Anda di halaman 1dari 8

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK PAIN)


PADA PEKERJA BURUH DI INDONESIA PORT
CORPORATION TERMINAL PETI KEMAS
(IPC TPK) KOTA PONTIANAK
Ira Purnasari, Paulina dan Salbiah Kastari
Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak
E-mail: irapurnasari@gmail.com

Abstrak: Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Nyeri Punggung


Bawah (Low Back Pain) Pada Pekerja Buruh di Indonesia Port Corporation
Terminal Peti Kemas Kota Pontianak. Penelitian bersifat observasional dengan tipe
penelitian cross sectional dengan melakukan pengujian terhadap hipotesis untuk
mengetahui hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas (masa kerja, kebiasaan
merokok, kebugaran jasmani dan status gizi) dan variabel terikat (keluhan nyeri
punggung bawah (LBP)). Jumlah sampel yang digunakan adalah 55 sampel. Hasil
penelitian ini disimpulkan bahwa ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan nyeri
punggung bawah (LBP) (p value = 0,000, OR = 36,000), ada hubungan kebiasaan
merokok dengan keluhan nyeri punggung bawah (LBP) (p value = 0,002, OR = 8,700),
tidak ada hubungan kebugaran jasmani dengan keluhan nyeri punggung bawah (LBP) (p
value = 0,884, OR = 1,569) dan tidak ada hubungan status gizi dengan keluhan nyeri
punggung bawah (LBP) (p value = 0,884, OR = 0,637).

KataKunci: gizi kerja, keluhan nyeri punggung bawah (low back pain)

Abstract: The Factors Related with Low Back Pain on The Labor Workers in
Indonesia Port Corporation Container Terminal Pontianak City. The study was
observational type cross-sectional study with a test of hypothesis to determine the
relationship between the two variables are independent variables (length of employment,
smoking habits, physical fitness and nutritional status) and the dependent variable (low
back pain (LBP)). The samples used were 55 samples. The results of this study concluded
that there is a relationship between tenure with low back pain (LBP) (p value = 0.000, OR
= 36,000), there is a relationship smoking and low back pain (LBP) (p value = 0.002, OR
= 8.700 ), there is no relationship of physical fitness with low back pain (LBP) (p value =
0.884, OR = 1.569) and there was no relationship of nutritional status with low back pain
(LBP) (p value = 0.884, OR = 0.637).

Keywords: smoking habits, nutritional statuslow back pain (LBP)

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk tenaga kerja oleh berbagai aspek dapat
meningkatkan kesadaran, kemampuan dan mendukung tercapainya derajat kesehatan yang
kemauan hidup sehat bagi setiap orang agar maksimal. Upaya perlindungan tenaga kerja
terwujud derajat kesehatan masyarakat yang perlu terus ditingkatkan melalui perbaikan
setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi syarat kerja termasuk upah/gaji dan jaminan
pembangunan sumber daya manusia yang sosial, kondisi kerja, kesehatan dan keselamatan
produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. kerja serta hubungan kerja dalam rangka
36/2009). Produktivitas kerja yang optimal peningkatan kesejahteraan para pekerja secara
serta perlindungan tenaga kerja akan terwujud menyeluruh (Sumamur, 2014).
bila mana perhatian tentang upaya perlindungan

320
Ira, dkk, Faktor-Faktor yang Berhubungan... 321

Setiap pekerjaan merupakan beban bagi LBP merupakan keluhan muskuluskeletal


pelakunya, beban dimaksud mungkin fisik, yang sering dikeluhkan oleh pasien. Bahkan
mental dan sosial. Seorang tenaga kerja yang seringkali menyebabkan gangguan aktivitas
secara fisik bekerja berat seperti halnya buruh sehari-hari, disabilitas dan produktifitas
bongkar-muat barang di pelabuhan, memikul penderitanya. LBP dapat dialami siapa saja,
lebih banyak beban fisik dari pada beban pada umur berapa saja. Namun demikian
mental atau pun sosial, cara kerja yang keluhan LBP jarang dijumpai pada kelompok
dilakukan seperti aktivitas mengangkat, umur 0-10 tahun, hal ini mungkin berhubungan
mendorong, menarik, membawa, memegang dengan beberapa faktor etiologi tertentu yang
merupakan hal yang bisa menyebabkan sering dijumpai pada usia yang lebih tua.
terjadinya peyakit akibat kerja ataupun Hampir 70-80% penduduk di Negara maju
kecelakaan kerja (Sumamur, 2014 ) pernah mengalami LBP Setiap tahun 14-45%
Melakukan pekerjaan mengangkat, orang dewasa menderita LBP dan satu di antara
menurunkan, dan membawa barang dilakukan 20 penderita harus di rawat dirumah sakit
secara langsung tanpa bantuan alat apapun karena serangan akut. LBP sangat umum pada
dapat menjadi risiko terjadinya kecelakaan pada umur 35-55 tahun (Khosama, dkk. 2013).
pekerja seperti terjatuh, tertimpa muatan, Setiap perusahaan pelayanan jasa seperti
kelelahan dan cidera pada punggung yaitu Low pelayanan jasa bongkar bongkar-muat
Back Pain (LBP).LBP atau nyeri punggung berpotensi besar bagi pekerjanya menderita
merupakan rasa nyeri yang terjadi di daerah keluhan LBP, Salah satunya Indonesia Port
punggung bagian bawah dan dapat menjalar ke Corporation Terminal Peti Kemas (IPC TPK)
kaki terutama bagian belakang dan samping Kota Pontianak yang merupakan anak
luar. Keluhan utama nyeri pinggang akibat perusahaan dari IPC Holding yaitu produk
teknik atau sikap kerja yang salah dapat berupa (brand) baru dari PT Pelindo II yang berpusat
pegal di pinggang yang sudah bertahun-tahun, di Jakarta.Badan Usaha Milik Negara dalam
pinggang terasa kaku, sulit digerakkan, dan sektor perhubungan yang menjalankan bisnis
terus-menerus lelah. LBP merupakan nyeri sebagai penyedia fasilitas jasa kepelabuhan
yang dirasakan daerah punggung bawah, nyeri seperti pengelolaan terminal peti kemas dan
lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. jasa pelayanan. Ruang lingkup jenis-jenis
Hal ini biasanya merupakan nyeri yang terjadi pekerjaan di IPC antara lain operator empty,
akibat gerakan mengangkat, membungkuk, atau operator Full, proman, operator mobil, operatoe
mengejan, hilang timbul paling sering terjadi stacker, operator porklif, operator louder, dan
pada punggung bagian bawah dan biasanya pekerja bongkar-muat.
tidak menandakan kerusakan permanen apapun. Pekerja bongkar-muat di IPC TPK
Nyeri merupakan perasaan yang sangat Pontianak berpotensi besar mengalami LBP di
subjektif dan tingkat keparahannya sangat sebabkan oleh waktu aktivitas fisiknya
dipengaruhi oeh pendapat pribadi dan keadaan dilakukan dalam waktu yang paling lama
saatnyeri tersebut terjadi, kebanyakan orang dibanding dengan jenis pekerjaan lain. Jumlah
yang mengalami nyeri punggung bawah pekerja tetap bongkar muat di IPC TPK Kota
memiliki episode berulang, kekambuhan pada 1 Pontianak berjumlah 55 orang, enis barang
tahun berkisar antara 24 sampai 80 persen (Nur, yang dimuat seperti semen, besi, pupuk dengan
2015). berat barang minimal 50 kg, mereka sebagian
Gejala-gejala nyeri punggung dapat besar telah bekerja di atas 5 tahun, umur
sangat bervariasi dari satu orang ke orang yang pekerjanya di atas 20 tahun dan Pekerjaan
lain. Gejala tersebut meliputi sakit, kekakuan, bongkar-muat dilakukan juga dalam waktu
rasa baal (mati rasa), kelemahan dan rasa yang panjang yaitu dimulai dari pukul 07.00-
kesemutan (seperti ditusuk peniti dan jarum). 16.00 dengan waktu istirahat yang minim yaitu
Batuk atau bersin seringkali dapat memperberat 1 jam. Sementara menurut (Budiono, 2003),
nyeri punggung dengan menybabkan spasme batasan beban angkat angkut yang di
(kontraksi) otot punggung yang terasa sangat perbolehkan ialah 40 kg untuk angkat angkut
nyeri. Nyeri tersebut dapat berawal pada sekali-kali pada pria dan untuk angkat angkut
punggung namun nyeri dapat menjalar ke terus menerus pada pria sebesar 15-18 kg.
punggung, namun juga dapat menjalar turun ke Dari survey awal yang dilakukan di
tungkai bahkan ke kaki (Bull, 2007). Indonesia Port Corporation Terminal Peti
Kemas (IPC TPK) Kota Pontianak ditemukan
322 Sanitarian, Volume 8 Nomor 3, Desember 2016, hlm.320 - 327

adanya keluhan nyeri punggung tetapi pada diukur dan dikumpulkan pada waktu yang
umumnya keluhan itu diabaikan dan hanya bersamaan. Pendekatan ini digunakan untuk
diobati dengan minum jamu atau mengurut melihat hubungan antara variabel satu dengan
daerah yang terasa sakit. Keluhan nyeri variabel yang lain (Azwar, 2011).
punggung bawah (low back pain) yang Populasi dalam penelitian ini adalah
dirasakan oleh pekerja bongkar-muat di IPC semua pekerja di IPC TPK Kota Pontianak
TPK Kota Pontianak antara lain pekerja berjumlah 55 pekerja. Sampel yang digunakan
mengalami gejala panas pada daerah punggung dalam penelitian ini adalah total populasi.
bawah, mengalami kaku dipunggung bagian Pengumpulan data dilakukan oleh
bawah, mengalami nyeri sebelum melakukan peneliti yaitu data primer dengan cara observasi
aktivitas, mengalami nyeri sesudah melakukan menggunakan lembar observasi (checklist) dan
aktivitas, kesulitan membungkuk, sulit berjalan wawancara menggunakan kuisioner kemudian
karena nyeri, merasa kesemutan di daerah status gizi, beban angkat angkut dan data
punggung dan pekerja yang mengalami mati sekunder yang diperoleh dari PT. Tenaga Kerja
rasa dari daerah punggung sampai tungkai kaki. Bongkar Muat Pontianak.
Selain itu dari wawancara yang dilakukan Data yang telah diolah kemudian
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan analisis untuk mengetahui
dilakukan pihak IPC belum pernah melakukan kecendrungan atau hubungan antara variabel
observasi keluhan Low Back Pain (LBP) yang diteliti dengan cara analisis univariat dan
terhadap pekerja bongkar-muat.Maka dari itu analisis bivariat.
dilakukan pemeriksaan pendahuluan yang
dilakukan untuk mengetahui keluhan Low Back HASIL
Pain yang dialami pekerja bongkar-muat di IPC
TPK Pontianak. Dari hasil observasi yang Masa Kerja
dilakukan terhadap 6 orang pekerja bongkar
muat di IPC TPK Pontianak, didapatkan hasil Tabel 2. Distribusi Frekuensi Masa Kerja
bahwa sebanyak 33% pekerja mengalami gejala Responden di Indonesia Port
panas pada daerah punggung bawah, 66% Corporation Terminal Peti Kemas
mengalami kaku dipunggung bagian bawah, (IPC TPK) Kota Pontianak Tahun
66% mengalami nyeri sebelum melakukan 2016
aktivitas, 50% mengalami nyeri sesudah No Masa Kerja Frekuensi (%)
melakukan aktivitas, 50% kesulitan 1. 10 Tahun 37 67,3
membungkuk, 33% sulit berjalan karena nyeri, 2. < 10 Tahun 18 32,7
83% merasa kesemutan di daerah punggung Jumlah 55 100
dan 33% pekerja yang mengalami mati rasa dari Sumber: Data Primer Tahun 2016
daerah punggung sampai tungkai kaki.
Sehingga peneliti tertarik untuk Berdasarkan tabel 1 diperoleh hasil
menganalisis lebih mendalam mengenai bahwa responden pada kelompok masa kerja
hubungan beban angkat angkut dengan keluhan 10 Tahun di Indonesia Port Corporation
nyeri punggung bawah pada pekerja buruh di Terminal Peti Kemas (IPC TPK) Kota
IPC TPK Kota Pontianak. Pontianak mempunyai proporsi terbanyak yaitu
sebesar 67,3%.
METODE PENELITIAN
Kebiasaan Merokok
Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah masa kerja, kebiasaan merokok, Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kebiasaan
kebugaran jasmani dan gizi kerja. Variabel Merokok Responden di Indonesia
terikat dalam penelitian ini adalah keluhan Port Corporation Terminal Peti
Nyeri Punggung Bawah pada pekerja buruh di Kemas (IPC TPK) Kota Pontianak
Indonesia Port Corporation (IPC) TPK Kota Tahun 2016
Pontianak. No Kebiasaan Frekuensi (%)
Jenis penelitian ini adalah analitik Merokok
1. Merokok Berat 33 60,0
observasional dengan pendekatan cross
2. Merokok Ringan 22 40,0
sectional dimana variabel bebas dan variabel
Jumlah 55 100
terikat yang terjadi pada obyek penelitian Sumber: Data Primer Tahun 2016
Ira, dkk, Faktor-Faktor yang Berhubungan... 323

Berdasarkan tabel 2 diperoleh hasil Tabel 5. Distribusi Frekuensi Nyeri


bahwa responden pada kelompok merokok Punggung Bawah (LBP) Responden
berat di Indonesia Port Corporation Terminal di Indonesia Port Corporation
Peti Kemas (IPC TPK) Kota Pontianak Terminal Peti Kemas (IPC TPK)
mempunyai proporsi terbanyak yaitu sebesar Kota Pontianak Tahun 2016
60,0%. Nyeri
No. Punggung Frekuensi (%)
Kebugaran Jasmani Bawah (LBP)
1. Nyeri 39 70,9
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kebugaran
2. Tidak Nyeri 16 29,1
Jasmani Responden di Indonesia
Port Corporation Terminal Peti Jumlah 55 100
Sumber: Data Primer Tahun 2016
Kemas (IPC TPK) Kota Pontianak
Tahun 2016 Berdasarkan tabel 5 diperoleh hasil
No Kebugaran Frekuensi (%) bahwa responden pada kelompok yang
Jasmani mengalami nyeri punggung bawah (LBP) di
1. Tidak 47 85,5 Indonesia Port Corporation Terminal Peti
2. Ya 8 14,5 Kemas (IPC TPK) Kota Pontianak mempunyai
Jumlah 55 100 proporsi terbanyak yaitu sebesar 70,9%.
Sumber: Data Primer Tahun 2015 Berdasarkan hasil analisis bivariat
didapatkan p value yang berhubungan dengan
Berdasarkan tabel 3 diperoleh hasil keluhan nyeri punggung bawah (Low Back
bahwa responden pada kelompok kebugaran Pain) pada pekerja buruh di Indonesia Port
jasmani yang tidak di Indonesia Port Corparation Terminal Peti Kemas (IPC TPK)
Corporation Terminal Peti Kemas (IPC TPK) Kota Pontianak adalah masa kerja (p value=
Kota Pontianak mempunyai proporsi terbanyak 0,039) dan kebiasaan merokok (p value=
yaitu sebesar 85,5%. 0,002).

Status Gizi PEMBAHASAN

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Status Gizi Hubungan Masa Kerja dengan Keluhan
Responden di Indonesia Port Nyeri Punggung Bawah (LBP)
Corporation Terminal Peti Kemas
(IPC TPK) Kota Pontianak Tahun Menurut Dermawan (2015) masa kerja
2016 adalah suatu kurun waktu atau lamanya kerja
No Status Gizi Frekuensi (%) tenaga kerja itu bekerja di suatu tempat. Massa
1. Tidak Normal 8 14,5 kerja dapat mempengaruhi kinerja baik positif
maupun negatif. Semakin lama seseorang
2. Normal 47 85,5 dalam bekerja maka semakin banyak dia telah
Jumlah 55 100 terpapar bahaya yang kerja tersebut.
Sumber: Data Primer Tahun 2016
Hasil analisa uji statistik Chi Square pada
hubungan antara masa kerja dengan keluhan
Berdasarkan tabel 4 diperoleh hasil
nyeri punggung bawah (LBP) menunjukkan
bahwa responden pada kelompok status gizi
signifikansi p value = 0,039 yang berarti lebih
normal di Indonesia Port Corporation Terminal
kecil dari (0,05), sehingga secara statistik ada
Peti Kemas (IPC TPK) Kota Pontianak
hubungan antara masa kerja dengan keluhan
mempunyai proporsi terbanyak yaitu sebesar
nyeri punggung bawah (LBP) pada pekerja
85,5%.
angkat angkut di Indonesia Port Corporation
Terminal Peti Kemas (IPC TPK) Kota
Nyeri Punggung Bawah (LBP)
Pontianak. Responden yang memiliki masa
kerja 10 tahun mempunyai resiko mengalami
keluhan nyeri punggung bawah (LBP) 4.286
kali lebih besar dibandingkan masa kerja 10
tahun.
324 Sanitarian, Volume 8 Nomor 3, Desember 2016, hlm.320 - 327

Dari hasil uji korelasi didapatkan p value menunjukkan signifikansi p value = 0,002 yang
= 0,018 karena p <0,05 sehingga dalam berarti lebih kecil dari (0,05), sehingga secara
penelitian ini faktor masa kerja responden statistik ada hubungan antara masa kerja
memiliki hubungan dengan keluhan nyeri dengan keluhan nyeri punggung bawah (LBP)
punggung bawah. pada pekerja angkat angkut di Indonesia Port
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Corporation Terminal Peti Kemas (IPC TPK)
responden dengan masa kerja 10 tahun Kota Pontianak. Responden yang memiliki
memiliki kecenderungan menderita nyeri kebiasaan merokok berat mempunyai resiko
punggung bawah (LBP) lebih tinggi (67,3%) mengalami keluhan nyeri punggung bawah
dibandingkan dengan responden yang lama (LBP) 8,700 kali lebih besar dibandingkan
kerjanya <10 Tahun (32,7%). Sebuah studi kebiasaan merokok ringan.
yang dilakukan Suharto (2005), seseorang yang Penelitian ini sejalan dengan penelitian
bekerja lebih dari 10 tahun meningkatkan risiko yang dilakukan Soleha (2009) yang
terjadinya LBP dibandingkan kurang dari 10 menemukan ada hubungan yang signifikan
tahun, dimana paparan mengakibatkan rongga antar kebiasaan merokok dengan keluhan otot
diskus menyempit secara permanen dan juga punggung, khususnya untuk pekerjaan yang
mengakibatkan degenerasi tulang belakang memerlukan pengerahan otot, karena nikotin
yang akan menyebabkan nyeri punggung bawah pada rokok dapat menyebabkan berkurangnya
kronis. aliran darah ke jaringan. Hal ini kemungkinan
Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian disebabkan sebaran data kebiasaan merokok
yang dilakukan Umami (2013) yang dengan keluhan low back pain yang tidak
menyebutkan bahwa pekerja yang memiliki merata. Selain itu, faktor kebiasaan olahraga
keluhan LBP paling banyak dirasakan oleh juga berpengaruh, pekerja yang mempunyai
pekerja yang memiliki masa kerja >10 tahun kebiasaan merokok sebagian besar juga
dibandingkan dengan mereka dengan masa memiliki kebiasaan olahraga, sehingga
kerja <10 tahun ataupun 5-10) tahun. LBP kemungkinan terserang keluhan low back pain
sebagai penyakit kronis yang membutuhkan dapat diminimalisir.
waktu lama untuk menimbulkan gejala. Jadi Hasil penelitian terhadap 55 responden
semakin lama waktu bekerja atau semakin lama menunjukkan bahwa responden yang kebiasaan
pekerja terkena faktor risiko maka semakin merokoknya berat memiliki kecenderungan
besar timbulnya risiko untuk mengalami LBP. menderita nyeri punggung bawah (LBP) lebih
Bagi pekerja angkat angkut di Indonesia Port tinggi (87,9%) dibandingkan dengan responden
Corporation Terminal Peti Kemas Kota yang kebiasaan merokoknya ringan (45,5%).
Pontianak diharapkan memperbanyak waktu Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
istirahat dan melakukan peregangan otot untuk oleh Tana L (2011) yang menyebutkan dalam
memenimalisir kejadian nyeri punggung bagian penelitiannya bahwa responden yang memiliki
bawah (LBP). riwayat merokok lebih banyak menderita LBP
dibandingkan dengan yang tidak merokok sama
Hubungan Kebiasaan Merokok dengan sekali. Merokok dikatakan memiliki hubungan
Keluhan Nyeri Punggung Bawah (LBP) yang signifikan antara kebiasaan merokok
dengan keluhan otot punggung, khususnya
Menurut Siswanto dalam Prasetya untuk pekerjaan yang memerlukan pengerahan
(2012), kebiasaan merokok merupakan faktor otot, Hal ini disebabkan karena nikotin yang
penting, karena asap rokok dapat terdapat pada rokok dapat menyebabkan
mempengaruhi koordinasi gerakan silia, bahkan berkurangnya aliran darah ke jaringan. Selain
mungkin gerak silia menjadi lumpuh sehingga itu, merokok dapat pula menyebabkan
dapat menimbulkan obstruksi serta dapat berkurangnya kandungan mineral pada tulang
menyebabkan bronchitis dan dalam sehingga menyebabkan nyeri akibat terjadinya
pemeriksaan akan mempengaruhi pernafasan keretakan atau kerusakan pada tulang.
seseorang. Kebiasaan ini mempengaruhi tingkat Menurut Tveito (2004), merokok dapat
kesegaran jasmani seseorang yang juga akan menyebabkan penurunan perfusi dan
mempengaruhi terhadap kesehatan paru-paru. kekurangan gizi otot dan tulang akibat
Hasil analisa uji statistik Chi Square pada kurangannya aliran darah ke jaringan. Selain
hubungan antara kebiasaan merokok dengan itu, merokok juga dapat menyebabkan jaringan
keluhan nyeri punggung bawah (LBP) tidak efisien untuk merespon stress mekanik
Ira, dkk, Faktor-Faktor yang Berhubungan... 325

yang dapat menyebabkan keluhan nyeri menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
punggung. Meningkatnya keluhan otot sangat bermakna antara kejadian low back pain dengan
erat hubungannya dengan lama dan tingkat kebiasaan olahraga dengan P value 0,029. Hal
kebiasaan merokok. Risiko meningkat 20% ini kemungkinan disebabkan karena sebaran
untuk tiap 10 batang rokok per hari. Mereka data yang tidak merata antara kebiasan olahraga
yang telah berhenti merokok selama setahun dengan keluhan low back pain. Pekerja yang
memiliki risiko LBP sama dengan mereka yang memiliki kebiasaan olahraga lebih banyak yang
tidak merokok. Sebaiknya pekerja angkat mengalami keluhan low back pain, hal ini
angkut di Indonesia Port Corporation Terminal dimungkinkan karena posisi mengangkat
Peti Kemas Kota Pontianak mulai membiasakan barang yang kurang baik, sehingga lebih besar
untuk tidak merokok saat bekerja karena selain peluang untuk mengalami keluhan. Demikian
dapat meyebabkan terjadinya keluhan nyeri juga dari kebiasaan merokok, pekerja yang
punggung bawah (low back pain), merokok sering berolahraga juga lebih banyak yang
juga dapat menyebabkan berbagai macam mempunyai kebiasaan merokok.
penyakit. Memperbanyak kegiatan olahraga Tingkat keluhan otot juga dipengaruhi
untuk pencegahan terhadap keluhan nyeri oleh tingkat kesegaran jasmani. Berdasarkan
punggung bawah (LBP). laporan dari NIOSH yang dikutip dari hasil
penelitian Cady et al (1979) menyatakan bahwa
Hubungan Kebugaran Jasmani dengan untuk tingkat kesegaran tubuh yang rendah,
Keluhan Nyeri Punggung Bawah (LBP) maka risiko terjadinya keluhan adalah 7,1 %
tingkat kesegaran jasmani yang sedang risiko
Menurut Nita (2012), kurangnya terjadinya gangguan otot rangka adalah 3,2 %
kebugaran jasmani merupakan faktor resiko dan tingkat kesegaran jasmani yang tinggi maka
nyeri punggung bawah. Karyawan yang tidak risiko untuk terjadinya keluhan otot rangka
memiliki kebiasaan olah raga beresiko sebesar 0,8%.
2,94 kali lebih besar dari karyawan yang sering Menurut Munir (2012), dengan
berolah raga secara teratur. Namun kebiasaan meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot
merokok dan keadaan gizi yang tidak normal punggung, beban akan terdistribusi secara
juga dapat faktor pemicu untuk terjadinya merata dan mengurangi beban hanya pada
keluhan nyeri punggung bawah pada pekerja, tulang belakang. Selain sebagai upaya preventif
karena asap rokok dapat mempengaruhi misalnya dengan peregangan, olahraga ternyata
koordinasi gerakan silia, bahkan mungkin gerak dapat juga mengurangi gejala nyeri bila sudah
silia menjadi lumpuh sehingga dapat terjadi gangguan nyeri punggung bawah.
menimbulkan obstruksi serta dapat
menyebabkan bronchitis dan dalam Hubungan Status Gizi dengan Keluhan
pemeriksaan akan mempengaruhi pernafasan Nyeri Punggung Bawah (LBP)
seseorang ditambah kurangnya berolahraga dan
status gizi yang tidak normal. Menurut Permenkes, no.41 (2014), status
Hasil analisa uji statistik Chi Square pada gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan
hubungan antara kebugaran jasmani dengan atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk
keluhan nyeri punggung bawah (LBP) variabel tertentu. Status kesehatan dan nutrisi
menunjukkan signifikansi p value = 0,678 yang atau keadaan gizi berhubungan erat satu sama
berarti lebih besar dari (0,05), sehingga secara lainnya dan berpengaruh pada produktivitas dan
statistik tidak ada hubungan antara kebugaran efisiensi kerja. Dalam melakukan pekerjaan
jasmani dengan keluhan nyeri punggung bawah tubuh memerlukan energi. Apabila kekurangan,
(LBP) pada pekerja angkat angkut di Indonesia baik secara kuantitatif maupun kualitatif
Port Corporation Terminal Peti Kemas (IPC kapasitas kerja akan terganggu. Indeks Masa
TPK) Kota Pontianak. Responden yang tidak Tubuh (IMT) merupakan indikator status gizi
memiiliki kebugaran jasmani mempunyai untuk memantau berat badan normal orang
resiko mengalami keluhan nyeri punggung dewasa bukan untuk menentukan overweight
bawah (LBP) 1,569 kali lebih besar dan obesitas pada anak-anak dan remaja.
dibandingkan responden yang memiliki Namun bukan berarti hanya pekerja yang
kebugaran jasmani. memiliki status gizi yang tidak normal yang
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan dapat menderita keluhan nyeri punggung
penelitian yang dilakukan Rahmat (2007) yang bawah. Pekerja yang memiliki status gizi
326 Sanitarian, Volume 8 Nomor 3, Desember 2016, hlm.320 - 327

normal, tetapi mempunyai kebiasaan merokok dibandingkan dengan orang yang memiliki
yang berat dan jarang melakukan olahraga juga berat badan ideal. Hasil penelitian ini juga
menjadi faktor pendukung terjadinya keluhan sesuai dengan penelitian yang dilakukan Deyo
nyeri punggung bawah pada pekerja. dan Weinstein (2001) yakni faktor risiko LBP
Hasil analisa uji statistik Chi Square pada meningkat pada seseorang yang over weight.
hubungan antara status gizi dengan keluhan
nyeri punggung bawah (LBP) menunjukkan SIMPULAN
signifikansi p value = 0,884 yang berarti lebih
besar dari (0,05), sehingga secara statistik Berdasarkan hasil penelitian dapat
tidak ada hubungan antara status gizi dengan menyimpulkan sebagai berikut:
keluhan nyeri punggung bawah (LBP) pada Ada hubungan antaramasa kerja dengan
pekerja angkat angkut di Indonesia Port keluhan nyeri punggung bawah (low back pain)
Corporation Terminal Peti Kemas (IPC TPK) pada Pekerja Buruh di Indonesia Port
Kota Pontianak. Responden yang status gizinya Corparation Terminal Peti Kemas (IPC TPK)
tidak normal mempunyai resiko mengalami Kota Pontianak(p value = 0,039).
keluhan nyeri punggung bawah (LBP) 0,637 Ada hubungan antara kebiasaan merokok
kali lebih besar dibandingkan responden dengan dengan keluhan nyeri punggung bawah (low
status gizi normal. back pain) pada Pekerja Buruh di Indonesia
Hasil Penelitian ini sejalan dengan Port Corparation Terminal Peti Kemas (IPC
penelitian yang dilakukan oleh Nurzannah TPK) Kota Pontianak (p value = 0,002).
(2015) yang menyatakan bahwa tidak ada Tidak ada hubungan antara kebugaran
hubungan yang bermakna antara Indeks Massa jasmani dengan keluhan nyeri punggung bawah
Tubuh (IMT) dengan kejadian low back pain (low back pain) pada Pekerja Buruh di
pada pekerja bongkar muat di Pelabuhan Indonesia Port Corparation Terminal Peti
Belawan Medan (p value = 0,05). Tidak adanya Kemas (IPC TPK) Kota Pontianak (p value =
hubungan antara obesitas dengan keluhan low 0,678).
back pain kemungkinan disebabkan karena Tidak ada hubungan antara status gizi
sebaran data yang tidak merata antara keluhan dengan keluhan nyeri punggung bawah (low
low back pain dengan status gizi. back pain) pada Pekerja Buruh di Indonesia
Menurut Purnamasari (2010), ketika Port Corparation Terminal Peti Kemas (IPC
seseorang kelebihan berat biasanya kelebihan TPK) Kota Pontianak (p value = 0,678).
berat badan akan disalurkan pada daerah perut Pengelola Indonesia Port Corporation
yang berarti menambah kerja tulang lumbal. Terminal Peti Kemas (IPC TPK) Kota
Ketika berat badan bertambah, tulang belakang Pontianak diharapkan mengadakan kegiatan
akan tertekan untuk menerima beban tersebut olahraga secara rutin kepada seluruh pekerja
sehingga mengakibatkan kerusakan dan bahaya buruh bongkar muat dalam meningkatkan
pada stuktur tulang belakang. Salah satu daerah kebugaran jasmani. Mengadakan kerja sama
pada tulang belakang yang paling berisiko dengan pihak ketiga untuk memberikan
akibat efek dari overweight adalah vertebra pendidikan dan pelatihan tentang tata cara
lumbal. teknik angkat angkut barang yang baik dan
Penelitian yang dilakukan oleh benar. Mengadakan kerja sama dengan instansi
Purnamasari et al (2001) bahwa seseorang yang kesehatan untuk melakukan pengecekan
overweight lebih berisiko 5 kali menderita LBP kesehatan pekerja secara berkala.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul. 2014. Metodelogi Penelitian Dermawan, M, I,Arif. 2015. faktor-faktor risiko
Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. yang berhubungan dengan gangguan
Bina pura Aksara Publisher. Tangerang fungsi paru pada pekerja meubel di Kota
Selatan. Pontianak 2015. Fakultas Kesehatan
Budiono, Sugeng. 2003. Bunga Rampai Lingkungan Politeknik kesehatan.
Hiperkes dan KK. Semarang: Universitas Pontianak
Diponegoro. Nur, Fina H. 2015. Hubungan Lama Duduk
Bull, E, Archard, G. 2007. Nyeri Punggung. Saat Jam Kerja Dan Aktivitas Fisik
Erlangga. Jakarta. Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah
Ira, dkk, Faktor-Faktor yang Berhubungan... 327

(Low Back Pain) Pada Karyawan Kantor Sumamur P.K. 2014. Higene Perusahaan dan
Terpadu Pontianak Tahun 2014. Kesehatan Kerja. CV. Haji Masagung.
Universitas Kedokteran Tanjung Pura. Jakarta
Pontianak