Anda di halaman 1dari 11

A.

Pengantar

Metode pembebanan biaya overhead pabrik (BOP) yang selama ini


digunakan dengan menggunakan metode tradisional dianggap tidak tepat dalam
mengalokasikan biaya overhead ke produksi yang hanya mengandalkan dasar
bahan langsung, upah langsung ataupun unit produksi saja. Pembebanan
dengan metode tersebut dinilai tidak adil dan akan dapat memberikan informasi
keliru dalam pemberian informasi mengenai biaya produksi.

Sistem biaya tradisional mengutamakan satu atau dua pemacu biaya


yang berbasis unit sebagai pembeban biaya sehingga menciptakan biaya
produk yang terdistorsi. Distorsi yang terjadi berupa subsidi silang (cross
subsidy) antar produk, satu produk mengalami kelebihan biaya (overcosting)
dan produk lainnya mengalami kekurangan biaya (undercosting). Tingkat
distorsi yang terjadi tergantung pada proporsi biaya overhead terhadap biaya
produksi total. Semakin besar proporsinya, semakin besar distorsi yang terjadi
demikian juga sebalikanya. Hal inilah yang melandasi dikembangkannya
sistem Activity Based Costing.

Logika sistem ABC adalah bahwa pool biaya aktivitas yang terstruktur
secara layak dengan dasar alokasi biaya aktivitas tertentu, yang merupakan
pemicu biaya untuk pool biaya tersebut, akan menghasilkan kalkulasi biaya
aktivitas yang lebih akurat. Jadi pengalokasian biaya ke produk dengan
mengukur dasar alokasi biaya dari berbagai aktivitas yang digunakan oleh
produk yang berbeda akan menghasilkan biaya produk yang lebih akurat.

B. Konsep Dasar Activity Based Costing

Activity Based Costing (Sistem Kalkulasi Biaya Berdasarkan Aktivitas)


menentukan setiap aktivitas yang berhubungan dengan menghasilkan barang
dan mengalokasikan biaya untuk aktivitas tersebut. Biaya yang dibebankan
untuk kegiatan tersebut kemudian dibebankan ke produk yang memerlukan
aktivitas produksi. Menurut Horngren dan Foster (2003:39) yang dimaksud
dengan activity based costing yaitu An approach to costing that focuses on
activities as the fundamental cost objects. It uses the costs these activities as
the basis for assigning costs to other cost objects such as products, services or
customer.
Sedangkan Mulyadi (2003:40) menyatakan bahwa Activity Based
Costing systems (ABC systems) adalah sistem informasi biaya yang
berorientasi pada penyediaan informasi lengkap tentang aktivitas untuk
memungkinkan personel perusahaan melakukan pengelolaan terhadap
aktivitas. Sistem informasi ini menggunakan aktivitas sebagai basis serta
pengurangan biaya dan penentuan secara akurat biaya produk atau jasa sebagai
tujuan. Sistem informasi ini diterapkan dalam perusahaan manufaktur, jasa, dan
dagang.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Activity based costing
(ABC) ini dapat menjadi salah satu cara terbaik untuk memperbaiki sistem
kalkulasi biaya. Sitem activity based costing (ABC) memperbaiki sistem
kalkulasi biaya dengan mengidentifikasi aktivitas individual sebagai objek
biaya pokok (fundamental). Aktivitas tersebut dapat berupa kejadian, tugas,
atau unit kerja dengan tujuan khusus. Sistem ABC menghitung biaya setiap
aktivitas dan selanjutnya membebankan biaya tersebut ke objek biaya seperti
produk dan jasa berdasarkan aktivitasa yang dibutuhkan untuk menghasilkan
tiap produk atau jasa yang bersangkutan.

Objek Biaya Pembebanan ke Objek


Fundamental Biaya Lainnya

Biaya
Aktivitas Biaya Aktivitas Produk

Jasa

Pelanggan

C. Kegiatan Dalam Activity Based Costing

Pada awal penggembangannya ABC digunakan dalam perusahaan-


perusahaan manufaktur yang memproduksi berbagai macam produk dengan
biaya overhead tinggi. Dalam merancang ABC, kegiatan untuk memproduksi
dan menjual produk dalam perusahaan yang menghasilkan berbagai macam
produk dapat digolongkan ke dalam 4 macam kelompok besar yaitu:
1. Facility Sustaining Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan
kapasitas yang dimiliki perusahaan. Biaya depresiasi dan amortisasi, biaya
asuransi, biaya gaji karyawan kunci perusahaan adalah contoh jenis biaya
yang termasuk dalam facility sustainining activity cost. Biaya dibebankan
kepada produk atas dasar taksiran unit produk yang dihasilkan kapasitas
activity cost.
2. Product Sustaining Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan penelitian dan pengembangan
produk tertentu dan biaya-biaya untuk mempertahankan produk untuk
tetap dapat dipasarkan. Biaya ini tidak terpengaruh oleh jumlah unit yang
diproduksi dan jumlah batch produksi yang dilaksanakan oleh divisi
penjual. Contoh biaya ini adalah biaya desain produk, desain proses
pengolahan produk, pengujian produk, biaya ini dibebankan kepada
produk atas dasar taksiran jumlah unit produk tertentu yang akan
dihasilkan selama umur produk tertentu (product life cycle).
3. Batch Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan jumlah batch produk yang
diproduksikan. Setiap cost yang merupakan biaya yang dikeluarkan untuk
menyiapkan mesin dan peralatan sebelum suatu order produksi diproses
adalah contoh biaya yang termasuk dalam golongan biaya ini, besar
kecilnya biaya ini tergantung dari frekuensi order produksi yang diolah
oleh fungsi produksi. Biaya ini tidak dipengaruhi oleh jumlah unit produk
yang diproduksi dalam setiap order produksi. Pembeli dibebani batch
activity cost berdasarkan jumlah batch activity cost yang dikeluarkan oleh
perusahaan dalam setiap menerima order dari pembeli.
4. Unit Level Activity Cost
Biaya ini dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah unit produk yang
dihasilkan. Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya energi, biaya
angkutan adalah contoh biaya yang termasuk dalam golongan ini, biaya ini
dibebankan kepada produk berdasarkan jumlah unit produk dikalikan
dengan jumlah produk yang sesunguhnya diperoleh.
D. Tahap-tahapan dalam Activity Based Costing

Mulyadi (2003 : 55-83) membagi dua tahap dalam pengolahan data ABC
system :

1. Activity-based process costing, yaitu pembebanan sumber daya (employee


resource dan expense resource) ke aktivitas
2. Activity-based object costing yaitu pembebanan activity cost ke cost
object.

Activity-Based Process Costing, pada tahap ini biaya digolongkan dalam dua
kelompok besar :

1. Biaya langsung produk/jasa biaya yang dapat dibebankan secara


langsung produk/jasa. Biaya ini dibebankan sebagai kos produk/jasa
melalui aktivitas yang menghasilkan produk/jasa yang bersangkutan.

2. Biaya tidak langsung produk/jasa biaya yang tidak dapat dibebankan


secara langsung ke produk/jasa. Biaya ini dikelompokkan menjadi 2
golongan berikut ini :
a. Biaya langsung aktivitas biaya yang dapat dibebankan secara
langsung ke aktivitas melalui direct tracing.
b. Biaya tidak langsung aktivitas biaya yang tidak dapat dibebankan
secara langsung ke aktivitas. Biaya ini dibebankan ke aktivitas
melalui salah satu dari dua cara berikut ini :
i. Driver tracing dibebankan ke aktivitas melalui resource
driver, yaitu baris yang menunjukkan hubungan sebab
akibat antara konsumsi sumber daya dengan aktivitas.
ii. Allocation dibebankan ke aktivitas melalui basis yang
bersifat sembarang.

Activity-Based Object Costing, tahap kedua ini berisi tiga rangkaian kegiatan
penting :

1. Penentuan activity cost


Pembentukan Activity Cost Pool, adalah akun yang digunakan untuk
menggabungkan biaya dua atau lebih aktivitas yang memiliki
activity driver yang sama untuk dapat dibebankan secara bersama-
sama ke produk/jasa dengan menggunakan hanya satu activity driver.
2. Pembebanan biaya antar aktivitas
Pembebanan biaya antar aktivitas. Oleh karena suatu aktivitas
menggunakan aktivitas lain dalam menghasilkan keluarannya, biaya
aktivitas tertentu perlu dibebankan kepada aktivitas pemakai.
3. Pembebanan biaya result-producing activities ke cost object.
Pembebanan biaya result-contributing activities ke result-producing
activities.
Ada empat tahap yang dilakukan dalam tahap ini :
1. Perhitungan biaya result-contributing activities ke result-producing
activities setelah menerima biaya dari support activities.
2. Pembebanan biaya result-contributing activities (aktivitas)
3. Pereparasian dan aktivitas pemeliharaan) ke result-producing activities
(aktivitas pemerolehan order, aktivitas pemenuhan order, aktivitas
perakitan dan aktivitas pengecatan)
4. Perhitungan total biaya result-producing activities setelah menerima
pembebanan biaya dari result-contributing activities.
5. Perhitungan kos per unit activity driver dengan membagi hasil
langkah ke tiga tersebut diatas dengan total activity driver yang
bersangkutan.

E. Perbandingan Activity based costing dengan penetapan biaya pokok


tradisional

Dalam sistem ABC, sistem penghitungan biaya minimal dilakukan dua


tahap sedangkan di dalam sistem ABT (akuntansi biaya tradisional) hanya
menggunakan satu atau dua tahap saja. Dalam sistem ABC, kelompok biaya
aktivitas, dibentuk ketika biaya sumber daya dialokasikan kepada setiap
aktivitas menurut pengendara aktivitas. Sedangakan tahapan berikutnya, biaya
aktivitas dialokasikan dari kelompok biaya aktivitas kepada produk atau
sasaran biaya terakhir. Sebaliknya di dalam sistem ABT digunakan dua tahap
manakala perusahaan mempunyai departemen atau pusat biaya dan jika tidak
mempunyai maka akuntansi biaya hanya menggunakan satu tahap saja.

Beberapa perbandingan antara sistem biaya tradisional dan sistem biaya


activity based costing (ABC) yang dikemukakan oleh Amin Widjaja dalam
bukunya Activity Based Costing untuk manufakturing dan pemasaran,
adalah sebagai berikut :

1. Sistem biaya ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu biaya


(cost driver) untuk menentukan seberapa besar konsumsi overhead dari
setiap produk. Sedangkan sistem biaya tradisional mengalokasikan biaya
overhead secara arbitrer berdasarkan satu atau dua basis alokasi yang non
representatif.
2. Sistem biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu.
Sistem biaya tradisional terfokus pada performasi keuangan jangka pendek
seperti laba. Apabila sistem biaya tradisional digunakan untuk penentuan
harga dan profitabilitas produk, angka-angkanya tidak dapat diandalkan.
3. Sistem biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu.
Sistem biaya ABC memperlukan masukan dari seluruh departemen.
Persyaratan ini mengarah ke integrasi organisasi yang lebih baik dan
memberikan suatu pandangan fungsional silang mengenai organisasi.
4. Sitem biaya ABC mempunyai kebutuhan yang jauh lebih kecil untuk
analisis varian daripada sistem tradisional, karena kelompok biaya (cost
pools) dan pemacu biaya (cost driver) jauh lebih akurat dan jelas, selain itu
ABC dapat menggunakan data biaya historis pada akhir periode untuk
menghilangkan biaya aktual apabila kebutuhan muncul.
5. Pada sistem biaya tradisional penentuan tarif suatu produk berdasar pada
aktivitas level unit (bahan baku dan tenaga kerja). Sedangkan pada ABC
sistem pembebanan biaya overhead berdasarkan aktivitas berlevel unit
maupun non unit sehingga penentuan biaya lebih akurat karena ditelusuri
ke masing-masing produk.

Pada perkembangannya, ABC sistem tidak lagi terbatas


pemanfaatannya hanya untuk menghasilkan informasi beban biaya produk
yang akurat. ABC sistem pada saat ini merupakan konsep yang didefinisikan
secara luas sebagai sistem informasi untuk memotivasi individu dalam
melakukan pengembangan terhadap proses yang digunakan oleh perusahaan
untuk menghasilkan produk/jasa bagi costumer. ABC sistem dimanfaatkan
untuk mengatasi kelemahan akuntansi biaya tradisional yang didesain khusus
untuk perusahaan manufaktur. Semua jenis perusahaan (manufaktur, jasa,
dagang) dan organisasi (sektor publik dan nirlaba) sekarang dapat
memanfaatkan ABC sistem sebagai sistem akuntansi biaya, baik untuk tujuan
pengurangan biaya (cost reduction) maupun untuk perhitungan secara akurat
beban biaya produk/jasa.

ABC sistem menggunakan aktivitas sebagai titik pusat (focal point)


untuk mempertanggungjawabkan biaya. Oleh karena aktivitas tidak hanya
dijumpai di perusahaan manufaktur, dan tidak terbatas di tahap produksi, maka
ABC sistem dapat dimanfaatkan di berbagai jenis organisasi dan mencakup
biaya di luar produksi.

Contoh 1:

PT. Surta Makmur Tbk adalah perusahaan yang menghasilkan dan


menjual produk dalam 2 jenis berbeda yaitu Jenis Lama dan Baru. Data
Keuangan yang terhimpun untuk kedua jeniS produk tersebut adalah sebagai
berikut :

Produk
Keterangan
LAMA BARU
Volume Produksi ( Unit ) 5.000 20.000
Harga Jual ( Rp ) 6.000 3.000
Biaya Utama ( Rp ) 3.000 1.500
Jam Kerja Langsung 2.500 5.000

Dan akuntan manajemen mengidentifikasikan aktivitas cost pool yang


dianggarkan dan Aktivitas sebagai berikut :

Aktivitas Anggaran Cost Pool Aktivitas


Rekayasa Rp150.000 Jam

Setup 500.000 Jam

Perputaran Mesin 1.500.000 Jam

Pengemasan 100.000 Jumlah


Dan berikut ini aktivitas yang sesungguhnya untuk kedua jenis produk :

Konsumsi / Realisasi
Aktivitas Total
LAMA BARU
Rekayasa 6.000 9.000 15.000
Setup 400 600 1.000
Perputaran Mesin 50.000 100.000 150.000
Pengemasan 5.000 20.000 25.000

Diminta :
1.Hitunglah biaya per unit produk Lama dan Baru dengan sistem konvesional
(Tradisional) ?
2. Hitunglah biaya per unit produk Lama dan Baru dengan sistem ABC ?

Jawab :
1.Sistem Konvesional
Total Jam Kerja Langsung ( JKL )= 2.500 + 5.000 = 7.500
Tarif overhead / JKL = Rp2.250.000 / 7.500 = Rp300 / JKL

Biaya Overhead yang dibebankan ke :


Produk Total Unit Overhead / unit
Lama Rp300 x 2.500 = Rp750.000 5.000 Rp150
Baru Rp300 x 5.000 = Rp1.500.000 20.000 Rp75

2.Sistem ABC ( Activity Based Costing )

Aktivitas Total Biaya Konsumsi Tarif Aktivitas


Aktivitas
Rekayasa 150.000 15.000 Rp10
Setup 500.000 1.000 Rp500
Perputaran Mesin 1.500.000 150.000 Rp10
Pengemasan 100.000 25.000 Rp4
Biaya Overhead yang dibebankan ke masing masing produk sebagai berikut:
A. Produk Lama
Aktivitas Tarif Jumlah BO Total BO / Unit
Rekayasa Rp10 6.000 60.000 Rp10
Setup Rp500 400 200.000 Rp500
Perputaran Rp10 50.000 500.000 Rp10
Mesin
Pengemasan Rp4 5.000 20.000 Rp4
780.000 Rp 524

B. Produk Baru
Aktivitas Tarif Jumlah BO Total BO / Unit
Rekayasa Rp10 9.000 90.000 Rp10
Setup Rp500 600 300.000 Rp500
Perputaran Rp10 100.000 1.000.000 Rp10
Mesin
Pengemasan Rp4 20.000 80.000 Rp 4
1.470.000 Rp 524

Menghitung biaya per unit menggunakan metode konvensional :


Keterangan Produk LAMA Produk BARU
Biaya Utama 15.000.000 30.000.000
Biaya Overhead 1.500.000 6.000.000
Total Biaya 16.500.000 36.000.000
Unit diproduksi 5.000 20.000
Biaya / Unit 3.300 1.800

Menghitung biaya per unit menggunakan metode ABC :


Keterangan Produk LAMA Produk BARU
Biaya Utama 15.000.000 30.000.000
Biaya Overhead 2.620.000 10.480.000
Total Biaya 17.620.000 40.480.000
Unit diproduksi 5.000 20.000
Biaya / Unit 3.524 2.024

Contoh 2:

PT JAYA SELALU yang memproduksi dua produk yaitu Umum dan Khusus telah
memutuskan untuk menerapkan ABC. Data dibawah menunjukkan biaya dan
informasi lain untuk operasi tahun terakhir dari PT JAYA SELALU:

Keterangan Umum Khusus Total


Unit yg diproduksi 98.000 200
Biaya bahan baku:
per unit Rp 10 Rp 150
total Rp 980.000 Rp 30.000 Rp 1.010.000
BTKL:
jam/unit 1 10
total jam Rp 98.000 Rp 2.000
total biaya(Rp 10/jam) Rp 980.000 Rp 20.000 Rp 1.000.000
Persiapan 40 40
Perubahan desain 12 8
BOP:
Dep. Produksi Rp 1.400.000
Dep. Teknik Rp 900.000
Pabrik Umum Rp 700.000
Total BOP Rp 3.000.000
Total biaya produksi Rp 5.010.000

Pembentukan tempat penampungan aktivitas :

Departemen Departemen Pabrik


Keterangan Total
Produksi Teknik Umum
Total Biaya
Rp1.400.000 Rp900.000 Rp700.000 Rp3.000.000
Overhead Pabrik
(-) Biaya yang
Berkaitan dengan :
Persiapan Rp200.000 Rp300.000 Rp300.000 Rp800.000
Perubahan
Rp200.000 Rp300.000 Rp100.000 Rp600.000
Desain
Rp400.000 Rp600.000 Rp400.000 Rp1.400.000
Biaya Overhead
Rp1.000.000 Rp300.000 Rp300.000 Rp16.000.000
Pabrik Lain-Lain

PT JAYA SELALU

Biaya Produksi dari Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas

Tarif Biaya Overhead Pabrik:


Biaya Tingkat Batch Rp 800.000 dibagi dengan 80 persiapan (40+40) = Rp
10.000 per persiapan
Biaya Tingkat Produk Rp 600.000 dibagi dengan 20 perubahan desain (12+8)
= Rp 30.000 per perubahan desain
Biaya Overhead Lain-Lain Rp 1.600.000 dibagi dengan 100.000 jam tenaga
kerja langsung (JTKL) = Rp 16 per JTKL

Keterangan Umum Khusus Total


Biaya Bahan Baku Rp980.000 Rp30.000 Rp1.010.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp980.000 Rp20.000 Rp1.000.000

Biaya Overhead Pabrik :


Rp 10.000 x 40 persiapan Rp400.000
Rp 10.000 x 40 persiapan Rp400.000
Rp800.000
Rp 30.000 x 12 perubahan desain Rp360.000
Rp 30.000 x 8 perubahan desain Rp240.000
Rp600.000
Rp 16 x 98.000 JTKL Rp1.568.000
Rp 16 x 2000 JTKL Rp32.000
Rp1.600.000
Total Biaya Produksi Rp4.288.000 Rp722.000 Rp5.010.000
Unit yang Diproduksi 98000 200
Biaya per Unit Rp 43,76 Rp 3,610

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sofia Prima, Septian Bayu dan Elizabeth Sugiarto.2015. Akuntansi Biaya
Edisi 2. Bogor: iN MEDIA

Tunggal, Amin Widjaja.1992.Activity Based Costing Suatu Pengantar. Jakarta: PT


RINEKA CIPTA

Raiborn, Cecily A., dan Michael R Kinney.2011.Akuntansi Biaya Dasar dan


Perkembangan Cost Accounting. Jakarta :Salemba Empat

Horngren, Charles T., Srikant M. Datar, and George Foster. 2003.Cost


Accounting: a manajerial emphasis.New Jersey: Prentice Hall Inc.

Mulyadi.2005.Akuntansi biaya. Edisi kelima.Yogyakarta:UPP AMP YKPN.2003.