Anda di halaman 1dari 15

BAB 4

IKATAN KIMIA

Definisi Ikatan Kimia


Adalah ikatan yang terjadi antar atom atau antar molekul dengan cara sebagai berikut :
a) atom yang 1 melepaskan elektron, sedangkan atom yang lain menerima elektron (serah
terima elektron)
b) penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari masing-masing atom yang
berikatan
c) penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan

Tujuan pembentukan ikatan kimia adalah agar terjadi pencapaian kestabilan suatu unsur.
Elektron yang berperan pada pembentukan ikatan kimia adalah elektron valensi dari suatu
atom/unsur yang terlibat.
Salah 1 petunjuk dalam pembentukan ikatan kimia adalah adanya 1 golongan unsur yang
stabil yaitu golongan VIIIA atau golongan 18 (gas mulia).
Maka dari itu, dalam pembentukan ikatan kimia; atom-atom akan membentuk konfigurasi
elektron seperti pada unsur gas mulia.
Unsur gas mulia mempunyai elektron valensi sebanyak 8 (oktet) atau 2 (duplet, yaitu atom
Helium).

Periode Unsur Nomor Atom K L M N O P


1 He 2 2
2 Ne 10 2 8
3 Ar 18 2 8 8
4 Kr 36 2 8 18 8
5 Xe 54 2 8 18 18 8
6 Rn 86 2 8 18 32 18 8

Kecenderungan unsur-unsur untuk menjadikan konfigurasi elektronnya sama seperti gas


mulia terdekat dikenal dengan istilah Aturan Oktet

o Lambang Lewis
Adalah lambang atom yang dilengkapi dengan elektron valensinya.
Lambang Lewis gas mulia menunjukkan 8 elektron valensi (4 pasang).
Lambang Lewis unsur dari golongan lain menunjukkan adanya elektron tunggal (belum
berpasangan).

Berdasarkan perubahan konfigurasi elektron yang terjadi pada pembentukan ikatan, maka
ikatan kimia dibedakan menjadi 4 yaitu : ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinat
/ koordinasi / dativ dan ikatan logam.

1). Ikatan Ion ( elektrovalen )


o Terjadi jika atom unsur yang memiliki energi ionisasi kecil/rendah melepaskan elektron
valensinya (membentuk kation) dan atom unsur lain yang mempunyai afinitas elektron
besar/tinggi menangkap/menerima elektron tersebut (membentuk anion).
o Kedua ion tersebut kemudian saling berikatan dengan gaya elektrostatis (sesuai hukum
Coulomb).
o Unsur yang cenderung melepaskan elektron adalah unsur logam sedangkan unsur yang
cenderung menerima elektron adalah unsur non logam.
Contoh 1 :
Ikatan antara dengan
Konfigurasi elektronnya :
= 2, 8, 1
= 2, 8, 7

Atom Na melepaskan 1 elektron valensinya sehingga konfigurasi elektronnya sama dengan


gas mulia.
Atom Cl menerima 1 elektron pada kulit terluarnya sehingga konfigurasi elektronnya sama
dengan gas mulia.

(2,8,1) (2,8)

(2,8,7) (2,8,8)

Antara ion Na+ dengan terjadi gaya tarik-menarik elektrostatis sehingga terbentuk senyawa
ion NaCl.

Contoh 2 :
Ikatan antara Na dengan O
Supaya mencapai oktet, maka Na harus melepaskan 1 elektron menjadi kation Na+

(2,8,1) (2,8)
Supaya mencapai oktet, maka O harus menerima 2 elektron menjadi anion

(2,6) (2,8)

Reaksi yang terjadi :


(x2)
(x1)
+
2 Na + O 2 Na+ + Na2O

Contoh lain : senyawa MgCl2, AlF3 dan MgO

Soal : Tentukan senyawa yang terbentuk dari :


1). Mg dengan F
2). Ca dengan Cl
3). K dengan O

Senyawa yang mempunyai ikatan ion antara lain :


a) Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan halogen (VIIA)
Contoh : NaF, KI, CsF
b) Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : Na2S, Rb2S,Na2O
c) Golongan alkali tanah (IIA) dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : CaO, BaO, MgS
Sifat umum senyawa ionik :
1) Titik didih dan titik lelehnya tinggi
2) Keras, tetapi mudah patah
3) Penghantar panas yang baik
4) Lelehan maupun larutannya dapat menghantarkan listrik (elektrolit)
5) Larut dalam air
6) Tidak larut dalam pelarut/senyawa organik (misal : alkohol, eter, benzena)

2). Ikatan Kovalen


o Adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron secara bersama oleh 2
atom yang berikatan.
o Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan salah 1 atom yang akan berikatan untuk
melepaskan elektron (terjadi pada atom-atom non logam).
o Ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur yang memiliki afinitas elektron tinggi serta
beda keelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan ikatan ion.
o Atom non logam cenderung untuk menerima elektron sehingga jika tiap-tiap atom non
logam berikatan maka ikatan yang terbentuk dapat dilakukan dengan cara mempersekutukan
elektronnya dan akhirnya terbentuk pasangan elektron yang dipakai secara bersama.
o Pembentukan ikatan kovalen dengan cara pemakaian bersama pasangan elektron tersebut
harus sesuai dengan konfigurasi elektron pada unsur gas mulia yaitu 8 elektron (kecuali He
berjumlah 2 elektron).

Ada 3 jenis ikatan kovalen :

a). Ikatan Kovalen Tunggal


Contoh 1 :
Ikatan yang terjadi antara atom H dengan atom H membentuk molekul H2
Konfigurasi elektronnya :
=1
Ke-2 atom H yang berikatan memerlukan 1 elektron tambahan agar diperoleh konfigurasi
elektron yang stabil (sesuai dengan konfigurasi elektron He).
Untuk itu, ke-2 atom H saling meminjamkan 1 elektronnya sehingga terdapat sepasang
elektron yang dipakai bersama.

Rumus struktur =
Rumus kimia = H2

Contoh 2 :
Ikatan yang terjadi antara atom H dengan atom F membentuk molekul HF
Konfigurasi elektronnya :
=1
= 2, 7
Atom H memiliki 1 elektron valensi sedangkan atom F memiliki 7 elektron valensi.
Agar atom H dan F memiliki konfigurasi elektron yang stabil, maka atom H dan atom F
masing-masing memerlukan 1 elektron tambahan (sesuai dengan konfigurasi elektron He dan
Ne).
Jadi, atom H dan F masing-masing meminjamkan 1 elektronnya untuk dipakai bersama.
Rumus struktur =
Rumus kimia = HF

Soal :
Tuliskan pembentukan ikatan kovalen dari senyawa berikut :
( lengkapi dengan rumus struktur dan rumus kimianya )
1) Atom C dengan H membentuk molekul CH4
2) Atom H dengan O membentuk molekul H2O
3) Atom Br dengan Br membentuk molekul Br2

b). Ikatan Kovalen Rangkap Dua


Contoh :
Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O2
Konfigurasi elektronnya :
= 2, 6
Atom O memiliki 6 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi elektron yang stabil
tiap-tiap atom O memerlukan tambahan elektron sebanyak 2.
Ke-2 atom O saling meminjamkan 2 elektronnya, sehingga ke-2 atom O tersebut akan
menggunakan 2 pasang elektron secara bersama.

Rumus struktur :
Rumus kimia : O2

Soal :
Tuliskan pembentukan ikatan kovalen dari senyawa berikut : (lengkapi dengan rumus
struktur dan rumus kimianya)
1) Atom C dengan O membentuk molekul CO2
2) Atom C dengan H membentuk molekul C2H4 (etena)

c). Ikatan Kovalen Rangkap Tiga

Contoh 1:
o Ikatan yang terjadi antara atom N dengan N membentuk molekul N2
o Konfigurasi elektronnya :
= 2, 5
o Atom N memiliki 5 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi elektron yang stabil
tiap-tiap atom N memerlukan tambahan elektron sebanyak 3.
o Ke-2 atom N saling meminjamkan 3 elektronnya, sehingga ke-2 atom N tersebut akan
menggunakan 3 pasang elektron secara bersama.

Rumus struktur :
Rumus kimia : N2

Contoh 2:
Ikatan antara atom C dengan C dalam etuna (asetilena, C2H2).
Konfigurasi elektronnya :
= 2, 4
=1
Atom C mempunyai 4 elektron valensi sedangkan atom H mempunyai 1 elektron.
Atom C memasangkan 4 elektron valensinya, masing-masing 1 pada atom H dan 3 pada atom
C lainnya.

(Rumus Lewis) (Rumus bangun/struktur)

3). Ikatan Kovalen Koordinasi / Koordinat / Dativ / Semipolar


o Adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang
berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom
yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama.
o Pasangan elektron ikatan (PEI) yang menyatakan ikatan dativ digambarkan dengan tanda
anak panah kecil yang arahnya dari atom donor menuju akseptor pasangan elektron.

Contoh 1:
o Terbentuknya senyawa

atau

Contoh 2:
o Terbentuknya molekul ozon (O3)
o Agar semua atom O dalam molekul O3 dapat memenuhi aturan oktet maka dalam salah 1
ikatan , oksigen pusat harus menyumbangkan kedua elektronnya.

Rumus struktur :
O

4). Ikatan Logam


Adalah ikatan yang terbentuk akibat adanya gaya tarik-menarik yang terjadi antara muatan
positif dari ion-ion logam dengan muatan negatif dari elektron-elektron yang bebas bergerak.
Atom-atom logam dapat diibaratkan seperti bola pingpong yang terjejal rapat 1 sama lain.
Atom logam mempunyai sedikit elektron valensi, sehingga sangat mudah untuk dilepaskan
dan membentuk ion positif.
Maka dari itu kulit terluar atom logam relatif longgar (terdapat banyak tempat kosong)
sehingga elektron dapat berpindah dari 1 atom ke atom lain.
Mobilitas elektron dalam logam sedemikian bebas, sehingga elektron valensi logam
mengalami delokalisasi yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi tersebut tidak tetap
posisinya pada 1 atom, tetapi senantiasa berpindah-pindah dari 1 atom ke atom lain.

Gambar Ikatan Logam

Elektron-elektron valensi tersebut berbaur membentuk awan elektron yang menyelimuti ion-
ion positif logam.
Struktur logam seperti gambar di atas, dapat menjelaskan sifat-sifat khas logam yaitu :
a). berupa zat padat pada suhu kamar, akibat adanya gaya tarik-menarik yang cukup kuat
antara elektron valensi (dalam awan elektron) dengan ion positif logam.
b). dapat ditempa (tidak rapuh), dapat dibengkokkan dan dapat direntangkan menjadi kawat.
Hal ini akibat kuatnya ikatan logam sehingga atom-atom logam hanya bergeser sedangkan
ikatannya tidak terputus.
c). penghantar / konduktor listrik yang baik, akibat adanya elektron valensi yang dapat
bergerak bebas dan berpindah-pindah. Hal ini terjadi karena sebenarnya aliran listrik
merupakan aliran elektron.

Polarisasi Ikatan Kovalen


Suatu ikatan kovalen disebut polar, jika Pasangan Elektron Ikatan (PEI) tertarik lebih kuat ke
salah 1 atom.
Contoh 1 :
Molekul HCl

Meskipun atom H dan Cl sama-sama menarik pasangan elektron, tetapi keelektronegatifan Cl


lebih besar daripada atom H.
Akibatnya atom Cl menarik pasangan elektron ikatan (PEI) lebih kuat daripada atom H
sehingga letak PEI lebih dekat ke arah Cl (akibatnya terjadi semacam kutub dalam molekul
HCl).

Jadi, kepolaran suatu ikatan kovalen disebabkan oleh adanya perbedaan keelektronegatifan
antara atom-atom yang berikatan.
Sebaliknya, suatu ikatan kovalen dikatakan non polar (tidak berkutub), jika PEI tertarik sama
kuat ke semua atom.

Contoh 2 :

Dalam tiap molekul di atas, ke-2 atom yang berikatan menarik PEI sama kuat karena atom-
atom dari unsur sejenis mempunyai harga keelektronegatifan yang sama.
Akibatnya muatan dari elektron tersebar secara merata sehingga tidak terbentuk kutub.

Contoh 3 :

Meskipun atom-atom penyusun CH4 dan CO2 tidak sejenis, akan tetapi pasangan elektron
tersebar secara simetris diantara atom-atom penyusun senyawa, sehingga PEI tertarik sama
kuat ke semua atom (tidak terbentuk kutub).

o Momen Dipol ( )
Adalah suatu besaran yang digunakan untuk menyatakan kepolaran suatu ikatan kovalen.
Dirumuskan :
= Q x r ; 1 D = 3,33 x 10-30 C.m
keterangan :
= momen dipol, satuannya debye (D)
Q = selisih muatan, satuannya coulomb (C)
r = jarak antara muatan positif dengan muatan negatif, satuannya meter (m)

Perbedaan antara Senyawa Ion dengan Senyawa Kovalen


No Sifat Senyawa Ion Senyawa Kovalen
1 Titik didih Tinggi Rendah
2 Titik leleh Tinggi Rendah
3 Wujud Padat pada suhu kamar Padat,cair,gas pada suhu kamar
4 Daya hantar listrik Padat = isolator
Lelehan = konduktor
Larutan = konduktor Padat = isolator
Lelehan = isolator
Larutan = ada yang konduktor
5 Kelarutan dalam air Umumnya larut Umumnya tidak larut
6 Kelarutan dalam trikloroetana (CHCl3) Tidak larut Larut

Pengecualian dan Kegagalan Aturan Oktet


1). Pengecualian Aturan Oktet
a) Senyawa yang tidak mencapai aturan oktet
Meliputi senyawa kovalen biner sederhana dari Be, B dan Al yaitu atom-atom yang elektron
valensinya kurang dari empat (4).
Contoh : BeCl2, BCl3 dan AlBr3
b) Senyawa dengan jumlah elektron valensi ganjil
Contohnya : NO2 mempunyai jumlah elektron valensi (5 + 6 + 6) = 17

c) Senyawa dengan oktet berkembang


Unsur-unsur periode 3 atau lebih dapat membentuk senyawa yang melampaui aturan oktet /
lebih dari 8 elektron pada kulit terluar (karena kulit terluarnya M, N dst dapat menampung 18
elektron atau lebih).
Contohnya : PCl5, SF6, ClF3, IF7 dan SbCl5

2). Kegagalan Aturan Oktet


Aturan oktet gagal meramalkan rumus kimia senyawa dari unsur transisi maupun post
transisi.
Contoh :
atom Sn mempunyai 4 elektron valensi tetapi senyawanya lebih banyak dengan tingkat
oksidasi +2
atom Bi mempunyai 5 elektron valensi tetapi senyawanya lebih banyak dengan tingkat
oksidasi +1 dan +3

Penyimpangan dari Aturan Oktet dapat berupa :


1) Tidak mencapai oktet
2) Melampaui oktet ( oktet berkembang )

Penulisan Struktur Lewis


Langkah-langkahnya :
1) Semua elektron valensi harus muncul dalam struktur Lewis
2) Semua elektron dalam struktur Lewis umumnya berpasangan
3) Semua atom umumnya mencapai konfigurasi oktet (khusus untuk H, duplet)
4) Kadang-kadang terdapat ikatan rangkap 2 atau 3 (umumnya ikatan rangkap 2 atau 3 hanya
dibentuk oleh atom C, N, O, P dan S)

Langkah alternatif : ( syarat utama : kerangka molekul / ion sudah diketahui )


1) Hitung jumlah elektron valensi dari semua atom dalam molekul / ion
2) Berikan masing-masing sepasang elektron untuk setiap ikatan
3) Sisa elektron digunakan untuk membuat semua atom terminal mencapai oktet
4) Tambahkan sisa elektron (jika masih ada), kepada atom pusat
5) Jika atom pusat belum oktet, tarik PEB dari atom terminal untuk membentuk ikatan
rangkap dengan atom pusat

Resonansi
a. Suatu molekul atau ion tidak dapat dinyatakan hanya dengan satu struktur Lewis.
b. Kemungkinan-kemungkinan struktur Lewis yang ekivalen untuk suatu molekul atau ion
disebut Struktur Resonansi.
Contoh :

c. Dalam molekul SO2 terdapat 2 jenis ikatan yaitu 1 ikatan tunggal ( ) dan 1 ikatan rangkap (
).
d. Berdasarkan konsep resonansi, kedua ikatan dalam molekul SO2 adalah ekivalen.
e. Dalam molekul SO2 itu, ikatan rangkap tidak tetap antara atom S dengan salah 1 dari 2
atom O dalam molekul itu, tetapi silih berganti.
f. Tidak satupun di antara ke-2 struktur di atas yang benar untuk SO2, yang benar adalah
gabungan atau hibrid dari ke-2 struktur resonansi tersebut.
Ikatan Kimia dan Tata Nama Senyawa Kimia
Dalam tulisan ini, kita akan mempelajari tentang pembentukan beberapa jenis ikatan kimia,
seperti ikatan ionik, ikatan kovalen, serta ikatan kovelen koordinasi. Selain itu, kita juga akan
mempelajari cara penulisan rumus dan tata nama berbagai senyawa kimia.
Natrium termasuk logam yang cukup reaktif. Unsur ini berkilau, lunak, dan merupakan
konduktor listrik yang baik. Umumnya natrium disimpan di dalam minyak untuk
mencegahnya bereaksi dengan air yang berasal dari udara. Jika sepotong logam natrium yang
baru dipotong dilelehkan, kemudian diletakkan ke dalam gelas beaker yang terisi penuh oleh
gas klorin yang berwarna hijau kekuningan, sesuatu yang sangat menakjubkan akan terjadi.
Natrium yang meleleh mulai bercahaya dengan cahaya putih yang semakin lama semakin
terang. Sementara, gas klorin akan teraduk dan warna gas mulai menghilang. Dalam beberapa
menit, reaksi selesai dan akan diperoleh garam meja atau NaCl yang terendapkan di dalam
gelas beaker.
Proses pembentukan garam meja adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dua zat yang
memiliki sifat yang berbeda dan berbahaya dapat bereaksi secara kimiawi menghasilkan
senyawa baru yang berperan penting dalam kehidupan.
Natrium adalah logam alkali (IA). Logam natrium memiliki satu elektron valensi dan jumlah
seluruh elektronnya adalah 11, sebab nomor atomnya adalah 11. Klorin adalah unsur pada
golongan halogen (VIIA) pada tabel periodik. Unsur ini memiliki tujuh elektron valensi dan
jumlah seluruh elektronnya adalah 17.
Gas mulia adalah unsur golongan VIIIA pada tabel periodik yang sangat tidak reaktif, karena
tingkat energi valensinya (tingkat energi terluar atau kulit terluar) terisi penuh oleh elektron (
memiliki delapan elektron valensi, kecuali gas helium yang hanya memiliki dua elektron
valensi). Meniru konfigurasi elektron gas mulia adalah tenaga pendorong alami dalam reaksi
kimia, sebab dengan cara itulah unsur menjadi stabil atau sempurna. Unsur gas mulia tidak
akan kehilangan, mendapatkan, atau berbagi elektron.
Unsur-unsur lain di golongan A pada tabel periodik mendapatkan, kehilangan, atau berbagi
elektron valensi untuk mengisi tingkat energi valensinya agar mencapai keadaan sempurna.
Pada umumnya, proses ini melibatkan pengisian kulit terluar agar memiliki delapan elektron
valensi (dikenal dengan istilah aturan oktet), yaitu unsur akan mendapatkan, kehilangan, atau
berbagi elektron untuk mencapai keadaan penuh delapan/oktet.
Natrium memiliki satu elektron valensi. Menurut hukum oktet, unsur ini akan bersifat stabil
ketika memiliki delapan elektron valensi. Ada dua kemungkinan bagi natrium untuk menjadi
stabil. Unsur ini dapat memperoleh tujuh elektron untuk memenuhi kulit M atau dapat
kehilangan satu elektron pada kulit M, sehingga kulit L (yang terisi penuh oleh delapan
elektron) menjadi kulit terluar. Pada umumnya, kehilangan atau mendapatkan satu, dua,
bahkan kadang-kadang tiga elektron dapat terjadi. Unsur tidak akan kehilangan atau
mendapatkan lebih dari tiga elektron. Dengan demikian, untuk mencapai kestabilan, natrium
kehilangan satu elektron pada kulit M. Pada keadaan ini, natrium memiliki 11 proton dan 10
elektron. Atom natrium yang pada awalnya bersifat netral, sekarang memiliki satu muatan
positif , sehingga menjadi ion (atom yang bermuatan karena kehilangan atau memperoleh
elektron). Ion yang bermuatan positif karena kehilangan elektron disebut kation.
11Na : 2 . 8 . 1
+
11Na : 2 . 8
Ion natrium (Na+) memiliki konfigurasi elektron yang sama dengan neon (10Ne), sehingga
merupakan isoelektron dengan neon. Terdapat perbedaan satu elektron antara atom natrium
dan ion natrium. Selain itu, reaktivitas kimianya berbeda dan ukurannya pun berbeda. Kation
lebih kecil bila dibandingkan dengan atom netral. Hal ini akibat hilangnya satu elektron saat
atom natrium berubah menjadi ion natrium.
Klor memiliki tujuh elektron valensi. Untuk memenuhi aturan oktet, unsur ini dapat
kehilangan tujuh elektron pada kulit M atau mendapatkan satu elektron pada kulit M. Oleh
karene suatu unsur tidak dapat memperoleh atau kehilangan lebih dari tiga elektron, klor
harus mendapatkan satu elektron untuk memenuhi valensi pada kulit M. Pada keadaan ini,
klor memiliki 17 proton dan dan 18 elektron, sehingga klor menjadi ion dengan satu muatan
negatif (Cl-). Atom klorin netral berubah menjadi ion klorida. Ion dengan muatan negatif
karena mendapatkan elektron disebut anion.
17Cl : 2 . 8 . 7

17Cl : 2 . 8 . 8
Anion klorida adalah isoelektron dengan argon (18Ar). Anion klorida juga sedikit lebih besar
dari atom klor netral. Secara umum, kation lebih kecil dari atomnya dan anion sedikit lebih
besar dari atomnya.
Natrium dapat mencapai delapan elektron valensi (kestabilan) dengan melepaskan satu
elektron. Sementara, klor dapat memenuhi aturan oktet dengan mendapatkan satu elektron.
Jika keduanya berada di dalam satu bejana, jumlah elektron natrium yang hilang akan sama
dengan jumlah elektron yang diperoleh oleh klor. Pada keadaan ini, satu elektron dipindahkan
dari natrium menuju klor. Perpindahan elektron menghasilkan ion yaitu kation (bermuatan
positif) dan anion (bermuatan negatif). Muatan yang berlawanan akan saling tarik-menarik.
Kation Na+ menarik anion Cl- dan membentuk senyawa NaCl atau garam meja.
Proses ini merupakan contoh dari ikatan ionik, yaitu ikatan kimia (gaya tarik-menarik yang
kuat yang tetap menyatukan dua unsur kimia) yang berasal dari gaya tarik elektrostatik (gaya
tarik-menarik dari muatan-muatan yang berlawanan) antara kation dan anion. Senyawa yang
memiliki ikatan ionik sering disebut garam. Pada natrium klorida (NaCl), susunan antara ion
Na+ dan Cl- membentuk pola yang berulang dan teratur (disebut struktur kristalin). Jenis
garam yang berbeda memiliki struktur kristalin yang berbeda. Kation dan anion dapat
memiliki lebih dari satu muatan positif atau negatif bila kehilangan atau mendapatkan lebih
dari satu elektron. Dengan demikian, mungkin dapat terbentuk berbagai jenis garam dengan
rumus kimia yang bervariasi.
Proses dasar yang terjadi ketika natrium klorida terbentuk juga terjadi ketika garam-garam
lainnya terbentuk. Unsur logam akan kehilangan elektron membentuk kation dan unsur
nonlogam akan mendapatkan elektron membentuk anion. Gaya tarik-menarik antara muatan
positif dan negatif menyatukan partikel-partikel dan menghasilkan senyawa ionik.
Secara umum, muatan ion yang dimiliki suatu unsur dapat ditentukan berdasarkan pada letak
unsur tersebut pada tabel periodik. Semua logam alkali (unsur IA) kehilangan satu elektron
untuk membentuk kation dengan muatan +1. Logam alkali tanah (unsur IIA) kehilangan dua
elektronnya untuk membentuk kation +2. Aluminium yang merupakan anggota pada
golongan IIIA kehilangan tiga elektronnya untuk membentuk kation +3.
Dengan alasan yang sama, semua halogen (unsur VIIA) memiliki tujuh elektron valensi.
Semua halogen mendapatkan satu elektron untuk memenuhi kulit valensi sehingga
membentuk anion dengan satu muatan negatif. Unsur VIA mendapatkan dua elektron untuk
membentuk anion dengan muatan -2 dan unsur VA mendapatkan tiga elektron untuk
membentuk anion dengan muatan -3.
Berikut ini adalah tabel beberapa kation monoatom (satu atom) umum dan beberapa anion
monoatom umum yang sering digunakan para ahli kimia.
Beberapa Kation Monoatom Umum
Golongan Unsur Nama Ion Simbol Ion
IA Litium Kation Litium Li+
Natrium Kation Natrium Na+
Kalium Kation Kalium K+
IIA Berilium Kation Berilium Be2+
Magnesium Kation Magnesium Mg2+
Kalsium Kation Kalsium Ca2+
Stronsium Kation Stronsium Sr2+
Barium Kation Barium Ba2+
IB Perak Kation Perak Ag+
IIB Seng Kation Seng Zn2+
IIIA Aluminium Kation Aluminium Al3+
Beberapa Anion Monoatom Umum
Golongan Unsur Nama Ion Simbol Ion
VA Nitrogen Anion Nitrida N3-
Fosfor Anion Fosfida P3-
VIA Oksigen Anion Oksida O2-
Belerang Anion Sulfida S2-
VIIA Fluorin Anion Fluorida F
Klorin Anion Klorida Cl
Bromin Anion Bromida Br
Iodin Anion Iodida I

Hilanganya sejumlah elektron dari anggota unsur logam transisi (unsur golongan B) lebih
sukar ditentukan. Faktanya, banyak dari unsur ini kehilangan sejumlah elektron yang
bervariasi, sehingga dapat membentuk dua atau lebih kation dengan muatan yang berbeda.
Muatan listrik yang dimiliki ataom disebut dengan bilangan oksidasi. Banyak dari ion transisi
(unsur golongan B) memiliki bilangan oksidasi yang bervariasi. Berikut adalah tabel yang
menunjukkan beberapa logam transisi umum dengan bilangan oksidasi yang bervariasi.

Beberapa Logam Umum yang Memiliki Lebih dari Satu Bilangan Oksidasi
Golongan Unsur Nama Ion Simbol Ion
VIB Kromium Krom (II) atau Kromo Cr2+
Krom (III) atau Kromi Cr3+
VIIB Mangan Mangan (II) atau Mangano Mn2+
Mangan (III) atau Mangani Mn3+
VIIIB Besi Besi (II) atau Fero Fe2+
Besi (III) atau Feri Fe3+
Kobalt Kobalt (II) atau Kobalto Co2+
Kobalt (III) atau Kobaltik Co3+
IB Tembaga Tembaga (I) atau Cupro Cu+
Tembaga (II) atau Cupri Cu2+
IIB Raksa Merkuri (I) atau Merkuro Hg22+
Merkuri (II) atau Merkuri Hg2+
IVA Timah Timah (II) atau Stano Sn2+
Timah (IV) atau Stani Sn4+
Timbal Timbal (II) atau Plumbum Pb2+
Timbal (IV) atau Plumbik Pb4+
Kation-kation tersebut dapat memiliki lebih dari satu nama. Cara pemberian nama suatu
kation adalah dengan menggunakan nama logam dan diikuti oleh muatan ion yang dituliskan
dengan angka Romawi di dalam tanda kurung. Cara lama pemberian nama suatu kation
adalah menggunakan akhiran o dan i. Logam dengan bilangan oksidasi rendah diberi
akhiran o. Sementara, logam dengan bilangan oksidasi tinggi diberi akhiran i.
Ion tidak selalu monoatom yang tersusun atas hanya satu atom. Ion dapat juga berupa
poliatom yang tersusun oleh sekelompok atom. Berikut ini adalah beberapa ion poliatom
penting yang disajikan dalam bentuk tabel.

Beberapa Ion Poliatom Penting


Nama Ion Simbol Ion Nama Ion Simbol Ion
Sulfat SO42- Hidrogen Fosfat HPO42-
Sulfit SO32- Dihidrogen Fosfat H2PO4
Nitrat NO3 Bikarbonat HCO3
Nitrit NO2 Bisulfat HSO4
Hipoklorit ClO Merkuri (I) Hg22+
Klorit ClO2 Amonia NH4+
Klorat ClO3 Fosfat PO43-
Perklorat ClO4 Fosfit PO33-
Asetat CH3COO Permanganat MnO4
Kromat CrO42- Sianida CN
Dikromat Cr2O72- Sianat OCN
Arsenat AsO43- Tiosianat SCN
Oksalat C2O42- Arsenit AsO33-
Tiosulfat S2O32- Peroksida O22-
Hidroksida OH Karbonat CO32-

Ketika suatu senyawa ionik terbentuk, kation dan anion saling menarik menghasilkan garam.
Hal yang penting untuk diingat adalah bahwa senyawanya harus netral, yaitu memiliki
jumlah muatan positif dan negatif yang sama.
Sebagai contoh, saat logam magnesium direaksikan dengan cairan bromin, akan terbentuk
senyawa ionik. Rumus kimia atau formula kimia dari senyawa yang dihasilkan dapat
ditentukan melalui konfigurasi elektron masing-masing unsur.
12Mg : 2 . 8 . 2
35Br : 2 . 8 . 18 . 7
Magnesium, merupakan unsur logam alkali tanah (golongan IIA), memiliki dua elektron
valensi, sehingga dapat kehilangan elektronnya membentuk suatu kation bermuatan +2.
2+
12Mg : 2 . 8
Bromin adalah halogen (golongan VIIA) yang mempunyai tujuh elektron valensi, sehingga
dapat memperoleh satu elektron untuk melengkapi keadaan oktet (delapan elektron valensi)
dan membentuk anion bromide dengna muatan -1.

35Br : 2 . 8 . 18 . 8
Senyawa yang terbentuk harus netral, yang berarti jumlah muatan positif dan negatifnya
harus sama. Dengan demikian, secara keseluruhan, muatannya nol. Ion magnesium
mempunyai muatan +2. Dengan demikian, ion ini memerlukan dua ion bromida yang
masing-masing memiliki satu muatan negatif untuk mengimbangi muatan +2 dari ion
magnesium. Jadi, rumus senyawa yang dihasilkan adalah MgBr2.
Pada saat menuliskan nama senyawa garam, tulislah terlebih dahulu nama logamnya dan
kemudian nama nonlogamnya. Sebagai contoh, senyawa yang dihasilkan dari reaksi antara
litium dan belerang, Li2S. Pertama kali, tulislah nama logammya, yaitu litium. Kemudian,
tulislah nama nonlogamnya, dengan menambah akhiran ida sehingga belerang (sulfur)
menjadi sulfida.
Li2S : Litium Sulfida
Senyawa-senyawa ion yang melibatkan ion-ion poliatom juga mengikuti aturan dasar yang
sama. Nama logam ditulis terlebih dahulu, kemudian diikuti nama nonlogamnya (anion
poliatom tidak perlu diberi akhiran ida).
(NH4)2CO3 : Amonium Karbonat
K3PO4 : Kalium Fosfat
Apabila logam yang terlibat merupakan logam transisi dengan lebih dari satu bilangan
oksidasi, terdapat dua cara penamaan yang benar. Sebagai contoh, kation Fe3+ dengan anion
CN- dapat membentuk senyawa Fe(CN)3. Metode yang lebih disukai adalah menggunakan
nama logam yang diikuti dengan muatan ion yang ditulis dengan angka Romawi dan
diletakkan dalam tanda kurung : Besi (III). Namun, metode penamaan lama masih digunakan,
yaitu dengan menggunakan akhiran o (bilangan oksidasi rendah) dan i (bilangan oksidasi
tinggi). Oleh karena ion Fe3+ memiliki bilangan oksidasi lebih tinggi dari Fe2+, ion tersebut
diberi nama ion ferri.
Fe(CN)3 : Besi (III) Sianida
Fe(CN)3 : Ferri Sianida
Tidak semua ikatan kimia terbentuk melalui mekanisme serah-terima elektron. Atom-atom
juga dapat mencapai kestabilan melalui mekanisme pemakaian bersama pasangan elektron.
Ikatan yang terbentuk dikenal dengan istilah ikatan kovelen. Senyawa kovelen adalah
senyawa yang hanya memiliki ikatan kovelen.
Sebagai contoh, atom hidrogen memiliki satu elektron valensi. Untuk mencapai kestabilan
(isoelektronik dengan helium), atom hidrogen membutuhkan satu elektron tambahan. Saat
dua atom hidrogen membentuk ikatan kimia, tidak terjadi peristiwa serah-terima elektron.
Yang akan terjadi adalah kedua atom akan menggunakan elektronnya secara bersama-sama.
Kedua elektron (satu dari masing-masing hidrogen) menjadi milik kedua atom tersebut.
Dengan demikian, molekul H2 terbentuk melalui pembentukan ikatan kovelen, yaitu ikatan
kimia yang berasal dari penggunaan bersama satu atau lebih pasangan elektron antara dua
atom. Ikatan kovalen terjadi di antara dua unsur nonlogam.
Ikatan kovalen dapat dinyatakan dalam bentuk Struktur Lewis, yaitu representasi ikatan
kovelen, dimana elektron yang digunakan bersama digambarkan sebagai garis atau sepasang
dot antara dua atom; sementara pasangan elektron yang tidak digunakan bersama (lone pair)
digambarkan sebagai pasangan dot pada atom bersangkutan. Pada umumnya, proses ini
melibatkan pengisian elektron pada kulit terluar (kulit valensi) yang disebut sebagai aturan
oktet, yaitu unsur akan berbagi elektron untuk mencapai keadaan penuh delapan elektron
valensi (oktet), kecuali hidrogen dengan dua elektron valensi (duplet).
Atom-atom dapat membentuk berbagai jenis ikatan kovelen. Ikatan tunggal terjadi saat dua
atom menggunakan sepasang elektron bersama. Ikatan rangkap dua (ganda) terjadi saat dua
atom menggunakan menggunakan dua pasangan elektron bersama. Sementara, ikatan
rangkap tiga terjadi saat dua atom menggunakan tiga pasangan elektron bersama.
Senyawa ionik memiliki sifat yang berbeda dari senyawa kovalen. Senyawa ionik, pada suhu
kamar, umumnya berbentuk padat, dengan titik didih dan titik leleh tinggi, serta bersifat
elektrolit. Sebaliknya, senyawa kovelen, pada suhu kamar, dapat berbentuk padat, cair,
maupun gas. Selain itu, senyawa kovalen memiliki titik didih dan titik leleh yang relatif
rendah bila dibandingkan dengan senyawa ionik serta cenderung bersifat nonelektrolit.
Ketika atom klorin berikatan secara kovalen dengan atom klorin lainnya, pasangan elektron
akan digunakan bersama secara seimbang. Kerapatan elektron yang mengandung ikatan
kovalen terletak di tengah-tengah di antara kedua atom. Setiap atom menarik kedua elektron
yang berikatan secara sama. Ikatan seperti ini dikenal dengan istilah ikatan kovalen nonpolar.
Sementara, apa yang akan terjadi bila kedua atom yang terlibat dalam ikatan kimia tidak
sama? Kedua inti yang bermuatan positif yang mempunyai gaya tarik berbeda akan menarik
pasangan elektron dengan derajat (kekuatan) yang berbeda. Hasilnya adalah pasangan
elektron cenderung ditarik dan bergeser ke salah satu atom yang lebih elektronegatif. Ikatan
semacam ini dikenal dengan istilah ikatan kovalen polar.
Sifat yang digunakan untuk membedakan ikatan kovalen polar dengan ikatan kovalen
nonpolar adalah elektronegativitas (keelektronegatifan), yaitu kekuatan (kemampuan) suatu
atom untuk menarik pasangan elektron yang berikatan. Semakin besar nilai
elektronegativitas, semakin besar pula kekuatan atom untuk menarik pasangan elektron pada
ikatan. Dalam tabel periodik, pada satu periode, elektronegativitas akan naik dari kiri ke
kanan. Sebaliknya, dalam satu golongan, akan turun dari atas ke bawah.
Ikatan kovelen nonpolar terbentuk bila dua atom yang terlibat dalam ikatan adalah sama atau
bila beda elektronegativitas dari atom-atom yang terlibat pada ikatan sangat kecil. Sementara,
pada ikatan kovelen polar, atom yang menarik pasangan elektron pengikat dengan lebih kuat
akan sedikit lebih bermuatan negatif; sedangkan atom lainnya akan menjadi sedikit lebih
bermuatan positif. Ikatan ini terbentuk bila atom-atom yang terlibat dalam ikatan adalah
berbeda. Semakin besar beda elektronegativitas, semakin polar pula ikatan yang
bersangkutan. Sebagai tambahan, apabila beda elektronegativitas atom-atom sangat besar,
maka yang akan terbentuk justru adalah ikatan ionik. Dengan demikian, beda
elektronegativitas merupakan salah satu cara untuk meramalkan jenis ikatan yang akan
terbentuk di antara dua unsur yang berikatan.

Perbedaan Elektronegativitas Jenis Ikatan yang Terbentuk


0,0 sampai 0,2 Kovalen nonpolar
0,3 sampai 1,4 Kovalen polar
> 1,5 Ionik

Ikatan kovalen koordinasi (datif) terjadi saat salah satu unsur menyumbangkan sepasang
elektron untuk digunakan secara bersama-sama dengan unsur lain yang membutuhkan
elektron. Sebagai contoh, reaksi antara molekul NH3 dan ion H+ membentuk ion NH4+.
Molekul NH3 memiliki sepasang elektron bebas yang digunakan bersama-sama dengan ion
H+. Molekul NH3 mendonorkan elektron, sedangkan ion H+ menerima elektron. Kedua
elektron digunakan bersama-sama.
Pada dasarnya senyawa kovalen memiliki aturan tata nama yang tidak berbeda jauh dari
senyawa ionik. Tulislah nama unsur pertama, kemudian diikuti dengan nama unsur kedua
yang diberi akhiran ida.
HCl : Hidrogen Klorida
SiC : Silikon Karbida
Apabila masing-masing unsur terdiri lebih dari satu atom, prefik yang menunjukkan jumlah
atom digunakan. Prefik yang sering digunakan dalam penamaan senyawa kovelen dapat
dilihat pada tabel berikut.

Prefik Jumlah Atom Prefik Jumlah Atom


Mono- 1 Heksa- 6
Di- 2 Hepta- 7
Tri- 3 Okta- 8
Tetra- 4 Nona- 9
Penta- 5 Deka- 10

CO : Monokarbon Monoksida atau Karbon Monoksida


CO2 : Monokarbon Dioksida atau Karbon Dioksida
Catatan : awalan mono- pada unsur pertama dapat dihilangkan
SO2 : Sulfur Dioksida
SO3 : Sulfur Trioksida
N2O4 : Dinitrogen Tetraoksida
Senyawa kovalen yang mengandung atom Hidrogen (H) tidak menggunakan tata nama di
atas, tetapi menggunakan nama trivial yang telah dikenal sejak dahulu.
B2H6 : Diborana PH3 : Fosfina
CH4 : Metana H2O : Air
SiH4 : Silana H2S : Hidrogen Sulfida
NH3 : Amonia