Anda di halaman 1dari 9

Tugas Ekologi Dasar

Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Bencana Banjir dan


Penyakit yang Ditimbulkan

Oleh :
BAIQ ISTI HIJRIANI
NPM : 173112620120112

FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS NASIONAL
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi
kehidupan manusia. Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Kondisi lingkungan
mengalami perubahan baik secara cepat maupun perlahan-lahan oleh berbagai faktor penyebab,
dan beragam dampaknya. Kondisi lingkungan Indonesia sangat beragam dan dinamis, baik
menurut waktu maupun ruang. Lingkungan dapat memberikan manfaat bagi manusia, namun
lingkungan juga dapat menimbulkan bahaya bagi manusia salah satunya bencana. Indonesia
merupakan negara yang sering terjadi bencana. Perubahan iklim global yang terjadi berdampak
pada terjadinya akumulasi curah hujan tinggi dalam waktu yang singkat. Dengan curah hujan
tahunan yang relatif sama, namun dengan durasi yang singkat akan berdampak pada meningkatnya
intensitas banjir yang terjadi.
Di Indonesia banjir sudah lama terjadi. Secara alamiah, banjir adalah proses alam yang
biasa dan merupakan bagian penting dari mekanisme pembentukan daratan di bumi kita ini. Proses
terjadinya banjir dibagi menjadi dua, yaitu proses yang terjadi secara alamiah dan non alamiah.
Secara umum ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya banjir. Faktor-faktor
tersebut adalah kondisi alam (letak geografis wilayah, kondisi toporafi, geometri sungai dan
sedimentasi), peristiwa alam (curah hujan dan lamanya hujan, pasang dan arus balik dari sungai
utama, pembendungan aliran sungai akibat longsor, sedimentasi dan aliran lahar dingin), dan
aktifitas manusia (pembudidayaan daerah dataran banjir), peruntukan tata ruang di dataran banjir
yang tidak sesuai dengan fungsi lahan, belum adanya pola pengelolaan dan pengembangan dataran
banjir, permukiman di bantaran sungai, sistem drainase yang tidak memadai, terbatasnya tindakan
mitigasi banjir, kurangnya kesadaran masyarakat di sepanjang alur sungai, penggundulan hutan di
daerah hulu, terbatasnya upaya pemeliharaan. Apabila terjadi bencana banjir, selanjutnya timbul
terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya menimbulkan kerugian
kepada harta benda, banyak penyakit timbul akibat banjir bahkan sampai kehilangan nyawa, dan
kerusakan pembangunan.
Bencana banjir merupakan interaksi antara manusia dengan lingkungan yang dikaitkan
oleh penyesuaian manusia dalam melestarikan alam dan lingkungan. Di saat sekarang ini
masyarakat sudah tidak peduli lagi terhadap lingkungan hidup tempat mereka tinggal. Hal ini
telihat dari semakin sedikitnya masyarakat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Sehingga
banjir sering terjadi karena akibat dari ulah manusia itu sendiri dan menimbulkan berbagai macam
penyakit yang dapat menular saat terjadi banjir.

B. Rumusan Masalah
Apa sajakah faktor penyebab banjir dilihat dari sudut pandang lingkungan dan bagaimanakah
dampaknya terhadap manusia ?

C. Tujuan
Mengetahui faktor penyebab banjir dan mengetahui penyakit yang ditimbulkan oleh banjir
tersebut terhadap manusia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Banjir
Banjir dapat didefinisikan sebagai meluapnya air dari tempat penampungan atau
saluran air, menggenangi kawasan tertentu yang diharapkan tidak tergenangi air. Pada
keadaan alamiah banjir secara musiman terjadi pada daerah genangan. Banjir secara
alamiah tergantung pada curah hujan, yang digambarkan dalam curah hujan dengan
periode ulang tahunan tertentu. Banjir di bagian hulu biasanya arus banjirnya deras, daya
gerusnya besar, tetapi durasinya pendek. Sedangkan di bagian hilir arusnya tidak deras
(karena landai), tetapi durasi banjirnya panjang.

B. Faktor Penyebab Banjir


Penyebab banjir terutama karena meluapnya sungai akibat curah hujan yang tinggi.
Selain itu, genangan air yang menumpuk dan sulit meresap ke tanah juga menjadi penyebab
terjadinya banjir. Terdapat banyak faktor penyebab banjir akibat perilaku manusia. Jadi
ada dua faktor yaitu faktor alam dan faktor perilaku manusia, antara lain berikut ini:
1. Curah hujan
Curah hujan dapat mengakibatkan banjir apabila turun dengan intensitas tinggi,
durasi lama, dan terjadi pada daerah yang luas.
2. Pengaruh Fisiografi
Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan kemiringan daerah
pengaliran sungai (DPS), kemiringan sungai, geometrik hidrolik (bentuk penampang
seperti lebar, kedalaman, potongan memanjang, material dasar sungai), lokasi sungai dll,
merupakan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya banjir.
3. Erosi dan Sedimentasi
Erosi dan sedimentasi di DPS berpengaruh terhadap pengurangan kapasitas
penampang sungai. Erosi dan sedimentasi menjadi problem klasik sungai-sungai di
Indonesia. Besarnya sedimentasi akan mengurangi kapasitas saluran, sehingga timbul
genangan dan banjir di sungai.
4. Kapasitas Drainase Yang Tidak Memadai
Hampir semua kota-kota di Indonesia mempunyai drainase daerah genangan yang
tidak memadai, sehingga kota-kota tersebut sering menjadi langganan banjir di musim
hujan.
5. Menurunnya fungsi DAS di bagian hulu sebagai daerah resapan
Kemampuan DAS, khususnya di bagian hulu untuk meresapkan air / menahan air
hujan semakin berkurang oleh berbagai sebab, seperti penggundulan hutan, usaha pertanian
yang kurang tepat, perluasan kota, dan perubahan tata guna lahan lainnya. Hal tersebut
dapat memperburuk masalah banjir karena dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas
banjir.
6. Perumahan kumuh
Perumahan kumuh yang terdapat di sepanjang tepian sungai merupakan
penghambat aliran. Luas penampang aliran sungai akan berkurang akibat pemanfaatan
bantaran untuk pemukiman kumuh warga. Masalah kawasan kumuh dikenal sebagai faktor
penting terhadap masalah banjir daerah perkotaan.
7. Pendangkalan sungai akibat sampah
Sungai-sungai yang dulunya dalam lama-lama menjadi dangkal akibat pembuangan
sampah yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Sungai yang dangkal menyebabkan
meluap ke pemukiman pada saat hujan deras.
8. Penebangan hutan
Hutan berfungsi sangat penting sebagai daerah resapan air, menyimpan air hujan
kemudian mengalirkan kepada manusia melalui bentuk air tanah. Bila hutan terus ditebangi
secara liar akan menimbulkan banjir bagi kawasan daerah tersebut, dengan banjir yang
terus terjadi dengan skala besar maka ada kemungkinan menyebabkan tanah longsor.

C. Daur Biogeokimia
Dalam ilmu ekologi, ada yang dinamakan daur biogeokimia. Daur biogeokimia
atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari
komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur
tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi reaksi kimia dalam
lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia.
Macam-macam daur biogeokimia, daur nitrogen, daur karbon, daur belerang, daur
fosfor dan daur air. Proses terbentuknya hujan sendiri ada bermacam-macam, salah satunya
melalui daur air.
Air laut, danau, dan sungai yang terkena cahaya matahari akan mengalami
evaporasi (penguapan). Tumbuhan dan hewan juga mengeluarkan uap air. Uap air akan
membubung ke atmosfer dan berkumpul membentuk awan. Akibat tiupan angin, awan
bergerak menuju ke permukaan daratan. Pengaruh suhu yang rendah mengakibatkan
terjadinya kondensasi uap air menjadi titik-titik air hujan (presipitasi). Air hujan yang turun
di permukaan bumi sebagian meresap ke dalam tanah, sebagian dimanfaatkan tumbuhan
dan hewan, sebagian yang lain mengalir di permukaan tanah menjadi sungai-sungai, dan
sebagian lagi menguap menjadi uap air yang turun kembali bersama air hujan.

D. Penyakit Yang Ditimbulkan


Selain menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan, banjir juga seringkali
memberikan dampak bagi kesehatan. Ketika banjir datang, bahkan setelahnya, berbagai
jenis acaman penyakit menular pun perlu diwaspadai.
Penyakit yang sering muncul pada saat terjadinya banjir antara lain :
1. Penyakit kulit
Penyakit kulit, dapat berupa infeksi, alergi atau bentuk lain pada musim banjir .
Penyebab utamanya adalah kebersihan yang tidak terjaga baik. Menjaga kebersihan
lingkungan dan tubuh dengan mandi menggunakan sabun dan air yang bersih bisa
menjadi salah satu cara untuk mengatasi berbagai ancaman penyakit kulit.
2. Demam berdarah
Saat musim hujan, biasanya akan terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk
aedes aegypti yaitu nyamuk penular penyakit demam berdarah. Hal ini dikarenakan
banyak sampah seperti kaleng bekas, ban bekas serta tempat-tempat tertentu yang terisi
air dan membentuka genangan air. Genangan air itulah yang akhirnya menjadi tempat
berkembang biaknya nyamuk tersebut. Dengan meningkatnya populasi nyamuk
sebagai penular penyakit, maka risiko terjadinya penularan penyakit juga semakin
meningkat. Karena itu, untuk mencegah serangan penyakit demam berdarah, menjaga
kebersihan lingkungan bisa menjadi solusinya. Salah satunya adalah dengan
menerapkan 3M, yaitu mengubur, menguras, dan menutup tempat penyimpanan air
dengan rapat.
3. Diare
Saat banjir, sumber air minum masyarakat, seperti sumur dangkal akan banyak ikut
tercemar. Di samping itu pada saat banjir biasanya akan terjadi pengungsian di mana
fasilitas dan sarana serba terbatas termasuk ketersediaan air bersih. Itu semua
menimbulkan penyakit diare disertai penularan yang cepat.
4. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dapat berupa bakteri, virus dan berbagai
mikroba lainnya. Gejala utama dapat berupa batuk dan demam, kalau berat dapat
disertai sesak napas, nyeri dada dll. Untuk penanganan terhadap penyakit ISPA, bisa
dengan cara mengistirahatkan tubuh serta melakukan pengobatan sesuai dengan gejala
yang timbul, melakukan pengobatan untuk mengatasi penyebab, meningkatkan daya
imunitas tubuh dan melakukan pencegahan penularan penyakit.
5. Penyakit leptospirosis
Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri yang disebut leptospira. Penyakit ini
termasuk salah satu penyakit zoonosis, karena ditularkan melalui hewan/binatang. Di
Indonesia hewan penular utama adalah tikus melalui kotoran dan air kencingnya. Pada
saat musim hujan terutama saat terjadi banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang-liang
tanah akan ikut keluar menyelamatkan diri. Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar
manusia di mana kotoran dan air kencingnya akan bercampur dengan air banjir
tersebut. Seseorang yang ada luka, kemudian terkena air banjir yang sudah tercampur
dengan kotoran/kencing tikus yang mengandung bakteri lepstopira, maka orang
tersebut potensi dapat terinfeksi. Gejala penyakit leptospirosis biasanya dimulai dengan
panas tiba-tiba, sakit kepala, dan tubuh menggigil.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Banjir adalah meluapnya air dari tempat penampungan atau saluran air yang
menggenangi kawasan tertentu. Penyebab terjadinya banjir yaitu karena faktor alam dan
faktor manusia, seperti curah hujan, pengaruh fisiografi, erosi dan sedimentasi, kapasitas
drainase yang tidak memadai , menurunnya fungsi DAS di bagian hulu sebagai daerah
resapan, perumahan kumuh , pendangkalan sungai akibat sampah, penebangan hutan.
Banjir ini juga dapat menyebabkan berbagai macam penyakit seperti penyakit kulit, demam
berdarah, diare, ISPA, leptospirosis dan penyakit lainnya yang dapat menular saat terjadi
banjir.

B. Saran
Menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, istirahat yang cukup, makan makanan
yang bersih dan selalu menerapkan kebersihan dengan mencuci tangan menggunakan
sabun sebelum dan makan, sebelum mengolah makanan, setelah menceboki anak, setelah
buang air besar, juga setelah berada di lingkungan yang kotor dan lingkungan hewan bisa
menjadi cara terbaik untuk mencegah penyakit saat musim penghujan dan banjir.
DAFTAR PUSTAKA

Adhe Reza dan Adjie Pamungkas. 2014. Faktor-Faktor Kerentanan Yang Berpengaruh
Terhadap Bencana Banjir Di Kecamatan Manggala Kota Makassar. Jurnal Teknik
Pomits. Vol.3, No.2
Sri Firdayanti. 2014. Studi Penyebab Terjadinya Banjir Di Kawasan Pemukiman
Kelurahan Sungai Sapih Kecamatan Kuranji Kota Padang. Jurnal. Sekolah Tinggi
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Padang
Anonim. 2015. Siklus Biogeokimia Dan Hidrologi. Dapat dilihat pada: http://sribd.com/
AGROEKOLOGI-siklus-biogeokimia-dan-hidrologi.pdf. Diakses pada: Sabtu 7
Oktober 2017
Anonim. Siklus Biogeokimia. Dapat dilihat pada: http://docudesk.com/siklus-biogeokimia.
pdf. Diakses pada: Sabtu 7 Oktober 2017
Arief Rosyidie. 2013. Banjir: Fakta Dan Dampaknya, Serta Pengaruh Dari Perubahan
Guna Lahan. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. Vol.24, No.3
Timbuktu Harthana dan Oedojo Soedirman. Faktor Determinan Perilaku Cuci Tangan
Pakai Sabun Saat Banjir Bengawan Solo Di Bojonegoro. Fakultas Kesehatan
Masyarakat. Universitas Airlangga
Anonim. Penyakit Yang Sering Muncul Saat Banjir. Dapat dilihat pada: http://health.
liputan6.com/read/799229/7-penyakit-yang-sering-muncul-saat-banjir. Diakses
pada Senin 9 Oktober 2017