Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH DINAMIKA POPULASI

PREDASI DAN MIGRASI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Dinamika Populasi

Disusun oleh:

Kelompok 4

Maulana Ranantika Habibie 230110150160


Emerson Junior Sipahutar 230110150165
Muwahid Izharil Haq 230110150166
Gita Endang Palufi 230110150172
Surya Adhie 230110150173
Muhammad Dikyah Fadhillah 230110150180
Aramita Livia Ardis 230110150187
Luqman Faisal Sidqi 230110150193
Farras Faishal 230110150199
Muhammad Heffiqri Riady 230110150201
Hana Dimas Khoironnisa 230110150207
Dhea Zeria Santika 230110150213
Muhammad Fauzan Pramono 230110150223

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada kehadirat Allah Subhaanahu wa


Taalaa, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Dinamika Populasi ini hingga selesai.
Makalah ini kami susun berdasarkan pembahasan dari beberapa referensi
dari internet maupun buku-buku yang ada sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini hingga akhir.
Kekurangan tidak luput dalam pembuatan makalah ini, baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu, saran dan kritik dari pembaca
sangat kami butuhkan agar kami dapat memperbaiki makalah ini maupun makalah
selanjutnya.
Akhir kata kami berharap semoga makalah yang telah kami susun ini dapat
memberikan manfaat dan pengetahuan yang bertambah kepada pembaca.

Jatinangor, September 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

BAB Halaman
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Tujuan ......................................................................................... 2
1,3 Manfaat ....................................................................................... 3

II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Migrasi ...................................................................... 4
2.2 Faktor yang Mempengaruhi Migrasi Ikan .................................. 5
2.3 Jenis Migrasi ............................................................................... 7
2.4 Pengertian Predasi....................................................................... 9
2.5 Pengaruh Predasi terhadap Ekosistem ........................................ 12

III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................. 13
3.2 Saran ........................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 15

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dinamika populasi ikan merupakan suatu ilmu yang mempelajari perubahan-
perubahan yang terjadi pada populasi ikan, misalnya pertumbuhan, mortalitas,
rekrutmen dan pengaruh penangkapan terhadap populasi ikan. Untuk memahami
dinamika populasi suatu spesies ikan, tidak cukup mengetahui ukuran dan struktur
populasi dari spesies ikan tersebut, tetapi diperlukan juga data mengenai bentuk dan
kemampuan untuk berkembang biak dan beradaptasi dengan lingkungannya.
(Effendie 1995). Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perubahan
kelimpahan populasi pada ikan yaitu variasi lingkungan, dinamika ekosistem dan
pola penangkapan. Dinamika ekosistem merupakan faktor yang harus diperhatikan
setelah dari variasi lingkungan. Adapun dinamika ekosistem meliputi interaksi
beberapa spesies, migrasi, rekruitmen dan sebagainya. Pada beberapa pembagian
tersebut yang akan mendalam dibahas, mengenai interaksi dan migrasi pada suatu
ruang lingkup ekosistem ikan.
Beragam bentuk interaksi dalam suatu ekosistem seperti kompetisi, predasi
dan simbiotik. Salah satu interaksinya akan dibahas lebih detail, yaitu interaksi
berupa predasi. Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator).
Pemangsaan mempunyai arti perusakan dengan cara dimakan atau dimangsa,
sedangkan ikan pemangsa (predator) biasanya diartikan sebagai musuh. Hal yang
perlu diketahui dalam hubungan mangsa pemangsa adalah jenis, jumlah dan ukuran
ikan yang dimangsa serta bagaimana frekuensi pemangsa mengambil mangsanya
(Effendie 1997). Kemudian juga akan dibahas lebih menjurus lagi tentang migrasi,
yang mana merupakan salah satu faktor yang memengaruhi ukuran ataupun
kelimpahan suatu populasi. Migrasi atau yang lebih dikenal dengan ruaya
merupakan suatu proses perpindahan ikan dari suatu tempat ke tempat lain yang
memungkinkan ikan untuk hidup, tumbuh, ataupun berkembang biak.

1
2

Ruaya ataupun migrasi ini biasanya dipengaruhi oleh faktor internal yaitu
genetik atau insting, makanan, dan reproduksi serta faktor eksternalnya adalah
temperatur, salinitas dan predator. Lucas & Baras (2001) menyebutkan secara
umum migrasi merupakan pergerakan suatu spesies pada fase tertentu dalam jumlah
banyak ke suatu wilayah. Ikan yang berangkat dan menuju suatu lokasi yang sama
ataupun hampir sama dengan tempat lahirnya. Migrasi menuju tempat reproduksi
umumnya dilakukan setiap tahun atau setiap musim pemijahan sedangkan migrasi
yang dilakukan ikan yang masih kecil (juvenil) untuk mencari makanan dapat
dilakukan berulang kali.
Apabila luas suatu daerah tetap dan jumlahnya individu yang datang lebih
besar daripada yang pergi maka kepadatan populasi akan mengecil. Pada suatu
daerah yang tersedia cukup ruang dan makanan akan cenderung mendorong
bertambahnya jumlah individu. Hal itu akan meningkatkan jumlah populasi
sekaligus meningkatkan kepadatan populasi. Meningkatnya jumlah populasi
organisme pada suatu daerah akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan populasi.
Pertumbuhan populasi akan terus berlangsung selama lingkungan mampu
menunjang kehidupan. Apabila populasi sudah mencapai titik maksimum atau
melebihi daya dukung lingkungan akan menurun (Zainal 2007). Dalam hal ini
predasi dan migrasi memiliki hubungan dalam prosesnya yang mana dalam
berjalannya proses tersebut terdapat beberapa aspek yang terlibat.

1.2 Rumusan Masalah


Penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah
ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Beberapa masalah tersebut antara
lain:
1. Apakah terdapat relevansi antara predasi dan migrasi ?
2. Apakah ada keuntungan dan kerugian dari aktivitas predasi dan migrasi ?
3. Bagaimana konsep dari interaksi predasi ?
4. Bagaimana pembagian dan contoh dari aktivitas migrasi ?
3

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penulisan makalah
ini sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian predasi
2. Mengetahui pengaruh predasi terhadap ekosistem
3. Mengetahui pengertian migrasi pada ikan
4. Mengetahui faktor penyebab terjadinya migrasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Migrasi


Migrasi ikan adalah adalah pergerakan perpindahan dari suatu tempat ke
tempat yang lain yang mempunyai arti penyesuaian terhadap kondisi alam yang
menguntungkan untuk eksistensi hidup dan keturunannya. Ikan mengadakan
migrasi dengan tujuan untuk pemijahan, mencari makanan dan mencari daerah yang
cocok untuk kelangsungan hidupnya. Migrasi ikan dipengaruhi oleh beberapa
faktor baik faktor eksternal (berupa faktor lingkungan yang secara langsung atau
tidak langsung berperan dalam migrasi ikan) maupun internal (faktor yang terdapat
dalam tubuh ikan).
Ruaya merupakan satu mata rantai daur hidup bagi ikan untuk menentukan
habitat dengan kondisi yang sesuai bagi keberlangsungan suatu tahapan kehidupan
ikan. Studi mengenai ruaya ikan menurut Cushing(1968) merupakan hal yang
fundamental untuk dunia perikanan karena dengan mengetahui lingkaran ruaya ikan
akan diketahui daerah dimana stok atau sub populasi itu hidup. Ruaya ini
mempunyai arti penyesuaian, peyakinan terhadap kondisi yang menguntungkan
untuk eksistensi dan untuk reproduksi spesies.
Menurut Chimit (1960) dalam Effendie (1997) tidak semua ikan melakukan
ruaya. Ada ikan bukan peruaya yaitu ikan yang tidak pernah meninggalkan
habitatnya. Ikan peruaya pada waktu tertentu meninggalkan habitatnya untuk
melakukan aktivitas tertentu, sehingga ada beberapa spesies ikan mempunyai
daerah ruaya yang berbeda baik secara musiman maupun pada tahapan
perkembangan hidup. Beberapa istilah yang berkaitan dengan ruaya ikan yaitu :
a) Amfibiotik : ikan yang beruaya dari air laut ke air tawar atau sebaliknya.
b) Holobiotik : ikan yang tidak melakukan ruaya selama hidupnya tinggal di air
tawar atau di air laut saja. Namun ada beberapa menjadi peruaya.
c) Diadrom : ikan melakukan ruaya untuk berpijah
d) Amfidrom : ikan beruaya untuk mencari makanan

4
5

e) Potamodrom : ikan yang hidup dan beruaya di perairan tawar saja termasuk
sungai
dan danau
f) Oseanodrom : ikan yang hidup di laut dan beruaya di laut.
g) Batidrom : ikan yang beruaya di perairan dalam
h) Brakheadrom : ikan yang beruaya di perairan dangkal
i) Katadrom : ikan yang beruaya dari air tawar ke laut hanya untuk berpijah
j) Anadrom : ikan yang beruaya dari laut ke air tawar untuk berpijah

2.2 Faktor Yang Menyebabkan Migrasi Ikan


a. Faktor Eksternal
1. Bimbingan ikan yang lebih dewasa
Ikan mampu melakukan migrasi untuk kembali ke daerah asal karena
adanya bimbingan dari ikan yang lebih tua.
Contoh: migrasi ikan herring Norwegia atau ikan Cod laut Barents, ikan lebih tua
cenderung tiba di tujuan lebih dulu dari pada ikan muda.
2. Bau perairan
Ikan anadromous mampu bermigrasi ke daerah asal dengan melalui
beberapa cabang sungai, kemampuan memilih cabang sungai yang benar diduga
dilakukan dengan mengenali bau-bauan bahan organik yang terdapat dalam sungai.
Contoh: Ikan salmon mampu mengenali bau morpholine dengan konsentrasi 1 x 10-
6ppm, jika suatu cabang sungai diberi larutan morpholine, maka ikan salmon akan
masuk ke cabang sungai tadi. Hal ini menunjukkan bahwa ikan menggunakan
indera pencium untuk bermigrasi kedaerah asalnya.
3. Suhu
Fluktuasi suhu dan perubahan geografis merupakan faktor penting yang
merangsang dan menentukan pengkonsentrasian serta pengelompokkan ikan. Suhu
akan mempengaruhi proses metabolisme, aktifitas erakan tubuh dan berfungsi
sebagai stimulus saraf.
6

Contoh: suhu permukaan yang disukai ikan cakalang berkisar 160-260C, sedangkan
suhu tinggi merupakan faktor penghambat bagi ikan salmon untuk bermigrasi (pada
suhu 240C tidak ada ikan salmon yang bermigrasi).
4. Salinitas
Ikan cenderung memilih medium dengan salinitas yang lebih sesuai dengan
tekanan osmotik tubuh mereka masing-masing. Perubahan salinitas akan
merangsang ikan untuk melakukan migrasi ke tempat yang memiliki salinitas yang
sesuai dengan tekanan osmotik tubuhnya.
Contoh: Seriola qiuqueradiata menyukai medium dengan salinitas 19 ppt,
sedangkan ikan cakalang menyukai perairan dengan kadar salinitas 33-35 ppt.
5. Arus pasang surut
Arus akan mempengaruhi migrasi ikan melalui transport pasif telur ikan dan
juvenil dari daerah pemijahan menuju daerah asuhan dan mungkin berorientasi
sebagai arus yang berlawanan pada saat spesies dewasa bermigrasi dari daerah
makanan menuju ke daerah pemijahan. Ikan dewasa yang baru selesai memijah juga
memanfaatkan arus untuk kembali ke daerah makanan. Pasang surut di perairan
menyebabkan terjadinya arus di perairan yang disebut arus pasang dan arus surut.
6. Intensitas cahaya
Perubahan intensitas cahaya sangat mempengaruhi pola penyebaran ikan,
tetapi respon ikan terhadap perubahan intensitas cahaya dipengaruhi oleh jenis ikan,
suhu dan tingkat kekeruhan perairan. Ikan mempunyai kecenderungan membentuk
kelompok kecil pada siang hari dan menyebar pada malam hari.
7. Musim
Musim akan mempengaruhi migrasi vertikal dan horisontal ikan, migrasi ini
kemungkinan dikontrol oleh suhu dan intensitas cahaya. Ikan pelagis dan ikan
demersal mengalami migrasi musiman horisontal, mereka biasanya menuju ke
perairan lebih dangkal atau dekat permukaan selama musim panas dan menuju
perairan lebih dalam pada musim dingin.
8. Matahari
Ikan-ikan pelagis yang bergerak pada lapisan permukaan yang jernih
kemungkinan besar menggunakan matahari sebagai kompas mereka, tetapi hal ini
7

mungkin tidak berlaku bagi ikan-ikan laut dalam yang melakukan migrasi akibat
pengaruh musim.
9. Pencemaran air limbah
Pencemaran air limbah akan mempengaruhi migrasi ikan, penambahan
kualitas air limbah dapat menyebabkan perubahan pola migrasi ikan ke bagian hulu
sungai.
Contoh: ikan white catfish pada musim pemijahan banyak terdapat didaerah muara,
padahal biasanya ikan ini memijah di hulu sungai. Tetapi migrasi mereka terhalang
oleh air limbah di Hulu sungai.
b. Faktor Internal
10. Kematangan gonad
Kematangan gonad diduga merupakan salah satu pendorong bagi ikan untuk
melakukan migrasi, meskipun bisa terjadi ikan-ikan tersebut melakukan migrasi
sebagai proses untuk melakukan pematangan gonad.
11. Kelenjar-kelenjar internal
Migrasi ikan Cod di laut Barent dikontrol oleh kelenjar tiroid yang berada
di kerongkongan, kelenjar tersebut aktif pada bulan September yang merupakan
waktu pemijahan ikan Cod.
12. Insting
Ikan mampu menemukan kembali daerah asal mereka meskipun
sebelumnya ikan tersebut menetas dan tumbuh di daerah yang sangat jauh dari
tempat asalnya dan belum pernah melewati daerah tersebut, kemampuan ini diduga
berasal dari faktor insting.
13. Aktifitas renang
Aktifitas renang ikan meningkat pada malam hari, kebanyakan ikan
bertulang rawan (elasmobranch) dan ikan bertulang keras (teleost) lebih aktif
berenang pada malam hari daripada di siang hari.
2.3 Jenis Migrasi
Dilaut, beberapa jenis ikan bermigrasi sepanjang tahun. Pada saat remaja
mereka melakukan migrasi dengan jarak meter hingga ribuan kilometer dan
kembali lagi untuk bertelur. Secara umum pola migrasi ikan dilaut dipengaruhi oleh
8

arus dan oceanografi. Pola migrasi ikan laut dapat dibedakan menjadi beberapa
macam, berikut gomumu gambarkan 2 pola migrasi yang paling penting untuk
diketahui:

Oceanodromouse
Pola migrasi ini merupakan pola yang paling umum dijumpai pada beberapa
jenis ikan di lautan didunia. Ikan-ikan didunia hidup dan bermigrasi dilaut, tanpa
melibatkan pengaruh air tawar. Beberapa jenis ikan seperti ikan Herring ( Clupea
harengus), Cod (Gadus morhua), Tuna Putih (Germo alalunga), dan Tuna Merah
(Thunnus thynnus) melakukan migrasi ribuan kilometer dari lautan kelautan lainnya
serta dari musim ke pergantian musim lainnya.

Anadromous
Pola migrasi jenis-jenis ikan ini dilakukan dengan tujuan kebutuhan akan
lingkungan yang sesuai untuk proses perkembengan telur. Pola migrasi ini adalah
ikan ditetaskan di perairan tawar, hidup dilautan, dan bermigrasi ke perairan tawar
untuk peneluran. Pola migrasi ini dimainkan dengan peran adaptasi fisiologis
(Osmoregulasi) yang sangat unik. Dimana ikan-ikan tersebut harus bertahan dengan
pergantian kadar garam yang drastis, dari kondisi lingkungan berkadar garam tinggi
(laut) ke daerah yang berkadar garam rendah (sungai). Kemampuan adaptasi ini
hanya bisa dimiliki oleh beberapa jenis ikan dilautan. Jenis-jenis ikan yang
memiliki kemampuan ini seperti ikan Salmon dan belut dari genus Anguilla.
Selain 2 pola migrasi diatas ada beberapa pola migrasi lainnya seperti
Potamodromous: menetas dan bermigrasi di habitat air tawar. Contoh: redhorse
sicklefin. Pola migrasi Amphidromous: menetas di air tawar, kemudian hanyut ke
laut sebagai larva sebelum bermigrasi kembali ke air tawar untuk tumbuh menjadi
dewasa dan bertelur. Contoh: Goby Sungai. dan pola migrasi Catadrom: menetas
di air asin, kemudian bermigrasi ke air tawar sebagai remaja di mana mereka
tumbuh menjadi orang dewasa sebelum bermigrasi kembali ke laut untuk bertelur.
Contoh: Belut Amerika.
9

2.4 Pengertian Predasi


Pemangsaan mempunyai arti pengrusakan dengan cara dimakan atau
dimangsa, sedangkan ikan pemangsa (predator) biasanya diartikan sebagai musuh.
Hal yang perlu diketahui dalam hubungan mangsa pemangsa adalah jenis, jumlah
dan ukuran ikan yang dimangsa serta bagaimana frekuensi pemangsa mengambil
mangsanya (Effendie, 1997). Umumnya para ahli biologi menganggap bahwa
predator semuanya spesies karnivor, termasuk ikan pemakan ikan (piscivor) dan
pemakan bermacam-macam invertebrata mulai dari berukuran kecil sampai
berukuran besar. Menurut Weatherley dan Gill (1987) ada 11 prinsip mengenai
hubungan mangsa dan pemangsa pada ikan :
1. Jumlah ikan yang dimakan oleh piscivor lebih banyak dibandingkan dengan
jumlah ikan yang ditangkap oleh nelayan.
2. Ukuran mangsa yang dimakan oleh pemangsa semakin bertambah besar
dengan bertambah besarnya ukuran pemangsa.
3. Pemangsa memiliki kesukaan (preferensi) pada spesies mangsa dengan
ukuran tertentu.
4. Pemangsa umumnya mengambil bermacam-macam mangsa.
5. Pemangsaan terhadap suatu jenis mangsa memungkinkan terjadi perubahan
terhadap kepadatan mangsa.
6. Pemangsa mungkin mengganti makanannya dengan spesies lain dalam
suatu suatu kesetimbangan biologi.
7. Jumlah mangsa berkurang akibat pemangsaan oleh tekanan pemangsa.
8. Komposisi komunitas mangsa dipengaruhi oleh pemangsa.
9. Populasi mangsa yang melimpah dapat merangsang pertumbuhan dan
densitas pemangsa.
10. Persaingan antara spesies pemangsa dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
densitas populasi.
11. Pemangsaan terhadap mangsa tertentu dapat menurunkan persaingan
diantara spesies mangsa sehingga dapat penambahan keragaman komunitas
mangsa.
10

Lebih lanjut dikemukakan bahwa kebanyakan spesies ikan memiliki


kebiasaan makan yang bervariasi. Umumnya ikan memperlihatkan tingkat
kesukaan makan terhadap organisme makanan tertentu dan hal ini terlihat dalam
organisme makanan yang predominan dalam lambungnya.
Menurut Effendie (1997) yang dimaksud dengan kebiasaan makanan (food
habits) adalah jenis, kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan oleh ikan.
Ketersedian makanan merupakan faktor yang menentukan ukuran populasi,
pertumbuhan, reproduksi dan dinamika populasi serta kondisi ikan yang ada di
suatu perairan (Nikolsky, 1963). Makanan yang telah digunakan oleh ikan akan
mempengaruhi sisa ketersediaan makanan, sebaliknya dari makanan yang diambil
tersebut akan mempengaruhi keberhasilan hidupnya. Adanya makanan yang
tersedia dalam perairan selain dipengaruhi oleh kondisi biotik seperti tersebut
diatas, ditentukan pula oleh kondisi abiotik lingkungan seperti suhu, cahaya, ruang
dan luas permukaan (Effendie, 1997).
Jumlah makanan yang dibutuhkan oleh suatu jenis ikan tergantung pada
macam makanan, kebiasaan makanan, kelimpahan ikan, suhu air dan kondisi ikan
yang bersangkutan. Jenis-jenis makanan yang dimakan oleh suatu spesies ikan
biasanya biasanya tergantung pada umur ikan, tempat dan waktu (Effendie, 1997).
Adapun struktur pencernaan yang berperan dalam adaptasi makanan adalah mulut,
gigi, tapis insang, lambung dan usus (Lagler, 1972).
Effendie (1997) mengelompokkan ikan berdasarkan makanannya sebagai
ikan sebagai pemakan plankton, pemakan tanaman, pemakan dasar, pemakan
detritus, ikan buas dan pemakan campuran. Selanjutnya berdasarkan kepada jumlah
variasi dari makanan tadi, ikan dapat dibagi menjadi eurypagic yaitu ikan pemakan
bermacam-macam makanan, stenophagic yaitu ikan pemakan makan yang
macamnya sedikit atau sempit dan monophagic yaitu ikan yang makanannya terdiri
dari satu macam makanan saja.
Mempelajari makanan ikan-ikan pemangsa dapat melalui: (1) penentuan
komposisi spesies dan ukuran dari organisme makanan yang ditemukan dalam
saluran pencernaan; (2) penentuan laju pencernaan; dan (3) penentuan kuantitas
makanan yang dikonsumsi oleh ikan. Menurut Hyslop (1980), studi tentang
11

makanan ikan didasarkan pada analisis isi saluran pencernaan saat ini merupakan
standar dalam ekologi ikan. Berbagai metode digunakan untuk menentukan
makanan yang dominan dikonsumsi oleh ikan. Metode tersebut mencakup
frekuensi kejadian, metode jumlah, metode volumetrik dan metode gravimetrik
(Popova, 1978). Analisis isi saluran pencernaan yang dilakukan di alam
berdasarkan pada kelebihan dan kelemahan metode yang ada (Hyslop, 1980).
Menurut Effendie (1979) keuntungan menggunakan metode frekuensi
kejadian adalah organisme makanan dengan mudah diidentifikasi, cepat dan
membutuhkan peralatan yang minimum. Kelemahannya metode ini kurang
memberikan indikasi tentang jumlah relatif jenis makanan yang terdapat dalam
lambung. Metode jumlah merupakan metode yang relatif cepat dan mudah
dikerjakan serta memberikan identifikasi spesies yang jelas. Kelemahan dari
metode ini adalah organisme makanan yang berukuran kecil yang mungkin lebih
cepat dicerna tidak tercatat. Dengan analisis volumetrik, volume total dari kategori
makanan yang dikonsumsi oleh ikan ditentukan sebagai persentase total volume
dari semua lambung. Perhitungan dari rata-rata dimensi spesies makanan
didasarkan pada jumlah individu yang selanjutnya akan menentukan volume
ratarata. Kelebihan dari metode volumetrik adalah dapat digunakan khusus untuk
organisme makanan dengan variasi makanan yang dimakan berukuran besar.
Berikut beberapa contoh ikan-ikan pemangsa.

Gambar 1. Piranha Gambar 2. Arapaima gigas


Sumber: Sumber:
http://majalahhewan.com/2016/04/ika http://majalahhewan.com/2016/04/ika
n-predator/ n-predator/
12

Gambar 3. Oscar Gambar 4. Belida


Sumber: Sumber:
http://majalahhewan.com/2016/04/ika http://majalahhewan.com/2016/04/ika
n-predator/ n-predator/

2.5 Pengaruh Predasi terhadap Ekosistem


Beberapa pengaruh predasi terhadap ekosistem perairan diantaranya adalah
sebagai berikut :
1. Sebagai sumber kematian, apabila pemangsa (predator) lebih banyak dalam
suatu lingkungan mangsa, maka akan menyebabkan kematian atau
kepunahan makhluk hdup yang dimangsa.
2. Populasi predator memiliki potensi untuk mengurangi, atau bahkan
mengatur, pertumbuhan populasi mangsa.
3. Pada gilirannya, sebagai sumber daya penting, ketersediaan mangsa dapat
berfungsi untuk mengatur populasi predator.
4. Menjaga keseimbangan organisme dalam suatu ekosistem. jika mereka
tidak ada, maka satu spesies bisa menjadi dominan atas orang lain.
5. Penurunan tingkat produsen (mangsa) dapat memiliki efek yang merugikan
pada seluruh ekosistem.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Predasi mempunyai arti pengrusakan dengan cara dimakan atau dimangsa,
sedangkan ikan pemangsa (predator) biasanya diartikan sebagai musuh. Terjadinya
predasi sangat dipengaruhi oleh kebiasaan makan dari individu tersebut. yang
dimaksud dengan kebiasaan makanan (food habits) adalah jenis, kualitas dan
kuantitas makanan yang dimakan oleh ikan. Ketersedian makanan merupakan
faktor yang menentukan ukuran populasi, pertumbuhan, reproduksi dan dinamika
populasi serta kondisi ikan yang ada di suatu perairan (Nikolsky 1963)
Predasi memiliki peran tersendiri dalam ekosistem yakni sebagai sumber
kematian, apabila pemangsa (predator) lebih banyak dalam suatu lingkungan
mangsa, maka akan menyebabkan kematian atau kepunahan makhluk hdup yang
dimangsa, Populasi predator memiliki potensi untuk mengurangi, atau bahkan
mengatur, pertumbuhan populasi mangsa dalam garis besar dapat dikatakan bahwa
fungsi dari predasi dalam ekosistem adalah umtuk Menjaga keseimbangan
organisme dalam suatu ekosistem. jika mereka tidak ada, maka satu spesies bisa
menjadi dominan atas spesies lain.
Migrasi ikan adalah adalah pergerakan perpindahan dari suatu tempat ke
tempat yang lain yang mempunyai arti penyesuaian terhadap kondisi alam yang
menguntungkan untuk eksistensi hidup dan keturunannya. Ikan mengadakan
migrasi dengan tujuan untuk pemijahan, mencari makanan dan mencari daerah yang
cocok untuk kelangsungan hidupnya. Migrasi ikan dipengaruhi oleh beberapa
faktor baik faktor eksternal (berupa faktor lingkungan yang secara langsung atau
tidak langsung berperan dalam migrasi ikan) maupun internal (faktor yang terdapat
dalam tubuh ikan).
Migrasi pada ikan terjadi karena adanya faktor faktor yang mempengaruhi
terjadinya migrasi, faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi ada dua yakni
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi terjadinya
migrasi adalah kemtanagan gonad dari individu dan insting dari individu. Faktor

13
14

eksternal yang mempengaruhi migrasi antara lain salinitas, ketersediaan makanan,


suhu, musim dll.

3.2 Saran
Makalah mengenai Predasi dan Migrasi yang ditujukan untuk memenuhi
mata kuliah Dinamika Populasi diharapkan bisa menjadi sumber referensi bagi
pembaca. Apabila dalam penyusunan dan olah kata didalamnya terdapat beberapa
kesalahan maka dari itu kritik dan saran yang dapat membangun tentunya sangat
dibutuhkan demi kesempurnaan pembuat makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Effendie. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama: Yogyakarta. 163


hal.
Weatherley, A.H., dan H.S. Gill. 1987. The Biology of fish growth. Academic
Press, London, U.K. 443p
Nikolsky, G. V. 1963. The Ecology of Fishes.Academic Press. London
Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta.
Moyle, P.B. & J.J. Cech. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology. Second
Edition. Prentice Hall, New Jersey.
Melta Rini Fahmi. Kunci Sukses Adaptasi Ikan Migrasi. Jurnal Phenotypic
Plasticity: Studi kasus ikan sidat (Anguilla sp.).
http://kliksma.com/2015/01/pengertian-predasi-dan-contoh-predasi-dalam-
ekosistem.html
digilib.uin-suka.ac.id
etd.repository.ugm.ac.id
ppku.ipb.ac.id
repository.ipb.ac.id

15