Anda di halaman 1dari 13

9.

Pengauditan Siklus Persediaan dan Penggudangan

Siklus persediaan dan pergudangan merupakan siklus yang unik karena hubungannya
yang erat dengan siklus transaksi lainnya. Bagi perusahaan manufaktur, bahan baku
memasuki siklus persediaan dan pergudangan dari siklus akuisisi danpembayaran, sementara
tenaga kerja langsung memasukinya dari siklus penggajian dan personalia. Siklus persediaan
dan pergudangan diakhiri dengan penjualan barang dalam siklus penjualan dan penagihan.

Audit terhadap persediaan, terutama pengujian saldo persediaan akhir tahun, sering kali
merupakan bagian yang paling kompleks dan paling menghabiskan waktu audit. Faktor-
faktor yang mempengaruhi kompleksitas audit persediaan termasuk :

1. Persediaan sering kali merupakan akun terbesar pada neraca.


2. Persediaan sering kali berada pada lokasi yang berbeda, yang membuat pengendalian dan
perhitungan fisik menjadi sulit.
3. Sering kali sulit bagi auditor unutk mengamati dan menilai itempersediaan yang berbeda
seperti perhiasan, bahan kimia, dan suku cadang elektronik.
4. Penilaian persediaan juga sulit apabila estimasi keuasangan persediaan merupakan hal
yang penting dan apabila biaya manufaktur harus dialokasikan ke persediaan.
5. Terdapat beberapa metode penilaian persediaan yang dapat diterima dan beberapa
organisasi mungkin ingin menggunakan metode penilaian yang berbeda unutk berbagai
bagain persediaan yang dapat diterima menurut prinsip-prinsip akuntansi yang diterima
umum

9.1 Fungsi Bisnis Dalam Siklus Serta Dokumen Dan Catatan Terkait

Persediaan memiliki banyak bentuk yang berbeda, tergantung pada sifat bisnisnya. Untuk
bisnis ritel atau grosir, akun terbesar dalam laporan keuangan sering kali berupa persediaan
barang dagang yang tersedia untuk dijual. Untuk mempelajari siklus persediaan dan
pergudangan, kita akan menggunakan contoh perusahaan manufaktur, yang persediaannya
mungkin meliputi bahan baku, suku cadang dan perlengkapan yang dibeli untuk digunakan
dalam produksi, barang dalam proses manufaktur, dan abrang jadi yang tersedia untuk dijual.
Siklus persediaan dan pergudangan dapat dianggap sebagai terdiri dari dua sistem terpisah
tetapi terkait erat, di mana yang satu melibatkan arus fisik bang dan yang lainnnya dengan
biaya terkait. Enam fungsi bisnis akan membentuk siklus persediaan dan pergudangan.

1
1) Memroses Pesanan Pembelian
Siklus persediaan dan pergudangan dimulai dengan akuisisi bahan baku untuk
produksi. Pengendalian yang memadai terhadap pembelian harus diselenggarakan
apakah pembelian persediaan adalah berupa bahan baku suatu perusahaan manufaktur
atau barang jadi bagi perusahaan ritel. Permintaan pembelian adalah formulir yang
digunakan untuk meminta departemen pembelian untuk memesan persediaan.
Permintaan tersebut dapat dilakukan oleh personil ruang penyimpanan bahan baku
yang diperlukan, dengan perangkat lunak computer yang terotomatisasi ketika bahan
baku mencapai tingkat yang telah ditentukan terlebih dahulu, dengan pesanan yang
dilakukan atas abahan baku yang diminta unutk memenuhi pesanan pelanggan, atau
melalui pesanan yang dilakukan atas dasar perhitungaan bahan baku secara periodik.
2) Menerima Bahan Baku
Penerimaan bahan baku yang dipesan, yang juga merupakan bagian dari siklus akuisisi
dan pembayaran, melibatkan inspeksi atas bahan yang diterima menyangkut kuantitas
dan kualitasnya. Departemen penerimaan akan membuat laporan penerimaan yang
menjadi bagian dari dokumentasi sebelum pembayaran dilakukan. Setelah inspeksi,
bahan itu dikirim ke ruang penyimpanan dan slinan dokumen penerimaan, atau
pemebritahuan atau notifikasi elektronik mengenai penerimaan barang, biasanya
diserahkan ke bagian pembelian, ruang penyimpanan, dan utang usaha. Pengendalian
dan akuntabilitas merupakan hal penting unutk semua transfer tersebut.
3) Menyimpan Bahan Baku
Setelah diterima, bahan itu biasanya disimpan diruang penyimpanan. Ketika
departemen lainnya memerlukan bahan untuk produksi, personil ruang penyimpanan
menyerahkan permintaan bahan yang telah disetujui secara layak, mengerjakan
pesanan, atau dokumen serupa atau pemberitahuan elektronik yang mengindikasikan
jenis dan kuantitas bahan yang diperlukan. Dokumen permintaan ini digunakan untuk
memperbaharui file induk persediaan perpetual dan mencatat transef dari akun bahan
baku kea kun barang dalam proses. Pembaharuan tersebut dilakukan secara otomatis
dalam organisasi yang memiliki sistem perangkat lunak akuntansi dan manajemen
persediaan terintergrasi.
4) Memroses Barang
Pemrosesan persediaan sangat bervariasi dari perusahaan ke perusahaan. Perusahaan
menentukan item dan kuantitas barang jadi yang akan dibuat berdasarkan pesanan
khusus dari pelanggan, peramalan penjualan, tingkat persediaan barang jadi yang telah

2
ditentukan sebelumnya, dan operasi produksi yang ekonomis. Departemen
pengendalian produksi yang terpisah sering kali bertanggung jawab untuk menentukan
provisi untuk memperhitungkan kuantitas yang diproduksi, pengendalian atas sisa
bahan, pengendalian kualitas, dan perlindungan fisik bahan dalam proses. Setiap
departemen produksi biasanya bertanggung jawab untuk mereview laporan produksi
dan sisa bahan yang dibuat computer, yang menyediakan informasi yang bermanfaat
bagi akuntansi untuk mencatat transfer bahan dan menentukan biaya produksi.
5) Menyimpan Barang Jadi
Ketika barang jadi telah selesai, barang itu ditempatkan diruang penyimoanan
menunggu dikirim. Dalamperusahaan yang memiliki pengendalian internal yang baik,
barang jadi disimpan dibawah pengendalian fisik yang terpisah, disuatu area dengan
akses terbatas. Pengendalian barang sering kali dianggap sebagai bagian dari siklus
penjualan dan penagihan.
6) Mengirimkan Barang Jadi
Pengiriman barang jadi merupakan bagian dari siklus penjualan dan penagihan.
Pengiriman actual barang kepada pelanggan dalam pertukaran dengan kas atau aktiva
lainnya, seperti piutang usaha, menciptakan pertukaran aktiva yang diperlukan untuk
memenuhi criteria pengakuan pendapatan. Untuk sebagian besar transaksi penjualan,
pengiriman actual merupakan pemicu untuk mengakui piutang usaha terkait dan
penjualan terkait dalam sistem akuntansi. Jadi, pengiriman barang jadi harus
diotorisasi oleh dokumen pengiriman yang disetujui secara layak.
9.2 Bagian-Bagian Dalam Audit Persediaan

Tujuan dalaam auditsiklus perssediaan dan pergudangan adalah menyediakan kepastian


bahwa laporan keuangan menyajikan informasi bahan baku, barang setengah jadi, persediaan
barang jadi, dan harga pokok penjualan secara wajar.Audit atas siklus perediaan dan
pergudangan dapat dibagi menjadi 5 (lima) aktifitas yang berbeda, yaitu :

1. Akuisisi dan pencatatan bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead.
Pada bagian ini, audit memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu pemrosesan atas pembelian pesanan,
penerimaan bahan baku, dan penyimpanan bahan baku (table 2). Auditor mendapatkan
pemahaman mengenai pengendalian internal atas ketiga fungsi tersebut dan kemudian
melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, baik transaksi
siklus akuisisi dan pembayaran serta siklus penggajian dan personalia.Pengujian terhadap

3
pengendalianakuisisi bahan baku dan biaya manufaktur tersebut harus berjalan efektif dan
transaksi akuisisi dinyatakan dengan benar. Bila tenaga kerja langsung merupakan bagian
penting dalam persediaan manufaktur, maka auditor harus melakukan verifikasi proses
akuntansi yang benar atas biaya inidalam siklus penggajian dan persoalia.
2. Perpindahan internal atas asset dan biaya.
Pemindahan internal dalam persediaan meliputi fungsi ke 4 (empat), yaitu pemrosesan
barang dan pentimpanan barang jadi. Klien membukukan aktivitasnya dalam pencatatan
akuntansi biaya, yang independen dari siklus lain dan diuji sebagai bagian dari audit
siklus persediaan dan pergudangan.
3. Pengiriman barang dan pencatatan pendapatan dan biaya.
Pencatatan pengiriman dan biaya terkait merupakn fungsi terakhir. Proses ini merupakan
bagian dari siklus penjualan dan penagihan, maka auditor harus mendapatkan pemahaman
dan pengujian pengendalian internal atas pencatatan pengiriman sebagai bagian dari audit
siklus ini, termasuk prosedur dalam verifikasi akurasi kredit atas persediaan yang dicatat
daalam berkas utama persediaan perpetual.
4. Pengamanan fisik atas persediaan.
Auditor harus mengamati klien dalam menghitung persediaan fisik untuk menentukan
apakah persediaan yang tercatat memang ada pada tanggal neraca dan dihitung dengan
benar oleh klien. Pemeriksaan fisik merupakan jenis bukti penting yang dapat digunakan
utuk melakukan verifikasi terhadap keberadaan dan perhitungan persediaan.
5. Penempatan harga dan kompilasi persediaan.
Biaya yang digunakan untuk menilai persediaan harus diuji untuk menentuan apakah
klien mengikuti metode prsediaan yang sesuai dengaan SAK dan konsisten dengan tahun-
tahun sebelumnya. Prosedur yang digunakan auditor untuk melakukan verifikasi biaya ini
disebut pengujian harga. Sebaagai taambahaan, auditoe harus melakukan pengujian
kompilasi persediaan. Yaitu suatu pengujian utuk melakukan verifikassi apakah
perhitungan fisik dilakukan dengan benar, kuantitas dan harga persediaan dijabarkan
dengan benar untuk menghitung saldo buku besar.

9.3 Audit Atas Akuntansi Biaya

Sistem dan pengendalian tas akuntansi biaya bervariasi di setiap perusahaan. Lebih
bervariasi dibandingkan dengan wilayah audit lainnya, karea jenis persediaan dan tingkat
kemutahiran yang diinginkan manajemen sangat bervariasi. Misalnya, perusahaan yag

4
memproduksi mesin pertanian dapat memiliki pencatatan akuntansi dan pengendalian internl
yang sangat berbeda denngan produsen baja yang membuat dan memasang lmari besi
pesanan.tentunya perusahaan kecil dengan pemilik yang secara aktif terlibat dalam proses
produksi akan membutuhkanpencatatan yang lebih sederhana dibandingkan perusahaan besar
yang menghasilkan bermacam-macam produk.

1. Pengendalian Akuntansi Biaya

Pengendalian akuntansi biaya, adalah proses yang mempengaruhi persediaan fisik dan
penelusuran biaya terkait sejak bahan baku dipesan sampai barang selesai diproduksi dan
dipindahkan kepenyimpanan. Jenis pengendalian ini dipisahkan menjadi 2 (dua) kategori :

1. Pengendalian fisik atas bahan baku, barang setengah jadi, dan persediaan barang jadi.
2. Pengendalian atas biaya terkait

Untuk melindungi asset, banyak perusahaan secaraa fisik memisahkan dan membatasi
akses ketempat penyimpanan bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi untuk
mengendalikan pergerakan persediaan. Klien dapaat menggunakan dokumen bernomor urut
untuk mengotorisasi pergerakan persediaan agar tidak terjaddi penyalahgunaan asset. Salinan
atas dokumen tersebut harus dikirimkan langsung kebagian akuntansi oleh pihak yang
menerbitkan, tanpa melalui personel yang bertanggunngjawabatas pengawasannya. Contoh
dokumen yang efektif untk jenis ini adaalah permintaan bahan baku yang disetujui untuk
dikeluarkan dari ruang penyimpanan.

Pengendalian akuntansi biaya yang efektif lainnya dapat dilakukan dengan menyusun
berkas utama persediaan perpetual yang dilakukan oleh personel yang mewakili wewenang
atau akses asset, dengan alas an sebagai berikut :

1) Mereka melakukan pencatatan atas persedian yang ada, yang digunakan untuk memulai
produksi atau pembelian tambahan bahan baku.
2) Mereka mencatat pemakaian bahan baku dan penjualan barang jadi, yang dapaat
ditelaah untuk mengetahui tingkat keusangan barang yang pergerakannya lambat.
3) Mereka mencatat pertanggungjawaban atas pengamatan terhadap perbedaaan antara
perhitungan fisik dan jumlah yang tertera didaftar perpetual.
2. Pengujian atas Akuntansi Biaya

5
Metodologi yang perlu diikuti auditor dalam memutuskan jenis pengujian yang akan
dilaksanakan. Auditor perlu memperhatikan empat aspek dalam akuntansi biaya, yaitu:

1) Pengendalian fisik atas persediaan : auditor melakukan pengendalian fisik dengan


memeriksa area penyimpanan, meminta custodium persediaan menjelaskan tugasnya.
Jika pengendalian fisik sangat tidak memadai auditor harus memperluas observasi
pengujian persediaan fisik.
2) Dokumen dan pencatatan dalam pemindahan persediaan : auditor tertuju untuk
memverifikasi transfer persediaan dengan harus memahami pengendalian internal klien,
melaksanakan pengujian pengendalian atau pengujian substantive atas transaksi untuk
menguji tujuan audit.
3) Berkas utama persediaan perpetual : relibilitas file induk persediaan perpetual
memepengaruhi penetapan waktu dan lingkup pemeriksaan fisik persediaan oleh
auditor.
4) Pencatatan biaya per unit : keakuratan catatan sangatlah penting untuk menyatakan
secara wajar persediaan. Auditor harus memahami pengendalian internal dalam sistem
akuntansi biaya, melakukan verifikasi internal. Auditor harus merancang pengujian
yang sesuai untuk mengurangi pengujian substanstif.
3. Pengendalian fisik

Pengujian auditor atas pengendalian fisik bahan baku, barang setengah jadi, dan barang
jadi hanya terbatas pada tindakan pengamatan dan tanya jawab. Diamati apakah gudang
dikunci dan ditangani oleh pegawai yang kompeten. Auditor dapat meminta pengawas
persediaan untuk menjelaskan tugas mereka terkait dengan pengawas persediaan. Jika auditor
menyimpulkan bahwa pengendalian fisik tidak memadai dan persediaan akan sulit dihitung
secara akurat, maka auditor harus memperluas pengamatan ke pengujian persediaan fisik
untuk memastikan bahwa penghitungannya memadai.

4. Dokumen dan Catatan Pemindahan Persediaan

Perhatian utama auditor dalam hal pemindahan persediaan ialah apakah pemindahan yang
dicatat benar terjadi, pemindahan yang terjadi telah dicatat, jumlah diskripsi dan tanggal
transaksi dicatat dengan tepat. Pertama auditor memahami internal control, kemudian
pengujian melalui pemeriksaan terhadap catatan dan dokumen dilakukan.

6
5. Berkas Induk Persediaan Perpetual

Pengujian atas berkas induk persediaan perpetual untuk mengurangi pengujian fisik atau
mengubah sat pelaksanaannya dilakukan dengan pemeriksaan dokumen, yaitu dokumen
untuk verifikasi pembelian bahan yang mendukung pengurangan persediaan bahan dan
peningkatan barang jadi, pengurangan persediaan barang jadi.

6. Catatan Biaya Per Unit

Pencatatan akuntansi biaya yang memadai harus diintegrasikan dengan catatan produksi
dan catatan akuntansi lain untuk mendapatkan biaya yang akurat untuk semua produk.
Auditor harus memahami internal control, dan pengujian dilakukan sebagai bagian dari
pengujian terhadap perolehan, penjualan dan penggajian. Pengalokasian overhead juga harus
dievaluasi.

9.4Prosedur Analitis

Prosedur analitis adalah hal yang penting dalam audit persediaan dan pergudangan,
saperti halnya dalam siklus lain. Dalam melakukan prosedur analitis yang menguji hubungan
antara saldo akun persediaan dan akun laporan keuangan lainnya. Auditor sering
menggunakan informasi non-keuangan untuk menilai kewajaran saldo terkait persediaan.
Misalnya, auditor membutuhkan informasi mengenai ukuran dan berat produk persediaan,
metode penyimpanannya (rak, tangki, dll) dan kapasitas fasilitas penyimpanan untuk
menentukan apakah persediaan yang tercatat konsisten dengan persediaan yang tersimpan.
Setelah melakukan pengujian yang benar atas pencatatan akuntansi biaya dan prosedur
analitis, auditor memiliki dasar untuk mendesain dan melakukan pengujian perincian saldo
persediaan.

9.5 Pengamatan Fisik Atas Persediaan

7
PSA 07 (SA 331) sekarang, mensyaratkan auditor untuk memeriksa efektifitas metode
klien dalam perhitungan persediaan dan mendapatkan keyakinan dari klien atas kuantitas dan
kondisi fisik persediaan. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, auditor harus :

1. Hadir pada saat klien menghitung persediaan untuk menentukan saldo akhir tahun.
2. Mengamati prosedur perhitungan klien.
3. Melakukan tanya jawab kepada klien tentang prosedur perhitungan mereka.
4. Melakukan pengujian terpisah saat perhitungan fisik.

Poin penting dalam persyaratan PSA 07adalah adanya perbedaan antara orang yang
melakukan pengamatan atas perhitungan fisik persediaan dan orang yang bertanggungjawab
atas perhitungannya. Klien bertanggungjawab untuk menyusun prosedur perhitungan fisik
akurat atas penyediaan dan membuat pencatatannya. Auditor bertanggungjawab
mengevaluasi dan mengamati prosedur klien termasuk melakukan pengujian perhitungn
persediaan dan mengambil kesimpulan apakah persediaan fisik sudah memadai.

9.5.1 Pengendalian Atas Perhitungan Fisik

Terlepas dari metode pencatatan persediaan, klien harus melakukan perhitungan fisik
secara periodik atas persediaan, tetapi tidak perlu setiap tahun. Perhitungan fisik dapat
dilakukan mendekati tanggal neraca, tanggal interim, atau berbasis siklus sepanjang tahun.
Dua pendekatan terakhir dapat dilakukan jika terdapat pengendalian internal memadai atas
berkas utama persediaan perpetual.

Auditor perlu memahami pengendalian atas perhitungan fisik persediaan yang


dilakukan klien sebelum perhitungan fisik dilakukan.

1. Keputusan Audit. Keputusan audit atas pengamatan fisik persediaan sama dengan yang
dilakukan pada area audit lainnya. Keputusan ini mencangkup dengan prosedur audit,
penetapan waktu dilaksanakannya prosedur, penentuan jumlah sampel, dan pemilihan
sampel untuk diuji. Tiga keputusan terakhir akan dibahas berikut ini, dengan membahas
prosedur audit yang memadai untuk itu.
2. Penetapan waktu. Auditor menutuskan apakah perhitungan fisik dapat dilakukan sebelum
akhir tahun, terutama dengan dasar akurasi berkas utama persediaan perpetual. Saat klien
melakukan perhitungan interim, yang disetujui auditor bila pengendalian internal efektif,

8
auditor pada saat itu melakukan pengamatan atas prhitungan persediaan dan menguji
transaksi yang tercatat dalam pencatatan persediaan dari tanggal perhitungan hingga akhir
tahun.
3. Jumlah sampel. Jumlah jenis persediaan yang harus dihitung auditor sering kali sulit
ditentukan karena auditor harus berkonsentrasi untuk mengamati prosedur klien agar
memudahkan jumlah sampel dalam pengamatan fisik dapat diambil dari jumlah total jam
yang dihabiskan, bukan jumlah jenis persediaan yang dihitung.
4. Pemilihan sampel. Saat auditor melakukan pengamatan atas perhitungan persediaan,
mereka harus berhati-hati dalam :
Mengamati perhitungan atas jenis persediaan yang signifikan dan sampel dari jenis
persediaan tertentu.
Melakukan tanya jawab atas jenis yang mungkin usang atau rusak.
Mendiskusikan dengan manajemen alasan tidak dimasukkannya persediaan tertentu.
5. Pengujian Atas Pengamatan Fisik. Bagian terpenting dalam pengamatan persediaan
adalah menentukan apakah perhitungan fisik yang dilakukan sesuai dengan intruksi klien.
Agar dapat dilakukan secara efektif, maka auditor perlu hadir pada saat perhitungan
dilakukan.

9.6 Audit Penetapan Harga Dan Kompilasi

Pengujian harga persediaan mencakup semua pengujian atas harga perunit klien untuk
menentukansemua sudah benar. Sedangkan pengujian kompilsi persediaan mencakup
menguji ikhtisar penghitungan persediaan klien, menghitng kembali harga dikalikan dengan
kuantitas, memfooting ikhtisar persediaan dan menelusuri total ke buku besar umum.
Terdapat hal perlu diperhatikan antara lain:

1. Pengendalian Harga dan Kompilasi

Pengendalian biaya per unit yang terintegrasi dengan produksi memberikan kepastian
bahwa klien menggunakan penetapan biaya yang wajar untuk menilai persediaan akhir.
Pencatatan biaya standar berguna untuk mengevaluasi kewajaran biaya produksi jika
manajemen selalu memperbarui prosedur terkait perubahan dalam produksi dan
biaya.Untuk mencegah persediaan yang sudah usang dimasukkan dalam perhitungan atau
lebih saji, klien harus melakukan telaah formal dan pelaporan atas persediaan yang sudah
usang, pergerakannya lambat, rusak atau lebih saji, juga lakukan pengendalian internal

9
atas kompilasi persediaan untuk memastikan penghitungan fisik driringkas dengan benar
dan penetapan harganya sama dengan pencatatan, dijumlahkan dengan benar, dan
dimasukkan dalam berkas utama persediaan perpetual dan akun buku besar terkait dalam
jumlah yang benar.

2. Prosedur Penetapan Harga dan Kompilasi

Prosedur penetapan harga dan kompilasi bertujuan untuk pisah batas yang dilakukan
sebagai bagian dari penjualan dan akuisisi. Auditor dapat menggunakan informasi yang
diperolah dari klien sebagai kerangka referensi, termasuk deskripsi masing-masing
persediaan, jumlah, harga per unit, dan nilai perluasannya. Adapun tujuan audit dan
pengujian terkait atas penetapan harga dan kompilasi persediaan,

3. Penilaian Persediaan

Auditor harus memperhatikan tiga hal, Pertama, metodenya harus sesuai dengan SAK.
Kedua, penerapan metode harus konsisten dari tahun ke tahun. Ketiga, biaya persediaan
versus harga pasar harus dioertimbangkan. Dalam verifikasi penetapan harga persediaan
bergantung pada barang yang dibeli atau diproduksi.

4. Penetapan Harga atas Persediaan yang Dibeli

Dalam penilaian persediaan yang dibeli, auditor harus menetukan apakah klien
menggunakan LIFO, FIFO, rata-rata tertimbang, atau metode penilaian lainnya. Auditor
harus menentukan biaya-biaya yang dimasukkan dalam penilaian suatu jenis persediaan.
Setelah itu, auditor harus berfokus pada persediaan dengan nilai besar dan produk yang
harganya berfluktuasi. Auditor juga harus mendata jenis persediaan untuk diverifikasi atas
penetapan harga dan meminta faktur vendor kepada kliaen, lalu memeriksa faktur yang
memadai untuk memperhitungkan seluruh akun persediaan atas jenis yang diuji, terutama
yang menggunakan metode penilaian FIFO. Terakhir, auditor harus menguji biaya per unit
tercatat dalam pencatatan perpetual ke faktur vendor sebagai bagian dari pengujian
transaksi siklus dan pembayaran.

5. Penetapan Harga Persediaan yang Diproduksi

10
Dalam menetapkan harga persediaan yang diproduksi, auditor harus
mempertimbangkan biaya per unit atas bahan baku dan jumlah unit yang diperlukan dalam
memproduksi setiap unit output. Auditor juga harus memeriksa faktur vendor atas berkas
utama persediaan perpetual, lalu memeriksa spesifikasi rancangan, memeriksa produk
yang selesai dibuat, atau menemukan metode sejenis untuk menentukan jumlah unit yang
diperlukan untuk membuat satu unit produk.

Dalam hal tenaga kerja langsung, auditor harus melakukan verifikasi biaya per jam atas
tenaga kerja dan jumlah jam kerja yang diperlukan untuk membuat satu unit output.
Auditor dapat menetukan jumlah jam kerja untuk memproduksi barang dari spesifikasi
rancangan atau sumber serupa.Dalam overhead manufaktur, auditor harus mengevaluasi
metode yang digunakan untuk menguji konsistensi dan kewajaran dan menghitung
kembali biaya untuk menentukan apakah biaya overhead sudah benar. Jika klien memiliki
pencatatan biaya standar, maka metode yang tepat untuk menentukan penilaian adalah
dengan menalaah dan menganalisis selisih.

6. Biaya Perolehan atau Harga Pasar

Dalam menetukan biaya Harga Perolehan Persediaan, auditor harus mempertimbangkan


nilai realisasi bersih yang lebih kecil daripada biaya historis. Lalu, auditor dapat menguji
biaya penggantian dengan memeriksa faktur vendor pada periode jeda atau faktur terakhir
yang jika tidak terdapat pembeliaan persediaan setelah akhir tahun. Auditor pun harus
mempertimbangkan nilai penjualan persediaan dan kemungkinan dampak fluktuasi harga
untuk menemukan nilai realisasi, dimana kemungkinan keusangan saat mengevaluasi
persediaan.

9.7 Integrasi Pengujian

Terdapat serangkaian pengujian yang terintegrasi atas siklus persediaan dan pergudangan:
1. Pengujian atas Siklus Akuisisi dan Pembayaran
Auditor melalukan verifikasi pembelian persediaan dan juga mengumpulkan bukti atas
akurasi pembelian bahan baku dan seluruh biaya overhead manufaktur, kecuali biaya
tenaga kerja. Biaya pembelian mengalir ke harga pokok penjualan atau menjadi bagian
terbesar dari persediaan akhir bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi. Untuk
audit yang kliennya menggunakan persediaan perpetual, auditor melakukan pengujian ini

11
sebagai bagian dari prosedur pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi yang dilakukan daloam siklus akuisisi dan pembayaran.
2. Pengujian atas Siklus Penggajian dan Personalia
Auditor melakukan verifikasi pada biaya tenaga kerja langsung yang kondisinya sama
diterapkan seperti dalam pembelian. Kebanyakan pencatatan akuntansi biaya untuk biaya
tenaga kerja langsung atau tidak langsung dapat diuji sebagai bagian dari audit siklus
penggajian dan personalia.
3. Pengujian atas Silkus Penjualan dan Penagihan
Pengujian audit dalam penyimpanan barang jadi, seperti pengiriman dan pencatatan
penjualan, akan terjadi bila silkus penjualan dan penagihan diuji. Saat klien menggunakan
pencatatan biaya standar, auditor dapat menguji biaya standar atas harga pokok penjualan
bersamaan dengan pengujian penjualan.
4. Pengujian Akuntansi Biaya
Pengujian atas pencatatan akuntansi biaya dilakukan untuk memverifikasi pengendalian
yang memengaruhi persediaan, yang tidak diverifikasi auditor dalam pengujian ketiga
silkus sebelumnya. Auditor menguji pengendalian fisik, pemindahan biaya bahan baku ke
barang setengah jadi, pemindahan biaya atas penyelesaian barang ke barang jadi, berkas
utama persediaan perpetual, dan pencatatan biaya per unit.
5. Persediaan Fisik, PenetapanHarga dan Kompilasi
Persediaan fisik, penetapan harga, dan kompilasi penting dalam audit persediaan karena
salah saji salah satu aktivitas dapat menghasilkan salah saji pada persediaan dan harga
pokok penjualan. Dalam audit, harga pokok penjualan merupakan nilai sisa dari
persediaan awal ditambah pembelian bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead manufaktur dikurangi persediaan akhir.Pada pengujian persediaan fisik, auditor
sabgat bergantung pada berkas utama persediaan perpetual jika diuji sebagai bagian dari
siklus yang telah kita bahas dan telah dianggap andal. Oleh karena itu, auditor dapat
mengamati dan menguji penghitungan fisik pada waktu di luar akhit tahun dan
menggunakan perpetual agar pencatatan jumlahnya memadai.Saat auditor menguji
pengendalian dan melakukan pengujian substantif atas transaksi dan saldo persediaan
terkait, mereka juga mengintegrasikan pengujian yang berhubungan dengan tujuan audit
terkait saldo, dengan melakukan pengujian yang memenuhi 4 tujuan penyajian dan
pengungkapan. Standar akuntansi mensyaratkan pengungkapan atas metode penilaian
persediaan dan informasi persediaan lainnya yang relevan, seperti informasi LIFO
cadangan, pada penjelasan tambahan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Jusup, Al. Haryono, 2014 Auditing (Pengauditan Berbasis ISA), Yogyakarta: Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi.

13