Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN UMUM

2. 1 Sejarah Singkat Perusahaan

PT. Kideco Jaya Agung didirikan Pada Tahun 1982, setelah hampir 10

tahun melakukan persiapan validitas, termasuk surveydan studi kelayakan

akhirnya pada tahun 1992 pihak PT. Kideco Jaya Agung menandatangani

kesepakatan kontrak denganPemerintah Indonesia yang dituangkan dalam bentuk

Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).

PT. Kideco Jaya Agung yang bertempat di Desa Batu Kajang Kecamatan

Batu Sopang Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur memulai eksploitasi

batubara komersial pertamanya Pada Tahun 1993, dimulai dengan target produksi

3 juta ton pertahun dengan luas lahan konsesi yang dimiliki mencapai 50.921

Ha.Pada tahun 1998 produksi tahunan PT. Kideco Jaya Agung mencapai 5 juta

ton pertahun hingga Pada Tahun 2005 PT Kideco Jaya Agung mampu

menghasilkan 18.2 juta batubara bitumen dengan volume akumulasi 100 juta ton.

Setelah PT. Kideco Jaya Agung selesai melakukan kontruksi perluasannya

yang ke-4 pada tahun 2006, kapasitas produksi tahunan yang sebelumnya 18.2

juta ton per tahun meningkat menjadi 22 juta ton per tahun. Hingga pada tahun

2009 PT.Kideco Jaya Agung kembali melakukan kontruksi perluasan yang ke-5

dan pada saat bersamaan di bulan maret produksi di kawasan SM (Samarangau)

mulai dibuka, dan produksi pada kawasan SSB (Susubang) dimulai pada bulan

2-1
juli, hingga Pada Tahun 2012 PT. Kideco Jaya Agung produksi 34 juta ton per

tahun dan Pada Tahun 2015 PT. Kideco Jaya Agung merencanakan memproduksi

lebih dari 41 juta ton batubara per tahun.

2. 2 Lokasi dan Kesampaian Daerah

Secara administratif lokasi kegiatan penambangan PT. Kideco Jaya Agung

berada di Kecamatan Batusopang dan Kecamatan Muara Komam Kabupaten

Paser Provinsi Kalimantan TimurSecara geografis areal penambangan terletak

antara 115 49 00 BT sampai 115 57 00 BT dan 01 50 00 LS sampai 02

00 00 LS. Daerah ini dapat dicapai dari kota Balikpapan menuju Penajam (PPU)

melalui penyeberangan feri selama 2 jam ataupun speed boat selama 15 menit,

selanjutnya dengan perjalanan darat menggunakan mobil kearah Selatan sejauh

150 km atau sekitar 3 jam menuju Desa Batu Kajang.

Sumber ;PT. Kideco jaya Agung


Gambar 2.1

Peta lokasi PT.Kideco Jaya Agung, Batu Kajang, Kalimantan timur

2-2
2.3 Keadaan Lingkungan

2.3.1 Penduduk dan Sosial Ekonomi

Penduduk asli yang bermukim di sekitar lokasi tambang adalah suku Paser,

Banjar, dansebagian Dayak, sedangkan penduduk pendatang berasal dari suku

Bugis, Jawa, Toraja dan Timor. Jumlah penduduk yang terdapat di sekitar lokasi

tambang PT.Kideco Jaya Agung berjumlah 12.076 jiwa.

Mata pencaharian penduduk yang sangat dominan adalah berkebun/bertani,

sedangkan penduduk pendatang umumnya adalah pedagang, sebagian bekerja di

perusahaan pertambangan batubara dan sebagian kecil penduduk lainnya bekerja

sebagai PNS dan TNI.

Dalam kehidupan masyarakat, proses sosial yang bersifat asosiatif

tergambar dari berbagai bentuk kerjasama masyarakat dalam berbagai aktivitas

kehidupan sehari-hari (gotong royong, tenggang rasa dan toleransi terhadap nilai

dan norma budaya lain).

Penduduk di sekitar daerah tambang sebagian besar memeluk agama Islam,

tercermin dalam pelaksanaan adat istiadat di masyarakat, dan ini menggambarkan

kedinamisan masyarakat, sebagian kecil masyarakat memeluk agama Kristen

Protestan dan Katolik.

2.3.2 IklimDan Curah Hujan

Daerah penambang PT.Kideco Jaya Agung hampirserupadengan daerah

lainnya di Kalimantan Timur mempunyai iklim tropis basah (Tropical Humid

Climate) serta mempunyai dua musim yaitu musim hujan antara Bulan Oktober

sampai dengan Maret dan musim kemarau antara Bulan April sampai dengan

2-3
September. Intensitas hujan di daerah penyelidikan sangat bervariasi dari rendah

sampai tinggi dengan durasi waktu pendek (singkat) sampai panjang.

2.4Kondisi Geologi

Wilayah operasional PT. Kideco Jaya Agung berada di wilayah Desa

Batu Kajang, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan

Timur, kondisi geologi wilayah tersebut meliputi.

2.4.1 Kondisi Geologi Regional

Berdasarkan geologi regional Kalimantan Timur, wilayah PKP2B PT.

Kideco Jaya Agung masuk dalam sub cekungan paser, yang tersusun oleh satuan

batuan berumur Pra tresier sampai kuarter, secara umum hampir semua satuan

batuan pengisi sub cekungan ini telah mengalami deformasi kecuali endapan yang

berumur kuarter.

Wilayah PKP2B PT. Kideco Jaya Agung khususnya area Roto dan

Samurangau, mempunyai struktur geologi utama berupa struktur sinklin yang

memanjang dari Utara Selatan sampai Timur Laut Barat Daya, dengan

kemiringan sayap lipatan antara 10 sampai 60 dan pada beberapa tempat hampir

vertical. Lipatan yang terdapat pada daerah ini adalah lipatan asimetri dimana

lipatan bagian dalam lebih terjal dari bagian luar.Struktur sesar di daerah ini

terdiri dari sesar naik dan sesar turun. Arah sesar sesar hampir sama dengan arah

sumbu sumbu lipatan.Untuk area Susubang terdapat sesar geser yang

memanjang dari arah Timur Laut hingga Barat Daya.

Wilayah Roto Samurangau memiliki bentuk topografi yang

bergelombang, yang dibentuk oleh perbukitan landai, dengan kemiringan lereng 5

2-4
10 dengan ketinggian antara 80 m hingga 200 m di atas permukaan laut. Sungai

yang terdapat di dalam wilayah ini berpola dendritik dan bermeander dengan

sungai utama sungai Kandilo. Sebagian kecil pola awal topografi di wilayah ini

telah mengalami perubahan akibat adanya aktivitas penambangan terbuka.

2.4.2 Geomorfologi

Keadaan morfologi daerah PT. Kideco Jaya Agung terdiri dari lereng

lereng. Perbukitan yang terbentuk mengarah ke Utara Selatan yang searah

dengan aliran sungai di Timur dan Barat dari Selatan perbukitan tersebut.

2.4.3 Statigrafi

A. Statigrafi Regional

Urutan satuan batuan tersier yang mengisi sub cekungan Paser, di urutkan

dari muda ke tua adalah : Formasi Warukin, Formasi Berai, Formasi Pemaluan,

Formasi Kuaro, dan Formasi Tanjung. Formasi Berai mempunyai hubungan

menjemari (interfingering) dengan Formasi Pemaluan, demikian pula halnya

dengan Formasi Kuaro dan Tanjung. Formasi Kuaro dan Formasi Tanjung ini

menutupi secara tidak selaras dengan batuan dasar yang berumur Pratersier berupa

Formasi Pitap, Formasi Haruyan, dan batuan tektonik (ultramafik). Seluruh satuan

batuan ini ditutupi secara tidak selaras oleh satuan batuan berumur kuarter.

Formasi Warukin

Formasi warukin mengalami pengendapan pada awal susut laut (regresi).

Batuan penyusun dari formasi ini terdiri batulempung yang berselang-seling

dengan lapisan-lapisan tipis batukuarsa dan batulempung serta batugamping.

Formasi ini mulai terbentuk bersamaan dengan pengangkatan Tinggian Meratus

2-5
dibagian Timur Cekungan Barito, yang dikenal dengan synorogenicyang mulai

pada Miosen Awal Tengah.

Litologi yang terdapat pada bagian bawah Formasi Warukin tersusun atas

batu lempung dengan sisipan batubara serta lapisan batupasir kuarsa. Pada bagian

tengah formasi ini masih diendapkan batulempung, batubara dan sisipan batupasir

kuarsa. Sedangkan pada bagian atasnya, diendapkan batulempung, sisispan

batupasir kuarsa serta sisipan batubara yang tebal. Formasi ini diendapkan

didaerah laut dangkal atau litoral (Triono dan Mulyana, 2007), sedangkan

perselingan batupasir dan batulempung menandakan adanya energi pengangkutan

partikel sedimen berbeda yang biasanya dijumpai pada dataran banjir disekitar

muara sungai, sedangkan batubara didaerah ini muncul sebagai sisipan yang

memiliki ketebalan mencapai 25 m.

Formasi Warukin diendapkan secara selaras diatas Formasi Berai dalam

lingkungan laut dangkat (Litoral) hingga paralik yang berupa secara berangsur

kebagian atas menjadi endapan fluviodeltaik. Umur dari formasi ini diperkirakan

antara Miosen Awal Tengah Miosen Akhir. Ketebalan Formasi Warukin

berkisar antara 450 650 meter dan menebal kearah Tinggian Meratus dengan

perkiraan sekitar 1300 meter (Satyana 1995).

Formasi Berai

Formasi ini memiliki umur Oligosen Awal Miosen Awal dan diendapkan

secara selaras diatas Formasi Tanjung. Pada bagian bawah formasi ini terdapat

litologi berupa batulempung karbonatan. Sedangkan dibagian tengah terbentuk

2-6
litologi batugamping yang massif. Setelah itu, pada bagian atas dari formasi ini,

dindapkan kembali batulempung karbonatan.

Formasi ini memiliki ketebalan sekitar 100 m dengan pola penyebaran yang

dikontrol oleh ketinggian purba pada pembentukan cekungan yang lebih tua.

Diendapkan pada kala Miosen Awal hingga Miosen Akhir di lingkungan

neritik, dengan ciri litologi batulempung, serpih, batugamping, batulanau dan

sisipan batupasir kuarsa.

Formasi Pamaluan

Diendapkan pada kala Miosen Awal hingga Miosen Akhir di lingkungan

neritik, dengan ciri litologi batulempung, serpih, batugamping, batulanau dan

sisipan batupasir kuarsa.

Tabel 2. 1

Stratigrafi sub cekungan paser

Sumber : PT. Kideco Jaya Agung

2-7
Formasi Tanjung

Formasi tanjung diperkirakan memiliki umur Paleoson Akhir-Oligosen

awal, diendapkan selam awal genang laut tersier. Formasi tanjung diendapkan

secara tidak selaras diatas batuan pra-Tersier, pada lingkungan paralis-neritik.

Litologi yang terdapat pada formasi ini terdiri dari batupasir kuarsa yang berbutir

halus.. Dibeberapa tempat juga terdapat konglongmerat yang diduga berupa

chanel. Ketebalan Formasi Tanjung melebihi 1000 m dan sebarannya mengikuti

pola sedimentasi berarah North West South East.

Tabel 2. 2

Stratigrafi Subbasing Pasir Daerah Batukajang Dan Sekitarnya

Sumber : PT. Kideco Jaya Agun

B. Statigrafi Daerah Lokal

Stratigrafi lokal area Roto Utara, satuan batuan yang terdapat di area Roto

Utara didominasi oleh satuan batupasir, batupasir lempungan, batulumpur, dan

sisipan batubara.Batupasir berbutir halus, putih kekuningan tersusun oleh mineral

2-8
kuarsa (dominan), lempung (5 10 %), mengandung oksida besi yang mengalami

pelapukan (limonitisasi) berwarna kecoklatan.Batuan ini tidak memperlihatkan

adanya bidang perlapisan (massif), memiliki sifat agak pecah pecah (brittle) dan

sedikit lengket bila dalam kondisi basah.Satuan batulumpur terdiri atas

batulumpur pasiran (lempung 75 % dan pasir 25 %) serta batulumpur pasir

(lempung dan pasir masing masing 50 %).Batuan ini umumnya berwarna kelabu

lunak dan jarang menunjukkan bidang perlapisan (masif).Batuan ini memiliki sifat

sangat keras bila dalam kondisi kering dan sangat lengket bila dalam kondisi

basah.Batubara berwarna hitam, mengkilap, terang, keras, pecahan konkoidal tak

beraturan, mengandung resin, dan menyerpih, memiliki ketebalan bervariasi dari

< 1.00 m hingga mencapai 41.90 m.

Stratigrafi lokal area Roto Tengah, satuan batuan penyusun blok Roto

Tengah didominasi oleh batulumpur, batulanau, batupasir, dan batubara.

Batulumpur memiliki warna abu abu terang hingga abu abu gelap, lunak dan

jarang menunjukkan bidang perlapisan.Batuan ini memiliki sifat sangat keras bila

dalam kondisi kering dan sangat lengket bila dalam kondisi basah.Batulanau

memiliki warna abu abu terang hingga gelap, tersusun dari komposisi mineral

silika, dan tidak terkompaksi dengan baik.Batupasir berbutir halus, putih

kekuningan tersusun oleh mineral kuarsa (dominan), lempung (5 10 %),

mengandung oksida besi yang mengalami pelapukan (limonitisasi) berwarna

kecoklatan.Batuan ini tidak memperlihatkan adanya bidang perlapisan (massif),

memiliki sifat agak pecah pecah (brittle) dan sedikit lengket bila dalam kondisi

2-9
basah.Batubara berwarna hitam, mengkilap, terang, keras, pecahan konkoidal tak

beraturan.

Stratigrafi lokal area Roto Selatan tersusun oleh batulumpur abu abu,

keras, batupasir putih keabu abuan, berbutir halus hingga sedang, massif keras,

dan sisipan batubara berwarna hitam kecoklatan, kilap lilin, brittle, keras.

Stratigrafi lokal area Samurangau didominasi oleh batulumpur abu abu,

keras, batupasir berwarna putih keabu abuan, berbutir halus hingga sedang,

massif keras dan sisipan batubara berwarna kecoklatan, kusam, keras, bidang

perlapisan tidak jelas, beberapa bagian menunjukkan struktur lignit.

Stratigrafi lokal area Susubang, satuan batuan yang terdapat di area

Susubang didominasi oleh satuan batupasir, batupasir lempungan, lempung, dan

sisipan batubara.Gambaran litologi didapatkan dari data pengukuran di permukaan

yang dikorelasikan dengan data bor.

2.5 Struktur Geologi

Batuan yang terdapat di daerah penelitian hampir semuanya mengalami

deformasi, mulai dari Pratersier sampai Tersier Akhir. Akibat deformasi tersebut

terbentuklah struktur geologi yang berupa sinklin, antiklin dan sesar. Batuan

tersier yang mengalami deformasi memiliki kemiringan 10 sampai 60,

sedangkan batuan Pratersier 40. Pola lipatan yang terbentuk umumnya berupa

lipatan tidak simetris (unsimetris), dengan kemiringan bagian luar yang lebih

besar.

Kegiatan tektonik terjadi pada zaman Jura menyebabkan batuan yang

berumur Prajura yaitu batuan ulta mafik mengalami displacement, terlipatkan dan

2 - 10
tersesarkan. Kegiatan tektonik ini diikuti oleh aktivitas magma dan pengendapan

sedimen klastika serta vulkanik, yang merupakan penyusun Formasi Pintap dan

Formasi Haruyan yang berumur Kapur Atas.

Kegiatan tektonik berlanjut hingga Kapur Atas yang mengakibatkan juga

terjadinya deformasi batuan oleh sesar naik. Pengangkatan yang terjadi pada awal

Eosen, diikuti oleh pendangkalan cekungan serta proses erosi membantuk Formasi

Kuaro dan Formasi Tanjung.

Pada Kala Oligosen hingga Miosen Awal terjadi penurunan cekungan yang

diiringi pengendapan Formasi Berai dan formasi Pamaluan. Kala Eosen Tengah

hingga Eosen Akhir terjadi susut laut dan terbentuklah endapan darat Formasi

Warukin. Pengangkatan terjadi lagi pada Eosen Akhir menyebabkan terbentuknya

Tinggian Meratus dan Cekungan Pasir.

2.5.1 Stuktur Geologi Wilayah Roto Utara

Wilayah ini merupakan satu kesatuan struktur sinklin, akibat pengaruh

pergerakan sesar naik menyebabkan terbentuknya lapisan tegak, struktur lipatan

baru yang dikenal sebagai lipatan seret (dragfault), sehingga struktur lipatan yang

terbentuk di daerah ini dapat dibedakan atas lipatan primer dan lipatan sekunder,

yang secara umum terlihat sebagai perlipatan yang terdiri dari dua struktur sinklin

dan satu struktur antiklin, dimana struktur sinklin tersebut dinamakan sebagai

sinklin roto bagian utara dan sinklin samurangau. Sinklin roto bagian utara ini

merupakan lipatan rebah yang memiliki sayap tidak simetris antara sayap barat

dan sayap timur. Sayap barat sinklin roto bagian utara memiliki arah N 185 E

N 200 E dengan kemiringan yang cukup tegak 70 - 80 ke arah barat.

2 - 11
Sedangkan sayap timur dari singklin tersebut memiliki arah sayap N 2 E N 10

E dengan arah kemiringan 41 - 71 ke arah timur, terutama Pit Roto Utara sector

II. Wilayah antiklin, ditempati oleh Pit Roto Utara sector I, sedangkan sayap barat

dan sayap timur masing masing ditempati oleh sector IV dan sector II.

2.5.2 Stuktur Geologi Wilayah Roto Selatan

Roto Selatan merupakan bagian sayap sinklin Roto bagian barat yang

terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Bagian utara yang letaknya membujur dari arah timur laut hinggabarat daya,

terdapat lokasi penggalian batubara sector A dan B.

2. Bagian selatan merupakan lapisan monoklin bagian dari sayap sinklin roto

bagian barat yang arahnya membujur dari barat laut hingga tenggara, pada

sayap antiklin roto selatan terdapat lokasi penggalian batubara sector C, D,

E, dan F.

2.5.3 Stuktur Geologi Wilayah Roto Tengah

Wilayah ini terletak diantara patahan samurangau dan patahan roto, dan

dibentuk oleh struktur antiklin yang menujam (plunging out) ke arah selatan.Pada

antiklin ini terdapat lokasi penggalian yang disebut Pit M (Roto Tengah).

2.5.4 Stuktur Geologi Wilayah Samurangau

Wilayah samurangau terpisahkan oleh sesar normal Samurangau yang

merupakan bagian dari lapisan monoklin sayap sinklin roto bagian timur dengan

kemiringan lapisan sebesar 20 pada sayap barat. Blok samurangau terbagi

menjadi empat bagian yaitu: Pit Samurangau (Pit SM) sector A (Paku) di bagian

2 - 12
utara, Sektor B dan C (Popor) di bagian tengah, serta sector D (Suara) di bagian

selatan, yang menempati sayap sinklin Samurangau Timur.

2.6 KegiatanPenambangan

Kegiatan penambangan PT.Kideco Jaya Agungdilakukan dengan sistem

penambangan tambang terbuka berjenjang atau benching system. Penambangan

dilakukan dengan menggunakan Excavator Backhoe, power shovel sebagai alat

gali muat serta Dump Truck (DT) sebagai alat angkutnya. Kegiatan penambangan

dilakukan secara bertahap sebagai berikut:

2.6.1 PembersihanLahan (Land Clearing)

Pembersihan lahan ini dilaksanakan untuk memisahkan pepohonan dari

tanah tempat pohon tersebut tumbuh, sehingga nantinya tidak tercampur dengan

tanah subsoilnya. Pepohonan (tidak berbatang kayu keras) yang dipisahkan ini

nantinya dapat dimanfaatkan sebagai humus pada saat pelaksanaan reklamasi.

Kegiatan pembersihan lahan ini baru dilaksanakan pada lahan yang benar-

benar segera akan ditambang. Sedangkan lahan yang belum segera ditambang

wajib tetap dipertahankan pepohonan yang tumbuh di lahan tersebut. Hal ini

sebagai wujud bahwa perusahaan tambang tetap memperhatikan aspek

pengelolaan atau lindungan lingkungan tambang.

2.6.2 Pemindahan Tanah Pucuk (Top Soil)

Pengupasan tanah pucuk ini dilakukan terlebih dulu dan ditempatkan

terpisah terhadap batuan penutup (overburden), agar pada saat pelaksanaan

reklamasi dapat dimanfaatkan kembali. Pengupasan top soil ini dilakukan sampai

2 - 13
pada batas lapisan subsoil, yaitu pada kedalaman dimana telah sampai di lapisan

batuan penutup (tidak mengandung unsur hara).

Kegiatan pengupasan tanah pucuk ini terjadi jika lahan yang digali masih

berupa rona awal yang asli (belum pernah digali/tambang). Tanah pucuk yang

telah terkupas selanjutnya di timbun dan dikumpulkan pada top soil bank. Untuk

selanjutnya tanah pucuk yang terkumpul di top soil bank pada saatnya nanti akan

dipergunakan sebagai pelapis teratas pada lahan disposal yang telah berakhir dan

memasuk kita kapan program reklamasi.

2.6.3 Pemindahan Tanah Penutup (Over Burden)

Penggalian batuan penutup dilakukan pertama kali dengan menggunakan

alat gali berupa alat berat jenis big bulldozer yang berfungsi sebagai alat pemecah

bebatuan (proses ripping dan dozing). Batuan penutup yang telah hancur tersebut

selanjutnya diangkat oleh alat berat jenis excavator dan dipindahkan ke alat

angkut. Dump truck ini beroperasi dari loading point di front tambang menuju ke

areal disposal.

Penimbunan batuan penutup di disposal ini harus dilakukan secara

bertahap, yaitu dimulai dengan membuat lapisan OB dasar seluas areal disposal

(luas maksimal) yang telah ditentukan. Untuk selanjutnya dilakukan kegiatan

penimbunan OB naik ke atas secara bertahap atau berjenjang dengan luasan

semakin mengecil, hingga membentuk sebuah bukit, setelah disposal tersebut

nantinya dinyatakan selesai, maka permukaan disposal akan diberilapisan top soil

(diambil dari top soil bank) setebal sekitar 50 ~ 100 centimeter

danpermukaanakhirdibentukkonturlandaimembentukbukit/ gunung yang rata

2 - 14
(tidakterasering). Sedangkanderajatkemiringankonturbukitinisekitar 14 derajat.

Hal iniuntukmenghindariterfokusnya air limpasan disposal

sehinggadapatmenimbulkanerosi yang besar (tidakramahlingkungan).

2.6.4 Penambangan (Coal Getting)

Setelahpenggalianbatuanpenutupselesai,

makakegiatanpenambanganberikutnyaadalah proses

pembersihanlapisanbatubaradari unsure pengotor (sisabatuanpenutup).

Kegiataninidikenaldenganistilah coal cleaning. Hasilkegiatan coal cleaning

iniadalahlapisanbatubara yang bersihdanberkualitas. terdapat 6 area yang

sedangmelakukan proses penambanganyaitu Roto Utara, Roto Selatan, Roto

Tengah, Samurangau A, Samurangau B, Susubang

Proses coal cleaning inidilakukanolehalat excavator yang

telahdilengkapidengan cutting blade padasisiluar kuku bucket. Hal

inimenjadikanujung bucket bukanberupa kuku tajam, melainkanberupaujung

bucket yang datar rata. Unsurpengotor yang berada di

ataslapisanbatubaradapatdihilangkanhinggasebersihmungkin.

Sedangkan proses pemuatanbatubarakealatangkutdilakukanoleh unit

excavator, dimanaalatangkut yang digunakanyaitu dump truck

dengankapasitasmuatan 20 ton. Selanjutnyabatubaratersebutdiangkutmenujuke

stockpile. Hal inidilakukan agar proses penambanganbatubara di front

tambangdapatberlangsunglebihcepat,

jikadibandingkandenganpengangkutanbatubarasecaralangsungdari front

2 - 15
tambangke stockpile pelabuhan. Hal inimengingatjarakantaralokasi front

tambangterhadaplokasi stockpile pelabuhancukupjauh 40 km di tanahmerah.

2.6.5 Pemompaan Air Tambang

Pemompaan air tambangdilakukandenganmenggunakanpompatipeKSB

150 dan KSB 200, Pompainitidaksetiapsaatdigunakan,

penggunaannyahanyaapabilakondisitambangcukupterganggudenganadanyagenang

an air dalamjumlahbanyak.

Air hasilkegiatanpemompaan air

tambanginidisalurkankekolampenampungan (settling pond) yang terdiridari 3

kompartemen, yaitu :

a. Kompartemenpertama, untukmengendapkankandunganlumpur yang

ikutlarutdalamaliran air tambang yang terpompa.

b. Kompartemenkedua, untukpenanganan (treatmen) kualitas pH air tambang

yang dihasilkan, dimana air tambangharusber-pH standard

sesuaibatasanbakumutu air tambang yang diijinkan.

c. Kompartemenketiga, untukkolampenstabilan air

tambangdantitikpenataankualitas air tambangsebelum air

tambangtersebutdisalurkankeperairanumumatausungai.

Hal inisebagaiupayapencegahanterjadinya air asamtambang (AAT). AAT

adalah air yang berasaldari areal pertambangan yang bersifatasam (pH<7)

sebagaiakibatteroksidasinya mineral sulfide padabatuanpadakondisilahan yang

terbukadanadanya air. Sifat AAT

2 - 16
adalahasamsehinggacenderungmerusaklingkungan, baikterhadaphewan biota air

maupuntumbuhandisekitarperairantersebut.

2.6.6 Pengolahan

Proses pengolahan merupakan salah satu penentu dari segi kualitas

batubara yang akan dihasilkan nanti, PT. Kideco Jaya Agung memiliki batubara

bitumen rendah abu dan rendah sulfur sehingga pada proses pengolahan batubara

di PT. Kideco Jaya Agung hanya melakukan proses reduksi ukuran batubara

menggunakan crusher sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan oleh buyer.

2.6.7 Pengangkutan Batubara (Coal Hauling)

Setelah dilakukan kegiatan pengolahan, kegiatan lanjutan adalah

pengangkutan batubara (coal hauling) dari crusher di Km 40 menuju stockpile di

Km 0 dengan menggunakan vessel berkapasitas 120 ton.

2.6.8 Penghijauan (Reclamation)

Merupakan proses untuk penanaman kembali lahan bekas tambang,

dengan tanaman yang sesuai atau hamper sama seperti pada saat tambang belum

dibuka.

2.6.9 Kontrol (Monitoring)

Kegiatan ini ditujukan untuk pemantauan terhadap aplikasi rencana awal

penambangan. Control akan dilakukan terhadap lereng tambang, timbunan, atau

pun lingkungan, baik terhadap pit yang sedang aktif maupun pit yang telah

ditambang.

2 - 17
2 - 18