Anda di halaman 1dari 20

September 12, 2014

MANAJEMEN KEPERAWATAN
1. Mengenai SBAR
a. Tanggapan mengenai sbar terkait komunikasi dokter-perawat
Keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan di rumah
sakit, karena itu tujuan pelayanan perawatan merupakan salah satu bagian dari
tujuan utama rumah sakit. Komunikasi yang efektif dalam lingkungan perawatan
kesehatan membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan empati. Ini mencakup
mengetahui kapan harus berbicara, apa yang harus dikatakan dan bagaimana
mengatakannya serta memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk
memeriksa bahwa pesan telah diterima dengan benar. Meskipun digunakan setiap
hari dalam situasi klinis, keterampilan komunikasi perlu dipelajari, dipraktekkan
dan disempurnakan oleh semua perawat sehingga dapat berkomunikasi dengan
jelas, singkat dan tepat. Untuk itu diperlukan pendekatan sistematik untuk
memperbaiki komunikasi tersebut salah satunya dengan cara komunikasi teknik
SBAR (situation, background, assessment, recommendation)
Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan untuk
petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien. SBAR adalah alat
komunikasi dalam melakukan identifikasi terhadap pasien sehingga mampu
meningkatkan kemampuan komunikasi antara perawat dan dokter. Dokter lebih
memperhatikan karena informasi yang ringkas, perawat bekerja lebih cepat dan
mengkomunikasikan masalah dengan jelas serta dapat memberi kesempatan
menyampaikan saran kolaborasi.

b. Isu-isu terkait SBAR


Meskipun komunikasi SBAR di desain untuk komunikasi dalam situasi beresiko
tinggi antara perawat dan dokter, teknik SBAR juga dapat digunakan untuk
berbagai bentuk operan tugas, misalnya operan antara perawat.
SBAR digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan komunikasi efektif saat
serah terima informasi pasien yang berujung pada peningkatan patient safety.
Keuntungan SBAR adalah kekuatan perawat berkomunikasi secara efektif,
dokter percaya pada analisa perawat karena menunjukkan perawat paham akan
kondisi pasien, dan dapat memperbaiki komunikasi yang berujung pada perbaikan
keamanan pasien
Format pendokumentasian model SBAR untuk serah terima antar shift

S (diagnosa medis dan masalah keperawatan)

B (sign and symptome dari masing-masing masalah keperawatan: data subjektif


dan data objektif)

A (analisa dari data-data yang ada di background ( b ) sesuai masalah


keperawatan dan mengacu kepada tujuan dan kriteria hasil masing-masing
diagnosa keperawatan)

R (intervensi mandiri/ kolaborasi yang prioritas dikerjakan dan hal-hal khusus


yang harus menjadi perhatian)

c. Contoh penerapan SBAR


S: Anak post op hari 1 dengan Craniotomi removal e.c Astrocitoma post
pemasangan Vp Shunt
Masalah keperawatan :
Gangguan perfusi jaringan Cerebral
Tidak efektifnya bersihan jalan nafas
Resiko infeksi
Resiko gangguan keseimbangan cairan : kurang
B: Ibu pasien mengatakan anak cendrung tidur , ubun-ubun tampak cekung ,
refleks menghisap kurang, tidak ada muntah . Breast feeding hanya 20 ml.
Feeding susu 8x 50ml. GCS; E 3 M 5 V menangis, pupil 2/2 reaksi positif, suhu
37.3C, RR 24 x/mnt, Ronchi dikedua lapang paru, HR 144x/mnt. BAB tidak
ada, hasil PA belum ada. Sedang terpasang D5i/4 NaCl/12 jam. BB 5.8Kg
A: Perfusi jaringan serebral belum adekuat pasen masih cenderung tidur. Tidak
ada tanda-tanda peningkatan TIK, slem masih banyak, batuk tidak efektif, tanda-
tanda infeksi tidak ditemukan
R: Monitor status neurologi dan tanda-tanda peningkatan TIK Gunakan tehnik
a/anti septic dalam merawat luka.
Observasi balance cairan
Kaji dan monitor status pernafasan
Follow up dan diskusikan hasil PA

2. Analisis dari jurnal (jurnal terlampir) mengenai kepuasan pasien terhadap pelayanan
keperawatan
Rumah sakit sebagai pemberi jasa pelayanan harus dapat memuaskan
masyarakat sebagai pengguna jasa. Kepuasan pasien merupakan salah satu
indikator dalam menilai mutu pelayanan dirumah sakit. Pelayanan keperawatan
merupakan bagian intekral dari pelayanan kesehatan dirumah sakit, kualitas
pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan keperawatan
sehingga perlu adanya peningkatan mutu pelayanan keperawatan dirumah sakit
tersebut. Salah satu pelayanan keperawatan dirumah sakit adalah pelayanan prima
merupakan suatu pelayanan professional, cepat, bersih, ramah dan pelayanan yang
memberikan kepuasan bagi kesembuhan pasien. Harapan merupakan sesuatu yang
individu inginkan untuk didapatkan atau dicapai. Harapan tinggi pasien dalam
penelitian ini berhubungan dengan perilaku caring perawat. Perilaku perawat
yang caring membuat pasien merasa dihargai, sehingga hal itu memberi kepuasan
yang sesuai dengan harapan pasien.
Dapat diambil kesimpulan bahwa Kualitas pelayanan dokter berpengaruh
terhadap kepuasan pasien umum maupun pasien asuransi. Kualitas pelayanan
perawat berpengaruh terhadap kepuasan pasien umum maupun pasien Asuransi.
Kualitas pelayanan administrasi berpengaruh terhadap kepuasan pasien umum
maupun pasien Asuransi. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kepuasan
pasien adalah pelayanan perawat pada pasien umum maupun pasien Asuransi.
Sebaiknya dilakukan peningkatan keterampilan petugas dengan pelatihan atau
pendidikan yang lebih tinggi, sehingga dapat memberikan pelayanan perawatan,
pemeriksaan, dan pengobatan yang akurat dan cepat.
3. Konsep Service Quality (Servqual) terhadap pelayanan keperawatan dan saran untuk
peningkatan kualias pelayanan keperawatan
Konsep dan hubungan: Menurut konsep service quality yang populer, ServQual
dinyatakan bahwa kualitas pelayanan memiliki 5 dimensi, yaitu reliability,
resposniveness, assurance, empathy, dan tangible. Service Quality adalah
seberapa jauh perbedaan antara harapan dan kenyataan para pelanggan atas
layanan yang mereka terima. Service Quality dapat diketahui dengan cara
membandingkan persepsi pelanggan atas layanan yang benar-benar mereka terima
dengan layanan sesungguhnya yang mereka harapkan. Kualitas pelayanan
menjadi hal utama yang diperhatikan serius oleh rumah sakit, yang melibatkan
seluruh sumber daya yang dimiliki rumah sakit. Rumah sakit/sarana pelayanan
kesehatan lainnya, meskipun milik pemerintah, saat ini tidak lagi hanya bisa
mengandalkan subsidi untuk menyokong berjalannya kegiatan operasional
institusi. Dengan kata lain, ada upaya pemandirian dan pergeseran dari institusi
non profit menjadi institusi profit (bisnis). Pelayanan kesehatan merupakan setiap
upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersamaan dalam suatu organisasi
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah, dan menyembuhkan
penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan
ataupun masyarakat.
Rekomendasi: . Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan
yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan
tingkat kepuasan rata-rata penduduk serta yang penyelenggaraannya sesuai
dengan standard dan kode etik profesi yang telah ditetapkan. Sampai saat ini,
kepuasan pelanggan masih sangat relevan dengan kegiatan bisnis di mana pun.
Logika sederhanya, bila pelanggan suatu institusi bisnis puas, maka akan semakin
membaik pula kehidupan bisnis dan kehidupan keuangan di dalam institusi bisnis
tersebut. Hal ini juga berlaku pada dunia bisnis kesehatan, bila pasien merasa puas
dengan pelayanan kesehatan yang diterimanya, maka akan semakin meningkat
pula loyalitasnya untuk senantiasa menggunakan jasa layanan kesehatan tersebut
Kepuasan sangat bersifat subjektif dan unik bagi setiap pelanggan, pasiaen yang
merasa puas adalah mereka yang mendapatkan value dari pemberi
layanan/pemasok/produsen suatu produk (barang/jasa).
Untuk dapat mewujudkan tercapainya pelayanan yang berkualitas diperlukan
tenaga keperawatan yang profesional; memiliki kemampuan intelektual, teknikal,
dan interpersonal, berdasarkan standar praktik; serta memperhatikan kaidah etik
dan moral. Selain keselamatan pasien dan mutu pelayanan perawatan, ada faktor
karir perawat yang sangat mempengaruhi pelayanan keperawatan tersebut.
Semakin tinggi pendidikan perawat semakin jauh dengan pelayanan terhadap
pasien, baik di rumah sakit maupun pada pelayanan komunitas. Dari hasil
observasi masih dijumpai adanya perawat yang tidak peduli dengan keluhan yang
disampaikan oleh pasien maupun keluarganya. Perawat dalam memberikan
pelayanan perawatan belum banyak terpapar dengan kompetensi seperti yang
akan mereka lakukan sesuai dengan tingkat pendidikan, pelatihan, dan
pengalaman kerja yang dimiliki. Pengembangan karir pada saat ini lebih
menekankan pada posisi/jabatan, baik struktural maupun fungsional, sedangkan
jenjang karir profesional berfokus pada pengembangan jenjang karir profesional
yang sifatnya individual. Berlakunya sistem jenjang karir profesional memacu
perawat untuk meningkatkan kualitas dirinya, sesuai dengan bidang keahlian
masing-masing, sehingga nanti diharapkan perawat dapat memberikan pelayanan
yang lebih baik terhadap masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.sanglahhospitalbali.com/v1/penelitian.php?ID=62

http://repository.unand.ac.id/19754/2/BAB%20I.pdf

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/17324

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17324/7/Cover.pdf

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimus-gdl-senanwiryo-5202-2-bab2.pdf

Artikel Komunikasi Efektif SBAR

MAKALAH

IMPLEMENTASI SASARAN KESELAMATAN PASIEN :

KOMUNIKASI EFEKTIF DI INSTALASI RAWAT INAP


Disusun Oleh :

Nama : Noer Rochmat

NIP : 19800604 200701 1 007

Pangkat/ Gol. : Penata Muda (III/a)

Jabatan : Perawat Pertama

Jenjang Pendidikan : Profesi Ners


PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH

RSUD TUGUREJO SEMARANG

A. Latar Belakang

Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada lima isu

penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit yaitu : keselamatan pasien (paitent safety),

keselamatan pekerja atau petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang

bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan (green productivity)

yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan keselamatan bisnis rumah sakit yang terkait

dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Kelima aspek keselamatan tersebut keselamatan pasien

merupakan prioritas utama untuk dilakukan oleh rumah sakit. Keselamatan pasien merupakan prinsip

dasar dari pelayanan kesehatan yang memandang bahwa keselamatan merupakan hak bagi setiap

pasien dalam menerima pelayanan kesehatan.1

Di Indonesia data tentang kejadian tidak diharapkan (KTD) apalagi kejadian nyaris cedera (KNC)

masih langka, namun di lain pihak terjadi peningkatan tuduhan mal praktek, yang belum tentu sesuai

dengan pembuktian akhir. Mengingat keselamatan pasien sudah menjadi tuntutan masyarakat maka
pelaksanaan program keselamatan pasien rumah sakit perlu dilakukan, maka rumah sakit perlu

melaksanakan sasaran keselamatan pasien (SKP). Sasaran keselamatan pasien tersebut meliputi

ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat yang

perlu diwaspadai, kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi, pengurangan risiko

infeksi terkait pelayanan kesehatan, dan pengurangan risiko pasien jatuh. Dari enam sasaran

keselamatan pasien, unsur yang utama dari layanan asuhan ke pasien adalah komunikasi efektif.2

Komunikasi yang tidak efektif akan menimbulkan risiko kesalahan dalam pemberian asuhan

keperawatan. Sebagai contoh kesalahan dalam pemberian obat ke pasien, kesalahan melakukan

prosedur tindakan perawatan. Mencegah terjadinya risiko kesalahan pemberian asuhan keperawatan

maka perawat harus melaksanakan sasaran keselamatan pasien : komunikasi efektif di Instalasi Rawat

Inap. Komunikasi efektif dapat dilakukan antar teman sejawat (dokter dengan dokter/ perawat dengan

perawat) dan antar profesi (perawat dengan dokter).

Kualitas suatu rumah sakit sebagai institusi yang menghasilkan produk teknologi jasa kesehatan

sudah tentu tergantung juga pada kualitas pelayanan medis dan pelayanan keperawatan yang diberikan

kepada pasien (Tjiptono,2001). Menurur Walker, Evan dan Robbson (2003), komunikasi efektif dalam

praktik keperawatan profesional merupakan unsur utama bagi perawat dalam melaksanakan asuhan

keperawatan dalam mencapai hasil yang optimal. Kegiatan keperawatan yang memerlukan komunikasi

efektif adalah saat serah terima tugas (handover) dan komunikasi lewat telepon.3 Berdasarkan latar

belakang diatas maka implementasi sasaran keselamatan pasien : komunikasi efektif harus dilakukan

oleh perawat professional.

B. Pokok Permasalahan

Komunikasi yang tidak efektif akan menimbulkan risiko kesalahan dalam pemberian asuhan

keperawatan. Sebagai contoh kesalahan dalam pemberian obat ke pasien, kesalahan melakukan

prosedur tindakan perawatan, kesalahan interprestasi atau mis komunikasi.


C. Tujuan

1. Tujuan umum

Diharapkan perawat dapat menerapkan implementasi sasaran keselamatan pasien dengan

komunikasi secara efektif dalam pemberian asuhan keperawatan.

2. Tujuan khusus

a. Diharapkan dapat menghindarkan kejadian kesalahan pemberian obat.

b. Diharapkan dapat menghindarkan kesalahan melakukan tindakan.

c. Diharapkan dapat menghindarkan mis komunikasi.

D. Manfaat

Dengan berkomunikasi secara efektif dapat menjalin saling pengertian dengan teman sejawat

perawat atau perawat dengan dokter karena komunikasi memiliki manfaat, antara lain adalah:

1. Tersampaikannya gagasan atau pemikiran kepada orang lain dengan jelas sesuai dengan yang

dimaksudkan.

2. Adanya saling kesefahaman dalam suatu permasalahan, sehingga terhindar dari salah persepsi.

3. Memberikan sesuatu pesan kepada pihak tertentu, dengan maksud agar pihak yang diberi informasi

dapat memahaminya.

E. Analisis dan Pembahasan

Berdasarkan kebijakan Pemerintah yaitu Permenkes RI No 1691 Tahun 2010 tentang Keselamatan

Pasien Rumah Sakit. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 1691 setiap rumah sakit wajib

mengupayakan pemenuhan sasaran keselamatan pasien. Sasaran keselamatan pasien meliputi


tercapainya ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan

obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi, pengurangan

risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan, dan pengurangan risiko pasien jatuh.2

Enam unsur sasaran keselamatan pasien yang utama dari layanan asuhan ke pasien adalah

komunikasi efektif. Menghindari risiko kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan pasien dan

meningkatkan kesinambungan perawat dan pengobatan maka diharuskan menerapkan komunikasi

efektif.

Standar akreditasi RS 2012 SKP.2 / JCI IPSG.2 mensyaratkan agar rumah sakit menyusun cara

komunikasi yang efektif, tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dapat dipahami penerima. Hal itu untuk

mengurangi kesalahan dan menghasilkan perbaikan keselamatan pasien.4

Komunikasi adalah penyebab pertama masalah keselamatan pasien (patient safety). Komunikasi

merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia. Komunikasi yang

efektif yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami oleh penerima mengurangi kesalahan dan

meningkatkan keselamatan pasien.3

1. Faktor yang dapat mendukung komunikasi efektif3 :

a. Dalam profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metoda utama

dalam mengimplementasikan proses keperawatan.

b. Komunikator merupakan peran sentral dari semua peran perawat yang ada.

c. Kualitas komunikasi adalah faktor kritis dalam memenuhi kebutuhan klien.

2. Faktor yang tidak mendukung komunikasi efektif3 :

a. Tanpa komunikasi yang jelas, dapat memberikan pelayanan keperawatan yang tidak efektif,
b. Tidak dapat membuat keputusan dengan klien/keluarga,

c. Tidak dapat melindungi klien dari ancaman kesejahteraan,

d. Tidak dapat mengkoordinasi dan mengatur perawatan klien serta memberikan pendidikan kesehatan.

3. Aspek yang harus dibangun dalam komunikasi efektif adalah3 :

a. Kejelasan

Dalam komunikasi harus menggunakan bahasa secara jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh

komunikan

b. Ketepatan

Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang

disampaikan.

c. Konteks

Maksudnya bahwa bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan

lingkungan dimana komunikasi itu terjadi.

d. Alur

Bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas,

sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap.

e. Budaya
Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga berkaitan dengan tata krama dan

etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak

berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan

kesalahan persepsi.

Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di rumah sakit adalah komunikasi SBAR (Situation,

Background, Assessment, Recommendation), metode komunikasi ini digunakan pada saat perawat

melakukan handover ke pasien. Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan

untuk petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien.

SBAR adalah metode terstruktur untuk mengkomunikasikan informasi penting yang membutuhkan

perhatian segera dan tindakan berkontribusi terhadap eskalasi yang efektif dan meningkatkan

keselamatan pasien. SBAR juga dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan serah terima antara

shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda. Melibatkan semua anggota tim kesehatan

untuk memberikan masukan ke dalam situasi pasien termasuk memberikan rekomendasi. SBAR

memberikan kesempatan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya.

Keuntungan dari penggunaan metode SBAR adalah

- Kekuatan perawat berkomunikasi secara efektif.

- Dokter percaya pada analisa perawat karena menunjukkan perawat paham akan kondisi pasien.

- Memperbaiki komunikasi sama dengan memperbaiki keamanan pasien.

Metode SBAR sama dengan SOAP yaitu Situation, Background, Assessment, Recommendation.

Komunikasi efektif SBAR dapat diterapkan oleh semua tenaga kesehatan, diharapkan semua tenaga

kesehatan maka dokumentasi tidak terpecah sendiri-sendiri. Diharapkan dokumentasi catatan


perkembangan pasien terintegrasi dengan baik. sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui

perkembangan pasien.5

1. Situation : Bagaimana situasi yang akan dibicarakan/ dilaporkan?

- Mengidentifikasi nama diri petugas dan pasien.

- Diagnosa medis

- Apa yang terjadi dengan pasien yang memprihatinkan

2. Background : Apa latar belakang informasi klinis yang berhubungan dengan situasi?

- Obat saat ini dan alergi

- Tanda-tanda vital terbaru

- Hasil laboratorium : tanggal dan waktu tes dilakukan dan hasil tes sebelumnya untuk perbandingan

- Riwayat medis

- Temuan klinis terbaru

3. Assessment : berbagai hasil penilaian klinis perawat

- Apa temuan klinis?

- Apa analisis dan pertimbangan perawat

- Apakah masalah ini parah atau mengancam kehidupan?

4. Recommendation : apa yang perawat inginkan terjadi dan kapan?

- Apa tindakan / rekomendasi yang diperlukan untuk memperbaiki masalah?


- Apa solusi yang bisa perawat tawarkan dokter?

- Apa yang perawat butuhkan dari dokter untuk memperbaiki kondisi pasien?

- Kapan waktu yang perawat harapkan tindakan ini terjadi?

Sebelum serah terima pasien, perawat harus melakukan :

1. Perawat mendapatkan pengkajian kondisi pasien terkini.

2. Perawat mengkumpulkan data-data yang diperlukan yang berhubungan dengan kondisi pasien yang

akan dilaporkan.

3. Perawat memastikan diagnosa medis pasien dan prioritas masalah keperawatan yang harus dilanjutkan.

4. Perawat membaca dan pahami catatan perkembangan terkini & hasil pengkajian perawat shift

sebelumnya.

5. Perawat menyiapkan medical record pasien termasuk rencana perawat harian.

Contoh komunikasi efektif SBAR antar shift dinas/ serah terima :

Situation (S) :

Nama : Tn.A umur 35 tahun, tanggal masuk 8 Desember 2013 sudah 3 hari perawatan, DPJP : dr

Setyoko, SpPD, diagnosa medis : Gagal ginjal kronik.

Masalah keperawatan:

- Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit lebih

- Perubahan kebutuhan nutrisi kurang

Background (B) :
- Pasien bedrest total , urine 50 cc/24 jam, balance cairan 1000 cc/ 24 jam.

- Mual tetap ada selama dirawat, ureum 300 mg/dl.

- Pasien program HD 2x seminggu Senin dan Kamis.

- Terpasang infuse NaCl 10 tetes/menit

- Dokter sudah menjelaskan penyakitnya tentang gagal ginjal kronik

- Diet : rendah protein 1 gram

Assessment (A) :

- Kesadaran composmentis, TD 150/80 mmHg, Nadi 100x/menit, suhu 37 0C, RR 20 x/menit, oedema pada

ekstremitas bawah, tidak sesak napas, urine sedikit, eliminasi faeses baik.

- Hasil laboratorium terbaru : Hb 9 mg/dl, albumin 3, ureum 237 mg/dl

- Pasien masil mengeluh mual.

Recommendation (R) :

- Awasi balance cairan

- Batasi asupan cairan

- Konsul ke dokter untuk pemasangan dower kateter

- Pertahankan pemberian pemberian deuritik injeksi furosemit 3 x 1 amp

- Bantu pasien memenuhi kebutuhan dasar pasien


- Jaga aseptic dan antiseptic setiap melakukan prosedur

Contoh komunikasi efektif SBAR antar perawat dengan dokter lewat telepon :

Situation (S) :

- Selamat pagi Dokter, saya Noer rochmat perawat Nusa Indah 2

- Melaporkan pasien nama Tn A mengalami penurunan pengeluaran urine 40 cc/24 jam, mengalami sesak

napas.

Background (B) :

- Diagnosa medis gagal ginjal kronik, tanggal masuk 8 Desember 2013, program HD hari Senin-Kamis

- Tindakan yang sudah dilakukan posisi semi fowler, sudah terpasang dower kateter, pemberian oksigen 3

liter/menit 15 menit yang lalu.

- Obat injeksi diuretic 3 x 1 amp

- TD 150/80 mmHg, RR 30 x/menit, Nadi 100 x/menit, oedema ekstremitas bawah dan asites

- Hasil laboratorium terbaru : Hb 9 mg/dl, albumin 3, ureum 237 mg/dl

- Kesadaran composmentis, bunyi nafas rongki.

Assessment (A) :

- Saya pikir masalahnya gangguan pola nafas dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit lebih

- Pasien tampak tidak stabil

Recommendation (R) :
- Haruskah saya mulai dengan pemberian oksigen NRM

- Apa advise dokter? Perlukah peningkatan diuretic atau syringe pump?

- Apakah dokter akan memindahkan pasien ke ICU?

F. Kesimpulan

Komunikasi efektif adalah unsur utama dari sasaran keselamatan pasien karena komunikasi adalah

penyebab pertama masalah keselamatan pasien (patient safety). Komunikasi yang efektif yang tepat

waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami oleh penerima mengurangi kesalahan dan meningkatkan

keselamatan pasien. Maka dalam komunikasi efektif harus dibangun aspek kejelasan, ketepatan, sesuai

dengan konteks baik bahasa dan informasi, alur yang sistematis, dan budaya.

Kerangka komunikasi yang efektif yang digunakan adalah komunikasi model SBAR (Situation,

Background, Assessment, Recommendation). Metode ini digunakan secara efektif saat serah terima

antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda. SBAR juga digunakan untuk diskusi

antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya (perawat dokter).

G. Saran

Dengan komunikasi efektif diharapkan tidak terjadi kesalahan dalam pemberian asuhan ke pasien.

Komunikasi efektif dengan metode SBAR akan terbentuk catatan dokumentasi tidak terpecah sendiri-

sendiri. Sehingga disarankan dokumentasi catatan perkembangan pasien terintegrasi dengan baik,

sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui perkembangan pasien.


DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes RI. (2006). Panduan nasional keselamatan pasien rumah sakit (patient safety). Jakarta: Bakti
Husada.

2. Permenkes RI No 1691 (2010). Keselamatan pasien rumah sakit. Jakarta : Menteri Kesehatan RI.

3. Materi komunikasi efektif. Diakses http://galericampuran.blogspot.com/2013/03/materi-komunikasi-


efektif.html

4. Joint Commission Accreditation of Health Organization. (2010). National patient safety goals.

5. Rofii, Muhamad. (2013). Komunikasi efektif dengan SBAR. Disampaikan dalam pelatihan di RSUD
Tugurejo Semarang tanggal 21 November 2013.

Anda mungkin juga menyukai