Anda di halaman 1dari 3

NUCLEAR IN MEDICINE

Oke guys dalam rangka hari kedokteran nasional ini kita bakal ngebahas
kedokteran nuklir.... wait wait nuklir? men kita ini kan kuliah kedokteran bukan
fisika murni. Yoman... sebagian masyrakat Indonesia memang belum mengenal
energi terbarukan ini bahkan yang mereka ketahui nuklir adalah bom Hirosima
dan Nagasaki yang dilancarkan oleh pihak sekutu pada akhir perang dunia II
tahun 1945 dan karena salah satu sebab itulah bangsa kita merdeka hahaha (lohh
kok malah bahas sejarah...)

Sumber energi nuklir ialah zat


radioaktif yaitu zat yang mengandung inti
yang tidak stabil. Pada tahun 1903, Ernest
Rutherford mengemukakan bahwa radiasi
yang dipancarkan zat radioaktif dapat
dibedakan menjadi dua jenis yaitu sinar alfa
dan sinar beta. Sinar alfa merupakan radiasi
yang bermuatan positif sedangkan sinar beta
merupakan radiasi yang bermuatan negatif. Kemudian ditemukan sinar ketiga
yang tidak bermuatan yang disebut sinar gamma oleh Paul U. Vilard.

Penggunaan isotop radioaktif dalam kedokteran telah dimulai pada tahun


1901 oleh Henri Danlos yang menggunakan radium untuk pengobatan penyakit
tuberculosis pada kulit. Namun yang dianggap Bapak Ilmu Kedokteran Nuklir
adalah George C. De Hevessey, dialah yang meletakan dasar prinsip perunut
dengan menggunakan zat radioaktif. Waktu itu dia menggunakan rasioisotop alam
Pb212

Ilmu kedokteran nulkir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan


sumber radiasi terbuka berasal dari disintegrasi inti radionuklida buatan, untuk
mempelajari perubahan fisiologi, anatomi dan biokimia, sehingga dapat
digunakan untuk tujan diagnostik, terapi dan penelitian kedokteran.
Pada kedokteran nuklir, radioisitop dapat dimasukkan ke dalam tubuh
pasien (study in-vivo) maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis
antara lain darah, cairan lambung, urine dan sebagainya, yang diambil dari tubuh
pasien yang lebih dikenal sebagai study in-vitro (dalam gelas percobaan). Pada
study in-vivo, setelah
radioisotop dapat
dimasukkan ke dalam
tubuh pasien melalui mulut
atau suntikan atau dihirup
lewat hidung dan
sebagainya maka informasi
yang dapat diperoleh dari
pasien dapat berupa Citra
atau gambar dari organ
atau bagian tubuh pasien yang dapt diperoleh dengan bantuan peralatan yang
disebut kamera gamma ataupun kamera positron (teknik imaging).

Di Indonesia, kedokteran nuklir diperkenalkan pada akhir 1960-an, yaitu


setelah reaktor atom Indonesia yang pertama kali mulai dioperasikan di Bandung.
Beberapa tenaga ahli Indonesia dibantu oleh tenaga ahli dari luar negeri merintis
pendirian suatu unit
kedokteran nuklir di Pusat
Penelitian dan
Pengembangan Teknik
Nuklir di Bandung. Unit ini
merupakan cikal bakal Unit
Kedokteran Nuklir RSU
Hasan Sadikin, Fakultas
Kedokteran Universitas
Padjajaran. Menyusul kemudian unit-unit berikutnya di Jakarta (RSCM, RS Pusat
Pertamina, RS Gatot Subroto) dan di Surabaya (RS Soetomo). Pada tahun1980-an
didirikan unit-unit kedokteran nuklir berikutnya di RS Sardjito (Yogyakarta), RS
Kariadi (Semarang), RS jantung Harapan Kita (Jakarta) dan RS Fatmawati
(Jakarta). Dewasa ini di Indonesia terdapat 15 rumah sakit yang melakukan
pelayanan kedokteran nuklir dengan menggunakan kamera gamma, disamping
masih terdapat 2 buah rumah sakit lagi yang hanya mengoperasikan alat penatah
ginjal yang lebih dikenal dengan nama Renograf.

Banyak hal lain yang masih perlu diteliti lebih lanjut tentang nuklir dalam
dunia kedokteran. Tentunya ini menjadi sebuah peluang bagi para dokter maupun
calon dokter yang berminat mengambil bidang spesialis. Spesialis kedokteran
nuklir bisa menjadi solusi untuk kedepannya.