Anda di halaman 1dari 22

SKENARIO B

1. Dr. Eny baru dipindahkan sebagai dokter Puskesmas Gandus. Ia mendapat data di
Puskesmas bahwa banyak kejadian cacingan pada anak-anak di wilayah kerja
Puskesmas Gandus.
a. Apa yang dimaksud dengan cacingan?
Jawab:
Cacingan adalah menderita sakit karena banyak cacing didalam saluran cerna
Gambaran klinis:
1) Infeksi cacing tambang (hookworm)
Infeksi biasanya asmptomatik. Pruritis berat (ground itch) terjadi
ditempat penetrasi larva, biasanya pada telapak kaki atau diantara jari
kaki dan dapat berupa papul dan vesikel.
Gejala nyeri abdomen, anoreksia, gangguan pencernaan, rasa penuh
dan diare
Anemia merupakan manifestasi utama
2) Infeksi cacing gelang (askariasis)
Askariasis pulmonal saat larva bermigrasi melalui paru, dengan gejala
batuk, sputum dengan bercak darah, eosinofilia dan infiltrat transien
pada rontgen dada.
Ketika larva dewasa diusus : nyeri abdominal dan distensi usus
3) Viscera larva migran
Cacing bermigrasi dan berikatan dengan respon imun, dapat berupa
gejala demam, batuk, mengi dan kejang.
Pemeriksaan klinis ditemukan limfadenopati, hepatomegali, crackles,
dan ruam
Gejala visual seperti penurunan ketajaman penglihatan, strabismus,
edema periorbital atau kebutaan
4) Infeksi cacing pipih (schistosomiasis)
Gejala disebakan oleh telur yang terjebak ditempat disposisi atau
dilokasi metastik dalam perkembangannya dapat timbul gejala berupa :
demam, malaise, batuk, sakit perut dan ruam

KAMILA 702013067 Page 1


Gejala diikuti dengan respon inflmasi sehingga menimbulkan gejala
lain. Demam katamaya yaitu kondisi akut dengan demam, kehilangan
berat badan, hepatosplenomegali, dan eosinofilia.
(Behrman, 2000)

b. Apa saja faktor risiko yang dapat menyebabkan cacingan?


Jawab:
Menurut Hotes (2003) mengemukakan bahwa faktor-faktor risiko yang dapat
mempengaruhi terjadinya penyakit cacingan yang penyebarannya melalui tanah
antara lain :

1. Lingkungan
Penyakit cacingan biasanya terjadi di lingkungan yang kumuh terutama di
daerah kota atau daerah pinggiran (Hotes, 2003). Sedangkan menurut Phiri
(2000) yang dikutip Hotes (2003) bahwa jumlah prevalensi Ascaris
lumbricoides banyak ditemukan di daerah perkotaan. Sedangkan menurut
Albonico yang dikutip Hotes (2003) bahwa jumlah prevalensi tertinggi
ditemukan di daerah pinggiran atau pedesaan yang masyarakat sebagian besar
masih hidup dalam kekurangan.

2. Tanah
Penyebaran penyakit cacingan dapat melalui terkontaminasinya tanah dengan
tinja yang mengandung telur Trichuris trichiura, telur tumbuh dalam tanah liat
yang lembab dan tanah dengan suhu optimal 30C (Depkes R.I, 2004:18).
Tanah liat dengan kelembapan tinggi dan suhu yang berkisar antara 25C-30C
sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides sampai menjadi
bentuk infektif (Srisasi Gandahusada, 2000:11).Sedangkan untuk pertumbuhan
larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum 28C-32C dan
tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma duodenale
lebih rendah yaitu 23C-25C tetapi umumnya lebih kuat (Gandahusada,
2000).
3. Iklim
Penyebaran Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura yaitu di daerah tropis
karena tingkat kelembabannya cukup tinggi. Sedangkan untuk Necator

KAMILA 702013067 Page 2


americanus dan Ancylostoma duodenale penyebaran ini paling banyak di
daerah panas dan lembab. Lingkungan yang paling cocok sebagai habitat
dengan suhu dan kelembapan yang tinggi terutama di daerah perkebunan dan
pertambangan (Onggowaluyo, 2002).

4. Perilaku
Perilaku mempengaruhi terjadinya infeksi cacingan yaitu yang ditularkan
lewat tanah (Peter J. Hotes, 2003:21). Anak-anak paling sering terserang
penyakit cacingan karena biasanya jari-jari tangan mereka dimasukkan ke
dalam mulut, atau makan nasi tanpa cuci tangan (Oswari, 1991).

5. Sosial Ekonomi
Sosial ekonomi mempengaruhi terjadinya cacingan menurut Tshikuka (1995)
dikutip Hotes (2003) yaitu faktor sanitasi yang buruk berhubungan dengan
sosial ekonomi yang rendah.

6. Status Gizi
Cacingan dapat mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif),
penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara keseluruhan
(kumulatif), infeksi cacingan dapat menimbulkan kekurangan zat gizi berupa
kalori dan dapat menyebabkan kekurangan protein serta kehilangan darah.
Selain dapat menghambat perkembangan fisik, anemia, kecerdasan dan
produktifitas kerja, juga berpengaruh besar dapat menurunkan ketahanan
tubuh sehinggamudah terkena penyakit lainnya.
(Depkes R.I, 2006)

Faktor risiko terjadinya cacingan pada anak adalah:


Perilaku cuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun berpengaruh
terhadap kejadian infeksi cacingan
Perilaku buang air besar tidak pada jamban atau buang air besar sembarang
tempat menyebabkan pencemaran tanah dan lingkungan oleh tinja yang berisi
telur cacing, penyebaran infeksi cacingan tergantung dari lingkungan yang
tercemar tinja yang mengandung telur cacing. Infeksi pada anak sering terjadi

KAMILA 702013067 Page 3


karena menelan tanah yang tercemar telur cacing atau melalui tangan yang
terkontaminasi telur cacing. Penularan melalui air sungai juga dapat terjadi,
karena air sungai sering digunakan untuk berbagai keperluan dan aktifitas
seperti mandi, cuci, dan tempat buang air besar.
Perilaku jajan di sembarang tempat dapat tercemar oleh debu dan kotoran
yang mengandung telur cacing, hal ini dapat menjadi sumber penularan infeksi
cacingan pada anak.
(Umar, 2008)

2. Ia mengobservasi bahwa anak-anak jarang mencuci tangan sebelum makan.


a. Bagaimana cara mengobservasi perilaku pada anak?
Jawab:
Dalam melaksanakan observasi ada beberapa langkah/ fase utama yang harus
ditempuh, antara lain :
a. Pertemuan Perencanaan Dalam menyusun rencana observasi perlu diadakan
pertemuan bersama untuk menentukan urutan kegiatan observasi dan
menyamakan persepsi antara 2 observer (pengamat) dan observee (yang
diamati) mengenai fokus permasalahan yang akan diamati.
b. Observasi Kelas Dalam fase ini, observer mengamati proses pembelajaran
dan mengumpulkan data mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses
pembelajaran tersebut, baik yang terjadi pada siswa maupun situasi di dalam
kelas.
c. Diskusi Balikan Pada fase ini, guru sebagai peneliti bersama dengan
pengamat mempelajari data hasil observasi untuk dijadikan catatan lapangan
dan mendiskusikan langkah-langkah selanjutnya. Kegiatan ini harus
dilaksanakan dalam situasi saling mendukung (mutually supportive) serta
didasarkan pada informasi yang diperoleh selama observasi.

Pada intinya pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa dilakukan dengan


melihat, mendengarkan, merasakan, dan kemudian mencatat.
(Budioro, 2002)

KAMILA 702013067 Page 4


b. Apa saja hal-hal yang harus dipersiapkan dalam metode observasi?
Jawab:
Beberapa alat yang diperlukan dalam metode observasi adalah
1. Checklist adalah suatu daftar untuk mencek, yang berisi nama subjek dan
beberapa gejala serta identitas lainnya dari sasaran pengamatan.
2. Skala penilaian (rating scale) adalah skala yang berisikan ciri-ciri tingkah
laku, yang dicatat secara bertingkat.
3. Daftar riwayat kelakuan (Anecdotal Record) adalah catatan-catatan mengenai
tingkah laku seseorang yang diluar biasa sifatnya atau yang khas.
4. Alat-alat mekanik (elektronik) adalah alat-alat berupa alat perekam, alat
fotografis, film, tape recorder, kamera telivisi, dan sebagainya.
(Notoatmodjo, 2012)

c. Apa dampak jarang mencuci tangan sebelum makan?


Jawab:
Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit.
Hal ini dilakukan karena tangan sering menjadi agen yang membawa kuman dan
menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan
kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-
permukaan lain seperti handuk, gelas). Tangan 16 yang bersentuhan langsung
dengan kotoran manusia dan binatang, ataupun cairan tubuh lain (seperti ingus)
dan makanan/minuman yang terkontaminasi saat tidak dicuci dengan sabun dapat
memindahkan bakteri, virus, dan parasit pada orang lain yang tidak sadar bahwa
dirinya sedang ditulari.
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah
penyakit diare dan ispa, yang keduanya menjadi penyebab utama kematian pada
anak-anak, selain itu dapat mencegah infeksi kulit, mata, cacing yang tinggal di
dalam usus, SARS, dan flu burung.
(depkes, 2014)

3. Ia mendapatkan informasi bahwa penyuluhan tentang cuci tangan sudah sering


dilakukan di sekolah-sekolah wilayah Gandus, namun tidak berdampak pada
perilaku anak-anak.
a. Apa tujuan dari penyuluhan?

KAMILA 702013067 Page 5


Jawab:

Penyuluhan disampaikan oleh komunikator kepada komunikan dengan suatu


tujuan, dengan harapan agar terjadinya suatu perubahan pada diri sang
komunikan.
Menurut Effendy (1998) tujuan penyuluhan kesehatan adalah:
1. Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam
membina dan memelihara perilaku hidup sehat, serta berperan aktif dalam
upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
2. Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental dan
sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian.
3. Menurut WHO, tujuan penyuluhan kesehatan adalah untuk merubah perilaku
perseorangan dan atau masyarakat dalam bidang kesehatan.
(Effendy,1998)

b. Langkah-langkah apa saja yang dilakukan pada saat penyuluhan?


Jawab:
1. Sudah memahami dan mengkaji apa yang menjadi kebutuhan masyarakat
terutama bidang kesehatan masyarakat.
2. Merumuskan secara tepat mengenai masalah kesehatan di masyarakat.
3. Setelah diketahui beberapa masalah kesehatan dalam masyarakat, maka disusun
prioritasnya. Karenanya, prioritas utama tentunya menjadi target utama
melakukan penyuluhan segera.
4. Pelaku atau pelaksana penyuluhan tersebut harus mempersiapkan segala
perencanaan pelaksanaan penyuluhan. Tentu saja dilakukan oleh tim pelaksana
penyuluhan secara baik dan maksimal. Misalnya saja dimulai dari menetapkan apa
tujuan, sasaran, materi, metode penyampaiannya hingga jenis alat peraganya
sampai kriteria apa saja untuk bahan evaluasi.
5. Pelaksanaan dari penyuluhan sudah direncanakan waktu dan tempatnya. Jadi,
masyarakat sebagai bagian utama dapat mempersiapkan diri menerima
penyuluhan tersebut.

KAMILA 702013067 Page 6


6. Menyusun beberapa kriteria penilaian dari hasil penyuluhan. Hal ini akan
memudahkan dalam melakukan langkah selanjutnya.
7. Sudah merencanakan bagaimana tindak lanjut untuk proses selanjutnya setelah
dilakukan penyuluhan serta hasil evaluasinya.

Dalam melakukan penyuluhan kesehatan, maka penyuluh yang baik harus


melakukan penyuluhan sesuai dengan langkah langkah dalam penyuluhan
kesehatan masyarakat sebagai berikut (Effendy, 1998) :

Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat.


Menetapkan masalah kesehatan masyarakat.
Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditangani melalui penyuluhan
kesehatan masyarakat.
Menyusun perencanaan penyuluhan

(1) Menetapkan tujuan

(2) Penentuan sasaran

(3) Menyusun materi / isi penyuluhan

(4) Memilih metoda yang tepat

(5) Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan

(6) Penentuan kriteria evaluasi.

Pelaksanaan penyuluhan
Penilaian hasil penyuluhan
Tindak lanjut dari penyuluhan

c. Apa saja yang mempengaruhi perilaku seseorang?


Jawab:
Menurut Notoatmodjo (1993) faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan
perilaku dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:
1. Faktor internal Faktor yang berada dalam diri individu itu sendiri yaitu
berupa kecerdasan, persepsi, motivasi, minat, emosi dan sebagainya untuk
mengolah pengaruh-pengaruh dari luar. Motivasi merupakan penggerak

KAMILA 702013067 Page 7


perilaku, hubungan antara kedua konstruksi ini cukup kompleks, antara lain
dapat dilihat sebagai berikut:
a. Motivasi yang sama dapat saja menggerakkan perilaku yang berbeda
demikian pula perilaku yang sama dapat saja diarahkan oleh motivasi yang
berbeda.
b. Motivasi mengarahkan perilaku pada tujuan tertentu.
c. Penguatan positif/ positive reinforcement menyebabkan satu perilaku
tertentu cenderung untuk diulang kembali.
d. Kekuatan perilaku dapat melemah akibat dari perbuatan itu bersifat tidak
menyenangkan. Universitas Sumatera Utara

2. Faktor eksternal Faktor-faktor yang berada diluar individu yang


bersangkutan yang meliputi objek, orang, kelompok dan hasil-hasil
kebudayaan yang disajikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilakunya.

Konsep umum yang digunakan untuk mendiagnosis perilaku adalah konsep


dari Lawrence Green (1980), dalam Notoatmodjo (2003) menurut Lawrence
Green perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yakni :
1. Faktor predisposisi (predisposing faktor). Faktor-faktor ini mencakup
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan
kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan,
sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial
ekonomi dfan sebagainya.
2. Faktor pemungkin (enabling faktor) Faktor-faktor ini mencakup
ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat.
3. Faktor penguat (reinforcing faktor) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap
dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama dan perilaku petugas termasuk
petugas kesehatan, suami dalam memberikan dukungannya kepada ibu
primipara dalam merawat bayi baru lahir

KAMILA 702013067 Page 8


d. Mengapa penyuluhan tidak berdampak pada perubahan perilaku?

Jawab:

Keberhasilan suatu penyuluhan kesehatan dapat dipengaruhi oleh faktor


penyuluh, sasaran dan proses penyuluhan.
1. Faktor penyuluh, misalnya kurang persiapan, kurang menguasai materi
yang akan dijelaskan, penampilan kurang meyakinkan sasaran, bahasa
yang digunakan kurang dapat dimengerti oleh sasaran, suara terlalu kecil
dan kurang dapat didengar serta penyampaian materi penyuluhan terlalu
monoton sehingga membosankan.

2. Faktor sasaran, misalnya tingkat pendidikan terlalu rendah sehingga sulit


menerima pesan yang disampaikan, tingkat sosial ekonomi terlalu rendah
sehingga tidak begitu memperhatikan pesan-pesan yang disampaikan
karena lebih memikirkan kebutuhan yang lebih mendesak, kepercayaan
dan adat kebiasaan yang telah tertanam sehingga sulit untuk mengubahnya,
kondisi lingkungan tempat tinggal sasaran yang tidak mungkin terjadi
perubahan perilaku.

3. Faktor proses dalam penyuluhan, misalnya waktu penyuluhan tidak sesuai


dengan waktu yang diinginkan sasaran, tempat penyuluhan dekat dengan
keramaian sehingga menggangu proses penyuluhan yang dilakukan,
jumlah sasaran penyuluhan yang terlalu banyak, alat peraga yang kurang,
metoda yang digunakan kurang tepat sehingga membosankan sasaran serta
bahasa yang digunakan kurang dimengerti oleh sasaran.
(Effendy,1998)

4. Dr. Eny pernah membaca bahwa metode drama mungkin dapat mengubah
perilaku cuci tangan pada anak-anak. Akan tetapi dr. Eny tidak yakin apakah
metode tersebut efektif dalam mengubah perilaku anak-anak tersebut.
a. Apa perbedaan drama dengan penyuluhan termasuk penyuluhan, termasuk
keunggulan dan kelemahan masing-masing?

KAMILA 702013067 Page 9


Tidak ada perbedaan nya, karena metode drama termasuk dalam metode
dalam melakukan penyuluhan.

Metode yang dipakai dalam penyuluhan kesehatan hendaknya metode yang


dapat mengembangkan komunikasi dua arah antara yang memberikan penyuluhan
terhadap sasaran, sehingga diharapkan tingkat pemahaman sasaran terhadap pesan
yang disampaikan akan lebih jelas dan mudah dipahami, diantaranya metode
curah pendapat, diskusi, demonstrasi, simulasi, bermain peran, dan sebagainya,
yang akan dijelaskan sebagai berikut. Dari metode yang dapat dipergunakan
dalam penyuluhan kesehatan masyarakat, dapat dikelompokkan dalam dua macam
metode, yaitu:

a. Metode didaktik
Pada metode didaktik yang aktif adalah orang yang melakukan penyuluhan
kesehatan, sedangkan sasaran bersifat pasif dan tidak diberikan kesempatan
untuk ikut serta mengemukakan pendapatnya atau mengajukan pertanyaan
pertanyaan apapun. Dan proses penyuluhan yang terjadi bersifat satu arah (one
way method). Adapun yang termasuk dalam metode didaktik adalah:
1) Secara langsung melalui ceramah
Ceramah adalah suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan suatu ide,
pengertian atau pesan secara lisan kepada sekelompok sasaran sehingga
memperoleh informasi tentang kesehatan.
2) Secara tidak langsung
- Poster
- Media cetak (majalah, buletin, surat kabar)
- Media elektronik (radio, televisi)

b. Metode sokratik
1) Secara langsung
- Diskusi
Diskusi kelompok adalah pembicaraan yang direncanakan dan
telah dipersiapkan tentang suatu topik pembicaraan di antara 1520
peserta (sasaran) dengan seorang pemimpin diskusi yang telah
ditunjuk.

KAMILA 702013067 Page 10


- Curah pendapat
Curah pendapat adalah suatu bentuk pemecahan masalah yang
terpikirkan oleh masingmasing peserta, dan evaluasi atas pendapat
pendapat tadi dilakukan kemudian.
- Demonstrasi
Demonstrasi adalah suatu cara untuk menunjukkan pengertian, ide,
dan prosedur tentang sesuatu hal yang telah dipersiapkan dengan teliti
untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan,
adegan dengan menggunakan alat peraga. Metoda ini digunakan
terhadap kelompok yang tidak terlalu besar jumlahnya.
- Bermain peran (role playing)
Bermain peran adalah memerankan sebuah situasi dalam
kehidupan manusia dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan oleh dua
orang atau lebih untuk dipakai sebagai bahan pemikiran oleh
kelompok.
- Simposium
Simposium adalah serangkaian ceramah yang diberikan oleh 2
sampai 5 orang dengan topik yang berlainan tetapi saling berhubungan.
- Seminar
Seminar adalah suatu cara dimana sekelompok orang berkumpul
untuk membahas suatu masalah dibawah bimbingan seorang ahli yang
menguasai bidangnya.
- Studi kasus
Studi kasus adalah sekumpulan situasi masalah yang sedetailnya,
yang memungkinkan kelompok menganalisis masalah itu.
Permasalahan tersebut merupakan bagian dari kehidupan yang
mengandung diagnosis, pengobatan dan perawatan. Dapat disampaikan
secara lisan maupun tertulis, drama, film, dapat juga berupa rekaman.
2) Secara tidak langsung
- Penyuluhan kesehatan melalui telepon
- Satelit komunikasi
(Effendy,1998)

Keunggulan dan kelemahan metode drama:

KAMILA 702013067 Page 11


Metode drama
Keunggulan
1. Dapat menarik perhatian peserta
2. Dapat dipakai pada kelompok yang kecil dan besar
3. Membantu peserta untuk menganalisis situasi
4. Menambah rasa percaya diri pada peserta
5. Membantu peserta menyelami masalah
6. Membantu peserta mendapatkan pengalaman yang ada pada
pikiran orang lain
7. Membangkitkan minat peserta untuk memecahkan masalah
Kelemahan
1. Banyak peserta yang tidak bisa memerankan sesuatu
2. Terbatas pada beberapa situsi saja
3. Mungkin masalahnya disatukan dengan pemeranny.

b. Metode apa yang dapat menilai efektivitas perubahan perilaku?


Jawab:
Metode eksperimental.

5. Oleh karena itu dr. Eny ingin melakukan penelitian efektifitas sosialisasi dalam
bentuk drama terhadap perilaku cuci tangan pada anak-anak.
a. Apa saja jenis-jenis penelitian kesehatan?
Jawab:
Desain Penelitian

Observasional Intervensional
1. Laporan kasus 1. Uji klinis
2. Seri kasus 2. Intervensi
3. Studi cross-sectional termasuk survai Pendidikan
4. Studi kasus-kontrol Perilaku

KAMILA 702013067 Page 12


5. Studi kohort Kesehatan masyarakat
6. Meta-analisis

Berbagai jenis desain eksperimental dikelompokkan sebagai desain pra-


eksperimental, desain kuasi-eksperimental, dan desain eksperimental. 2 jenis
desain eksperimental yang paling sering digunakan, yakni :
1. Desain paralel, merupakan suatu perbandingan antar-kelompok (group-
comparison), dapat bersifat perbandingan kelompok independen ataupun
kelompok pasangan serasi (matched pairs).
2. Desain menyilang (cross-over design)
(Sastroasmoro S, 2011)

b. Desain penelitian apa yang paling tepat yang terdapat pada kasus ini?
Jawab:
desain penelitian yang paling tepat adalah Quasi-eksperimental

c. Bagaimana langkah-langkah penelitiannya?

d. Apa latar belakang penelitiannya?


Jawab:
Latar belakang masalah merupakan bagian yang paling penting dari setiap usulan
penelitian. Uraian dalam latar belakang masalah hendaknya mencakup 4 hal yang
lebih mudah diikuti bila disusun dalam urutan sebagai berikut:
- Pernyataan tentang masalah penelitian serta besaran masalah
- Apa yang sudah diketahui (what is known)
- Apa yang belum diketahui (what is not known knowledge gap)
- Apa yang dapat diharap dari penelitian yang direncanakan untuk menutup
knowledge gap tersebut.

Latar belakang penelitian dr. Eny:

World Health Organization (WHO) tahun 2012 memperkirakan lebih dari


1,5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia terinfeksi dengan cacing yang
ditularkan melalui tanah. Lebih dari 270 juta anak usia prasekolah dan lebih
dari 600 juta anak usia sekolah tinggal di daerah di mana parasit ini ditularkan

KAMILA 702013067 Page 13


secara intensif dan membutuhkan pengobatan serta tindakan pencegahan. Di
Indonesia penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi
prevalensinya yaitu 60% - 80%. Hal ini terjadi dikarenakan Indonesia berada
dalam posisi geografis yang temperatur dan kelembaban yang sesuai untuk
tempat hidup dan berkembang biaknya cacing. Pengaruh lingkungan global
dan semakin meningkatnya komunitas manusia serta kesadaran untuk
menciptakan perilaku higiene dan sanitasi yang semakin menurun merupakan
faktor yang mempunyai andil yang besar terhadap penularan parasit ini.
Penyakit infeksi kecacingan juga merupakan masalah kesehatan masyarakat
terbanyak setelah malnutrisi (Kep-Menkes, 2006)

Meningkatnya angka kecacingan di wilayah kerja Puskesmas Gandus


menjadi sebab akan dilakukannya penelitian mengenai keefektifan metode
drama dalam perubahan perilaku anak-anak sekolah di wilayah Gandus.

e. Apa masalah utama penelitiannya?


Jawab:
Identifikasi masalah pada umumnya merupakan ringkasan uraian dalam latar
belakang yang dibuat secara padat, tajam, dan spesifik. Dengan ringkasan ini
maka masalah penelitian menjadi jelas dan terlokalisasi, yang sekaligus menjadi
dasar bagi rumusan masalah atau pertanyaan penelitian. Rumusan masalah
penelitian ini mempunyai syarat sebagai berikut:
1. Rumusan masalah hendaknya disusun dalam kalimat tanya (interogatif);
rumusan dalam kalimat tanya sangat dianjurkan, karena lebih bersifat khas dan
tajam; karena itu rumusan masalah disebut pula sebagai pertanyaan penelitian
(Research question). Dengan rumusan dalam bentuk kalimat tanya, masalah
penelitian lebih terfokus, spesifik, dan tajam.
2. Substansi yang dimaksud hendaknya bersifat khas, tidak bermakna ganda.
Pertanyaan penelitian.
3. Bila terdapat banyak pertanyaan penelitian, maka tiap pertanyaan harus
diformulasikan terpisah, agar setiap pertanyaan dapat dijawab secara terpisah
pula.

KAMILA 702013067 Page 14


Rumusan Masalah pada kasus:

Apakah ada pengaruh metode drama dengan perubahan perilaku cuci tangan pada
anak-anak di wilayah kerja Puskesmas Gandus?

f. Apa tujuan penelitiannya?


Tujuan dalam penelitian dibuat berdasarkan rumusan masalah yang kita buat.
Biasanya uraian tentang tujuan penelitian ini mencakup tujuan umum serta tujuan
khusus.
Didalam tujuan umum dinyatakan tujuan akhir penelitian. Tujuan umum
biasanya mengacu pada aspek yang lebih luas atau tujuan jangka panjang
penelitian, tidak terbatas pada hal-hal yang langsung diteliti atau diukur.
Dalam tujuan khusus disebutkan secara jelas dan tajam hal-hal yang akan
langsung diukur, dinilai, atau diperoleh dari penelitian. Tujuan umum dan khusus
yang hanya terdiri atas satu atu dua butir saja. Tetapi apabila terdapat banyak butir
dan sub-butir maka tujuan umum dan khusus perlu dipisahkan.
(Sastroasmoro, 2014)
Tujuan penelitian pada kasus:
- Untuk menurunkan angka insiden cacingan pada anak-anak di wilayah kerja
Puskesmas Gandus
- Untuk mengetahui pengaruh metode drama dengan perubahan perilaku cuci
tangan pada anak-anak di wilayah kerja Puskesmas Gandus
`
g. Apa metode penelitiannya?
Jawab:
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental atau
intervensi dengan desain Quasi-Eksperimental.

h. Bagaimana menentukan populasi dan sampel serta cara pengambilan sampel?


Jawab:
Populasi penelitian dapat dibagi menjadi dua :
1. Populasi target (target population)
Populasi yang merupakan sasaran akhir penerapan hasil penelitian disebut
sebagai populasi target. Populasi target bersifat umum, yang pada

KAMILA 702013067 Page 15


penelitian klinis biasanya ditandai dengan karakteristik demografis
(misalnya kelompok usia, jenis kelamin) dan karakteristik klinis (misalnya
sehat, osteoporosis, pneumonia).
Populasi target pada kasus: Anak-anak sekolah SD di Kota palembang

2. Populasi terjangkau (accessible population) atau populasi sumber (source


population)
Adalah bagian populasi target yang dapat dijangkau oleh peneliti. Dengan
kata lain, populasi terjangkau adalah bagian populasi target yang dibatasi
oleh tempat dan waktu.
Populasi terjangkau : anak-anak sekolah SD di wilayah kerja Puskesmas
Gandus
(Sastroasmoro S, 2014)

Cara pemilihan sampel dapat digolongkan menjadi 2, yaitu :


1. Pemilihan berdasarkan peluang (probability sampling)
Hal yang prinsip pada probability sampling adalah bahwa tiap subyek
dalam populasi (terjangkau) mempunyai kesempatan yang sama untuk
terpilih atau untuk tidak terpilih sebagai sampel penelitian.
a. Simple random sampling
Pada simple random sampling kita hitung terlebih dahulu jumlah
subyek dalam populasi (terjangkau) yang akan dipilih subyeknya
sebagai sampel penelitian. Setiap subyek diberi bernomor, dan dipilih
sebagian dari mereka dengan bantuan tabel angka random.
b. Systematic sampling
Pada systematic sampling ditentukan bahwa dari seluruh subyek yang
dapat dipilih, setiap subyek nomor ke-sekian dipilih sebagai sampel.
Bila ingin diambil 1/n dari populasi, maka tiap pasien ke-n dipilih
sebagai sampel. Jadi, seperti pada random sampling, setiap subyek
yang memenuhi kriteria untuk dipilih diberi bernomor.
c. Stratified random sampling
Dalam penelitian tidak jarang ditemukan keadaan tertentu, sehingga
setiap kelompok (sebut strata) memberikan nilai yang jela berbeda.
Bila sampling dilakukan terhadap semua subyek sebagai satu kesatuan,

KAMILA 702013067 Page 16


akan diperoleh sampel dengan variasi yang sangat besar terutama bila
jumlah subyek tidak banyak, dan simpulan hasil penelitian menjadi
bias. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dilakukan stratifikasi dan
pemilihan subyek berdasarkan atas strata. Pada cara ini, sampel dipilih
secara acak untuk setiap strata, kemudian hasilnya dapat digabungkan
menjadi satu sampel yang terbebas dari variasi untuk setiap strata.
Variabel yang sering digunakan untuk stratifikasi adalah jenis kelamin,
umur, ras, kondisi social-ekonomi, status gizi, tempat penelitian (pada
studi multisenter), dan lain-lain.

d. Cluster sampling
Pada cluster sampling, sampel dipilih secara acak pada kelompok
indvidu dalam populasi yang terjadi secara alamiah, missal wilayah
(kodya, kecamatan, kelurahan, dst). Cara ini sangat efisien bila
populasi tersebar secara las sehingga tidak mungkin membuat daftar
seluruh populasi tersebut. Pada kondisi ini maka pemilihan dengan
simple random sampling sangat sulit atau bahkan tidak mungkin
dilakukan.

2. Pemilihan tidak berdasarkan peluang (non- probability sampling)


Non- probability sampling merupakan cara pemilihan sampel yang lebih
praktis dan mudah dilakukan daripada probability sampling, karenanya
dalam penelitian klinis lebih sering digunakan daripada probability
sampling.
a. Consecutive sampling
Pada Consecutive sampling, semua subyek yang datang secara
berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam
penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi.
Consecutive sampling ini merupakan jenis non- probability sampling
yang paling baik, dan seringkali merupaan cara yang termudah.
Faktanya sebagian besar penelitian klinis (termasuk uji klinis)
pemilihan subyeknya dilakukan dengan teknik ini.

KAMILA 702013067 Page 17


b. Convenient sampling
Cara ini merupakan cara termudah untuk menarik sampel, namun juga
sekaligus merupakan cara yang paling lemah. Pada cara ini, sampel
diambil tanpa sistematika tertentu, sehingga jarang dianggap dapat
mewakili populasi terjangkau, apalagi populasi target penelitian.

c. Judgmental sampling atau purposive sampling


Pada judgmental sampling atau purposive sampling ini peneliti
memilih responden berdasarkan pada pertimbangan subyektif dan
praktis, bahwa responden tersebut dapat memberikan informasi yang
memadai untuk menjawab pertanyaan penelitian.
(Sastroasmoro S, 2014)

i. Bagaimana cara pengumpulan dan analisa data?


Jawab:
Menurut Sastroasmoro (2014), pengumpulan data dapat dilakukan dengan
berbagai cara yaitu:
1) Data primer
Data primer adalah data yang langsung di ambil dari sumbernya. Ada 3 cara
pengumpulan data primer yaitu:
a) Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
melakukan pengamatan.Data yang di hasilkan adalah data yang
kualitatif.
b) Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
mengajukan pertanyaan secara lisan, biasanya dilakukan jika ingin
diketahui hal-hal yang lebih mendalam dari responden.
c) Kuesioner
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada
responden untuk di jawab.
2) Data sekunder

KAMILA 702013067 Page 18


Data sekunder adalah data yang diambil dari gasil mengumpulkan orang
lain, contohnya: data yang dimiliki suatu perusahaan atau data BPS
(Sastroasmoro, 2014).

Analisis data
Cara menganalisa data, pertama tentukan terlebih dahulu jenis analisis
statistika yang akan dipergunakan. Bila terdapat beberapa set variabel yang akan
di analisis, dirinci cara analisis yang akan dipakai untuk tiap set variabel.
Demikian pula bila terdapat lebih dari satu desain. Ditentukan pula batas
kemaknaan yang dipakai, apakah interval kepercayaan (confidence interval) akan
disertakan, dan tingkat kemaknaan statistika yang dipilih (Sastroasmoro, 2014).

j. Bagaimana cara membuat kesimpulan dan saran hasil penelitian?


Jawab:
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian kemudian dibuat jawaban terhadap tujuan
yang telah dirumuskan oleh peneliti sebelumnya.
Saran; terdiri dari saran akademis dan praktis
Saran hanya berisi rekomendasi yang dirumuskan oleh peneliti namun
bukan untuk menjawab permasalahan dalam pokok penelitian, saran
dirumuskan berdasarkan penelusuran yang menurut penulis dapat
bermanfaat secara praktis maupun bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan.

(Sastroasmoro,2014)

k. Bagaimana cara penulisan laporan ilmiah yang baik?


Jawab:
1. Judul laporan penelitian
2. Nama pengarang dan institusi
3. Abstrak
- Introduction
- Methods
- Results

KAMILA 702013067 Page 19


- Dicussion
4. Pendahuluan
5. Tinjauan pustaka
6. Cara kerja
- Desain
- Tempat dan waktu penelitian
- Sumber data primer atau sekunder
- Populasi terjangkau, sampel, cara pemilihan sampel
- Kriteria pemilihan (inklusi dan eksklusi)
- Keterangan khusus sesuai desain yang dipakai
- Teknik pengukuran (pemeriksaan)
- Rencana analisis
7. Hasil & Pembahasan
8. Kesimpulan dan saran
9. Daftar pustaka
(Sastroasmoro, 2014)

l. Dari data tersebut susunlah laporan penelitian yang tepat?


Jawab:

m. Bagaimana pandangan islam pada kasus ini?


Jawab:
:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu
musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan
kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(QS Al-Hujuraat Ayat : 6).

KAMILA 702013067 Page 20


Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan
siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan
berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia;
Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Ali-Imran: 190-
191).

KAMILA 702013067 Page 21


Kesimpulan

Desain penelitian yang cocok untuk mengetahui efektivitas drama dalam mengubah perilaku
cuci tangan anak-anak adalah desain studi eksperimental atau intervensi

Kerangka Konsep

Penyuluhan cuci tangan Jarang mencuci Banyak kejadian


yang tidak berdampak tangan sebelum cacingan pada anak-
pada perilaku anak-anak makan anak

Metode drama
Mengetahui efektifitas
drama dalam mengubah
perilaku cuci tangan

Menggunakan desain
study eksperimental

Membuat laporan
penelitian

KAMILA 702013067 Page 22