Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN

MATURASI PADA IKAN KOMET DENGAN MENGGUNAKAN PAKAN


YANG DIPERKAYA OLEH HORMON 17- METIL TESTOSTERON

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Laporan Akhir Praktikum


Teknologi Pembenihan Ikan

Disusun oleh :
KELOMPOK 10/ KELAS A
M. Fauzan Al Mubarok 230110140010
Fadhilah Amelia 230110140013
Gitri Maudy 230110140014
Alya Mirza Artiana 230110140016
M. Rifqi Almumtaz 230110140057
Rizky Adikusuma 230110140058

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, karena kami telah
menyelesaikan laporan akhir praktikum Teknologi Pembenihan Ikan yang berjudul
Maturasi pada Ikan Komet dengan Menggunakan Pakan yang Diperkaya
Oleh Hormon 17- Metil Testosteron. Tujuan Penulisan laporan ini adalah
memenuhi salah satu tugas laporan akhir praktikum Teknologi Pembenihan Ikan
semester genap tahun akademik 2016-2017.
Laporan akhir praktikum ini tidak terlepas dari peran serta berbagai pihak,
maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Tim Dosen Mata Kuliah Teknologi Pembenihan Ikan Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
2. Tim Asisten Praktikum Teknologi Pembenihan Ikan yang telah membimbing
dan memberikan arahan dalam kegiatan praktikum
3. Seluruh anggota kelompok 10 Perikanan A atas kerjasama dan
kekompakannya dalam kegiatan praktikum
4. Pihak-pihak lain yang membantu dan memberikan saran dalam kegiatan
praktikum dan penyusunan laporan
Penulis telah berusaha sebaik mungkin dalam penulisan laporan akhir
praktikum ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran-sarannya agar
menjadi masukkan yang berguna bagi penulis.
Akhir kata, penulis berharap semoga laporan akhir praktikum ini dapat
memberikan manfaat bagi semua pihak.

Jatinangor, Mei 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

BAB Halaman
DAFTAR TABEL ................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................ v
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... vi
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Identifikasi Masalah .................................................................... 2
1.3 Tujuan ......................................................................................... 2
1.4 Kegunaan .................................................................................... 2
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Komet ................................................................................. 3
2.1.1 Morfologi Ikan Komet ................................................................ 3
2.1.2 Klasifikasi Ikan Komet ............................................................... 4
2.1.3 Habitat Ikan Komet ..................................................................... 4
2.1.4 Reproduksi Hidup Ikan Komet ................................................... 5
2.2 17- Metiltestosteron .................................................................. 5
2.3 Kinerja Reproduksi ..................................................................... 6
2.4 Tingkat Kematangan Gonad ....................................................... 10
2.5 Indeks Kematangan Gonad ......................................................... 12
2.6 Hepatosomatik Indeks................................................................. 13
2.7 Fekunditas ................................................................................... 13
III METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat ...................................................................... 16
3.2 Alat dan Bahan............................................................................ 16
3.2.1 Alat Praktikum ............................................................................ 16
3.2.2 Bahan Praktikum......................................................................... 17
3.3 Tahapan Praktikum ..................................................................... 17
3.3.1 Persiapan Praktikum ................................................................... 17
3.3.2 Pelaksanaan Praktikum ............................................................... 17
3.4 Metode ........................................................................................ 18
3.5 Parameter yang Diamati.............................................................. 18
3.5.1 Diameter Telur ............................................................................ 18
3.5.2 Persentase Tingkat Kematangan Telur Ikan ............................... 19
3.5.3 Indeks Kematangan Gonad ......................................................... 19
3.5.4 Hepatosomatik Indeks................................................................. 19
3.5.5 Fekunditas ................................................................................... 20
3.5.6 Analisis Data ............................................................................... 20

ii
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil ............................................................................................ 21
4.2 Pembahasan Kelompok............................................................... 28

V SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ................................................................................. 34
5.2 Saran ........................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 35
LAMPIRAN .......................................................................................... 36

iii
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman


1 Ciri induk ikan komet (Carassius auratus) 5
2 Alat yang digunakan dalam praktikum 16
3 Bahan yang digunakan dalam praktikum 17
4 Hasil pengamatan Tingkat Kematangan Telur Vitelogenin Kelas 22
5 Hasil pengamatan Tingkat Kematangan Telur Awal Matang Kelas 22
6 Hasil pengamatan Tingkat Kematangan Telur Matang Kelas 23
7 Hasil Pengamatan Gonado Somatik Indeks (GSI) Kelas 24
8 Hasil Pengamatan Hepatosomatik Indeks Kelas 25
9 Bobot gonad per 5 gr berat ikan sampel 26
10 Fekunditas per 5 gr berat ikan sampel 26
11 Hasil Pengamatan Diameter Telur Kelas 27

iv
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


1 Ikan Komet (Carassius auratus) 3
2 Proses Spermatogenesis 7
3 Proses oogenesis 9

v
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman


1 Alur Pelaksanakan Praktikum 37
2 Alat dan Bahan 40
3 Dokumentasi Kegiatan Praktikum 41

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia memiliki potensi sumberdaya ikan hias yang sangat melimpah.
Terdapat 400 spesies ikan hias di Indonesia dari keseluruhan sebanyak 1.100
spesies di dunia (Poernomo, 2008 dalam Hidayat, 2010). Salah satu contoh ikan
hias yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah ikan komet (Carassius
auratus). Ikan komet merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang populer
di kalangan pecinta ikan hias. Ikan komet banyak diminati oleh para pecinta ikan
hias karena ikan komet memiliki warna yang cerah, bentuk dan gerakan yang
menarik, serta pemeliharaan yang relatif mudah. Pemijahan ikan komet dapat
dilakukan dengan dua cara pemijahan, yang pertama yaitu secara alami atau
tradisional, sedangkan yang kedua yaitu pemijahan buatan. Pemijahan secara
buatan biasanya dilakukan untuk merangsang ikan yang sulit memijah atau tidak
bisa memijah bila berada dalam lingkungan budidaya.
Pada masa ini, penerapan pengetahuan mengenai hormon untuk
meningkatkan produksi budidaya sudah cukup banyak mengalami banyak
perkembangan. Sejak dua dekade terakhir, perkembangan endokrinologi ikan
sangat berkembang pesat dan berperan serta dalam meningkatkan produksi
budidaya, terutama melalui induksi pemijahan, kultur monoseks, dan perangsangan
pertumbuhan (Hartanti dan Nurjanah 2008).
Induksi pemijahan pada ikan pertama kali dilakukan di Brazil pada tahun
1934 dengan menyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa pada calon induk untuk
menginduksi ovulasi. Penemuan baru ini merupakan pemecahan masalah pada
kegiatan budidaya dimana ikan tidak mencapai kematangan dan memijah di dalam
wadah pemeliharaan. Sejak saat itu induksi pemijahan berkembang pesat di seluruh
penjuru dunia (Hartanti dan Nurjanah 2008).

1
2

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang dapat diidentifikasi pada
laporan praktikum ini yaitu :

1. Seberapa besar pengaruh hormon 17 Metiltestosteron terhadap


perkembangan gonad pada ikan komet.

2. Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi efektifitas hormon 17


Metiltestosteron terhadap kematangan gonad ikan komet

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari praktikum ini yaitu untuk
mengetahui pengaruh pemberian hormon 17 Metiltestosteron terhadap
pertumbuhan ikan yang optimal dengan dosis pemberian yang berbeda.
1.4 Kegunaan
Manfaat dari praktikum kali ini yaitu mahasiswa mengetahui dan mampu
melakukan kegiatan maturasi pada ikan komet menggunakan hormon 17 alfa
metiltestosteron
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Komet


2.1.1 Morfologi Ikan Komet

Gambar 1. Ikan Komet (Carassius auratus)


Sumber : Dokumentasi pribadi

Ikan komet memiliki warna yang cerah, gerak-gerik, dan bentuk tubuh yang
unik, sehingga banyak masyarakat yang menggemari ikan komet sebagai ikan hias.
Ikan komet memiliki morfologi yang relatif serupa dengan ikan mas. Perbedaan
antara ikan komet dan ikan mas terdapat pada bentuk siripnya. Sirip ikan komet
lebih panjang dari ikan mas. Karena kemiripinnya, diluar negeri ikan komet juga
disebut sebagai ikan mas (goldfish). Ikan komet jantan memiliki sirip dada panjang
dan tebal, kepala tidak melebar, dan tubuh lebih ramping. Sedangkan ikan komet
betina memiliki sirip dada relatif pendek dan tipis, kepala relatif kecil dan bentuk
tubuh yang agak meruncing dan gemuk (Lingga dan Heru, 1995).
Ikan komet memiliki tubuh memanjang dan memipih tegak (compressed)
mulut ikan komet terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Ikan komet
memiliki dua pasang sungut pada bagian ujung mulut. Pada bagian ujung dalam
mulut terdapat gigi kerongkongan yang tersusun atas tiga baris dan gigi geraham
secara umum. Ikan komet memiliki sifat yang termasuk kedalam jenis sisik sikloid.
Sirip punggung memanjang dan pada bagian belakangnya berjari keras.

3
4

. Sirip punggung terletak berseberangan dengan sirip perut. Ikan komet


memiliki gurat sisi yang terletak di pertengahan tubuh dan melentang dari tutup
insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Partical Fish Keeping, 2013).
Ikan komet sangat aktif berenang baik di dalam kolam maupun di dalam
akuarium. Ikan komet tidak dapat bertahan dalam ruang yang sempit dan terbatas.
Ikan komet juga membutuhkan filtrasi yang kuat dan pergantian air yang rutin. Ikan
komet biasanya ditemui dengan warna putih, merah dan hitam. Ikan komet dapat
tumbuh dan hidup hingga berumur 7 hingga 12 tahun dengan panjang maksimal
mencapai 30 cm (Partical Fish Keeping, 2013).

2.1.2 Klasifikasi Ikan Komet


Klasifikasi ikan komet menurut Goenarso (2005) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Carassius
Spesies : Carassius auratus

2.1.3 Habitat Ikan Komet


Ikan komet adalah jenis ikan air tawar yang hidup di perairan dangkal yang
airnya mengalir tenang dan berudara sejuk. Untuk bagian substrat dasar aquarium
atau kolam dapat diberi pasir atau krikil, ini dapat membantu ikan komet dalam
mencari makan karena ikan komet akan dapat menyaringnya pada saat memakan
plankton. Ikan komet dapat hidup dalam kisaran suhu yang luas, meskipun
termasuk ikan yang hidup dengan suhu rendah 15 20oC tetapi ikan komet juga
membutuhkan suhu yang tinggi sekitar 27 30oC. Adapun konsentrasi DO di atas
5 ppm dan pH 5,5 - 9,0. Hal tersebut khususnya diperlukan saat ikan komet akan
memijah (Partical Fish Keeping 2013).
5

2.1.4 Reproduksi Ikan Komet


Ikan komet secara alami memijah pada tengah malam sampai akhir fajar.
Menjelang memijah, induk-induk ikan komet aktif mencari tempat yang rimbun,
seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah
yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus membantu
perangsangan ketika terjadi pemijahan (Gursina, 2008).
Telur ikan komet dapat menempel pada substrat. Telur ikan komet
berbentuk bulat, berwarna bening, berdiameter 1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20
mg. Ukuran telur bervariasi, tergantung dari umur dan ukuran atau bobot induk.
Embrio akan tumbuh di dalam telur yang telah dibuahi. Setelah 2-3 hari kemudian,
telur-telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva. Larva ikan Komet mempunyai
kantong kuning telur yang berukuran relatif besar sebagai cadangan makanan bagi
larva. Kantong kuning telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4 hari.

Perbedaan ciri ikan komet jantan dan ikan komet betina dijelaskan dalam
Tabel 1.

Tabel 1. Ciri induk ikan komet (Carassius auratus)


Induk jantan Induk betina
1. Terdapat bintik-bintik bulat 1. Terdapat bintik-bintik pada sirip
menonjol pada sirip dada dan jika dada namun terasa halus jika diraba
diraba terasa kasar 2. Jika diurut perlahan dari perut ke
2. Induk yang telah matang gonad arah lubang genital akan keluar
jika diurut perlahan dari perut ke cairan kuning bening
arah lubang genital akan keluar 3. Induk yang telah matang gonad
cairan berwarna putih perutnya terasa lembek juga lubang
genital berwarna kemerah-merahan

2.2 17- Metil Testosteron


Upaya maturasi pada ikan komet yang dilakukan yaitu dengan
menambahkan hormon 17- Metil Testosteron pada pakan yang akan diberikan
kepada ikan komet. Hormon 17 -metiltestosteron adalah suatu hormon untuk
memperbesar kemungkinan terjadinya proporsi kelamin jantan pada ikan.
Hormon ini merupakan hormon androgen sintetis yang berfungsi untuk
mempengaruhi perubahan kelamin individu.
6

17-metiltestosteron adalah hormon androgen yang pada umumnya


digunakan untuk proses penjantanan (maskulinisasi) pada benih ikan.
Metiltestosteron merupakan hormon androgen yang paling sering dipakai untuk
merubah jenis kelamin dan penggunaan metiltestosteron pada dosis yang berbeda
akan memberikan pengaruh yang berbeda pula (Nagy, et. al., 1978).
Mekanisme kerja hormon 17 -metiltestoteron yaitu dengan cara
menghambat pembentukan gonad betina sehingga pada perkembangan gonad
selanjutnya yang akan berkembang adalah testis. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa testosteron dalam jumlah kecil yang diberikan pada
individu yang gonadnya belum berkembang secara langsung akan
mempengaruhi hipotalamus secara tetap selama tahap perkembangan gonad dan
pembentukan karakter jantan. Diduga testosteron mempengaruhi neuron
melalui bagian preotic hypotalamus dengan synapsis disekresikan pada
gonadotropin releasing factor (Martin dalam Kusmini, 2001).

2.3 Kinerja Reproduksi


Kinerja reproduksi merupakan suatu proses yang berkelanjutan pada ikan
akibat adanya rangsangan dari luar ataupun dari dalam tubuh ikan itu sendiri.
Rangsangan tersebut dapat berupa rangsangan hormonal ataupun rangsangan
lingkungan. Rangsangan hormonal yang terjadi pada induk ikan betina berbeda
dengan induk jantan. Pada induk betina, rangsangan hormonal ditujukan untuk
pembentukan telur dan pematangannya, sedangkan pada ikan jantan rangsangan
tersebut untuk pembentukan sperma (Permadi, 2009).
Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet yang terjadi pada gonad.
Disebut spermatogenesis pada hewan jantan dan oogenesis pada hewan betina.
Spermatogenesis terjadi pada testis, sedangkan oogenesis terjadi pada ovarium.
Gametogenesis merupakan pembelahan yang bersifat meiosis, sehingga sel kelamin
yang dihasilkan bersifat haploid.
Proses spermatogenesis berlangsung melalui dua tahapan yaitu
spermatositogenesis dan spermiogenesis. Spermatositogenesis diawali dari
spermatogonium (diploid) kemudian memasuki pembelahan meiosis I sebagai
7

spermatosit primer yang kemudian akan membentuk dua spermatosit sekunder.


Spermatosit sekunder mengalami pembelahan meiosis II yang masing-masing
membentuk dua spermatid. Diferensiasi spermatid akan mengalami proses
diferensiasi yang disebut dengan spermiogenesis. Pada proses diferensiasi,
spermatid akan berubah menjadi menjadi spermatozoon. Spermatogenesis terjadi
pada dinding tubulus seminiferus testis sehingga pada dinding tersebut dapat
diamati berbagai stadium perkembangan rnulai dan bagian penifer sampai ke lumen.
Selain terdapat sel spermatogenik juga dapat ditemukan sel Sertoli. Sel Sertoli
berfungsi untuk memberikan asupan nutrisi bagi sperma yang terbentuk.
Spermatogenesis dirangsang oleh FSH, sedangkan LH (ICSH) merangsang sel
Leydig agar dapat menghasilkan hormon testoteron.

Proses spermatogenesis disajikan pada gambar dibawah ini

Gambar 2. Proses Spermatogenesis


Sumber : www.google.com
8

Proses oogenesis berlangsung didalam ovarium dan sel telur yang diselaputi
oleh sel folikel sehingga membentuk folikel ovarium. Proses pembelahan meiosis
dari 1 oogonium hanya menghasilkan sel telur (ovum) sebab selama pembelahan
akan terbentuk badan polar (polosit). Oosit primer dari oogonium sesudah meiosis
I akan membentuk 1 oosit sekunder dan 1 badan polar. Bersamaan dengan
pembelahan pemasakan tersebut juga terjadi pertumbuhan folikel ovarium sehingga
terbentuk folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier sampai folikel Graaf.
Folikel Graaf kemudian akan mengalami ovulasi yang menyebabkan sel telur
keluar dan ovarium menuju ke oviduct. Folikel yang ditinggalkan oleh sel telur
kemudian akan membentuk corpus luteum yang menghasilkan hormon progesteron.
Sel-sel folikel selama dalam pertumbuhannya dapat menghasilkan hormon estrogen.
Pertumbuhan dan perkembangan folikel dirangsang oleh FSH, sedangkan proses
ovulasi dirangsang oleh LH.
Menurut Wallace dan Shelman (1981), proses oogenesis pada ikan dapat
dibedakan atas empat tahapan perkembangan, antara lain :
1. Tahap I berupa perkembangan struktur seluler dasar meliputi perbesaran
nukleus, pembentukan nukleoli dan organel subseluler seperti cortical
alveoli yang memegang peranan penting dalam fertilisasi. Di sekeliling
oosit berkembang dua lapisan sel yaitu sel theca dan sel granulosa yang
berperan dalam produksi hormon steroid ovarium.
2. Tahap II berupa vitelogenesis. Vitelogenesis melibatkan interaksi antara
hipofisis anterior, sel-sel folikel, hepar dan oosit. Gonadotropin yang
disekresikan oleh hipofisis anterior memacu sel-sel theca untuk
memproduksi testosteron. Testosteron berdifusi ke sel-sel granulosa dan
diaromatisasi menjadi estradiol-17. Estradiol-17 dibawa oleh aliran darah
menuju hepar untuk memacu organ tersebut membentuk vitelogenin yaitu
prekursor protein yolk. Vitelogenin dibawa oleh aliran darah dan
diinternalisasi ke dalam oosit melalui reseptor spesifik. Di dalam oosit,
vitelogenin diproses lebih lanjut menjadi protein yolk berukuran lebih kecil
yang akan digunakan sebagai cadangan makanan bagi embrio.
9

3. Tahap III adalah tahap pemasakan oosit. Selama pemasakan, oosit bergerak
dari posisi tengah menuju posisi tepi sitoplasma kemudian inti oosit
menghilang, proses ini dikenal dengan germinal vesicle break down
(GVBD). Proses ini menandai berakhirnya proses meiosis pertama.
Selanjutnya kromosom mengalami kondensasi, benang-benang spindel
terbentuk dan polar bodi pertama dilepaskan pada akhir meiosis pertama.
Hasil penelitian pada beberapa spesies ikan menunjukkan bahwa hormon
yang berperan dalam pemasakan oosit adalah 17,20-P. 17,20-P dihasilkan
atas kerjasama sel-sel theca dan sel granulosa dibawah kendali hormon
gonadotropin. Sel theca menghasilkan 17-hydroxyprogenteron. Hormon ini
berdifusi ke dalam sel-sel granulosa dan diubah menjadi 17,20-P yang juga
dikenal sebagai maturation inducing hormone (MIH). Tahap ini harus
tercapai agar oosit dapat diovulasikan dan dioviposisikan pada saat
pemijahan. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa ovulasi dipacu
oleh prostaglandin, terutama prostaglandin F2.
4. Tahap IV, oosit yang telah mengalami GVBD dioviposisikan dalam proses
pemijahan. dan progesteron selama satu siklus pemijahan.

Gambar 3. Proses oogenesis


Sumber : www.google.com
10

Effendie (2002) menyatakan bahwa terdapat faktor-faktor utama yang


mampu mempengaruhi kematangan gonad ikan, antara lain suhu dan makanan,
tetapi secara relatif perubahannya tidak besar dan di daerah tropik gonad dapat
masak lebih cepat. Kualitas pakan yang diberikan harus mempunyai komposisi
khusus yang merupakan faktor penting dalam mendukung keberhasilan proses
pematangan gonad dan pemijahan.
2.4. Tingkat Kematangan Gonad
Tingkat Kematangan Gonad Menurut Kesteven dibagi menjadi sembilan
tingkatan, antara lain (Bagenal dan Braum, 1968) :
1. Dara
Organ seksual sangat kecil dan berdekatan dengan tulang punggug bawah.
Testis dan ovarium transparan atau berwarna keabu-abuan. Hanya dapat dilihat
dengan mikroskop.
2. Dara Berkembang
Testis dan ovarium transparan, abu-abu dan merah. Telur satu persatu dapat
terlihat dengan kaca pembesar.
3. Perkembangan I
Testis dan ovarium berbentuk bulat telur, berwarna kemerahan dengan
pembuluh kapiler. Setengah ruang bagian bawah terisi, telur dapat dilihat
dengan mata seperti serbuk putih
4. Perkembangan II
Testis berwarna putih kemerah-merahan. Ovarium berwarna orange kemerah
merahan. Telur sudah dapat dibedakan dengan jelas. Bentuknya bulat telur dan
mengisi sebagian besar ruang telur bagian bawah.
5. Bunting
Tertis berwarna putih, telur bentuknya bulat dan beberapa telur masak.
6. Mijah
Telur dan sperma akan keluar jika ditekan. Kebanyakan telurnya berwarna
transparan.
7. Mijah/ Salin
11

Gonad masih terisi telur dan sperma.


8. Salin
Testis dan ovarium kosong dan berwarna merah.
9. Pulih salin
Testis dan ovarium berwana transparan, abu-abu dan merah.
Diameter telur adalah garis tengah ukuran panjang dari suatu telur yang
diukur dengan mikrometer berskala. Masa pemijahan setiap spesies ikan
berbeda-beda, ada pemijahan yang berlangsung singkat, tetapi banyak pula
pemijahan dalam waktu yang panjang. Semakin meningkat tingkat kematangan,
garis tengah telur yang ada dalam ovarium semakin besar pula (Arief, 2009).
Pergerakan inti telur terbagi kedalam tiga fase yaitu fase vitelogenik, fase
awal matang, dan fase matang. Fase vitelogenik ditandai dengan inti telur di tengah.
Fase awal matang ditandai dengan inti telur berada di tepi. Sedangkan fase matang
ditandai dengan inti telur yang telah melebur atau mengalami GVBD (Germinal
Vesicle Break Down) yang dipengaruhi oleh proses steroidogenesis. Pergerakan
inti telur akan berdampak positif terhadap tingkat pembuahan dalam proses
pemijahan. Posisi inti yang melakukan peleburan dan berada dibawah mikrofil
menyebabkan sperma mudah melakukan proses pembuahan.
Menurut Affandi (2002), Proses perkembangan sel telur terjadi dalam dua
tahapan yaitu previtellogenesis dan vitellogenesis. Proses previtellogenesis adalah
tahap dimana telur aktif dalam melakukan pembelahan dan terhenti pada tahap
profase meiosis pertama (fase diplotein), fase ini dihasilkan oosit primer.
Sedangkan vitellogenesis merupakan tahap dimana terjadi pergerakan inti telur
yang telah mengalami perkembangan diameter telur.
Tahapan selanjutnya yaitu terjadi peleburan inti di bawah mikrofil yang
disebut GVBD (Germinal Visicle Break Down). Nutrien hasil dari steroidogenesis
yang berasal dari 17-estradiol diubah menjadi vitellogenin oleh hati, kemudian
vitellogenin diangkut oleh darah dan masuk ke dalam oosit fase diplotein yang
menyebabkan peningkatan kuantitas kuning telur dan diameter telur.
Induk ikan yang memasuki fase pematangan oosit akan dipengaruhi oleh
hormon tropik hipotalamus dan kelenjar pituitari. Folikel yang sedang tumbuh akan
12

mensintesis dan mengekskresi hormon steroid menuju peredaran darah. Pada saat
proses vitelogenesis berlangsung, granula kuning telur bertambah baik secara
kuantitas maupun ukuran yang menyebabkan volume oosit membesar. Peningkatan
nilai gonadosomatik indeks, fekunditas, dan diameter telur dapat disebabkan oleh
perkembangan oosit. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan
bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama proses tersebut
berlangsung sebagian besar hasil metabolisme tertuju kepada perkembangan gonad.

2.5 Indeks Kematangan Gonad


Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada gonad, tingkat
perkembangan gonad secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan suatu Indeks
Kematangan Gonad (IKG) yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil
perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan dikalikan 100 persen (Effendie,
1979 dalam Hadiaty, 2000). Bila dirumuskan, perhitungan nilai indeks kematangan
gonad adalah sebagai berikut
IKG = Wg / W x 100%
Dengan keterangan :
IKG = Indeks Kematangan Gonad
Wg = berat gonad
W = berat tubuh ikan
Indeks Kematangan Gonad akan semakin meningkat dan baru mencapai
batas maksimum pada saat terjadi pemijahan. Pada ikan betina nilai IKG lebih besar
dibandingkan dengan ikan jantan. IKG dapat dihubungkan dengan Tingkat
Kematangan Gonad (TKG) yang pengamatannya berdasarkan ciri-ciri morfologi
kematangan gonad, sehingga akan tampak hubungan antara perkembangan di
dalam dengan diluar gonad. Nilai IKG akan sangat bervariasi setiap saat tergantung
pada macam dan pola pemijahannya.
Selain indeks kematangan gonad untuk mengetahui tingkat kematangan
gonad dapat juga menggunakan perhitungan Gonado Index (GI) yang dikemukakan
oleh Batts (1972). Perhitungan GI merupakan perbandingan antara berat gonad
13

dengan panjang ikan. Perhitungan GI dapat dilakukan dengan rumus seperti berikut
:

GI = x 108

GI = Gonado Index
W = Berat gonad segar (gram)
L = Panjang ikan (mm)

2.6 Hepatosomatik Indeks


Hepatosomatik Indeks merupakan perbandingan antara bobot hati dengan
bobot tubuh ikan yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Semakin tinggi nilai
Hepatosomatik indeks, maka semakin tinggi pula Tingkat Kematangan Gonad. Hal
ini disebabkan karena adanya proses vitelogenesis pada ikan. Rumus untuk
menghitung Hepatosomatik Indeks adalah :
HSI = (Bh / Bt) x 100%
Dengan keterangan :
HSI = Hepatosomatik Indeks
Bh = Bobot Hati
Bt = Bobot Tubuh
2.7 Fekunditas
Fekunditas ikan adalah jumlah telur pada tingkat kematangan terakhir yang
terdapat dalam ovarium sebelum terjadinya proses pemijahan. Nikolsky (1963)
berpendapat bahwa fekunditas yang menunjukkan jumlah telur yang berada dalam
gonad ikan sebagai fekunditas mutlak. Sedangkan jumlah telur persatuan berat atau
panjang ikan disebut sebagai fekunditas relatif. Fekunditas menunjukkan
kemampuan induk ikan untuk menghasilkan keturunan dalam pemijahan. Tingkat
keberhasilan suatu pemijahan ikan dapat dinilai dari persentase anak ikan yang
dapat hidup terus terhadap fekunditas (Sumantadinata, 1981).
Semua telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan disebut dengan
fekunditas. Tetapi Bagenal (1978) membedakan antara fekunditas yaitu jumlah
telur matang yang dikeluarkan oleh induk. Sedangkan menurut Hariati (1990),
fekunditas ialah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada waktu ikan memijah.
14

Fekunditas mempunyai hubungan dengan umur, panjang, atau bobot tubuh


dan spesies ikan. Penambahan bobot dan panjang ikan cenderung meningkatkan
fekunditas secara linear (Bagenal, 1978 ). Nikolsky (1963) menyatakan bahwa pada
umumnya fekunditas meningkat dengan meningkatnya ukuran pada ikan betina.
Semakin banyak makanan maka pertumbuhan ikan semakin cepat dan
fekunditasnya semakin besar.
Fekunditas pada setiap individu betina tergantung pada umur, ukuran,
spesies, dan kondisi lingkungan, seperti ketersediaan pakan (suplai makanan).
Djuhanda (1981) menambahkan bahwa besar kecilnya fekunditas dipengaruhi oleh
makanan, ukuran ikan dan kondisi lingkungan, serta dapat juga dipengaruhi oleh
diameter telur. Berikut beberapa metode perhitungan fekunditas:

1. Mengitung langsung satu persatu telur ikan


Perhitungan dilakukan secara manual dengan menghitung telur ikan yang keluar
dari ikan
2. Metode volumetrik
Metode volumetrik yaitu dengan pengenceran telur
X: x=V:v
Keterangan
X : Jumlah telur yang akan dicari
x : Jumlah telur dari sebagian gonad
V : Volume seluruh gonad
v : Volume sebagian gonad contoh

3. Metode gravimetrik
Perhitungan fekunditas telur dengan metode gravimetrik dilakukan dengan
cara mengukur berat seluruh telur yang dipijahkan dengan teknik pemindahan air.
Selajutnya telur diambil sebagian kecil ditimbang bobotnya dan jumlah telur
dihitung dengan rumus sebagai berikut :
F=G/g.n
15

Dengan keterangan:
F : fekunditas jumlah total telur dalam gonad
G : bobot gonad setiap ekor ikan
g : bobot sebagian gonad
n : jumlah telur dari

4. Metode gabungan
Merupakan perhitungan fekunditas dengan menggabungkan metode
gravimetrik dan volumetrik. Dihitung dengan rumus :

F=

Dengan keterangan
F : Fekunditas
G : Berat gonad total
V : Volume pengenceran
X : Jumlah telur yang ada dalam 1 cc
Q : Berat telur contoh
16

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum maturasi ikan komet dilaksanakan pada hari Jumat, 10 Maret
2017 hingga Jumat, 28 April 2017 yang bertempat Laboratorium Manajemen
Sumberdaya Perairan, Gedung Dekanat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat Praktikum
Tabel 2. Alat yang digunakan dalam praktikum
Nama Alat Fungsi
Akuarium Sebagai tempat pemeliharaan ikan komet
Instalasi aerasi Sebagai sumber oksigen bagi ikan
Untuk menimbang pakan komersil dan bobot
Timbangan analitik
ikan
Alat Bedah Untuk membedah ikan komet
Baki Untuk menyimpan peralatan bedah
Sebagai tempat menaruh ikan sebelum ikan
Baskom
dipindahkan ke akuarium
Mangkuk Sebagai wadah untuk mencampur pakan
Mikroskop Untuk mengamati perkembangan telur
Untuk menutup objek yang diamati di bawah
Cover Glass
mikroskop
Object Glass Sebagai wadah untuk mengamati sampel
Botol spray Untuk menyemprot hormon pada pakan
Sendok Untuk mengambil pakan
Alat tulis Untuk mencatat segala informasi
Kamera digital Sebagai alat dokumentasi
17

3.2.2 Bahan Praktikum


Tabel 3. Bahan yang digunakan dalam praktikum
Nama Bahan Fungsi
Induk betina ikan komet Sebagai ikan uji/target
Hormon 17- Metil Hormon yang digunakan untuk mempercepat
Testosteron kematangan gonad
Sumber makanan ikan yang akan ditambahkan
Pakan komersil (PF 800)
dengan hormon 17- Metil Testosteron
Untuk mengencerkan hormon 17- Metil
Aqua injection
Testosteron
Larutan Sierra Sebagai larutan yang diteteskan pada telur

3.3 Tahapan Praktikum


3.3.1 Persiapan Praktikum
Persiapan Alat dan bahan praktikum Maturasi adalah sebagai berikut :
Aquarium dibersihkan dan diisi air bersih sebanyak 2/3 bagian
Aerasi dipasang dan dipastikan instalasi aerasi berfungsi dengan baik
Ditimbang bobot ikan uji
Ditimbang bobot pakan yang diperlukan
Diukur Hormon 17- Metil Testosteron yang diperlukan

3.3.2 Pelaksanaan Praktikum


1. Pembuatan pakan uji
Pakan ditimbang sesuai dengan yang dibutuhkan
Diukur Hormon 17- Metil Testosteron yang diperlukan
Hormon 17- Metil Testosteron dimasukkan kedalam botol spray lalu
diencerkan
Hormon 17- Metil Testosteron disemprotkan pada pakan secara merata.
Pakan uji dikeringkan dengan cara diangin-anginkan
Pakan uji disimpan kedalam freezer dengan suhu dibawah 0C sampai
pakan dibutuhkan
18

2. Pemeliharaan Induk Komet


Induk ikan diberi pakan harian sebanyak 3% dari bobot tubuh ikan
dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari.
Sisa pakan dan sisa metabolisme ikan dibersihkan untuk pemeliharaan
kualitas air pada akuarium percobaan

3. Prosedur praktikum Gametogenesis


Ditimbang bobot ikan.
Ikan kemudian dibedah.
Diambil dan ditimbang gonad ikan.
Dipotong gonad ikan dengan ketebalan tertentu.
Potongan gonad dimasukkan ke atas object glass.
Potongan gonad ditetesi dengan larutan sierra kemudian ditutup
menggunakan cover glass.
Diamati gonad menggunakan mikroskop.

3.4 Metode
Praktikum Maturasi pada Ikan Komet dengan Menggunakan Pakan yang
Diperkaya oleh 17 Metil Testosteron (Maturasi dan Gametogenesis) ini
menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL)
dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu :

Perlakuan A : Pemberian hormon 17 0 mg


Perlakuan B : Pemberian hormon 17 2 mg
Perlakuan C : Pemberian hormon 17 4 mg
Perlakuan D : Pemberian hormon 17 6 mg
3.5 Parameter yang Diamati
3.5.1 Diameter Telur
Pengamatan diameter telur dilakukan dibawah mikroskop dengan
mengamati diameter telur yang diambil dari sebagian telur yang diamati.
Perhitungan diameter telur dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut :
19

X rata-rata = xi/n
Dengan keterangan :
xi = diameter telur yang diamati
n = jumlah telur yang diamati
3.5.2 Persentase Tingkat Kematangan Telur Ikan
Kematangan telur ikan diamati dengan melihat letak inti telur ikan dari
masing-masing telur yang diamati. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :


TKT fase vitelogenik = x 100 %


TKT fase awal matang = x 100%


TKT fase matang = x 100 %

3.5.3 Indeks Kematangan Gonad


Indeks kematangan Gonad dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
IKG = Bg / Bt X 100 %
Dengan Keterangan
: IKG = Indeks Kematangan Gonad
Bg = Berat gonad ikan dalam gram
Bt = Berat tubuh dalam gram
3.5.4 Hepatosomatik Indeks
Perhitungan hepatosomatik indeks dilakukan dengan rumus sebagai
berikut :

= %

Dengan keterangan :
Bh = Berat hati (gram)
Bt = Berat Tubuh (gram)
20

3.5.5 Fekunditas Ikan


Fekunditas ikan dihitung dengan rumus sebagai berikut :

F=

Dengan keterangan:
F = Jumlah telur di dalam gonad yang akan dicari (Fekunditas)
W = Berat seluruh gonad
w = Berat sampel sebagian kecil gonad
n = Jumlah telur dari sampel sebagian kecil gonad (w)

3.5.6 Analisis Data


Data hasil pengamatan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar dan
kemudian dianalisis dengan analisis sidik ragam uji F dengan taraf kepercayaan
95 % untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon 17- Metil Testosteron pada
pakan terhadap diameter telur TKT, IKG, TKG dan fekunditas ikan komet. Jika
terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada
taraf kepercayaan 95%. Hasil analisis data kemudian dibahas secara deskriptif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
berat Hormon TKT
perlaku ikan yang diamet bobot
Kel berat ikan fekunditas vitelo awal
GSI HSI
an dibed digunak er gonad matang
ah an gen matang

1 Kontrol 25 23,66 0 29,7 1,34 3618 15 6 9 5,36 0,48

2 2 mg/kg 43,1 25 0,0002 - 0,26 52 0 0 0 1,04 0,32

3 4 mg/kg 18 16 0,0004 - 0,12 0 - - - 3,83 0,16

4 6 mg/kg 43,8 32,54 0,0006 - 1,25 687,5 - - - 3,8 0,4

5 kontrol 28,18 - 0,47 - - - 1,69 0,32

6 2 mg/kg 19,32 15,18 0 - 0,26 793 17,8 17,85 25,3 1,71 0,13

7 4 mg/kg 20,68 27,47 0,0004 - 0,52 0 0 0 0 1,89 0,44

8 6 mg/kg 19,4 18,03 0,0006 - 0,41 0 0 0 0 2,27 0,5

9 kontrol 38,9 21, 35 0 0 1,12 0 0 0 0 5,24 0,79

10 2 mg/kg 48 98 0,0002 50,2 2,94 111.720 1 4 25 3 0,11

11 4 mg/kg 20,13 27,05 0,0004 40 0,73 118,625 9 11 10 2,7 0,33

12 6 mg/kg 27,18 25,45 0,0006 - 0,36 0 0 0 0 1,32 0,4

21
22

4.1.1 Pengaruh Perbedaan Pakan Komersil yang Diperkaya oleh 17 Metil


Testosteron dengan Dosis yang Berbeda terhadap Tingkat
Kematangan Telur dalam Proses Maturasi

Praktikum yang dilakukan oleh beberapa kelompok dihasilkan data sebagai


berikut:
Tabel 4. Hasil pengamatan Tingkat Kematangan Telur Vitelogenin Kelas

Ulangan
Perlakuan Rata-rata Jumlah
1 2 3
Kontrol 1809 0 0 603.00 1809.00
2 mg 0 143 4 49.00 147.00
4 mg 0 0 36 12.00 36.00
6 mg 0 0 0 0.00 0.00
Total 1809 143 40 664.00 1992.00

FK = 330672.00
JKT = 2963570.00
JKP = 767790.00
JKG = 2195780.00

Analisis Sidik Ragam

F tab
SK db JK KT F hit
0.05
PERLAKUAN 3 767790.00 255930.00
GALAT 8 2195780.00 274472.50 0.93 4.07
TOTAL 11 2963570.00

Kesimpulan :
Terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan pada taraf uji 5% (F
hitung < F tabel).
Tabel 5. Hasil pengamatan Tingkat Kematangan Telur Awal Matang Kelas

Ulangan
Perlakuan Rata-rata Jumlah
1 2 3
Kontrol 723 0 0 241.00 723.00
2 mg 0 143 15 52.67 158.00
4 mg 0 0 42 14.00 42.00
23

6 mg 0 0 0 0.00 0.00
Total 723 143 57 307.67 923.00

FK = 70994.08333

JKT = 474172.9167

JKP = 112158.25

JKG = 362014.6667

Tabel Analisis Sidik Ragam


F tab
SK db JK KT F hit
0.05
PERLAKUAN 3 112158.25 37386.08
GALAT 8 362014.67 45251.83 0.83 4.07
TOTAL 11 474172.92

Kesimpulan :
F hitung < F tabel = Terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan
pada taraf uji 5% (F hitung < F tabel).
Tabel 6. Hasil pengamatan Tingkat Kematangan Telur Matang Kelas

Ulangan
Perlakuan Rata-rata Jumlah
1 2 3
Kontrol 1085 0 0 361.67 1085.00
2 mg 0 198 93 97.00 291.00
4 mg 0 0 39 13.00 39.00
6 mg 0 0 0 0.00 0.00
Total 1085 198 132 471.67 1415.00

FK = 166852.0833

JKT = 1059746.917

JKP = 254290.25

JKG = 805456.6667
24

Tabel Analisis Sidik Ragam

F tab
SK db JK KT F hit
0.05
PERLAKUAN 3 254290.25 84763.42
GALAT 8 805456.67 100682.08 0.84 4.07
TOTAL 11 1059746.92

Kesimpulan :
F hitung < F tabel = Terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan
pada taraf uji 5%.

4.1.2 Pengaruh Perbedaan Pakan Komersil yang Diperkaya oleh 17 Metil


Testosteron dengan Dosis yang Berbeda terhadap GSI dan HSI dalam
Proses Maturasi

Praktikum yang dilakukan oleh beberapa kelompok dihasilkan data


sebagai berikut:
Tabel 7. Hasil Pengamatan Gonado Somatik Indeks (GSI) Kelas

Ulangan
Perlakuan Rata-rata Jumlah
1 2 3
Kontrol 5.36 1.69 5.24 4.10 12.29
4 mg 1.04 1.71 3 1.92 5.75
6 mg 3.83 1.89 2.7 2.81 8.42
8 mg 3.8 2.27 1.324 2.46 7.394
Total 14.03 7.56 12.264 11.28467 33.854

FK = 95.50777633

JKT = 23.41809967

JKP = 7.716969

JKG = 15.70113067

Tabel Analisis Sidik Ragam

F tab
SK db JK KT F hit
0.05
PERLAKUAN 3 7.72 2.57
1.31 4.07
GALAT 8 15.70 1.96
25

TOTAL 11 23.42

Kesimpulan :
F hitung < F tabel = Terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan
pada taraf uji 5%.
Tabel 8. Hasil Pengamatan Hepatosomatik Indeks Kelas

Ulangan
Perlakuan Rata-rata Jumlah
1 2 3
Kontrol 0.49 0.32 0.79 0.53 1.599
4 mg 0.32 0.13 0.11 0.19 0.56
6 mg 0.17 0.44 0.33 0.31 0.937
8 mg 0.4 0.5 0.4 0.43 1.3
Total 1.377 1.389 1.63 1.465333 4.396

FK = 1.610401333

JKT = 0.387348667

JKP = 0.202388667

JKG = 0.18496

Tabel Analisis Sidik Ragam

F tab
SK db JK KT F hit
0.05
PERLAKUAN 3 0.20 0.07
GALAT 8 0.18 0.02 2.92 4.07
TOTAL 11 0.39

Kesimpulan :
F hitung < F tabel = Terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan
pada taraf uji 5%.
26

4.1.3 Pengaruh Perbedaan Pakan Komersil yang Diperkaya oleh 17 Metil


Testosteron dengan Dosis yang Berbeda terhadap Bobot Gonad dan
Fekunditas dalam Proses Maturasi (dalam 5 gr ikan sampel)

Praktikum yang dilakukan oleh beberapa kelompok dihasilkan data


sebagai berikut:
Tabel 9. Bobot gonad per 5 gr berat ikan sampel

Ulangan
Perlakuan Rata-rata Jumlah
1 2 3
Kontrol 0.28 0.08 0.26 0.21 0.62
4 mg 0.05 0.09 0.15 0.10 0.29
6 mg 0.04 0.09 0.13 0.09 0.26
8 mg 0.19 0.11 0.07 0.12 0.37
Total 0.56 0.37 0.61 0.51 1.54

FK = 0.197633333

JKT = 0.067566667

JKP = 0.0267

JKG = 0.040866667

Tabel Analisis Sidik Ragam

F tab
SK db JK KT F hit
0.05
PERLAKUAN 3 0.03 0.01
GALAT 8 0.04 0.01 1.74 4.07
TOTAL 11 0.07

Kesimpulan :
F hitung < F tabel = Terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan
pada taraf uji 5%.
Tabel 10. Fekunditas per 5 gr berat ikan sampel

Ulangan
Perlakuan Rata-rata Jumlah
1 2 3
Kontrol 765 0 0 255.00 765.00
4 mg 0 261 6 89.00 267.00
6 mg 0 0 22 7.33 22.00
27

8 mg 106 0 0 35.33 106.00


Total 871 261 28 386.67 1160.00

FK = 112133.3333

JKT = 552968.6667

JKP = 110611.3333

JKG = 442357.3333

Tabel Analisis Sidik Ragam

F tab
SK db JK KT F hit
0.05
PERLAKUAN 3 110611.33 36870.44
GALAT 8 442357.33 55294.67 0.67 4.07
TOTAL 11 552968.67

Kesimpulan :
F hitung < F tabel = Terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan
pada taraf uji 5%.

4.1.4 Pengaruh Perbedaan Pakan Komersil yang Diperkaya oleh 17 Metil


Testosteron dengan Dosis yang Berbeda terhadap Diameter Telur
dalam Proses Maturasi

Tabel 11. Hasil Pengamatan Diameter Telur Kelas

Ulangan
Perlakuan Rata-rata Jumlah
1 2 3
Kontrol 29.7 0 0 9.90 29.70
4 mg 0 0 50.2 16.73 50.20
6 mg 0 0 40 13.33 40.00
8 mg 0 0 0 0.00 0.00
Total 29.7 0 90.2 39.97 119.90

FK = 1198.000833

JKT = 3804.129167
28

JKP = 469.3758333

JKG = 3334.753333

Tabel Analisis Sidik Ragam

F tab
SK db JK KT F hit
0.05
PERLAKUAN 3 469.38 156.46
GALAT 8 3334.75 416.84 0.38 4.07
TOTAL 11 3804.13

Kesimpulan :
F hitung < F tabel = Terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan
pada taraf uji 5%.

4.2 Pembahasan Kelompok


4.2.1 Indeks Kematangan Gonad
Indeks kematangan gonad atau Gonad somatik indeks (GSI) merupakan
berat gonad ikan dalam gram (Bg) dibagi dengan berat tubuh dalam gram (Bt) dikali
100 % maka akan didapatkan hasil indeks kematangan gonad ikan perlakuan.
Gonadosomatik indeks (GSI) merupakan salah satu aspek yang memiliki peran
penting dalam biologi perikanan, dimana nilai IKG digunakan untuk memprediksi
kapan ikan tersebut akan siap memijah. Nilai GSI tersebut akan mencapai batas
kisaran maksimum p saat akan terjadinya pemijahan. Pemijahan sebagai salah satu
bagian dari reproduksi merupakan mata rantai daur hidup yang menentukan
kelangsungan hidup spesies. Indeks kematangan gonad dengan persentase terbesar
yaitu pada kelompok 1 sebesar 5,36 % dan yang terkecil yaitu pada kelompok 2
sebesar 1,04%. Sedangkan pada kelompok 10 GSI yang didapat yaitu sebesar 3 %
dengan perlakuan 2 mg/kg bobot.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi perbedaan gonad tersebut antara
lain suhu dan makanan, tetapi secara relatif perubahannya tidak besar dan di
wilayah tropis gonad dapat masak lebih cepat. Kualitas pakan yang diberikan harus
mempunyai komposisi khusus yang merupakan faktor penting dalam mendukung
keberhasilan proses pematangan gonad dan pemijahan. Indeks Kematangan Gonad
29

akan semakin meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat
terjadi pemijahan. Terkadang IKG dihubungkan dengan Tingkat Kematangan
Gonad (TKG) yang pengamatannya berdasarkan ciri-ciri morfologi kematangan
gonad, sehingga akan tampak hubungan antara perkembangan di dalam dengan di
luar gonad. Nilai IKG akan sangat bervariasi setiap saat tergantung pada macam
dan pola pemijahannya. Berdasarkan tabel hasil pengamatan, persentase terbesar
berada pada kelompok kontrol dan nilai terkecil berada pada kelompok dengan
dosis hormon sebesar 2 mg/kg bobot. Nilai tabel anova menunjukkan bahwa tidak
terdapat perbedaan nyata antara perlakuan. Hal ini dapat disebabkan karena
pemberian pakan yang kurang teratur, akuarium yang kurang terjaga kualitas airnya,
pakan yang diberikan tidak dimakan oleh ikan, frekuensi pemberian pakan yang
kurang tepat dan faktor stres ikan.

4.2.2 Hepatosomatik Indeks


Hepatosomatik indeks merupakan rasio perbandingan antara bobot hati
dengan bobot tubuh ikan dikalikan dengan 100 %. Hepatosomatik indeks dapat
dihubungkan dengan tingkat kematangan gonad karena proses vitelogenesis yang
melibatkan organ hati. Hati merupakan tempat terjadinya proses vitelogenesis. Nilai
yang diperoleh oleh kelompok 10 yaitu 0,11 %. Nilai ini merupakan nilai terendah
dibandingkan dengan kelompok-kelompok lainnya. Nilai tertinggi diperoleh
kelompok 9 yaitu bernilai 0,79 %.

Proses vitelogenesis secara alami dapat dipengaruhi oleh sinyal-sinyal


lingkungan seperti fotoperiod, suhu, nutrisi dari makanan, dan faktor sosial.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah diperoleh, nilai terbesar berada pada
kelompok 9 yang merupakan perlakuan kontrol sedangkan nilai terkecil ada pada
kelompok 10 dengan perlakuan hormon 2 mg/kg. Penyebab hal ini dapat
disebabkan karena pemberian pakan ikan yang kurang teratur sehingga dapat
mengurangi laju proses vitelogenesis pada ikan.

4.2.3 Diameter Telur


Hasil pengamatan yang diperoleh oleh kelompok 10 dengan menggunakan
mikroskop yaitu diameter rata-rata telur sebesar 1,225 mm yang didapatkan dari
30

diameter telur yang diamati dibagi dengan jumlah telur yang diamati. Kelompok
dengan diameter rata-rata telur yang terdata yaitu pada kelompok 11 sebesar 40 m
dan kelompok 1 sebesar 27m . Kebanyakan kelompok lainnya masih memiliki
TKG yang rendah sehingga belum ada telur yang dihasilkan. Menurut para ahli,
kualitas telur dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
Faktor internal meliputi umur induk, ukuran induk dan genetik. Faktor eksternal
meliputi pakan, suhu, cahaya, kepadatan dan populasi. Genetika induk ikan juga
akan mempengaruhi mutu telur yang akan dihasilkan. Dua faktor internal non
genetik yang mempengaruhi mutu telur dan keturunan ikan yang penting adalah
umur induk dan ukuran tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ikan betina
yang memijah untuk pertama kali menghasilkan telur berukuran kecil. Diameter
telur meningkat dengan jelas untuk pemijahan kedua dan laju peningkatan ini lebih
lambat pada pemijahan-pemijahan selanjutnya. Bobot telur lebih bergantung
kepada umur dibandingkan diameter telur. Hubungan antara umur induk betina
dengan ukuran telur adalah kuadrat dimana induk betina muda yang memijah untuk
pertama kali memproduksi telur-telur berukuran kecil, induk betina yang berumur
sedang menghasilkan telur-telur berukuran besar dan induk betina yang sudah tua
kembali menghasilkan telur berukuran kecil
Perbedaan ukuran diameter telur tersebut disebabkan oleh mutu pakan yang
diberikan kepada induk, baik protein, lemak maupun unsur mikronutrien,
sedangkan komponen utama bahan baku telur adalah protein, lipida, karbohidrat
dan abu. Induk ikan induk yang pakannya ditambah vitamin E menghasilkan
diameter telur rata-rata lebih besar bila dibandingkan dengan yang tanpa diberi
vitamin E. Berdasarkan hasil yang diperoleh, terdapat perbedaan yang cukup jauh
dan bahkan masih ada indukan yang TKG-nya masih berupa perkembangan II
dimana belum ada telur yang dihasilkan. Hal ini dapat disebabkan karena
pemberian pakan yang kurang optimal pada masing-masing kelompok baik itu
waktu pemberian, frekuensi, dan kuantitas pakan.

4.2.4 Persentase Tingkat Kematangan Telur Ikan


Persentase tingkat kematangan telur ikan dibagi menjadi tiga fase, yaitu
tingkat kematangan fase vitelogenik, fase awal matang dan fase matang. Fase
31

vitelogenik didapatkan dari jumlah telur dengan inti di tengah dibagi jumlah telur
yang diamati dikali 100 %. Fase awal matang didapatkan dari jumlah telur dengan
inti tidak di tengah dibagi jumlah telur yang diamati dikali 100 % dan fase matang
didapatkan dari jumlah telur dengan inti yang melebur dibagi jumlah telur yang
diamati dikali 100 %. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan kelompok 10
terhadap 30 butir telur, 1 butir berada dalam fase vitelogenin yaitu sebesar 3,33 %,
4 butir dalam fase awal matang yaitu sebesar 13,33%, dan 25 butir pada fase matang
83,33%. Nilai ini diapat dikatakan cukup tinggi bila dibandingkan dengan
kelompok lain. Sebagian besar ikan yang diamati oleh beberapa kelompok masih
belum menghasilkan telur.
Mutu telur didefenisikan sebagai potensi telur untuk menyangga kehidupan
embrio yang ada didalamnya dan menopang kehidupan larva sebelum mendapatkan
makan dari luar. Beberapa indikator tentang mutu telur antara lain: warna telur yang
normal dengan abnormal dapat dilihat dari warnanya. Telur ikan komet yang baik
adalah transparan dan terang. Persentase tingkat kematangan akhir telur juga
dipengaruhi oleh kualitas sperma. Semakin baik kualitas spermatozoanya semakin
tinggi pula derajat pembuahannya. Kematangan akhir telur juga dipengaruhi dari
pakan yang diberikan kepada induk. Apabila pakan yang digunakan dalam
praktikum ditambahkan vitamin E, maka dapat meningkatkan kemungkinan untuk
mendapatkan kualitas telur yang baik karena penambahan vitamin E dalam pakan
sampai batas tertentu akan menghasilkan derajat tetas telur yang tinggi.Vitamin E
berfungsi sebagai pemelihara keseimbangan metabolik dalam sel dan sebagai anti
oksidan intraseluler. Komponen utama telur adalah kuning telur yang merupakan
sumber energi material bagi embrio yang sedang berkembang, jumlah dan mutu
kuning telur sangat menentukan keberhasilan perkembangan embrio dan pasca
embrio. Vitamin E yang diberikan dalam pakan induk mempunyai suatu peranan
penting dalam proses reproduksi, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas
telur, daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva.
32

4.2.5 Fekunditas
Fekunditas didapatkan dari berat seluruh gonad (W) dikalikan dengan
jumlah telur dari sampel sebagian kecil gonad (n) dibagi dengan berat sampel
sebagian kecil gonad (w) maka akan didapatkan hasil fekunditas dalam satuan butir.
Fekunditas yang didapat oleh kelompok 10 yaitu sebesar 111.720 butir. Fekunditas
terbesar diperoleh kelompok 11 dengan nilai 118.625 butir. Persentase derajat
pembuahan yang tinggi selain dipengaruhi persentase kematangan akhir telur juga
dipengaruhi oleh kualitas sperma. Semakin tinggi persentase kematangan akhir dan
semakin baik kualitas spermatozoanya semakin tinggi pula derajat pembuahannya.
Kematangan akhir telur juga dipengaruhi dari pakan yang diberikan kepada induk.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fekunditas serta hal-hal lain yang
berhubungan dengan itu Nikolsky (1969) membuat kaidah utama sebagai berikut :
a. Sampai umur tertentu fekunditas itu akan bertambah kemudian menurun lagi,
fekunditas relatifnya menurun sebelum terjadi penurunan fekunditas mutlaknya.
b. Fekunditas mutlak atau relatif sering yang terjadi kecil pada ikan-ikan atau kelas
umur yang jumlahnya banyak, terjadi untuk spesies yang mempunyai perbedaan
makanan diantara kelompok ukuran.
c. Pengukuran fekunditas terbanyak dalam persediaan makanan berhubungan
dengan telur yang dihasilkan oleh ikan yang cepat pertumbuhannya, lebih
gemuk dan lebih besar.
d. Ikan yang bentuknya kecil dengan kematangan gonad lebih awal serta
fekunditasnya tinggi mungkin disebabkan oleh kandungan makanan dan
predator dalam jumlah besar.
e. Fekunditas disesuaikan secara otomatis melalui metabolisme yang mengadakan
reaksi terhadap perubahan persediaan makanan dan menghasilkan perubahan
dalam pertumbuhan.
f. Fekunditas bertambah dalam mengadakan respon terhadap perbaikan makanan
melalui kematangan gonad yang terjadi lebih awal.
g. Kualitas telur terutama isi kuning telur bergantung kepada umur dan persediaan
makanan dan dapat berbeda dari satu populasi ke populasi yang lain.
33

Terdapat beberapa kelompok yang memiliki nilai fekunditas 0. Hal ini


disebabkan karena masih rendahnya Tingkat Kematangan Gonad dari ikan yang
diamati oleh kelompok-kelompok tersebut.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Maturasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mempercepat
kematangan gonad ikan. Kegiatan maturasi dapat dilakukan dengan menggunakan
hormon 17- Metiltestosteron. Dosis hormon 17- Metiltestosteron yang tepat bila
dilihat dari hasil praktikum yaitu dengan dosis 4mg/kg bobot tubuh ikan.

5.2 Saran
Adapun saran-saran yang dapat diberikan pada praktikum kali ini yaitu :
Praktikan seharusnya menjaga kualitas air dari ikan uji agar tidak
menimbulkan faktor stress
Pemberian pakan harus dilakukan secara teratur sesuai dengan ketentuan
yang telah diberikan
Perhitungan dosis hormon dan pakan yang diperlukan harus dilakukan
secara teliti

34
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R., dan Tang, U. 2002. Fisiologi Hewan Air.University Riau Press. Riau.
217 p.
Arief, F. A. (2009). Aspek biologi Pertumbuhan, Reproduksi dan Kebiasaan Makan
Ikan Selar Kuning. diakses pada 28 mei 2017: http://scribd.com
Bagenal, T.B. and E. Braum, 1968. Eggs and Early Life History, dalam W.E. Ricker
ed. Methods for Assesments of Fish production in Fresh Water. Blackwell
Scientific Publication, p 159 181
Bagenal, T.B. 1978. Aspects of fish fecundity, In: Gerking, SD (ed). Methods of
Assessment of Ecology of Freshwater Fish Production. Blackwell Scientific
Publications, London, pp.75-101.
Bowen, R. 24 2006. Growth Hormone (Somatotropin). Colostate
Djuhanda, T. 1981 dan Murtdjo M 2002. Morfologi Ikan. Jakarta : Gramedia
Effendie, M. I. (2002). Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara
Goenarso. (2005). Fisiologi Hewan. Jakarta: Universitas Terbuka
Gursina. (2008). Budidaya Ikan. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan
Hadiaty, R.K., 2000. Beberapa Aspek Biologi Ikan Osteochilus jeruk H&S. Berita
Biologi, Vol. 5, No.2: 151-156, August 2000
Hidayat, Rezi. 2010. Efektivitas Spawnprim pada Proses Ovulasi dan Pemijahan
Ikan Komet Carassius Auratus. Institut Pertanian Bogor
Kusmini. 2001. The documents of releasing GI Macro. Research Institute For
Freshwater Fisheries. 11 p.
Lingga, P., & Heru S. (1995). Ikan Hias Air Tawar. Jakarta: Penebar Swadaya
Nikolsky, G. V. 1963. The Ecology of Fishes. Translated By L. Birkett. Academic
Press
Permadi. (2009). Teknologi Reproduksi (Spawning) dalam Pembenihan Ikan.
Bandung: Institut Teknologi Bandung

35
36

LAMPIRAN
37

Lampiran 1. Alur Pelaksanakan Praktikum


1. Persiapan alat dan bahan

Dibersihkan aquarium, diisi 2/3 dengan mengunakan


air

Dipasang dan dipastikan instalasi aerasi berfungsi


dengan baik

Ditimbang bobot ikan uji

Ditimbang bobot pakan yang diperlukan

Diukur dosis hormon yang digunakan

Diencerkan hormon dengan aqua injection

Dimasukkan hormon ke dalam botol spray


38

2. Pembuatan pakan uji

Ditimbang pakan yang dibutuhkan

Pakan diletakkan pada wadah

Pakan disemprotkan dengan hormon 17-


Metiltestosteron

Pakan diangin-anginkan

Pakan dimasukkan ke dalam kulkas dengan suhu


dibawah 0oC

3. Pemeliharaan hewan uji

Induk ikan diberi pakan harian sebanyak 3% dari bobot


tubuh ikan dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali
sehari.

Akuarium dibersihkan secara rutin untuk menjaga


kualitas air
39

4. Pengamatan gametogenesis

Ikan uji ditimbang

Ikan uji dibedah

Diambil dan ditimbang gonad ikan uji

Dipotong gonad dengan ketebalan tertentu

Dimasukkan potongan gonad kedalam object glass

Ditetesi dengan larutan sierra kemudian ditutup cover


glass

Diamati dibawah mikroskop


40

Lampiran 2. Alat dan Bahan

Timbangan Nampan

Gelas ukur Wadah

Hormon 17- metiltestosteron


Sendok

Botol Spray Ikan komet


41

Petri disk Pinset

Lampiran 3. Dokumentasi Kegiatan Praktikum


Maturasi

Pencucian Akuarium Penimbangan ikan

Penimbangan pakan Pengukuran hormon


42

Memasukkan hormon Persiapan penyemprotan

Penyemprotan pakan Pembagian pakan

Memasukkan ikan
43

Gametogenesis

Penimbangan ikan Pemingsanan ikan

Pembedahan ikan Penimbangan gonad

Penimbangan hati Hasil pengamatan telur