Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIK DAN FARMAKOKINETIK


Simulasi Model Invitro Farmakokinetik Obat Setelah Pemberian Secara Peroral

Disusun oleh :
Kelompok 1A

Anis Fitriani 11141020000001


St. Ramdhiyah Akil 11141020000007
Amajida Hasyyati B 11141020000011
Nabila Al-aluf 11141020000012
Deki Yanto 11141020000019

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
OKTOBER/2017
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar belakang
Fase farmakokinetik berkaitan dengan masuknya zat aktif ke dalam tubuh. Fase
farmakokinetik ini merupakan salah satu unsur penting yang menentukan profil keberadaan zat
aktif pada tingkat biofase dan selanjutnya menentukan aktivitas terapeutik obat (Aiache, 1993).
Aktivitas serta toksisitas suatu obat tergantung pada lama keberadaan dan perubahan zat
aktif didalam tubuh (Aiache, 1993). Menurut Shargel (1988), bahwa intensitas efek farmakologik
atau efek toksik suatu obat seringkali dikaitkan dengan konsentrasi obat pada reseptor, yang
biasanya terdapat dalam sel-sel jaringan. Oleh karena sebagian besar sel-sel jaringan diperfusi oleh
cairan jaringan atau plasma, maka pemeriksaan kadar obat dalam plasma merupakan suatu metode
yang sesuai untuk pemantauan pengobatan.
Pemantauan konsentrasi obat dalam darah atau plasma meyakinkan bahwa dosis yang telah
diperhitungkan benar-benar telah melepaskan obat dalam plasma dalam kadar yang diperlukan
untuk efek terapetik. Dengan demikian pemantauan konsentrasi obat dalam plasma
memungkinkan untuk penyesuaian dosis obat secara individual dan juga untuk mengoptimasi
terapi (Shargel, 1988).
Fase farmakokinetik ini merupakan salah satu unsur penting yang menentukan profil
keberadaan zat aktif pada tingkat biofase dan selanjutnya menentukan aktivitas terapeutik obat.
Fase farmakokinetika terdiri dari absorbs, distribusi, metabolism, dan ekskresi.
Farmakokinetika obat dapat diilustrasikan dalam model yang dikenal dengan istilah
farmakokinetika atau kompartemen. Model farmakokinetika sendiri dapat memberikan penafsiran
yang lebih diteliti tentang hubungan kadara obat dalam plasma dan respons farmakologik. Salah
satu model kompartemen yang biasa digunakan untuk perhitungan farmakokinetika adalah model
kompartemen satu terbuka. Adapun konsep dasar dai farmakokinetika yaitu memahami parameter-
parameter farmakokinetika meliputi Volume distribusi (Vd), Klirens (Cl), dan Kecepatan absorbsi
(ka), kecepatan eliminasi (Ke), dan T1/2 AUC.
Dalam praktikum ini, dilakukan simulasi model invitro Farmakokinetik Obat Setelah
Pemberian Secara Peroral. Dimana dibuat model farmakokinetik yang digunakan untuk
karakterisasi suatu obat dengan meniru suatu perlakuan dan nasib obat dalam sistem biologis.

I.2 Tujuan Praktikum


- Mahasiswa dapat menjelaskan proses farmakokinetika obat didalam tubuh setelah
pemberian secara peroral dengan simulasi model in-vitro
- Mahasiswa mampu memplot data kadar obat dalam fungsi waktu pada skala
semilogaritmik
- Mahasiswa mampu menentukan berbagai parameter farmakokinetka
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jalur pemberian obat
Jalur pemberian obat ada 2 yaitu intravaskular dan ekstravaskular. Pada pemberian secara
intravaskular, obat akan langsung berada di sirkulasi sistemik tanpa mengalami absorpsi,
sedangkan pada pemberian secara ekstravaskular umumnya obat mengalami absorpsi (Zunilda,
dkk, 1995).
Pada ekstravaskuler jumlah obat yang diterima oleh obat tidak sama dengan dosis yang di berikan.
Ada sejumlah obat yang hilang saat diabsorbsi. Pada pemberian per oral obat tidak langsung masuk
ke pembuluh darah, obat akan masuk ke dalam lambung dan diabsorbsi di lambung/usus .Absorbsi
ini bergantung pada pH. Pada rute ini DGI (dosis gastro intestinal ) atau jumlah obat yang ada di
saluran gastrointestinal juga berkaitan dengan laju absorbsi obat. DEmerupakan jumlah obat yang
telah dieliminasi. Sehingga jumlah obat yang diterima tubuh/dalam saluran darah sistemik (DB)
itu tergantung pada DGI dan DE. Laju absorbsi dan Laju eliminasi pada pemberian obat melaluli
rute ini berbeda. Pada fase absorpsi laju absorpsi obat lebih besar dari laju eliminasi sedangkan
pada waktu konsentrasi puncak (Cmax). laju eliminasi obat memiliki nilai yang sama dengan laju
absorbs. Setelah obat mencapai puncak (fase pasca absorpsi) , obat tersebut tidak akan terleminasi
seluruhnya secara langsung , ada beberapa obat yang masih berada di saluran cerna. Namun laju
eliminasinya lebih cepat dari laju absorpsinya . Pada fase eliminasi terjadi penurunan jumlah obat
yang signifikan, yang terjadi hanyalah eliminasi. Fase absorpsi tidak terjadi dan dianggap nol. Fase
eliminasi ini biasanya mengikuti orde ke satu

2.2. Penetapan Tetapan Laju Absorpsi Dari Data Absorspi Oral


Metode residual(feathering)
Pada metode residual nilai Ka dianggap sangat besar dibanding K (Ka >>> K), merupakan metode
baku untuk menghitung nilai farmakokinetika obat berdasarkan model kompartemen. Sehingga
laju absorpsi cepat dan dianggap sempurna

2.3 Penentuan Ka dengan menggambar persen obat yang tidak terabsorpsi VS


waktu(MetodeWagner-Nelson)
Setelah suatu obat diberikan secara oral dengan dosis tunggal, total dosis obat yang ada dalam
tubuh, dalam urin dan dinding usus dihitung secara lengkap.
2.4 Parameter Farmakokinetika Rute Oral
A. Tetapan Laju Absorpsi (Ka) dan Waktu Paruh Absorpsi
Tetapan laju absorpsi (Ka) adalah tetapan laju absorpsi Orde kesatu dengan satuan waktu-
1. Ka diperoleh dengan membuat kurva antara waktu absorpsi dengan ln Cp kemudian diregresikan
sehingga diperoleh persamaan regresi. Harga Ka dapat dihitung dengan rumus: Ka (waktu-1) = (-
slope) atau Ka (waktu-1) = (-b) Sedangkan ta dihitung dengan menggunakan rumus: ta = 0,
693/Ka
B. Tetapan kecepatan eliminasi (K) dan waktu paruh eliminasi
Tetapan laju eliminasi (K) adalah tetapan laju eliminasi order kesatu dengan satuan waktu-
1. Harga K diperoleh dengan membuat kurva antara waktu eliminasi dengan ln Cp kemudian
diregresikan sehingga diperoleh persamaan regresi. Harga Ke diperoleh dengan rumus: Ke (waktu-
1) = (-slope) atau Ke (waktu-1) = (-b) te = 0,693/K
C. Waktu yang diperlukan untuk mencapai kadar maksimum (tmaks)
Tmaks adalah waktu konsentrasi plasma mencapai puncak dapat disamakan dengan waktu
yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi obat maksimum setelah pemberian obat. Waktu yang
diperlukan untuk mencapai konsentrasi maksimum tidak tergantung pada dosis tetapi tergantung
pada tetapan laju absorpsi (Ka) dan eliminasi (K). Semakin besar tetapan kecepatan absorbsi,
semakin kecil nilai tmaks.
D. Kadar maksimum dalam darah (Cpmaks) Cpmaks
adalah konsentrasi plasma puncak menunjukkan konsentrasi obat maksimum dalam
plasma setelah pemberian obat secara oral pada konsentrasi maksimum, laju absorpsi obat sama
dengan laju eliminasi, sehingga harga Cpmaks dapat dihitung dengan rumus di bawah ini: Cpmaks
= Cpo (e-K.tmaks e-Ka.tmaks).

E. Volume distribusi (Vd)


Volume distribusi dipengaruhi oleh keseluruhan laju eliminasi dan jumlah perubahan
klirens total obat di dalam tubuh. Harga Vd yang didapat tidak menerangkan Vd yang sebenarnya,
tapi volume model Vd tergantung harga Cp0 , bila harga Cp0 kecil dan dosis obat yang diberikan
tetap, maka nilai Vd besar,hal ini terjadi karena sebagian besar obat terikat oleh komponen jaringan
atau cairan ekstavaskular.
F. Area di bawah kurva (AUC)
AUC mencerminkan jumlah total obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik. AUC
merupakan area di bawah kurva kadar obat dalam plasma waktu dari t = 0
sampai t = .
G. Klirens total (Cl tot)
Klirens adalah volume plasma yang dibersihkan dari obat persatuan waktu oleh seluruh
tubuh (ml/menit). Klirens obat merupakan ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa
mempermasalahkan mekanisme prosesnya. Klirens total adalah jumlah total seluruh jalur klirens
di dalam tubuh termasuk klirens melalui ginjal dan hepar. Cl tot = Vd . Ke
Parasetamol Struktur Kimia Rumus Kimia : C8H9NO2 Sinonim : Acetaminofen (N-
Acetylpaminophenol) Berat molekul : 151,16 gram/mol Kandungan : Paracetamol mengandung
tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2 , dihitung terhadap zat anhidrat.
Pemerian : Serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit. Kelarutan : Larut dalam 70 bagian
air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan
dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida. Larut dalam air mendidih
dan dalam natrium hidoksida 1 N; mudah larut dalam etanol. Suhu lebur : Antara 168o dan 172o
Ph : Larutan jenuh paracetamol memilki pH antara 5,3-6,5 pKa : 9,5. Penyimpanan : Dalam wadah
tertutup baik, terlindung dari cahaya Khasiat :Paracetamol merupakan derivat dari asetanilida yang
merupakan metabolit dari fenasetin yang dahulu banyak digunakan sebagai analgetikum, tapi pada
tahun 1978 ditarik dari peredaran karena efek sampingnya berupa nefrotoksisitas dan karsinogen.
Khasiat dari paracetamol ini adalah sebagai analgesik dan antipiretik, tetapi tidak untuk antiradang.
Spektrum Serapan UV : Larutan asam 245 nm, larutan alkali-257 nm.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Alat dan Bahan


Bahan
Kaplet PCT 500 mg
larutan NaOH

Alat
Beaker glass
Disintegration tester
Labu ukur 10 ml
Lumpang
Membran difusi
Mikropipet
Spektrofotometer UV-Vis
Syringe
Statif
3.2 Cara Kerja

Membuat Larutan parasetamol 1000 ppm dengan pelarut NaOH

ambil 5 ml parasetamol 1000 ppm dan masukan pada membran difusi yang diikat kencang
dengan tali kasur

Gantungkan dengan statif dan masukan kedalam elenmeyer yang diisi NaOH 200 ml dengan
suhu 37oC

Mencuplik klierens sebanyak 10 ml/menit dan larutan uji 10 ml/ 10 menit selama 60 menit.
Serta melakukan penuangan kembali 10 ml NaOH kedalam elenmeyer setiap habis pencuplikan

Pengukuran kadar dengan Spektrofotometri UV VIS

Gambar Keterangan
Pengambilan NaOH 1 M 200 ml sebagai
media difusi
Pengambilan klierens 10 ml/menit dan cairan
uji 10 ml/10 menit

Pembuangan hasil klirens

Penuangan NaOH baru kedalam elenmeyer


sebanyak larutan hasil difusi yang di cuplik

Penuangan lartan uji kedalam vial


Hasil cuplikan larutan uji per 10 menit selama
60 menit
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Praktikum


Kurva kalibrasi yang digunakan

absorbansi
(Y) kurva kalibrasi pct
0.9
0.8 y = 0.1625x - 0.0099
R = 0.9925
0.7
0.6
kurva kalibrasi pct
0.5
0.4
Linear (kurva kalibrasi
0.3 pct)
0.2
0.1
0 (X)
2 4 6 8 10 Konsentrasi

Diketahui nilai absorbansi berdasarkan hasil spektrofotometri dan nilai ln konsentrasi:

t (menit) Absorbansi Konsentrasi (Cp) In konsentrasi (ln Cp)


(ppm)
10 0.756 9.407 2,236017849
20 0.844 10.474 2,199555193
30 0.816 10.141 2,155592069
40 0.736 9.156 2,124175873
50 0.599 7.483 2,067621965
60 0.507 6.359 2,032087845
Maka hasil kurva kadar obat dalam plasma yang muncul adalah :

kurva oral kelompok 1A


3

2.5
y = -0.0877x + 2.4709
2 R = 0.7172
kurva oral
1.5 kelompok 1A

1 Linear (kurva oral


kelompok 1A)
0.5

0
10 20 30 40 50 60

dengan y = -0.087x + 2.470 dan R = 0,717

Persamaan garis

y = -0.087x + 2.470
Ln Cp = Ln C0 Ke.t

Ln Co = 2.470

Ke = 0.087

Dosis obat paracetamol yang digunakan = 2000ppm

Sehingga didapat :

1. Perhitungan Konsentrasi awal Co

ln Co = 2.470

Co = 11.822 ppm

2. Perhitungan dosis obat


Volume distribusi = Dosis obat/Konsentrasi awal
Do = Vd x Co
Do = 200ml x 11.822 g/mL
Do = 2364,4 g
Do = 2.3644 mg
3. Perhitungan Clearance
Clearance = Volume Distribusi x Ke
Clearance = 200 ml x 0.087
Clearance = 17.4 ml

4. Nilai AUC

AUC = =
.
2.3644 mg
AUC =
17.4

AUC = 0.136 mg.menit/mL


5. Perhitungan T (Waktu paruh)
t(1/2) = 0,693 / Ke
t(1/2) = 0,693 / 0,087 = 7.965 jam

6. Perhitungan waktu habis obat dalam plasma (Cp = 0)


y = -0.087x + 2.470
-0.087 x + 2.470 = 0
X = -2.470 / -0.087
X = 28.39 jam

3.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini, kita melakukan percobaan simulasi model in vitro farmakokinetik
obat yang diberikan secara per oral. Percobaan ini bertujuan untuk dapat menjelaskan proses
farmakokinetik obat dalam tubuh setelah pemberian per oral dan mengetahui profil farmakokinetk
obat. Percobaan ini hampir sama seperti minggu sebelumnya yang menggunakan model
farmakokinetik secara in vitro yang menggambarkan dan menginterpretasikan sekumpulan data
yang diperoleh dari eksperimen. Metode ini berguna untuk meniru prilaku dan nasib suatu obat
dalam sistem biologis jika diberikan dengan suatu pemberian rute utama dan bentuk dosis tertentu.
Sampel yang digunakan pada praktikum minggu ini yaitu tablet PCT. PCT dalam bentuk tablet
dilarutkan dalam NaOH sebagai permodelan atau larutan induk, kemudian dimasukkan ke dalam
membran sistemik. Membran sistemik merupakan mebran polimer berpori dimana hanya molekul
dengan ukuran sama dengan atau lebih kecil dari pori membrane yang dapat melintas dan tanpa
melarut dengan senyawa penyusun membran. Uji in vitro sediaan peroral didasarkan atas prinsip
bahwa obat yang telah masuk ke dalam tubuh akan diabsorbsi melewati dinding usus yang
disimulasikan dengan kantong dialysis yang menyerupai usus. Kemudian dimasukkan ke dalam
desintegration tester yang telah diisi NaOH dengan suhu menyerupai suhu tubuh manusia 37C.
Setelah itu, dilakukan pengambilan klirens yang konstan dan rutin sebanyak 10 ml/menit hingga
menit ke-60. Dan melakukan pengambilan cuplikan sebanyak 10 ml pada menit ke
10,20,30,40,50,60. Setiap pengambilan selalu diganti dengan NaOH sebanyak jumlah yang sama
juga yang ekuivalen dengan cairan fisiologis tubuh manusia, agar kadar obat di dalam cairan tetap
sama. Hasil cuplikan dihitung absorbansi dan konsentrasi nya dengan menggunakan
Spektrofotometer UV-Vis.
Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh dari grafik menunjukkan bahwa data tablet
paracetamol memiliki nilai yang naik turun dimana data ini menunjukan grafik dari sedian peroral
sehingga parameter farmakokinetiknya dapat ditentukan. Dimana diperoleh Co= 11,822 ppm;
Do=2,3644 mg; Cl = 17,4 ml/menit; AUC = 0,136mg.menit/mL; t1/2 = 7,965 jam; waktu habis
obat dlm plasma=28,39 jam; Vd = 200 ml; Ke = 0,087.
Tablet pct merupakan model absorbs model kesatu dimana, suatu masukan melintasi dinding usus
orde ke satu dan eleminasi dari tubuh juga orde ke satu. Model farmakokinetik dari pemberian
obat ekstravaskuler harus memperhitungkan absorbsi sistemik dari site pemakaian. Untuk
pendosisan oral, faktor-faktor seperti luas area saluran cerna, laju pengosongan lambung, motilitas
saluran cerna, laju pengosongan lambung, motilitas saluran cerna, dan aliran darah ke site absorbsi
semuanya mempengaruhi laju dan jumlah absorbi obat.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari hasil praktikum ini adalah :
1. Model in vitro farmakokinetika dilakukan untuk menguji profil farmakokinetika obat
dalam suatu wadah yang digambarkan seperti kompartemen darah dalam tubuh sebagai
tempat didistribusikan dan dieliminasikannya obat.
2. Simulasi model in vitro farmakokinetik obat setelah pemberian secara oral dapat
dilakukkan dengan metode wash off.
3. Pada percobaan model in vitro farmakokinetika ini digunakan obat Parasetamol sebagai
bahan uji.
4. Parameter farmakokinetik yang dapat dicari diantaranya yaitu nilai Co, k, Vd, Cl, dan t1/2.
DAFTAR PUSTAKA

Aiache, J.M. (1993). Farmasetika 2 Biofarmasi. Edisi ke-2. Penerjemah: Dr. Widji Soeratri.
Surabaya: Penerbit Airlangga University Press.
Shargel, Leon., Yu, Andrew B. C., 2005. Applied Biopharmaceutical and Pharmacokinetics
fifth edition. New York: the McGraw-Hill companies
Zunilda, S.B, dan F.D. Suyatna. 1995. Pengantar Farmakologi. Dalam Farmakologi dan
Terapi Edisi kelima. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Press