuk
mendapatkan pengetahuan. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup
signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas
yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan
aksiologi.
1. Pengertian Epistemologi
Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang
dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu.
Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).
Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme
berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan
sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode
dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.
Dalam Epistemologi, pertanyaan pokoknya adalah apa yang dapat saya
ketahui? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah:
a. Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?
b. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?
c. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman)
dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen
Filsafat Ilmu UGM, 2003: 32).
Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan
mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber
pengetahuan? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai
tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (S.Sahakian &
L. Sahakian, 1965, dalam Suriasumantri, 1999).
Menurut Musa Asyarie, epistemologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang
sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada
suatu objek kajian ilmu. Sedangkan, Hardono Hadi (1996) menyatakan, bahwa
epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan
kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta
pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang

51
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengendaian-


pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan
bahwa orang memiliki pengetahuan.
Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas diungkapkan Dagobert
D.Runes. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang
membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara
itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai ilmu yang
membahas tentang keasliam, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu
pengetahuan. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi
kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua
pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami.
2. Ruang Lingkup Epistemologi
Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan
validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat,
unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin
menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab,
apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana
membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita
mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah
batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok;
masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.
Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak
terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara
konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak
membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu,
aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau
setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan
pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan,
bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan.
Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik,
seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman, sehingga memaknai
epistemologi sebagai metode pemikiran, ontologi sebagai objek pemikiran,
sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran, sehingga senantiasa berkaitan dengan
nilai, baik yang bercorak positif maupun negatif. Padahal sebenarnya metode
pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi.
3. Objek Dan Tujuan Epistemologi
Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. Objek material
adalah sarwa-yang-ada, yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan, hakikat
alam dan hakikat manusia. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan
secara radikal (sedalam-dalamnya, sampai ke akarnya) tentang objek material
filsafat (sarwa-yang-ada).
Objek epistemologi ini menurut Jujun S.Suriasumatri berupa segenap proses
yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Proses untuk

52
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan


sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan
suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu
sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran
menjadi tidak terarah sama sekali.
Tujuan epistemologi menurut Jacques Martain mengatakan: Tujuan
epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya
dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat
tahu. Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh
pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari, akan tetapi yang menjadi
pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin
memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.
4. Landasan Epistemologi
Kholil Yasin menyebut pengetahuan dengan sebutan pengetahuan biasa
(ordinary knowledge), sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan
ilmiah (scientific knowledge). Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. Disamping
istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa, juga bisa disebut pengetahuan sehari-
hari, atau pengalaman sehari-hari. Pada bagian lain, disamping disebut ilmu
pengetahuan dan pengetahuan ilmiah, juga sering disebut ilmu dan sains. Sebutan-
sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah, sedangkan substansisnya relatif sama,
kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan, misalnya antar sains dengan
ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut, sumber-sumbernya,
batas-batasanya, dan sebagainya.
Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan
menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan
yang bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi standar untuk
menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena
pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu
pengetahuan, melaikan termasuk wilayah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah
selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif.
5. Hubungan Epistemologi, Metode dan Metodologi
Lebih jauh lagi Peter R.Senn mengemukakan, metode merupakan suatu
prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang
sistematis. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam
mempelajari peraturan dalam metode tersebut. Secara sederhana dapat dikatakan,
bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari
prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Jika metode merupakan prosedur atau
cara mengetahui sesuatu, maka metodologilah yang mengkerangkai secara
konseptual terhadap prosedur tersebut. Implikasinya, dalam metodologi dapat
ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan
metode.
Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode, kelemahan dan
kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang
digunakan, sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-

53
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

metode yang digunakan dalam penelitian. Penggunaan metode penelitian tanpa


memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu
yang dianutnya. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma
penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Padahal
mestinya dia harus benar-benar memahami, bahwa penelitian kuantitatif
menggunakan paradigma positivisme, sehingga ditentukan oleh sebab akibat
(mengikuti paham determinsime, sesuatu yang ditentukan oleh yang lain),
sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme
(fenomenologis). Dengan demikian, metodologi juga menyentuh bahasan tantang
aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. Aspek filosofis yang
menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi.
Oleh karena itu, dapat dijelaskan urutan-urutan secara struktural-teoritis
antara epistemologi, metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi,
dilanjutkan dengan merinci pada metodologi, yang biasanya terfokus pada metode
atau tehnik. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat, maka metode
sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Filsafat mencakup bahasan
epistemologi, epistemologi mencakup bahasan metodologis, dan dari metodologi
itulah akhirnya diperoleh metode. Jadi, metode merupakan perwujudan dari
metodologi, sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup
dalam epistemologi. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat.
6. Hakikat Epsitemologi
Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan, membedakan
cabang-cabangnya yang pokok, mengidentifikasikan sumber-sumbernya dan
menetapkan batas-batasnya. Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita
mengetahui adalah masalah-masalah sentral epistemologi, tetapi masalah-masalah
ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. Pandangan yang lebih ekstrim
lagi menurut Kelompok Wina, bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat,
melainkan termasuk dalam kajian psikologi. Sebab epistemologi itu berkenaan
dengan pekerjaan pikiran manusia, the workings of human mind. Tampaknya
Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi
yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. Cara pandang demikian
akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi
keilmuan. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan
pekerjaan pikiran manusia, karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan
pikiran. Kemudian jika diingat, bahwa filsafat adalah landasan dalam
menumbuhkan disiplin ilmu, maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan
dengan pekerjaan pikiran manusia, terutama pada saat proses aplikasi metode
deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat.
Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain, kecuali psikologi, padahal realitasnya banyak
sekali.
Oleh karena itu, epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat, walaupun
objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik, justru karena epistemologi menjadi
ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. Dalam epistemologi terdapat
upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. Aktivitas-
aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis.

54
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa


dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. Honer dan Thomas C.Hunt
yang menilai, epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. Sejak
semula, epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang
paling sulit, sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang
membentang seluas jangkauan metafisika sendiri, sehingga tidak ada sesuatu pun
yang boleh disingkirkan darinya. Selain itu, pengetahaun merupakan hal yang
sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan
sehari-hari. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja, maka minat untuk
membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan
sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita.
Epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral
setiap pandangan dunia. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan, apa yang
mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya; apa yang
mungkin diketahui dan harus diketahui; apa yang mungkin diketahui tetapi lebih
baik tidak usah diketahui; dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui.
Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap
objek-objek pengetahuan. Tidak semua objek mesti dijelajahi oleh pengetahuan
manusia. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih
besar, sehingga tidak perlu diketahui, meskipun memungkinkan untuk diketahui.
Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri, sehingga tidak mungkin bisa
diketahui.
Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia.
Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori
yang bersifat umum menuju detail-detailnya, berarti dia menggunakan pendekatan
deduktif. Sebaliknya, ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama,
baruk ditarik kesimpulan secara umum, berarti dia menggunakan pendekatan
induktif. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan
yang masih jauh, ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek
sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke
belakang, yaitu masa lampau yang telah dilalui. Pola-pola berpikir ini akan
berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. Kita terkadang menemukan seseorang
beraktivitas dengan serba strategis, sebab jangkauan berpikirnya adalah masa
depan. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu
sesungguhnya sia-sia, karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek, jika dilihat
dari kepentingan jangka panjang, maka tindakannya itu justru merugikan.
Pada bagian lain dikatakan, bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya
merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris.
Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk
menemukan kebenaran, sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua
kemampuan manusia dalam mempelajari alam, yakni pikiran dan indera. Oleh
sebab itu, epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan
bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. Usaha menafsirkan
adalah aplikasi berpikir rasional, sedangkan usaha untuk membuktikan adalah
aplikasi berpikir empiris. Hal ini juga bisa dikatakan, bahwa usaha menafsirkan

55
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

berkaitan dengan deduksi, sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi.


Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah.
Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi, maka menimbulkan
pemahaman, bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari
epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme
dengan empirisme, atau deduktif dengan induktif), dan di sisi lain berarti hakikat
epistemologi itu bertumpu pada landasannya, karena lebih mencerminkan esensi
dari epistemologi. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa
epistemologi itu memang rumit sekali, sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian
yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius.
7. Pengaruh Epistemologi
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu
peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi
mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu
sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi
pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itusuatu kesatuan yang merupakan hasil
pengamatan kritis dari ilmu-ilmudipandang dari keyakinan, kepercayaan dan
sistem nilai mereka. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan
teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara, karena didukung
oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang
pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa
didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat
yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi
sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian halnya
yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi
jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan
pengembangan epistemologi.
Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan
berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua bentuk teknologi
yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis, yaitu
pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan
sesuatu, perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan
sesuatu itu, dan sebagainya.

C. Aksiologi
1. Pengertian Aksiologi
Berikut beberapa pendapat tentang pengertian Aksiologi:
Menurut Kamus Filsafat, Aksiologi Berasal dari bahasa Yunani Axios (layak,
pantas) dan Logos (Ilmu). Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang
mempelajari nilai.
Jujun S.Suriasumantri (1999) mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang
berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Aksiologi berkaitan dengan kegunaan dari suatu ilmu, hakekat ilmu sebagai

56
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

suatu kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna untuk kita dalam
menjelaskan, meramalkan dan menganalisa gejala-gejala alam (Rakhmat, 2010)
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa Aksiologi merupakan ilmu yang
mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan.
2. Penilaian Aksiologi
Bramel (dalam Jalaluddin dan Abdullah,1997) membagi aksiologi dalam tiga
bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral. Bidang ini melahirkan
disiplin khusus yakni etika. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat
istiadat manusia. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu
mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Didalam etika, nilai kebaikan dari
tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku
yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri,
masyarakat, alam maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta.
Bagian kedua dari aksiologi adalah esthetic expression, yaitu ekspresi
keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Estetika berkaitan dengan nilai
tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan
dan fenomena di sekelilingnya.
Mengutip pendapatnya Risieri Frondiz (Bakhtiar, 2006), nilai itu objektif
ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangannya yang muncul
dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam
segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya; atau eksistensinya,
maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan
penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis ataupun fisik. Dengan
demikian nilai subjekif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang
dimiliki akal budi manusia seperti perasaan, intelektualitas dan hasil nilai subjektif
akan selalu mengarah pada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Selanjutnya nilai itu akan objektif, jika tidak tergantung pada subjek atau
kesadaran yang menilai. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam
filsafat tentang objektivisme. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu
gagasan berada pada objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-
benar ada (Irmayanti Budianto, dalam Bakhtiar, 2006).
Bagian ketiga dari Aksiologi adalah , sosio-political life, yaitu kehidupan
social politik yang akan melahirkan filsafat sosiopolitik.
3. Apa Manfaat Dari Ilmu?
Bila ditanya manfaat dari ilmu, jawabannya adalah sudah tidak terhitung
banyaknya manfaat dari ilmu bagi manusia dan makhluk hidup secara keseluruhan.
Mulai dari zamannya Copernicus sampai Mark Elliot Zuckerberg, ilmu terus
berkembang dan memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan ilmu manusia
bisa sampai ke bulan, dengan ilmu manusia dapat mengetahui bagian-bagian
tersembunyi dan terkecil dari sel tubuh manusia. Ilmu telah memberikan kontribusi
yang sangat besar bagi peradaban manusia, tapi dengan ilmu juga manusia dapat
menghancurkan peradaban manusia yang lain.
Mengutip pendapatnya Francis Bacon (Suriasumantri, 1999) yang

57
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

mengatakan bahwa pengetahuan adalah kekuasaan. Apakah kekuasaan itu akan


merupakan berkat atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada
system nilai dari orang yang menggunakan kekuasaan tersebut. Ilmu itu bersifat
netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah
yang harus mempunyai sikap. Selanjutnya Suriasumantri juga mengatakan bahwa
kekuasaan ilmu yang besar ini mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai
landasan moral yang kuat.
Untuk merumuskan aksiologi dari ilmu, Jujun S Sumantri merumuskan
kedalam empat tahapan yaitu:
a. Untuk apa ilmu tersebut digunakan?
b. Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral?
c. Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
d. Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi
metode ilmiah dengan norma-norma moral dan profesional?
Dari apa yang dirumuskan di atas dapat dikatakan bahwa apapun jenis ilmu
yang ada, seluruhnya harus disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang ada di
masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat
dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malah
menimbulkan bencana. Bagi seorang ilmuwan, nilai dan norma moral yang
dimilikinya akan menjadi penentu apakah ia sudah menjadi ilmuwan yang baik atau
belum.
Setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai
apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan
tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan
epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya.
Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikatikan
dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara detail, tidak mungkin bahasan
epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi bahasan
yang didasarkan model berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa
dikaitkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologiseperti juga
lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem membuktikan
betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-
tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme
pemikiran.
Demikian juga, setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri spesifik
mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi)
pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu
terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu
dan seterusnya. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini
harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara detail, tidak mungkin
bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi
bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa
dikaitkan.

58
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

59
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

BAB V
PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN TEORI

A. Ilmplementasi Filsafat Ilmu dalam Pelaksanaan Penelitian


Pelaksanaan penelitian, baik kuantitatif maupun kualitatif, sebenarnya
merupakan langkah-langkah sistematis yang menjamin diperoleh pengetahuan
yang mempunyai karakteristik rasional dan empiris. Secara filosofis kedua
pendekatan tersebut mempunyai landasan yang berbeda. Penelitian kuantitatif
merupakan penelitian yang didasarkan pada filsafat positivistik. Filsafat positivistik
berpandangan bahwa gejala alam dapat diklasifikasikan, relatif tetap, konkrit,
teramati, terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat. Proses penelitian
dimulai dari proses yang bersifat deduktif, artinya ketika menghadapi masalah
langkah pertama yang dilakukan adalah mencari jawaban secara rasional teoretis
melalui kajian pustaka untuk penyusunan kerangka berpikir. Bagi penelitian yang
memerlukan hipotesis, kerangka berpikir digunakan sebagai dasar untuk menyusun
hipotesis. Langkah berikutnya adalah mengumpulkan dan menganalisis data.
Tujuan utama langkah ini adalah untuk menguji secara empiris hipotesis yang
disusun atau mencari jawaban empiris sebagai jawaban final dari masalah
penelitian. Secara operasional langkah-langkah penelitian kuantitatif sebagai
berikut:
- Rumusan masalah
- Landasan teori, kajian teori, landasan pustaka, atau kajian pustaka.
- Perumusan hipotesis
- Pengumpulan data
- Analisis data
- Simpulan
Rumusan masalah dalam suatu penelitian diangkat dari hasil pengamatan atau
dengan kata lain rumusan masalah penelitian berasal dari masalah yang dihadapi
manusia dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ketika masalah ini dapat teratasi
melalui penelitian maka secara langsung hasil penelitian ini bermanfaat dalam
kehidupan sehari-hari. Jadi cara pemilihan masalah yang diangkat dari hasil
pengamatan ini sebenarnya merupakan pelaksanaan dari teori kebenaran
pragmatisme. (teori kebenaran pragmatisme telah dibahas sebelumnya pada bab iii).
Langkah pertama yang ditempuh dalam rangka mencari jawaban terhadap
masalah penelitian adalah mengkaji teori-teori dan hasil penelitian yang telah
relevan. Secara fungsional kajian teori bertujuan memperjelas masalah penelitian,
sebagai dasar menyusun kerangka berpikir dan hipotesis, serta sebagai rujukan
dalam menyusun instrumen. Bagi penelitian yang menggunakan hipotesis, biasanya
kajian teori terdiri atas 4 sub bab, yaitu: deskripsi teori, hasil penelitian yang
relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis. Deskripsi teori mengkaji teori-teori yang
terkait dengan masing-masing variabel penelitian. Pada bagian ini peneliti belum

60
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

menghubungkan variabel satu dengan variabel yang lain, tetapi dalam mengkaji
teori harus sudah diarahkan agar nanti dapat digunakan sebagai dasar untuk
menyusun kerangka berpikir. Pada penelitian kuantitatif, mengkaji hasil penelitian
yang relevan merupakan suatu anjuran, artinya bukan merupakan keharusan. Di
samping untuk memperjelas masalah penelitian, kajian terhadap hasil penelitian
yang relevan juga bertujuan agar tidak terjadi penelitian replikatif. Memang
penelitian replikatif tidak dilarang dengan syarat mempunyai dasar dan tujuan yang
jelas.
Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang hubungan beberapa
variabel yang ada dalam suatu penelitian. Kerangka berpikir yang baik dapat
menjelaskan secara rasional hubungan antara variabel bebas dengan variabel
terikat. Kalau dalam penelitian tersebut ada variabel moderator atau variabel
intervening maka juga harus dijelaskan keterlibatan variabel tersebut dalam
penelitian. Berdasarkan uraian rasional pada kerangka berpikir ini kemudian
disimpulkan dalam bentuk kalimat pernyataan yang menghubungkan antar variabel
dalam penelitian. Simpulan dari kajian teori ini disebut dengan hipotesis. Kalau
dikaitkan dengan filsafat ilmu, kajian teori merupakan implementasi dari
penggunaan teori kebenaran koherensi dalam penelitian.
Langkah selanjutnya adalah menguji hipotesis berdasarkan data empiris.
Syarat untuk dapat menguji hipotesis dengan benar ada 2, yaitu: memperoleh data
yang valid dan menggunakan teknik analisis yang tepat. Untuk memperoleh data
yang valid perlu desain penelitian yang tepat dan instrumen yang valid dan reliabel.
Simpulan penelitian didasarkan pada hasil uji empiris. Apabila hasil uji empiris
tidak sesuai dengan hipotesis bukan berarti penelitian tersebut gagal. Kalau hal ini
terjadi, tugas peneliti adalah mengkaji secara teoretis tentang berbagai
kemungkinan yang menyebabkan ketidaksesuaian antara teori dengan bukti
empiris. Secara filosofis semua langkah yang ditempuh dalam rangka
mengumpulkan, menganalisis data, dan menarik simpulan berdasarkan data empiris
merupakan implementasi teori kebenaran korespondensi dalam penelitian.
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang didasarkan pada filsafat
postpositivisme. Filsafat postpositivisme atau yang sering disebut dengan
paradigma interpretif dan konstruktif berpendapat bahwa realitas sosial bersifat
holistik, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan antar gejala bersifat
reciprocal. Penelitian kualitatif dilakukan pada objek yang alami, tidak
dimanipulasi oleh peneliti, dan kehadiran peneliti diupayakan tidak mempengaruhi
dinamika objek yang diteliti.
Prosedur penelitian kualitatif juga diawali dari masalah, namun ada
perbedaan sifat masalah pada penelitian kuantitatif dan kualitatif. Masalah pada
penelitian kuantitatif bersifat pasti, jelas, dan spesifik. Sedang masalah pada
penelitian kualitatif bersifat global, sementara, dan tentatif. Karena itu, masalah
pada penelitian kualitatif dapat berkembang atau bahkan berubah setelah peneliti
berada di lapangan. Di sini menunjukkan bahwa masalah penelitian kualitatif harus
berdasarkan fakta atau pengamatan.
Langkah pertama setelah peneliti berada di lapangan dalam rangka
pengumpulan data adalah menentukan fokus penelitian. Karena masalah penelitian

61
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

masih bersifat global maka perlu adanya pembatasan masalah yang dalam
penenlitian kualitatif disebut dengan fokus penelitian. Penentuan fokus penelitian
ini dilakukan dengan menganalisis masalah dan medan ketika peneliti sudah berada
di lapangan. Pertimbangan yang digunakan dalam menentukan fokus penelitian ada
3 hal, yaitu: tingkat kepentingan, urgensi, dan kelayakan suatu masalah (Sugiyono,
2010: 286). Suatu masalah dikatakan penting apabila masalah tersebut tidak
dipecahkan atau dikaji secara ilmiah akan semakin besar dampaknya dalam
kehidupan sosial dan/atau menimbulkan masalah baru. Masalah dikategorikan
urgen (penting) apabila masalah tersebut tidak segera dikaji atau dipecahkan secara
ilmiah masyarakat akan kehilangan kesempatan untuk mengatasi masalah tersebut.
Suatu masalah dikatakan layak untuk dikaji (feasible) apabila tersedia sumber daya
dan dana untuk mengatasi masalah tersebut. Karena belum ke lapangan, maka
dalam menilai proposal penelitian kualitatif, penentuan fokus lebih didasarkan pada
tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari hasil penelitian tersebut.
Sesuai dengan sifat masalah penelitian yang masih tentatif maka teori yang
digunakan sebagai acuan dalam menyusun proposal penelitian kualitatif juga
bersifat sementara. Teori yang sifatnya sementara ini akan berkembang setelah
peneliti berada di lapangan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti selalu bergerak dari
teori ke gejala, dari gejala ke teori. Proses reciprocalitas teori fakta ini terus
berlangsung sampai masalah dapat dipecahkan secara rasional dan tidak ditemukan
lagi informasi yang sifatnya baru.
Dalam kaitannya dengan teori, penelitian kuantitatif dan kualitatif
mempunyai perbedaan. Penelitian kuantitatif bersifat menguji teori atau hipotesis
(confirmatory), sedang penelitian kualitatif berupaya menemukan teori
(eksploratory). Tujuan akhir proses reciprocal antara teori fakta adalah
ditemukannya teori yang dapat menjelaskan fakta. Karena itu, peneliti kualitatif
disyaratkan mempunyai banyak teori yang dapat menjelaskan gejala yang dihadapi
di lapangan. Namun dalam memahami fakta di lapangan, penelitian kualitatif
menggunakan perspektif emic, menangkap fakta berdasarkan pemahaman
partisipan dan informan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa implementasi teori koherensi dan
korespondensi pada penelitian kualitatif bersifat reciprocal. Prespektif emic yang
digunakan peneliti kualitatif jelas menunjukkan bahwa teori kebenaran yang
digunakan adalah korespondensi. Kebenaran sesungguhnya adalah apa yang ada
pada fakta, bahkan pada penelitian kualitatif fakta yang dimaksud bukan fakta
berdasarkan pemahaman peneliti tetapi fakta berdasarkan pemahaman partisipan
atau informan. Ketika peneliti mengkaji fakta berdasarkan teori yang telah ada
maka proses ini merupakan implementasi teori koherensi dalam penelitian
kualitatif.

B. Etika dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi


Ilmu pengetahuan merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayan universal
yang dihasilkan manusia yakni sistem mata pencaharian, sistem kepercayaan,
bahasa, sistem kemasyarakatan, kesenian, sistem ilmu pengetahuan, dan sistem

62
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

peralatan hidup. Dalam penerapannya, ilmu pengetahuan secara otomatis


menghasilkan apa yang disebut teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah
dua hal yang tidak dapat dipisahkan, maka kita pun mengenal istilah IPTEK (Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi). Ilmu pengetahuan bersifat teoretis dan tidak
berbentuk sedangkan teknologi bersifat praktis dan berbentuk. Pada
hakikatnya,ilmu pengetahuan dipelajari untuk mengembangkan dan memperkokoh
eksistensi manusia di bumi. Teknologi diciptakan untuk meringankan dan
membebaskan manusia dari kesulitan-kesulitan hidupnya yang sarat dengan
keterbatasan. Apa yang tadinya dikerjakan oleh tangan manusia telah digantikan
oleh mesin sehingga lebih efektif dan efisien.
Sebagai sebuah entitas pada dasarnya ilmu pengetahuan bersifat independen
(bebas dari nilai), tetapi di sisi lain sebagai instrumen (alat dan proses)
keberadaannya koheren, tergantung, dan diarahkan. Siapa yang mengarahkan?
jawabannya tidak lain adalah manusia sendiri sebagai subyek ilmu pengetahuan itu
sendiri. Etika memang bukan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan dan
teknologi, tetapi penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat memerlukan adanya dimensi etis sebagai alat kontrol bagi
pengembangan iptek agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma
yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan
kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung
jawan kepada kepentingan umum, kepentingan generasi mendatang, dan bersifat
universal.Adanya tanggung jawab etis tidak dimksudkan untuk menghambat
kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi dengan adanya tanggung jawab etis diharapkan
mampu menjadi inspirasi dan motivasi bagi manusia untuk mengembangkan
teknologi yang nantinya akan mengangkat kodrat dan martabat manusia .
Pada hakikatnya ilmu itu mempunyai nilai netral (nol), dengan memahami
bahwa ilmu itu netral maka ilmu pengetahuan bisa berkembang. Sehingga tidak
tercampuri dengan suatu hal yang dapat menjadikan ilmu atau itu sendiri menjadi
terhambat dalam perkembangannya.
Sedangkan netral itu sendiri ada berbagai pandangan yang pertama dalam
pandangan Ontologi, yakni masalah atau hakikat netral itu sendiri. Yang
mempunyai ruang lingkup tentang baik buruknya ilmu yang telah ada.
Kemudian dalam pandangan secara Epistimologi yaitu masalah bagaimana
mendapatkan ilmu itu. Dan untuk mendapatkannya apakah sesuai atau malah
menyimpang dari metode ilmiah. Ketika seorang ahli jantung ingin meneliti tentang
jantung manusia. Ada suatu kendala apabila Dokter ini meneliti jantung selain
jantung manusia seperti jantung simpanse misalnya, tentu hasilnya berbeda apabila
dokter itu menggunakan jantung manusia itu. Tetapi masalahnya ada beberapa yang
tidak menyetujui hal ini, dikarenakan telah keluar dari rasa kemanusiaan. Padahal
tujuan awal agar data yang diperoleh valid dan lengkap, tetapi mereka salah
memandang hal tersebut.
Sedangkan yang terakhir adalah netralisasi dalam pandangan Aksiologi. ini
menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu itu sendiri. Seperti suatu hal yang sangat
disesalkan oleh Albert Einsten, karena penemuannya tentang nuklir. Ternyata

63
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

manusia sebagai pengkonsumsi dari hasil temuan ilmu itu telah menyimpang atau
menyalahi aturan yang ada. Padahal Einsten meneliti nuklir bukan karena dia ingin
menggunakannya sebagai bom dan membunuh jutaan manusia, tetapi sebaliknya
yaitu untuk kemaslahatan manusia sendiri. Tetapi manusia sendirilah sebagai
pengguna yang telah salah menggunakan hasil pikiran Einstein itu.
Dampak buruk perkembangan sains dan teknologi sering dijadikan legitimasi
bahwa ilmu pengetahuan atau sains tidak netral. Ada yang rancu di sini. Antara sains
dan dampak dari sains. Dampak dari sains (dan teknologi) sudah melibatkan
penggunanya (manusia) yang di luar lingkup kajian sains alami. Dalam hal ini, sistem
nilai bukan berpengaruh pada sains, tetapi pada perilaku manusia penggunanya. Ilmu
itu ibarat pisau. Netral. Tidak ada spesifikasi pisau Islam, pisau Kristen, pisau
kapitalis, pisau komunis, pisau tukang sayur atau pisau tukang daging. Dampak pisau
bisa negatif bila digunakan untuk merusak atau membunuh. Tetapi bisa juga positif.
Misalnya contoh lain, dewasa ini, ilmu pengetahuan dihadapkan pada masalah
kerusakan lapisan ozon. Satelit mendeteksi lapisan ozon di atas antartika yang
menipis yang dikenal sebagai lubang ozon. Sains mengkaji sebab-sebabnya. Ada
sebab kosmogenik (bersumber dari alam), antara lain variasi akibat aktivitas
matahari. Ada sebab antropogenik (bersumber dari aktivitas manusia). Sains juga
akhirnya menemukan sumber antropogenik itu salah satunya CFC (Chlor Fluoro
Carbon) atau freon yang banyak digunakan sebagai media pendingin kulkas dan AC
(air conditioner). Kini sains menemukan bahan alternatif yang tidak merusak ozon.
Dapatkah ilmu pengetahuan dipersalahkan dan dijuluki sains yang perusak?
Karena keterbatasan ilmu manusia, tidak semua dampak dapat diperkirakan. Ketika
kini diketahui dampak buruknya, tidaklah adil untuk melemparkan tuduhan bahwa
ilmu pengetahuan bersifat merusak.
Menjadi jelas bahwa pada dasarnya nilai sains atau ilmu itu netral. Maksud
dari netral itu adalah ilmu tidak bernilai baik atau buruk tetapi ilmu itu di antara
keduanya. Sesuai manusia yang membawa ilmu itu. Bagaimanakah
menggunakannya? Untuk apa ilmu itu? Siapa yang memakai ilmu itu? Semua
pertanyaan itu salah satu bukti kenetralan ilmu. Karena terserah manusia itu
membawa ilmu itu sendiri, terserah manusia itu bagaimana menggunakannya, dan
untuk apa ilmu yang dia dapat, dan siapapun orangnya ilmu tidak terpengaruh
nilainya tetap netral (nol).
Karena posisi ilmu pengetahuan yang netral, maka tugas para ilmuwan adalah
membangun sikap ilmiah yang berwawasan mengembangkan ilmu pengetahuan,
teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai-nilai etis, serta mendorong perilaku
adil dan membentuk moral tanggung jawab. Ilmu pengetahuan dan teknologi
dipertanggung jawabkan bukan untuk kepentingan manusia, namun juga untuk
kepentingan obyek alam sebagai sumber kehidupan.
Ilmuwan harus sadar dan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir menara
gading, yakni hanya berpikir murni dalam bidangnya tanpa mengkaitkan dengan
kenyataan yang ada di luar dirinya. Kenyataan sesungguhnya bahwa setiap aktivitas
keilmuan nyaris tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan sosial
kemasyarakatan. Sehingga ilmu yang dihasilkan berdaya guna maksimal tanpa

64
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

disertai sifat merusak demi kepentingan sesaat.


Akhirnya pemahaman terhadap netralitas ilmu harus sampai pada titik simpul
bahwa dalam proses mengetahui, ilmu berkembang tidak dari ruang kosong. Dalam
istilah Herman Soewardi (1999) disebut teori Adab-Karsa. Yaitu ilmuwan harus
memihak. Memihak pada nilai kebenaran dan keadilan, menjunjung tinggi harkat
dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan yang beradab, yang tidak merusak
apa yang diciptakan Tuhan untuk dirinya dan manusia pada umumnya (sejalan
dengan Persaudaraan). Jangan sampai ilmu pengetahuan dilandasi jiwa ammarah,
hanya sebagai alat pelampiasan nafsu, mengeruk keuntungan sebanyak mungkin,
yang akhirnya mencelakakan dirinya, manusia lain dan lingkungan.

65
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

DAFTAR PUSTAKA

Adib, Mohammad. (2010). Filsafat Ilmu: ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan


logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azim, Ali Abdul. (1989). Falsafah al-Marifah fi al-Quran al-Karim
diterjemahkan oleh Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim dengan judul:
Epistimologi dan Aksiologi Ilmu Persfektif al-Quran. Jakarta: Rosda Bandung.
Bagus, Lorens, (2005) Kamus Filsafat, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Agama 1, Jilid I. Cet. I; Pamulung Timur, Ciputat: Lolos
Wacana Ilmu, 1997.
Bakhtiar, Amsal (2006) Filsafat Ilmu, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Bakker, Anton. (1986). Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Bertens, K. (1990). Filsafat Barat Abad XX. Jakarta: Gramedia.
Bertens, K. (1988). Panorama Filsafat Barat. Jakarta: Gramedia.
Bertens, K. (1995). Ringkasan Sejarah Filsafat. (Edisi Revisi. Cet. XIII;
Yogyakarta: Kanisius.
Capra, Fritjop, (1998), Titik Balik Peradaban: Sains Masyarakat dan
Kebangkitan .Kebudayaan, Terjemahan M. Thoyibi, Yogyakarta: Yayasan
Bentang Budaya.
Chalmers. A.F. (1983). What is this Thing Called. Diterjemahkan oleh Tim Hasta
Mitra dengan judul: Apa Itu Ilmu, Jakarta: Hasta Mitra.
Drajat, Amroeni. (2006). Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, Jakarta: Erlangga.
Fakhri, Majid. (2006). A History of Islamic Philosophy diterjemahkan oleh R. Mulyadi
Kertanegara dengan judul: Sejarah Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Jaya.
Gazalba, Sidi. (1973). Sistematika Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang.
Gemon, Howard A. & Craver, Samuel M. (1995). Philosophical Foundations of
Education, ed 5. New Jersey: Merill Publishing Company.
Gie, The Liang. (1997), Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.
Hadi, Hardono., Jatidiri Manusia; Berdasar Filsafat Empirisme Whitehead,
Yogyakarta: Kanisius, 1996.
Hadiwijono, Harun. (1992). Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.
Hamersma, Harry. (1990). Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Hanafi, Ahmad. (1991). Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Hart, Michael H. (1993). The 100 A Rangking of the Most Influential Persons in
History. Diterjemahkan oleh Mahbub Junaidi dengan judul: Seratus Tokoh
yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya.
Hoodboy, Pervez. (1996). Islam and Sceinces, Religious Orthodoxy and the Battle

66
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

for Rationality diterjemahkan oleh Sari Meutia dengan judul: Ikhtiar


Menegakkan Rasionalitas: Antara Sains dan Ortodok Islam. Bandung: Mizan.
Ismaun, (2001), Filsafat Ilmu, Materi Kuliah, Bandung (Terbitan Khusus).
Jalaluddin dan Abdullah Idi, (1997) Filsafat Pendidikan, Jakarta: Gaya Media
Pratama.
Janik, Allan & Toulmin, Stephen. (1973). Wettegnsteins Winna. New York: Simon
& Schuster.
Kattsof, Louis O. (1989). Elements of Philosophy. Diterjemahkan oleh Soejono
Soemargono dengan judul: Pengantar Filsafat, Cet. IV; Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Kuhn, Thomas S, (2000), The Structure of Scientific Revolution: Peran Paradigma
dalam Revolusi Sains, Terjemahan Tjun Surjaman, Bandung: Rosda).
Little, John. (1996). Theories of Human Communication. Ohio: Charles E. Merril
Company.
Losee, John. (2001). A Historical Introduction to the Philosophy of Science, New
York: Oxford University.
Melsen, A.G.M. Van. (1992). Wetenschap en Verantwoordelijkheid, diterjemahkan
oleh K. Bertens dengan judul: Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Muhadjir, Noeng. (2001). Filsafat Ilmu: Positivisme, Post Positivisme, dan Post
Modernisme. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Nasr, Sayyed Hossen. (1985). Why Was al-Farabi Called the Second Teacher dalam
Islamic Culture, 59/4. Tt: Tp.
Nasution, Harun. (1992). Falsafat dan Misticisme dalam Islam. Jakarta: Bulan
Bintang.
Preus, Anthony. (2007). Historical Dictionary of Ancient Greek Philosophy.
Lanham, Maryland, Toronto, Plymouth: The Scarecrow Press, Inc.
Popper, Karl. (2000). Realism and The Aim of Science. London: Routledge.
Rakhmat, Cece. (2010). Membidik Filsafat Ilmu. Modul Kuliah Filsafat Ilmu SPS
UPI Bandung.
Rosenberg, Alex. (2010). Philosophy of Science A contemporary Iintroduction.
New york: Routledge.
Russel, Bertrand. (1961). History of Western Philosophy and Its Connection with
Political and Social Circumstances from the Earliest Times ti the Present Days.
London: George Allen & Unwin Ltd.
Salam, Burhanuddin. (2000). Sejarah filsafat ilmu dan teknologi. Bandung: Rineka
Cipta.
Salam, Burhanuddin. (1988). Pengantar Filsafat. Jakarta: Bina Aksara.
Shah, A.B. (1986). Scientific Method diterjemahkan oleh Hasan Basari dengan
judul: Metodologi Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Yayasan Obor.

67
______________ Modul Filsafat Ilmu ______________

Sharif. M.M. (1962). History of Muslim Philossophy. Weisbaden: Tp.


Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dn R&D, Cet. III;
Bandung: Alfabeta.
Suriasumantri, Jujun, S. (1999). Ilmu Dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Supple, Frederick. (1974). The Sturucture of Scientific Teories, Urbana: University
of Illionis Press.
Susanto. (2011). Filsafat Ilmu (Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis,
Epistemologis dan Aksiologis ). Jakarta: Bumi Aksara.
Syadali, Ahmad & Mudzakir. (1997). Filsafat Umum, Bandung; Pustaka Setia.
Tafsir, Ahmad. (1990). Filsafat Umum, pengantar Filsafat, akal dan hati sejak
Thales sampai Capra. Bandung: Rosdakarya.
Tim Redaksi Driya karya (1993). Hakikat Ilmu Pengetahuan dan Cara Kerja
Ilmu-Ilmu, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Titus, Harold H. et al. (1984). The Living Issues of Philosophy, diterjemahkan
oleh H.M.Rasyidi dengan judul: Persoalan-Persoalan Filsafat. Jakarta: Bulan
Bintang.
Velasquez, Manuel. (1996). Philosophy; A Text With Reading. Yogyakarta:
Kanisius.
Verhaak, C., dkk. (1995). FIlsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia.
Verhaak C. & Imam, R. Haryono. (1991). Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas
Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Cet. II. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Veursen, Van. (1985). De Ovbouw van de Wetenschap een inleiding in de
Wetenschapsleer. Diterjemahkan oleh J.Drost dengan judul: Susunan Ilmu
Pengetahuan: Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu. Jakarta: Gramedia.
Wattimena, Reza A.A. (2008). Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, Jakarta: PT
Grasindo.
Zubair, Ahmad Charis. (2002). Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan
Manusia;Kajian Filsafat Ilmu, Yogyakarta: LESFI.

68