Anda di halaman 1dari 42

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................ i


BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
1.1 Latar Belakang ...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................2
1.3 Tujuan ............................................................................................................3
1.4 Manfaat ..........................................................................................................3
BAB II LANDASAN TEORITIS ............................................................................4
2.1 Hak Cipta ...............................................................................................4
2.1.1. Hal yang dilindungi oleh Hak Cipta.......................................................4

2.1.2. Para Pemegang Hak Cipta......................................................................5

2.1.3. Batasan-batasan Hak Cipta ....................................................................6

2.1.4. Cara mendapatkan Hak Cipta.................................................................7

2.2 Dasar Hukum Hak Cipta di Indonesia ...........................................................8


2.3 Tinjauan Umum tentang Karya Cipta Lagu atau Musik ..............................12
2.3.1 Pengertian Lagu atau Musik..................................................................12

2.3.2 Pemilik dan Pemegang Hak Cipta Lagu atau Musik ............................13

BAB III ANALISIS KASUS .................................................................................21


3.1. Kasus Dalam Negeri ...................................................................................21
3.1.1 Pelanggaran Hak Cipta Lagu terhadap Rumah Karaoke di Makassar ..21

3.1.2 Upaya Penanggulangan Pelanggaran Hak Cipta pada Rumah


Karaoke ............................................................................................33

3.2. Kasus Luar Negeri.......................................................................................36


3.2.1. Kasus Pelanggaran Hak Cipta Brand Gucci dan Guess .......................36

3.2.2. Kasus Pelanggaran Hak Cipta Brand Gucci dan Guess di Amerika dan
Prancis .............................................................................................37

BAB IV PENUTUP ...............................................................................................38

i
4.1. Kesimpulan .................................................................................................38
4.2. Saran ...........................................................................................................39
DAFTAR PUSTAKA ............................................ Error! Bookmark not defined.

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hak Cipta merupakan terjemahan dari copyright dalam bahasa Inggris (secara harfiah
artinya "hak salin") yang diciptakan sejalan dengan penemuan mesin cetak. Sebelum
penemuan mesin ini oleh Gutenberg, proses untuk membuat salinan dari sebuah karya tulisan
memerlukan tenaga dan biaya yang hampir sama dengan proses pembuatan karya
aslinya. (Harris Munandar dan Sally Sitanggang, Mengenal HAKI (Hak Kekayaan Intelektual : Hak
Cipta, Paten, Merek dan Seluk- beluknya), hlm.21.). Namun setelah di temukannya mesin cetak
oleh J. Guetenberg pada pertengahan abad ke-15, maka terjadilah perubahan dalam waktu
yang pendek serta dengan biaya yang lebih ringan, sehingga perdagangan buku menjadi
meningkat.
Di bidang hak cipta perlindungan mulai diberikan di Inggris pada tahun 1557 kepada
perusahaan alat tulis dalam hal penerbitan buku. Dalam akhir abad ke-17 para pedagang dan
penulis menentang kekuasaan yang diperoleh para penerbit dalam penerbitan buku, dan
menghendaki ikut serta dan untuk menikmati hasil ciptaannya dalam bentuk buku. Sebagai
akibat ditemukanya mesin cetak yang membawa akibat terjadinya perubahan masyarakat
maka dalam tahun 1709 parlemen Inggris menerbitkan Undang-undang Anne (The Statute of
Anne). Tujuan undang-undang tersebut adalah untuk mendorong learned men to compose
and write useful work.
Dalam Tahun 1690, John Locke mengutarakan dalam bukunya Two Treatises on Civil
Government bahwa pengarang atau penulis mempunyai hak dasar/natural rightatas karya
ciptanya. Selain itu, peraturan tersebut juga mengatur masa berlaku hak eksklusif bagi
pemegang copyright, yaitu selama 28 tahun, yang kemudian setelah itu karya tersebut
menjadi milik umum yang bisa dimanfaatkan siapa saja secara bebas.Adapun perkembangan
di Belanda dengan Undang-Undang tahun 1817, hak cipta (Kopijregt) tetap berada pada
penerbit, baru dengan Undang-Undang Hak Cipta tahun 1881 hak khusus pencipta
(uitsuitendrecht van de maker) sepanjang mengenai pengumuman dan perbanyakan
memperoleh pengakuan formal dan materiil. Dalam tahun 1886 terciptalah Konvensi Bern
untuk perlindungan karya sastra dan seni, suatu pengaturan yang modern di bidang hak cipta.

1
Kehendak untuk ikut serta dalam Konvensi Bern, merupakan dorongan bagi Belanda
terciptanya Undang-Undang Hak Cipta Tahun 1912 (Auteurswet 1912).
Secara yuridis formal Indonesia diperkenalkan dengan masalah hak cipta pada tahun
1912, yaitu pada saat diundangkannya Auteurswet (Wet van 23 September 1912, Staatblad
1912 Nomor 600), yang mulai berlaku 23 September 1912. (Rachmadi Usman, Hukum Hak atas
Kekayaan Intelektual: Perlindungan dan Dimensi Hukumnya di Indonesia, PT Alumni, Bandung,
2003, hlm. 56.).Setelah Indonesia merdeka, ketentuan Auteurswet 1912 ini kemudian masih
dinyatakan berlaku sesuai dengan ketentuan peralihan yang terdapat dalam Pasal II Aturan
Peralihan Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 192 Konstitusi Sementara Republik Indonesia
Serikat dan Undang-Undang Hak Cipta Belanda ini merupakan pembaharuan dari undang-
undang hak cipta yang berlaku sebelumnya pada tahun 1817; sebelum tahun ini undang-
undang hak cipta yang lebih awal mendahuluinya yang merupakan undang- undang hak cipta
pertama di Belanda diundangkan tahun 1803. Dengan demikian, baru setelah mempunyai
undang- undang hak cipta nasional selama 110 tahun, Belanda menjadi peserta Konvensi
Bern 1886 (Suyud Margono, Hukum Hak Cipta Indonesia: Teori dan Analisis Harmonisasi
Ketentuan World Trade Organization/WTO- TRIPs Agreement, Ghalia Indonesia, Bogor,
2010, hlm. 53).
Jika bercermin pada kasus perusahaan fashion ternama yaitu GUCCI yang dijiplak
oleh Guess baru baru ini di mana GUCCI telah kalah dalam pertarungan hukum selama empat
tahun melawan Guess. Perselisihan merek dagang antara kedua label - atas tuduhan bahwa
Guess telah menduplikasi logo Gucci di garis sepatu. Di samping itu, pada tahun 2009, Gucci
Group menggugat dan mengklaim bahwa Guess menjual produk dengan logo mirip Gucci
di situs resminya.Dugaan pelanggaran oleh Guess meliputi empat desain: garis-garis hijau-
merah-hijau, gaya Square G, G Quattro, dan logo script.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam makalah ini
sebagai berikut:
1. Apakah pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh Guess terhadap merek
GUCCI?
2. Apakah Guess terbukti melakukan pelanggaran hak cipta jika ditinjau dari
Undang-undang yang berlaku baik dari America maupun Italia?
3. Bagaimana pandangan UU hak cipta Indonesia terhadap kasus yang terjadi antara
GUCCI dan Guest?
2
1.3 Tujuan
Tujuan penelitaian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman hal-hal yang terkait
dengan hak cipta, dalam hal ini kasus yang terjadi antara Gucci dan Guest ditinjau dari
undang-undang yang berlaku di kedua Negara serta ditinjau dari UU yang berlaku di
Indonesia.

1.4 Manfaat
Makalah ini secara teoretis dan praktis bermanfaat bagi semua kalangan, karena
memberikan penyegaran dan pengayaan pemahaman atas hal-hal yang terkait hak cipta.
Untuk penegak hukum supaya penanganan perkara tindak pidana hak cipta ini lebih
ditingkatkan dan bagi masyarakat luas supaya menyadari tindak pidana atas pelanggaran hak
cipta adalah tindakan ilegal dan merugikan orang lain.

3
BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1 Hak Cipta


Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak
mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku
(Bab 1, pasal 1 UU no. 19 tahun 2002).Perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu
Ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan
menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan
secara permanen atau temporer (Bab 1, pasal 1 ayat 6, UU no. 19 tahun 2002).
Hak Terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif bagi
Pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukannya; bagi Produser Rekaman
Suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya;
dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau menyiarkan karya
siarannya (Bab 1, pasal 1 ayat 9, UU no. 19 tahun 2002).Sifat kebendaan hak cipta yaitu
benda bergerak tidak berwujud. Hak cipta ini bisa beralih dari satu orang ke orang lain tapi
tidak bisa secara lisan harus dengan bukti otentik secara tertulis baik tanpa atau dengan akta
notaris.
Pencipta adalah orang yang namanya terdaftar dalam daftar umum ciptaan pada
Direktorat Jendral HKI atau orang yang namanya disebut dalam ciptaan atau diumumkan
sebagai pencipta pada suatu ciptaan. Hak pencipta dibagi 2, yaitu:
1) Hak ekonomi (economy right) adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi bagi
penciptanya atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat atas ciptaan serta
produk hak terkait.
2) Hak moral (moral right) adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku yang
tidak dapat dihilangkan atau dihapus tanpa alasan apapun walaupun hak ekonomi pada
hak cipta atau hak terkait telah dialihkan, kecuali dengan persetujuan pencipta dengan
persetujuan ahli warisnya dalam pencipta telah meninggal dunia.

2.1.1. Hal yang dilindungi oleh Hak Cipta


Buku, Program Komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan,
dan semua hasil karya tulis lain

4
ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan lain.
alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
lagu atau musik dengan atau tanpa teks
drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim.
seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni
pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan.
Arsitektur
Peta
Senibatik
Fotografi
Sinematografi
terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil
pengalihwujudan

2.1.2. Para Pemegang Hak Cipta


Pemegang hak cipta adalah orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum
Ciptaan pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Orang yang namanya disebut
dalam Ciptaan atau diumumkan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan. Jika suatu Ciptaan
terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang diciptakan oleh dua orang atau lebih, yang
dianggap sebagai Pencipta ialah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian
seluruh Ciptaan itu, atau dalam hal tidak ada orang tersebut, yang dianggap sebagai
Pencipta adalah orang yang menghimpunnya dengan tidak mengurangi Hak Cipta masing-
masing atas bagian Ciptaannya itu. Demikian halnya suatu Ciptaan yang dirancang
seseorang diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan
orang yang merancang, Penciptanya adalah orang yang merancang Ciptaan itu.
Lalu siapa Pemegang Hak Cipta, untuk yang tidak diketahui penciptanya? Negara
memegang Hak Cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah dan benda budaya
nasional lainnya. Negara memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat
yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu,
kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya. Jika suatu Ciptaan
tidak diketahui Penciptanya dan Ciptaan itu belum diterbitkan, Negara memegang Hak
Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan penciptanya. Jika suatu Ciptaan telah
diterbitkan tetapi tidak diketahui Penciptanya atau pada Ciptaan tersebut hanya tertera
nama samaran Penciptanya, Penerbit memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk
5
kepentingan Penciptanya. Jika suatu Ciptaan telah diterbitkan tetapi tidak diketahui
Penciptanya dan/atau Penerbitnya, Negara memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut
untuk kepentingan Penciptanya.

2.1.3. Batasan-batasan Hak Cipta


Pembatasan Hak Cipta Tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta, hal-hal
sebagai berikut:
a. Pengumuman dan/atau Perbanyakan lambang Negara dan lagu kebangsaan menurut
sifatnya yang asli;
b. Pengumuman dan/atau Perbanyakan segala sesuatu yang diumumkan dan/atau
diperbanyak oleh atau atas nama Pemerintah, kecuali apabila Hak Cipta itu dinyatakan
dilindungi, baik dengan peraturan perundang-undangan maupun dengan pernyataan
pada Ciptaan itu sendiri atau ketika Ciptaan itu diumumkan dan/atau diperbanyak;
atau
c. Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita,
Lembaga Penyiaran, dan surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan
sumbernya harus disebutkan secara lengkap.
d. Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap
sebagai pelanggaran hak cipta :
Penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta
Pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna
keperluan
- pembelaan di dalam atau di luar Pengadilan
- ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
atau
- review dan kritik
- pertunjukan atau pementasan atau pameran yang tidak dipungut bayaran
dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta
Perbanyakan suatu Ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam huruf
braille guna keperluan para tunanetra, kecuali jika Perbanyakan itu bersifat
komersial

6
Perbanyakan suatu Ciptaan selain Program Komputer, secara terbatas dengan cara
atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu
pengetahuan atau pendidikan, dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata-
mata untuk keperluan aktivitasnya
Perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas
karya arsitektur, seperti Ciptaan bangunan
Pembuatan salinan cadangan suatu Program Komputer oleh pemilik Program
Komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan merek (trademark)

Masa berlaku hak cipta adalah selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50
(lima puluh)tahun setelah Pencipta meninggal dunia, untuk:
1. Buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lain
2. Drama atau drama musikal, tari, koreografi
3. Segala bentuk seni rupa, seperti seni lukis, seni pahat, dan seni patung
4. Seni batik
5. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks
6. Arsitektur
7. Ceramah, kuliah, pidato dan Ciptaan sejenis lain
8. Alat peraga
9. Peta
10. Terjemahan, tafsir, saduran, dan bunga rampai

2.1.4. Cara mendapatkan Hak Cipta


1. Pembayaran permohonan hak cipta atas karya sebesar Rp. 75.000,- melalui transfer
ke no rekening BNI 19718067 a/n DITJEN HAKI. Bukti transfer difotocopy.
2. Legalisir fotocopy KTP dua lembar.
3. Bila anda menggunakan nama samara dalam karya anda sertakan surat pernyataan
bahwa anda menggunakan nama samara dan cantumkan juga nama asli anda sesuai
KTP.
4. Bila anda mencantumkan foto dalam karya anda sertakan surat pernyataan bahwa
anda memberikan izin untuk penggunaan foto tersebut sesuai dengan keperluan.
5. Kunjungi situs http://www.dgip.go.id kemudian klik hak cipta dan print out formulir
pendaftaran lalu isi lengkap formulir (diketik).

7
6. Print out karya anda sebanyak dua kali (jilid buku) dan simpan karya juga data diri
anda dalam bentuk CD sebanyak dua buah CD.
7. Kirimkan persyaratan kepada : DITJEN HAKI (Untuk Direktur Hak Cipta) Jl. Daan
Mogot KM 24, Tangerang 15119, Banten.
8. Hak cipta secara resmi baru bisa dikeluarkan setelah 9 bulan semenjak pendaftaran.

2.2 Dasar Hukum Hak Cipta di Indonesia


Secara historis, peraturan perundang-undangan di bidang HKI di Indonesia telah ada
sejak tahun 1840. Pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan undang-undang pertama
mengenai perlindungan HKI pada tahun 1844. Selanjutnya, Pemerintah Belanda
mengundangkan UU Merek tahun 1885, Undang-undang Paten tahun 1910, dan UU Hak
Cipta tahun 1912. Indonesia yang pada waktu itu masih bernama Netherlands East-Indies
telah menjadi anggota Paris Convention for the Protection of Industrial Property sejak tahun
1888, anggota Madrid Convention dari tahun 1893 sampai dengan 1936, dan anggota Berne
Convention for the Protection of L teraty and Artistic Works sejak tahun 1914. Pada zaman
pendudukan Jepang yaitu tahun 1942 sampai dengan 1945, semua peraturan perundang-
undangan di bidang HKI tersebut tetap berlaku.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.
Sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peralihan UUD 1945, seluruh peraturan perundang-
undangan peninggalan Kolonial Belanda tetap berlaku selama tidak bertentangan dengan
UUD 1945. UU Hak Cipta dan UU Merek tetap berlaku, namun tidak demikian halnya dengan
UU Paten yang dianggap bertentangan dengan pemerintah Indonesia. Sebagaimana
ditetapkan dalam UU Paten peninggalan Belanda, permohonan Paten dapat diajukan di
Kantor Paten yang berada di Batavia (sekarang Jakarta), namun pemeriksaan atas
permohonan Paten tersebut harus dilakukan di Octrooiraad yang berada di Belanda. Hingga
pada tahun 1953 Menteri Kehakiman RI mengeluarkan pengumuman yang merupakan
perangkat peraturan nasional pertama yang mengatur tentang Paten, yaitu Pengumuman
Menteri Kehakiman no. J.S 5/41/4, yang mengatur tentang pengajuan sementara permintaan
Paten dalam negeri, dan Pengumuman Menteri Kehakiman No. J.G 1/2/17 yang mengatur
tentang pengajuan sementara permintaan paten luar negeri.
Lebih lanjut mengenai merk pada tanggal 11 Oktober 1961 Pemerintah RI
mengundangkan UU No.21 tahun 1961 tentang Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan
untuk mengganti UU Merek Kolonial Belanda. UU No 21 Tahun 1961 mulai berlaku tanggal
11 November 1961. Penetapan UU Merek ini untuk melindungi masyarakat dari barang-

8
barang tiruan/bajakan.Berikutnya tanggal 10 Mei 1979 Indonesia meratifikasi Konvensi
Paris Convention for the Protection of Industrial Property (Stockholm Revision 1967)
berdasarkan keputusan Presiden No. 24 tahun 1979. Partisipasi Indonesia dalam Konvensi
Paris saat itu belum penuh karena Indonesia membuat pengecualian (reservasi) terhadap
sejumlah ketentuan, yaitu Pasal 1 sampai dengan 12 dan Pasal 28 ayat 1.
Pada tanggal 12 April 1982 Pemerintah mengesahkan UU No.6 tahun 1982 tentang
Hak Cipta untuk menggantikan UU Hak Cipta peninggalan Belanda. Pengesahan UU Hak
Cipta tahun 1982 dimaksudkan untuk mendorong dan melindungi penciptaan,
penyebarluasan hasil kebudayaan di bidang karya ilmu, seni, dan sastra serta mempercepat
pertumbuhan kecerdasan kehidupan bangsa.Dalam pelaksanaannya Undang-Undang Nomor
6 Tahun 1982 ini ternyata banyak dijumpai terjadinya pelanggaran terutama dalam bentuk
tindak pidana pembajakan terhadap hak cipta, yang telah berlangsung dari waktu ke waktu
dengan semakin meluas dan sudah mencapai tingkat yang membahayakan dan merugikan
kreatifitas untuk mencipta, yang dalam pengertian yang lebih luas juga akan membahayakan
sendi kehidupan dalam arti seluas-luasnya. (Rahmadi Usman, op. cit., hlm. 59).
Perkembangan kegiatan pelanggaran hak cipta tersebut dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Sebab-sebab timbulnya keadaan tersebut bersumber kepada :(Suyud Margono, op.cit.,
hlm. 58.)
1. Masih belum memasyarakatnya etika untuk menghargai karya cipta seseorang;
2. Kurangnya pemahaman terhadap arti dan fungsi hak cipta, serta ketentuan undang-
undang hak cipta pada umumnya, yang disebabkan karena masih kurangnya penyuluhan
mengenai hal tersebut;
3. Terlalu ringannya ancaman yang ditentukan dalam undang-undang hak cipta terhadap
pembajakan hak cipta.
Namun di luar faktor diatas, pengamatan terhadap Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1982 itu sendiri ternyata juga menunjukkan masih perlunya dilakukan beberapa
penyempurnaan sehingga mampu menangkal pelanggaran tersebut.Tahun 1986 dapat disebut
sebagai awal era moderen sistem HKI di tanah air. Pada tanggal 23 Juli 1986 Presiden RI
membentuk sebuah tim khusus di bidang HKI melalui keputusan No.34/1986 (dikenal dengan
tim Keppres 34). Tugas utama Tim Keppres adalah mencakup penyusunan kebijakan nasional
di bidang HKI, perancangan peraturan perundang-undangan di bidang HKI dan sosialisasi
sistem HKI di kalangan instansi pemerintah terkait, aparat penegak hukum dan masyarakat
luas.

9
Dalam memenuhi tuntutan penyempurnaan atas Undang-Undang Hak Cipta 1982
tersebut, maka pada tanggal 23 September 1987 Pemerintah atas persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat, diundangkanlah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang
perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta. Di dalam Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1987 skala perlindungan pun diperluas, diantara perubahan
mendasar yang terjadi di dalamnya adalah masa berlaku perlindungan karya cipta
diperpanjang menjadi 50 tahun setelah meninggalnya si pencipta. Karya-karya seperti
rekaman dan video dikategorikan sebagai karya-karya yang dilindungi. Selain itu salah satu
kelemahan dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 dalam menanggulangi pelanggaran
hak cipta karena peraturan pidananya sebagai delik aduan. Penyidik baru dapat melakukan
penangkapan terhadap pelakunya setelah adanya pengaduan dari pihak korban. Oleh karena
itu, dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 peraturan pidananya diubah menjadi delik
biasa. Warga masyarakat dapat melaporkan adanya peristiwa pelanggaran hak cipta tanpa
perlu ada pengaduan dari korban, penyidik dapat melakukan penangkapan terhadap
pelakunya. (Gatot Supramono, Hak Cipta dan Aspek- Aspek Hukumnya, Rineka Cipta,
Jakarta, 2010, hlm. 5-6).
Kemudian setelah berjalan selama 10 tahun UU Nomor 6Tahun 1982 jo UU Nomor
7 Tahun 1987 diubah dengan UU Nomor 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas UU Nomor
6 Tahun 1982 tentang hak cipta yang telah diubah dalam UU Nomor 7 Tahun 1987.
Perubahan undang-undang ini dikarenakan negara kita ikut serta dalam Persetujuan tentang
Aspek-Aspek Dagang Hak Atas Kekayaan Intelektual (Agreement on Trade Related Aspect
of Intellectual Property Rights, Including Trade Counterfeit Goods/ TRIPs) yang merupakan
bagian dari Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (Agreement
Establishing the World Trade Organization). Dengan keterkaitan tersebut negara kita telah
meratifikasi dengan UU Nomor 7 Tahun 1994 dan melanjutkan dengan menerapkan dalam
undang-undang yang salah satunya adalah Undang-Undang Hak Cipta. Selain itu, Indonesia
juga meratifikasi Berne Convention for the Protection of Arstistic and Literary
Works(Konvensi Berne tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra) melalui Keputusan
Presiden Nomor 18 Tahun 1997 dan World Intellectual Property Organization Copyrights
Treaty (Perjanjian Hak Cipta WIPO) dengan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1997.
Walaupun perubahan pengaturan Hak Cipta melalui UUHC 1997 telah memuat
beberapa penyesuaian pasal yang sesuai denganPerjanjian TRIPs, masih terdapat beberapa
hal yang perlu disempurnakan untuk memberi perlindungan bagi karya-karya intelektual di
bidang hak cipta, termasuk upaya umtuk memajukan perkembangan karya intelektual yang
10
berasal dari keanekaragaman seni dan budaya bangsa Indonesia. Dengan memperhatikan hal
tersebut dipandang perlu untuk mengganti UUHC dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun
2002 tentang Hak Cipta. Lalu disadari karena kekayaan seni dan budaya, serta pengembangan
kemampuan intelektual masyarakat Indonesia memerlukan perlindungan hukum yang
memadai agar terdapat iklim persaingan usaha yang sehat yang diperlukan dalam
melaksanakan pembangunan nasional, maka dibentuklah UUHC yang baru, yakni Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta agar sesuai dengan perkembangan hukum
dan kebutuhan masyarakat.
Beberapa kronologis lain yang cukup penting dalam perkembangan penguatan hak
cipta di Indonesia antara lain :
1. Tahun 1988 berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 ditetapkan pembentukan
Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek (DJHCPM) untuk mengambil alih
fungsi dan tugas Direktorat paten dan Hak Cipta yang merupakan salah satu unit eselon
II di lingkungan Direktorat Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan, Departemen
Kehakiman.
2. Pada tanggal 13 Oktober 1989 Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui RUU tentang
Paten yang selanjutnya disahkan menjadi UU No. 6 Tahun 1989 oleh Presiden RI pada
tanggal 1 November 1989. UU Paten 1989 mulai berlaku tanggal 1 Agustus 1991.
3. 28 Agustus 1992 Pemerintah RI mengesahkan UU No. 19 Tahun 1992 tentang Merek,
yang mulai berlaku 1 April 1993. UU ini menggantikan UU Merek tahun 1961.
4. Pada tanggal 15 April 1994 Pemerintah RI menandatangani Final Act Embodying the
Result of the Uruguay Round of Multilateral Trade Negotiations, yang mencakup
Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (Persetujuan
TRIPS).
5. Tahun 1997 Pemerintah RI merevisi perangkat peraturan perundang-undangan di bidang
HKI, yaitu UU Hak Cipta 1987 jo. UU No. 6 tahun 1982, UU Paten 1989 dan UU Merek
1992.
6. Akhir tahun 2000, disahkan tiga UU baru dibidang HKI yaitu : (1) UU No. 30 tahun
2000 tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri, dan UU
No. 32 tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.
7. Untuk menyelaraskan dengan Persetujuan TRIPS (Agreement on Trade Related Aspects
of Intellectual Property Rights) pemerintah Indonesia mengesahkan UU No 14 Tahun
2001 tentang Paten, UU No 15 tahun 2001 tentang Merek, Kedua UU ini menggantikan
UU yang lama di bidang terkait. Pada pertengahan tahun 2002, disahkan UU No.19
11
Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang menggantikan UU yang lama dan berlaku efektif
satu tahun sejak di undangkannya.
8. Pada tahun 2000 pula disahkan UU No 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas
Tanaman dan mulai berlaku efektif sejak tahun 2004.
Perangkat hukum di bidang hak kekayaan intelektual yang dipunyai Indonesia
diantaranya adalah:
1. UU No. 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman
2. UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
3. UU No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri
4. UU No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
5. UU No. 14 Tahun 2001 tentang Paten
6. UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek
7. UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
8. UU No. 7 Tahun 1994 Tentang Ratifikasi Trade Related Aspects of Intellectuals Property
Rights (TRIPs).

2.3 Tinjauan Umum tentang Karya Cipta Lagu atau Musik


2.3.1 Pengertian Lagu atau Musik
Lagu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti: 1. Langgam suara yang
berirama (dalam bercakap, bernyanyi, membaca, dan lain sebagainya); 2. Nyanyian; 3.
Ragam nyanyi/musik, gamelan, dan sebagainya; 4. Tingkah laku, cara, lagak; -Lagu
instrumental Lagu yang disampaikan hanya dengan alat-alat musik. Sedangkan yang
dimaksud dengan Musik, adalah: 1. Ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan
kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai
kesatuan dan kesinambungan; 2. Nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga
mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang
dapat menghasilkan bunyi - bunyi itu. Musik adalah ciptaan utuh yang terdiri dari unsur
lagu/melodi, syair atau lirik dan aransemen, termasuk notasinya1 Karya musik merupakan
tiap ciptaan baik yang sekarang telah ada maupun yang dibuat kemudian termasuk
didalamnya melodi dengan maupun tanpa lirik, gubahan / aransemen atau adaptasi.
Lagu atau musik sendiri dalam UUHC diartikan sebagai karya yang bersifat utuh,
sekalipun terdiri atas unsur lagu atau melodi, syair atau lirik, dan aransemennya termasuk
notasi. Yang dimaksud dengan utuh adalah bahwa lagu atau musik tersebut merupakan suatu

1
Hendratanu Atmadja, Op. Cit., hlm. 28.
12
kesatuan karya cipta2. Karya lagu atau musik adalah ciptaan utuh yang terdiri dari unsur lagu
atau melodi, syair atau lirik dan aransemen, termasuk notasinya, dalam arti bahwa lagu atau
musik tersebut merupakan suatu kesatuan karya cipta3
. Dalam UUHC, pengertian lagu dan musik merupakan satu kesatuan. Berbeda dengan
pengertian tentang lagu dan musik berdasarkan kamus bahasa Indonesia dimana dalam
pengertian tersebut dipisahkan antara pengertian lagu dengan musik. Lagu merupakan suatu
syair atau lirik yang mempunyai irama4. Sedangkan musik adalah suatu komposisi yang
terdiri dari notasi-notasi yang mempunyai melodi berirama5.

2.3.2 Pemilik dan Pemegang Hak Cipta Lagu atau Musik


Yang dimaksud dengan pemilik dan pemegang hak cipta lagu adalah:
Pemilik hak cipta adalah pencipta, yaitu seseorang atau beberapa orang yang dengan
kemampuan bakat dan pikiran serta melalui inspirasi dan imajinasi yang dikembangkannya
sehingga dapat menghasilkan karya yang spesifik dan bersifat pribadi.
Pemegang hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta atau pihak yang
menerima hak tersebut dari pencipta sesuai dari batasan yang tercantum dalam UUHC.
Pemegang hak cipta karya musik substansinya sama dengan pemegang hak cipta karya sastra,
hanya saja dalam praktiknya agak berbeda. Di dalam hak cipta karya musik biasanya terjadi
pemisahan antara pemilik hak cipta (Pencipta), Pemegang Hak Cipta (Publisher, dll), dan
Pengguna Hak Cipta (users)6
Hak cipta yang dianggap sebagai "benda bergerak" seperti yang diatur dalam Pasal 3
ayat (2) UUHC bahwa hak cipta dapat dipindahtangankan, dilisensikan, dialihkan dan dijual
oleh pemiliknya, dengan batasan-batasan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Pemilik hak cipta sebagai pemegang hak cipta dalam hal ini sudah sangat jelas
kedudukannya. Di dalam karya musik dapat disimpulkan bahwa seorang pencipta lagu
memiliki hak sepenuhnya untuk melakukan eksploitasi atas lagu ciptaannya. Hal ini berarti
bahwa pihak-pihak yang ingin memanfaatkan karya tersebut harus meminta izin terlebih
dahulu kepada penciptanya sebagai pemilik dan pemegang hak cipta. Sedangkan pengertian

2
Penjelasan Pasal 12 ayat (1) huruf (d) UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
3
Hulman Panjaitan, Maraknya Pembajakan Lagu Menunjukkan Rendahnya Pemahaman terhadap Hak Cipta,
http://www.inovasi.lipi.go.id/hki/news , diakses pada tanggal 29 September 2012
4
Departemen Pendidikan Nasional, Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Balai Pustaka, Jakarta, 1991, hlm. 657.
5
Ibid., hlm. 761.
6
Eddy Damian, Hukum Hak Cipta Menurut Beberapa Konvensi Internasional, UndangUndang HakCipta 1997
dan Perlindungannya terhadap Buku serta Perjanjian Penerbitannya,(Bandung,2002), hlm. 131.

13
umum pemegang hak cipta di luar penciptanya (bentuk pengalihan) yang selama ini
berkembang banyak berorientasi pada kebiasaan yang berlaku pada hak cipta karya
sastra/tulis.

2.3.2.1 Pengguna dalam Karya Cipta Lagu atau Musik


Pengguna atau user dalam karya cipta lagu atau musik menurut Husain Audah dibagi
menjadi:
1. Untuk Mechanical Rights (hak memperbanyak), pengguna atau user adalah
pengusaha rekaman (recording company).
2. Untuk Performing Right (hak mengumumkan), pengguna atau user adalah badan yang
menggunakan karya musik untuk keperluan komersil, (broadcast, hotel, restoran,
karaoke, diskotik, dll).
3. Untuk Printing Rights, pengguna atau user adalah badan yang menerbitkan karya
musik dalam bentuk cetakan, baik notasi (melodi lagu) maupun liriknya untuk
keperluan komersil.
4. Untuk Synchronization Rights, pengguna atau user adalah pelaku yang
menggabungkan karya cipta musik (audio) ke dalam gambar/film (visual) untuk
kepentingan komersil.

2.3.2.2 Eksploitasi Ciptaan Lagu atau Musik Melalui Lisensi


Salah satu aspek hak khusus pada Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah hak
ekonomi. Hak ekonomi itu diperhitungkan karena hak kekayaan intelektual dapat
digunakan/dimanfaatkan oleh pihak lain dalam perindustrian atau perdagangan yang
mendatangkan keuntungan. Dengan demikian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dapat
menjadi obyek perdagangan7.
Hak ekonomi seperti halnya hak moral pada mulanya ada pada pencipta. Namun jika
pencipta tidak akan mengeksploitasinya sendiri, pencipta dapat mengalihkannya kepada
pihak lain yang kemudian menjadi pemegang hak. Pengalihan hak eksploitasi ekonomi suatu
ciptaan biasanya dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama yang dituangkan dalam suatu
perjanjian.
Ada 2 (dua) cara pengalihan hak ekonomi yaitu8:

7
Insan Budi Maulana, Sukses Bisnis Melalui Merek, Paten, dan Hak Cipta,(Bandung,1997), hlm. 5.
8
Edy Damian, Op Cit., hlm. 113.
14
1. Pengalihan hak ekonomi/ hak eksploitasi dari pencipta kepada pemegang hak cipta
dengan memberikan izin atau lisensi (licence/ licentie) berdasarkan suatu perjanjian
yang mencantumkan hak-hak pemegang hak cipta dalam jangka waktu tertentu untuk
melakukan perbuatan tertentu dalam kerangka eksploitasi ciptaan yang tetap dimiliki
oleh pencipta. Untuk peralihan hak eksploitasi ini pencipta memperoleh suatu jumlah
uang yang tertentu sebagi imbalannya.
2. Dengan cara assignment (overdracht) atau dengan penyerahan yang diserahkan
berdasarkan perjanjian oleh pencipta kepada pihak lain yang kemudian menjadi
pemegang hak cipta adalah seluruh hak cipta atau sebagiannya dari suatu ciptaan yang
diatur dalam UUHC. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencipta menyerahkan
seluruh hak ciptanya kepada pemegang hak cipta dengan cara menjual seluruh hak
ciptanya dengan cara penyerahan. Hak cipta yang dijual seluruh atau sebagiannya
tidak dapat dijual untuk kedua kalinya oleh penjual yang sama (Pasal 26 ayat (2)
UUHC).
Lisensi adalah kontrak yang memungkinkan pihak lain selain pemilik hak kekayaan
intelektual untuk membuat, menggunakan, menjual atau mengimport produk atau jasa
berdasarkan kekayaan intelektual yang dimiliki oleh seseorang. Yang dapat dijadikan
pegangan bagi pengguna atau user dalam karya cipta lagu atau musik adalah lisensi atau izin
eksploitasi ciptaan, baik untuk Mechanical Rights, Performing Rights, Synchronazation
Rights maupun Printing Rights yang dituangkan dalam sebuah perjanjian tertulis. Dalam hal
ini Yayasan Karya Cipta Indonesia telah menerima kuasa dari pemilik hak untuk membuat
perjanjian dengan pengguna musik komersial dengan menerbitkan sertipikat lisensi
pengumuman musik.
Pemberi lisensi (dalam hal ini Karya Cipta Indonesia) harusnya mengetahui sampai
titik mana hak kekayaan intelektual dapat dilisensikan kepada pihak lain dan seberapa jauh
pemberi lisensi sudah dilindungi secara hukum. Demikian halnya bagi penerima lisensi (user)
harus mengetahui keabsahan dan kepemilikan atas obyek dari lisensi. Dengan demikian
dalam sertipikat lisensi tersebut baik bagi pemakai maupun penerima hak lisensi harus
mengetahui hak dan kewajibannya serta kesenangannya dalam menyerahkan/menggunakan
hak yang ada dalam hak cipta itu. Dalam lisensi dapat diatur tentang pembayaran biaya lisensi
berikut tahapannya, royalti atau biaya-biaya lainnya kepada pemilik kekayaan intelektual.

15
Pada dasarnya ada empat penggunaan karya cipta lagu atau musik yang harus melalui
pemberian lisensi, yaitu9:
1. Lisensi Mekanikal (Mechanical Licences)
Lisensi Mekanikal diberikan kepada perusahaan rekaman sebagai bentuk izin
penggunaan karya cipta. Seorang pencipta lagu dapat melakukan negosiasi langsung atau
melalui penerbit musiknya dengan siapa saja yang menginginkan lagu ciptaannya untuk
dieksploitasi. Artinya, siapa saja yang ingin merekam, memperbanyak, serta mengedarkan
sebuah karya cipta bagi kepentingan komersial berkewajiban mendapatkan Lisensi
Mekanikal. Bila sebuah lagu telah dirilis secara komersial untuk pertama kalinya dan telah
melewati batas waktu yang disepakati bersama, maka si pencipta lagu dapat memberikan
Lisensi Mekanikal untuk lagu ciptaannya tersebut kepada siapa saja yang memerlukannya
untuk dieksploitasi kembali. Biasanya bentuk album rilis kedua dan selanjutnya ini
diterbitkan dalam bentuk cover version, album seleksi atau kompilasi.
2. Lisensi Pengumuman/Penyiaran (Performing Licences)
Lisensi Penyiaran ialah bentuk izin yang diberikan oleh pemilik hak cipta bagi
lembaga-lembaga penyiaran, seperti stasiun televisi, stasiun radio, konser-konser, dan lain
sebagainya. Setiap kali sebuah lagu ditampilkan atau diperdengarkan kepada umum untuk
kepentingan komersial, penyelenggara siaran tersebut berkewajiban membayar royalti kepada
si pencipta lagunya. Pemungutan royalti performing rights ini umumnya dikelola atau
ditangani oleh sebuah lembaga administrasi kolektif hak cipta (Collective Administration
Copyright) atau biasa disebut dengan Membership Collecting Society.
3. Lisensi Sinkronisasi (Synchronization Licences)
Lisensi Sinkronisasi (Synchronization Licences) Melalui sebuah Lisensi Sinkronisasi,
pengguna atau user dapat mengeksploitasi ciptaan seseorang dalam bentuk visual image
untuk kepentingan komersial. Visual image ini biasanya berbentuk film, video, VCD,
program televisi, atau audio visual lainnya.
4. Lisensi Mengumumkan Lembar Hasil Cetakan (Print Licences)
Lisensi Penerbitan Lembar Cetakan ini diberikan untuk kepentingan pengumuman
sebuah lagu dalam bentuk cetakan, baik untuk partitur musik maupun kumpulan notasi dan
lirik lagu-lagu yang diedarkan secara komersial. Hal ini banyak diproduksi dalam bentuk
buku nyanyian atau dimuat pada majalah musik dan lain-lain.

9
Husain Audah, Hak Cipta dan Karya Cipta Musik (Jakarta,2004)., hlm. 29-32.

16
5. Lisensi Luar Negeri (Foreign Licences)
Lisensi Luar Negeri ini adalah sebuah lisensi yang diberikan pencipta lagu atau
penerbit musik kepada sebuah perusahaan Agency di sebuah negara untuk mewakili mereka
untuk memungut royalti lagunya atas penggunaan yang dilakukan oleh pengguna-pengguna
di negara bersangkutan bahkan di seluruh dunia.
Sebagai contoh, banyak para penerbit musik yang menggunakan The Harry Fox
Agency di Amerika, untuk melakukan negosiasi guna kepentingan pengurusan lisensi
performing rights dan yang lainnya dengan Collecting Society di seluruh dunia.
6. Kualifikasi Tindak Pidana (Pelanggaran) Atas Hak Cipta Lagu
Untuk memahami perbuatan itu merupakan perbuatan pelanggaran hak cipta harus
dipenuhi unsur-unsur penting sebagai berikut10:
1. Larangan undang-undang. Perbuatan yang dilakukan oleh seorang pengguna hak
kekayaan intelektual dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang.
Izin (lisensi). Penggunaan hak kekayaan intelektual dilakukan tanpa persetujuan
(lisensi) dari pemilik atau pemegang hak terdaftar.
2. Pembatasan undang-undang. Penggunaan hak kekayaan intelektual melampaui batas
ketentuan yang telah ditetapkan oleh undang-undang.
Adapun spesifikasi dari jenis pelanggaran yang terjadi dalam lingkup hak cipta antara
lain adalah11:
1. Seseorang yang tanpa persetujuan pencipta meniadakan nama pencipta yang
tercantum pada ciptaan tersebut.
2. Mencantumkan nama pencipta pada ciptaan tanpa persetujuan si pencipta.
3. Mengganti atau mengubah isi ciptaan tanpa persetujuan pencipta.
4. Mengomersilkan, Memperbanyak atau menggandakan suatu ciptaan tanpa seizin
pemegang hak cipta.
5. Memuat suatu ketentuan yang merugikan perekonomian Indonesia dalam suatu
perjanjian lisensi.
Akan tetapi disini tidak dapat dikatakan melanggar hak cipta apabila12:
1. Suatu ciptaan pihak lain digunakan untuk keperluan pendidikan, penelitian dan hal-
hal non komersil lainnya.

10
AbdulKadir Muhammad, Op. Cit., hlm. 240.
11
Ibid., hlm. 241.
12
Ibid., hlm. 244.
17
2. Penggunaan ciptaan pihak lain untuk keperluan pembelaan dalam suatu proses
sengketa baik di dalam maupun di luar jalur pengadilan.
3. Perbanyakan suatu ciptaan bidang ilmu pengetahuan dalam huruf braile untuk
keperluan tuna netra.
4. Perubahan yang dilakukan atas karya arsitektur seperti ciptaan bangunan berdasarkan
pertimbangan teknis. Maksudnya adalah apabila karya arsitektur tersebut misalkan
membahayakan keselamatan umum maka dapat diubah tanpa seizin penciptanya.
5. Pembuatan salinan cadangan suatu program komputer yang bukan untuk keperluan
komersil.
Lebih spesifik, yang termasuk pelanggaran atas hak cipta karya musik atau lagu
adalah sebagai berikut13:
1. Pembajakan Produksi Rekaman Musik
Jenis pelanggaran ini adalah bentuk tindakan penggandaan, pengumuman dan
pengedaran musik untuk kepentingan komersial yang dilakukan secara tidak sah, atau bentuk
tindakan pemalsuan terhadap produksi yang legal. Di dalam tindakan pemalsuan ini
menyangkut pula di dalamnya bentuk pelanggaran hak cipta. Sehingga setiap pelaku
pembajakan, tentunya akan terjerat pada tiga sisi hukum. Yang pertama adalah yang
berkenaan dengan tindakan pemalsuan terhadap produksi rekaman musik (tangible), dan yang
kedua adalah pelanggaran terhadap hak cipta (intangible) yang merupakan bagian yang tak
terpisah dari produk yang dibajak serta di sisi lain merupakan karya yang mempunyai hak
eksklusif dan berdiri sendiri, dan yang ketiga adalah melanggar undang-undang perpajakan
dalam hal stiker lunas PPn (Pajak Pertambahan Nilai).
2. Peredaran Ilegal
Yang dimaksud peredaran illegal di sini adalah sebuah produksi rekaman musik yang
telah memenuhi semua kewajiban dan ketentuan terhadap materi produksi yang berkaitan
dengan hak cipta, tapi peredarannya dilakukan secara illegal. Artinya, di dalam produksi
tersebut tidak terdapat pelanggaran hak cipta, namun dalam peredarannya pelaku industri ini
melanggar undang-undang perpajakan dengan mengabaikan kewajiban pembayaran pajak
pertambahan nilai (PPn) yang mengakibatkan kerugian bagi negara.
3. Pelanggaran Hak Cipta
Pelangaran-pelanggaran terhadap hak cipta, baik hak ekonomi maupun hak moral,
meliputi hal-hal seperti di bawah ini:

13
Husain Audah, Op. Cit., hlm. 37-39.
18
1. Pengeksploitasian (pengumuman, penggandaan, dan pengedaran) untuk kepentingan
komersial sebuah karya cipta tanpa terlebih dahulu meminta izin atau mendapatkan
lisensi dari penciptanya, termasuk di dalamnya tindakan penjiplakan.
2. Peniadaan nama pencipta pada ciptaannya. Penggantian atau perubahan nama
pencipta pada ciptaannya yang dilakukan tanpa persetujuan dari pemilik hak ciptanya.
3. Penggantian atau perubahan judul sebuah ciptaan tanpa persetujuan dari penciptanya.
Perbuatan-perbuatan yang juga tergolong pelanggaran hak cipta lagu kaitannya
dengan hak ekonomi:14
1. Perbuatan tanpa izin mengumumkan ciptaan lagu: Menyanyikan dan
mempertunjukkan lagu di depan umum (seperti dalam konser, pesta, bar, kafe, serta
pertunjukkan musik hidup lainnya);
2. Memperdengarkan lagu kepada umum (memutar rekaman lagu yang ditunjukkan
kepada umum, misalnya di diskotik, karaoke, taman hiburan, kantor-kantor, mall,
plaza, stasiun angkutan umum, alat angkutan umum, dan lain-lain);
3. Menyiarkan lagu kepada umum (radio dan tv yang menyiarkan acara pertunjukkan
musik/lagu atau menyiarkan rekaman lagu;
4. Mengedarkan lagu kepada umum (mengedarkan lagu yang sudah direkam dalam
kaset, CD, dan lain-lain atau mengedarkan syair atau notasi lagu yang
dicetak/diterbitkan atau mengedarkan melalui internet, mengedarkan bagian lagu
sebagai nada dering ponsel atau ringtone, dan sebagainya);
5. Menyebarkann lagu kepada umum (sama dengan mengedarkan);
6. Menjual lagu (sifatnya sama dengan mengedarkan, tetapi lebih ditekankan untuk
memperoleh pembayaran dari orang yang mendapatkan lagu tersebut).
7. Perbuatan tanpa izin memperbanyak ciptaan lagu:
8. Merekam lagu (dengan maksud untuk direproduksi);
9. Menggandakan atau mereproduksi lagu secara mekanik atau secara tertulis/cetak
(misalnya memperbanyak kaset atau CD lagu atau mencetak dalam jumlah banyak
lagu secara tertulis atau yang berupa syair dan notasi);
10. Mengadaptasi atau mengalihwujudkan lagu (misalnya dari lagu pop menjadi lagu
dangdut);

14
Otto Hasibuan, Hak Cipta di Indonesia, Tinjauan Khusus Hak Cipta Lagu, Neighbouring Rights & Collecting
Society,(Bandung,2008) dalam skripsi Dewi Ariany S. 2010. Perlindungan Hukum terhadap Hak Cipta Atas
Lagu Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta (Studi Terhadap Perkara No.
76/HC/2008/PN. Niaga.JKT.PST), hlm. 54.
19
11. Mengaransemen lagu (membuat aransemen lagu); dan
12. Menerjemahkan lagu (menerjemahkan syair lagu dari bahasa tertentu ke bahasa
lainnya).

20
BAB III
ANALISIS KASUS

3.1. Kasus Dalam Negeri


Kelompok kami akan membahas pelanggaran hak cipta lagu terhadap rumah karaoke
yang ada di Makassar.
3.1.1 Pelanggaran Hak Cipta Lagu terhadap Rumah Karaoke di Makassar
Pemberlakuan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta pada 29 Juli 2003 diyakini
banyak pihak mampu memberantas praktik pembajakan hak cipta selama ini di Indonesia.
Keyakinan ini didasarkan pada beberapa alasan, di antaranya adanya penyempurnaan
terhadap materi UU Hak Cipta sendiri.
Beberapa penyempurnaan dalam UUHC meliputi; 1). Database merupakan salah satu
ciptaan yang dilindungi; 2). Penggunaan alat apa pun baik melalui kabel maupun tanpa kabel
termasuk internet, untuk pemutaran produk-produk cakram optik (optical disk) melalui media
audio, media audiovisual, dan/atau sarana telekomunikasi; 3). Penyelesaian sengketa oleh
pengadilan niga arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa; 4) penetapan sementara
pengadilan untuk mencegah kerugian lebih besar bagi pemegang hak; 5). Batas waktu proses
perkara perdata di bidang hak cipta dan hak terkait baik di Pengadilan Niaga maupun di
Mahkamah Agung; 6). Pencantuman hak informasi manajemen elektronik dan sarana kontrol
teknologi; 7). Pencantuman mekanisme pengawasan dan perlindungan terhadap produk-
produk yang menggunakan sarana produksi berteknologi tinggi; 8). Ancaman pidana atas
pelanggaran hak terkait; 9). Ancaman pidana dan denda minimal; 10). Ancaman pidana
terhadap perbanyakan penggunaan program komputer untuk kepentingan komersial secara
tidak sah dan melawan hukum.
Perlindungan hukum terhadap hak cipta dimaksudkan untuk mendorong individu-
individu di dalam masyarakat yang memiliki kemampuan intelektual dan kreativitas agar
lebih bersemangat menciptakan sebanyak mungkin karya cipta yang berguna bagi kemajuan
bangsa.
Jenis pidana pokok (strafmaat) terhadap pelaku pelanggaran hak cipta adalah
berupa sanksi pidana penjara dan sanksi pidana denda. berat ringannya pidana
(strafsoort) yang dapat dikenakan terhadap pelaku pelanggaran hak cipta dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Sanksi Pidana Penjara :

21
Pidana penjara merupakan pidana perampasan kemerdekaan yang waktu atau lamanya
dari penjara sementara selama minimal 1 hari sampai dengan pidana penjara seumur hidup.
Dalam hal pelanggaran hak cipta, maksimum sanksi pidana penjara yang dapat dikenakan
terhadap pelaku pelanggaran hak cipta adalah paling lama 7 (tujuh) tahun.
b. Sanksi Pidana Denda :
Pidana denda adalah pidana yang ditujukan terhadap harta benda, berbeda dengan
pidana lainnya seperti pidana mati yang ditujukan kepada jiwa seseorang pelaku tindak
pidana, sedangkan pidana penjara dan kurungan ditujukan terhadap kebebasan (kemerdekaan
seseorang). Dalam hal pelanggaran hak cipta, sanksi pidana denda yang dapat dikenakan
terhadap pelaku pelanggaran hak cipta adalah paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta
rupiah), dan paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
Berikut Penulis akan menguraian secara lengkap mengenai sistem pemidanaan
terhadap pelaku pelanggaran hak cipta sebagaimana yang terdapat dalam ketentuan Pasal 72
UUHC:
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk
kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah).
4. Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).
5. Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 49 ayat (3)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

22
6. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
7. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
8. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
9. Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu
miliar lima ratus juta rupiah).
Mencermati kategorisasi dari perbuatan pidana tersebut, maka bentuk pelanggaran
hak cipta lagu sesungguhnya sejalan dengan rumusan perbuatan yang pertama dan kedua.
Hak cipta sebagai hak monopoli, dimana di dalamnya terdapat dua macam hak, sangat
potensial mengalami pelanggaran. Pelanggaran tersebut dapat mencakup pada pelanggaran
hak moral dan hak ekonomi. Pelanggaran hak moral atas ciptaan dapat diwujudkan dengan
tidak mencantumkan nama pencipta atau melakukan perubahan atas ciptaan tanpa seizin
penciptanya
Sebagaimana data yang telah penulis kumpulkan dengan teknik wawancara dengan
pihak kepolisian Sub Industri dan Perdagangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Daerah
Sulawesi Selatan, Pihak Yayasan Karya Cipta Indonesia Wilayah Sulawesi dan Papua serta
pihak-pihak Rumah Bernyanyi Karaoke di Kota Makassar. Penulis menemukan suatu perkara
pelanggaran hak cipta lagu dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau
memperbanyak ciptaan tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta yang dilakukan oleh
Denpasar Mas Karaoke sekitar tahun 2005 sampai dengan 2012 di kota Makassar Sulawesi
Selatan.
Denpasar Mas Karaoke telah melakukan dengan sengaja dan tanpa hak
mengumumkan atau memperbanyak hak cipta berupa pengumuman musik / lagu ditempat
usahanya tanpa izin dari pemegang hak cipta atau pencipta lagu sejak tahun 2005 sampai
dengan tahun 2012 dengan cara pengunjung memesan ruangan untuk melakukan hiburan
berupa bernyayi dan pihak manajemen Denpasar Mas Karaoke mengantarkan pengunjung ke
dalam ruangan yang telah dipesan, sesampainya diruangan pengunjung bebas memilih
kategori lagu yang terdiri dari lagu Indonesia, lagu barat, lagu daerah, lagu keroncong, dan
23
lagu dangdut, seperti lagu daerah bugis makassar (lagu Bangkenga Cini dengan pencipta Iwan
Tompo) serta bisa mencari lagu berdasarkan nama artis yang menyayikan atau judul lagu
yang kesemuanya itu ditampilkan dilayar monitor yang terdapat dalam ruangan tersebut.
setelah selesai melakukan aktivitas bernyanyi pengunjung ke kasir untuk membayar sesuai
dengan lama waktu pemakaian ruangan atau room sesuai jenis ruangan yang dipakai15.
Sebagai pihak yang telah diberi kuasa oleh kurang lebih 3000an pemilik ciptaan lagu di
Indonesia, YKCI mengirimkan surat sebanyak 3 (tiga) kali kepada Denpasar Mas Karaoke
tetapi pihak Denpasar Mas Karaoke tidak menghiraukan surat tersebut. Oleh karena Denpasar
Mas Karaoke ini telah termasuk dalam kategori users yang bermasalah selanjutnya pihak
YKCI melaporkan masalah tersebut ke polisi.
Disaat tulisan ini dibuat perkara ini telah dialihkan ke kejaksaan dan telah dinyatakan
P21 (berkas dinyatakan sudah lengkap). Oleh karena perkara ini belum memperoleh
keputusan yang inkrahk (yang berkekuatan hukum tetap) dari Majelis Hakim maka
terhadapnya berlaku asas praduga tak bersalah (presumption of innocence).
Dari sinopsis kasus yang telah Penulis paparkan dan didasarkan atas kesimpulan yang
diambil oleh penyidik di Subdit 1 Reskrimsus Polda Sulsel setelah mendengar keterangan
para saksi, keterangan ahli dan keterangan tersangka dihubungkan dengan barang bukti yang
ada, pengelola Denpasar Mas Karaoke telah melakukan pelanggaran atas karya cipta lagu.
Selama pendirian usaha tersebut. Yohanes Saleha selaku Manajer Denpasar Mas Karaoke
dalam penggunaan lagu hasil karya ciptaan seorang pencipta dengan tujuan komersil tidaklah
memperoleh izin atau tidak megurus izin penggunaan lagu tersebut dari pencipta atau
pemegang hak cipta lagu.
Dalam kasus ini tersangka dipersangkakan melanggar Pasal 72 ayat (1), Jo. Pasal 2
ayat (1) Undang-undang RI No. 19 tahun 2002, tentang Hak Cipta. Pasal 72 Ayat (1) UUHC
yang rumusannya adalah sebagai berikut :
Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (2) dipidana dengan penjara masing-masing paling
singkat 1 (satu) bulan dan atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,- (satu Juta rupiah) atau
pidana penjara paling lama 7 (tujuh) dan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,- (lima
miliar rupiah). Uraian dari setiap unsur tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
Pertama, unsur barangsiapa. Ini menandakan yang menjadi subjek delik adalah
siapapun. Kalau menurut KUHP yang berlaku sekarang, hanya manusia yang menjadi

15
Resume Laporan Polisi No. Pol.: LPB/ 176/ IV/ 2012/SPKT, tanggal 17 April 2012.(Resume terlampir)
24
subjek delik, sedangkan badan hukum tidak menjadi subjek delik. Tetapi, dalam undang-
undang khusus seperti undang-undang tindak pidana ekonomi, badan hukum atau korporasi
juga menjadi subjek delik. Dalam UUHC, barangsiapa bisa ditunjuk antara lain, kepada
pelaku dan produser rekaman suara. Pelaku adalah aktor, penyanyi, pemusik, penari, atau
mereka yang menampilkan, memperagakan, mempertunjukkan, menyanyikan,
menyampaikan, mendeklamasikan atau memainkan suatu karya musik, drama, tari, sastra,
folklore, atau karya seni lainnya. Produser rekaman suara adalah orang atau badan hukum
yang pertama kali merekam dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman
suara atau perekaman bunyi, baik perekaman dari suatu pertunjukan maupun perekaman
suara atau perekaman bunyi lainnya. Dalam kasus ini Unsur Barang Siapa ditujukan
kepada Manajer Denpasar Mas Karaoke sebagai subjek hukum, maka Penulis berpendapat
unsur barang siapa terpenuhi.
Kedua, unsur dengan sengaja dan tanpa hak. Kebanyakan tindak pidana mempunyai
unsur kesengajan atau opzet bukan unsur culpa (kelalaian). Ini adalah layak, oleh karena
biasanya yang pantas mendapat hukuman pidana itu ialah orang yang melakukan sesuatu
dengan sengaja. Kesengajan ini dapat berupa kesengajaan yang bersifat tujuan (oogmerk),
kesengajaan secara keinsafan kepastian (Opzet bij zekerheidsbewustzijn), dan kesengajaan
secara keinsfan kemungkinan (Opzet bij mogelijkheidsbewustzjin).
Mengenai arti tanpa hak dari sifat melanggar hukum, dapat dikatakan bahwa mungkin
seseorang tidak mempunyai hak untuk melakukan suatu perbuatan yang sama sekali tidak
dilarang oleh suatu peraturan hukum. Menurut ketentuan Pasal 1 angka 4 UUHC, pemegang
hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta atau pihak yang menerima hak tersebut
dari pencipta. Pemilik hak cipta dapat mengalihkan atau menguasakan sebagian atau seluruh
haknya kepada orang/badan hukum baik melalui perjanjian, surat kuasa maupun dihibahkan
atau diwariskan. Tanpa pengalihan atau kuasa tersebut, maka tindakan itu merupakan tanpa
hak bahwa Denpasar Mas Karaoke telah melakukan dengan sengaja dan tanpa hak
mengumumkan atau memperbanyak hak cipta berupa pengumuman musik / lagu ditempat
usahanya tanpa izin dari pemegang hak cipta, pemilik hak terkait atau kuasa atas lagu. Unsur
ini terpenuhi karena manajemen Denpasar Mas Karaoke dengan sadar telah mengumumkan
atau memperbanyak hak cipta berupa pengumuman musik / lagu ditempat usahanya tanpa
izin dari pemegang hak cipta, pemilik hak terkait atau kuasa atas lagu sendiri yang diakui
oleh Yohanes Saleha sendiri16.

16
Resume Laporan Polisi terlampir
25
Hal ini pun didukung oleh keterangan yang mengatakan bahwa Muh. Mustafa selaku
Kepala Yayasan Karya Cipta Indonesia Wil. Sulawesi dan Papua telah mengirimkan surat
pemberitahuan, surat pengingat, dan surat peringatan kepada pihak Denpasar Mas Karaoke
namun tidak diacuhkan. Inilah hal yang menampakkan bahwa Denpasar Mas Karaoke dengan
sengaja melakukan pelanggaran hak cipta17.
Keempat, unsur perbuatan dapat dikualifikasikan dalam bentuk mengumumkan.
Menurut ketentuan Pasal 1 ayat (5) UUHC, pengumuman adalah pembacaan, penyiaran,
pameran, penjualan, pengedaran atau penyebaran suatu ciptaan dengan menggunakan alat apa
pun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apa pun, sehingga suatu ciptaan
dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain; dan unsur memperbanyak (perbanyakan),
menurut ketentuan Pasal 1 ayat (6) UUHC, adalah penambahan jumlah suatu ciptaan, baik
secara keseluruhan maupun sebagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-
bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau
temporer. Dalam kasus ini Denpasar Mas Karaoke memperdengarkan /mempertontonkan
/menyiarkan ciptaan lagu kepada umum yang memutar lagu yang dinyanyikan pengunjung
karaoke Denpasar Mas.
Terhadap Perkara Denpasar Mas Karaoke, Penulis belumlah dapat menguraikan
bentuk pelanggaran perbanyakan yang dilakukan oleh Denpasar Mas Karaoke karena
penelitian terhadap kasus Denpasar Mas Karaoke hanya berdasarkan pada resume laporan
Polisi yang tidak dapat membuktikan bahwa rumah bernyanyi karaoke melakukan
perbanyakan atas hak cipta lagu. Akan tetapi hal ini tidaklah membuktikan bahwa rumah
bernyanyi karaoke tidaklah melakukan pelanggaran dalam bentuk perbanyakan. Penelitian
ini akan membuktikan bahwa rumah bernyanyi karaoke selain melakukan pelanggaran dalam
hal mengumumkan hak cipta lagu sebagaimana perkara Denpasar Mas Karaoke juga
melakukan pelanggaran perbanyakan hak cipta lagu.
Telah diketahui bahwa tidak akan terjadi pelanggaran hak cipta setelah penggunaan
materi yang di dalamnya terdapat suatu hak cipta telah memperoleh lisensi dengan syarat dan
batasan waktu tanpa mengurangi pembatasan-pembatasan dalam undang-undang.
Setiap tahunnya pihak rumah bernyanyi karaoke memperoleh sertipikat lisensi hak
untuk mengumumkan dari YKCI setelah rumah bernyanyi karaoke tersebut membayar royalti
kepada YKCI. Diluar dari hak yang diperoleh dari YKCI, rumah bernyanyi karaoke tidak
diperkenankan melakukan eksploitasi lain dari materi hak cipta tersebut. Berikut bentuk

17
Resume Laporan Polisi terlampir
26
perbuatan yang juga Penulis kategorikan sebagai pelanggaran hak cipta. Selain
mengumumkan, rumah bernyanyi karaoke juga melakukan penggandaan atau perbanyakan18
terhadap materi ciptaan yang telah memperoleh hak cipta. Rumah bernyanyi karaoke
membeli lagu yang kemudian lagu tersebut dikopi ke server atau player music milik mereka.
Menurut Penulis hal ini dapat dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran hak cipta karena
lisensi yang diperoleh oleh rumah bernyanyi karaoke hanyalah hak untuk mengumumkan
bukan untuk memperbanyak atau menggandakan materi hak cipta. Untuk lebih jelasnya
Penulis akan menguraikan pemberian kuasa dalam pemungutan royalti antara pencipta lagu
dengan YKCI serta sertipikat perjanjian lisensi yang diterbitkan YKCI untuk rumah
bernyanyi karaoke.
Pemberian kuasa yang dilakukan oleh pencipta lagu kepada YKCI dalam memungut
royalti dari users berdasarkan perjanjian pemberian kuasa secara penuh untuk mengelola
perizinan hak mengumumkan dibidang musik dan pengalihannya kepada pihak lain menurut
ketentuan-ketentuan yang dituangkan ke dalam surat perjanjian kerja sama antara pencipta
lagu dengan YKCI. Untuk keperluan itu penerima kuasa diberi hak untuk melakukan
perundingan-perundingan, menandatangani kontrak-kontrak dengan pihak lain yaitu
pemakaian pada umumnya, tentang hak mengumumkan karya cipta musik pencipta baik di
Indonesia maupun di luar negeri; mengadakan pendaftaran repertoire karya cipta musik, baik
yang berupa instrumental maupun non-instrumental; menandatangani surat-surat, dokumen-
dokumen, dan surat perjanjian dengan pihak lain berhubungan dengan pengelolaan hak
mengumumkan karya cipta musik pencipta dan melakukan segala hal yang perlu untuk
kepentingan pemberi kuasa sesuai repertoire yang diserahkan dan didaftarkan kepada YKCI;
memungut dan menagih royalti atas pemakaian hak mengumumkan (performing right) dan
menandatangani kuitansi penerimaan royalti; melakukan segala sesuatu yang dianggap perlu
untuk kepentingan pemberi kuasa termasuk urusan menghadap ke pengadilan19.
Dari uraian surat kuasa di atas diketahui bahwa YKCI hanya menagih royalti dari
users atas penggunaan hak mengumumkan dari ciptaan lagu pencipta. Tampaklah bahwa
YKCI diberikan kuasa oleh pencipta lagu untuk mengalihkan hak ekonomi dari ciptaan
tersebut hanya sebatas untuk mengumumkan lagu pencipta. Di atas Penulis telah
menyinggung perolehan sertipikat lisensi yang diberikan oleh YKCI setelah rumah bernyanyi

18
Perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu Ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang
sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama,termasuk
mengalihwujudkan secara permanen atau temporer (Pasal 1 angka 6 UUHC).
19
Surat kuasa antara Pencipta lagu dengan YKCI terlampir
27
karaoke membayar royalti kepada YKCI sekali setahun. Oleh karena pemberian kuasa hanya
sebatas untuk mengumumkan lagu maka YKCI pun hanya berhak menerbitkan sertipikat
dalam hal pengumuman lagu. Lebih jelasnya Penulis akan memberikan uraian mengenai isi
dari sertipikat lisensi itu sendiri.
Sertipikat lisensi yang diberikan YKCI kepada rumah bernyanyi karaoke itu berjudul
Sertipikat Lisensi Hak Pengumuman Karya Cipta Lagu. Yang memberikan rumah
bernyanyi karaoke hak untuk mengumumkan, menyiarkan, memutar, atau memainkan musik
dalam bentuk karaoke20.
Berdasarkan surat kuasa dan sertipikat lisensi yang telah Penulis jelaskan di atas dapat
ditarik simpulan bahwa rumah bernyanyi karaoke hanya dapat menggunakan hak ekonomi
ciptaan lagu sebatas mengumumkan lagu tersebut. Tetapi kenyataanya, penelitian yang
melibatkan 11 rumah bernyanyi karaoke ini menunjukkan bahwa rumah bernyanyi karaoke
telah melakukan suatu perbuatan tanpa menghiraukan hak pencipta.
Terlebih dahulu Penulis akan mendeskripsikan bahwa ke-11 rumah bernyanyi karaoke
menggunakan player music berbentuk hard disc dengan kapasitas rata-rata yang dimiliki
adalah terabyte. Dengan jumlah lagu pada masing-masing rumah bernyanyi karaoke tentulah
berbeda. Dua diantara ke-11 rumah bernyanyi karaoke memiliki jutaan lagu dengan hard disc
hingga 12 terabytes. Tentunya ke-11 rumah bernyanyi karaoke ini mengakui bahwa mereka
telah memperoleh sertipikat pengalihan hak atas lagu yang terdapat pada server mereka. Tapi
hasil penelitian menunjukkan bahwa ada rumah bernyanyi karaoke yang sertipikat lisensinya
telah daluwarsa21.
Perbuatan tanpa menghiraukan hak pencipta yang menurut Penulis dikategorikan
sebagai salah satu bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh rumah bernyanyi karaoke, yaitu
dengan mengurangi besar ukuran file tiap lagu22. Dengan pengurangan ini kualitas tampilan
video lagu dapat menjadi menurun. Penulis mengambil contoh dari Rumah Bernyanyi Orange
Karaoke Makassar yang memiliki hard disc berkapasitas 12 terabytes dengan jumlah lagu
sebanyak 14 juta buah23.

20
Sertipikat lisensi YKCI terlampir
21
Hasil wawancara dengan Muhammad Mustafa, kepala cabang YKCI wilayah Sulawesi dan Papua tanggal
20 Desember 2012
22
Pengurangan ukuran file juga dikenal dengan istilah kompresi file
23
Hasil wawancara dengan supervisor Orange Karaoke Makassar pada tanggal 19 Nopember 2012
28
Tabel 3.1 Binary Digit

Teraby
= GigaByte Megabyte KiloByte Byte
te
1.099.511.627.7
1 Terabyte 1 1.024 1.048.574 1.073.741.824
76
1 Gigabyte - 1 1.024 1.048.574 1.073.741.824
1 Megabyte - - 1 1.024 1.048.574
1 Kilobyte - - - 1 1.024
1 Byte - - - - 1

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa 1 Terabyte itu sama dengan 1.024 Gigabytes sama
dengan 1.048.576 Megabytes. Apabila hard disc berkapasitas 12 terabytes maka total ukuran
file lagu atau video yang dapat ditampung hard disc tersebut adalah 12.582.912 Megabytes.
Dengan memerhatikan perhitungan tersebut 12 terabytes = 12.582.912 megabytes, dengan
jumlah lagu sebanyak 14.000.000 buah lagu dan setiap lagu tersebut berukuran puluhan
megabytes sebagaimana ukuran rata-rata video orisinalnya, maka:
14.000.000 x 40 megabytes = 560.000.000 megabytes
Hal ini melebihi kapasitas hard disc rumah bernyanyi Orange Karaoke Makassar yang
hanya berkapasitas 12.582.912 megabytes. Kemungkinan yang ada adalah setiap lagu yang
berbentuk video tersebut ukuran file-nya telah diperkecil.
12 terabytes = 12.884.901.888 kilobytes
12.884.901.888 kilobytes : 14.000.000 = 920 kilobytes
Jadi, berdasarkan perhitungan di atas telah dipastikan bahwa dengan hard disc
berkapasitas 12 terabytes dengan Video lagu sebanyak 14.000.000 buah hanya dapat
dimasukkan ke dalam player music dengan lagu yang telah diperkecil ukurannya hingga
kurang lebih 920 kilobytes/video lagu24.
Apabila pelaku usaha ini telah meminta izin akan bentuk eksploitasian video lagu
tersebut maka pelaku usaha ini tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggar hak cipta. Tetapi

24
Keadaan ini hampir sama disaat pertama kali ditemukannya MP3 oleh Karl Heinz Brandenburg seorang
ilmuwan dari Jerman. Dengan setiap keping CD (Compact Disc) berkapasitas 700 Mb sanggup menyimpan
kurang lebih 200 lagu. Sebuah lagu dengan durasi 3 menit dapat menyita alokasi hard disc sebesar 30 Mb.
Lagu yang sama dengan format MP3 hanya membutuhkan ruang sebesar 3 Mb dengan penurunan kualitas
walau hanya minimum tentunya. Trerdapat dalam www.anehdidunia.com, diakses tanggal 15 Januari 2013
29
pelaku usaha karaoke yang dijadikan contoh pada penulisan ini hanyalah mengurus izin
pengalihan hak di YKCI25.
Di rumah bernyanyi karaoke yang berbeda, Penulis juga menemukan bentuk
perbuatan yang menurut Penulis dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak cipta. Tidak
dapat dipungkiri bahwa teknologi semakin modern dan terus berkembang, hal ini pun
dimanfaatkan oleh rumah bernyanyi karaoke ini. Dengan pemanfaatan itu pelanggaran pun
tak dapat dielakkan. Sebagai contoh pemanfaatan teknologi yang dilakukan oleh rumah
bernyanyi karaoke yaitu lagu yang telah dibeli oleh pihak rumah bernyanyi karaoke kemudian
lagu-lagu tersebut di bawah ke Surabaya yang selanjutnya file lagu tersebut dipecah menjadi
empat bagian yang kemudian dikirim ke Bali untuk diaransemen ulang26. Menurut Penulis
aransemen ulang itu bertujuan untuk menambahkan lirik pada lagu sehingga lirik lagu
tersebut dapat dibaca.
Dari data di atas Penulis melihat perbuatan-perbuatan yang dapat dikategorikan
sebagai perbuatan yang melanggar hak pencipta yang dilakukan oleh rumah bernyanyi
karaoke tidak hanya dalam ranah hak ekonomi pencipta tetapi juga dalam hak moral
pencipta27. Dari temuan tersebut Penulis melihat bahwa rumah bernyayi karaoke telah
melanggar hak integritas pencipta. Hak integritas merupakan bagian dari hak moral pencipta
itu sendiri. Hal ini pun telah Penulis kemukakan pada sub bab sebelumnya. Hak integritas ini
bertujuan untuk melindungi ciptaan pencipta dari penyimpangan, pemenggalan, atau
perubahan yang dapat merusak integritas pencipta. Menurut Indonesia-Australia Specialised
Training Project Phase II adalah:
Pencipta atau ahli warisnya berhak menuntut Pemegang Hak Cipta supaya nama
Pencipta tetap dicantumkan dalam Ciptaannya.
Suatu Ciptaan tidak boleh diubah walaupun Hak Ciptanya telah diserahkan kepada
pihak lain, kecuali dengan persetujuan Pencipta atau dengan persetujuan ahli warisnya dalam
hal Pencipta telah meninggal dunia.
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga terhadap perubahan
judul dan anak judul Ciptaan, pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran

25
Bentuk pengurangan ukuran file lagu termasuk salah satu hak moral dari pencipta yang hanya bisa dialihkan
melalui wasiat. Lihat penjelasaan Pasal 24 Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
26
Hasil wawancara dengan Arif Prasetyo selaku Supervisor Happy Puppy Ratulangi Makassar pada tanggal
20 Nopember 2012
27
perbuatan sekecil apapun terhadap suatu ciptaan, baik seperti mengganti atau mengubah judul dan sub judul
suatu ciptaan, mengganti warna, menampilkan suatu ciptaan drama diluar stage yang dimaksudkan oleh
pencipta, maupun mengubah nama asli atau nama samaran pencipta digolongkan sebagai pelanggaran hak
moral. Terdapat dalam Elyta Ras Ginting,Hukum Hak Cipta Indonesia,(Bandung,2012), hlm. 109
30
Pencipta. Pencipta tetap berhak mengadakan perubahan pada Ciptaannya sesuai dengan
kepatutan dalam masyarakat.
Berdasarkan Penjelasan Pasal 24 ayat (2) UUHC disebutkan bahwa dengan hak moral,
pencipta dari suatu karya cipta memiliki hak untuk:
Dicantumkan nama atau nama samarannya di dalam ciptaannya ataupun salinannya dalam
hubungan dengan penggunaan secara umum;
Mencegah bentuk-bentuk distorsi, mutilasi, atau bentuk perubahan lainnya yang
meliputi pemutarbalikan, pemotongan, perusakan, penggantian yang berhubungan dengan
karya cipta yang pada akhirnya akan merusak apresiasi dan reputasi pencipta. Selain itu tidak
satupun dari hak-hak tersebut dapat dipindahkan selama penciptanya masih hidup, kecuali
atas wasiat pencipta berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Penulis melihat bahwa sebelum rumah bernyanyi karaoke melakukan pengumuman
terhadap lagu yang mungkin telah mereka peroleh lisensinya, rumah bernyanyi karaoke ini
telah melakukan beberapa perbuatan pelanggaran hak cipta.
1. Rumah bernyanyi karaoke melakukan penggandaan dengan meng-copy lagu ke hard
disc mereka; mengurangi ukuran file lagu;
2. Ada rumah bernyanyi karaoke melakukan pemecahan lagu menjadi empat bagian,
kemudian lagu tersebut diaransemen ulang.
3. Ada Rumah bernyanyi karaoke mengumumkan lagu yang di download dari situs
ilegal;
4. Ada rumah bernyanyi karaoke mengumumkan lagu yang didapatnya bukan berasal
dari CD aslinya.
Perbuatan-perbuatan rumah bernyanyi karaoke di atas tidaklah memperoleh izin
sebelumnya dari pencipta lagu/produser rekaman suara28 untuk mengeksploitasi lagu
tersebut. Dari hal ini Penulis menarik kesimpulan bahwa rumah bernyanyi telah melakukan
pelanggaran hak cipta. Konsekuensi apabila hal ini diumumkan atau disiarkan walaupun
rumah bernyanyi telah memperoleh lisensi pengumuman lagu adalah rumah bernyanyi
karaoke melakukan perbuatan yang melanggar ketentuan Pasal 72 ayat (2) UUHC.

28
Sebagaimana uraian dalam sub bab sebelumnya, di bab ini Penulis menyinggung produser rekaman suara
karena apa yang terdapat di dalam Tesis Hasbir.2002.Analisis Aspek Sosiologi Hukum Terhadap Pelanggaran
Hak Cipta Rekaman Suara (Lagu) Di Makassar, hlm. 68-69, menjelaskan bahwa dari segi hukum hak cipta
atas karya rekaman suara dimiliki oleh produser rekaman suara. Dengan demikian, produser rekaman suara
memiliki hak khusus (exclusive right) untuk memberikan atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya
memperbanyak/menggandakan karya rekaman suara untuk kepentingan yang bersifat komersial. Hal ini pun
harus dipahami bahwa kontrak antara produser rekaman suara dengan pencipta haruslah dinyatakan dengan
tegas bentuk pengalihan yang diberikan oleh pencipta kepada produser rekaman suara.
31
Perlu menjadi catatan bahwa dalam pemberian lisensi YKCI sebagai salah satu wadah
yang bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa dalam memberi izin hanyalah
memberikan hak mengumumkan kepada users yang merupakan repertoire YKCI. Dari
perjanjian lisensi tersebut diketahui bahwa rumah bernyanyi karaoke hanyalah memperoleh
hak untuk mengumumkan suatu ciptaan lagu. Sedangkan untuk perbanyakan, pemecahan
bagian materi ciptaan, pengurangan ukuran file lagu, ataupun aransemen ulang lagu tersebut
merupakan bentuk eksploitasi ciptaan yang seharusnya sebelum pengeksplotasian itu
dilakukan terlebih dahulu patutlah apabila pelaku usaha rumah bernyanyi karaoke ini
memperoleh lisensi atas bentuk eksploitasi yang telah penulis sebutkan di atas.
Sebagai tambahan data buat penelitian ini Penulis juga menyebarkan kuesioner
kepada 40 responden yang pernah berkaraoke dengan intensitas keseringannya adalah selalu,
kadang-kadang, dan jarang. Responden yang dipilih diberikan pertanyaan seputar beberapa
video lagu di rumah bernyanyi karaoke tersebut bukanlah video aslinya.
Tabel 3 2 Responden yang pernah mendapati video tidak sesuai dengan video asli

Jawaban Frekuensi Persentese


Ya 40 100%
Tidak 0 0
Jumlah 40 100%

Tabel 3.2 di atas menunjukkan bahwa 100% (40 responden) pernah mendapati video
yang ditampilkan dilayar monitor rumah bernyanyi karaoke tidak sesuai dengan video
aslinya.
Tabel 3. 3 Landasan kepastian responden yang membedakan antara video asli dan palsu

Jawaban Frekuensi Persentase


Memiliki Video Asli 1 2,5%
Video asli yang sering disiarkan di TV 37 92,5%
Video asli yang diumumkan melalui Internet. 2 5%
Jumlah 40 100%

40 responden ini merasa yakin bahwa video tersebut bukanlah video aslinya dengan
landasan 37 responden (92,5%) melihat video aslinya dalam suatu tayangan di TV, 2
responden (5%) melalui internet dan 1 responden (2,5%) yang memiliki CD aslinya.

32
Oleh karena itu beberapa video yang pernah responden temukan di rumah bernyanyi
karaoke tidak sesuai dengan video yang seringnya mereka lihat di TV, Internet, ataupun
dalam CD aslinya. kuesioner ini memperkuat penelitian dan menjawab hipotesis Penulis
bahwa selain Pasal 71 ayat (1) UUHC, Pasal 71 ayat (2) dan Pasal 71 ayat (6) UUHC dapat
diberlakukan terhadap rumah bernyanyi karaoke yang melakukan pelanggaran hak cipta
dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu
ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta dan dengan sengaja materi ciptaan diubah
walaupun hak ciptanya telah diserahkan kepada pihak lain. Beberapa video yang ada pada
rumah bernyanyi karaoke tidak sesuai dengan video aslinya memungkinkan adanya perbuatan
yang mengaransemen ulang lagu dengan menyinkronisasi lagu dengan video yang berbeda.
Penulis meyakini bahwa perbuatan ini tanpa izin terlebih dahulu dari pencipta karena dari 11
rumah bernyanyi karaoke yang dijadikan sampel penelitian ada 8 rumah bernyanyi yang
pengurusan hak pengalihannya hanya dilakukan di YKCI dan 3 rumah bernyanyi sisanya
pengurusan lisensinya tidak hanya di YKCI.
Penulis telah mengemukakan bahwa YKCI adalah pihak yang telah diberi kuasa oleh
pencipta lagu untuk memberikan lisensi kepada pelaku usaha dalam hal mengumumkan lagu,
diluar dari izin itu tidak diperkenankan.

3.1.2 Upaya Penanggulangan Pelanggaran Hak Cipta pada Rumah Karaoke


Usaha penanggulangan pelanggaran hak cipta dengan hukum pidana di Indonesia
sudah ada sepanjangan berlakunya Auteurswet 1912 sampai dengan adanya Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1982 dan akan terus berlanjut dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun
2002. Terjadi kecenderungan terhadap penyelesaian masalah pelanggaran hak cipta sebelum
tahun 1982 dilakukan dengan KUHP. Berbagai kasus diklasifikasikan sebagai pemalsuan
(Pasal 263 KUHP) dan pencurian (Pasal 362 KUHP). Padahal kalau dikaji, ada sebuah pasal
di dalam KUHP yang secara eksplisit mengatur masalah perlindungan hak cipta. Di dalam
Bab XXV tentang Perbuatan Curang (Bedrog) pada Pasal 380 KUHP dengan rumusan :
Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda
paling banyak Rp. 75.000,-.
Ke-1 : Barang siapa menaruh suatu nama atau tanda secara palsu
di atas atau di dalam suatu buah hasil kesusastraan keilmuan kesenian kerajinan atau memalsu
nama atau tanda yang asli, dengan maksud supaya karenanya orang mengira bahwa itu benar-
benar buah hasil orang yang nama atau tandanya olehnya ditaruh diatas atau didalamnya tadi.

33
Ke-2: Barang siapa dengan sengaja menjual, menawarkan, menyerahkan, mempunyai
persediaan, untuk dijual atau memasukkan ke Indonesia, buah hasil kesusastraan keilmuan,
kesenian atau kerajinan, yang didalam atau diatasnya telah ditaruh nama atau tanda yang
palsu, atau yang nama atau tandanya yang asli telah dipalsu seakan-akan itu buah hasil orang
yang nama atau tandanya telah ditaruh secara palsu tadi.
Jika buah hasil itu kepunyaan terpidana, boleh dirampas Kendati tidak difomulasikan
secara tegas kata-kata hak cipta, tidak berarti rumusan tersebut bukan rumusan mengenai
perlindungan hak cipta. Bidang-bidang kesusastraan, keilmuan dan kesenian merupakan
bidang yang dapat membuahkan hak cipta. Tindak pidana yang terdapat di dalam bab tentang
perbuatan curang ini oleh R. Soesilo diklasifikasikan sebagai perbuatan-perbuatan penipuan
tentang hak cipta
Ketentuan pidana yang dipergunakan untuk melindungi hak cipta mengalami
perubahan dan perkembangan yang cukup berarti. Perkembangan dan perubahan mengenai
ketentuan pidana ini senantiasa disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan bidang-
bidang hak cipta yang mencakup bidang ilmu pengetahuan, kesenian, dan kesusastraan.
Dinaikkannya ancaman pidana bagi pelanggar hak cipta dapat dikatakan mendapat pengaruh
dari sektor ekonomi, karena pada dasarnya si pelaku kejahatan hak cipta dapat memperoleh
keuntungan finansial yang besar, terlebih lagi kalau tindak pidananya berupa pembajakan.
Usaha penanggulangan kejahatan hak cipta disamping menaikkan ancaman pidana, juga
merubah penyebutan delik aduan menjadi delik biasa.
Selanjutnya pembahasan mengenai ketentuan pidana ini meliputi: jenis-jenis sanksi
pidanya, lamanya sanksi pidana, bentuk perumusan pidananya.
Di dalam KUHP, jenis pidana yang diancamkan kepada si pelaku tindak pidana hak
cipta berupa: pidana penjara atau denda dan pidana tambahan berupa perampasan barang hasil
kejahatan jika dimiliki oleh terpidana. Tindak pidana hak cipta yang terdapat dalam KUHP
dikategorikan sebagai kejahatan dan diancam pidana penjara maksimal 2 tahun 8 bulan atau
maksimal denda Rp. 75.000,-. Di dalam KUHP sistem yang dipakai adalah alternatif.
Pasal 380 KUHP merumuskan: Diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahun delapan bulan atau denda paling banyak Rp. 75.000,-. Dalam hal ini hakim diberi
kesempatan untuk menjatuhkan pidana penjara saja atau pidana denda saja. Membahas
mengenai lamanya pidana dapat ditafsirkan sebagai lamanya pidana yang dijatuhkan hukum
dan lamanya pidana yang tercantum di dalam pasal yang memuat ancaman pidana. Dua hal
tersebut dapat memengaruhi usaha penanggulangan kejahatan hak cipta.

34
Ancaman pidana yang tinggi memang berpengaruh secara psikis terhadap pembuat
dan calon pembuat dalam melakukan tindak pidana, tetapi kalau tidak diikuti dengan
penjatuhan pidana maksimum atau paling tidak mendekati maksimum ancaman pidananya,
maka prefensi spesial dan general akan sulit dicapai. Sudah barang pasti tercapainya usaha
penanggulangan kejahatan hak cipta tidak dapat semata-mata digantungkan pada faktor
tersebut. Keberhasilan tersebut juga ditentukan oleh usaha pelaksanaannya.
UUHC sendiri memberikan ancaman pidana juga berupa penjara dan denda.
Lamanya pemidanaan di dalam UUHC maksimal 7 tahun penjara minimal 2 tahun penjara
dan denda minimal Rp. 500.000.000,00 dan maksimal Rp. 1.500.000.000,00. Sistem yang
dianut dalam menetapkan jenis pidana dalam UUHC menggunakan patokan komulatif dan
alternatif. Komulatif dapat diartikan sebagai penjatuhan pidana gabungan antara pidana
penjara dan denda. Sedangkan Alternatif diartikan sebagai pilihan salah satu diantara dua
jenis pidana yang dicantumkan.
Berdasarkan wawancara dengan Kompol T. Palulungan selaku Kanit Subdit I
Reskrimsus Polda Sulsel mengemukakan bahwa pihak penyidik di Subdit I Reskrimsus Polda
Sulsel ini telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat perihal bentuk-bentuk perbuatan
yang tergolong pelanggaran hak cipta sebagai bentuk penanggulangan terhadap pelanggaran
hak cipta. Pihak kepolisian juga telah memberikan informasi kepada masyarakat mengenai
hak cipta melalui situs resmi polri yang dapat diakses setiap saat di
www.reskrimsus.metro.polri.go.id/info/informasi29.
Penanggulangan terhadap pelanggaran hak cipta juga dilakukan oleh YKCI. YKCI
menganggap mereka adalah sebuah yayasan yang diberi tanggung jawab oleh pencipta untuk
menagihkan royalti kepada users sehingga YKCI merasa berkewajiban memberikan
informasi atas ketentuan-ketentuan yang terdapat pada UUHC kepada pelaku usaha.
Adapun bentuk penanggulangan atas pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh
YKCI yaitu melakukan sosialisasi. Sosialisasi yang dilakukan YKCI bukanlah berbentuk
seminar tetapi sistem yang mereka pakai adalah door to door mendatangi setiap pelaku
usaha hiburan yang mempergunakan lagu pencipta.
Prosedur pertama YKCI lakukan setelah melakukan sosialisasi yaitu apabila pelaku
usaha melakukan pelanggaran yaitu pertama pihak YKCI mengirimkan introduction letter
(surat pemberitahuan) surat yang berisi pengenalan bahwa ciptaan lagu itu dilindungi oleh

29
Hasil wawancara pada tanggal 29 Nopember 2012
35
undang-undang30, kalau misalnya si pelaku usaha tetap tidak membayar royalti pihak YKCI
mengirimkan reminder letter (mengingatkan bahwa pelaku usaha mempunyai kewajiban,
dasar hukumnya terdapat dalam UUHC kalau tetap dilanggar maka akan berakibat hukum,
kalau mau mengurus prosesnya seperti ini)31. Prosedur ketiga apabila pelaku usaha tetap
membangkan adalah YKCI mengirimkan Warning letter (surat peringatan)32.

3.2. Kasus Luar Negeri.


Disini kami akan menganalisa kasus pelanggaran atas beberapa merk dagang Gucci
yang dicontek oleh Guess atas beberapa barang fashionnya.

3.2.1. Kasus Pelanggaran Hak Cipta Brand Gucci dan Guess


Gucci adalah salah satu merk fashion terkenal yang berasal dari Italia. Didirikan
pada tahun 1921, Gucci adalah salah satu perusahaan barang mewah yang banyak dipalsukan
di seluruh dunia. Masalah pelanggaran hak cipta antara Gucci dan Guess itu sebenarnya juga
telah berlangsung lama. Pada tahun 2009, Gucci Group menggugat dan mengklaim bahwa
Guess menjual produk dengan logo mirip Gucci di situs resminya.
Pada tahun 2012, melalui Pengadilan New York, Gucci kembali mengajukan
gugatan kepada Guess atas upaya penyontekan atau apa yang mereka istilahkan sebagai
Gucci-ize untuk beberapa produknya, seperti dompet, ikat pinggang, sepatu dan barang lain
yang desainnya mirip. Hal ini diklaim membuat pelanggan kebingungan. Dugaan
pelanggaran oleh Guess meliputi empat desain, yaitu garis-garis hijau-merah-hijau, gaya
Square G, G Quattro dan logo script.
CEO Guess, Paul Marciano, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa putusan
ini menunjukkan Gucci telah melampaui batas dan menyesatkan Pengadilan dengan
sejumlah fakta yang tidak didukung oleh bukti.
Di tahun 2015, Gucci kembali melayangkan gugatan kepada Guess melalui
Pengadilan di Prancis, Italia dan China atas tuduhan yang sama yang diajukan di Pengadilan
New York.

30
Surat Pemberitahuan terlampir
31
Reminder letter terlampir
32
Hasil wawancara dengan Muhammad Mustafa, Kepala Cabang Wilayah Sulawesi dan Papua pada tanggal
20 Desember 2012
36
3.2.2. Kasus Pelanggaran Hak Cipta Brand Gucci dan Guess di Amerika dan Prancis
Gucci memenangkan gugatan atas Guess di Pengadilan New York pada tahun 2012
dan wajib mengganti rugi sebesar US$ 4,66 juta dari US$120 juta yang diminta atas tudingan
penyontekan desain. Hakim Shira Scheindlin mengatakan, meski terbukti Guess melakukan
pelanggaran atas beberapa merk dagang, Gucci tidak mengalami kerugian seperti nilai
penjualan yang hilang atau kerusakan pada merk. Pengadilan New York memutuskan bahwa
Guess bersalah menyalin empat dari lima logo merk dagang Gucci yang dibahas dalam
klaimnya. Menurut putusan hakim dalam kasus itu, logo tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tanda Stripe hijau-merah-hijau
2. Pola GG mengulang
3. Gaun perdagangan motif berlian yang merupakan pola berulang GG dengan sepasang
terbalik GS di setiap sudut diberikan dalam/kombinasi warna beige brown.
4. Bergaya G mark desain.
5. Script Gucci mark desain.
Namun di tahun 2015 secara mengejutkan, Gucci kalah gugatan di Pengadilan
Paris. Pengadilan Paris memutuskan mendukung Guess, tidak menemukan adanya
pelanggaran merk dagang, tidak ada pemalsuan dan tidak ada persaingan yang tidak sehat
antara 2 merk mewah dari Italia dan Amerika tersebut. Permintaan Gucci untuk ganti rugi
sebesar 55 juta dalam kerusakan ditolak dan sebaliknya perusahaan diperintahkan untuk
membayar sebesar 30.000 kepada Guess. Pengadilan juga membatalkan merk dagang Gucci
atas G logonya.

37
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Hak cipta adalah hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak
mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hak cipta merupakan hak ekslusif, yang memberi arti bahwa selain pencipta maka orang lain
tidak berhak atasnya kecuali atas izin penciptaan.
Pengaturan mengenai hak cipta dimuat dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2002
yang bertujuan untuk merealisasi amanah Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dalam rangka
pembangunan di bidang hukum, dimaksudkan untuk mendorong dan melindungi pencipta
dan hasil karya ciptaanya.
Permasalahan dalam negeri yang ditinjau dalam penelitian ini adalah :

1) Mengenai pemberlakuan ketentuan Pasal 72 ayat (1), ayat (2), dan ayat (6)

Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta terhadap bentuk-bentuk

perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar hak cipta;

2) Mengenai seberapa jauh usaha penanggulangan pelanggaran Hak Cipta pada

pelanggaran hak cipta lagu yang dilakukan oleh rumah bernyanyi karaoke di kota

Makassar.

Secara keseluruhan, kesimpulan yang diperoleh dari penelitian dan pembahasan

terhadap tiga masalah utama di atas adalah sebagai berikut:

1. Rumah bernyanyi karaoke selain melanggar hak ekonomi pencipta juga

melanggar hak moral pencipta. Oleh karenanya ketentuan pidana yang dapat

diterapkan selain Pasal 72 ayat (1) Undang-Undang No. 19 Tahun 2002

terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh rumah bernyanyi karaoke juga

Pasal 72 ayat (2) dan Pasal 72 ayat (6) Undang-Undang No. 19 Tahun 2002

Tentang Hak Cipta.

38
2. Bentuk penanggulangan dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 Tentang

Hak Cipta yaitu dengan merumuskan ketentuan pidana dengan ancaman

pidana maksimum penjara paling lama 7 tahun dan denda paling banyak Rp.

5.000.000.000,- (lima milyar rupiah). Sistem yang dianut dalam menetapkan

jenis pidana dalam UUHC menggunakan patokan komulatif dan alternatif.

Upaya penanggulangan pelanggaran hak cipta dilakukan dengan sosialisasi

oleh kepolisian daerah sulsel dan juga oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Sistem sosialisasi yang dilakukan oleh YKCI dengan door to door yang

selanjutnya mengirimkan surat kepada pelaku usaha hiburan. Berikut macam-

macam surat tersebut:

1. Introduction Letter (surat pemberitahuan)

2. Reminder Letter (surat pengingat)

3. Warning Letter (surat peringatan)

Dibentuknya Sub Direktorat Industri dan Perdagangan pada Direktorat Reserse


Kriminal Khusus kepolisian Daerah Sulawesi Selatan pada tahun 2011 juga merupakan
sebagai salah satu upaya penggulangan pelanggaran hak cipta.
Yang dapat diambil dari pembahasan mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
dengan kasus pelanggaran Hak Cipta desain Gucci dan Guess adalah dapat mengetahui
bagaimana seharusnya sanksi pidana atas pelanggaran Hak Cipta. Upaya dan penegakan
hukum yang dapat dilakukan terhadap pelanggaran Hak Moral desain antara lain dengan
memperkuat kelembagaan hak cipta, sosialisasi dan peningkatan kesadaran hukum
masyrakat, dan penindakan hukum terhadap pelanggaran hak moral.

4.2. Saran
Dengan adanya penelitian ini, disarankan kepada masyarakat agar mengetahui
pentingnya menghargai HKI dalam kehidupan. - Pemerintah harus memberikan sosialisasi
kepada semua masyarakat untuk menghargai hasil karya cipta seseorang. Pemerintah harus
bertindak tegas untuk menghukum pelaku yang terlibat dalam kasus pelanggaran hak cipta di

39
Indonesia. Sehingga negara Indonesia ini dapat mencapai tujuannya untuk menjadi bangsa
yang lebih baik dari sebelumnya dalam segala bidang.

40