Anda di halaman 1dari 4

1.

CAPILLARY LEAK SYNDROME


Capillary leak syndrome (sindrom kapiler bccor) merupakan komplikasi yang sering
terjadi pada anak-anak dan bayi yang dilakukan operasi jantung. Hal ini umumnya terjadi
akibat cardiopulmonary bypass (CPB) yang lama atau circulatory arrest. Sindrom ini terjadi
akibat inflamasi sistemik yang menyebabkan gangguan endotel kapiler. Bocornya kapiler
mengganggu keseimbangan antara tekanan onkotik dan hidrostatik pada albumin serta
menyebabkan molekul besar lainnya tidak bisa bertahan dalam kapiler. Protein dan cairan
pun berpindah menuju intertisium. Sindrom ini terlihat sama dengan sepsis berat, yang akan
mengganggu respon terhadap inflamasi.
Gambaran klinis yang terlihat pada sindrom ini adalah sirkulasi yang tidak stabil
dengan penurunan tekanan darah, edema sistemik, efusi pleura, ascites, tekanan pengisian
jantung rendah. Hal ini terjadi 24 jam setelah CPB.
Tidak ada tatalaksana spesifik yang dapat dilakukan pada capillary leak syndrome.
Hal yang dapat dilakukan adalah memberikan terapi suportif. Misalnya menjaga tekanan saat
pengisian jantung dengan cardiac output yang baik. Selain itu, diperlukan tekanan ventilator
yang tinggi yaitu PEEP untuk mengatasi edema interstisial dan efusi pleura. Pada pasien yang
mengalami efusi pleura diperlukan drainase untuk mengubah ventilasi. Pemantauan nilai
hematokrit yang normal hingga tinggi juga dapat dilakukan untuk menstabilkan keadaan
hemodinamik. Akibat hilangnya protein, faktor pembekuan, dan imunoglobulin, terapi
penggantian cairan perlu dilakukan. Untuk mengubah gambaran klinis ini, maka dibutuhkan
transfusi albumin dan FFP (fresh frozen plasma) jika perdarahan terjadi.

1. King Edward Memorial Hospital. 2015. General Complications following Cardiac Surgery
and Management (14). Neonatology Clinical Guidlines. (CAPILARRY LEAK
SYNDROME)

2. Sindrom Vasoplegia
Sindrom vasoplegia merupakan komplikasi yang sering terjadi pasca pembedahan
jantung dan meningkatkan mortalitas pasien. Prevalensi kasus ini mencapai 5%-20% dari
pasien post operasi jantung. Vasoplegia ditandai dengan vasodilatasi dan resistensi vaskular
sistemik yang menyebabkan hipotensi. Sindrom vasoplegia dapat ditegakkan dengan
mengetahui nilai MAP < 50 mmHg, CVP <8 mmHg, PCWP < 10 mmHg, Clorin > 2,5
l/min/m2, SVR < 800 dyn/s/cm-5 dan kebutuhan vasopressor. Definisi alternatif dari
vasoplegia adalah epinefrin/norepinefrine >150 ng/kg/min, dopamin > 10 mg/kg/min, dan
vasopressin > 4 U/jam. Diagnosis banding sindrom vasoplegia adalah hipovolemia dengan
ventrikel kiri normal, hemodilusi (cristaloid cardioplegia), overdosis inodulator, SIRS, A-V
shunt (sirosis, dialisis).
Patogenesis dari vasoplegia terjadi akibat aktivasi kontak, koagulasi, dan sistem
komplemen yang mengaktifkan leukosit, platelet dan sel endotelial. Semua hal tersebut
menyebabkan ketidakseimbangan tekanan vaskular yang menyebabkan vasoplegia setelah
pembedahan.

Patofisiologi Vasoplegia

Faktor risiko vasoplegia adalah pasien gagal jantung yang menggunakan -bloker/
ACE inhibitor pre-operasi, prosedur operasi yang sangat serius (operasi katup vs CBAG,
reparasi aorta), sepsis, atau volume yang rendah saat sebelum operasi.
Tatalaksana yang dilakukan mengikuti prinsip sebagai berikut:
1. Menggunakan inhibitor NO sythase
2. NO scavenger
3. Menggunakan inhibitor Guanilate Cyclase sehingga menurunkan cGMP
4. cGMP yang menyebabkan penurunan vasodilatasi
Sampai saat ini, tatalaksana yang dipercaya adalah metilen biru dan arginin vasopressin
(AVP).

2. Omar S, et al. 2015. Cardiac Vasoplegia Syndrome: Pathophysiology, Risk Factors and
Treatment. January 2015. Vol 349. No.1:80-88. (VASOPLEGIA)

3. Stress Ulcer

Stress ulcer merupakan salah satu komplikasi pasca operasi jantung. Prevalensi yang
dilaporkan sebanyak 0,35%-0,9%. Stress ulcer pasca operasi jantung dapat meningkatkan
angka mortalitas hingga 22%. Ulkus duodenal/gaster umumnya 60% ditemui pada pasca
operasi jantung dan 40% pasca operasi vaskular. Perdarahan yang terjadi pada sistem
gastrointestinal berhubungan dengan gagal jantung dan stroke.

Patofisiologi dan Faktor Predisposisi

Patogenesis dari stress ulcer sangat kompleks dan multifaktorial. Selama dan setelah operasi,
pasien lebih rentan mengalami komplikasi gastrointestinal, berupa iritasi mukosa, stress, dan
efek dari penggunaan obat antiplatelet dan antikoagulan.

Stress
Pasien yang akan melalui operasi jantung umumnya akan mengalami stress.
Walaupun angka mortalitas rendah, namun tanpa penanganan yang tepat banyak
pasien yang tidak dapat menyelesaikan operasi jantung dengan baik. Pasien akan
mengalami stress setelah dilakukan tindakan anestesi dan prosedur operasi sehingga
sering dihubungkan dengan perdarahan pada sistem gastrointestinal.
Faktor utama yang mengakibatkan komplikasi adalah rendahnya aliran darah
sistemik. Hal ini menyebabkan terjadinya defisit oksigen dan energi ke jaringan.
Keadaan ini menyebabkan peningkatan keasaman pada gaster dan permeabilitas
seluler. Traktus gastrointestinal tidak memiliki kemampuan autoregulasi untuk
mengompensasi penurunan tekanan darah. Peningkatan permeabilitas mukosa
dihubungkan dengan derajat endotexemia yang akan menyebabkan vasokontriksi dan
gangguan fungsi seluler sehingga terjadi kerusakan mukosa. Jika terjadi hipoperfusi
dan iskemia pada mukosa lambung, maka akan terjadi kolonisasi mikroorganisme dan
infeksi.
Setelah operasi, PH lambung akan turun. Pemberian porfilaksin antihistamin dan
antasida sering digunakan untuk mencegah terjadu erosi duodenum dan gaster, ulcer
serta perdarahan. Faktor lain yang menyebabkan terjadi kerusakan mukosa gaster dan
duodenal adalah lama prosedur CBAG, pemasangan PEEP (high positive and
expiratory pressure) ventilation, transfusi darah, explorasi ulang terhadap perdarahan
dan aritmia pasca operasi.

Gambaran Klinis
Pasien yang mengalami penyakit serius (sudah dilakukan CBAG) umumnya masih
merasakan efek penggunaan ventilator yang lama dan sedasi. Pasien juga terkadang
sulit untuk dibawa ke ruang radiologi guna dilakukan pemeriksaan endoskopi atau
radiologi. Oleh sebab itu, tanpa pemeriksaan yang lengkap, pasien akan mengeluh
tidak nafsu makan, tidak ada rasa saat makan dan mual. Keluhan ini terjadi pada 20%
- 40% pasien pasca operasi jantung. Aspirin dan obat antikoagulan juga merupakan
faktor penyebab ulkus gaster. Onset terjadinya keluhan gastrointestinal berkisar antara
hari ke 9-13 pasca operasi. Menurut penelitian, keluhan ulkus multipel dan ulkus
duodenal pertama terjadi pada hari ke-5 dan diikuti ulkus luas dan duodenal pada hari
ke-21 serta 22% mengalami perdarahan. Perdarahan berulang dapat terjadi pada 5,3%
-12,5% pasien.

Tatalaksana
Pada kasus seperti ini, sulit untuk mencari sumber dari perdarahan. Maka diperlukan
nasogastric tube dan bilas lambung. Pemeriksaan endoskopi merupakan lini pertama
dalam penatalaksanaan ulkus gaster karena sangat penting untuk melihat lesi dari
sistem gastrointestinal. Dengan melihat menggunakan endoskopi, maka dokter dapat
melihat sumber perdarahan, prognosis untuk dilakukan operasi lanjutan dan
prognosis. Obat golongan PPI (proton pump inhibitor), transfusi RBC dan FFP (fresh
frozen plasma) dapat diberikan.

3. M. A. Houssa et al. 2013. World Journal of Cardiovascular Diseases. No.3:312-316


(STRESS ULCER)