Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENELITIAN DAN ANALISIS

Judul Penelitian : Analisis Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus dengan Metode


Meronce pada Kelompok Bermain Tunas Sakti
Waktu Pelaksanaan : 29 Maret 2017
Tempat Penelitian : KB Tunas Sakti Takeranklating Tikung.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Masa perkembangan anak usia dini adalah masa yang paling tepat untuk
mengembangkan semua potensi yang dimiliki anak di antaranya nilai-nilai Agama dan
Moral, Bahasa, Sosial Emosional, Kognitif, Fisik Motorik dan Seni. Salah satu potensi
dasar anak yang perlu di kembangkan adalah tentang Motorik halus dan rasa seni anak.
Motorik halus dan rasa seni bisa di terapkan dengan cara anak berkesenian.

Meronce merupakan salah satu bagian dari aspek pengembangan berkesenian anak
yang mempunyai kaitan dengan kemampuan menggunakan alat serta melatih motorik
halus anak. Motorik halus anak ini akan menjadi dasar kemampuan yang sensitive anak
terhadap gejala-gejala yang melingkupi kehidupan anak baik masa anak mampu setelah
dewasa yang berkaitan dengan ketelitian berkarya.

Mengingat bahwa untuk mengembangkan motorik halus anak bukanlah kegiatan yang
mudah, maka kegiatan itu haruslah menarik dan menyenangkan serta dapat
mengembangkan kreatifitas anak. Maka dari itu penulis melaksanakan observasi
pengamatan di kelompok Bermain Tunas Sakti Takeranklating Tikung. Pada hari Rabu
29 Maret 2017 pada kegiatan meningkatkan kemampuan motorik halus dengan metode
meronce. Terlihat anak masih belum focus pada pembelajaran yang di ajarkan guru.

B. Fokus Penelitian
Setelah dilakukan observasi penelitian di Kelompok Bermain Tunas Sakti
Takeranklating Tikung. Maka penelitian ini berfokus pada Meningkatkan kemampuan
motorik halus dengan metode meronce
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan
1. Mengumpulkan data mengenai :
a. Alasan pendidik melakukan kegiatan meningkatkan kemampuan motorik
halus dengan metode meronce
b. Tujuan pendidik melakukan kegiatan tersebut
c. Kebijakan yang mendukung pendidik melakukan kegiatan tersebut
2. Membuat analisis kritis mengenai kegiatan tersebut.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk :
1. Memberi masukan terhadap kegiatan pengembangan anak di KB Tunas Sakti
2. Melatih mahasiswa melakukan penelitian kelas
3. Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menganalisis suatu kegiatan anak
di lembaga PAUD

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hakekat Meronce
Meronce merupakan pekerjaan yang mencerminkan wujud penghargaan terhadap
keindahan benda-benda alam. Menurut Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi (2010)
meronce adalah teknik membuat benda pakai / hias dari bahan manik-manik, biji-bijian
atau bahan lain yang dapat dilubangi dengan alat tusuk sehingga dapat dipakai.
Kegiatan meronce adalah salah satu materi yang bisa diberikan pada anak usia dini.
Kegiatan memasukkan manil-manik kedalam benang ini merupakan latihan agar anak
dapat berkonsentrasi serta melatih koordinasi antara mata dan tangan.

B. Aspek Meronce
Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi (2010) ada beberapa aspek meronce yaitu :
1. Permainan
Merangkai maupun meronce dapat berfungsi untuk alat bermain anak, Benda-
benda yang akan dirangkai. Tidak ditujukan untuk kebutuhan tertentu melainkan
untuk latihan memperoleh kepuasan rasa dan memahami keindahan.
2. Kreasi dan komposisi
Meronce sengaja hanya digunakan untuk bermain imajinasi saja sehingga tujuan
permainan ini untuk melatih imajinasi atau bayangan anak tentang kontruksi
bangun.
3. Keindahan
Aspek keindahan dari meronce terletak pada cara menyusun benda-benda sebagai
komponen rangkaian dapat menarik perhatian.
4. Kerajinan dan Ketekunan
Menurut ketelitian yaitu usaha memberikan pelatian menyusun, menata dalam
bentuk rangkaian yang sesuai dengan rancangan dan tidak mudah rusak
susunannya.

C. Meronce bagi Anak Usia Dini


Menurut Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi (2010) kaitan meronce bagi anak usia dini
yaitu :
1. Keterampilan menata dapat diterapkan untuk menata peralatan sekolah agar mudah
dikenali isi buku serta tugasnya menata tempat tidur agar anak menyenangi
kerapian dan ketertiban, menata barang mainannya sendiri agar tetap rajin disiplin
serta mandiri
2. Bagi kejiwaan anak akan tumbuh percaya diri, kerajinan, ketelitian, ketepatan,
kesesuaian, keindahan
3. Kerajian menata dapat digunakan untuk membantu keluarga dalam menyelesaikan
tugas rumah tangga dan akhirnya mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi
terhadap keluarga.

D. Komponen Bentuk dan Wujud


Berdasarkan bentuk dan wujudnya bahan meronce dapat dikelompokkan menjadi dua
bagian penting, antara lain :
1. Bahan Alami
Yaitu bahan yang langsung di ambil dari alam, seperti : buah, batang, cabang serta
bebatuan. Benda-benda ini dapat digunakan secara langsung maupun dibentuk
terlebih dahulu.
2. Bahan Alternatif (buatan)
Yaitu bahan hasil olahan yang diproduksi dari pabrik dan mudah di dapat di toko
yang menyediakan benda kerajinan manik-manik, sedotan yang terbuat dari plastic,
kaca dan logam. Bahan-bahan ini umumnya lebih awet dari pada bahan alami dari
biji-bijian.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subyek Penelitian
Sebyek penelitian ini adalah anak-anak, pendidik, dan pimpinan kelompok bermain
Tunas Sakti Takeranklating Tikung
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Interpretatif yaitu menginterpretasikan data
mengenai fenomena atau gejala yang di teliti di Kelompok Bermain Tunas Sakti
Takeranklating Tikung.
C. Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Observasi
Yaitu untuk melihat fenomena yang unik atau menarik di Kelompok Bermain
Tunas Sakti Takeranklating Tikung.
2. Wawancara
Yaitu untuk mengenali Informasi lebih mendalam mengenai focus penelitian
3. Dokumentasi
Yaitu untuk mengumpulkan bukti-bukti dan penjelasan yang lebih luas mengenai
fokus penelitian .

BAB IV
ANALISIS DATA
A. Tabulasi Data
Untuk memudahkan analisis data, maka data hasil penelitian dibuat tabulasi sebagai
berikut .
Wawancara dengan Wawancara dengan
Observasi Dokumentasi
Guru pimpinan KB
KB Tunas Sakti adalah Program di KB adalah Karena meronce RKH, hasil
kelompok bermain yang diadakannya kegiatan merupakan satu program wawancara, hasil
maju, pembelajaran di meningkatkan pembelajaran kami maka Observasi
dalam maupun di luar kemampuan mottorik sebagai pimpinan saya
ruangan. Kegiatan ini halus dengan metode mendukung dan
dilaksanakan secara meronce berbagai memfasilitasi kegiatan
seimbang. Karena usia macam jenis warna, tersebut. Karena dengan
KB adalah usia anak bentuk, pola. Hal ini adanya kegiatan tersebut
masih dalam taraf dilaksanakan dengan akan mengembangkan
bermain dan suatu masa tujuan meningkatkan kreatifitas anak dan
pertumbuhan eksplorasi. kreatifitas anak dan melatih kemampuan
Salah satu kegiaan yang akan melatih motorik motorik halus anak.
dilaksanakan adalah halus anak.
kegiatan meningkatkan
kemampuan motorik
halus dengan meronce
berbagai warna, bentuk
dan pola.

B. Analisis Kritis
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan meronce dapat
mengembangkan kreatifitas anak di kelompok bermain Tunas Sakti Takeranklating
Tikung. Pelaksanaan pengembangan motorik halus anak di KB Tunas Sakti tidak
seperti di Sekolah Dasar. Melainkan hanya menanamkan dasar-dasar kemampuan anak
berupa Kognitif, Bahasa, Motorik Halus, Motorik Kasar dan Seni melalui kegiatan
bermain.
Apa yang ditanamkan di KB Tunas Sakti yaitu menanamkan dasar-dasar kemampuan
motorik halusnya melalui dirinya sendiri. Tetapi itu sering memerlukan pertolongan
untuk memandu apa yang di pelajarinya. Sehingga tercipta konsep yang lebih baik.
Untuk itu guru dan tenaga pendidik perlu menciptakan kegiatan yang berpusat pada
anak dalam mengembangkan dan memproses kreatifitas anak.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari tabulasi dan analisis data dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu sebagai berikut :
1. KB Tunas Sakti mempunyai program pengembangan pada anak usia dini dengan
meletakkan dasar-dasar yang kuat untuk berfikir kreatif dan kritis.
2. Pengembang motorik halus anak melalui kegiatan meronce sangat bermanfaat bagi
anak, khususnya dapat meningkatkan kreatifitas dan imajinasi anak.
3. Lingkunan kelas KB Tunas sakti disiapkan sedemikian rupa sehingga dapat
mendukung pencapaian kemampuan dasar motorik halus, kreatifitas, bahasa, seni
dan kognitif anak.

B. Saran-saran
1. Disarankan mengingat bahwa usia KB adalah usia yang peka terhadap segala
rangsangan maka semua bentuk pendidik dan pengajaran yang diterapkan
hendaknya mempertimbangkan karakteristik dan tingkat kematangan anak.
2. Sangat diharapkan dalam pengembangan motorik halus anak pada kelompok
bermain hendaknya guru dapat memberikan pembelajaran dan latihan dalam
bentuk permainan.