Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Mioma uteri merupakan tumor jinak yang struktur utamanya adalah otot
polos rahim. Mioma uteri terjadi pada 20% - 25% perempuan di usia reproduktif,
tetapi oleh faktor yang tidak diketahui secara pasti. Tumor ini paling sering
ditemukan pada wanita umur 35 45 tahun dan jarang pada wanita 20 tahun serta
wanita post menopause. Wanita yang sering melahirkan, sedikit kemungkinan
untuk perkembangan mioma uteri dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah
hamil atau hanya hamil satu kali hamil. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri
berkembang pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya hamil sekali.
Prevalensi meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga, ras, kegemukan dan
nullipara (Schorge et al., 2008). Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20-30%
dari seluruh wanita. Di Indonesia mioma ditemukan 2,39% - 11,7% pada semua
penderita ginekologi yang dirawat (Baziad, 2003).

Pengaruh kehamilan pada mioma uteri adalah mioma dapat membesar


terutama pada bulan-bulan pertama karena pengaruh estrogen yang meningkat,
dan meskipun jarang, mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi dengan
gejala dan tanda sindrom akut abdomen. Sementara pengaruh mioma uteri pada
kehamilan antara lain kemungkinan abortus lebih besar karena distorsi kavum
uteri khususnya pada mioma submukosum, mioma uteri juga dapat menyebabkan
kelainan letak janin, dapat menyebabkan plasenta previa dan plasenta akreta,
dapat menganggu proses involusi uterus dalam masa nifas dan jika letaknya dekat
pada serviks, dapat menghalangi kemajuan persalinan dan menghalangi jalan
lahir.

Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat


abnormal, yaitu segmen bawah rahim sehingga menutupi seluruh atau sebagian
dari ostium uteri internum merupakan salah satu penyebab terbanyak timbulnya
perdarahan. Perdarahan dibagi menjadi dua, antepartum dan postpartum.
Perdarahan yang ditimbulkan oleh karena plasenta previa terutama plasenta previa
totalis termasuk dalam perdarahan antepartum. Perdarahan antepartum merupakan
kasusgawat darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan. Jika
terjadi perdarahan bisa berakibat fatal, dimana dapat menyebabkan kematian pada
ibu.

Pada kasus ini, terapi yang diberikan kepada pasien antara lain berupa
terapi terminasi kehamilan secara elektif dan histerektomi karena usia kehamilan
sudah cukup, berat janin sudah cukup dan sudah terjadi pematangan paru.
Pemilihan tindakan terminasi secara perabdominal (seksio sesaria) ini didasarkan
bahwa pada plasenta previa totalis ini plasenta menutupi seluruh ostium uteri
internum sehingga tidak memungkinkan untuk melahirkan pervaginam. Tindakan
histerektomi dilakukan karena....?

Selama dirawat di rumah sakit, pasien terus dipantau serta dijaga keadaan
umum ibu serta kesejahteraan bayi, dan diawasi akan adanya perdarahan.

Sebelum tindakan dilakukan, pasien dan keluarga diminta untuk


menandatangani informed consent sebagai bukti bahwa pasien dan keluarga
sudah memahami tujuan, indikasi, prosedur, risiko, dan komplikasi dari tindakan
setelah diberi penjelasan.