Anda di halaman 1dari 24

STUDI SIKUEN STRATIGRAFI BERDASARKAN DATA SEISMIK DAN WELL

LOG

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Penelitian.

Sesuai dengan kurikulum yang ada di Jurusan Teknik Geologi , Fakultas


Teknologi Mineral, UPN Veteran Yogyakarta, tahun ajaran 2002/2003 setiap
mahasiswa dalam mencapai gelar kesarjanaan program pendidikan strata 1 harus
melaksanakan Skripsi yang topiknya sesuai dengan teori yang pernah didapatkan dalam
bangku kuliah serta dapat diaplikasikan ke dalam dunia lapangan pekerjaan.
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan minyak bumi dan menipisnya
jumlah cadangan yang tersedia, mendorong perusahaan-perusahaan minyak untuk lebih
meningkatkan usaha dalam pencarian sumber-sumber minyak yang baru ataupun
mengoptimalkan sumber-sumber minyak yang telah ada. Pemahaman mengenai kondisi
geologi bawah permukaan termasuk di dalamnya analisa stratigrafi sikuen mengambil
peranan yang penting dalam usaha peningkatan produksi ataupun pencarian sumber-
sumber minyak baru.
Kegiatan eksplorasi yang semula dilakukan pada daerah-daerah dengan sistem
jebakan konvensional yaitu jebakan struktural, akhir-akhir ini mulai diarahkan untuk
mencari jebakan-jebakan stratigrafi, terutama pada daerah daerah yang telah
ditinggalkan karena jebakan struktural di daerah itu sudah tidak mengandung atau
sedikit mengandung cadangan minyak.
Sehingga Kegiatan eksplorasi sangat dibantu dengan adanya analisa sekuen
stratigrafi, karena dengan analisa ini dapat mengetahui pelamparan dan penyebaran
litologi sehingga dapat menggambarkan keadaan reservoar daerah tersebut

Penyelidikan sekuen stratigrafi ini memanfaatkan data wireline log yang di


korelasikan dengan data seismik. Dimana data data tersebut mempunyai ketepatan
yang tinggi , hasil yang lebih detil dan akurat.

1.2. Maksud dan Tujuan Penelitian

1
Maksud dari pelaksanaan Skripsi ini adalah agar mahasiswa dapat mengenal dan
menguasai alat alat yang dipergunakan dalam pengambilan data dan analisa geologi
yang dipakai dalam perusahaan. Sehingga dapat mengkorelasikan dari hasil
pengamatan alat dengan analisa mahasiswa berdasakan teori yang didapat dari bangku
kuliah.

Tujuan dari Skripsi ini adalah agar. Kegiatan eksplorasi sangat dibantu dengan
adanya analisa sekuen stratigrafi, karena dengan analisa ini dapat mengetahui
pelamparan dan penyebaran litologi sehingga dapat menggambarkan keadaan reservoar
daerah tersebut

1.3. Tempat dan waktu penelitian

Lokasi daerah penelitian berada di daerah cirebon yang merupakan wilayah


konsesi pertamina

Waktu pelaksanaan penelitian selama 2 bulan di kiantor Pertamina DOH Jawa


Bagian Barat, Di mulai pada Febuari 2004 sampai denganmaret 2004

2
II. Tinjauan Pustaka
II.1. Wireline Log Untuk Kepentingan Korelasi

Wireline log telah umum digunakan dalam industri perminyakan dunia. Wireline
log bertujuan untuk mendapatkan data formasi berupa sifat sifat fisika, yang
digunakan dalam interpretasi litologi dari penampang sumur, serta parameter petrofisika
untuk penafsiran reservoir seperti porositas, permeabilitas, kejenuhan minyak dan lain-
lain.
Berikut ini adalah wireline log yang umum digunakan dalam evaluasi formasi (Harsono,
1997).
II.1.1. Log Sinar Gamma (Gamma Ray / GR Log)

Log Sinar Gamma adalah suatu kurva di mana kurva tersebut menunjukkan besaran
intensitas radioaktif yang ada dalam suatu formasi. Prinsip dasar dari pembuatan kurva
dari log sinar gamma ini adalah perekaman radioaktivitas alami bumi. Radioaktivitas
GR berasal dari tiga unsur utama, yaitu Uranium, Thorium dan Photasium, yang secara
terus menerus memancarkan GR dalam bentuk pulsa - pulsa energi tinggi yang
mampu menembus batuan. Pulsa inilah yang dideteksi oleh sensor pada alat log GR.
II.1.2. Log Spontaneous Potential (SP)

Log SP ini adalah rekaman perbedaan potensial listrik antara elektroda di permukaan
yang tetap, dengan elektroda yang terdapat dalam lubang bor yang bergerak naik turun.
Log ini sangat sensitif terhadap perubahan permeabilitas dan cukup baik dalam
membedakan pasir dan serpih yang tidak permeabel. Prinsip kerja log SP didasarkan
pada sifat kelistrikan dari formasi, yaitu beda potensial yang terukur pada saat arus
listrik dialirkan pada formasi.
II.1.3. Log Resistivitas

Log resistivitas adalah log yang digunakan untuk mengukur data resistivitas formasi
yang dilewati oleh alat selama pengukuran. Nilai resistivitas yang terukur dari
formasi sangat tergantung dari resistivitas serta jumlah air formasi yang ada dan
struktur geometri pori-pori formasi. Alat pengukur data resistivitas ini secara umum
dibagi menjadi tiga yaitu :

Laterolog

3
Untuk laterolog, arus yang dipancarkan jauh ke dalam, di luar zona invasi. Alat
ini terdiri dari dua bagian yang salah satunya berfungsi untuk mengukur resistivitas
jauh ke dalam formasi (LLD) dan yang mengukur bagian formasi yang dangkal
(LLS). Hasil pengukuran LLD dianggap sebagai nilai Rt formasi dan nilai
resistivitasnya terlebih dulu dikoreksi terhadap faktor - faktor yang
mempengaruhinya, seperti ukuran diameter lubang bor, resistivitas lumpur bor dan
resistivitas lapisan batuan pada temperatur formasi dan selanjutnya dikoreksi
terhadap pengaruh tebal lapisan dan pengaruh rembesan pada formasi.

Induksi
Prinsip pengukurannya adalah menimbulkan medan magnet di sekitar formasi yang
akhirnya menginduksi bagian formasi yang konduktif. Formasi yang telah terinduksi
selanjutnya akan menghasilkan suatu medan magnet sendiri yang dapat dideteksi
oleh detektor. Nilai Rt diperoleh dengan terlebih dahulu harus dibuat beberapa
koreksi pada pembacaan log ILD dan ILM terhadap pengaruh sumbu lubang bor dan
ketebalan lapisan.

Micro Spherical Focused Log (MSFL)


Prinsip dasar pengukuran dilakukan dengan bantalan elektroda khusus yang ditekan
pada dinding lubang bor dengan bantuan sebuah Caliper. Elektroda berfungsi
memancarkan, memfokuskan dan menerima kembali arus listrik. Pengukuran
resistivitas MSFL hanya beberapa inci ke dalam formasi sehingga masih termasuk
ke dalam daerah rembesan lumpur bor. Resistivitas hasil pengukuran ini harus
memperhatikan koreksi terhadap pengaruh lumpur bor. Hasil pengukuran ini dapat
dipakai untuk memperkirakan berapa jauh pengaruh lumpur bor terhadap
pengukuran resistivitas pada formasi.

II.1.4. Log Porositas (Densitas dan Neutron)

Log densitas FDC dan Neutron CNL digunakan untuk mengukur porositas. Prinsip
dasar pengukuran densitas adalah pengukuran hamburan elektron yang keluar dari
formasi sebagai efek tumbukan proton yang menabrak elektron penyusun batuan
formasi yang sedang diukur. Dari prinsip ini dapat diketahui bahwa densitas yang
terukur pada log sebenarnya adalah densitas elektron (jumlah elektron persatuan
volume). prinsip kerja log neutron adalah menembakkan atom ke formasi dengan

4
energi tinggi. Hasil pengukuran dinyatakan dalam porositas neutron dari formasi.
Contoh log neutron ini adalah Dual-Spacing Neutron (DSN) dan Compensated
Neutron Log (CNL).

II.2. Stratigrafi Sikuen


Stratigrafi sikuen merupakan cabang ilmu stratigrafi yang mempelajari fasies -
fasies yang berhubungan secara genetik di antara bidang kronostratigrafinya (Van
Wagoner,et al., 1990). Paket perlapisan yang dihasilkan disebut sikuen dan paket ini
dibatasi ketidakselarasan atau keselarasan yang setara dengannya.

II.2.1. Parameter Pengontrol Utama Pola Sedimentasi


Suatu rekaman sedimen akan menunjukkan pola geometri sedimen dan
arsiktektur lapisan tertentu. Parameter utama pengontrol pola sedimentasi tersebut
adalah faktor influks sedimen, menunjukkan banyak atau sedikitnya pasokan sedimen
dan faktor akomodasi yang merupakan perubahan potensial keruangan yang tersedia
bagi sedimentasi (Allen, 1997).
Faktor-faktor pengontrol pola stratigrafi adalah sebagai berikut :
1. Eustasi (perubahan muka laut global)
2. Tektonik
3. Suplai Sedimen

II.2.2. Pola-Pola Stratigrafi dan Siklus Sedimentasi


Rekaman sedimen yang terbentuk merupakan kombinasi dari banyaknya suplai
sedimen yang masuk ke cekungan dan besarnya ruangan yang tersedia.
Dengan demikian, rekaman stratigrafi selalu menunjukkan adanya pola :
regresi dan transgresi,
berulang (cyclic),
sikuen pengendapan dan ketidakselarasan.

II.2.2.1. Regresi dan Trangresi


Regresi menunjukkan pergerakan dari garis pantai menuju ke arah lautan
(seaward), sedangkan trangresi menunjukkan kecenderungan garis pantai ke arah
daratan (landward).

5
Pola regresi biasanya ditunjukkan dengan rekaman sedimen yang mengkasar ke
atas (coarsening upward) pada suatu sikuen pengendapan. Pola ini terbentuk karena
kecepatan rata-rata suplai sedimen yang masuk ke cekungan sedimentasi lebih besar
dari ruang yang tersedia (akomodasi).
Pola transgresi ditunjukkan dengan rekaman sedimen yang semakin menghalus
ke atas (fining upward). Pola ini terbentuk apabila kecepatan rata - rata suplai sedimen
relatif lebih kecil dari akomodasi. Secara model, pola regresi dan transgresi ini dapat
dilihat pada Gambar 2.1.

6
Gambar 21. Pola regresi dan transgresi sebagai fungsi pergeseran garis pantai
akibat perubahan akomodasi dan pasokan sedimen (Van Gorsel, 1987, part A)

II.2.2.2. Siklus Sedimentasi (sedimentary cycle)


Secara umum siklus sedimentasi dibagi menjadi dua berdasarkan proses yang
menyebabkannya (Beerhower, 1964, dalam Selley, 1985), yaitu :

1. Autocyclic sedimentation
Autocyclic sedimentation merupakan suatu siklus yang terjadi sebagai akibat dari
faktor-faktor yang berasal dari dalam cekungan sedimentasi, seperti : channel
migration, channel diversion, dan bar migration.
2. Allocyclic sedimentation
Allocyclic sedimentation merupakan suatu siklus yang terjadi sebagai akibat dari
faktor-faktor yang berasal dari luar cekungan sedimentasi, seperti : uplift
(pengangkatan), subsidence (penurunan), iklim, dan perubahan eustasi.

Gambar 2.2. Pembagian unit unit stratigrafi dalam konsep stratigrafi


sikuen bedasarkan ordenya (Van Gorsel, 1987, part A).

7
Di dalam hubungannya dengan eksplorasi dan eksploitasi hidrokarbon,
parasikuen merupakan unit stratigrafi dasar dalam korelasi yang bisa dipetakan sebagai
individual sandstone reservoir. Hal ini dimungkinkan karena batupasir endapan delta
atau pantai akan nampak nyata sebagai parasikuen - parasikuen yang terpisah di antara
marine shale yang menerus. Dengan demikian, penentuan parasikuen merupakan tahap
awal untuk menentukan unit stratigrafi yang lebih besar dalam hubungannya dengan
perubahan relative sea level (Allen, 1997).
II.2.3. Sikuen Pengendapan (depositional sequence) dan Ketidakselarasan
(unconformity)
Model sikuen pengendapan dari EPR (Exxon Production Research) adalah
sebagai berikut (Gambar 2.4.) :
- pengelompokan sedimen menjadi unit-unit yang saling berhubungan secara genetis,
dibatasi oleh ketidakselarasan,
- menunjukkan bagaimana perubahan dalam lingkungan pengendapan dan model
pengendapan yang terjadi, dihubungkan dengan perubahan muka air laut (eustasi)
dan penurunan cekungan (subsidence),
- menunjukkan bagaimana subaerial unconformity, marine condensed section, dan
interval pola trangresif regresif dalam hubungannya dengan waktu dan ruang,
- dalam satu siklus perubahan muka air laut yang komplit akan dijumpai system tracts
yaitu sikuen Lowstand Fan (LSF), Lowstand Wedge (LSW), Transgressive dan
Highstand,
- sikuen dan system tract terdiri dari kumpulan parasikuen.
Ada dua pendekatan dalam pembagian urutan stratigrafi menjadi sikuen
berdasarkan bidang batas sikuen bagian atas dan bawahnya. Kedua pendekatan tersebut
adalah pendekatan stratigrafi genetik (genetic stratigraphy) oleh Galloway dan
stratigrafi sikuen (sequence stratigraphy) oleh Vail, dkk (EPR.Co).
Stratigrafi genetik membagi urutan stratigrafi atas dasar maximum flooding
surface (MFS) dan condensed section (CS). Maximum flooding surface merupakan
flooding surface yang terbentuk pada kondisi transgresi maksimum. Satu urutan
stratigrafi genetik (genetic stratigraphy) merupakan satu sikuen yang dibatasi oleh
permukaan transgresif (transgressive surface).

8
Vail, dkk (EPR.Co) dalam Allen, 1997 dengan pendekatan stratigrafi sikuennya
membagi urutan stratigrafi atas dasar bidang ketidakselarasan (unconformity surface)
dan bidang keselarasan padanannya. Dengan demikian satu sikuen merupakan urutan
stratigrafi di antara dua bidang ketidakselarasan yang dihasilkan pada saat turunnya
muka air laut relatif (relative sea level fall).
Tipe sikuen pengendapan dapat dibedakan menjadi 2 tipe (Allen, 1997) yaitu:
a. tipe 1 : merupakan sikuen pengendapan yang terbentuk pada saat relative sea level
fall di garis pantai tanpa memperhatikan basin fisiography-nya. Sikuen atas dibatasi
oleh bidang ketidakselarasan ke arah daratan pada saat kondisi lowstand. Dengan
demikian tipe 1 sikuen pengendapan ini akan tersusun oleh lowstand system tract .
b. tipe 2 : merupakan sikuen pengendapan yang terbentuk tanpa adanya suatu relative
sea level fall. Sikuen pengendapan tipe ini merupakan suatu siklus regresif
-transgresif tanpa pengaruh dari lowstand system tract. Sikuen ini tidak dibatasi
oleh bidang ketidakselarasan. Batas sikuennya berada pada permukaan regresi
maksimum yang terletak pada batas antara pola tumpukan (stacking patterns) fasies
regresif dan trangresif.
Sekuen pengendapan tersusun oleh urutan satuan stratigrafi yang relatif selaras,
disebut systems tract, yaitu rangkaian pengendapan yang terjadi secara bersamaan.
Pembagian system tract berdasarkan atas tipe - tipe bidang batas (boundaries surface),
posisinya dalam satu pola tumpukan sedimen (stacking pattern), parasikuen dan set
parasikuen.
System tracts dibedakan menjadi tiga yaitu :
1). Lowstand System Tracts (LST)
Lowstand system tracts (LST) adalah sedimen yang diendapkan selama
muka laut, relatif turun, tetap atau naik, secara perlahan-lahan. LST ditandai oleh urutan
regresif. Batas bawah LST berupa batas sekuen tipe 1, berupa ketidakselarasan ke arah
darat dan keselarasannya yang sebanding ke arah laut. Batas atas LST berupa transgresif
surface, yaitu permukaan yang mewakili pendalaman laut secara tiba-tiba dengan
ditandai permulaan transgresif sesudah regresif dimana kecepatan muka laut relatif lebih
besar dari kecepatan pemasokan sedimen (Van Wagoner dkk.,1988).

9
Gambar 2.3. : Model pengendapan sikuen tipe 1 (atas) yang terbentuk di cekungan
dengan shelf break dan tipe 2 (bawah) pada shelf (Van Wagoner, et al., 1990)

Pembentukan LST terbagi menjadi fase awal dan fase akhir. Fase awal terbentuk
ketika muka laut relatif turun sehingga garis pantai mengalami regresi cepat dan terjadi
penorehan lembah pada daratan pantai. Tipe endapan yang dihasilkan selama fase ini
adalah Lowstand fan Systems Tract.
Pada akhir LST terbentuk ketika muka laut relatif tetap dan naik perlahan-lahan
sehingga garis pantai mengalami regresi normal dan terjadi agradasi pada torehan

10
lembah. Tipe endapan yang dihasilkan selama fase ini adalah Lowstand Wedge Systems
Tract.
2). Trangresive System Tracts (TST)
Transgresif System Tract (TST) adalah sedimen yang diendapkan selama
kecepatan naiknya muka laut relatif lebih besar daripada kecepatan pemasokan sedimen.
TST ditandai dengan parasekuen yang berpindah ke arah darat atau retrogradasional.
Batas bawah TST berupa transgresif surface. Batas atasnya adalah maksimum flooding
surface (MFS), yaitu permukaan yang mewakili transgresif maksimum ke arah darat.
MFS membatasi parasekuen retrogradasional dan agradasional di atasnya. Endapan TST
dari darat ke laut berupa endapan fluvial yang tipis, endapan dataran pantai yang luas,
endapan tertinggal akibat proses lanjut dan lempung laut. Endapan berbutir halus di
lingkungan laut ini disebut condensed section, yaitu endapan yang terdiri dari sedimen
pelagis dan hemipelagis yang tipis, diendapkan secara lambat dalam waktu geologi yang
panjang (Loutit,1988).
3). Highstand System Tracts (HST)
Highstand systems tract (TST) adalah sedimen yang diendapkan selama
kecepatan naiknya muka laut relatif lebih kecil daripada kecepatan pemasokan sedimen,
HST dapat terbentuk selama akhir muka laut relatif naik, tetap atau awal muka laut
relatif turun. HST ditandai oleh urutan regresif. Batas bawah HST berupa MFS dan
batas atasnya berupa batas sekue tipe 1 atau tipe 2. Fase awal HST ditandai oleh
penumpukan parasekuen agradasional, sedangkan fase akhir HST ditandai oleh
penumpukan parasekuen progradasional.

11
Gambar 2.4. Ilustrasi sekuen, sistem tract dan parasekuen (Van Gorsel, 1987 part A)

II.2.3.1.Parasikuen Set
Parasikuen set adalah rangkaian yang relatif selaras dari parasikuen yang saling
berhubungan secara genetis dan membentuk stacking pattern yang jelas dan dibatasi
oleh major-marine flooding surface atau permukaan yang sebanding dengannya (Van
Wagoner dkk, 1990). Stacking pattern parasikuen dalam parasikuen set bisa
menunjukkan progradational, retrogradational atau agradational tergantung dari
perbandingan antara tingkat pengendapan dengan ruang pengendapan yang terbentuk.
1. Progradational
Dalam progradational parasikuen set, parasikuen yang lebih muda diendapkan
lebih jauh ke dalam cekungan. Dalam satu parasikuen, biasanya terendapkan facies
pengendapan yang lebih dangkal daripada fasies dalam parasikuen sebelumnya. Secara
umum, hal ini akan menghasilkan kenampakan pendangkalan ke atas dalam parasikuen
set. Model pengendapan seperti ini terjadi apabila tingkat pengendapan lebih besar
daripada ruang pengendapan yang terbentuk.

12
2. Aggradational
Dalam aggradational parasikuen set, parasikuen yang lebih muda diendapkan
dalam posisi yang sama dengan parasikuen yang terletak di bawahnya. Demikian pula
fasies yang terendapkan dalam parasikuen di atas maupun di bawahnya tidak ada
perbedaan. Hal ini diinterpretasikan bahwa kedalam air pada saat pengendapan fasies
tidak berubah. Model pengendapan seperti ini terjadi apabila tingkat pengendapan
sebanding atau hampir sama dengan ruang pengendapan yang terbentuk.
3. Retrogradational
Dalam retrogradational parasikuen set, parasikuen yang lebih muda diendapkan
jauh ke arah darat daripada parasikuen sebelumnya. Dalam tiap parasikuen, terendapkan
fasies yang lebih dalam daripada fasies yang terendapkan dalam parasikuen
dibawahnya. Adanya perubahan fasies secara vertikal ini menunjukkan adanya proese
pendalaman ke arah atas. Model pengendapan seperti ini terjadi apabila ruang
pengendapan yang terbentuk melebihi tingkat pengendapan.
II.2.3.2. Parasikuen
Van Wagoner dkk (1990) mendefinisikan parasikuen sebagai suatu urutan
perlapisan batuan yang relatif selaras dan saling berhubungan secara genetis, dan
permukaannya dibatasi oleh marine-flooding surface atau bidang lain yang sebanding
dengannya. Marine-flooding surface adalah bidang permukaan yang memisahkan
lapisan batuan yang berumur tua dengan lapisan batuan yang lebih muda dan
menunjukkan adanya perubahan kedalaman air secara mendadak.

13
Gambar 2.5. Pola tumpukan parasikuen (parasequence stacking pattern) di dalam set
parasikuen
(Van Wagoner, et al.,1990)

Parasequence boundaries dapat terbentuk karena tiga macam mekanisme, yaitu :


a. Pertambahan kedalaman air secara cepat karena adanya proses kompaksi pada
prodelta mudstone pada lingkungan delta.
b. Kenaikan muka air laut secara cepat karena adanya penurunan cekungan.

Gambar 2.5. : Pola tumpukan parasikuen (parasequence stacking pattern) di dalam set 14
parasikuen (Van Wagoner, et al., 1990).
c. Eustasi
Dalam rekaman log, parasikuen dapat menunjukkan kenampakan menghalus ke
atas (fining upward) atau kenampakan mengkasar ke atas (coarsening upward).
Coarsening-upward parasikuen dicirikan oleh lapisan yang semakin tebal ke arah atas,
batupasir semakin kasar ke arah atas, dan perbandingan batupasir/batulempung semakin
meningkat ke arah atas. Fining-upward parasikuen dicirikan oleh lapisan yang semakin
menipis ke arah atas, batupasir semakin menghalus ke arah atas dan perbandingan
batupasir/batulempung semakin kecil ke arah atas.
II.2.4. Evaluasi Lingkungan Pengendapan dan Fasies

Lingkungan pengendapan adalah bagian dari permukaan bumi yang secara fisik,
kimiawi dan biologi dapat dibedakan dengan bagian permukaan bumi lainnya
(Selley,1985). Ketiga parameter tersebut telah mencakup geologi, geomorfologi,
iklim, cuaca serta flora dan fauna dari lingkungan tersebut, dan jika merupakan
lingkungan perairan, maka parameter yang termasuk di dalamnya adalah kedalaman,
temperatur, salinitas dan sistem arus airnya. Parameter-parameter tersebut dalam
satu lingkungan pengendapan saling berhubungan erat satu sama lain, sehingga
perubahan salah satu variabel akan berpengaruh terhadap variabel lainnya.

Fasies sedimen adalah suatu massa tubuh batuan sedimen yang dapat didefinisikan
dan dibedakan dengan massa tubuh batuan yang lainnya berdasarkan geometri,
litologi, struktur sedimen, pola arus purba dan kandungan fosilnya (Selley,1985).
Pada tabel berikut ini akan ditampilkan mengenai hubungan antara lingkungan
pengendapan dengan fasies sedimen.

Tabel. 2.1. Hubungan antara Lingkungan Pengendapan dan Fasies Sedimen (Selley
R.C., 1985)

15
CAUSE EFFECT

Process
Physical Erosional Geometry
Chemical SEDIMENTARY Non-depositional Lithology
Biological ENVIRONMENT
Depositional Sedimentary
SEDIMENTARY
FACIES structrures
Paleocurrents
Fossils

Penentuan lingkungan pengendapan akan berhubungan erat dengan parameter-


parameter yang menyusun fasies-fasie sedimen, yaitu berupa geometri, litologi,
struktur sedimen, pola arus purba dan kandungan fosil.

a. Geometri
Salah satu hal terpenting yang perlu dicatat adalah geometri yang terbentuk di
suatu lingkungan pengendapan, dapat pula dijumpai pada lingkungan pengendapan
lainnya. Sebagai contoh, channel dapat dijumpai pada lingkungan fluvial, delta, daerah
pasang surut ataupun submarine. Geometri fans atau kipas alam, juga dapat dijumpai
sebagai alluvial fans, deltaic fans dan juga deep marine fans. Secara umum geometri
dari suatu fasies sedimen akan lebih mudah diidentifikasi pada singkapan dipermukaan,
sedangkan untuk singkapan bawah permukaan sangat sulit untuk diidentifikasi kecuali
jika dilakukan korelasi data log dari beberapa sumur bor yang ada di daerah penelitian,
atau lebih baik lagi jika survei seismik ikut terlibat, maka akan dapat membantu dalam
penentuan geometri ini.
b. Litologi
Litologi merupakan parameter yang paling mudah untuk diidentifikasi. Secara
umum, litologi sedimen klastik merupakan fungsi dari sejarah transportasi dan tipe
batuan induk asal material sedimen tersebut, disamping fungsi dari lingkungan
pengendapan itu sendiri, selain itu, faktor keberadaan mineral lempung dalam sedimen
klastik yang dapat berasal dari proses diagenesa dari mineral sedimen yang tidak stabil
juga menyulitkan dalam menentukan lingkungan pengendapannya, disamping juga
berbagai proses seperti sementasi dan kompaksi lebih lanjut yang akan mengubah
kenampakan fisik dari sedimen tersebut sehingga sulit dicari kesamaannya dengan
sampel sedimen dari lingkungan yang ada saat ini.

16
Sebaliknya litologi karbonat jauh lebih signifikan digunakan untuk penentuan
lingkungan pengendapan dibanding litologi sedimen klastik, ini karena proses
pengendapan karbonat yang cenderung in situ dan sangat kecil kemungkinan dapat
bertahan jika melalui proses transportasi.

c. Struktur Sedimen
Struktur sedimen merupakan indikator lingkungan pengendapan yang sangat
penting. Struktur sedimen dapat menunjukkan apakah suatu lingkungan pengendapan
merupakan lingkungan glacial, aqueous ataupun sub-aerial. Struktur sedimen juga
mengindikasikan kedalaman, tingkat energi pengendapan, kecepatan, sifat hidrolik,
serta arah arus yang bekerja.
d. Pola Arus Purba
Penentuan pola arus purba dari suatu fasies sedimen tidak hanya melibatkan
deskripsi saja, tetapi juga interpretasi dari data yang diperoleh, ini dikarenakan
dalam analisanya pasti melibatkan struktur sedimen. Hasil analisanya yang berupa
vektor arus, masih harus diinterpretasi lagi dengan dikombinasikan dengan struktur
sedimennya hingga dapat ditentukan lingkungan pengendapannya secara tepat.
Klasifikasi beberapa pola arus purba diperlihatkan tabel 3.2.

e. Fosil

Identifikasi fosil merupakan salah satu metode yang paling penting dalam penentuan
lingkungan pengendapan. Pengetahuan mengenai cara hidup, kebiasaan satu dengan
yang lainnya serta pengaruh lingkungan hidupnya, dari suatu organisme yang telah
memfosil, sangat penting dalam penentuan lingkungan pengendapan dari suatu
fasies batuan yang mengandung fosil tersebut.

Fosil yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi lingkungan pengendapan


harus memenuhi syarat-syarat berikut ini :

1. Fosil harus bersifat in situ, jadi terkubur di lingkungan dimana organisme tersebut
hidup.
2. Habitat dari fosil tersebut dapat dicari kesamaannya berdasarkan keserupaan
morfologi dengan keturunannya yang masih hidup saat ini.

17
Tabel 2.2. Klasifikasi Beberapa Pola Arus Purba (Selley,1985).

Environment Local current vector Regional pattern


Alluvial Braided Unimodal, low variability Often fan-shaped
Meandering Unimodal, high variability Slope-controlled, often
centripetal basin fill

Eolian Uni-, bi- or polymodal May Swing round over


hundreds of miles around
high pressure systems

Deltaic Unimodal Regionally radiating

Shorelines and Shelves Bimodal (due to tidal Generally consistently


currents), sometimes oriented onshore, offshore,
unipolar or polymodal or longshore

Marine turbidite Unimodal Fan-shaped or, on a larger


scale, trending into or
along through axes

II.3.Korelasi

Korelasi dapat diartikan sebagai penentuan umur unit stratigrafi dan struktur
yang mempunyai kesamaan waktu, umur dan posisi stratigrafi (Koesoemadinata,
1977). . Data yang digunakan dalam korelasi antar sumur adalah berupa wireline log
dan seismik. Maksud dilakukan korelasi adalah untuk mengetahui dan
merekontruksi kondisi geologi bawah permukaan, baik kondisi struktur mapun
stratigrafi. Tujuan korelasi antar sumur adalah membantu pemetaan bawah
permukaan agar mendapatkan hasil yang lebih teliti serta membantu mengevaluasi
formasi, ada tidaknya horison yang produktif, adanya perubahan lateral dalam
masing-masing perlapisan batuan. Dalam korelasi dikenal dua macam metode yaitu
organik dan anorganik. Metode organik atau paleontologi adalah metode korelasi
dengan menggunakan fosil. Fosil yang digunakan adalah fosil penunjuk yang

18
mempunyai persamaan evolusi, sedangkan metode anorganik meggunakan
kesamaan litologi atau urutan dari stratigrafinya,misalnya key bed (lapisan kunci)
atau marker bed (lapisan penunjuk). Lapisan ini dapat tipis dan tebal atau berubah
ketebalannya, tetapi menerus di daerah yang luas.

II.4. Penampang Bawah Pemukaan

Penampang bawah permukaan merupakan suatu alat atau cara interpretasi


konddisi bawah permukaan dalam rangka eksplorasi dan ekploitasi hidrokarbon
(Koesoemadinata, 1977). Pembuatan penampang (cross-section) merupakan tindak
lanjut dari pekerjaan korelasi yang nantinya berguna dalam pembuatan peta bawah
permukaan.

II.4.1. Penampang Stratigrafi Bawah Permukaan

Tujuan pembuatan penampang stratigrafi bawah permukaan (subsurface


stratigraphic cross-section) adalah merekontruksi kondisi geologi suatu cekungan
sewaktu diendapkan dan untuk mengetahui paleogeografi cekungan tersebut. Dari
penampang ini dapat diketahui geometri dari reservoar dan terjadinya perubahan
fasies dan ketebalan.

II.4.2. Penampang Struktur Bawah Permukaan

Penampang struktur bawah permukaan (subsurface structural cross-section)


digunakan untuk merekontruksi kondisi geologi bawah permukaan suatu cekungan
pada waktu sekarang.

II.5. Peta Bawah Permukaan

Peta bawah permukaan adalah peta yang menggambarkan bentuk atau keadaan
geologi bawah permukaan. Bidang bawah permukaan dapat dibagi menjadi tiga
macam (Koesumadinata, 1977) yaitu : bidang perlapisan, bidang ketidakselarasan
dan bidang struktur / patahan. Adapun data data yang diperlukan untuk
menggambarkan bidang bawah permukaan antara lain : data pemboran (log
mekanik) dan data geofisika (rekaman seismik).

Sifat peta bawah permukaan ada dua yaitu : kuantitatif dan dinamis. Sifat yang
pertama yaitu kuantitatif dinyatakan dalam garis kontur yang memiliki nilai yang
sama, sementara yang dimaksud dengan sifat dinamis adalah kebenaran dari peta

19
bawah permukaan itu sendiri tidak dinilai berdasarkan metode tetapi dinilai atas data
yang tersedia sehingga semakin banyak data yang dimiliki maka peta tersebut akan
semakin baik dan peta akan terus berubah berdasarkan waktu dan tempat tertentu.

Peta bawah permukaan bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi bawah


permukaan yang sebenarnya, untuk mengetahui lingkungan pengendapan,
menentukan arah suplai material sedimen, menentukan arah laut terbuka dan
mengetahui daerah yang memiliki prospek hidrokarbon. Dengan tujuan tersebut
maka peta bawah permukaan akan sangat membantu dan mempermudah analisis
stratigrafi sikuen karena peta ini memperlihatkan kenampakan dua dimensi dan
penyebaran lateral suatu fasies.

II.5.1. Macam Macam Peta Bawah Permukaan

Macam peta bawah permukaan untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi


minyak bumi adalah :

II.5.1.1. Peta Kontur Struktur

Peta ini menggambarkan konfigurasi bidang perlapisan tertentu atau bentuk


bentuk geometris dan elevasi dari suatu bidang permukaan satuan stratigrafi
terhadap suatu datum. Datum yang digunakan dalam peta kontur struktur bawah
permukaan adalah muka air laut. Peta ini selain digunakan sebagai dasar untuk
pembuatan peta bawah permukaan juga sebagai dasar pertimbangan dalam
pemilihan titik-titik pemboran selanjutnya.

II.5.1.2. Peta Stratigrafi

Peta stratigrafi adalah peta yang memperlihatkan perlapisan serta perubahan


yang terjadi dalam suatu lapisan atau kumpulan lapisan secara letral yang
dinyatakan dalam nilai nilai tertentu.

Peta stratigrafi dibagi menjadi dua macam :

- Peta isopach yaitu peta yang memperlihatkan ketebalan dari suatu lapisan atau suatu
seri lapisan yang dinyatakan dengan garis garis kontur yang menyatakan ketebalan
lapisan.
Macam macam peta isopach :

20
a. Peta isochore : peta yang menggambarkan ketebalan semu / tebal lapisan
yang ditembus lubang bor.
b. Peta isopach : peta isochore apabila dip < 100 dan lubang pemboran
vertikal.
c. Peta isopach net sand : peta yang menggambarkan total ketebalan lapisan
reservoar yang porous dan permeabel dari ketebalan stratigrafi sebenarnya.
d. Peta isopach net pay : peta yang menggambarkan ketebalan lapisan
reservoar yang berisi fluida hidrokarbon (gas, minyak atau keduanya)
- Peta Fasies yaitu suatu peta yang menggambarkan perubahan secara lateral
mengenai litologi atau paleontologi dari suatu urutan lapisan yang diendapkan
dalam waktu yang sama. Pemetaan fasies harus dilakukan pada satuan
kronostratigrafi dan biasanya peta fasies akan membantu memberikan pengertian
dan pemahaman stratigrafi, khususnya stratigrafi sikuen.

III. Rencana Penelitian


III.1. Data-data yang dibutuhkan

Data-data yang diperlukan untuk penelitian ini terdiri dari :

21
1. Beberapa data core dari sumur-sumur bor di daerah penelitian yang dianggap dapat
mewakili keseluruhan kondisi bawah permukaan daerah penelitian.
2. Data Well Logs dari keseluruhan sumur yang ada didaerah penelitian.
3. Data biostratigrafi dari daerah penelitian
III.2 Metodologi Penelitian

Secara umum jalannya penelitian terbagi menjadi empat tahapan, yaitu:


1. Pendahuluan
Pada tahap ini dilakukan persiapan-persiapan yang menunjang penelitian
meliputi penyelesaian administrasi dan studi pustaka dari peneliti terdahulu.
2. Pengumpulan data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data di Pertamina DOH Jawa Bagian
Timur, meliputi data log (Log Spontaneous Potential, Log Gamma Ray, Log
Resistivity, Log Densitas, Log Neutron), penyediaan peta dasar serta pemilihan
lintasan, Biostratigrafi dan log ULTRA sumur kunci.
3. Pengolahan dan analisa data Pendahuluan
Pengolahan data diawali dengan menganalisa
(Studi Pustaka) lingkungan pengendapan daerah
telitian pada sumur kunci. Penentuan fasies berdasarkan pada asosiasi litologi dari
Pengumpulan Data
log ULTRA sumurData
kunci.
sumur Selanjutnya dibuat ELAN
(well log, biostratigrafi), korelasi well
sumur to well dan dibuat peta
kunci,
penyediaan peta dasar daerah telitian
top structure, gross sand isopach, serta net sand isopach. Data biostratigrafi
dikombinasikan dengan peta bawah permukaan akan menghasilkan interpretasi
sikuen pengendapan dan kemudian dikombinasikan
Pengolahan dan Analisa Data dengan penampang bawah
permukaan akan menghasilkan interpretasi pelamparan reservoar.
4. Penyelesaian
Well log: ULTRA sumur kunci
Tahap ini
Penentuan berupa
atribut penyusunan
kunci,system tract dan laporan dan perbaikan-perbaikan yang sekiranya
Penentuan fasies
parasikuen pad sumur kunci
diperlukan agar dalam penyajiannya dapat mudah dipahami.

Korelasi well to well

III.3. Bagan Alir Penelitian


Pembuatan peta bawah permukaan
(top structure, gross sand isopach, net sand isopach)

Biostratigrafi:
penentuan lingku
-ngan
pengendapan
Analisa Penentuan
Sikuen Pengendapan dan
penyebaran reservoar 22
Keterangan : : sudah dianalisa perusahaan

23
24