Anda di halaman 1dari 21

KONSEP LAPORAN AKHIR

DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung


Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

BAB VII
DETAIL DESAIN

7.1 Umum
Dalam lingkup kegiatan DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk
Jembatan Penghubung antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden
Inten II, rencana penanganan merupakan sebuah konsep perencanaan yang
didasarkan dari hasil investigasi dan kajian data lapangan, analisis dan
pengolahan data, serta kriteria desain yang diambil dari peraturan peraturan
desain yang terkait dengan kegiatan ini. Dasar tersebut juga dapat
dikategorikan sebagai kriteria perencanaan yang dibaut untuk memberikan
gambaran tentang konsep dan metode yang digunakan dalam perencanaan
sehingga tujuan utama dari perencanaan dapat dicapai. Ada beberapa rencana
yang akan diusulkan dan dibahas dalam kegiatan ini yaitu:
a. Tinjauan beradasarkan analisis data dan kriteria perencanaan
b. Tinjauan lokasi desain stasiun KA Bandara
c. Kajian desain jembatan penghubung

BAB 7 - 1
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

7.2 Peraturan dan Standar


Peraturan dan standar yang akan menjadi acuan konsultan dalam analisis dan
perhitungan kegiatan ini adalah sebagai berikut :
1. Undang Undang No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian;
2. Peraturan pemerintah No. 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan
Perkeretaapian;
3. Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Kereta Api;
4. Keputusan Menteri Perhubungan No. 52 Tahun 2000 tentang Jalur Kereta
Api;
5. Peraturan Menteri No. 60 Tahun 2012, tentang Persayaratan Teknis Jalur
Kereta Api
6. Peraturan Menteri No. 33 Tahun 2011 tentang Jenis, Kelas, dan Kegiatan
di Stasiun Kereta Api
7. Peraturan Menteri No. 48 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan
Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api
8. Permen PU No.19 Tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis Jalan dan
Kriteria Perencanaan Teknis Jalan
9. PPBBI Tahun 1971
10. Peraturan Beton Indonesia (PBI) 1971;
11. BMS (Bridge Management System )
12. Peraturan dan standar lain yang terkait.

7.3 Lingkup Rancangan Teknis

Tahapan kegiatan dilaksanakan dengan analisis data hasil pekerjaan survei


sekunder dan primer, selanjutnya penyedia jasa mengevaluasi dan membuat
desain awal mencakup beberapa alternatif lengkap dengan perkiraan biaya
secara kasar. Hasil analisis tersebut kemudian didiskusikan dengan Pemberi
Tugas. Setelah disepakati alternatif yang paling menguntungkan, penyedia
jasa melakukan perhitungan-perhitungan teknis termasuk pembuatan

BAB 7 - 2
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

gambar detail rancangan. Kegiatan rancangan teknis yang akan dilaksanakan


pada kegiatan ini, mencakup hal hal sebagai berikut :
Analisis data hasil pengukuran (Hidrologi, Hidrolika, dan Mekanika
Tanah)
Analisis Desain Konstruksi Stasiun KA
Analisis/Perhitungan struktur bangunan atas dan bangunan bawah
jembatan penghubung
Analisis/perhitungan struktur pendukung / tembok penahan / perkuatan
tanah (bilamana diperlukan),
Gambar detail desain / perencanaan.

7.4 Ketentuan Umum Desain

1. Kriteria Desain Stasiun KA


a. Desain stasiun kereta api adalah stasiun penumpang
b. Desain Stasiun kereta api terdiri dari emplasemen stasiun dan bangunan
stasiun
c. Desain stasiun dilakukan berdasarkan kriteria fasilitas operasi, jumlah
jalur, fasilitas penunjang, frekuensi lalu lintas, jumlah penumpang, dan
jumlah barang
d. Penentuan kelas stasiun ditentukan berdasarkan pembobotan dari
masing masing kriteria fasilitas operasi
e. Komponen fasilitas operasi terdiri dari : peralatan persinyalan, peralatan
telekomunikasi, dan instalasi listrik
f. Komponen jalir terdiri dari atas kriteria kurang dari 6 jalur
g. Komponen fasilitas penunjang terdiri dari penunjang umum dan
penunjang khusus
h. Komponen jumlah penumpang kereta api per hari terdiri atas : kurang
dari 10.000, 10.000 sd 50.000 dan > 50.000 penumpang per hari
i. Komponen jumlah barang dan bagasi per hari terdiri atas : Kurang dari
100 ton , 100 sd 150 ton, dan > 150 ton

BAB 7 - 3
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

j. Jumlah angka kredit penetapan klasifikasi stasiun :


Kelas besar jumlah angka kredit lebih dari 70
Kelas sedang jumlah angka kredit 50 sd 70, dan
Kelas kecil jumlah angka kredit kurang dari 50
k. Standar pelayanan minimum penumpang di stasiun penumpang di
stasiun mencakup : keselamatan, keamanan, kehandalan, kenyamanan,
kemudahan, dan kesetaraan

2. Kriteria Desain Jembatan Penghubung


a. Jenis Pembebanan meliputi beban mati, beban hidup (horizontal
& vertikal).
b. Faktor Beban dan Kombinasi Pembebanan untuk perhitungan
desain struktur bangunan perlintasan tidak sebidang menggunakan
kombinasi pembebanan Allowable Strength Design
c. Faktor Beban dan Kombinasi Pembebanan untuk perhitungan
desain struktur bangunan perlintasan tidak sebidang menggunakan
kombinasi pembebanan Allowable Strength Design dan Ultimate
Strength Design .
d. Desain dibuat untuk daya dukung jembatan yang kuat terhadap 100%
RM 1921.
e. Struktur bangunan Perlintasan tidak sebidang sedapat mungkin dipilih
tipe yang memerlukan pekerjaan pemeliharaan seminimal mungkin
f. Konstruksi penyanggaan sementara untuk pelaksanaan pekerjaan
yang nantinya dilaksanakan meliputi pekerjaan analisis/perhitungan
struktur konstruksi penyangga sementara dan tata cara (contruction
method) pelaksanaannya.
3. Usulan Alternatif Desain:
a. Usulan alternatif desain di buat berdasarkan beberapa aspek
teknis disertai penjelasannya
b. Usulan alternatif desain dibuat dalam bentuk matriks penilian

BAB 7 - 4
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

kelebihan / kekurangan masing-masing usulan.


4. Rekomendasi Desain
a. Menyampaikan rekomendasi mengenai;
1) Bentang Underpass/Flyover
2) Tipe bangunan Underpass/Flyover
5. Hasil Perencanaan Desain; meliputi :
a. Gambar Desain
b. Peta situasi dengan skala 1 : 1000 dan interval garis kontur 0,5 m
c. Profil memanjang dengan skala Horizontal 1 : 1000 dan skala Vertikal
1 : 100
d. Profil melintang dengan skala 1 : 100
e. Gambar detail struktur = 1 : 20 dan 1 : 50
f. Gambar di cetak dalam kertas ukuran A3

7.5 Ketentuan Teknis.


7.5.1 Geometrik Jalan KA
1. Ruang bebas vertikal di atas jembatan minimal 6,2 meter.
2. Batas Ruang Bebas seperti ditunjukan pada gambar berikut, yaitu
Batas I untuk jembatan dengan kecepatan sampai 60 km/jam, Batas
II untuk viaduct dan terowongan dengan kecepatan sampai 60
km/jam dan untuk jembatan tanpa pembatasan, Batas III untuk
viaduct baru dan bangunan lama kecuali terowongan dan jembatan,
Batas IV untuk lintas kereta listrik.
3. Batas Ruang Bangun jembatan diukur dari sumbu sepur 2,15 m ke
kiri dan 2,15 m ke kanan

BAB 7 - 5
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

+6200 BATAS IV
+5900
Tinggi kawat aliran +5500
listrik terbesar
Tinggi normal kawat aliran listrik
2500 +5000
+4845
+4700 BATAS III
BATAS I +4500 1300
+4200 +4320 BATAS II
+4050
1100
+4150 +3550
2550
Tinggi kawat aliran
listrik terendah

1950 1950

1600
1300 1530 +1000
+750
1300 +450
1000 1000 +200
+40

KOP REL 0.000


106.7

Gambar 7.1 Ruang Bebas Pada Bagian Lurus

7.5.2 Material Struktur

1. Mutu beton lantai K-350, bangunan atas minimal K-350, bangunan


bawah K-300, (untuk abutment) K-350 (untuk pier) termasuk untuk isian
tiang pancang, sedangkan untuk pondasi bored pile K-350.

BAB 7 - 6
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

2. Mutu baja tulangan menggunakan BJTP 24 untuk < D13, dan BJTD 40
untuk D13, dengan variasi diameter tulangan dibatasi paling banyak 5
ukuran.

3. Mutu balok kastella (castelled beam) 2 profil baja tipe IWF yang
disatukan

4. Modulus kekuatan penampang berdasarkan peraturan SNI 03-1729-2002

Untuk memudahkan validasi koreksi atas gambar rencana, gambar rencana


diusahakan sebanyak mungkin dalam bentuk gambar tipikal dan gambar
standar.

7.5.3 Kajian Fasilitas Pelayanan Stasiun KA Bandara


Konsep usulan stasiun KA bandara adalah stasiun kereta api penumpang yang
fungsi utamanya adalah mengangkut penumpang dari dan menuju Bandar
Udara Raden Inten II Lampung. Dalam kaitan dengan kegiatan ini,
penentuan klasifikasi stasiun kereta api akan ditentukan berdasarkan
Peraturan Menteri No. 33 Tahun 2011 tentang Jenis, Kelas, dan Kegiatan di
Stasiun Kereta Api. Untuk fasilitas yang akan disediakan pada stasiun akan
mengacu pada Peraturan Menteri No. 48 Tahun 2015 tentang Standar
Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api, yaitu :
Keselamatan, keamananan, kehandalan, kenyamanan, kemudahan, dan
kesetaraan.
Dari hasil kajian dan analisis konsultan, adapun data kondisi rencana stasiun
bandara adalah sebagai berikut :
a. Data Teknis Stasiun KA Bandara
Luas Lahan : 15.480 m2
Ukuran Bangunan Stasiun (Diluar Emplasemen) : 27 x 126 m
Luas Bangunan Stasiun : 7.978 m2
Luas Areal Parkir : 4.500 m2
Struktur Pondasi Stasiun : Minipile 30 x 30

BAB 7 - 7
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Kolom Tengah : IWF Incross


Kolom Tepi : H Beam
Penutup Atap : Truss + Allumunium Compossite Panel

Adapun rencana pelayanan minimum yang disediakan di stasiun kereta api


bandara Raden Inten II, yaitu :

A. Keselamatan
1) Informasi dan fasilitas keselamatan
2) Informasi dan fasilitas kesehatan
3) Lampu Penerangan
4) Safety line di sepanjang peron

B. Keamanan
1) Fasilitas keamanan dan pencegahan tindakan kriminal di lantai 1 dan
lantai 2
2) Petugas keamanan (lantai 1 dan lantai 2, untuk ruang petugas
keamanan ditempatkan di lantai 2m dengan luas 12 m2
3) Informasi gangguan keamanan
4) Lampu Penerangan
5) Kamera CCTV

C. Kehandalan/Keteraturan
1) Layanan penjual tiket (jumlah loket penjualan dan penukaran tiket
kereta disesusikan dengan calon penumpang dan waktu rata rata
pelayanan per orang ditempatkan di lantai 2, 1 unit terdapat 4 loket
dengan luas 11,25 m2
2) Ruang PPPKA 1 Unit, luas 18 m2) dan Ruang Kepala Stasiun 1 Unit
dengan luas 18 m2 ditempatkan di lantai 2

BAB 7 - 8
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

D. Kenyamanan
1) Ruang tunggu di lantai 1 dan lantai 2
2) Ruang boarding di lantai 1
3) Toilet, dibagi menjadi toilet pria dan wanita ditempatkan di lantai 2
dengan masing masing luas 28 m2.
4) Musholla Pria dan Wanita sebanyak 2 unit masing masing 20 m2
5) Lampu Penerangan
6) Fasilitas Pengatur Sirkulasi Udara
7) Ruang tunggu tertutup

E. Kemudahan
1) Informasi pelayanan perjalanan kereta api dan penerbangan
2) Informasi gangguan perjalanan kereta api
3) Informasi angkutan lanjutan (daftar keberangkatan dan kedatangan
pesawat)
4) Fasilitas layanan penumpang
5) Fasilitas kemudahan naik/turun penumpang dan tangga dengan Ram
10%
6) Tempat parkir roda 4 dan roda 2 seluas 4500 m2

F. Kesetaraan
1) Fasilitas bagi penumpang difable; disiapkan sebanyak 2 unit dengan
masing masing luas 3 m2
2) Ruang ibu menyusui, ditempatkan di lantai dua sebanyak 2 unit
dengan masing masing luas 3 m2
3) Fasilitas Lift untuk naik dan turun

BAB 7 - 9
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Gambar A3 Stasiun KA Bandara

BAB 7 - 10
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Gambar 7.3 Ilustrasi Tampak Depan Rencana Stasiun KA Bandara

BAB 7 - 11
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Gambar 7.4 Ilustrasi Rencana Stasiun KA Bandara

BAB 7 - 12
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Gambar 7.5 Ilustrasi Rencana Keluar Masuk Parkir Stasiun Bandara

BAB 7 - 13
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

7.6 Analisis Penilaian Pemilihan Jenis Konstruksi Jembatan Penghubung

7.6.1 Gambaran Umum


Pada prinsipnya, jembatan penghubung yang akan dikaji pada kegiatan ini
memiliki fungsi yang sama dengan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO)
yaitu fasilitas pejalan kaki untuk menyeberang jalan yang ramai dan lebar
atau menyeberang jalan tol dengan menggunakan struktur jembatan.
Dengan demikian, orang yang akan menyeberang dengan lalu lintas akan
terpisah secara fisik.

Dalam konsep jembatan penghubung antara Bandara dengan Stasiun


Kereta Api diharapkan akan memberikan kenyamanan kepada para
penumpang. Dengan demikian, kereta api sebagai angkutan massal yang
dinilai paling efisien dan efektif untuk mengurangi kemacetan di jalan raya
akan menjadi pilihan jika koneksi dari dan menuju stasiun KA dibuat
nyaman. Dengan adanya dukungan pembangunan Stasiun KA Bandara
yang terhubung langsung dengan Bandar Udara Raden Inten II secara
otomatis bisa menjadi daya tarik sendiri untuk meningkatkan animo
masyarakat di Kota Bandar Lampung untuk menggunakan fasilitas kereta
api.

Selain itu, multiplier effect lain dengan adanya jembatan penghubung akan
menampung investor dan usaha kecil menengah ikut mengembangkan
usahanya dengan disediakan fasilitas di dalamnya. Hal ini dikarenakan
rencana lebar jembatan 10 m dan panjang 130 m diharapkan cukup untuk
memberikan ruang bagi para pengembang usaha.

Jembatan penghubung antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden


Inten II akan melintas di jalan nasional lintas sumatera. Saat ini lebar jalan
lintas sumatera 20 meter. Penempatan posisi rencana jembatan
penghubung akan disesuaikan dengan kajian masterplan pengembangan

BAB 7 - 14
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

bandar udara Raden Inten II. Konsultan telah mengkaji posisi dan tata
letak rencana jembatan penghubung yang selanjutnya dikoneksikan dengan
posisi rencana stasiun KA Bandara. Kajian keamanan struktur jembatan
penghubung harus memperhatikan keamanan posisi pondasi jembatan
mengingat jalan lintas sumatera merupakan jalan yang memiliki volume
lalu lintas yang cukup tinggi. Dengan demikian, penempatan posisi
jembatan pada akhirnya bermuara pada kajian bentang yang aman untuk
struktur jembatan penghubung.

7.6.2 Usulan Bentang Konstruksi dan Material Bangunan Jembatan


Penghubung
Usulan konstruksi bangunan jembatan penghubung didasarkan pada
konsep perencanaan struktur ringan dan konsep arsitektur tradisional
modern. Selain itu, desain jembatan penghubung juga diselaraskan dengan
konsep perencanaan Pengembangan Bandar Udara Raden Inten II.

Kajian keamanan struktur jembatan penghubung menjadi fokus utama


dalam kajian ini. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan, penentuan
bentang jembatan penghubung didasarkan pada posisi akses jalan di dalam
bandara maupun jalan nasional yang berhadapan langsung dengan
bandara. Hasil pengukuran topografi menunjukkan bahwa ukuran bentang
konstruksi jembatan penghubung adalah 20+35+30. Untuk bentang 20 m
merupakan hasil kajian terhadap posisi jalan sirkulasi kendaraan di dalam
bandara. Untuk bentang 35 meter merupakan hasil kajian terhadap posisi
jalan nasional dan rencana pengembangan jalan nasional di masa yang
akan datang. Untuk bentang 30 m merupakan hasil kajian aksesbilitas
pengguna ke arah rel (stasiun bandara).

Untuk pemilihan material utama konstruksi jembatan penghubung terbuat


dari material Honeycomb. Dipilihnya material ini mengingat honeycomb

BAB 7 - 15
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

merupakan balok yang dipakai untuk konstruksi bentang panjang (lebih


dari 8 meter), yang berupa 2 profil baja yang disatukan menjadi 1 untuk
mendapatkan tinggi profil yang sesuai. Balok kastella disebut juga honey
comb beam, karena bentuk lubang segi enamnya yang menyerupai sarang
lebah (honey comb). Profil tersebut dilubangi untuk memperkecil berat
sendiri profil dan agar sambungan las nya dapat lebih efektif dan efisien.
Selain itu, Besarnya sudut kemiringan antara 45' sampai 70', sedangkan
yang sering dipakai di lapangan adalah 45' dan 60'.

Balok castellated dapat dibuat secara ekonomis dengan menggunakan balok


baja yang dipotong mengikuti pola zig-zag sepanjang garis tengah balok.
Ujung potongan yang serupa kemudian disambung satu sarna lain dengan
las busur. Pada balok profil WF, bagian sayap pada profil memegang
peranan yang sangat penting dalam menahan tegangan lentur sehingga
kehilangan luas pada badan akibat lubang tidak terlalu berpengaruh,
sepanjang momen masih diperhitungkan. Bagaimanapun tegangan geser
yang harus diperhitungkan pada lubang badan yang ada. Pada bagian
lubang badan, dua buah profil T seolah-olah bekerja sebagai bagian yang
menahan gaya geser vertikal. Pada tengah bentang, gaya geser minimum
sehingga hanya memberikan sedikit efek pada kekuatan balok. Pada bagian
di sekitar lubang yang dekat dengan perletakan, gaya geser yang dihasilkan
cukup besar, sehingga tegangan yang dihasilkan dari beban pada balok
harus dihitung bedasarkan penampang T karena berlubang.

Gambar di bawah ini menunjukkan konsep desain jembatan penghubung


dengan menggunakan balok castellated.

BAB 7 - 16
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Data Teknis Jembatan Penghubung


1. Bentang Jembatan : 17 + 35 + 17
2. Pondasi Jembatan : Pondasi Sumuran
Pilar 1, diameter 2,5 m dengan kedalaman 6 m, jumlah 2 buah
Pilar 2 dan 3, diameter 4 m dengan kedalaman 6 m, jumlah 2 buah
Pilar 4, diameter 2,5 m dengan kedalaman 6 m, jumlah 2 buah
3. Struktur pilar : Beton Bertulang K-350
4. Bangunan Atas : Honeycomb
5. Gelagar Utama : Honeycomb 1050 x 300
6. Gelagar Melintang : Honeycomb 600 x 200
7. Material Penutup : Allumunium Compossite Panel

BAB 7 - 17
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Gambar 7.6 Layout Rencana Stasiun dan Jembatan Penghubung

BAB 7 - 18
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Gambar 7.7 Ilustrasi Rencana Stasiun KA Bandara dan Skybridge

BAB 7 - 19
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Gambar 7.8 Ilustrasi Rencana Skybridge

BAB 7 - 20
KONSEP LAPORAN AKHIR
DED Pembangunan Stasiun KA Bandara Termasuk Jembatan Penghubung
Antara Stasiun KA Bandara dengan Bandara Raden Inten II Lampung

Gambar 7.9 Ilustrasi Rencana Tangga dan Lift Dari Bandara Menuju Skybridge

BAB 7 - 21