Anda di halaman 1dari 16

Inilah 7 Tokoh Pahlawan Revolusi yang

Dibuang ke Sumur Lubang Buaya


76shares
Share on TwitterShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedinPin this PostShare on TumblrMore services
23 April 20159 Oktober 2015 2

blog.nignag.com

PAHLAWAN REVOLUSI Negeri ini pernah mengalami masa yang sangat kelam,
yaitu peristiwa pengkhianatan PKI. Kita telah mengenal peristiwa Gerakan 30
September (G30S) yang menggugurkan para perwira tinggi Angkatan Darat. Peristiwa
ini tidak hanya terjadi di Jakarta, namun juga di Yogyakarta. Jumlah korban yang
gugur ada 10 dan mereka diberikan tanda penghormatan Pahlawan Revolusi dan
Anumerta (gelar penghargaan khusus untuk angkatan bersenjata yang berjasa).
1
Jenderal Anumerta Ahmad Yani
wikipedia.org

Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo pada tanggal 19 Juni 1922. Beliau mendapatkan
pendidikan formal di HIS (sekolah setingkat SD), MULO (Meer Uitgebreid Lager
Onderwijs/setingkat Sekolah Menengah Pertama) dan AMS (Algemne Middelberge
School/setingkat Sekolah Menengah Atas). Ahmad Yani mengawali karir militernya dengan
mengikuti wajib militer oleh pemerintahan Belanda di Malang. Ketika pendudukan Jepang,
Ahmad Yani gabung bersama PETA.
Prestasi Ahmad Yani di bidang militer cukup mengagumkan. Diawali dengan menahan Agresi
Militer pertama dan kedua Belanda, dilanjutkan dengan mengalahkan pemberontak DI/TII,
Operasi Trikora di Papua Barat dan Operasi Dwikora menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.
Ketika menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat, Ahmad Yani menolak usul PKI
yang menginginkan pembentukan Angkatan Kelima yaitu dipersenjatainya buruh dan tani.
Sehingga Ahmad Yani menjadi target penculikan dan pembunuhan PKI dalam Gerakan 30
September. Tubuhnya yang penuh luka tembak, dibawa dan dibuang ke sumur di Lubang Buaya.

2
Letnan Jenderal Anumerta Suprapto
wikipedia.org
Lahir di Purwokerto pada tanggal 2 Juni 1920, Letnan Jenderal Suprapto menyelesaikan
pendidikan formalnya di MULO dan AMS Yogyakarta. Suprapto sering berpindah tugas.
Mulai di Semarang sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro, ditarik ke
Jakarta sebagai Staff Angkatan Darat dan kembali lagi ke Kementerian Pertahanan. Setelah
pemberontakan Permesta (Perdjuangan Rakjat Semesta) padam, Suprapto bermarkas di Medan
sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera.
Suprapto merupakan salah satu Perwira Tinggi yang menolak D. N. Aidit ketika berpendapat
membentuk Angkatan Kelima. Sehingga pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, Suprapto pun
menjadi salah satu korban penculikan dan pembunuhan PKI.

3
Letnan Jenderal Anumerta M. T. Haryono
wikipedia.org
Letnan Jenderal M. T. Haryono lahir di Surabaya pada tanggal 20 Januari 1924. Ayahnya
seorang asisten wedana di Gresik. Haryono mendapatkan pendidikan formal di ELS (setingkat
Sekolah Dasar), HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum) dan Ika Dai Gakko (Sekolah
Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun berhenti di tengah jalan. Ketika di
Jakarta, Haryono bersama pemuda lain berjuang mempertahankan kemerdekaan. Dilanjutkan
gabung ke TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada peristiwa Gerakan 30 September, Letnan
Jenderal M. T. Haryono menjadi salah satu korban kebiadaban PKI.
Jenderal bintang tiga ini sangat cerdas. Haryono seperti Bung Hatta yang fasih beberapa bahasa
asing yaitu Belanda, Inggris dan Jerman. Sehingga Haryono sering menjadi perwira penyambung
lidah dalam setiap perundingan. Termasuk ketika KMB (Konferensi Meja Bundar), Haryono
hadir sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

4
Letnan Jenderal Anumerta Siswondo Parman
wikipedia.org

Letnan Jenderal Siswondo Parman atau yang lebih dikenal dengan Letjen S. Parman merupakan
salah satu Pahlawan Revolusi. Parman diculik dan dibunuh PKI karena menolak usul D. N. Aidit
tentang dipersenjatainya buruh dan tani atau disebut Angkatan Kelima. Terlebih lagi bahwa
Parman merupakan tentara intelijen yang tahu tentang gerak-gerik PKI.
Parman yang lahir pada tanggal 4 Agustus 1918 di Wonosobo mendapatkan pendidikan Sekolah
Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Parman pun masuk ke Sekolah
Tinggi Kedokteran, namun tidak sampai mendapatkan gelar dokter akibat Jepang telah
menduduki wilayah Indonesia.

5
Mayor Jenderal Anumerta D. I. Pandjaitan
wikipedia.org
Mayor Jenderal D. I. Pandjaitan lahir di Balige, Sumatera Utara pada tanggal 19 Juni 1925.
Pandjaitan menyelesaikan pendidikan formalnya hingga Sekolah Menengah Atas. Ketika Jepang
tiba di Indonesia, Pandjaitan mengikuti latihan Gyugun dan ditugaskan menjadi anggota Gyugun
di Pekanbaru.
Setelah kemerdekaan, Pandjaitan bersama pemuda lainnya membentuk TKR. Karirnya di TKR
terus naik, mulai dari komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi
IX/Banteng di Bukittinggi, menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara
Sumatera dan menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia
(PDRI) dan yang terakhir adalah Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (sebelumnya
masih banyak jabatan yang diembannya). Sebagai Perwira Tinggi, Pandjaitan menjadi target
penculikan dan pembunuhan oleh PKI.

6
Mayor Jenderal Anumerta Sutoyo Siswomiharjo
wikipedia.org
Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen pada tanggal 28 Agustus 1922. Beliau
menyelesaikan belajar formalnya sebelum Jepang menduduki Indonesia. Pada tahun 1945,
Sutoyo gabung militer sebagai Polisi Tentara Keamanan Rakyat yang merupakan cikal bakal
Polisi Militer. Awal karir Sutoyo di Polisi Militer yaitu sebagai ajudan Kolonel Gatot Soebroto,
Komandan Polisi Militer. Karirnya terus naik hingga dipercaya menjadi inspektur
kehakiman/jaksa militer utama.
Dini hari tanggal 1 Oktober 1965, Sutoyo diculik oleh PKI dan dibawa ke markas mereka di
Lubang Buaya. Di sana Sutoyo dibunuh dan tubuhnya dibuang ke sumur tak terpakai.

7
Kapten CZI Anumerta Pierre Tendean
wikipedia.org

Kapten Pierre Tendean merupakan ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution yang lahir pada
tanggal 21 Februari 1939. Tendean mengawali karir militernya menjadi intelijen. Ditugaskan
sebagai mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan
Malaysia.
Pada peristiwa G30S, Pierre yang disangka Jenderal A. H. Nasution ditangkap dan dibawa oleh
PKI ke Lubang Buaya. Disana Pierre dibunuh dan dimasukan ke sumur tak terpakai bersama 6
Perwira Tinggi Angkatan Darat lainnya. Pierre pun dianugerahi Pahlawan Revolusi