Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

SISTEMATIKA HEWAN I Commented [MI1]: Tak perlu, ini laporan per filum

INVENTARISASI JENIS ANNELIDA DI KELURAHAN SEDAU,


KECAMATAN SINGKAWANG SELATAN, KOTA SINGKAWANG,
KALIMANTAN BARAT Commented [MI2]: Bold, spasi 1

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 5 Commented [MI3]: Bold, spasi 1

1. IHSAN ALMUHARDI H1041151018


2. JULIA NANDA PUSPITA H1041141017
3. ROBERTO H1041151015
4. RINA AGUS SETIAWATI H1041151062
5. SALMIAH H1041151079
6. DEBORA BR. GINTING H1041151033
7. VERA H1041151053

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
Commented [MI4]: Spasi 1
2017
Commented [MI5]: bold
BAB I
PENDAHULUAN Commented [MI6]: spasi 1

1.1 Latar Belakang

Kalimantan barat merupakan salah satu provinsi yang berada di jalur garis
khatulistiwa. Daerah-daerah ini umumnya mempunyai curah hujan yang tinggi
dan terkenal dengan hutan hujan tropisnya. Hutan hujan tropis dikenal sebagai
ekosistem yang mempunyai keanekaragaman spesies yang tinggi baik dari segi
flora maupun faunanya. Selain terkenal denagn hutan hujan tropisnya kalimantan
barat juga terkenal dengan pantai-pantainya, salah satunya adalah pantai batu
burung yang terletak di kelurahan sedau, kecamatan singkawang selatan, kota
singkawang, kalimantan barat. Pantai batu burung mempunyai bentuk garis pantai
yang tidak terlalu panjang dimana pinggir pantainya banyak terdapat batu-batu
granit, pantai ini juga terkenal dengan dasarnya berupa pasir berlumpur yang
sangat cocok sebagai habitat dari berbagai macam organisme.
Kawasan pantai burung mempunyai keanekaragam jenis hewan avertebrata
yang sangat beragam mulai dari porifera,annelida,mollusca,coelenterata dan jenis
lainnya.Jenis annelida yang dapat ditemukan di kawasan pantai burung yaitu
berupa kelas polychaeta, oligochaeta dan hirudinae. Kelas polychaeta mempunyai
jumlah yang sangat banyak didaearah ini karena pantai batu burung mempunyai
kondisi pantai yang cocok untuk kelas polychaeta terutama jenis Nemalicastis sp.,
karena daerah tersebut merupakan daerah yang dekat dengan muara sungai dan
dekat dengan derah yang terdapat tanaman nipah.
Praktikum ini dilakukan dengan latar belakang untuk menambah pengetahuan
dari praktikan mengenai filum Annelida dan untuk mengetahui jenis jenis dari
filum annelida yang terdapat dikawasan pantai batu burung .Faktor lain adalah
karena kurangnya pemanfaatan jenis-jenis dari filum annelida yang sebenarnya
mempunyai nilai ekonomis tinggi. Commented [MI7]: enter

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, maka permasalahan yang
akan dikaji dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana keanekaragaman jenis Annelida disekitar Pantai Batu Burung,
Sedau ?

2. Bagaimana ciri-ciri untuk klasifikasi jenis Annelida disekitar Pantai Batu


Burung, Sedau ? Commented [MI8]: enter

1.3 Tujuan Commented [MI9]: rapikan


Tujuan dari Praktikum Lapangan Sistematika Hewan I ini adalah:
1. engetahui keanekaragaman jenis Annelida disekitar Pantai batu burung, Sedau.
2. Mengetahui ciri-ciri untuk klasifikasi jenis Annelida yang terdapat di sekitai
pantai batu burung, Sedau. Commented [MI10]: enter

1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum lapangan sistematika hewan ini
adalah supaya warga sekitar dapat mengetahui jenis dari filum Annelida serta nilai
ekonomis yang dimiliki oleh filum annelida. Seperti contoh yaitu cacing nipah Commented [MI11]: perbaiki
(namalycastis sp.) yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Commented [MI12]: perbaiki

Commented [MI13]: perbaiki


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Annelida

Filum anelida (bahasa Latin annulus cincin terdiri atas cacing-cacing yang Commented [MI14]:
tubuhnya terbagi-bagi menjadi segmen-segmen (metamer). Segmentasi itu jelas
bersifat eksternal, tapi juga intern al dalam wujud membrane (septum) yang
membagi-bagi bagian interior cacing. Metamerisme juga terdapat pada
Arthropoda, yang dipercaya berkerabat langsung dengan anelida, dan juga pada
Chordata. Dinding badan dan tractus digestivus dengan lapisan-lapisan otot
sirkuler dan longitudinal, sudah mempunyai rongga badan (coelom) dan umumnya
terbagi oleh septa (George & Hademenos, 2009).
Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara satu
segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah,
sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya
saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh Annelida berisi cairan yang
berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot.
Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal).
Sistem pencernaan annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus
(kerongkongan), usus, dan anus. Cacing ini sudah memiliki pembuluh darah
sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya mengandung
hemoglobin, sehingga berwarna merah. Annelida memiliki panjang tubuh sekitar
1 mm hingga 3 m (George & Hademenos 2009).
Annelida hidup di dalam tanah yang lembab, dalam laut, dan dalam air tawar.
Hewan ini memiliki karakteristik antara lain adalah tubuh yang bilateral simetris,
dimana tubuhnya panjang dan jelas bersegmen-segmen,mempunyau alat gerak
yang berupa bulubulu kaku (septa) pada tiap segmen (tidak terdapat pada
beberapa bentuk), Commented [MI15]: ???
Pada umumnya Annelida hidup bebas, ada yang hidup dalam liang beberapa Commented [MI16]: perbaiki
bersifat kommensal pada hewan-hewan aquatis, dan ada juga yang bersifat parasit Commented [MI17]:
pada Vertebrata. Annelida di samping tubuhnya bersegmen- segmen, juga tertutup
oleh kutikula yang merupakan hasil sekresi dari epidermis. Filum ini sudah
mempunyai sistem nervosum, sistem cardiovascular tertutup dan sudah ada
rongga badan (celom) (Radiopoetro 1996). Commented [MI18]: enter

2.1 Klasifikasi Annelida


Filum Anenlida dibagi menjadi tiga kelas berdasarkan jumlah chaeta yang
dimiliki, yaitu Kelas Chaetopoda, Kelas Archiannelida dan Kelas Hirudinea.
1. Kelas Chaetopoda (cacing berambut banyak)
Kelas Chaetopoda merupakan cacing annelid yang hidup dilaut, air tawar dan
di darat, dengan ruas-ruas tubuh yang kelihatan nyata, mempunyai skat-sekta
antara, bulu kaku dan sebuah rongga tubuh. Commented [MI19]: kutipan?
a. Ordo Polycheta
Polychaeta (dalam bahasa yunani, poly = banyak, chaetae = rambut kaku) Commented [MI20]:
merupakan annelida berambut banyak.Tubuh Polychaeta dibedakan menjadi Commented [MI21]:
daerah kepala (prostomium) dengan mata, antena, dan sensor palpus. Polychaeta
memiliki sepasang struktur seperti dayung yang disebut parapodia (tunggal =
parapodium) pada setiap segmen tubuhnya.Fungsi parapodia adalah sebagai alat Commented [MI22]:
gerak dan mengandung pembuluh darah halus sehingga dapat berfungsi juga
seperti insang untuk bernapas. Setiap parapodium memiliki rambut kaku yang Commented [MI23]:
disebut seta yang tersusun dari kitin (Khanna, 2005).
Tubuhnya pada, umumnya bersegmen. Kelas ini secara umum memiliki
banyak setae (chaetae) pada tiap segmen sehingga disebut Polychaeta. Pada Commented [MI24]:
bagian anterior (kepala) terdapat prostomium dengan organ perasa alat sensor
(sepasang paips), antennae, sepasang mata atau lebih dan mulut pada bagian
ventral. Antennae dan mata terdapat pada bagian dorsal dan palps muncul dan sisi
ventral prostornium. Peristomium yang merupakan segmen pertama terdapat
tentakel cirri yang merupakan derivate dan bagian notopodium paropodia (Mayr, Commented [MI25]:
1969).
Parapodia ini jumlahnya sepasang yang tumbuh ke arah luar lateral dan
mengandung setae. Tiap parapodia mempunyai dua bagian utama yaitu satu pada
bagian atas (dorsal) yang disebut notopodium (noto : terdapat pada bagian sisi
dorsal) dan bagian lebih bawah disebut neuropodium (terdapat pada bagian sisi
ventral). Kedua lobus atau bagian tersebut mempunyai setae yang secara khusus
diperkuat dan ditopang secara kuat oleh aciculae (jamak : aciculae) dan bentuknya
kecil ramping. Pada Notopodium biasanya mempunyai sebuah jari dorsal yang
tumbuh keluar dan pada neuropodium yang tumbuh di bagian ventral. Struktur
tersebut disebut Cirri dan berfungsi sebagai sensor primer. Pada bagian
Notopodium dan Neuropodium juga terdapat bagian yang terspesialisasi sebagai
insang (Gill), biasanya mengandung pembuluh darah (Mayr, 1969).
b. Ordo Oligochaeta
Oligochaeta (dalam bahasa yunani, oligo = sedikit, chaetae = rambut kaku)
yang merupakan annelida berambut sedikit. Oligochaeta tidak memiliki
parapodia, namun memiliki seta pada tubuhnya yang bersegmen. Sistem
pencernaan berupa sebuah tabung lurus mulai dari mulut lalu faring yang kuat dan
membengkak (segmen 2-6), esophagus (segemen 6-14), ingluvies (tembolok)
yang berdinding tipis (segmen 14-17), lambung tebal (segmen 17-18), kemudian
usus halus (segmen 19 sampai segemen terakhir) dan anus (Jasin, 1992)..
Lapisan otot terdapat di bawah epidermis terdiri dua lapis yaitu lapisan otot
melingkar (sirkular) dan lapisan otot memanjang (longitudinal). Lapisan otot
melingkar terdiri dan serabut-serabut otot melebar dan melingkar sekitar tubuh.
Susunan serabut ototnya tidak teratur. Lapisan otot memanjang terdiri dan lapisan
otot yang lebih tebal memanjang sepanjang badan (Jasin, 1992).
Anggota kelas Oligochaeta mempunyai panjang antara 0,5 mm 3 m.
Kepala berbentuk kerucut yang sederhana tanpa alat sensori. Oligochaeta
mempunyai tubuhyang bersegmen, tiap segmen mengandung setae yang tersusun
dalam 4 pasang. Setae pada cacing di air tawar lebih panjang daripada cacing
yang hidup di darat. Setae dan cacing sebagai alat peraba. Jumlah segmen diantara
prostomium (anterior) dan pygidium 100 - 150 segmen. Mulut terdapat pada
bagian ventral dan peristomium yang merupakan segmen pertama dari cacing.
Anus terdapat pada ujung dari pygidium. Pada segmen mengandung delapan setae
yang tersusun dalam empat pasang setae, dua pada bagian ventral dan dua pasang
yang terdapat pada bagian ventolateral. Pada segmen juga terdapat lubang
metanephridia (alat ekskresi) yang terdapat pada daerah rolateral (Jasin, 1992).
Pada kelas Oligochaeta ini mempunyai sekitar 3.500 spesies yang meliputi
cacing tanah dan cacing yang hidup di air tawar. Oligochaeta mernpunyai habitat
yang bervariasi di seluruh dunia. Pada umumnya membuat lubang-lubang di
dalam tanah, tetapi ada juga yang hidup di rawa-rawa atau danau. Spesies yang
lain hidup di bawah bebatuan, dedaunan di daerah tropis, pada permukaan glacier
atau pada insang ikan ikan air tawar (Jasin, 1992).
2. Kelas Archiannelida
Kelas Archiannelida merupakan Annelida laut yang kecil tidak mempunyai seta
dan tidak mempunyai parapoda. Ruas-ruas tubuhnya tak dapat dibedakan dari
luar. Prostomiumnya mempunyai sepasang tentakel. Lubang mulutnya terletak
dibagian bawah dari ruas pertama dan lubang anusnya di ruas terakhir. Sepasang
celah berbulu getar masing-masing di sisi prostomium. Rongga tubuh terbagi-bagi
menjadi ruang-ruang oleh sekat-sekat. Alat-alat dalam diulang-ulang
keberadaannya sehingga hamper setiap tuas memiliki rongga tubuh, otot
longitudinal, sepasang nefridia, sepasang gonad, satu bagian dari saluran
pencernaan dan bagian dari benang saraf ventral (Wijarni, 1984).
Anggota-anggota kelas ini hidup di laut, struktur tubuh masih sederhana.
Bersifat diesius atau hermafrodit. Contoh spesiesnya adalah Polygordius sp.
Dimana hewan ini hidup disepanjang pantai, bentuknya menyerupai larva poliketa
yang primitive atau sebagai poliketa yang telah mengalami degenerasi. Bentuknya
seperti benang dngan panajng 100 mm, dan penampang dengan radius kira-kira 1
mm, dari luar somit (segmen) tidak nampak jelas. Prostomium dengan 2 buah
tentakel perasa. Alat-alat tubuh dalam seperti pada polikata umumnya, tetapi lebih
sederhana. Selom dibagi ke dalam kompartemen-kompartemen, tiap kompartemen
dilengkapi dengan sepansang nefridia. Sistem saraf terletak dalam epidermis.
Perkembangan-biakan Polygordius mencakup Larva berbentuk trokofor, somit-
somit terbentuk di bagian posterior selama proses metemorfosis. Dewasanya
tubuh melalui perpanjangan ujung anus. Perpanjangn menjadi beruas-ruas dan
dengan pertumbuhan yang berkelanjutan akhirnya menjadi hewan dewasa
(Wijarni, 1984).
3. Kelas Hirudinea
Hirudinea merupakan kelas annelida yang jenisnya sedikit. Panjang Hirudinea
bervariasi dari 1 30 cm.Tubuhnya pipih dengan ujung anterior dan posterior
yang meruncing. Pada anterior dan posterior terdapat alat pengisap yang
digunakan untuk menempel dan bergerak. Sebagian besar Hirudinea adalah hewan
ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya. Inangnya adalah vertebrata dan
termasuk manusia.Hirudinea parasit hidup denga mengisap darah inangnya,
sedangkan Hirudinea bebas hidup dengan memangsa invertebrata kecil seperti
siput (Wijarni, 1984).
Hewan ini tidak memiliki parapodium maupun seta pada segmen tubuhnya.
Sekalipun dikenal dengan nama umum lintah pengisap darah, bagian terbesar di
antaranya tidak hidup sebagai ektoparasit. Tubuhnya pipih. Ukuran panjangnya
dari 1-2cm atau 5cm, walau ada yang mencapai 12cm, bahkan 30cm (Haemanteria
ghiliani dari daerah Amazon). Metamerisme sudah sangat tereduksi: segmen-
segmen ujung anterior (biasanya kecil) dan posterior (lebih besar) termodifikasi
manjadi alat penghisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak. Jumlah
segmen tetap, yaitu 34, walau lapisan cincin sekunder di luarnya (annuli)
menyamarkan segmentasi primer tersebut. Clitteum dibentuk segmen-segmen
IX,X atau XI (Wijarni, 1984).
2.3.Habitat dan Siklus Hidup Annelida Commented [MI26]:
Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit
dengan menempel pada vertebrata, termasuk manusia.Habitat annelida umumnya
berada di dasar laut dan perairan tawar, dan juga ada yang segaian hidup di tanah
atau tempat-tempat lembap.Annelida hidup diberbagai tempat dengan membuat
liang sendiri. Commented [MI27]: kutipan
Annelida adalah hewan hemafrodit. Setiap individunya memiliki organ
reproduksi jantan dan betina. Namun, annelida tidak dapat bereproduksi tanpa
kontribusi dari pasangan. Berikut ini siklus hidup annelida, yaitu: Commented [MI28]: kutipan
a. Telur Peletakan
Cacing tanah, mungkin Annelida paling akrab, sebelum bertelur dua cacing
mengikatkan diri satu sama lain, sementara cacing setiap melewati paket sperma
yang lain. Setelah kawin, itu luas pelana seperti band pada cacing (disebut
clitellum) mengeluarkan selubung lendir yang mulai bergerak ke arah kepala dari
worm. Ketika bergerak maju, cacing mengeluarkan sperma dan telur ke dalam
sarungnya, yang akhirnya membentuk kepompong telur. Annelida Terestrial
bertelur di dalam tanah, sedangkan annelida akuatik deposit atau melampirkan
kokon telur mereka untuk tanaman atau pada substrat tanah. Polychaetes laut
berubah menjadi tahap reproduksi disebut epitoke sebelum kawin. Epitokes Para
polychaete jantan dan betina melepaskan sperma dan telur ke dalam air.
b. Tahap Larva
Polychaetes laut memiliki tahap larva yang hidup bebas, yang disebut
"trokofor. Trokofor akhirnya berubah menjadi bentuk dewasa. larva baru
menetas atau bermetamorfosis akan menjadi habitat dewasa. Annelida dewasa
Sebagian besar hidup dalam tanah. Polychaetes laut hidup di substrat tanah dari
habitat perairan mereka. Beberapa polychaetes laut membuat tabung di lumpur,
dan tabung ini agak kaku memberikan perlindungan. Annelida parasit lainnya
adalah hidup bebas.
c. Tahap Dewasa Sesungguhnya
Annelida paling dewasa menelan tanah, mencerna nutrisi organik dan
mengeluarkan sisa makanan anorganik, misalnya pasir. Beberapa spesies parasit
seperti lintah, bagaimanapun, memakan organisme lain. Beberapa spesies bahkan
memangsa invertebrata lainnya.
BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat Commented [MI29]: spasi 1,5


Praktikum lapangan Sistematika Hewan I Inventarisasi Jenis-Jenis
Annelida dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Mei 2017 pukul 12.00 14.00 WIB.
Lokasi praktikum lapangan Sistematika Tumbuhan I di Pantai Batu Burung Desa
Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Sedangkan identifikasi jenis-jenis sampel yang didapat dilaksanakan pada tanggal
6 mei 2017 sampai 1 juni 2017 di Laboratorium Biologi fakultas matematika dan
ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tanjungpura , Pontianak. Commented [MI30]: enter

3.2 Deskripsi Lokasi Praktikum Lapangan


Praktikum lapangan Sistematika Hewan I Inventarisasi Jenis-Jenis
Annelida berlangsung di Pantai Batu Burung, Desa Sedau, Kecamatan
Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.. Lokasi praktikum
terletak pada titik koordinat N = 00 derajat 5157,8 dan E = 108 derajat 5413,4
Daerah pantai batu burung memiliki kondisi lingkungan seperti garis
pantai yang pendek, intensitas cahaya matahari yang cukup terang, dasar pantai
lumpur berpasir, Tingkat kejernihan air relatif rendah ini dikarenakan banyaknya
aktifitas masyarakat setempat, suhu di pantai tergolong normal.

Titik
sampling

Gambar 3.1 Lokasi Sampling Dipantai Batu Burung


3.3. Alat dan Bahan
3.3.1 Alat
Praktikum lapangan Sistematika Hewan I Inventarisasi Jenis-Jenis
Annelida menggunakan alat berupa GPS, Termohigrometer, keping secchi,
meteran gulung, pH universal, Toples, salinometer, selotip bening, spuit, dan
termometer raksa.
3.3.2 Bahan
Praktikum lapangan Sistematika Hewan I Inventarisasi Jenis-Jenis
Annelida menggunakan bahan berupa akuades dan fomalin 4%.

3.4 Cara Kerja


3.4.1 Pengambilan Sampel Commented [MI31]: bold
Metode yang dilakukan dalam pengambilan sampel adalah metode sampling
bebas dengan hand collecting. Jenis-jenis dari filum ini dicari dan dikumpulkan
dengan menyisir pantai dan bukit. Setelah preparat terkumpul, dilakukan preparasi
untuk preparat tersebut dengan cara dibersihkan menggunakan akuades dan
alkohol kemudian direndam dengan formalin. Namun, ada perbedaan perilaku
untuk preparat Arthropoda khususnya Insecta, preparat tersebut tidak direndam
dengan formalin melainkan disuntikkan dengan formalin dan disimpan
menggunakan kertas papilot.
3.4.2 Penentuan Parameter Lingkungan Commented [MI32]:
1. Kedalaman dan Kejernihan Air
Pengukuran kedalaman dan kejernihan air laut yang dijadikan sebagai stasiun
pencarian sampel adalah menggunakan keping sechi dengan panjang 1,5m yang
telah dibuat sebelumnya. Pengukuran untuk mengetahui tingkat kejernihan air
dilakukan dengan cara keping sechi yang disiapkan dicelupkan ke dalam air laut
hingga warna hitam putih pada keping sechi tidak terlihat dan dicatat
nilainya.kemudian keeping seci tersebut diangkat sampai warnanya tampak lalu
catat nilainya,setelah itu kedua nilai tersebut dijumlahkan dan dibagi 2.
Sedangkan untuk pengukuran kedalaman air laut dilakukan dengan
menancapkan keping seci sampai menyentuh dasar pantai dan dilihat nilainya lalu
catat pada tabel pengamatan.
2. Penentuan Titik Koordinat Lokasi
Menentukan titik koordinat lokasi menggunakan alat berupa GPS. Cara
menggunakannya yaitu pertama dihidupkan GPS, lalu tekan tombol find page
kemudian ditunggu beberapa saat untuk GPS mencari satelit. Apabila telah
ditemukan lokasi maka tekan tombol enter selama 5 detik untuk menandai dan
save untuk menyimpan data lokasi. Berikut data titik koordinat masing masing
lokasi :
Lokasi Titik Koordinat
Kelompok 1 N = 00 5144,2 dan E = 108 5419,3
Kelompok 2 N = 00 5157,3 dan E = 108 5356,3
Kelompok 3 N = 00 5156,7 dan E = 108 5400,2
Kelompok 4 N = 00 5158,2 dan E = 108 5404,4
Kelompok 5 N = 00 5157,9 dan E = 108 5406,2
Kelompok 6 N = 00 5157,9 dan E = 108 5411,3
Kelompok 7 N = 00 5157,8 dan E = 108 5413,4
Kelompok 8 N = 00 5154,5 dan E = 108 5415,6
Kelompok 9 N = 00 5144,2 dan E = 108 5419,3
Kelompok 10 N = 00 5154,3 dan E = 108 5426,2

3.Pengukuran Suhu udara dan Air


Pengukuran suhu udara dilakukan dengan menggunakan termometer.caranya
termometer diganungkan di udara selama satu menit dan diamati perubahan nilai
yang terjadi lalu catat pada tabel pengamatan.
Sedangkan untuk pengukuran suhu air dilakukan dengan cara termoneter
dicelupkan kedalam air, ditunggu sampai nilai suhu keluar lalu dicatat tabel
hasil..Sedangkan untuk mengukur suhu udara termometer diganungkan di udara
selama satu menit dan diamati perubahan nilai yang terjadi lalu catat pada tabel
pengamatan.
3. Pengukuran derajat keasaman air Commented [MI33]:
Pengukuran pH air dilakukan dengan menggunakan kertas pH. Kertas lakmus
di celupkan ke dalam air selama beberapa saat, kemudian hasil yang di dapat,
dicocokkan dengan skala pH dan ditentukan pH air.
4. Pengukuran salinitas Commented [MI34]:
Pengukuran salinitas air dilakuakn dengan menggunakan salinometer. Air laut
diteteskan pada salinometer lalu diteropong pda bagian ujung dan dilihat ada
tidaknya garis.
3.4.3 Identifikasi Commented [MI35]: bold
Pengamatan dan mengidentifikasi jenis dari pilum Annelida yang telah
didapat dilakukan di laboratorium biologi dan zoologi fakultas Matematika dan
Ilmu pengetahuan Alam,Universitas Tanjungpura Pontianak. Proses identifikasi
ini menggunakan literatur seperti e-book THE POLICHAETE WORM . Setelah
itu diberi Tail Sheet di botol selai atau toplesnya agar tidak tertukar dengan jenis
yang lain.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Hasil yang didapatkan pada Praktikum Lapangan di Pantai Batu Burung dapat
dilihat pada tabel berikut :
4.1.1. Tabel Hasil Pengamatan Annelida

No Gambar Keterangan

1. Nereis sp 1. Parapodia
2. Setae

gambar utuh

2
1
Chaeta

2. Pherethima sp. 1. Clitellum Commented [MI36]: yakin?

1
3. Harmothoe sp. 1. Segmen Commented [MI37]: Yakin?
2. Setae

Tabel Parameter Lingkungan


Parameter lingkungan dalam pengambilan sample sebagai berikut :
Kelompok Parameter Lingkungan
Ph Air Suhu Suhu Salinitas Kelembaban
Air(C) Udara(C) Udara
1 7 34 30 29 38
2 9 32 33 29 62
3 7 33 35 29 71
4 8 33 31 29 33
5 8 30 32 29 38
6 7 34 28 29 38
7 8 34 30 29 38
8 7 34 28 29 71
9 7 31 32,8 29 62
10 7 31 29 29 62 Commented [MI38]: garis

4.2 Pembahasan
4.2.1 Jenis-jenis Filum Annelida Commented [MI39]:
Hewan filum Annelida berasal dari kata latin annul/annelus = cincin, gelang
dalam bahasa Yunani eidos = bentuk yang dikenal sebagai cacing gelang. Tubuh
anggota filum ini bersegmen tertutup kutikula yang merupakan hasil sekresi dari
epidermis, sudah ada ronnga tubuh (coelom), dengan metamerisme sebagai ciri
utamanya: pembagian rongga tubuh, sistem persyarafan, peredaran darah, dan
sistem ekskresinya metamerik. Saluran pencernaan lengkap (mulut-usus-anus),
berbentuk tubular, memanjang sumbu tubuh.Respirasi dengan epidermis ataupun
insang (pada cacing tabung, misalnya) pada somit tertentu.Organ reproduksi
hermafrodit (kelas olygochaeta dan hirudinea), dengan hewan langsung berbentuk
hewan dewasa, atau berumah dua (kelas archiannelida dan polychaeta), dengan
melalui fase larva trokofor.Hidup di dalam tanah yang lembab, dalam laut dan
dalam air. Umumnya annelida hidup bebas, ada yang hidup dalam liang, beberapa
bersifat komensal pada hewan akuatis, dan ada juga yang bersifat parasit pada
vertebrata(Oemarjati,1990)
1. Nereis sp.
Kingdom : Animalia
Filum : Annelida
Kelas : Polycaeta
Ordo : Errantia
Famili : Nereidae
Genus : Nereis
Spesies : Nereis sp. (Wijarni, 1984). Commented [MI40]: seuaikan format spasi
Cacing laut (Nereis sp.) banyak ditemui di pantai, sangat banyak terdapat
pada pantai cadas, paparan lumpur dan sangat umum ditemui di pantai pasir.
Beberapa jenis hidup di bawah batu, dalam lubang lumpur dan liang di dalam batu
karang, dan ada juga yang terdapat pada air tawar sampai 60 km dari laut,.
beberapa membuat lubang dalam lumpur, atau sebagai aufwuchus pada tumbuhan
air yang tenggelam, adapula yang membuat selubung menetap atau yang dapat
dirawa-rawa (Wijarni, 1984).
Merupakan cacing yang hidup di laut, di dalam liang pasir dan hanya
menyembulkan kepala di atas permukaan pasir atau berenang di dalam laut.
Tubuhnya jelas mempunyai caput dan alat-alat tambahan, terbagi menjadi banyak
segmen. Segmen pertama disebut peristonium dan pada tiap nagian lateral
terdapat 2 pasang tentakel. Termasuk dalam kelas polychaeta yang berarti
berambut banyak.
Bagian anterior terdapat kepala yang dilengkapi dengan mata, tentakel
serta mulut berahang. Cacing jenis ini mempunyai lapisan otot memanjang
maupun otot melingkar. Ususnya hampir lurus merentang dari depan ke belakang,
Panjang tubuh antara 5 10 cm dengan diameter 2 10 mm. Fertislisasi bersifat
internal membentuk larva. Bergerak dengan menggunakan parapodia. Sudah
memiliki coelom yang sebenarnya, yang sudah di batasi oleh epithelium
mesodermal. Masing-masing ruas terdapat sepasang parapodia. Tubuh memiliki
banyak rambut pada parapodia. Bersifat karnifora. Dapat dibedakan jantan dan
betina (Wijarni, 1984).
2. Pherethima sp.
Kingdom : Animalia
Filum : Annelida
Kelas : Oligochaeta
Ordo : Ophistopora
Famili : Megascolescidae
Genus : Pheretima
Spesies : Pherethima sp. (Wijarni, 1984). Commented [MI41]:
Cacing tanah jenis Pheretima sp. segmennya mencapai 95-150 segmen.
Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan
silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima
sp. antara lain cacing merah, dan cacing kalung . Cacing tanah memiliki segmen
di bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara satu segmen dengan segmen lainya
terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem
saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan
menembus septa. Rongga tubuh berisi cairan yang berperan dalam pergerakkan
annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. Ototnya terdiri dari otot
melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal) (Kimball, 1998).
Cacing ini hidup didalam liang tanah yang lembab, subur dan suhunya tidak
terlalu dingin. Untuk pertumbuhannya yang baik, cacing ini memerlukan tanah
yang sedikit asam sampai neefwdtral atau pH 6-7,2. Kulit cacing tanah
memerlukan kelembabancukup tinggi agar dapat berfungsi normal dan tidak
rusakyaitu berkisar15%-30%.Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakan antara 15oC-25oC (Putra, 1999).
3. Harmothoe sp.
Kingdom : Animalia
Filum : Annelida
Kelas : Polychaeta
Ordo : Phyllodocida
Famili : Polynoidae
Genus : Harmothoe
Spesies : Harmothoe sp. (Pechenik, 1999).
Harmothoe sp. merupakan anggota dari kelas Polychaeta yang aktif, dimana
jenis ini aktiv bergerak dengan pelan atau berjalan, berenang dan hidup di bawah
bebatuan. Hewan ini juga mempunyai Parapodia yang berfungsi sebagai dayung
atau tuas untuk bergerak ke depan. Parapodia bergerak menggelombang untuk
berjalan dan berenang. Accicula pada bagian parapodia sangat penting sebagai
elemen yang membuat lebih kaku, mencegah kerusakanjaringan parapodia yang
tipis. Pada bagian prostomium atau kepala berkembangsangat baik, dimana
mempunyai mata, tentakel, organ tentakel sensori dan organkhusus (nuchal
organ) untuk mendeteksi bahan kimia (Pechenik, 1999).
Cacing dengan lebar badan yang seragam. Permukaan dan ventral
halus.dengan puncak pada masing-masing lobus, antena median, sepasang
antena lateral, dua pasang mata, pasangan anterior di dekat prostomial, pasangan
posterior di dekat belakang. Segmen pertama terdapat chaetae dan sepasang
tentakel dorsal dan ventral. sisik pertama bulat, selebihnya berbentuk oval
sampai berbentuk ginjal, permukaan dengan tuberkel kecil dan kadang-kadang
deretan tuberkulum yang lebih berbeda di perbatasan luar.Habitat di pantai berbatu
terkadang air payau di muara sungai (Pechenik, 1999).
4.2.2 Faktor Lingkungan
Berdasarkan pengukuran faktor lingkungan yang telah dilakukan didapat lah
hasil seperti nilai suhu, ph air, ph udara, salinitas dan kelembapan udara. Untuk
nilai suhu air sendiri didapat hasil yaitu 31 derajat celcius sampai 34 derajat
celcius dan suhu udara yaitu 28 derajat celcius sampai 35 derajat celcius. Untuk
ph air didapat hasil mulai dari ph 7 sampai ph 9, nilai salinitas yaitu 29 dan nilai
kelembapan udara mulai dari 38 72. Dari semua faktor lingkungan yang diukur
dari lokasi sampling tersebut untuk filum annelida sendiri hanya mendapat tiga
jenis yaitu nereis sp., pheretima sp. dan Harmothoe sp.
BAB V
PENUTUP Commented [MI42]:

Commented [MI43]:
5.1 Kesimpulan Commented [MI44]:
Berdasarkan Praktikum lapangan yang telah dilakukan, maka diperoleh
simpulan sebagai berikut :

1. Keanekaragaman filum annelida yang dapat ditemukan di sekitar pantai batu


burung sebenarnya sangat beragam. Akan tetapi yang didapat hanya berupa
Nereis sp., Pherethima sp. dan Harmothoe sp.
2. ciri-ciri yang dijadikan sebagai dasar untuk pengklasifikasian filum annelida
adalah berupa jumlah seta yang dimiliki sehingga dapat digolongkan menjadi
kelas polychaeta,oligochaeta dan hirudinae. Commented [MI45]: enter

5.2 Saran Commented [MI46]: Nama latin


Saran untuk praktikum selanjutnya adalah supaya lokasi yang digunakan
sebagai tempat pengambilan sampel diganti dengan lokasi yang lain Seperti pantai Commented [MI47]:
saadi yang berada di utara singkawang yang mempunyai kondisi lingkungan yang Commented [MI48]:
lebih mendukung untuk kehidupan filum annelida. Commented [MI49]:

Commented [MI50]:

Commented [MI51R50]:
DAFTAR PUSTAKA

Alvyanto.2010. Filum Annelida. Semarang: Sahabat Tiga,.


Aslan, dkk., 2005. Bahan Ajar Avertebrata air.Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Haluoleo.Kendari.
Aslan, dkk..2007. Penuntun Praktikum Avertebrata air.Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Universitas Haluoleo. Kendari.
Brotowidjojo. 1989. Mukayat Djarubito. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Budiyanto.2013 Ternak Cacing Tanah. Jakarta: Universitas Jakarta Press.
Brotowidjoyo. 2001. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta.
Hanafiah, K.A, 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Jakarta : PT. RajaGrafindo
Persada.
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya.
Kastawi, Yusuf, dkk. 2003. Zoologi Avertebrata. Jica: Malang.
Kimball, John W, 1998, Biologi Jilid 2, Erlangga, Jakarta
Unaya, wandi. 2012. Annelida. Surabaya: Jaya.
Oemarjati, Boen S dan Wisnu Wardhana.1990. Taksonomi Avertebrata Pengantar
Praktikum Laboratorium. UI Press: Jakarta.
Pechenik, J.A., 1999, On the advantages and disadvantages of larval stages in
benthic marine invertebrate lifecycles, Mar. Ecol, Prog. Ser, 177, 269
297.
Romimohtarto dan Juwana. 2001. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta.
Romimohtarto. 2007. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta. Commented [MI52]: Sesuaikan Protobiont