Anda di halaman 1dari 34

SIFAT PARTIKEL DARI

GELOMBANG

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bahan ajar ini anda diharapkan memiliki kemampuan untuk dapat:
1. Menjelaskan radiasi benda hitam
2. Menjelaskan efek fotolistrik
3. Menjelaskan sinar X
4. Menjelaskan efek compton
5. Menjelaskan bentuk pasangan

Petunjuk Penggunaan

Kemampuan tersebut sangat penting bagi mahasiswa karena materi ini sangat dasar dalam
pembelajaran fisika modern. Agar anda lebih berhasil mempelajari bahan ajar ini ikuti
petunjuk belajar berikut ini:
1. Baca dan pahami konsep dasar materi ini, lalu kaitkan dengan kehidupan nyata.
2. Tulis peta konsep tentang materi tersebut, lalu coba jelaskan dengan kata-kata
sendiri.
3. Kerjakan soal-soal latihan dengan tuntas.
4. Jika ada soal yang belum bisa dikerjakan, coba perhatikan rumus dasar tentang
materi tersebut.
5. Mantapkan pemahaman anda, dengan cara berdiskusi dengan teman sejawat.

41 5
BAB SIFAT PARTIKEL DARI
GELOMBANG
III
3.1. Radiasi Benda Hitam
A. Kegagalan Mekanika Klasik hingga Melahirkan Mekanika Kuantum
Mekanika klasik (Newton, Lagrange, Hamilton) sukses menjelaskan gerak dinamis
benda-benda makroskopis. Cahaya sebagai gelombang (Fresnel, Maxwell, Hertz) sangat
berhasil menjelaskan sifat-sifat cahaya.
Pada akhir abad ke-19, muncul suatu peramalan tentang Mekanika Klasik yang
menjelaskan bahwa suatu benda hitam yang ideal pada kesetimbangan termal akan
memancarkan radiasi dengan daya tak hingga. Walaupun ramalan ini terbukti salah
berdasarkan pengamatan, ramalan ini merupakan tanda-tanda awal adanya masalah pada
fisika klasik. Pada saat itu, fisika klasik dua cabang utama diantaranya yaitu:
Mekanika klasik Newtonian yang menyatakan bahwa adanya partikel sebagai sesuatu
yang terkurung dalam ruang. Maksudnya ada pembatas yang jelas antara materi dan
lingkungannya.
Teori medan magnetik Maxwellian yang dicirikan dengan kuantitas medan gelombang
yang menyebar di dalam ruang seperti kabut. Ketebalan kabut bermacam-macam dan
menipis sampai akhirnya hilang.
Mekanika klasik pada intinya menjelaskan tentang cahaya yang merupakan
gelombang elektromagnetik yang dihasilkan ketika muatan listrik bergetar. Menurut teori
mekanika klasik ini, suatu elektron akan bergetar secara acak dan menghasilkan cahaya
apabaila pada suhu yang tinggi. Apabila temperatur yang dihasilkan semakin tinggi, itu
berarti energi getaran yang dimiliki akan lebih besar sehingga cahaya yang dipancarkan juga
akan semakin banyak. Namun, Para fisikawan pada masa mekanika klasik belum mampu
menjelaskan gejala-gejala fisika yang bersifat mikroskopis dan bergerak dengan kecepatan
yang mendekati kecepatan cahaya seperti mengapa suatu benda memancarkan cahaya ketika
dipanaskan sampai temperatur tinggi, sehingga berkembangnya mekanika klasik terhenti.

42 5
Mekanika klasik yang tidak dapat menjelaskan radiasi benda hitam, merupakan alasan
yang memunculkan teori baru yaitu mekanika kuantum.
Radiasi benda hitam dalam mekanika klasik membahas mengenai benda hitam (black
body) yang merupakan objek yang dapat menyerap seluruh radiasi elektromagnetik yang
jatuh kepadanya. Tidak ada radiasi yang dapat keluar ataupun dipantulkan oleh benda hitam
tersebut. Namun, dalam mekanika klasik, secara teori benda hitam haruslah juga
memancarkan seluruh panjang gelombang yang mungkin, karena hanya dari hal itulah energi
dari benda hitam tersebut dapat diukur. Meskipun namanya benda hitam, namun tidaklah
harus benar-benar hitam karena benda ini juga memancarkan energi. Jumlah dan jenis radiasi
elektromagnetik yang dipancarkannya bergantung pada suhu benda hitam tersebut.
Benda hitam dengan suhu di bawah sekitar 700 kelvin hampir semua energinya
dipancarkan dalam bentuk gelombang inframerah dan sangat sedikit dalam bentuk
gelombang tampak. Semakin tinggi temperatur, semakin banyak energy yang dipancarkan
dalam panjang gelombang tampak dimulai dari merah, jingga, kuning dan putih. Cahaya yang
dipancarkan oleh benda hitam terebutlah yang disebut sebagai radiasi benda hitam.

Sumber:https://inas615.files.wordpress.com/2015/11/a5b57-303px-blackbody-svg.png
Gambar 3.1 Grafik Hubungan Intensitas dengan Panjang gelombang

Berdasarkan grafik di atas menjelaskan bahwa ketika temperatur berkurang, puncak


dari kurva radiasi benda hitam bergerak ke intensitas yang lebih rendah dan panjang
gelombang yang lebih panjang. Grafik radiasi benda hitam ini dibandingkan dengan model
klasik dari Rayleigh dan Jeans.
Pada tahun 1900, pemecahan Max Planck terhadap masalah ini bermuara pada bagian-
bagian awal mekanika kuantum. Max Planck mulai dengan asumsi baru, bahwa:
Permukaan benda hitam tidak menyerap atau memancarkan energi secara kontinu,
melainkan berjalan sedikit demi sedikit dan bertahap-tahap.
Benda hitam menyerap energi dalam berkas-berkas kecil dan memancarkan energi yang
diserapnya dalam berkas-berkas kecil pula yang disebut kuantum.

43 5
Dengan hipotesis yang revolusioner ini, Planck berhasil menemukan suatu persamaan
matematika untuk radiasi benda hitam yang benar-benar sesuai dengan data percobaan yang
diperolehnya. Persamaan tersebut selanjutnya disebut Hukum Radiasi Benda Hitam Planck
yang menyatakan bahwa intensitas cahaya yang dipancarkan dari suatu benda hitam berbeda-
beda sesuai dengan panjang gelombang cahaya.
Hipotesis Planck yang bertentangan dengan teori klasik tentang gelombang
elektromagnetik ini merupakan titik awal dari lahirnya teori kuantum yang menandai
terjadinya revolusi dalam bidang fisika.

B. Radiasi Benda Hitam


Dalam fisika, benda hitam (black body) adalah objek yang menyerap seluru radiasi
elektromagnetik yang jatuh padanya. Tidak ada radiasi yang dapat keluar atau
dipantulkannya. Namun, dalam fisika klasik, secara teori benda hitam haruslah juga
memancarkan seluruh panjang gelombang energi yang mungkin, karena hanya dari sinilah
energi benda itu dapat diukur.
Sinar yang masuk pada dinding berongga dengan lubang kecil sinar akan dipantulkan
intensitasnya selalu berkurang (karena sebagian senar diserap dinding) sampai suatu saat
energinya kecil sekali (hampir nol). Jadi dapat dikatakan bahwa sinar yang mengenai lubang
ini dinamakan benda hitam. Semakain kecil lubang semakin mirip dengan benda hitam
sempurna (karena semakin sedikit keluarnya sinar tersebut).
Pada saat benda hitam dipanaskan atau benda beronga dipanaskan misalnya T maka
dinding disekeliling rongga akan memancarkan radiasi dan memantulkan sebagian radiasi
yang datang (dan menyerap sisanya). Peristiwa penyerapan dan pemancaran oleh tiap-tiap
bagian dinding berongga akan berlangsung terus-menerus sehingga terjadi kesetimbangan
termal.
Pada keadaan seimbang termal suhu bagian dinding yang sudah sama besar sehingga
radiasi yang dipancarkan sama dengan energi yang diserapnya, dalam keadaan ini dalam
rongga dipenuhi oleh gelombang-gelombang yang dipancarkan oleh tiap titik pada dinding
rongga. Radiasi dalam rongga ini bersifat uniform. Jika dinding rongga diberi sebuah lubang
maka radiasi ini akan keluar dari lubang, radiasi yang keluar ini dianggap sebagai radiasi
benda hitam.

44 5
http://andikablogaddres.blogspot.co.id/2015/06/fisika-astronomi_3.html
Gambar 3.2 Eksperimen Radiasi Benda Hitam

Pada gambar 3.2 kotak dicat putih tetapi ketika kotak ditutup, lubang kotak tampak
hitam pada siang hari. Mengapa demikian? Ketika radiasi dari cahaya matahari memasuki
lubang kotak, radiasi dipantulkan berulangulang (beberapa kali) oleh dinding kotak dan
setelah pemantulan ini hampir dapat dikatakan tidak ada lagi radiasi yang tersisa (semua
radiasi telah diserap di dalam kotak) dengan kata lain, lubang telah berfungsi menyerap
semua radiasi yang datang padanya. Akibatnya benda tampak hitam.
Benda-hitam merupakan penyerap semua radiasi elektromagnet yang mengenainya,
atau pengemisi semua radiasi elektromagnet yang dimiliknya. Berdasarkan termodinamika,
distribusi panjang gelombang spektrumnya hanya bergantung pada temperatur tidak pada
jenis bahan benda-hitam. Benda hitam dimodelkan lubang kecil di dinding ruang kosong
yang gelap seperti pada Gambar 3.3.

Sumber:http://andikablogaddres.blogspot.co.id/2015/06/fisika-astronomi_3.html
Gambar 3.3 Radiasi Benda Hitam

Sebagian besar energi radiasi yang masuk melalui lubang ini akan diserap oleh
dinding-dinding bagian dalam. Dari sebagian yang terpantul hanya sebagian kecil yang dapat
keluar lewat lubang tersebut. Jadi dapat dianggap bahwa lubang ini berfungsi sebagai
penyerap yang sempurna. Benda hitam ini akan memancarkan radiasi lebih banyak jika
bendanya memiliki suhu tinggi. Spektrum benda hitam panas mempunyai puncak frekuensi
lebih tinggi daripada puncak spektrum benda hitam yang lebih dingin. Radiasi yang keluar ini
dianggap sebagai radiasi benda hitam. Ketika benda berongga dipanaskan, elektron-elektron
atau molekul-molekul pada dinding rongga akan mendapatkan tambahan energi sehingga
bergerak dipercepat. Menurut teori elektromagnetik muatan yang akan dipercepat akan
memancarkan radiasi. Radiasi inilah yang disebut sebagai sumber radiasi benda hitam.

45 5
Sumber:http://andikablogaddres.blogspot.co.id/2015/06/fisika-astronomi_3.html
Gambar 3.4 Model Rongga yang berlubang dipanaskan

Sumber:http://andikablogaddres.blogspot.co.id/2015/06/fisika-astronomi_3.html
Gambar 3.5 Bentuk Spektrum yang dihasilkan

C. Hukum-hukum pada Radiasi Benda Hitam


Hukum Stefan-Boltzman
Pada tahun 1859, Gustav Kirchoff membuktikan suatu teorema yang sama
pentingnya dengan teorema rangkaian listrik tertutupnya ketika ia menunjukkan argumen
berdasarkan pada termodinamika bahwa setiap benda dalam keadaan kesetimbangan
termal dengan radiasi daya yang dipancarkan adalah sebanding dengan daya yang
diserapnya. Untuk benda hitam, teorema kirchoff dinyatakan oleh persamaan:
(Rf = J (f ,T) ....................................................................................(3.1)
Dengan J (f,T) adalah suatu fungsi universal (sama untuk semua benda) yang bergantung
hanya pada f , frekuensi cahaya, dan T, suhu mutlak benda.
Persaman (3.1) menunjukkan bahwa daya yang dipancarkan per satuan luas per
satuan frekuensi oleh suatu benda hitam bergantung hanya pada suhu dan frekuensi
cahaya dan tidak bergantung pada sifat fisika dan kimia yang menyusun benda hitam,
dan ini sesuai dengan hasil pengamatan.

46 5
Perkembangan selanjutnya untuk memahami karakter universal dari radiasi benda
hitam datang dari ahli fisika Austria, Josef Stefan (1835-1893) pada tahun 1879. Ia
mendapatkan secara eksperimen bahwa daya total per satuan luas yang dipancarkan pada
semua frekuensi oleh suatu benda hitam panas, I total (intensitas radiasi total), adalah
sebanding dengan pangkat empat dari suhu mutlaknya. Karena itu, bentuk persamaan
empiris hukum Stefan ditulis sebagai berikut:
= = 4 ....................................................................................(3.2)
Keterangan:
Itot = intensitas (daya per satuan luas) radiasi pada permukaan benda hitam pada
semua frekuensi.
Rf = intensitas radiasi per satuan frekuensi yang dipancarkan oleh benda hitam.
T = suhu mutalak benda.
= tetapan Stefan-Boltzmann, yaitu 5,67 10-8 W m-2 K-4.

untuk benda panas yang bukan benda hitam akan memenuhi hukum yang sama hanya
diberi tambahan koefisien emisivitas, e, yang lebih kecil dari 1:

= = e 4

atau
P = e 4 ....................................................................................(3.3)

Keterangan :
P : Daya radiasi/energi kalor tiap sekon (W/m2)
Q : Kalor/panas yang diradiasikan (kalori)1 Kal = 4,2 joule
e : Emisitas, nilai e adalah 0 e 1
s : 5,67 x 10-8 Wm-2K-4
A : Luas permukaan benda (m2)
T4 : Suhu Mutlak (K-4)
W : Energi radiasi kalor (joule)
T : Waktu selama benda meradiasai (sekon)

Lima tahun kemudian konfirmasi mengesankan dari teori gelombang


elektromagnetik cahaya diperoleh ketika Boltzmann menurunkan Hukum Stefan dari
gabungan termodinamika dan persamaan-persamaan Maxwell. Karena itu
persamaan (3.3) dikenal juga sebagai hukum Stefan-Boltzmann.

47 5
Hukum Wien
Wien (Wilhelm Wien) menemukan hubungan sederhana antara panjang
gelombang cahaya yang dipancarkan untuk intensitas maksimum (m) dengan suhu
mutlak (T), dikenal hukum pergeseran Wien.
Hukum Pergeseran Wien jika benda padat dipanaskan samapai suhu yang sangat
tinggi, benda akan tampak memijar dan gelombang elektromegnitik yang dipancarkan
berada pada spektrum cahaya tampak. Jika benda terus dipanaskan, intensitas relatif dari
spektrum cahaya yang dipancarkan berubah-ubah. Gejala pergeseran nilai panjang
gelombang maksimum dengan berkurangnya suhu disebut pergeseran Wien.
Bila suhu benda terus ditingkatkan, intensitas relatif dari spektrum cahaya yang
dipancarkan berubah. Ini menyebabkan dalam warna-warna spektrum yang diamati, yang
dapat digunakan untuk menaksir suhu suatu benda yang digambarkan pada grafik
berikut.

Sumber:http://andikablogaddres.blogspot.co.id/2015/06/fisika-astronomi_3.html
Gambar 3.6 Grafik Pergeseran Wien terhadap Panjang Gelombang Benda

Pada gambar (3.6) menunjukkan hubungan antara benda dan panjang gelombang
yang dipancarkan, pada spektrum cahaya tampak warna mempunyai frekuensi terendah,
sedangkan cahaya ungu mempunyai frekuensi tertinggi
Perubahan warna pada benda menunjukkan perubahan intensitas radiasi benda.
Jika suhu benda berubah, maka intensitas benda akan berubah atau terjadi pergeseran.
Pergeseran ini digunakan untuk memperkirakan suhu suatu benda.
Hubungan ini ditulis Wien menjadi persamaan sebagai berikut:
C = m T .....................................................................................(3.4)
Keterangan:
C : Konstanta pergeseran Wien yaitu 2,9 x 10-3 mK
T : Suhu mutlak K
: Panjang gelombang m

48 5
Hukum Wien menyatakan bahwa makin tinggi temperatur suatu benda hitam,
makin pendek panjang gelombangnya. Hal ini dapat digunakan untuk menerangkan
gejala bahwa bintang yang temperaturnya tinggi akan tampak berwarna biru, sedangkan
yang temperaturnya rendah tampak berwarna merah. Energi pancaran tiap panjang
gelombang semakin besar, jika suhu semakin tinggi, sedangkan energi maksimalnya
bergeser kearah gelombang yang panjang gelombangnya kecil, atau ke frekuensi besar.

Sumber:http://andikablogaddres.blogspot.co.id/2015/06/fisika-astronomi_3.html
Gambar 3.7 Grafik hubungan antara Suhu dan Panjang Gelombang pada Intensitas
Maksimum.

Wien mempelajari hubungan antara suhu dan panjang gelombang pada intensitas
maksimum. Perhatikan gambar (3.7). Puncak-puncak kurva pada grafik (3.7)
menunjukkan intensitas radiasi pada tiap-tiap suhu. Dari gambar (3.7) tampak bahwa
puncak kurva bergeser ke arah panjang gelombang yang pendek jika suhu semakin
tinggi. Panjang gelombang pada intensitas maksimum ini disebut sebagai panjang
gelombang maks.

Intensitas Radiasi Benda Hitam Intensitas Radiasi Benda Hitam


terhadap Panjang Gelombang terhadap Frekuensi

Sumber:http://andikablogaddres.blogspot.co.id/2015/06/fisika-astronomi_3.html
Gambar 3.8 Kurva Kenaikan Temperatur Benda Hitam

49 5
Dari kurva di atas, terbaca bahwa dengan naiknya temperatur benda
hitam, puncak-puncak spektrum akan bergeser ke arah panjang gelombang yang semakin
kecil (Gambar 3.8a) atau puncak-puncak spektrum akan bergeser ke arah frekuensi yang
semakin besar (Gambar 3.8b). Melalui persamaan yang dikembangkan Wien maupun
menjelaskan ditribusi intensitas untuk panjang gelombang pendek, namun gagal untuk
menjelaskan penjang gelombang panjang. Hal itu menunjukan bahwa radiasi
elektromagnetik tidak dapat dianggap sederhana seperti proses termodinamika.
Teori ini selanjutnya dikembangkan oleh Reyleigh dan Jeans yang berlaku untuk
panjang gelombang yang lebih panjang. Menurut teori medan listrik-magnet dan
gelombang.

Teori Rayleigh-Jeans
Lord Rayleigh dan James Jeans mengusulkan suatu model sederhana untuk
menerangkan bentuk spektrum radiasi benda hitam. Mereka menganggap bahwa molekul
atau muatan di permukaan dinding benda berongga dihubungkan oleh semacam pegas.
Ketika suhu benda dinaikkan, muatan-muatan tersebut mendapatkan energi kinetiknya
untuk bergetar. Dengan bergetar berarti kecepatan muatan berubah-ubah (positif-nol-
negatif-nol-positif dan seterusnya).
Melalui model di atas, Rayleigh dan Jeans menurunkan rumus distribusi
intensitas, yang jika digambarkan grafiknya maka model yang diusulkan oleh Rayleigh
dan Jeans berhasil menerangkan spektrum radiasi benda hitam pada panjang gelombang
yang besar, namun gagal untuk panjang gelombang yang kecil. Rayleigh-Jeans
mengasumsikan dinding rongga berupa konduktor, yang jika dipanaskan elektron-
elektron pada dinding rongga akan tereksitasi secara thermal sehingga berosilasi.
Berdasarkan teori Maxwell, osilasi elektron ini menghasilkan radiasi
elektromagnet. Radiasi ini akan terkurung di dalam rongga dalam bentuk gelombang-
gelombang tegak, maka di dinding rongga terjadi simpul-simpul gelombang, karena
dinding rongga berupa konduktor.

Sumber:http://andikablogaddres.blogspot.co.id/2015/06/fisika-astronomi_3.html
Gambar 3.9 Muatan di Permukaan Dinding Benda Berongga dihubungkan oleh Semacam
Pegas

50 5
Teori Planck Radiasi Benda Hitam
Pada tahun 1900, fisikawan Jerman, Max Planck, mengumumkan bahwa dengan
membuat suatu modifikasi khusus dalam perhitungan klasik dia dapat menjabarkan
fungsi P (,T) yang sesuai dengan data percobaan pada seluruh panjang gelombang.
Hukum radiasi Planck menunjukkan distribusi (penyebaran) energi yang
dipancarkan oleh sebuah benda hitam. Hukum ini memperkenalkan gagasan baru dalam
ilmu fisika, yaitu bahwa energi merupakan suatu besaran yang dipancarkan oleh sebuah
benda dalam bentuk paket-paket kecil terputus-putus, bukan dalam bentuk pancaran
molar. Paket-paket kecil ini disebut kuanta dan hukum ini kemudian menjadi dasar teori
kuantum.

Sumber:http://andikablogaddres.blogspot.co.id/2015/06/fisika-astronomi_3.html
Gambar 3.10 Grafik Teori Planck

Max Planck menyatakan dua anggapan mengenai energi radiasi sebuah benda
hitam, yaitu:
a) Pancaran energi radiasi yang dihasilkan oleh getaran molekul-molekul benda
dinyatakan oleh:
E = n.h.v ...................................................................... (3.5)
Dengan:
v : Frekuensi
h : Konstanta Planck yang nilainya 6,626 10-34 Js, dan
n : Bilangan bulat yang menyatakan bilangan kuantum.

b) Energi radiasi diserap dan dipancarkan oleh molekul-molekul secara diskrit yang
disebut kuanta atau foton. Energi radiasi ini terkuantisasi, di mana energi untuk
satu foton adalah:
E = h.v ...................................................................... (3.6)

51 5
dengan h merupakan konstanta perbandingan yang dikenal sebagai konstanta
Planck. Nilai h ditentukan oleh Planck dengan menyesuaikan fungsinya dengan
data yang diperoleh secara percobaan. Nilai yang diterima untuk konstanta ini
adalah:
h = 6,626 10-34 Js
= 4,136 10-34 eVs.
Planck belum dapat menyesuaikan konstanta h ini ke dalam fisika klasik, hingga
Einstein menggunakan gagasan serupa untuk menjelaskan efek fotolistrik.

3.2. Efek Fotolistrik


A. Pendahuluan
Sumbangan besar Maxwell pada pengetahuan listrik dan magnet adalah
keberhasilannya dalam menyatukan semua kaedah yang dikenal waktu itu dibidang listrik
magnet. Hal itu dicapainya dengan meneruskan apa yang telah dirumuskan oleh Faraday
(1791-1867). Berdasarkan perangkat persamaan fundamental dalam listrik magnet, Maxwell
memperoleh solusi berupa gelombang. Atas dasar itu diramalkan tentang adanya gelombang
elektromagnetik, sesuatu yang belum diamati oleh para ilmuan.
Heinrich Hertz (1757-1894), menyelidiki implikasi eksperimental dari persamaan-
persamaan Maxwell. Sebagai guru besar pada sekolah teknik di Karlsruhe, ia melakukan
percobaan-percobaan mengenai gelombang elektromagnetik. Percobaan-percobaan yang
dirintisnya serta hasil percobaan para sarajana lain pada akhirya menunjukan adanya
gelombang elektromagnetik. Tak lama sesudah itu, cahaya juga diidentifikasi sebagai
gelombang elektromagnetik. Sifat gelombang cahaya didukung oleh bukti-bukti
eksperimental seperti percobaan Young dan difraksi cahaya. Bukti-bukti ini telah diperoleh
lama sebelum tahun 1871.
Meskipun sifat gelombang cahaya telah menetap disekitar abad ke-19, ada beberapa
percobaan dengan cahaya dan listrik yang sukar dapat diterangkan dengan sifat gelombang
cahaya itu. Dalam tahun 1888 Hallwachs mengamati bahwa suatu keping logam Zn akan
kehilangan muatan listrik negatifnya bila disinari dengan cahaya ultraviolet. Akan tetapi
apabila muatan keping itu mula-mula positif, maka tidak terjadi kehilangan muatan.
Diamatinya pula bahwa suatu keping yang netral akan memperoleh muatan positif apabila
disinari. Kesimpulan yang dapat ditarik dari pengamatan-pengamatan di atas adalah Bahwa
cahaya

52 5
cahaya ultraviolet mendesak keluar muatan listrik negatif dari permukaan keping logam yang
netral. Gejala ini dikenal sebagai efek fotolistrik.

Efek fotolistrik adalah gejala terlepasnya elektron dari permukaan logam karena logam
disinari oleh gelombang elektromagnetik pada frekuensi tertentu.

B. Teori Kuantum Einstein Tentang Efek Fotolistrik


Dalam postulatnya Planck mengkuantisasikan energi yang dapat dimiliki osilator,
tetapi tetap memandang radiasi thermal dalam rongga sebagai gejala gelombang. Einstein
dapat menerangkan efek fotolistrik dengan meluaskan konsep kuantisasi Planck. Einstein
menggambarkan bahwa apabila suatu osilator dengan energi pindah ke suatu keadaan dengan
energi, maka osilator tersebut memancarkan suatu gumpalan energi elektromagnetik dengan
energi. Einstein menganggap bahwa gumpalan energi yang semacam itu yang kemudian
dikenal sebagai foton, yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
a. Pada saat foton meninggalkan permukaan dinding rongga tidak menyebar dalam ruang
seperti gelombang, tetapi tetap terkonsentrasi dalam ruang yang terbatas yang sangat
kecil.
b. Dalam perambatannya, foton bergerak bergerak dengan kecepatan cahaya c.
c. Energi foton terkait dengan frekuensinya yang memenuhi E = hv.
d. Dalam proses efek fotolistrik energi foton diserap seluruhnya oleh elektron yang berada
dipermukaan logam.
Lima tahun sesudah Planck mengajukan makalah ilmiahnya tentang teori radiasi
thermal oleh benda hitam sempurna, yaitu pada tahun 1905, Albert Einstein mengemukakan
teori kuantum untuk menerangkan gejala fotolistrik. Secara eksperimental sahihnya teori
kuantum itu dibuktikan oleh Millikan pada tahun 1914. Millikan secara eksperimental
membuktikan hubungan linear antara tegangan pemberhenti elektron dan frekuensi cahaya
yang mendesak elektron pada bahan katoda tertentu.
Pada tahun 1921 Albert Einstein memperoleh hadiah Nobel untuk fisika, karena secara
teoritis berhasilkan menerangkan gejala efek fotolistrik

C. Mekanisme Terjadinya Efek Fotolistrik


Dalam eksperimennya Hertz menemukan bahwa latu pada celah transmiter terjadi bila
cahaya ultraungu diarahkan pada salah satu bola logamnya. Ia tidak melanjutkan percobaan
.....

53 5
tersebut, akan tetapi ahli fisika yang lain melanjutkan percobaan tersebut. Mereka
menemukan bahwa penyebab terjadinya latu adalah terpancarnya elektron pada frekuensi
yang cukup tinggi. Gejala ini dikenal sebagai efek fotolistrik. Gejala ini merupakan salah satu
ironi sejarah bahwa cahaya merupakan gelombang elektromagnetik.
Gambar 3.11 merupakan ilustrasi alat yang diipergunakan untuk membangkitkan
gejala fotolistrik. Tabung yang divakumkan berisi dua elektrode yang dihubungkan dengan
rangkaian eksternal. Keping logam yang permukaannya mengalami iradiasi, digunakan
sebagai anode. Sebagian dari fotoelektron yang muncul dari permukaan yang mengalami
radiasi memiliki energi yang cukup untuk mecapai katode, walaupun muatannya negatif, dan
elektron tersebut membentuk arus yang dapat diukur dalam amperemeter. Ketika potensial
perintang V diperbesar, elektron yang mencapai katode lebih sedkit dan arusnya menurun.
Akhirnya ketika V sama dengan atau melebihi suatu harga V 0 yang besarnya dalam orde
beberapa volt, maka tidak ada elektron yang mencapai katode dan arusnya terhenti.

Foton

Gambar 3.11 Susunan Rangkaian Efek Fotolistrik

Gejala efek fotolistrik dapat diterangkan sebagai berikut: Gelombang cahaya


membawa energi, dan sebagian energi yang diserap logam dapat terkonsentrasi pada elektron
tertentu dan muncul sebagai energi kinetik. Salah satu sifat yang menimbulkan pertanyaan
pengamat adalah distribusi elektron yang dipancarkan (fotoelektron), ternyata tak bergantung
pada intensitas cahaya. Berkas cahaya yang kuat menghasilkan fotoelektron lebih besar
daripada berkas cahaya yang lemah untuk frekuensi yang sama, akan tetapi energi elektron
rata-ratanya sama saja. Dalam batas ketelitian eksperimen (10 -9 s), tak terdapat kelambatan
waktu anatara kedatangannya cahaya pada permukan logam dan terpancarnya elektron.

54 5
Secara kuantum energi kuantum cahaya pada efek fotolistrik dipergunakan sebagai
energi untuk membebaskan elektron dari permukaan logam dan sisanya dipergunakan sebagai
energi kinetik elektron, yang secara matematis dirumsukan:
hv = Kmax + hvo .........................................................................................................................................................(3.7)

dengan :
hv :energi kuantum cahaya
Kmax :energi kinetik maksimum elektron
hvo :Fungsi kerja energi minimum yang diperlukan untuk melepaskan sebuah elektron
yang disinari.

Fungsi kerja adalah energi Fungsi kerja untuk masing-masing


minimum yang diperlukan untuk
permukaan logam memiliki nilai khas. Hal ini berarti
membebaskan elektron.
bahwa fungsi kerja merupakan besaran yang khas.
Untuk melepaskan elektron dari permukaan logam biasanya memerlukan separuh
energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron bebas dari atom yang bersangkutan.
Sebagai contoh energi ionisasi Cesium adalah 3,9 eV dengan fungsi kerjanya 1,7 hingga 3,3
eV. Gejala efek fotolistrik terjadi dalam daerah tampak dan ultraungu.
Selanjutnya kaitan antara fungsi kerja (energi ambang), tenaga kuantum cahaya, dan
tenaga kinetik elektron dapat dilihat pada Gambar (3.12).
E = hvo E = hv

K= hv - hvo
elektron K=0

Logam

Gambar 3.12. Ilustrasi tentang Efek Fotolistrik

Tabel fungsi kerja untuk beberapa logam dapa dilihat pada Tabel 3.1. Satuan fungsi
kerja biasanya dinyatakan dalam elektron volt (eV) yang besarnya setara dengan:
1 eV = 1,60.10-19 J ...............................................................................................(3.8)

55 5
Tabel 3.1. Fungsi Kerja Fotolistrik Beberapa Logam
Logam Lambang Fungsi Kerja (eV)
Cesium Cs 1,9
Kalium Ka 2,2
Natrium Na 2,3
Lithium Li 2,5
Kalsium Ca 3,2
Tembaga Cu 4,5
Perak Ag 4,7
Platina Pt 5,6

Beberapa pengamatan mengenai efek fotolistrik dapat diterangkan sebagai berikut:


a. Tenaga kinetik foto elektron tidak bergantung pada intensitas cahaya. Intensitas cahaya
berpengaruh terhadap jumlah foto elektron yang terpancar pada saat terjadi efek
fotolistrik.
b. Tenaga kinetik maksimum foto elektron bergantung pada frekuensi sinar yang
dipergunakan dalam percobaan efek fotolistrik. Semakin besar frekuensi foton, maka
semakin besar pula tenaga kinetik maksimum foto elektron.

Dua buah fakta eksperimen yang tidak dapat diterangkan dengan teori gelombnag
cahaya adalah:
a. Menurut teori gelombang, vektor medan listrik gelombang cahaya akan semakin besar
jika intensitasnya ditingkatkan. Pengaruh medan listrik terhadap elektron dapat
menimbulkan gaya sebesar eE, dengan e menyatakan muatan elementer elektron dan E
adalah medan listrik, sehingga energi kinetik foto elektron juga bertambah besar. Hal ini
bertentangan dengan fakta eksperimental.
b. Terdapat frekuensi ambang, untuk semua frekuensi di bawah frekuensi ambang,
fenomena efek fotolistrik tidak mungkin terjadi meskipun dipergunakan intensitas sinar
yang tinggi. Menurut teori gelombang, efek fotolistrik harus terjadi pada semua frekuensi
asalkan intensitas cahaya yang dipergunakan mencukupi untuk mendesak elektron dari
permukaan katoda.
Ternayata kesukaran untuk dapat menerangkan fakta eksperimental dengan teori yang
formal baru dapat teratasi apabila dalam peristiwa dan gejala efek fotolistrik, cahaya tidak
dianggap sebagai gelombang. Hal ini merupakan aspek utama dari teori kuantum Einstein.

56 5
Contoh Soal
Cahaya ultraungu dengan panjang gelombang 350 nm dan intensitas 1 W/m 2 jatuh pada
permukaan potassium.
a. Carilah energi kinetik maksimum fotoelektron.
b. Jika 0,5 persen foton yang datang dapat menimbulkan fotoelektron, berapa banyak
fotoelektron per detik dipancarkan oleh permukaan kalium ynag luasnya 1 cm 2?
Jawab :
a. Energi kuantum foton adalah, karena 1 nm = 1.10-9 m, maka
12,4 106 .
E = (350 )(109 / = 3,5 eV

Fungsi kerja potassium adalah 2,2 eV


Maka energi kinetik maksimum elektron adalah
KMax = hv hvo = 3,5 eV 2,2 eV = 1,3 eV

b. Energi foton

E = hv = h = 5,68.10-19 J

Jadi banyaknya foton yang tiba pada permukaan per detik adalah :

/ ( )()
n= =
= {(W/m2) (10-4 m-2)} / (5,68.10-19 J)
/

= 1,76.1014 foton/sekon

3.3. Sinar X dan Sifat-Sifatnya


Foton berenergi tinggi
Efek fotolistrik merupakan bukti yang meyakinkan bahwa foton cahaya dapat
mentransfer energi pada elektron. Apakah proses sebaliknya dapat terjadi? Dapatkah seluruh
energi kinetik atau sebagian energi kinetik elektron yang bergerak diubah menjadi foton?
A. Pembangkit Sinar X
Sinar X ditemukan oleh Wilhelm Roentgen
Sinar X adalah gelombang
elektromagnetik frekuensi tinggi pada tahun 1895. Daya tembusnya yang luar biasa
merupakan ciri yang sangat menarik pada saat itu.

57 5
Dengan gaya dramawan yang besar Roentgen menyebarkan hasil foto sinar X lengkap
dengan sepatu bootnya. Hal tersebut cukup menarik perhatian. Berbagai spekulasi dilontarkan
mengenai sinar yang dapat menembus kemana-mana, dengan segala khayalan tentang daya
tembusnya yang tinggi.
Sinar X terjadi apabila satu berkas elektron bebas berenergi kinetik tinggi mengenai
logam. Biasanya permukaan logam dengan nomor atom Z yang tinggi. Tempat dimana berkas
elektron itu menumbuk logam akan merupakan sumber sinar dengan daya tembus yang besar.
Secara skematis pembangkit sinar X dapat dilihat pada Gambar 3.13.

KATODA (K)

SINAR-X

ANODA (A)

Gambar 3.13 Skema Pembangkit Sinar X

K adalah katoda yang dihubungkan dengan kutub negatif sumber tegangan tinggi.
Katoda dipanaskan dengan menggunakan filamen agar lebih mudah memancarakan elektron.
A adalah anoda yang terbuat dari logam berat. Anoda dihubungkan dengan kutub
positif sumber tegangan tinggi. Beda potensial yang tinggi (beberapa kilo volt sampai dengan
seratus kilo volt) menyebabkan sesampainya di anoda, elektron yang dipancarkan oleh katoda
memiliki energi kinetik yang sangat besar. Elektron-elektron inilah yang dalam tumbukannya
dengan Anoda menimbulkan pancaran sinar X oleh Anoda.
Baik Katoda maupun Anoda ditempatkan dalam tabung gelas yang divakumkan, agar
perjalanan elektron dari Katoda ke Anoda tidak mendapat gangguan. Anoda A didinginkan

58 5
dengan air untuk menyalurkan kelebihan kalor yang timbul karena benturan berkas elektron
dengan permukaan Anoda. Jika pendinginnya tak dilakukan suhu Anoda akan terus
meningkat samapi terjadi peleburan.
Roentgen melaporkan bahwa sinar X terbentuk di anoda apabila elektron yang
berenergi tinggi menumbuk permukaan anoda. Bagaimanakah mekanismenya? Bagaimana
pula situasi fisiknya?
Keadaan fisiknya dapat digambarkan sebagai berikut:
Elektron berenergi tinggi sampai di permukaan logam, dan kemudian meneruskna
perjalanannya di dalam logam. Dipandang dari elektron yang datang, zat padat
merupakan susunan ion-ion berat berat dan lautan elektron bebas.
Interaksi antara elektron yang datang dengan susunan ion maupun lautan elektron logam
adalah interaksi elektromagnetik. Secara sederhana gaya interaksi yang terjadi dapat
dinamakan gaya tumbukan, dan interaksi tersebut disebut tumbukan.
Dalam tumbukan tersebut elektron berenergi tinggi kehilangan energinya sedikit demi
sedikit, karena tumbukan itu terjadi secara berangkai. Energi elektron ini diubah menjadi
pancaran elektromagnetik karena elektron megalami perlambatan, dan sebagian menjadi
energi getar kisi ion dalam kristal. Bagian yang akhir ini menyebabkan meningkatnya
suhu anoda. Bagian yang pertama (pancaran elektromagnet) adalah sinar X.
Panjang gelombang sinar X tersebar meliputi spektrum yang bersifat kontinu karena
prosesnya beruntun. Artinya spektrum yang terlihat mencakup berbagai tumbukan
sekaligus secara suksesis setiap elektron kehilangan energinya melalui tumbukan-
tumbukan berangkai.

B. Spektrum Sinar X
Ada berbagai cara untuk mengukur panjang gelombang sinar X. Salah satu yang
terbaik adalah dengan menggunakan pemantulan sinar X oleh suatu kisi kristal zat padat.
Apabila konfigurasi atom-atom diketahui dan jarak antara atom-atom tersebut juga diketahui
maka kisi kristal tersebut dapat dipergunakan sebagai analisator panjang gelombang sinar X.
Pada Gambar 3.14. ini disajikan spektrum sinar X yang menggunakan molybdenum
sebagai anoda.

59 5
Gambar 3.14 Spektrum Sinar X

Dalam grafik spektrum tersebut terlihat beberapa lengkung intensitas I terhadap


panjang gelombang , yang diplot pada berbagai beda potensial antara anoda dan katoda yang
berlainan, khususnya 10 kV, 20 kV, dan 25 kV. Beberapa pengamatan tentang grafik-grafik
eksperimental tersebut dapat diungkapkan sebagai berikut:
Kecuali grafik dengan beda potensial 25 kV, semua lengkung bersifat kontinu. Untuk
tegangan 25 KkV tampak dua puncak yang menjulang.
Panjang gelombang terpendek untuk setiap lengkung berlainan, makin tinggi beda
potensialnya makin pendek pula panjang gelombang terpendeknya.

Disamping itu diamati pula bahwa apabila dipergunakan beda tegangan yang lebih
tinggi 25 Kv, maka puncak-puncak yang menjulang tetap muncul, dan terletak pada panjang
gelombang yang sama. Apabila dipergunakan bahan anoda yang lain maka di atas beda
potensial tertentu juga terlihat puncak-puncak yang menjulang. Kedudukannya () tidak
sama dengan bahan molybdenum tadi.
Ternyata setiap bahan memiliki perangkat puncak-puncak yang tertentu
kedudukannya. Oleh karena itu maka kedudukan puncak-puncak itu merupakan sidik jari
yang memberikan cirikhas pada badan anoda. Puncak-puncak tersebut tersebut dinamakan
garis-garis kharateristik atau sinar-sinar karateristik.
Dengan demikian dapat diterangkan teori tentang hal-hal yang berkaitan dengan sifat
fisis sinar X sebagai berikut:

60 5
1. Panjang gelombang terpendek min bergantung pada beda potensial anoda dan katoda.
2. Bentuk spektrum yang kontinu terletak di bawah potensial tertentu.
3. Sinar-sinar kharateristik muncul pada beda potensial di atas nilai beda potensial tertentu.

Panjang gelombang terpendek min spektrum sinar X diperoleh pada beda potensial
tertentu V0. Tinjau sebuah elektron yang sampai di anoda setelah melampaui beda potensial
V0. Energi kinetik K elektron tersebut adalah:
K = e V0 ..................................................................................................................(3.9)
Dengan berpijak pada teori kuantum Einstein, bahwa sinar X merupakan suatu
gumpalan energi elektromagnetik dengan energi E yang memenuhi:
E = hn = hc/ .....................................................................................................(3.10)
Andaikan bahwa ada kemungkinan, melalui suatu mekanisme tertentu, seluruh energi
kinetik elektron pada saat menumbuk katoda semuanya dan tanpa kecuali menjadi suatu
foton sinar X. Dalam hal ini maka:
K = E atau hc/ = e V0 ........................................................................................(3.11)
Sehingga diperoleh :
1
= ..........................................................................................................(3.12)
0

Apabila panjang gelombang minimum min dinyatakan dalam meter dan V0 dalam volt
maka:

12,42 107
min = 0
............................................................................(3.13)

Apabila min dinyaatkan dalam Angstrom dan V0 dalam kilo volt, maka:
12,42
min = ............................................................................(3.14)
0

Bagaimanakah dapat diterangkan mengenai bentuk spektrum yang kontinu. Model


interaksi antara elektron dengan materi yang menghasilkan spektrum sinar X yang kontinu
adalah sebagai berikut:
Interaksi utama adalah antara elektron yang berenergi tinggi dengan inti-inti atom dalam
anoda.
Dalam interaksi tersebut bekerja gaya-gaya elektromagnetik. Karena gaya tersebut
elektron mengalami percepatan dan memancarkan radiasi. Secara skematis hal tersebut

61 5
dapat diamati pada Gambar 3.15.

Elektron foton

Inti (Ze)

Gambar 3.15 Radiasi Elektromagnetik karena Elektron yang dipercepat

Spektrum sinar X kontinu yang diperoleh dengan mekanisme tersebut di atas juga
disebut dengan brehmsstrahlung (bahasa Jerman brehms: rem, strahlung: sinar) karena
terjadi melalui pengereman elektron dalam zat padat. Brehmsstralung dapat dianggap sebagai
kebalikan dari efek fotolistrik (elektron kehilangan energinya kemudian timbul foton).
Spektrum kontinu murni diperoleh apabila beda potensial antara katoda dan anoda
dalam tabung sinar X tidak terlalu tinggi. Ujung paling kiri dari spektrum tersebut (panjang
gelombang 0 ) dengan mekanisme seluruh energi kinetik elektron berubah menjadi sebuah
foton dengan energi E = hc/0
Apabila beda potensial sangat tinggi sekali maka akan terlihat puncak-puncak yang
tajam tersuperposisi pada spektrum kontinu tersebut. Puncak-puncak tersebut tidak berasal
dari proses yang menghasilkan brehmsstrahlung melainkan berasal dari suatu proses
pemulihan ke keadaan semula dari suatu atom, dimana sebuah elektron kembali menduduki
tempat semula yang menjadi kosong karena posisi tersebut telah terlempar oleh elektron
cepat yang datang dari katoda.
Dalam proses pemulihan ini dipancarkan foton dengan panjang gelombang di daerah
sinar X. Elektron yang terlempar adalah elektron atom yang letaknya dekat dengan inti atom.
Sinar-sinar ini dinamakan radiasi karateristik, setiap logam memiliki perangkatnya sendiri-
sendiri. Perangkat radiasi karateristik ini sangat penting dalam bidang sinar X.
Elektron di dalam atom terbatas geraknya pada lintas-lintas edar tertentu seperti
planet-planet mengelilingi matahari. Pada suatu lintas edar tertentu elektron terkait pada inti
melalui energi ikat. Energi total pada suatu lintas edar adalah jumlah aljabar dari energi ikat
elektrostatik dan energi kinetik.
Apabila elektron luar berenergi tinggi menumbuk elektron yang terkait pada atom,
dan melemparkannya ke luar maka kedudukan dalam lintas edar menjadi kosong.
Kekosongan
62 5
Kekosongan ini mengundang elektron lain untuk menduduki lowongan tersebut. Dilihat dari
sudut atom maka elektron bebas yang akan terikat menjadi planet atom, akan kehilangan
energi totalnya. Besarnya energi total ini di suatu lintas edar mencirikan lintas edar dari atom
tersebut.
Dalam proses pemulihan ini energi yang hilang (energi total elektron) akan
terpancar sebagai foton dengan energi tertentu. Berbagai lintas edar masing-masing memiliki
harga fotonnya tersendiri. Karena itu radiasinya dinamakan radiasi kharakteristik. Sinar
karakteristik dalam spektrum sinar X menguatkan teori Bohr tentang terkuantisasinya lintas
edar dalam suatu atom.

Sifat-sifat sinar X :
1. Tidak dibelokkan oleh medan
magnet maupun medan listrik.
2. Mempunyai daya tembus sangat
tinggi.
3. Dapat menghitamkan pelat foto.

Contoh Soal
Cari panjang gelombang terkecil dalam radiasi mesin sinar-x yang potensial
pemercepatnya 50.000 V.
Jawaban:
Dengan menggunakan persamaan berikut, kita peroleh:
1,24 106 .
min = = 2,5 x 10-11 m = 0,025 nm
5 104

Panjang gelombang ini bersesuaian dengan frekuensi


3 108 /
vmaks = = = 1,2 x1019 Hz
2,5 1011

63 5
3.4. Efek Compton
Dalam teori kuantum cahaya dianggap bahwa foton dalam perjalanannya dalam ruang
dengan kecepatan c tidak menyebar sebagaimana gelombang, tetapi tetap terkonsentrasi
dalam ruang yang sangat kecil. Hal ini sangat mirip dengan zarah. Pertanyaan berikut adalah :
Apakah kesejajaran ini lebih luas lagi, artinya apakah foton juga memiliki sifta-sifat lain
dari zarah?
Pada tahun 1923, Compton memberikan kesimpulannya mengenai hamburan sinar X
oleh materi. Dalam naskah ilmiahnya A Quantum Theory of Scattering of X-Rays by Light,
Compton menerangkan percobaannya tentang hamburan sinar X oleh materi. Diamatinya
bahwa panjang gelombang sinar X yang terhambur berbeda dengan panjang gelombang sinar
x sebelum terhambur. Perubahan gelombang tersebut ternyata juga bergantung dari sudut
hamburan. Kesimpulan yang dicantumkan dalam naskah Compton tersebut dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Teori Compton saat ini bertopang pada pengandaian bahwa setiap elektron yang berperan
dalam proses ini menghambur suatu kuantum cahaya yang utuh (foton)
Teori ini berlandaskan pada hipotesa bahwa kuantum-kuantum cahaya datang dari
berbagai arah tertentu dan dihamburkan pula dalam arah-arah tertentu (tidak acak).
Hasil eksperimen yang dilakukan untuk menyelidiki teori tersebut dengan sangat
meyakinkan telah menunjukkan bahwa gumpalan radiasi (kuantum radiasi, foton),
kecuali membawa energi juga memiliki momentum linear.

Hal di atas adalah suatu kesimpulan yang memiliki dampak yang mendasar, karena
foton juga ditandai dengan suatu besaran disebut beisik lain yaitu momentum linear.
Untuk dapat memahami kesimpulan-kesimpulan tersebut berikut ini akan dibahas
tentang percobaan Compton.
Sinar X yang dipancarkan oleh sumbernya dijadikan sinar monokhromatis lebih dahulu,
kemudian dijatuhkan pada suatu zat penghambur S.
Dari S berkas sinar X dihambur ke segala arah. Celah pengkolimator dan sistem
analisator di belakangnya memilih berkas yang terhambur dalam suatu arah tertentu ().
Dengan menggerakkan pengkolimator dan sistem analisator secara bersama dengan S
sebagai sumbu gerak perputaran maka dapat dipelajari baik intensitas maupun panjang
gelombang sinar X yang dihamburkan. Kedudukan pengkolimator terhadap
penghambur S mendefenisikan sudut hamburan .

64 5
Kristal C dan detektor D merupakan bagian penganalisa sinar x terhambur. Pengukuran
ini dilakukan dengan sangat teliti melalui metoda refleksi Bragg, terutama mengenai nilai
panjang gelombang terhambur .
Hasil percobaan Compton menunjukkan bahwa besar panjang gelombang terhambur
tergantung pada sudut .

Sinar X monokhomatis

Celah Kolimator C: Kristal


0

S: Penghambur

D: Detektor

Gambar 3.16 Percobaan Compton

Hasil percobaan menunjukkan bahwa panjang gelombang terhambur sebagai fungsi


. Puncak kiri berasal dari hamburan Thomson (panjang gelombang tidak berubah). Panjang
gelombang sinar X terhambur sama dengan panajng gelombang sinar X asal. Puncak kanan
berasal dari hamburan Compton (panjang gelombang berubah).
Compton dapat menerangkan terjadinya pergeseran panjang gelombang dengan
menganggap bahwa berkas sinar x terdiri dari foton-foton yang berperilaku sebagai zarah.
Foton-foton tersebut dalam tumbukannya dengan elektron-elektron bahan penghambur
mengikuti hukum-hukum mekanika.
Apabila foton dianggap sebagai suatu zarah, bagaimanakah diperoleh momentum
linearnya? Berpijak dari teori kuantum Einstein, bahwa energi foton E bergantung pada
frekuensi radiasi sebagai berikut:
E=hv ................................................................................................................(3.15)
Energi relativistik total suatu zarah yang bergerak dengan kecepatan v adalah :
2
E= 2
..........................................................................................................(3.16)
1 2

Karena kecepatan foton adalah c, dan mo harus sama dengan nol. Jadi foton harus
dianggap sebagai zarah dengan massa diam sama dengan nol. Energinya hanya energi kinetik
saja, sehingga ungkapan umum untuk energi total adalah :
65 5
E2 = p2c2 + 2c4 ................................................................................................(3.17)
Untuk sebuah foton diperoleh:
E = pc ..................................................................................................................(3.18)
Dari ungkapan tersebut diperoleh:

p== = ....................................................................................................(3.19)

Hubungan ini dipergunakan untuk menelaah tumbukan antara foton dengan elektron.
Tinjauan sebuah foton sinar X yang melakukan tumbukan dengan sebuah elektron
dari bahan penghambur. Karena energi foton sangat besar dibandingkan dengan tenaga ikat
elektron dalam bahan maka sangat secara praktis elektron dapat dianggap sebagai elektron
bebas. Keadaan awal dan akhir tumbukan tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.17.

y y
(1 , E1,p1 )


Foton (, , p) elektron

(p, K)

elektron

Sebelum Tumbukan Sesudah Tumbukan

Gambar 3.17 Tumbukan antara Foton dengan Elektron

Kekekalan momentum linear:


po = p1 cos + p cos ........................................................................................(3.20)
0 = p1 sin - p sin ........................................................................................(3.21)
Kuadratnya memberikan:
(po pi cos )2 = p2 cos2 ....................................................................................(3.22)
1 2 sin = p2 sin2 ..............................................................................................(3.23)
Jumlah dari kedua persamaan tersebut memberikan:
0 2 + 1 2 - 2 0 1 cos = p2 .............................................................................(3.24)
Kekekalan energi relativistik total mempersyaratkan:
Eo + moc2 = E1 + K + moc2
E E
o 1= K ...........................................................................................................(3.25)

66 5
Karena untuk foton E = pc maka persamaan di atas menjadi:
c (po p1) = K ...................................................................................................(3.26)
untuk elektron:
(K + moc2)2 = E2 = p2c2 + (moc2)2 ........................................................................(3.27)
Yang dapat disederhanakan menjadi:
(K2 + 2 K moc2) = p2c2 ..........................................................................................(3.28)
Atau :
2
+ 2 m o K = p2 ..............................................................................................(3.29)
2

Ungkapan tersebut dapat disederhanakan menjadi:


mo c (po p1) = po p1 (1 cos ) ..........................................................................(3.30)
atau:
1 1 1
- = (1 cos ) ...............................................................................(3.31)
1 0 0
1
Karena p = .... atau ... = maka diperoleh:


- o = (1 cos ) ..................................................................................(3.32)
0

Persamaan tersebut dapat dituliskan:

= - o = c (1 cos )
...........................................(3.33)

c =
= 2,43.10 -12
m = 0,0243 A o
0

Pada persamaan (3.33), adalah pergeseran panjang gelombang sinar x karena

hamburan. c adalah panjang gelombang Compton.


Hasil telaah yang dipresentasikan dalam bentuk Persamaan Compton menyatakan
bahwa pergeseran panjang gelombang hanya bergantung pada sudut hamburan , dan
tidak bergantung pada panjang gelombang maupun intensitas sinar x. Dalam penurunan
persamaan Compton tersebut yang kebenarannya dapat diverifikasi secara eksperimen
didasarkan pada momentum linear foton.
Teori kuantum Einstein tentang cahaya dan percobaan Compton memberikan suatu
sisi lain dari cahaya yang bersifat sebagai zarah yakni:

67 5
Terpusat dalam daerah terbatas dalam ruang
Bergerak dengan kecepatan cahaya c
Memiliki energi sebesar E = hv
Memiliki momentum linear p = E/c, (massa m o = 0)

Cahaya bersifat dualistik :


Untuk menerangkan beberapa gejala fisis tertentu cahaya harus dipandang sebagai
gelombang.
Dan untuk menerangkan beberapa gejala lainnya sifat zarah yang menonjol, dalam peran
yang demikian cahaya berperilaku sebagai foton.

Perubahan panjang gelombang maksimum sama dengan dua kali panjang gelombang
Compton.

Contoh Soal
1. Sinar x dengan panjang gelombang 10 pm dihamburkan oleh suatu sasaran yang
berupa bahan penghambur.
a. Hitunglah panjang gelombang sinar x yang terhabur dengan sudut 45o.
b. Hitunglah panjang gelombang maksimum yang ada dalam sinar x terhambur.
c. Hitunglah energi kinetik maksimum yang terhentak (elektron-recoil).

2. Sebuah foton dengan tenaga 0,81 MeV menumbuk elektron diam dengan energi 0,51
MeV, selanjutnya foton terhambur pada sudut 60o. Dari data tersebut tentukan :
a. Panjang gelombang foton terhambur
b. Energi kinetik elektron terhambur

Jawaban:
1. a. Panjang gelombang terhambur:
= - o = c (1-cos )o
= o + c (1-cos)
= 10 pm + 0,293c
= 10,7 pm

68 5
b. Panjang gelombang maksimum
- o maksimum..jika..(1-cos ) = 2
= o + 2c = 10 pm + 4,9 pm = 14,9 pm

c. energi kinetik recoil elektron maksimum sama dengan beda antara energi foton datang
dan energi foton terhambur.
1 1
Kmax = h (vo v) = hc (o )
(6,625 1034 ) (3 108 /) 1 1
Kmax = (10 ) = 6,54.10-15 J = 40,8 keV
1012 / 14,9

2. Diketahui: tenaga foton awal = 0,81 MeV = (0,81.106) (1,6.10-19 J) = 1,269.10-13 J


Sudut hamburan foton = 60o
Tenaga diam elektron Eo = 0,51 MeV = 0,816.10-13 J

a. Panjang gelombang foton terhambur:


Terlebih dahulu dihitung panjang gelombang foton datang sebagai berikut:
(6,625 1034 ) (3 108 /)
= = = 1,534 m
1,296.1013

Selanjutnya dengan persamaan hamburan Compton dapat ditentukan panjang


gelombang foton terhambur sebagai berikut:

- = (1-cos )
0


= + (1-cos )
0

(6,625 1034 )
= 1,534.10-12 m - (9,1.1031 )(3.108 /) (1-cos 60o)

=2,747.10-12 m

b. Tenaga kinetik elektron: dapat ditentukan dengan mudah menggunakan hukum


kekekalan energi .
+ Eo = + E
+ Eo = + Eo + K

69 5
K =
Dengan:
(6,625 1034 ) (3 108 /)
= = = 7,234.10-14 J
2,747.1012

Diperoleh:
K = (12,97.10-14 7,234.10-14) = 5,726.10-14 J
Atau
K = 0,358 MeV

3.5. Bentuk Pasangan


Energi menjadi materi.

Foton dapat menjelma menjadi Produksi pasangan terjadi karena interaksi antara
pasangan elektron-positron. foton dengan medan listrik dalam inti atom berat.

http://smukmin.blogspot.co.id/2011/10/interaksi-radiasi-dengan-materi.html
Gambar 3.18 Proses Terjadinya Produksi Pasangan

Ketika muatan suatu sistem bernilai awal nol, maka dua partikel yang berlawanan
muatannya harus diciptakan guna mengkonversi muatan. Untuk menggabungkan sebuah
pasangan, foton datang harus memiliki energi yang setidaknya setara dengan energi diam
pasangan tersebut, dan setiap kelebihan energi foton akan muncul sebagai energi kinetik
partikel.
Produksi pasangan tidak dapat terjadi di ruang hampa. Oleh karenanya terlihat
kehadiran nukleus berat pada gambar di atas. Nukleus membawa sejumlah momentum foton
datang, tapi karena massanya yang besar, energi kinetik lompatannya, Kp2/2m0,

70 5
biasanya diabaikan terhadap energi-energi kinetik pasangan elektron-positron. Dengan
demikian, kekekalan energi dapat diterapkan dengan mengabaikan nukleus berat, sehingga
menghasilkan:
h = m+c2 + m-c2 = K+ + K- + 2moc2
karena positron dan elektron memiliki massa diam yang sama, m0 = 9,11x10-31 kg.
Kebalikan proses produksi pasangan juga dapat terjadi yang dinamakan pemisahan
pasangan (Gambar 3.19).

http://smukmin.blogspot.co.id/2011/10/interaksi-radiasi-dengan-materi.html
Gambar 3.19 Proses Terjadinya Pemisahan Pasangan

Peristiwa pemisahan pasangan terjadi bila positron berdekatan dengan elektron dan
keduanya saling mendekati di bawah pengaruh gaya tarik menarik dari muatan yang
berlawanan. Kedua partikel tersebut musnah pada saat yang sama dan massa yang musnah
tersebut menjadi energi dan foton sinar gamma yang tercipta. Sedikitnya dua foton harus
dihasilkan untuk memenuhi kekekalan energi dan momentum.
Adapun persamaan yang dapat diperoleh sebagai berikut:
Eawal = Eakhir
atau
2moc2 + K+ + K- = h1+ h2 ..............................................................................(3.34)
pawal = pakhir
atau

m+v+ + m-v- = 2k1 + k2 ...............................................................................(3.35)
2

dengan k adalah vektor perambatan foton, |k|=2/.

Berlawanan dengan produksi pasangan, ternyata pemisahan pasangan dapat dilakukan


di ruang hampa dan prinsip-prinsip energi dan momentum dapat diterapkan.

71 5
Proses
` lain yang dapat terjadi apabila foton menumbuk atom adalah produksi pasangan, di
mana seluruh energi foton hilang dan dalam proses ini dua partikel tercipatakan, yakni sebuah
elektron dan sebuah positron. (Positron adalah sebuah partikel yang massanya sama dengan
massa elektron, tetapi memiliki muatan positif). Proses ini merupakan contoh penciptaan
energi massa. Elektronnya tidak ada sebelum foton menumbuk atom (elektron ini bukanlah
elektron milik atom). Energi foton yang hilang dalam proses ini berubah menjadi energi
relativistik positron E+ dan elektron E-:
hv = E+ + E-
= ( 2 + + ) + ( 2 + ) .........................................................(3.36)
Karena + dan selalu positif, maka foton haruslah memiliki energi sekurang-kurangnya
2 2 = 1,02 MeV agar proses ini dapat terjadi; foton yang berenergi setinggi ini berada
dalam daerah sinar gamma inti atom. Secara perlambang,
Foton Elektron + Positron
Proses di atas, seperti halnya bremsstrahlung, hanya dapat terjadi jika terdapat sebuah atom di
sekitar elektron yang memasok momentum pental yang diperlukan. Proses kebalikannya,
Elektron + Positron Foton
Juga terjadi; proses ini dikenal sebagai pemusnahan positron dan dapat terjadi bagi elektron
dan positron bebas dengan persyaratan harus tercipta sekurang-kurangnya dua buah foton
dalam proses ini. Kekekalan energi mensyaratkan bahwa, jika E1 dan E2 adalah energi masing-
masing foton, maka
( 2 + + ) + ( 2 + ) = E1 + E2
Karena + dan sangat kecil sehingga positron dan elektron dapat dianggap diam, maka
kekekalan momentum mensyaratkan bahwa kedua foton memiliki energi sama, 2 dan
bergerak segaris dalam arah yang berlawanan.
Energi diam 0 2 dari elektrondan positron ialah 0,51 MeV, jadi produksi pasangan
memerlukan energi foton sekurang-kurangnya 1,02 MeV. Setiap tambahan energi foton akan
menjadi energi kinetik elektron dan positron. Panjang gelombang foton yang bersesuaian
dengan itu ialah 0,012. Gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang sebesar itu
disebut sinar gamma dan didapatkan dalam alam sebagai pancaran dari inti radioaktif dan
dalam sinar kosmik.
Kebalikan dari produksi pasangan terjadi bila elektron dan positron bertemu dan
musnah dan tercipta sepasang foton. Arah foton itu sedemikian sehingga energi dan
momentum liniernya kekal, dan tidak perlu ada inti atau partikel lain yang diperlukan supaya
proses pemusnahan (anihilasi) ini terjadi.

72 5
Contoh Soal
1. Hitunglah frekuensi foton yang dihasilkan ketika sebuah elektron 20 KeV menjadi
diam akibat tumbukan dengan sebuah nukleus berat.
2. Tentukan momentum foton 12,0 MeV.
Jawaban:
1. Asumsinya seluruh energi kinetik elektron digunakan untuk menghasilkan foton,
maka kita akan mendapatkan:
Eawal = Eakhir
K + moc2 = hv + moc2
20 x 103 eV = (4,136 x 10-15 eV.s)v
v = 4,84.1018 Hz
2. Momentum foton adalah:

P = = 12 MeV/c

Rangkuman

1. Radiasi benda hitam adalah benda yang dapat menyerap seluruh radiasi yang
diterimanya dan memancarkan seluruh radiasi yang dikeluarkannya.
2. Efek fotolistrik adalah gejala terlepasnya elektron dari permukaan logam karena
logam disinari oleh gelombang elektromagnetik pada frekuensi tertentu.
3. Sinar X adalah gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi. Sinar X terjadi apabila
satu berkas elektron bebas berenergi kinetik tinggi mengenai logam.
4. Efek Compton adalah terhamburnya foton setelah ditumbukkan pada elektron.
5. Bentuk Pasangan adalah salah satu efek interaksi suatu penyinaran pada suatu benda
atau materi. Produksi pasangan terjadi karena interaksi antara foton dengan medan
listrik dalam inti atom berat.

73 5
Soal-soal
1. Pada malam yang cerah, permukaan bumi melepaskan panas secara radiasi.
Andaikan suhu tanah adalah 10oC dan tanah meradiasikan panas seperti benda
hitam, berapakah laju hilangnya panas tiap m 2?
2. Fungsi kerja logam platina adalah 9,9.10-19 joule. Berapakah frekuensi
ambang cahaya untuk melepaskan fotoelektron dari platina?
3. Berapakah tegangan yang harus dipasang pada tabung sinar x supaya dalam
tabung itu terpancar sinar x dengan panjang gelombang minimum 30 pm?
4. Suatu berkas cahaya dalam eksperimen hamburan Compton terhambur
dengan panjang gelombang 0,01 nm. Jika sudut hamburan foton adalah 90 o,
berapakah panjang gelombang foton yang datang?
5. Sebuah foton dengan panjang gelombang 0,0030 Ao yang berada di sekitar
nukleus berat menghasilkan pasangan elektron-positron. Tentukanlah energi
kinetik setiap partikel jika besarnya energi kinetik positron dua kali besar
energi kinetik elektron.

74 5