Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Di Indonesia angka kematian maternal dan perinatal masih cukup tinggi. Padahal jumlah
pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan di Indonesia cukup banyak. Dari lima juta
kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal
akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia tahun 2012 (SDKI 2012), Angka Kematian Ibu di Indonesia sebesar mencapai
359/100.000 penduduk atau meningkat sekitar 57% bila dibandingkan dengan kondisi pada
2007, yang hanya sebesar 228/100.000 penduduk.
Sejauh ini kematian bayi telah menurun sebebesar 44% selama 18 tahun terakhir, dari 57
kematian per 1000 kelahiran hidup di periode 1990-1994 ke 32 kematian per 1.000 kelahiran
hidup di periode 2008-2012. Jumlah anak yang meninggal adalah salah satu indikator
kesehatan yang sangat penting. MDG 4 menargetkan penurunan angka kematian anak (AKA)
tahun 1990 sebanyak dua pertiganya. Hasil SDKI tahun 1991 menunjukkan bahwa AKA
adalah 97 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Artinya, target AKA di Indonesia pada tahun
2015 adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran. Hasil sementara SDKI tahun 2012
mengindikasikan bahwa AKA menurun menjadi 40 kematian per 1.000 kelahiran hidup.
AKA mencakup Angka Kematian Bayi (AKB) di dalamnya. Berdasarkan hasil SDKI tahun
1991, AKB mencapai 68 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Ini berarti pada tahun 2015
diharapkan AKB dapat diturunkan menjadi 22 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Hasil
sementara SDKI 2012 memperlihatkan bahwa AKB menurun menjadi 32 kematian per 1.000
kelahiran hidup. Diperkirakan pada tahun 2015 target AKA dan AKB akan dapat dicapai.
Sementara itu, salah satu target MDG 5 adalah menurunkan AKI atau maternal mortality
ratio (MMR) hingga tiga perempatnya dari tahun 1990. Berdasarkan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1991, AKI adalah 390 kematian per 100.000 kelahiran
hidup. Dengan demikian, target AKI di Indonesia pada tahun 2015 adalah 102 kematian per
100.000 kelahiran hidup. Namun, hasil SDKI tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI baru
dapat diturunkan menjadi 228 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Ini berarti diperlukan
upaya keras semua pihak untuk mencapai target tersebut.
Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak Negara berkembang terutama
disebabkan oleh perdarahan persalinan, eklamsia, sepsis, dan komplikasi keguguran.
Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat
dicegah melalui upaya pencegahan yang efektif. Asuhan kesehatan ibu selama dua dasawarsa
terakhir terfokus kepada : keluarga berencana untuk lebih mensejahterakan anggota
masyarakat. Asuhan neonatal trfokus untuk memantau perkembangan kehamilan mengenai
gejala dan tanda bahaya, menyediakan persalinan dan kesediaan menghadapi komplikasi.
Asuhan pasca keguguran untuk penatalaksaan gawat darurat keguguran dan komplikasinya.
Persalinan saat ini menjadi momok yang ditakutkan dikalangan ibu, khususnya ibu hamil.
Tidak sedikit ibu dan bayinya mengalami kegawatdaruratan dan sampai pada akhirnya tak
dapat terselamatkan yang pada akhirnya menyebabkan meningkatnya angak kematian ibu
dan anak. Akan tetapi hal tersebut dapat diminimalisir dengan asuhan persalinan.
Asuhan persalinan kala I, II, III, dan IV memegang kendali penting pada ibu selama
persalinan karena dapat membantu ibu dalam mempermudah proses persalinan, membuat ibu
lebih yakin untuk menjalani proses persalinan serta untuk mendeteksi komplikasi yang
mungkin terjadi selama persalinan dan ketidaknormalan dalam persalinan.
Persalinan yang aman yaitu memastikan bahwa semua penolong mempunyai
pengetahuan, keterampilan dan alat untuk memberikan pertolongan yang aman dan bersih,
serta memberikan pelayanan nifas kepada ibu dan bayi (Saiffudin,dkk;2002).
Lima benang merah dalam asuhan persalinan dasar adalah :
1. Aspek pemecahan yang diperlukan untuk menentukan pengambilan keputusan klinik
(clinik decicion making).
2. Aspek sayang ibu yang berarti sayang anak
3. Aspek pencegahan infeksi,
4. Aspek pencatatan
5. Aspek rujukan.
B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan dan mempraktikan pada ibu bersalin dengan
pendekatan 7 langkah Varney.
2. Tujuan Khusus
a. Mengkaji dan mengumpulkan data akurat dari berbagai sumber yang berhubungan
dengan kondisi pasien.
b. Mengidentifikasi dengan benar terhadap masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien
berdasarkan interprestasi yang benar atau data-data yang telah dikumpulkan.
c. Mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah
dan diagnosa yang sudah diidentifikasi.
d. Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain
sesuai dengan kondisi klien.
e. Merencanakan asuhan yang menyeluruh untuk pasien berdasarkan masalah yang ada
dan langkah-langkah sebelumnya.
f. Melaksanakan asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada perencanaan dan
dilaksanakan secara efisien dan aman.
g. Mampu mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai
dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa.
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI
Persalinan adalah Suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin & uri), yang
dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. (Mochtar,
1998).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + plasenta) yang telah
cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain,
dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).(sulistyawati, 2007).
Proses ini dimulai dengan adanya kontraksi persalinan sejati, yang ditandai
dengan perubahan serviks secara progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta. Jadi
persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) dari rahim yang telah
cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain.
(sulistyawati, 2007)

B. ETIOLOGI
Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada
hanyalah merupakan teori-teori yang kompleks antara lain dikemukakan faktor-faktor
femoral, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada syaraf dan nutrisi.
1. Teori penurunan hormon : 1 2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan
hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot otot
polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his
bila kadar progesteron turun.
2. Teori plasenta menjadi tua : akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan
progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah hal ini akan
menimbulkan kontraksi rahim.
3. Teori distensi rahim : rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan
iskemia otot otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenter.
4. Teori iritasi mekanik : dibelakang serviks terletak ganglion servikale (flexsus
frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan misalnya oleh kepala janin,
akan timbul kontraksi uterus.
5. Induksi Partus : (induction of labour). Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan :
a. Gagang laminaria : beberapa laminaria dimasukkan ke dalam kanalis servikalis
dengan tujuan merangsang fleksus frankenhauser
b. Amniotomi : pemecahan ketuban
c. Oksitosin drips : pemberian oksitosin menurut tetesan per infus
C. TANDA DAN GEJALA KLINIS
1. Tanda tanda Permulaan Persalinan
Sebelum terjadi persalinan beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki
bulannya atau minggunya atau harinya yang disebut kala pendahuluan. Ini
memberikan tanda-tanda sebagai berikut:
a. Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas
panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.
b. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
c. Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung
kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
d. Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah
dari uterus, kadang-kadang di sebut false labor pains
e. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bisa
bercampur (bloody show).
2. Tanda tanda Masuk Persalinan
a. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.
b. Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan
robekan kecil pada serviks
c. Kadang kadang ketuban pecah dengan sendirinya
d. Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan telah ada

Seperti dikemukakan terdahulu, faktor faktor yang berperan dalam persalinan


adalah:
a. Kekuatan mendorong janin keluar (power) :
1) His (kontraksi uterus)
2) Kontraksi otot otot dinding perut
3) Kontraksi diafragma
4) Dan ligmentous action terutama ligamentum rotundum
b. Faktor janin (passager)
c. Faktor jalan lahir (passage)
Pada waktu partus akan terjadi perubahan perubahan pada uterus, serviks,
vagina, dan dasar panggul.

D. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN


Menurut Manuaba (2010) menyatakan bahwa, persalinan ditentukan oleh 5 faktor
P utama yaitu:
1. Power (Tenaga atau kekuatan), yaitu his (kontraksi otot rahim), kontraksi otot
dinding perut atau kekuatan meneran, ketegangan kontraksi ligamentum
rotundum.
2. Passenger, yaitu keadaan janin (letak, presentasi, ukuran /berat janin,
ada/tidak kelainan), dan plasenta.
3. Passage, yaitu keadaan jalan lahir yang terdiri dari bagian keras tulang
panggul dan bagian lunak yaitu otot-otot jaringan, dan ligament-ligament.
4. Psikologi, yaitu psikis ibu mempengaruhi proses persalinan dimana psikis
sangat mempengaruhi keadaan emosional ibu dalam proses persalinan.
5. Penolong, yaitu penolong mempengaruhi proses persalinan dimana persalinan
yang ditolong oleh dokter / bidan yang profesional.

E. TAHAPAN PERSALINAN
1. Persalinan kala I (fase pematangan dan pembukaan)
a. Definisi
Inpartu di tandai dengan keluarnya lendir darah, karena serviks mulai
membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement) kala dimulai dari pembukaan nol
sampai pembukaan lengkap (10cm) lamanya kala I untuk primigravida
berlangsung 12 jam, sedangkan pada multigravida berlangsung 8 jam.
Berdasarkan kurva friedman pembukaan primi 1 cm/jam, sedangkan padamulti
2cm/jam.
Kala pembukaan dibagi dua fase :
1) Pembukaan laten : pembukaan serviks, sampai ukuran 3 cm, berlangsung
dalam 7 8 jam
2) Fase aktif : berlangsung 6 jam, di bagi atas 3 sub fase yaitu :
a) Periode akselerasi berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm
b) Periode dilatasi maksimal selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat
menjadi 9 cm
c) Periode deselerasi berlangsung lambat, selama 2 jam pembukaan menjadi
10 cm atau lengkap.
b. Asuhan pada kala I
1) Menghadirkan orang yang di anggap penting oleh ibu seperti suami, keluarga
pasien atau teman dekat
Dukungan yang dapat diberikan :
a) Mengusap keringat
b) Menemani atau membimbing jalan jalan (mobilisasi)
c) Memberikan minum
d) Merubah posisi dan sebagainya
e) Memijat atau menggosok punggung
2) Mengatur aktivitas dan posisi ibu
a) Ibu diperbolehkan melakukan aktivitas sesuai dengan kesanggupannya
b) Posisi sesuai dengan keinginan ibu, namun bila ibu ingin di tempat tidur
sebaiknya tidak dianjurkan tidur dalam posisi terlentang lurus
3) Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his
Ibu di minta menarik nafas panjang, tahan nafas sebentar, kemudian
dilepaskan dengan cara meniup sewaktu ada his
4) Menjaga privasi ibu
Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan, antara lain tanpa
sepengetahuan dan seizin pasien atau ibu
5) Penjelasan tentang kemajuan persalinan
Menjelaskan kemajuan persalinan, perubahan yang terjadi dalam tubuh ibu,
serat prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil hasil pemeriksa
6) Menjaga kebersihan diri
Membolehkan ibu mandi untuk mandi, menganjurkan ibu emmbasuh sekitar
kemaluannya sesuai buang air kecil atau besar
7) Mengatasi rasa panas
Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat, dapat di atasi dengan
cara:
a) Gunakan kipas angin atau AC dalam kamar
b) Menggunakan kipas biasa
c) Menganjurkan ibu untuk mandi
8) Massase
Jika ibu suka, lakukan pijatan atau massase pada punggung atau mengusap
perut dengan lembut
9) Pemberian cukup minum
Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah rehidrasi
10) Mempertahankan kandung kemih tetap kosong
Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin
11) Sentuhan
Disesuaikan dengan keinginan ibu, memberikan sentuhan pada salah satu
bagian tubuh yang bertujuan untuk mengurangi rasakesendirian ibu selama
proses persalinan
2. Persalinan kala II (kala pengeluaran janin)
a. Definisi
Kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10cm) dan berakhir
dengan lahirnya bayi. Kala II juga disbeut kala pengeluaran bayi (APN 2008)
Gejala dan tanda kala II persalinan :
1) Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
2) Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum/pada vaginanya
3) Perineum menonjol
4) Vulva vagina dan sfingter ani membuka
5) Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah (APN 2008)
Pada kala ini his terkoordinir, cepat dan lebih lama, kira kira 2 3 menit
sekali kepala janin telah masuk keruangan panggul sehingga terjadi tekanan pada
otot dasar panggul yang menimbulkan rasa ingin mengedan, karena tekanan pada
rectum, ibu ingin seperti mau buang air besar, dengan tanda anus membuka. Pada
saat his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, perineum meregang.
Dengan kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi
kepala, membuka pintu, dahi, hidung, mulut dan muka dan seluruhnya, diikuti
oleh putaran paksi luar yaitu penyesuaian kepala dengan punggung. Setelah itu
sisa air ketuban. Lamanya kala II untuk primigravida 60 menit dan multigravida
30 menit.
b. Asuhan pada kala II
1) Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu Kehadiran seseorang untuk :
a) Mendampingi ibu agar merasa nyaman
b) Menawarkan minum, mengipasi dan memijat ibu.
2) Menjaga kebersihan diri
a) Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar infeksi
b) Bila ada darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan
3) Mengipasi dan massase
Menambah kenyamanan pada ibu
4) Memberikan dukungan mental
Untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu dengan cara :
a) Menjaga privasi ibu
b) Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan
c) Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu
5) Mengatur posisi ibu
6) Dalam memimpin mengedan dapat dipilih posisi berikut :
a) Jongkok
b) Menungging
c) Tidur miring
d) Setengah duduk
Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya rasa nyeri, mudah
mengedan, kurangnya trauma vagina dan perineum dan infeksi
7) Menjaga kandung kemih tetap kosong
Ibu dianjurkan untuk berkemih sesering mungkin. Kandung kemih yang
penuh dapat menghalangi turunnya kepala kedalam rongga panggul
8) Memberikan cukup minum
Memberi tenaga dan mencegah dehidrasi
9) Memimpin meneran
Ibu dipimpin mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil
nafas. Mengedan tanpa diselingi bernafas, kemungkinan dapat menurunkan
pH pada arteri umbilicus yang dapat menyebabkan denyut jantung tidak
normal
10) Bernafas selama persalinan
Minta ibu untuk bernafas selagi kontraksi ketika kepala akan lahir. Hal ini
menjaga agar perineum meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala serta
mencegah robekan
11) Pemantauan denyut jantung janin
Periksa DJJ setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami
bradikardi (<120) selama mengedan yang lama, akan terjadi pengurangan
aliran darah dan oksigen ke janin
12) Melahirkan bayi
a) Menolong kelahiran kepala
Letakkan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat
Menahan perineum dengan satu tangan lainnya bila diperlukan
Mengusap kepala bayi untuk membersihkan dari kotoran/lender
b) Periksa tali pusat
Bila lilitan tali pusat terlalu ketat, di klem pada dua tempat kemudian di
gunting diantara kedua klem tersebut sambil melindungi leher bayi
c) Melahirkan bahu dan anggota seluruhnya :
Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi
Lakukan tarikan lembut kebawah untuk melahirkan bahu depan
Lakukan tarikan lembut keatas untuk melahirkan bahu belakang
Selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil
menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi
untuk mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya
Pegang erat bayi agar jangan sampai jatuh
13) Bayi dikeringkan dan dihangatkan dari kepala sampai seluruh tubuh
Setelah bayi lahir segera keringkan dan selimuti dengan menggunakan handuk
atau sejenisnya, letakkan pada perut ibu dan berikan bayi untuk menyusui
14) Merangsang bayi
Biasanya dengan melakukan pengeringan cukup memberikan rangsangan
pada bayi
Dilakukan dengan cara mengusap usap pada bagian punggung atau
menepuk telapak kaki bayi

3. Persalinan kala III (kala uri/plasenta)


a. Definisi
Kala III adalah waktu dari keluarnya bayi hingga pelepasan dan pengeluaran
uri (plasenta) yang bgerlangsung tidak lebih dari 30 menit(JNPK-KR 2008).
1) Tanda tanda pelepasan plasenta
a) Semburan darah
Semburan darah ini disebabkan karena penyumbatan retroplasenter pecah
saat plasenta lepas
b) Pemanjangan tali pusat
Hal ini disebabkan karena plasenta turun ke segmen uterus yang lebih
bawah atau rongga vagina
c) Perubahan bentuk uterus dari diskoid menjadi globular (bulat)
Perubahan bentuk ini disebabkan oleh kontraksi uterus
d) Perubahan dalam posisi uterus yaitu uterus naik ke dalam abdomen
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sesaat setelah plasenta lepas TFU
akan naik, hal ini disebabkan oleh adanya pergerakan plasenta ke segmen
uterus yang lebih bawah
b. Asuhan pada kala III
1) Pemberian suntik oksitosin
a) Letakkan bayi baru lahir di atas kain bersih yang telah disiapkan diperut
bawah ibu dan minta ibu atau pendampingnya untuk membantu
memegang bayi tersebut
b) Pastikan tidak ada bayi lain di dalam uterus
c) Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik
d) Segera (dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir) suntikkan oksitosin 10
unit IM pada 1/3 bagian atas paha bagian luar
e) Dengan mengerjakan semua prosedur tersebut terlebih dahulu maka akan
memberi cukup waktu pada bayi untuk memperoleh sejumlah darah kaya
zat besi dan setelah itu (setelah dua menit) baru dilakukan tindkaan
penjepitan dan pemotongan tali pusat
f) Serahkan bayi yang telah terbungkus kain pada ibu untuk inisiasi
menyusui dini dan kontak kulit dengan ibu
g) Tutup kembali perut bawah ibu dengan kain bersih
Alasan lain akan mencegah kontaminasi tangan penolong persalinan yang
sudah memakai sarung tangan dan mencegah kontaminasi oleh darah pada
perut ibu.
2) Penegangan tali pusat terkendali
a) Berdiri di samping ibu
b) Pindahkan klem (penjepit untuk memotong tali pusat pada saat kala II)
pada tali pusat sekitar 5 10 cm dari vulva
c) Letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (beralaskan kain) tepat di
atas simfisis pubis. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan
menekan uterus pada saat melakukan penegangan tali pusat. Setelah
terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat dengan satu tangan dan
tangan yang lain (pada dinding abdomen) menekan uterus ke arah lumbal
dan kepala ibu (dorso kranial). Lakukan secara hati hati untuk
mencegah inversio uteri
d) Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali
(sekita 2 3 menit berselang) untuk mengulangi kembali penegangan tali
pusat terkendali
e) Saat mulai kontraksi (uterus menjadi bulat atau tali pusat menjulur)
tegangkan tali pusat ke arah bawah, lakukan dorso kranial hingga tali
pusat makin menjulur dan korpus uteri bergerak ke atas yang menandakan
plasenta telah lepas dan dapat dilahirkan
f) Tetapi jika langkah 5 diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya dan
plasenta tidak turun setelah 30 40 detik dimulainya penegangan tali
pusat dan tidak ada tanda tanda yang menunjukkan lepasnya plasenta,
jangan lanjutkan penegangan tali pusat. (pegang klem dan tali pusat
dengan lembut dan tunggu sampai kontraksi berikutnya. Jika perlu
pindahkan klem lebih dekat dengan perineum pada saat tali pusat
memanjang. Pertahankan kesabaran pada saat melahirkan plasenta. Pada
saat kontraksi berikutnya terjadi, ulangi penegangan tali pusat terkendali
dan tekanan dorso kranial pada korpus uteri secara serentak. Ikuti
langkah langkah tersebut pada setiap kontraksi hingga terasa plasenta
terlepas dari dinding uterus)
g) Setelah plasenta lepas, anjurkan ibu untuk meneran agar plasenta
terdorong keluar melalui introitus vagina. Tetap tegangkan tali pusat
dengan arah sejajar lantai (mengikuti poros jalan lahir)
h) Pada saat plasenta terlihat pada intoritus vagina, lahirkan plasenta dengan
mengangkat tali pusat ke atas dan menopang tali pusat ke atas dan
menopang plasenta dengan tangan lainnya untuk diletakkan dalam wadah
penampung. Karena selpaut ketuban mudah robek, pegang plasenta
dengan kedua tangan dan secara lembut putar plasenta hingga selaput
ketubah terpilin menjadi satu
i) Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahan lahan untuk melahirkan
selaput ketuban
j) Jika selaput robek dan tertinggal di jalan lahir saat melahirkan plasenta,
dengan hati hati periksa vagina dan serviks dengan seksama. Gunakan
jari jari tangan atauklem DTT atau forsep untuk keluarkan selaput
ketuban yang teraba
3) Rangsangan taktil (massase) fundus uteri
Segera setelah plasenta lahir, lakukan massase fundus uterus :
a) Letakkan telapak tangan pada fundus uterus
b) Menjelaskan tindakan kepada ibu, bahwa ibu mungkin merasa agar tidak
nyaman karena tindakan yang diberikan. Anjurkan ibu untuk menarik
nafas dalam dan perlahan serta rileks
c) Dengan lembut tapi mantap gerakan tangan dengan arah memutar pada
fundus uteri supaya uterus berkontraksi. Jika uterus tidak berkontraksi
dalam waktu 15 detik, lakukan penatalaksanaan atonia uteri
d) Periksa plasenta dan selaputnya untuk memastikan keduanya lengkap dan
utuh (periksa plasenta sisi maternal yang melekat pada dinding uterus
untuk memastikan bahwa semuanya lengkap dan utuh, tidak ada bagian
yang hilang. Pasangkan bagian bagian plasenta yang robek atau terpisah
untuk memastikan tidak adanya kemungkinan lobus tambahan. Evaluasi
selaput untuk memastikan kelengkapannya
e) Periksa kembali uterus setelah 1 2 menit untuk memastikan uterus
berkontraksi. Jika uterus masih belum berkontraksi baik, ulangi massase
fundus uetri. Ajarkan ibu dan keluarga cara melakukan massase fundus
uterus sehingga mampu untuk segera mengetahui jika uterus tidak
berkontraksi dengan baik
f) Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca
persalinan dan setiap 30 menit selama 1 jam kedua psaca persalinan
4. Persalinan kala IV
a. Definisi
Kala IV adalah kala pengawasan dari 1- 2 jam setelah bayi dan plasenta lahir
untuk memantau kondisi ibu. Harus diperiksa setiap 15 menit selama 1 jam
pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.
b. Asuhan pada kala IV
1. Lakukan rangsangan taktil (massase) uterus untuk merangsang uterus
berkontraksi baik dan kuat
2. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan secara melintang
dengan pusat sebagai patokan. Umumnya, fundus uterus setinggi atau
beberapa jari di bawah pusat
3. Perkiraan kehilangan darah secara keseluruhan
4. Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau episiotomi)
perineum
5. Evaluasi keadaan umum ibu
Pantau keadaan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan darah yang
keluar setiap 15 menut selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama
satu jam kedua kala empat
6. Dokumentasi semua asuhan selama persalinan kala IV di bagian belakang
partograf, segera setelah asuhan dan persalinan dilakukan (APN. 2008)

F. PATOGRAF
Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan.
Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:
1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks
melalui pemeriksaan dalam.
2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian, juga
dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama
(Depkes RI, 2007).

Jika digunakan secara tepat dan konsisten, maka partograf akan membantu penolong
persalinan untuk:
1. Mencatat kemajuan persalinan.
2. Mencatat kondisi ibu dan janinnya.
3. Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran.
4. Menggunakan informasi yang tercatat untuk secara dini mengidentifikasi adanya
penyulit.
5. Menggunakan informasi yang ada untuk membuat keputusan klinik yang sesuai dan
tepat waktu
Penggunaan Partograf
1. Untuk semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sebagai elemen penting asuhan
persalinan. Partograf harus digunakan, baik tanpa ataupun adanya penyulit. Partograf
akan membantu penolong persalinan dalam memantau, mengevaluasi dan membuat
keputusan klinik baik persalinan normal maupun yang disertai dengan penyulit.
2. Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas, klinik bidan
swasta, rumah sakit, dll).
3. Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu
selama persalinan dan kelahiran (Spesialis Obgin, bidan, dokter umum, residen dan
mahasiswa kedokteran).
4. Penggunaan partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinya
mendapatkan asuhan yang aman dan tepat waktu. Selain itu, juga mencegah
terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka (Prawirohardjo,
2002).
Kondisi ibu dan bayi juga harus dinilai dan dicatat secara seksama, yaitu:
1. Denyut jantung janin setiap 1/2 jam
2. Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus setiap 1/2 jam
3. Nadi setiap 1/2 jam
4. Pembukaan serviks setiap 4 jam
5. Penurunan kepala setiap 4 jam
6. Tekanan darah dan temperatur tubuh setiap 4 jam
7. Produksi urin, aseton dan protein setiap 2 sampai 4 jam
Pencatatan selama fase aktif persalinan
Halaman depan partograf mencantumkan bahwa observasi dimulai pada fase aktif
persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan
selama fase aktif persalinan, termasuk:
1. Informasi tentang ibu:
a. Nama, umur.
b. Gravida, para, abortus (keguguran).
c. Nomor catatan medis/nomor puskesmas.
d. Tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah, tanggal dan waktu
penolong persalinan mulai merawat ibu).
e. Waktu pecahnya selaput ketuban.
2. Kondisi janin:
a. DJJ
b. Warna dan adanya air ketuban
c. Penyusupan (molase) kepala janin
3. Kemajuan persalinan:
a. Pembukaan serviks
b. Penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin
c. Garis waspada dan garis bertindak
4. Jam dan waktu:
a. Waktu mulainya fase aktif persalinan
b. Waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian
5. Kontraksi uterus:
Frekuensi dan lamanya
6. Obat-obatan dan cairan yang diberikan:
a. Oksitosin
b. Obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan
7. Kondisi ibu:
a. Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh
b. Urin (volume, aseton atau protein)
8. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya (dicatat dalam kolom yang tersedia
di sisi partograf atau di catatan kemajuan persalinan).
Mencatat temuan Partograf
1. Informasi tentang ibu
a. Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti pada saat memulai asuhan
persalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai: "jam" pada partograf) dan
perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase laten persalinan. Catat waktu
terjadinya pecah ketuban.
2. Kesehatan dan kenyamanan janin
Kolom, lajur dan skala angka pada partograf adalah untuk pencatatan denyut jantung
janin (DJJ), air ketuban dan penyusupan (kepala janin).
a. Denyut jantung janin
1) Dengan menggunakan metode seperti yang diuraikan pada bagian
Pemeriksaan fisik, nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit
(lebih sering jika ada tanda-tanda gawat janin). Setiap kotak pada bagian ini,
menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka di sebelah kolom paling kiri
menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada garis yang
sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik yang
satu dengan titik lainnya dengan garis tidak terputus.
2) Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal angka 180
dan 100. Tetapi, penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di
atas 160. Untuk tindakan-tindakan segera yang harus dilakukan jika DJJ
melampaui kisaran normal ini. Catat tindakan-tindakan yang dilakukan pada
ruang yang tersedia di salah satu dari kedua sisi partograf.
b. Warna dan adanya air ketuban
1) Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam, dan nilai warna air
ketuban jika selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam kotak yang
sesuai di bawah lajur DJJ. Gunakan lambang-lambang berikut ini:
a) U : Ketuban utuh (belum pecah)
b) J : Ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
c) M:Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium
d) D : Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
e) K : Ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban ("kering")
Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin.
Jika terdapat mekonium, pantau DJJ secara seksama untuk mengenali tanda-tanda gawat
janin selama proses persalinan. Jika ada tanda-tanda gawat janin (denyut jantung janin <
100 atau >180 kali per menit), ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai.
Tetapi jika terdapat mekonium kental, segera rujuk ibu ke tempat yang memiliki asuhan
kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
c. Molase (penyusupan kepala janin)
1) Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat
menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul ibu. Tulang kepala yang
saling menyusup atau tumpang tindih, menunjukkan kemungkinan adanya
disproporsi tulang panggul (CPD). Ketidakmampuan akomodasi akan benar-
benar terjadi jika tulang kepala yang saling menyusup tidak dapat dipisahkan.
2) Apabila ada dugaan disproprosi tulang panggul, penting sekali untuk tetap
memantau kondisi janin dan kemajuan persalinan. Lakukan tindakan
pertolongan awal yang sesuai dan rujuk ibu dengan tanda-tanda disproporsi
tulang panggul ke fasilitas kesehatan yang memadai.
3) Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam, nilai penyusupan kepala janin.
Gunakan lambang-lambang berikut ini:
a) 0 : tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat
dipalpasi
b) 1 : tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
c) 2 : tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih dapat
dipisahkan
d) 3 : tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan

3. Kemajuan Persalinan
Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan
persalinan. Angka 0-10 yang tertera di tepi kolom paling kiri adalah besarnya dilatasi
serviks. Masing-masing angka mempunyai lajur dan kotak tersendiri. Setiap
angka/kotak menunjukkan besarnya pembukaan serviks. Kotak yang satu dengan
kotak yang lain pada lajur diatasnya, menunjukkan penambahan dilatasi sebesar 1 cm.
Skala angka 1-5 juga menunjukkan seberapa jauh penurunan janin. Masing-masing
kotak di bagian ini menyatakan waktu 30 menit.
1) Pembukaan serviks
Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Pemeriksaan Fisik
dalam bab ini, nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering
dilakukan jika ada tanda-tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif
persalinan, catat pada partograf hasil temuan dari setiap pemeriksaan. Tanda
"X" harus ditulis di garis waktu yang sesuai dengan lajur besarnya pembukaan
serviks. Beri tanda untuk temuan-temuan dari pemeriksaan dalam yang
dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di garis waspada.
Hubungkan tanda "X" dari setiap pemeriksaan dengan garis utuh (tidak
terputus).
2) Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin
a) Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Pemeriksaan fisik
di bab ini. Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), atau
lebih sering jika ada tanda-tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian
terbawah atau presentasi janin.
b) Pada persalinan normal, kemajuan pembukaan serviks umumnya diikuti
dengan turunnya bagian terbawah atau presentasi janin. Tapi kadangkala,
turunnya bagian terbawah/presentasi janin baru terjadi setelah
pembukaan serviks sebesar 7 cm.
c) Kata-kata "Turunnya kepala" dan garis tidak putus dari 0-5, tertera di sisi
yang sama dengan angka " pada garis waktu yang sesuai. pembukaan
serviks. Berikan tanda " " di Sebagai contoh, jika kepala bisa dipalpasi
4/5, tuliskan tanda " " dari setiap pemeriksaan dengan garis tidak nomor
4. Hubungkan tanda " terputus.
d) Garis waspada dan garis bertindak
e) Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada
titik di mana pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan 1
cm per jam.
f) Pencatatan selama fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada.
Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada
(pembukaan kurang dari 1 cm per jam), maka harus dipertimbangkan
adanya penyulit (misalnya fase aktif yang memanjang, macet, dll.).
g) Pertimbangkan pula adanya tindakan intervensi yang diperlukan, misalnya
persiapan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan (rumah sakit atau
puskesmas) yang mampu menangani penyulit dan kegawat daruratan
obstetri.
h) Garis bertindak tertera sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8
kotak atau 4 jalur ke sisi kanan. Jika pembukaan serviks berada di sebelah
kanan garis bertindak, maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan
harus dilakukan. Ibu harus tiba di tempat rujukan sebelum garis bertindak
terlampaui.
4. Jam dan waktu
a. Waktu mulainya fase aktif persalinan
Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera kotak-
kotak yang diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak
dimulainya fase aktif persalinan.
b. Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan
1) Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak
untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan.
2) Setiap kotak menyatakan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak
waktu tiga puluh menit pada lajur kotak di atasnya atau lajur kontraksi di
bawahnya.
3) Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catatkan pembukaan serviks di
garis waspada
4) Kemudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai.
Sebagai contoh, jika pemeriksaan dalam menunjukkan ibu mengalami
pembukaan 6 cm pada pukul 15.00, tuliskan tanda "X" di garis waspada
yang sesuai dengan angka 6 yang tertera di sisi luar kolom paling kiri dan
catat waktu yang sesuai pada kotak waktu di bawahnya (kotak ketiga dari
kiri).
5. Kontraksi uterus
a. Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan
"kontraksi per 10 menit" di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak
menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi
dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.
b. Nyatakan lamanya kontraksi dengan:
1) Beri titik-titik di kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya
kurang dari 20 detik.
2) Beri garis-garis di kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang
lamanya 20-40 detik.
3) Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya lebih
dari 40 detik.
6. Obat-obatan yang diberikan
Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat
oksitosin, obat-obat lainnya dan cairan IV
a. Oksitosin.
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan setiap 30 menit
jumlah unit oksitosin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan
tetesan per menit.
b. Obat-obatan lain dan cairan IV
c. Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak
yang sesuai dengan kolom waktunya.
7. Kesehatan dan kenyamanan ibu
a. Bagian terakhir pada lembar depan partograf berkaitan dengan kesehatan dan
kenyamanan ibu.
b. Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh
1) Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan
darah ibu.
a) Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan. (lebih
sering jika dicurigai adanya penyulit). Beri tanda titik pada kolom waktu
yangsesuai)
b) Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan
(lebih sering jika dianggap akan adanya penyulit). Beri tanda panah pada
partograf pada kolom waktu yang sesuai.
c) Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih sering jika meningkat, atau
dianggap adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur tubuh dalam
kotak yang sesuai.
2) Volume urin, protein atau aseton
Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali
ibu berkemih). Jika memungkinkan setiap kali ibu berkemih, lakukan
pemeriksaan adanya aseton atau protein dalam urin.

8. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya


a. Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom
partograf, atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan
juga tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan.
b. Asuhan, pengamatan dan/atau keputusan klinik mencakup:
1) Jumlah cairan per oral yang diberikan.
2) Keluhan sakit kepala atau pengelihatan (pandangan) kabur.
3) Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (Obgin, bidan, dokter umum).
4) Persiapan sebelum melakukan rujukan.
5) Upaya Rujukan.
Pencatatan pada lembar belakang Partograf
a. Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi
selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak
persalinan kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir).
b. Itulah sebabnya bagian ini disebut sebagai Catatan Persalinan.
c. Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas terutama selama
persalinan kala empat untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah
terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai.
d. Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan klinik, terutama pada
pemantauan kala IV (mencegah terjadinya perdarahan pascapersalinan). Selain itu,
catatan persalinan (yang sudah diisi dengan lengkap dan tepat) dapat pula digunakan
untuk menilai/memantau sejauh mana telah dilakukan pelaksanaan asuhan persalinan
yang dan bersih aman.
Catatan persalinan adalah terdiri dari unsur-unsur berikut:
a. Data dasar
b. Kala I
c. Kala II
d. Kala III
e. Bayi baru lahir
f. Kala IV
Cara pengisian:
Berbeda dengan halaman depan yang harus diisi pada akhir setiap pemeriksaan,
lembar belakang partograf ini diisi setelah seluruh proses persalinan selesai. Adapun cara
pengisian catatan persalinan pada lembar belakang partograf secara lebih terinci
disampaikan menurut unsur-unsurnya sebagai berikut.
a. Data dasar
Data dasar terdiri dari tanggal, nama bidan, tempat persalinan, alamat tempat
persalinan, catatan, alasan merujuk, tempat rujukan dan pendamping pada saat
merujuk. Isi data pada masing-masing tempat yang telah disediakan, atau dengan cara
memberi tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai.
b. Kala I
Kala I terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat melewati garis
waspada, masalah-masalah yang dihadapi, penatalaksanaannya, dan hasil
penatalaksanaan tersebut.
c. Kala II
Kala II terdiri dari episiotomi, pendamping persalinan, gawat janin, distosia bahu,
masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya.
d. Kala III
Kala III terdiri dari lama kala III, pemberian oksitosin, penegangan tali pusat
terkendali, pemijatan fundus, plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir > 30 menit,
laserasi, atonia uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksanaan dan
hasilnya, isi jawaban pada tempat yang disediakan dan beri tanda pada kotak di
samping jawaban yang sesuai.
e. Bayi baru lahir
Informasi tentang bayi baru lahir terdiri dari berat dan panjang badan, jenis kelamin,
penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta, penatalaksanaan
terpilih dan hasilnya. Isi jawaban pada tempat yang disediakan serta beri tanda ada
kotak di samping jawaban yang sesuai.
f. Kala IV
Kala IV berisi data tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus, kontraksi uterus,
kandung kemih dan perdarahan. Pemantauan pada kala IV ini sangat penting terutama
untuk menilai apakah terdapat risiko atau terjadi perdarahan pascapersalinan.
Pengisian pemantauan kala IV dilakukan setiap 15 menit pada satu jam pertama
setelah melahirkan, dan setiap 30 menit pada satu jam berikutnya. Isi setiap kolom
sesuai dengan hasil pemeriksaan dan Jawab pertanyaan mengenai masalah kala IV
pada tempat yang telah disediakan (Depkes RI, 2007).
LAPORAN KASUS
Asuhan Keperawatan Pada..(Thn) Dengan.Di Ruang
RSU..

1. Pengkajian
A. Identitas
1. Nama
2. Umur
3. Jenis kelamin
4. Status perkawinan
5. Pendidikan
6. Pekerjaan
7. Agama
8. No. medrek
9. Tgl masuk
10. Tgl pengkajian
11. Diagnose medis
12. Alamat

B. Identitas penanggung jawab


1. Nama
2. Umur
3. Jenis kelamin
4. Pendidikan
5. Pekerjaan
6. Hubungan dengan klien
7. Alamat

C. Riwayat penyakit
1. Keluhan utama
2. Riwayat penyakit sekarang
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat penyakit keluarga
5. Genogram

D. Riwayat activity daily living /ADL


No Kebutuhan Sebelum sakit Setelah sakit
1 Nutrisi
a. BB/TB
b. Diet
c. Kemampuan
d. Frekuensi Makan
e. Porsi Makan
f. Makan yang menimbulkan alergi
g. Makanan yang disukai
2 Cairan
a. Intake
Oral
.
.
.
Intravena
.
.
b. Output
.
.
3 Eliminasi
a. BAB
.
.
.
.
.
b. BAK
.
.
.
.
.
4 Istirahat tidur
a. Lama tidur
b. Kesulitan memulai tidur
c. Gangguan tidur
d. Kebiasaan sebelum tidur
5 Personal hygiene
a. Mandi
.
.
.
b. Gosok gigi
c. Cuci rambut
d. Gunting kuku
e. Ganti pakaian
6 Aktivitas
a. Mobilisasi fisik
b. Olah raga
c. Rekreasi

E. Data psikologis
F. Data sosial
G. Data spiritual
H. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum pasien
2. Tanda umum pasien
a. Suhu
b. Nadi
c. Pernafasan
d. Tekanan darah
e. Tinggi badan
f. Berat Badan
3. Kesadaran
a. Kualitatif
b. Kuantitatif
4. Sistem pernafasan
5. Sistem kardiovaskuler
6. Sistem persyarafan
7. Sistem pencernaan
8. Sistem musculoskeletal
9. Sistem intergument
10. Sistem endokrin
11. Sistem genotiurinaria

I. Data penunjang
1. Laboratorium
2. Pemeriksaan Imaging
3. Pemeriksaan EKG

2. Analisa data
No Data Etiologi Masalah
1
2

3. Diagnosa keperawatan
1. .
2. .

4. Intervensi keperawatan
Diagnosa
No Tupan Tupen Intervensi Rasional
Keperawatan
1
2

5. Implementasi keperawatan
No Diagnosa keperawatan Implementasi Evaluasi

6. Evaluasi
No Diagnosa keperawatan Evaluasi Paraf
Subjektif

Objektif

Analisa
..
Perencanaan
..
Implementasi
..
Evaluasi
..
Replaning
..