Anda di halaman 1dari 7

TUGAS FILSAFAT

Menebang Pohon Milik Sendiri, Petani di Sinjai


Dijemput Paksa Polisi

OLEH:
KELOMPOK KELAS A
Ade Rahadian NPM 17420001
Dwi Ruth Rahayuning Asih Budi NPM 17420015

PEMBIMBING:
R. AGUNG EFRIYO HADI, Ph.D

PROGRAM PASCA SARJANA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MALAHAYATI
TAHUN 2017
Kasus Penebangan Pohon Milik Sendiri, Petani di Sinjai
Dijemput Paksa Polisi
Bahtiar bin Sabang, petani yang juga masyarakat adat dari Desa Turungan Baji, Kecamatan
Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, kini kembali harus meringkuk di penjara.
Jumat dini hari, 1 April 2016, sejumlah aparat kepolisian bersama Dinas Kehutanan Sinjai
melakukan penjemputan paksa di rumahnya.

Penjemputan paksa ini adalah bagian dari eksekusi putusan Pengadilan Negeri Sinjai yang
menjatuhkan vonis selama 1 tahun subsider 1 bulan pada Juni 2015 silam. Ia dituduh mencuri
sebanyak 40 pohon kayu di kebunnya sendiri, yang ternyata juga diklaim Dinas Kehutanan
Sinjai sebagai kawasan Hutan Produksi Terbatas.

Setelah diputus bersalah oleh Pengadilan Negeri Sinjai, Bahtiar kemudian melakukan
banding ke Pengadilan Tinggi di Makassar. Namun, harapan Bahtiar kandas ketika keluar
putusan dari Pengadilan Tinggi pada 18 Agustus 2015, yang menguatkan putusan Pengadilan
Negeri Sinjai. Selama dalam proses persidangan ini ia telah menjalani hukuman di sel selama
empat bulan dan setelahnya menjadi tahanan rumah.

Pasca putusan Pengadilan Tinggi ini, Bahtiar memang tidak mengindahkan panggilan
eksekusi menuntaskan sisa hukumannya. Bahtiar tetap bersikukuh menolak hukuman tersebut
karena merasa tak bersalah. Pohon yang ditebang tersebut adalah ia tanam sendiri beberapa
tahun silam.

Abdon Nababan, Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menilai
tindakan penjemputan ini jauh dari rasa keadilan.

Tindakan penjemputan paksa ini merupakan bentuk penegakan hukum yang sama sekali
jauh dari rasa keadilan. Bahtiar adalah korban kriminalisasi, korban ketidakadilan hukum
kehutanan warisan kolonial. Bagai AMAN, Bahtiar adalah seorang pahlawan yang
memperjuangkan hak azasi kolektif masyarakat adatnya, ungkap Abdon, Senin
(05/04/2016).
Wahyullah, aktivis Gerakan Anti Perampasan Tanah Rakyat (Gertak) Sinjai menilai
banyaknya kerancuan terkait objek yang disengketakan tersebut.

Di atas objek tersebut terdapat tiga bentuk klaim, pertama SK Penataan Batas, lalu ada SPPT
PBB, dan kemudian muncul SK Penunjukan kawasan. Kenapa pemerintah terbitkan SPPT
PBB diatas objek yang ditata batas tersebut, dan kenapa ada terbit SK Penunjukan diatas
objek yang telah ditata batas pada tahun 1982? Sementara dalam aturan penunjukkan
kawasan dinyatakan bahwa wilayah yang akan ditunjuk sebagai kawasan hutan syaratnya
tidak pernah ditunjuk sebelumnya?

Wahyullah juga menyoroti keberadaan kawasan yang disengketakan tersebut adalah wilayah
adat yang seharusnya tidak lagi dipersoalkan pengelolaannya, meski hingga saat ini belum
ada Perda Masyarakat Adat sebagai syarat pengakuan.

Kejanggalan tuntutan

Menurut Nursari, dari Perhimpunan Pengacara Masyarakat Adat (PPMAN), yang


mendampingi Bahtiar selama ini, dari awal kasus ini penuh dengan kejanggalan, misalnya
tidak konsistennya penggunaan pasal hukum yang digunakan untuk menjerat Bahtiar. Jika
diawal Bahtiar dituduh melanggar sejumlah pasal seperti pasal 78 ayat (2) Junto Pasal 50 ayat
(3) Huruf e UU No.41/1999 tentang Kehutanan terkait perambahan hutan. Namun di
persidangan ternyata dakwaannya menggunakan pasal 81 ayat (1) Huruf b Jo. Pasal 12 Huruf
b 84 UU P3H (UU-P3H), yang mana pasal-pasal tersebut tidak ada dalam UU-P3H.

Kami juga menemukan kejanggalan lain seperti keterangan saksi dari pelapor yang berbeda
antara BAP dan persidangan, tambahnya.

Nursari juga melihat adanya kejanggalan pada perubahan poin dalam Berita Acara
Pemeriksaan (BAP) terkait dengan barang buktitanpa sepengetahuan Kuasa Hukum serta
tidak jelasnya areal yang diklaim oleh kehutanan.

Berita acara tata batas kawasan hutan (1991/1992) menunjukkan bahwa lokasi tata batas
kawasan hutan berada dusun Laha-Laha, berbeda dengan lokasi Bahtiar bercocok tanam
yakni di Dusun Smelle. Sketsa menunjukkan bahwa Laha-laha dan Semelle berjarak sekitar
5 Km dan dibatasi Sungai Tangka.

Andi Ismira, Kepala Biro Advokasi Hukumdan Politik AMAN Sulsel, melihat penangkapan
ini tidak sejalan dengan janji Nawacita Presiden Jokowi terkait masyarakat adat.

Di tengah-tengah tuntutan realisasi agenda reforma agraria tersebut, perampasan lahan


rakyat baik oleh perusahaan maupun negara dalam skema penetapan dan penunjukkan
kawasan masih marak terjadi. Parahnya, dalam gerakan perjuangan hak dan perlawanan atas
perampasan lahan, rakyat kecil sering dilemahkan posisinya dengan cara menggunakan
hukum untuk menjadi alat legitimasi kriminalisasi bagi mereka, seperti yang terjadi dengan
Bahtiar ini, ungkapnya.

Menurut Ismira, penolakan Bahtiar terhadap eksekusi tersebut karena vonis tetap diberikan
meski banyak kenjaggalan-kejanggalan yang ditemukan dalam proses pemeriksaan dan
persidangan, yang justru kemudian diabaikan oleh hakim.
Ditolaknya banding Pak Bahtiar di pengadilan Tinggi menunjukkan bahwa keadilan dan
penegakan hak asasi manusia masih menjadi barang langka dalam sistem peradilan di
Indonesia, yang tercermin dari korupnya tindakan oknum aparat penegak hukum.

Aktivis Korban Kriminalisasi

Ismira mencurigai upaya kriminalisasi terhadap Bahtiar terkait dengan aktivitasnya selama ini
sebagai salah satu aktivis penggerak Masyarakat Adat Soppeng-Turungan.

Bahtiar kerap menginisiasi dan membangun ajakan kepada petani-petani di wilayahnya,


untuk lebih peka terhadap hak-haknya dan secara mandiri melakukan pemetaan partisipatif.
Hal ini seringkali salah dipahami sebagai bentuk provokasi agar masyarakat bisa leluasa
melakukan perambahan. Penyataan dari Kepala Disbunhut Sinjai mempertegas hal tersebut,
tambah Ismira.

Ismira menambahkan bahwa kasus Bahtiar ini merupakan satu dari sekian banyak kasus
kriminalisasi terhadap petani atau masyarakat adat, khususnya yang bermukim di wilayah
sekitar hutan, dengan menggunakan instrumen hukum UU Pencegahan, Pemberantasan,
Perambahan Hutan (UUP3H).

Meski Putusan MK Nomor 95/PUU-XII/2014, telah melarang kriminalisasi bagi masyarakat


yang hidup secara turun temurun di kawasan hutan, dan memanfaatkan hasilnya sepanjang
bukan untuk kepentingan komersial.

Lahirnya putusan tersebut seharusnya dapat dijadikan acuan implementasi sejak dini, agar
tidak ada lagi petani atau masyarakat adat yang dikriminalisasi atas konflik yang terjadi di
sekitar areal hutan.

AMAN Sulsel sendiri menyampaikan sejumlah tuntutan terkait hal ini. Pertama, Bahtiar
adalah korban kriminalisasi, korban dari praktik hukum yang tidak adil dan tidak peka HAM.

Kedua, putusan hakim yang tetap menjatuhkan vonis kepada Bahtiar Bin Sabang tanpa
mempertimbangkan kejanggalan fakta-fakta persidangan, telah mencederai rasa keadilan dan
kepercayaan rakyat. Ketiga, laksanakan implementasi putusan Nomor 95/PUU-XII/2014.

Tuntutan keempat, mendesak kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sinjai untuk mengambil
tindakan konkrit penyelesaian konflik kawasan hutan yang dengan mengedepankan hak-hak
masyarakat setempat serta mengevaluasi kinerja dan memberi sanksi kepada aparat hukum
yang telah melakukan penyelewengan hukum dalam Kasus Bahtiar Bin Sabang.

AMAN juga mendesak pemerintah untuk meninjau ulang status kawasan hutan yang proses
penataannya asal-asalan, tidak transparan dan menegasikan keberadaan masyarakat adat
Turungan Baji, serta mendesak pemerintah segera memberikan perlindungan dan pengakuan
masyarakat adat melalui penetapan UUPPHMA.

Persidangan kasus ini sempat menghadirkan Sandra Moniaga, Komisioner KOMNAS HAM,
yang juga Pelapor Khusus perserikatan bangsa-bangsa (PBB) tentang kasus masyarakat adat
di Indonesia, sebagai saksi ahli pada persidangan 1 April 2015 silam.
Dalam kesaksiannya ketika itu, Sandra menyatakan bahwa tanah tempat Bahtiar berkebun,
tempat dituduh mencuri kayu, bisa jadi tanah hak adat dan tak perlu surat-surat untuk
pembuktian.

Sebagian besar tanah terbentang dari Aceh hingga Papua tidak memiliki bukti kepemilikan
berupa surat. Dari Indonesia merdeka, lalu lahir UUPA 1960 hingga sekarang, pemerintah
belum pernah menginventarisasi tanah-tanah hak, baik menurut UUPA, hukum Belanda yang
konversi maupun tanah hak adat.

Menurutnya, dari sekitar 127 juta hektar wilayah klaim Kementerian Kehutanan sebagai
kawasan hutan, katanya, baru 15% memiliki berita acara. Sebagian besar berupa
penunjukan. Namun, penunjukan kawasan ini tidak diikuti penataan batas. Padahal, dalam
aturan disebutkan proses harus dimulai penunjukan, penentuan tapal batas, pemetaan, baru
penetapan. Ini harus ada berita acara. Yang terjadi, kawasan hutan masih penunjukan sudah
ditafsirkan sebagai hutan negara secara definitif.

Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Perubahan ke-4 disebutkan bahwa : Negara Indonesia
adalah negara hukum. Pasal tersebut menegaskan keputusan hukum merupakan
keputusan tertinggi di Negara Indonesia dan institusi Pengadilan serta kepolisian
menjadi eksekutor hukum. Ketokan palu hakim menjadi ukuran keadilan hukum yang
didapatkan setiap masyarakat Indonesia. Tetapi, penegakan hukum di Indonesia saat
ini selalu mempertontonkan sebuah ketidakadilan dimana orang miskin di vonis
hukuman berat sedang orang kaya bersalah dibebaskan.

Keadilan hukum di Negeri ini sangat mudah untuk dibeli oleh pemodal. Petani
merupakan salah salah satu korban yang sering mengalami ketidakadilan hukum.
Sepanjang terjadinya kasus konflik agraria di Indonesia, negara selalu berpihak
kepada pemodal, keputusan-keputusan pengadilan pasti memberikan duka dipihak
petani. Menurut data dari Konsorsium Pembaruan Agaria (KPA) sepanjangan tahun
2014-2015 ketidakadilan dalam kasus konflik agraria menuai 534 orang petani
ditahan, 234 dianiaya, 56 tertembak dan 24 orang gugur dalam mempertahankan hak
atas tanah mereka.

Hukum di Indonesia ini Tajam Kebawah, Tumpul Keatas. Petani, buruh, nelayan
dan rakyat miskin dimata hukum akan selalu salah. Petani sebagai korban
ketidakadilan hukum akan terus berlanjut melihat konflik-konflik agraria di Indonesia,
terkhusus di Sumatera Utara yang setiap tahunnya bertambah. Menyelesaikan
ketidakadilan hukum bagi petani tidak hanya melalui membangun profesionalisme di
setiap institusi-institusi pemerintah tetapi percepatan reforma agraria menjadi jalan
keluar satu-satunya. Oleh karena itu, pelaksanaan reforma agraria menjadi keharusan
agar tidak ada lagi petani korban ketidakadilan hukum diseluruh Indonesia.
Berdasarkan kasus di atas terdapat uraian seperti berikut:
SOAL GANJIL

Pertanyaan:
1. Apa arti keadilan dalam hidup manusia?
Keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban.
Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan kewajiban, atau dengan kata
lain keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh bagian yang sama dari
kekayaan bersama. Berdasarkan kesadaran etis, kita diminta untuk tidak hanya
menuntut hak dan lupa menjelankan kewajiban, maka sikap dan tindakan kita akan
mengarah pada pemerasan dan memperbudak orang lain. Sebaliknya pula jika kita
hanya menjalankan kewajiban dan lupa menuntut hak, maka kita akan mudah
diperbudak atau diperas orang lain.

Setiap orang ingin merasakan keadilan yang sama antara sesama manusia. Adil dalam
melaksanakan suatu keadaan atau masalah merupakan jiwa seseorang yang memiliki
jiwa social yag tinggi. Setiap warga Negara Indonesia pun wajib memperoleh
keadilan yang merata dengan yang lainnya sesuai dengan HAM dalam bidang hokum,
politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Keadilan dan ketidakadilan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia karena
dalam hidupnya manusia menghadapi keadilan atau ketidakadilan setiap hari. oleh
sebab itu keadilan dan ketidakadilan, menimbulkan daya kreativitas manusia. Maka
dari itu keadilan sangat penting untuk kehidupan sehari - hari, karena akan
mensejahterakan semua umat manusia. Keadilan terdapat dalam pancasila, terutama
dalam sila kelima yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Yang artinya seluruh warga Negara Indonesia berhak mendapatkan keadilan yang
merata dari pihak yang berwenang.

Jadi antara hak dan kewajiban perlu diserasikan agar tercipta kehidupan yang
harmonis, karena kehidupan seperti itulah yang diinginkan oleh setiap umat manusia.
Setiap manusia mempunyai hak dan kewajiban yang perlu dikerjakan bersama sama
tanpa adanya berat sebelah yang artinya hak dan kewajiban harus dilaksanakan secara
seimbang.

2. Bagaimana saya sebagai manusia harus bertanggung jawab atas hidup saya dan orang
lain?
Bertanggung jawab berarti berbuat sesuatu yang di dasarkan pada apa, mengapa dan
untuk siapa melakukan sesuatu itu. Maka pengertian dari tanggung jawab merupakan
sikap yang di tuntut dalam jiwa atas dasar pelaksanaan suatu pekerjaan, dimana sikap
yang ada menjamin antara seorang yang membutuhkan suatu pekerjaan dengan orang
yang memberikan pekerjaan tersebut agar lebih terjalin hubungan saling mempercayai
diantara keduanya.
a. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan
suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
b. Bersikap adil dalam melaksanakan kegiatan antarmanusia untuk tidak saling pilih
kasih, dan pengertian adil juga sesuai dengan kebutuhan manusia untuk hidup
layak, dan tidak diskriminatif terhadap sesama manusia yang akan ditolong.
c. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jangan hanya mendahulukan
hak-haknya seperti hak hidup bebas, berserikat, perlakuan yang sama,
kepemilikan, dan lain-lain, tetapi menjaga kewajiban secara seimbang.
Kewajiban yang harus dilakukan adalah berhubungan yang baik dengan sesama
manusia, membantu sesama manusia, membela yanng teraniaya, membarikan
nasehat yang benar dan menghormati kebebasan beragama.
d. Menghormati hak-hak orang lain. Perbuatan seperti mencuri harta orang lain,
menyiksa, merusak tempat peribadatan agama lain, adalah contoh-contoh tidak
menghormati hak orang lain.
e. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
Mengembangkan sikap dan budaya bangsa yang saling tolong-menolong seperti
gotong-royong, dan menjauhkan diri dari sikap egois dan individualistis.
f. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain. Contoh perbuatannya seperti
melakukan perampokan, memberikan bunga terlalu tinggi lepada peminjam
terutama pada kalangan orang kecil dan miskin.
g. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum. Menjaga
kepentingan umum dan prasarana umum, sehingga sarana tersebut dapat
berguna bagi masyarakat luas.
h. Menghargai karya orang lain.