Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN PRAKTIKUM

TERMODINAMIKA

KONSEP USAHA PROTOTYPE KAPAL UAP

Oleh:
Tria Fahmi Fauziah
NIM. A1C016007

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Termodinamika adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang perubahan

energi dari satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya. Untuk dapat memahami

teori termodinamika dengan baik, diantaranya diperlukan pemahaman tentang

prinsip, sifat dan hukum termodinamika, serta penerapannya dalam kehidupan

sehari-hari. Termodinamika juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari

tentang energi, yang secara lebih spesifik mempelajari tentang hubungan antara

energi dan kerja dari suatu sistem yang menyebabkan perubahan suatu zat.

Sehingga dapat diartikan juga bahwa termodinamika merupakan suatu ilmu yang

membahas hubungan antara panas dan kerja yang menyebabkan perubahan suatu

zat. Maksudnya apabila suatu zat atau benda diberi panas (suhunya dinaikkan),

maka akan timbul berbagai akibat seperti: gas, cairan dan zat padat akan memuai,

termo-elemen membangkitkan GGL (Gaya Gerak Listrik), kawat-kawat

mengalami perubahan daya tahannya.

Dalam proses demikian, biasanya terdapat suatu pengaliran panas dan

bekerjanya suatu gaya yang mengalami perpindahan (panas) yang mengakibatkan

usaha atau kerja. Tujuannya memecahkan persoalan termodinamika dengan

menguasai prinsip dasar, sistematika pemecahan soal dan definisi dasar suatu

hukum termodinamika. Hukum-hukum termodinamika didasarkan pada penalaran

logis, bukti yang membenarkan penggunaan hukum-hukum ini secara menerus

diperoleh dari percobaan yang menyetujui akibat-akibatnya. Dengan


berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka prinsip alamiah dalam

berbagai proses termodinamika direkayasa menjadi berbagai bentuk mekanisme

untuk membantu manusia dalam menjalankan kegiatannya. Mesin-mesin

transportasi darat, laut, maupun udara merupakan contoh yang sangat kita kenal

dari mesin konversi energi, yang merubah energi kimia dalam bahan bakar atau

sumber energi lain menjadi energi mekanis dalam bentuk gerak atau perpindahan

di atas permukaan bumi, bahkan sampai di luar angkasa. Pabrik-pabrik dapat

memproduksi berbagai jenis barang, digerakkan oleh mesin pembangkit energi

listrik yang menggunakan prinsip konversi energi panas dan kerja. Untuk

kenyamanan hidup, kita memanfaatkan mesin airconditioning, mesin pemanas,

dan refrigerators yang menggunakan prinsip dasar termodinamika.

Kapal uap mulai digunakan setelah ditemukannya mesin uap di Inggris oleh

James Watt yang memunculkan revolusi industri yang juga merupakan revolusi

bahan bakar sebab pada masa itu mulai digunakan batu bara dengan skala yang

lebih luas menggantikan kayu bakar. Mesin uap menjadi penggerak dari kapal uap

itu sendiri. Terdapat fenomena fisika didalam penggunaan mesin uap sebagai

penggerak kapal uap. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa teknik harus

mengetahui bagaimana konsep fisika (perubahan energi atau konversi energi)

dapat menjelaskan hal tersebut. Berikut akan dijelaskan percobaan untuk

menjelaskan prinsip kerja kapal uap dengan bantuan alat peraga kalap uap

sederhana. Mesin uap adalah mesin yang menggunakan energi panas dalam uap

air dan mengubahnya menjadi energi mekanis.


Hukum 1 termodinamika atau biasa disebut hukum konservasi energi. Bunyi

hukum I termodinamika adalah energi tidak dapat diciptakan atau dimusnakan

hanya dapat dirubah dari satu bentuk ke bentuk lainya. Sesuai dengan hukum ini

energi yang dilepas sama dengan energi yang diterima. Aplikasi hukum

termodinamika I ini sering diaplikasikan didalam kehidupan sehari-hari, entah

dalam skala mikro atau kecil maupun dalam skala makro diantaranya adalah

perubahan energi panas menjadi energi mekanis (gerak) dalam hal ini adalah

konsep kapal uap yang digerakan oleh uap air yang keluar dari kaleng yang

dilubangi kecil.

B. Tujuan

1. Praktikan dapat memahami bentuk perubahan energi kalor.

2. Praktikan dapat memahami konsep usaha atau kerja dari energi kalor.

3. Praktikan dapat memahami aplikasi hukum I termodinamika.

4. Praktikan mampu menganalisa sistem hukum I termodinamika.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Termodinamika merupakan salah satu topik dalam fisika yang secara umum

membahas mengenai fenomena termal yang didefinisikan dalam parameter suhu,

kalor dan energi dalam (Young, 1999). Termodinamika merupakan bagian dari

cabang Fisika yang namanya Termofisika (Thermal Physics). Termodinamika

adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi dan kerja dari suatu sistem.

Termodinamika hanya mempelajari besaran-besaran yang berskala besar

(makroskopis) dari sistem yang dapat diamati dan diukur dalam eksperimen.

Besaran-besaran yang berskala kecil (mikroskopis) dipelajari dalam Teori Kinetik

Gas (Kinetic Theory of Gas) atau Fisika Statistik (Statistical Physics).

Termodinamika juga dapat diartikan sebagai ilmu yang menjelaskan kaitan antara

besaran fisis tertentu yang menggambarkan sikap zat di bawah pengaruh kalor.

Besaran fisis ini disebut koordinat makroskopis sistem. Kaitan atau rumus yang

menjelaskan hubungan antar besaran fisis diperoleh dari eksperimen dan

kemudian dapat digunakan untuk meramalkan perilaku zat di bawah pengaruh

kalor. Jadi, Termodinamika merupakan ilmu yang berlandaskan pada hasil-hasil

eksperimen (Hamid, 2007).

Energi didefenisikan sebagai suatu kemampuan untuk melakukan kerja. Ada

berbagai jenis energi, misal energi mekanis, energi kimia, energi listrik, juga

energi panas maupun energi cahaya. Energi-energi tersebut tidak dapat diciptakan

ataupun dimusnahkan, namun sangat mudah untuk berubah bentuk. Hal ini sesuai

dengan hukum kekekalan energi (Wihantoro,2001). Usaha atau kerja adalah


mekanisme perpindahan energi dari energi antara sisitem dan lingkungan, baik

dalam bentuk mekanis, listrik, maupun panas. (Giancolli, 1991). Kalor adalah

suatu bentuk energi yang dapat dipindahkan diantara sebuah sistem dan

sekelilingnya sebagai akibat dari adanya perbedaan temperatur. Konsep kalor

sebagai sebuah zat yang jumlah seluruhnya tetap konstan akhirnya tidak mendapat

dukungan eksperimen (Wiley, 1978).

Dalam fisika dikenal adanya hukum kekekalan, seperti hukum kekekalan

massa, hukum kekekalan tenaga atau energi, hukum kekekalan momentum dan

lain-lain. Termodinamika adalah salah satu cabang fisika, sehingga tidaklah

mengherankan apabila didalam termodinamika dikenal adanya hukum kekekalan.

Hukum I Termodinamika berbunyi: kalor dan kerja mekanik adalah bisa

saling tukar. Sesuai dengan hukum ini, maka sejumlah kerja mekanik dibutuhkan

untuk menghasilkan sejumlah kalor, dan sebaliknya. Hukum ini bisa juga

dinyatakan sebagai energi tidak dapat diciptakan atau dimusnakan hanya dapat

dirubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Sesuai dengan hukum ini energi yang

diberikan oleh kalor merupakan mesti sama dengan kerja eksternal yang

dilakukan ditambah dengan perolehan energi dalam karena kenaikan temperatur

(Wihantoro, 2001).

Hukum I Termodinamika menyatakan bahwa: Untuk setiap proses, apabila

kalor Q diberikan kepada sistem dan sistem melakukan usaha W, maka akan

terjadi perubahan energi dalam U = Q W.

Jadi, dapat dikatakan bahwa hukum I termodinamika menyatakan adanya

konsep kekekalan energi. Energi dalam sistem merupakan jumlah total semua
energi molekul dalam sistem. Apabila usaha dilakukan pada sistem atau sistem

memperoleh kalor dari lingkungan, maka energi dalam pada sistem akan naik.

Sebaliknya energi dalam akan berkurang apabila sistem melakukan usaha pada

lingkungan atau sistem memberi kalor pada lingkungan. Dengan demikian,

perubahan energi dalam pada sistem yang tertutup merupakan selisih kalor yang

diterima dengan usaha yang dilakukan sistem.

U = Q W atau Q = U + W

Keterangan:

U : Perubahan energi dalam (J)

Q : Kalor yang diterima/dilepas (J)

W : Usaha (J)

Hukum pertama termodinamika merupakan hukum kekekalan energi.

Menurut hukum pertama termodinamika, setelah mengalami proses tertentu,

sistem berubah dari keadaan 1 ke keadaan 2, maka energi-dalamnya berubah dari

U1 ke U2. Selama proses itu berlangsung, sistem menerima kalor sebanyak Q dan

melakukan usaha sebesar W sehingga didapat persamaan:

dQ = dU + dW

W bertanda positif (+) jika sistem melakukan usaha terhadap lingkungan

W bertanda negatif (-) jika sistem menerima usaha dari lingkungan

Q bertanda positif (+) jika sistem melakukan kalor terhadap lingkungan

Q bertanda negatif (-) jika sistem menerima kalor dari lingkungan

Hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa energi kekal adanya,

kalau diperhitungkan semua bentuk energi yang timbul. Tidak hanya energi
mekanik saja yang harus diperhitungkan, tapi juga energi dalam dan kalor.

Hukum ini menyatakan pula, bahwa usaha tak dapat diperoleh dengan cuma-

cuma. Kalau tidak diberi energi dari luar, sistem yang melakukan usaha itu akan

berkurang energi dalamnya dan pada suatu saat akan habis sehingga sistem akan

berhenti.

Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara khusus membahas

tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Seperti telah diketahui bahwa

energi di dalam alam dapat terwujud dalam berbagai bentuk, selain energi panas

dan kerja, yaitu energi kimia, energi listrik, energi nuklir, energi gelombang

elektromagnet, energi akibat gaya magnet, dan lain-lain. Energi dapat berubah

dari satu bentuk ke bentuk lain, baik secara alami maupun hasil rekayasa

teknologi. Selain itu energi di alam semesta bersifat kekal, tidak dapat

dibangkitkan atau dihilangkan, yang terjadi adalah perubahan energi dari satu

bentuk menjadi bentuk lain tanpa ada pengurangan atau penambahan. Prinsip ini

disebut sebagai prinsip konservasi atau kekekalan energi. Prinsip termodinamika

tersebut sebenarnya telah terjadi secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Bumi

setiap hari menerima energi gelombang elektromagnetik dari matahari, dan di

bumi energi tersebut berubah menjadi energi panas, energi angin, gelombang laut,

proses pertumbuhan berbagai tumbuh-tumbuhan dan banyak proses alam lainnya.

Proses di dalam diri manusia juga merupakan proses konversi energi yang

kompleks, dari input energi kimia dalam makanan menjadi energi gerak berupa

segala kegiatan fisik manusia, dan energi yang sangat bernilai yaitu energi pikiran

kita (Warnana, 2008).


Termodinamika merupakan cabang fisika yang mempelajari hubungan

antara kalor, energi, mekanik, serta aspek-aspek lain dari energi dan

perpindahannya. Definisi dari konsep termodinamika diantaranya: sistem

lingkungan, sistem adalah suatu bagian terpisah yang menjadi pusat perhatian.

Sebuah sitem dapat berupa ruang, benda, kuantitas bahan, dan lain- lain. Adapun

lingkungan adalah sesuatu diluar sistem yang dapat mempengaruhi keadaan

sistem secara langsung. Kalor merupakan energi yang berpindah akibat perbedaan

suhu antara sistm dan lingkungan. Sistem dapat melepaskan kalor ke lingkungan

dan sebaliknya lingkungan juga dapat pula memberikan kalor kepada sistem.

Kalor dilambangkan dengan Q (Ariyani, 2010).

Ada suatu perbedaan antara kalor (heat) dan energi dalam dari suatu bahan.

Kalor hanya digunakan bila menjelaskan perpindahan energi dari satu tempat ke

tempat yang lain. Kalor adalah energi yang dipindahkan akibat adanya perbedaan

temperature sedangkan energi dalam (termis) adalah energi karena temperaturnya.

Kalor merupakan salah satu bentuk energi dan kalor merupakan transfer energi

dari satu benda ke benda lain karena adanya perbedaan temperatur. Kalor

mengalir dengan sendirinya dari suhu yang tinggi ke suhu yang rendah. Akan

tetapi, gaya dorong untuk aliran ini adalah perbedan suhu. Bila sesuatu benda

ingin dipanaskan, maka harus dimiliki sesuatu benda lain yang lebih panas,

demikian pula halnya jika ingin mendinginkan sesuatu, diperlukan benda lain

yang lebih dingin (Setyadi, 2013).

Termodinamika merupakan salah satu bidang ilmu fisika yang mempelajari

tentang berbagai macam bentuk tenaga dalam bentuk suatu sistem. Misalnya
tenaga listrik, tenaga kimia, tenaga radiasi, tenaga panas, tenaga cahaya dan

sebagainya. Termodinamika hanya mempelajari hubungan antara tenaga awal dan

tenaga akhir dari sistem tersebut. Tenaga dari sistem adalah jumlah tenaga

potensial dan tenaga kinetiknya. Termodinamika memiliki dua hukum yang

sangat penting untuk dasar ilmu teknik kimia. Hukum I termodinamika "Tenaga

tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan tapi hanya dapat diubah dalam bentuk

tenaga lainya (Siregar, 2003).

Nilai kalor bahan bakar adalah jumlah panas yang dihasilkan atau

ditimbulkan oleh suatu gram bahan bakar tersebut dengan meningkatkan

temperatur 1 gr air 3,5oc 4,5oc, dengan satuan kalori. Dengan kata lain nilai

kalor adalah besarnya panas yang diperoleh dari pembakaran suatujumlah tertentu

bahan bakar. Nilai kalor tergantug pada sifat bahan yang mempengaruhi massa

jenisnya. Sehingga semakin tinggi berat jenis bahan bakar, maka makin tinggi

nilai kalor yang diperolehnya. Nilai kalor juga akan berpengaruh pada laju

pembakaran pada proses pembakaran, semakin tinggi nilai kaor tukar maka

semakin lambat laju pembakaran pada proses pembakaran (Tirono, 2012).

Kenaikan konsentrasi oksigen dalam gas menimbulkan laju pembakaran

lebih tinggi. Suhu pembakaran yang lebih tinggi dapat menaikan laju reaksi dan

menyebabkan waktu pembakaran menjadi lebih singkat. Demikian pula dengan

kecepatan gas yang tinggi pada permukaan dapat menaikan laju pembakaran

bahan padat, terutama disebabkan oleh laju perpindahan massa oksigen ke

permukaan partikel yang lebih tinggi (Jamilatun, 2008).


Nilai kalor dari suatu bahan bakar menunjukkan energi yang terkandung di

dalam bahan bakar setiap satuan massa bahan bakar (Btu/lbm) atau (Kcal/kg).

Nilai kalor ini penting diketahui untuk mengukur kandungan energi dari setiap

massa bahan bakar sehingga konsumsi untuk menghasilkan energi tertentu dapat

dikalkulai secara tepat. Nilai kalor bahan bakar padat termasuk bahan bakar

biomassa adalah nilai kalori kotor HHV (gross calorific value) yang diperoleh

melalui percobaan Bom Kalorimeter (Patabang, 2009).

Hukum I termodinamika menyatakan bahwa tidak ada energi yang berubah

secara kuantitas, tetapi terjadi perubahan energi secara kualitas. Perubahan energi

pada sistim sama dengan perubahan energi terhadap lingkungan. Hukum kedua

termodinamika menyatakan bahwa terjadi perubahan dari kualitas tinggi ke

kualitas rendah, dalam hal ini terjadi perpindahan dari temperatur tinggi ke

temperatur rendah, dan tidak semua panas dapat diubah menjadi kerja, akan ada

yang hilang selama proses (Bustan, 2010).

Hukum pertama termodinamika menunjukkan bahwa berbagai bentuk energi

dapat saling dikonversikan, dan terdapat korespondensi kuantitatif antara berbagai

jenis energi. Perubahan bentuk energi, misalkan dari energi kimia ke energi panas,

tidak melanggar hukum pertama karena panas adalah bentuk energi yang paling

dikenal dan mudah diukur, ekivalensi bentuk-bentuk energi yang berbeda dan

pertukaran energi yang terjadi pada proses fisika maupun kimia sering ditelaah

berdasarkan perubahan panasnya. Kapasitas panas jenis menyatakan jumlah panas

yang diserap atau yang dilepas oleh suatu satuan massa benda, jika suhunya

berubah sebesar satu derajat celcius. Satu Joule merupakan jumlah energi yang
dihasilkan oleh gaya satu Newton sepanjang jarak satu meter. Penyerapan atau

pelepasan akibat perubahan suhu menyebabkan perubahan kandungan panas

sensible benda tersebut. Jika m adalah massa benda (kg), panas jenis Cp (J/kg C),

dan terjadi perubahan suhu sebesar T (C), maka terjadi kandungan panas

sensibel. Dalam perhitungan energi harus diketahui proses perubahan fase pada

bahan, karena energi yang dibutuhkan ada dua tahap yaitu untuk mengubah suhu

dan mengubah wujud. Perubahan fase terjadi, apabila sudah tercapai titik didih

suatu bahan pada tekanan tertentu, sehingga energi yang diserap bahan tersebut

digunakan untuk mengubah wujud.

Hukum pertama termodinamika hanya menjelaskan prinsip kekekalan

energi, dan tidak mampu menjelaskan aspek fundamental lain, yaitu arah

terjadinya perpindahan panas. Perpindahan panas akan terjadi secara spontan dari

bagian bersuhu panas ke bagian bersuhu dingin. Kita melihat bahwa setiap proses

akan berlangsung menuju keadaan keseimbangan, dan sekali keadaan

keseimbangan tersebut telah tercapai, proses tersebut tidak akan dapat kembali

secara spontan ke keadaan awal. Secara sederhana entropi didefinisikan sebagai

keacakan atau ketidakteraturan. Hukum kedua termodinamika menyatakan suatu

proses tidak mungkin akan berlangsung ke arah sebaliknya (total entropi

menurun). Sehingga, proses yang berlangsung dengan peningkatan entropi adalah

proses yang tidak mampu balik (irreversible) (Sigalingging, 2008).

Proses termodinamika adalah perubahan keadaan gas, yaitu tekanan, volume

dan suhunya. Perubahan ini diiringi dengan perubahan kalor, usaha dan energi

dalamnya. Sejumlah gas dalam suatu ruang tertutup dipanaskan keadaan yang
langsung bisa dilihat suhunya naik dan volumenya bertambah. Gas tersebut dapat

dikatakan melakukan usaha. Pada saat gas dalam ruang tertutup diberi

kalor maka kalor tersebut akan dimanfaatkan untuk melakukan usaha dan

merubah energi dalamnya (Tim Dosen dan Asisten, 2017).

Proses-proses yang memiliki sifat-sifat khusus ada empat, yaitu:

1. Proses Isobarik

Proses isobarik adalah proses perubahan gas dengan tahanan tetap. Pada

garis P V proses isobarik dapat digambarkan seperti pada gambar berikut:

Gambar 1. Proses isobarik

Usaha proses isobarik dapat ditentukan dari luas kurva di bawah grafik P V.

W = P (VA VB)

2. Proses Isotermis

Proses isotermis adalah proses perubahan gas dengan suhu tetap. Perhatikan

grafik pada gambar berikut:

Gambar 2. Proses isotermis


Pada proses ini berlaku hukum Boyle:

PA.VA = PB. VB

Karena suhunya tetap maka pada proses isotermis ini tidak terjadi perubahan

energi dalam . Sedang usahanya dapat dihitung dari luas daerah di

bawah kurva, besarnya seperti berikut:

W= n R T Pn VB/VA

3. Proses Isokhoris

Proses isokhoris adalah proses perubahan gas dengan volume tetap. Pada

grafik P.V dapat digambarkan seperti pada gambar berikut:

Gambar 3. Proses isokhorik

Karena volumenya tetap berarti usaha pada gas ini nol, W = 0.

4. Adiabatis

Pada proses isotermis sudah kalian ketahui, U = 0 dan pada proses isokoris,

W = 0. Bagaimana jika terjadi proses termodinamika tetapi Q = 0.

Gambar 4. Proses adiabatis


Proses yang inilah yang dinamakan proses adiabatis. Berdasarkan hukum I

Termodinamika maka proses adiabatis memiliki sifat dibawah.

Q = 0 , W = - U

5. Proses lain dan gabungan proses

Gambar 5. Proses lain dan gabungan proses

Proses-proses selain 4 proses ideal diatas dapat terjadi. Untuk memudahkan

penyelesaian dapat digambarkan grafik P V prosesnya. Dari grafik tersebut

dapat ditentukan usaha proses sama dengan luas kurva dan perubahan energi

dalamnya U = 3/2 nRT . Sedangkan gabungan proses adalah gabungan

dua proses adiabatis yang berkelanjutan. Pada gabungan proses ini berlaku hukum

I termodinamika secara menyeluruh (Legiyon, 2007).


III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Prototype perahu uap

2. Lilin

3. Styrofoam

4. Korek api

5. Kardus

6. Air

7. Kolam

8. Stopwatch

9. Termometer

10. Alat tulis

11. Modul praktikum Termodinamika

B. Prosedur Kerja

1. Alat dan bahan disiapkan.

2. Prototype perahu uap dirakit tanpa styrofoam.

3. Suhu air diukur kemudian air dimasukkan ke dalam kaleng.

4. Mair dihitung.

5. Prototype + styrofoam + lilin dirakit kemudian ditimbang.

6. Api dinyalakan, suhu mendidih diukur.

7. Waktu prototype berjalan sampai berhenti diukur.


8. Usaha, kalor dan energi dalam dihitung.

W=F.s=m.a.s

Keterangan:

W = Usaha atau kerja

F = Gaya

s = Perpindahan

m = Massa

a = Percepatan (m/s2)

Q = m . c . T = m . Uair

Keterangan:

Q = Kalor (Joule)

m = Massa

C = Kalor jenis air (4200 Joule/kgC)

T = Perubahan suhu (T2 T1)

Uair = Kalor uap air 2.268.000 Joule/kg

dU = dQ dW

Keterangan:

dU = Jumlah energi dalam

dQ = Jumlah energi kalor

dW = Jumlah usaha/kerja

9. Tabel pengukuran

Tabel 1. Data hasil praktikum


Kelompok
No. I II III
1. Massa kaleng (gr)
2. Massa kaleng + air (gr)
3. Massa air (gr)
4. Massa total (gr)
5. Panjang lintasan/s (meter)
6. Waktu mendidih (sekon)
7. Waktu berjalan-berhenti (sekon)
8. Suhu awal (C)
9. Suhu akhir (C)

10. Tabel hasil perhitungan

Tabel 2. Hasil perhitungan


No. Kelompok W(Joule) Qair (Joule) Quap (Joule) U (Joule)
1. I
2. II
3. III
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Gambar alat

Gambar 6. Bak dan kapal uap sederhana


Sumber: Data Primer 2017

Keterangan:

a : bak air

b : air

c : styrofoam

d : lubang kaleng prototype

e : prototype dari kaleng

f : kardus

g : lilin
h : kawat (kaki prototype)

2. Prinsip kerja kapal uap

Setelah prototype dirakit, dan di dalamnya dikasih air, kemudian lilin

dinyalakan dan ditunggu beberapa menit. Air dalam kaleng mendidih dan

mengeluarkan uap yang kuat karena ada energi panas dari lilin yang membuat

rakitan dari lilin yang membuat rakitan mirip kapal tersebut berjalan.

Prinsip kerjanya adalah menggunakan prinsip perubahan energi. Dari energi

panas berubah menjadi gas. Api akan memanaskan air di dalam kaleng sehingga

akan mendidih dan menguap, uap dari air yang mendidih akan keluar dari kaleng

melalui lubang kecil yang telah dibuat. Air dalam kaleng akan menguap akibat

mendapat kalor dari lilin. Uap air menghasilkan energi berupa dorongan sehingga

prototype akan bergerak maju.

3. Tabel data dan perhitungan

Tabel 3. Data hasil praktikum


Kelompok
No. I II III
1. Massa kaleng (gr) 20 20 20
2. Massa kaleng + air (gr) 145 160 130
3. Massa air (gr) 125 140 110
4. Massa total (gr) 170 165 150
5. Panjang lintasan/s (meter) 6 4,5 9
6. Waktu mendidih (sekon) 230 246 287
7. Waktu berjalan-berhenti (sekon) 520 871 1021
8. Suhu awal (C) 28 28 27
9. Suhu akhir (C) 100 100 100

Keterangan:

I = Data hasil praktikum kelompok 1 dan 4

II = Data hasil praktikum kelompok 2 dan 5

III = Data hasil praktikum kelompok 3 dan 6


Tabel 4. Hasil perhitungan
No. Kelompok W(Joule) Qair (Joule) Quap (Joule) U (Joule)
1. I
2. II
3. III

4. Perhitungan

a. Perhitungan kelompok I (1 dan 4)

jarak (s)
1.) Percepatan (a) = 2
(waktu (t))

6 meter
a = (520 sekon)2

6
a = 270400

= 2,2 x 10-5 m/s2

2.) Usaha (W)

W = Mtotal a s

= (170 x 10-3) x (2,2 x 10-5) x (6)

= 2244 x 10-8 J

= 2,24 x 10-5 Joule

3.) Kalor air (Qair) dan kalor uap (Quap)

Cair = 4200 Joule/kgC = 4,2 x 103 J/kgC

Uair = 2268000 Joule/kgC = 2268 x 103 J/kgC

Qair = Mair Cair T

= (125 10-3) x (4200) x (T2 T1)

= (125 10-3) x (4,2 x 103) x (100-28)

= (125) x (4,2) x (72)

= 37800 Joule
Quap = Mair Uair

= (125 10-3) x (2268 x 103)

= 283500 Joule

4.) Energi dalam (dU)

dU = dQ dW

= (Qair - Quap) W

= (37800 - 283500) 2,24 x 10-5

= -245700 0,0000224

= -245700 Joule

b. Perhitungan kelompok II (2 dan 5)

jarak (s)
1.) Percepatan (a) = 2
(waktu (t))

4,5 meter
a = (871 sekon)2

4,5
a = 758641

= 0,59 x 10-5 m/s2

2.) Usaha (W)

W = Mtotal a s

= (165 x 10-3) x (0,59 x 10-5) x (4,5)

= 438,075 x 10-8 J

= 0,438 x 10-5 Joule

3.) Kalor air (Qair) dan kalor uap (Quap)

Cair = 4200 Joule/kgC = 4,2 x 103 J/kgC

Uair = 2268000 Joule/kgC = 2268 x 103 J/kgC


Qair = Mair Cair T

= (140 10-3) x (4200) x (T2 T1)

= (140 10-3) x (4,2 x 103) x (100-28)

= (140) x (4,2) x (72)

= 42336 Joule

Quap = Mair Uair

= (140 10-3) x (2268 x 103)

= 317520 Joule

4.) Energi dalam (dU)

dU = dQ dW

= (Qair - Quap) W

= (42336 - 317520) 0,438 x 10-5

= -275184 0,00000438

= -275184 Joule

c. Perhitungan kelompok III (3 dan 6)

jarak (s)
1.) Percepatan (a) = 2
(waktu (t))

9 meter
a = (1021 sekon)2

9
a = 1042441

= 0,86 x 10-5 m/s2

2.) Usaha (W)

W = Mtotal a s

= (150 x 10-3) x (0,86 x 10-5) x (9)


= 1161 x 10-8 J

= 1,16 x 10-5 Joule

3.) Kalor air (Qair) dan kalor uap (Quap)

Cair = 4200 Joule/kgC = 4,2 x 103 J/kgC

Uair = 2268000 Joule/kgC = 2268 x 103 J/kgC

Qair = Mair Cair T

= (110 10-3) x (4200) x (T2 T1)

= (110 10-3) x (4,2 x 103) x (100-27)

= (110) x (4,2) x (73)

= 33726 Joule

Quap = Mair Uair

= (110 10-3) x (2268 x 103)

= 249480 Joule

4.) Energi dalam (dU)

dU = dQ dW

= (Qair - Quap) W

= (33726 - 249480) 1,16 x 10-5

= -215754 0,0000116

= -215754 Joule

B. Pembahasan

Prinsip hukum termodinamika yang digunakan pada prototype merupakan

aplikasi dari hukum 1 termodinamika, yang mana hukum ini menyatakan bahwa:
energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan,namun bisa dirubah dari satu

bentuk ke bentuk lainnya atau kalor dan kerja mekanik adalah bisa saling tukar.

Sesuai dengan hukum ini, energi yang diberikan oleh kalor mesti sama dengan

kerja eksternal yang dilakukan ditambah dengan perolehan energi dalam karena

kenaikan temperatur. Prinsip ini merupakan hukum alam yang penting dan salah

satu bentuk dari hukm kekekalan energi. Jadi perubahan energi dari energi panas

menjadi gerak atau mekanik yang menyebabkan kapal uap bisa bergerak, hali ini

terjadi karena uap dari panas yang terkumpul di dalam sistem yang kemudian

akan dilepaskan secara kontinyu sampai kalor yang diberikan habis melakukan

usaha dan mengalami perubahan energi dalam sehingga kapal pun bisa melaju

pada lintasan.

Pada prototype kapal uap berlaku prinsip hukum pertama termodinamika

yang menjelaskan prinsip kekekalan energi, dan tidak mampu menjelaskan aspek

fundamental lain, yaitu arah terjadinya perpindahan panas. Perpindahan panas

akan terjadi secara spontan dari bagian bersuhu panas ke bagian bersuhu dingin.

Kita melihat bahwa setiap proses akan berlangsung menuju keadaan

keseimbangan, dan sekali keadaan keseimbangan tersebut telah tercapai, proses

tersebut tidak akan dapat kembali secara spontan ke keadaan awal. Secara

sederhana entropi didefinisikan sebagai keacakan atau ketidakteraturan

(Sigalingging, 2008). Hukum pertama yang diterapkan pada prototype kapal uap

adalah prinsip kekekalan energi yang dihasilkan pada kalor, usaha, dan energi

dalam. Hukum ke I termodinamika menyatakan bahwa kalor yang terlibat diubah

menjadi perubahan energi dalam usaha (Sigalingging, 2008).


Pada prototype kapal uap berlaku hhukum termodinamika ke-1. Hukum

termodinamika ke-1 menyatakan: untuk setiap proses, apabila kalor Q diberikan

kepada sistem dan sistem melakukan usaha W, maka akan terjadi perubahan

energy dalam U = Q-W .

Pada kapal uap kalor Q yang berasal dari lilin yang diberikan ke air yang

berada dalam kaleng akan membuat air tersebut menguap menjadi gas, sehingga

gas yang dipanaskan dalam kaleng silinder volume akan mengembang hingga

memenuhi kaleng silinder, dan pada saat itu gas menimbulkan energy dalam pada

suhu 100oC sehingga menghasilkan usaha yang cukup sebagai gaya dorong uap

yang keluar dari lubang kecil pada kaleng silinder.

Implementasi (penerapan) dari hukum termodinamika yang memiliki prinsip

adanya perubahan energi ada banyak di kehidupan sehari-hari untuk

keberlangsungan hidup. Berikut ini adalah contoh-contoh implementasi hukum

termodinamika yang memiliki prinsip adanya perubahan energi, antara lain:

1. Sistem pembangkit listrik tenaga uap

Energi kimia atau energi nuklir dikonversikan menjadi energi termal dalam

ketel uap atau reaktor nuklir. Energi ini dilepaskan ke air yang berubah menjadi

uap. Energi uap ini digunakkan untuk menggerakkan turbin uap dan energi

mekanis yang dihasilkan digunakan untuk menggerakkan generator untuk

menghasilkan daya listrik.


2. Sistem pembangkit listrik tenaga air

Energi potensial air dikonversikan menjadi energi mekanis menlalui

penggunaan turbin air. Energi mekanis ini kemudian dikonversikan lagi menjadi

energi listrik oleh generator listrik yang disambungkan pada poros turbinnya.

3. Motor pembakaran dalam

Energi kimiawi bahan bakar dikonversikan menjadi kerja mekanis.

Campuran udara bahan bakar dimampatkan dan pembakaran dilakukan oleh busi.

Ekspansi gas hasil pembakaran akan mendorong piston yang menghasilkan

putaran pada poros engkol.

4. Generator pada turbin angin

Generator adalah satu komponen yang terpenting dalam pembuatan sistem

turbin angin. Generator ini dapat mengubah energi gerak menjadi energi listrik.

Sistimnya, (mengacu pada salahsatu cara kerja generator) poros pada generator

dipasang dengan material ferromagnetik permanen. Setelah itu disekeliling poros

terdapat stator yang bentuk fisisnya adalah kumparan-kumparan kawat yang

membentuk loop. Ketika poros generator mulai berputar maka akan terjadi

perubahan fluks pada stator yang akhirnya karena terjadi perubahan fluks ini akan

dihasilkan tegangan dan arus listrik tertentu. Tegangan dan arus listrik yang

dihasilkan ini disalurkan melalui kabel jaringan listrik untuk akhirnya digunakan

oleh masyarakat.

5. Bunga es pada kulkas

Jika kulkas disebut sebagai sistem dan panas yang ada di luarnya adalah

lingkungan. Adanya perubahan suhu dan tekanan di dalam sistem tersebut akan
membuat terjadinya hukum termodinamika pertama. Kalor mengalir dari dalam

sistem ke luar sistem (lingkungan). Lalu, di dalam kulkas bekerja usaha untuk

tetap menstabilkan keadaan di dalam kulkas. Usaha ini diubah dalam bentuk yang

lain, yaitu menjadi bunga es, sehingga suhu es tetap terjaga (dingin) meskipun

mesinnya menghasilkan kalor (mengubah dari energi listrik menjadi kalor yang

digunakan untuk mendinginkan isi kulkas). Jika usaha nya tidak diubah dalam

bentuk bunga es, maka kulkas akan overheat atau kepanasan dan akan cepat

rusak.

6. Dinamo sepeda

Dinamo sepeda merupakan generator kecil yang dapat menghasilkan arus

listrik yang kecil pula. Pada dinamo sepeda prinsip kerjanya yaitu energi gerak di

ubah menjadi energi listrik. Dinamo sepeda ini hanya menyalakan lampu depan

dan belakang terangnnya lampu di tentukan oleh cepatnya roda berputar yang

mengakibatkan dinamo juga cepat dan arus listrik juga akan besar pula.

7. Setrika

Prinsip kerja dari setrika adalah mengubah energi listrik menjadi energi

panas dilengkapi dengan elemen pemanas. Listrik yang mengalir melalaui elemen

pemanas diubah menjadi energi panas. Elemen pemanas terbuat dari bahan yang

mempunyai tahanan tinggi, sehingga listrik yang mengalir melalui bahan tersebut

berubah menjadi panas.

8. Energi radiasi diubah menjadi energi panas

Energi radiasi sinar matahari dapat diubah menjadi energi listrik dan energi

kalor. Peralatan yang menggunakan sel-sel surya dapat langsung mengubah energi
radiasi sinar matahari menjadi energi listrik. Pada saat ini, sel-sel surya mulai

ditawarkan negara kita untuk dipasang di rumah-rumah. Sel-sel surya ini dapat

mengubah energi radiasi sinar matahari menjadi energi kalor (panas). Energi

panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk memanaskan ruangan, memanaskan

air, dan keperluan lain.

9. Kipas angin

Kipas angin yang sudah dihubungkan dengan stopkontak listrik maka

baling-baling pada kipas angin akan bergerak. Hal ini disebabkan karena energi

listrik mengubah komponen magnet yang berada di dalam kipas tersebut sehingga

menjadi energi gerak.

10. Pendingin ruangan (AC)

Air Conditioner (AC) alias pengkondisian udara merupakan seperangkat alat

yang mampu mengkondisikan ruangan yang kita inginkan, terutama

mengkondisikan ruangan menjadi lebih rendah suhunya dibanding suhu

lingkungan sekitarnya. Filter (penyaring) tambahan digunakan untuk

menghilangkan polutan dari udara. AC yang digunakan dalam sebuah gedung

biasanya menggunakan AC sentral. Selain itu, jenis AC lainnya yang umum

adalah AC ruangan yang terpasang di sebuah jendela. Kunci utama dari AC

adalah refrigerant, yang umumnya adalah fluorocarbon, yang mengalir dalam

sistem, menjadi cair dan melepaskan panas saat dipompa (diberi tekanan), dan

menjadi gas dan menyerap panas ketika tekanan dikurangi. Mekanisme

berubahnya refrigerant menjadi cairan lalu gas dengan memberi atau mengurangi

tekanan terbagi mejadi dua area. Sebuah penyaring udara, kipas, dan cooling coil
(kumparan pendingin) yang ada pada sisi ruangan dan sebuah kompresor

(pompa), condenser coil (kumparan penukar panas), dan kipas pada jendela luar.

Udara panas dari ruangan melewati filter, menuju ke cooling coil yang berisi

cairan refrigerant yang dingin, sehingga udara menjadi dingin, lalu melalui

teralis/kisi-kisi kembali ke dalam ruangan. Pada kompresor, gas refrigerant dari

cooling coil lalu dipanaskan dengan cara pengompresan. Pada condenser coil,

refrigerant melepaskan panas dan menjadi cairan, yang tersirkulasi kembali ke

cooling coil. Sebuah thermostat mengontrol motor kompresor untuk mengatur

suhu ruangan.

11. Mesin kendaraan bermotor

Pada mesin kendaraan bermotor terdapat aplikasi termodinamika dengan

sistem terbuka. Dimana ruang didalam silinder mesin merupakan sistem,

kemudian campuran bahan bakar dan udara masuk ke dalam silinder, dan gas

buang keluar sistem melalui knalpot.

12. Lemari Es (Kulkas)

Lemari es (kulkas) adalah suatu unit mesin pendingin di pergunakan dalam

rumah tangga, untuk menyimpan bahan makanan atau minuman. Untuk

menguapkan bahan pendingin di perlukan panas. Lemari es memanfaatkan sifat

ini. Bahan pendingin yang digunakan sudah menguap pada suhu -200C. Panas

yang diperlukan untuk penguapan ini diambil dari ruang pendingin, karena itu

suhu dalam ruangan ini akan turun. Penguapan berlangsung dalam evaporator

yang ditempatkan dalam ruang pendingin. Karena sirkulasi udara, ruang

pendingin ini akan menjadi dingin seluruhnya.


13. Termos

Pada alat rumah tangga tersebut terdapat aplikasi hukum I termodinamika

dengan sistem terisolasi. Dimana tabung bagian dalam termos yang digunakan

sebagai wadah air, terisolasi dari lingkungan luar karena adanya ruang hampa

udara di antara tabung bagian dalam dan luar. Maka dari itu, pada termos tidak

terjadi perpindahan kalor maupun benda dari sistem menuju lingkungan maupun

sebaliknya.

14. Rice Cooker

Pada rice cooker, energi panas ini dihasilkan dari energi listrik. Suatu cairan

akan menguap bila tekanan uap gas yang berasal dari cairan adalah sama dengan

tekanan dari cairan ke sekitarnya (Puap = Pcair). Jadi, titik didih suatu cairan

sebenarnya bisa dimanipulasi dengan meningkatkan tekanan di luar cairan

(tekanan eksternal). Pada penanak nasi biasa, air akan dididihkan dengan tekanan

eksternal biasa, yaitu 101 kPa, dan mendidih pada titik didih biasa, yaitu 100C

(373 K). Sementara, pada penanak nasi yang memanipulasi tekanan (pressure

cooker, atauelectric pressure cooker) jika tutup lubang uapnya dibuka,

maka pressure cooker akan bekerja seperti penanak nasi biasa, karena tekanan

eksternalnya sama dengan tekanan udara luar. Namun, jika tutup lubang uapnya

(biasanya berupa katup) ditutup, akan ada perubahan pada tekanan udara di ruang

dalam pressure cooker dan titik didih cairan akan berubah. Ketika katupnya

ditutup, kondisi sistem berubah karena uap airnya hanya dapat berada di dalam

ruang pressure cooker.


Dari praktikum yang telah dilaksanakan maka diperoleh hasil dari prinsip

kerja prototype kapal uap tersebut adalah memanfaatkan konversi energi dari

energi panas menjadi energi uap yang menggerakkan prototype kapal uap air

dalam kaleng mendidih karena ada panas yang berasal dari lilin, sehingga

mengeluarkan uap yang kuat yang membuat kapal tersebut berjalan. Pada data

praktikum juga mendapatkan massa kaleng, massa kaleng dan air, massa air,

massa total, massa lintasan, waktu mendidih, waktu berjalan-berhenti, suhu awal.

Dan hasil dari perhitungan dari kelompok 1-3 juga mendapatkan W, Qair, Quap,

dan U. Dari perhitungan kelompok 1 mendapatkan hasil a (2,2 x 10-5 m/s2), W

(2,24 x 10-5 Joule), Qair (37800 Joule), Quap (283500 Joule), dan (-245700

Joule). Sedangkan kelompok 2 mendapatkan hasil perhitungan a (0,59 x 10-5

m/s2), W (0,438 x 10-5 Joule), Qair (42336 Joule), Quap (317520 Joule), dan (-

275184 Joule). Dan untuk kelompok 3 mendapatkan hasil perhitungan a (0,86 x

10-5 m/s2), W (1,16 x 10-5 Joule), Qair (33726 Joule), Quap (249480 Joule), dan

(-215754 Joule).

Faktor-faktor yang membuat data antar kelompok berbeda adalah sebagai

berikut:

1. Massa air, air dalam kaleng yang dipanaskan akan menguap, uap gas

menghasilkan gaya dorong sehingga mempengaruhi perpindahan usaha dari

kapal uap. Massa air juga mempengaruhi usaha karena semakin banyak

massa air maka akan menghasilkan banyak uap gas dalam kaleng. Namun

jika massa atau volume air terlalu banyak, air akan membutuhkan waktu yang

cukup lama untuk mencapai titik didihnya.


2. Volume uap, uap air yang mengembang akan memenuhi kaleng sehingga

terjadi tekanan yang mendorong uap keluar melelaui lubang kecil yang

terdapat dalam kaleng.

3. Percepatan mempengaruhi data karena jarak yang ditempuh oleh prototype

dan lamanya waktu yang digunakan berpengaruh pada besar kecilnya usaha.

4. Nyala lilin akan berpengaruh pada cepat lambatnya air mendidih karena

semakin besar nyala lilin maka akan semakin cepat air mendidih ketika air

mendidih akan menghasilkan uap air dan uap air akan menggerakkan

prototype tersebut.

5. Angin juga berpengaruh pada kecepatan laju prototype, karena angin dapat

menganggu nyala lilin yang berakibat nyala lilin semakin besar maupun

semakin kecil.

Kendala yang dialami pada saat praktikum adalah sebagai berikut:

1. Luas penampang merupakan kendala dari praktikum karena luas penampang

yang digunakan pada saat praktikum terlalu kecil hal tersebuat membuat

prototype berjalan kurang lancar.

2. Lubang kecil pada ujung kaleng juga kendala pada saat praktikum karena

sulit untuk memasukkan air ke dalam kaleng karena lubang yang terlalu kecil.

3. Kawat juga merupakan kendala karena kawat yang digunakan kurang kuat hal

tersebut membuat kawat bengkok karena tidak bisa menopang kaleng yang

telah diberi air jika pemberian air terlalu banyak.

4. Serta kendala-kendala lain yang tidak dapat disebutkan oleh praktikan.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kalor (Q) merupakan energi yang berpindah dari satu benda ke benda yang

lain akibat adanya perbedaan suhu. Kalor juga dikatakan energi yang

berpindah dari sistem ke lingkungan atau energi yang berpindah dari

lingkungan ke sistem akibat adanya perbedaan suhu. Jika suhu sistem lebih

tinggi dari suhu lingkungan, maka kalor akan mengalir dari sistem menuju

lingkungan. Sebaliknya, jika suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu sistem,

maka kalor akan mengalir dari lingkungan menuju sistem.

2. Energi dapat disimpan didalam suatu sistem dan dalam berbagai bentuk.

Energi juga dapat dikonversi dari suatu bentuk ke bentuk lain dan

dipindahkan antar sistem. Besar usaha dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

massa, suhu dan kalor jenis zat.

3. Hukum I termodinamika berbunyi Energi tidak dapat diciptakan maupun

dimusnahkan, tetapi energi dapat diubah bentuknya.

4. Aplikasi kecil pada kapal uap merupakan suatu proses Isokhorik, karena pada

proses isokhorik tidak terjadi perubahan volume ( = 0) sehingga usaha

luar (W = P = 0). Aplikasi dari hukum termodinamika I dalam kehidupan

sehari-hari biasanya diterapkan pada lemari es, AC, termos, kendaraan

bermotor, dan lain-lain.


B. Saran

Pada praktikum termodinamika acara 3 ini sudah berjalan dengan lancar,

hanya saja keterbatasan alat-alat praktikum, sebaiknya alat yang akan digunakan

terlebih dahulu dipersiapkan dan dicek kelayakan penggunaannya, sehingga dapat

digunakan secara maksimal. Asisten praktikum lebih mengkondisikan praktikan

agar praktikum berjalan dengan optimal serta penjelasan dari asisaten praktikum

harus diperjelas. Praktikan lebih kondusif dalam melaksanakan praktikum agar

praktikan lagi tidak terganggu. Dalam pelaksanaan praktikum sebaiknya asisten

selalu mendampingi dan mengarahkan praktikan, tidak duduk dan ngobrol sendiri-

sendiri. Penyampaian materi diperjelas, disesuaikan dengan materi yang ada di

buku.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Kukuh. S. 2000. Validasi Metode Uji. Pusat Standarisasi dan


Akreditasi. Laboratorium BSN: Jakarta.

Deni, S.. 2014. Pengertian Kalibrasi. Cimahi: Pustaka Harapan.

Giancoli, Douglas C.. 2001. Fisika Jilid I (terjemahan). Jakarta: Erlangga

Halliday, David. 1985. Fisika (Jilid 1 Edisi Ketiga). Erlangga: Jakarta.

Hamid, Ahmad Abu. 2007. Kalor dan Termodinamika. Yogyakarta: Fakultas


MIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

ISO/IEC Guide 17025. 2005. Vocabulary of International Metrologi (VIM).


Jakarta

KAN/BSN. 2006. Pedoman Kalibrasi Multimeter Digital (DMM). Komite


Akreditasi Nasional: Jakarta.

Khuriati, Ainie. 2007. Buku Ajar Termodinamika. Jurusan Fisika FMIPA


Universitas Diponegoro: Semarang.

Laboratorium Kalibrasi dan Uji (LKU) ISO/IEC 17025. 2005. Manfaat Kalibrasi
Alat Ukur. Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta.

Legiyon, Stephanus. 2007. Fisika SMA. Grasindo: Jakarta.

Marvilles, Milka, et al.. 2015. Hukum Ke-Nol Termodinamika dan Termometri.


Palembang: Universitas Sriwijaya.

Morris, Alan S. 2001. Measurement and Instrumentation Principle. Butterworth


Heinemann, ISBN 0-7506-5081-8.

Nurachmadani, Setya. 2007. Fisika SMA. Gumunggung: Surakarta.

Ponco, Dewi Wati. 2012. Hukum I Termodinamika (Hukum Kekekalan Energi).


Makalah. Pendidikan Kimia, Universitas Sebelas Maret Surakarta: Solo.

Saad, Michel A. 2000. Termodinamika Prinsip dan Aplikasi. PABELA:


Surakartan
Silitonga, P. Maulin. 2008. Akurasi Alat-Alat Ukur Volume yang Digunakan
dalam Praktikum dan Penelitian Dilaboratorium Kimia FMIPA Unimed.
Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains. Vol. 3(2): 132-135.

Sumarjono, dkk. 2005. Fisika Dasar 1. Malang: Universitas Negeri Malang.

Supiyanto. 2006. Fisika Untuk SMA Kelas XI. Phibeta Aneka Gama: Jakarta.

Tim Asisten dan Dosen 2017. Panduan Praktikum Termodinamika. Purwokerto:


Program Studi Teknik Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas
Pertanian Unsoed.

Tipler, P. A.. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik-Jilid I (terjemahan). Jakarta:
Erlangga.

W. Greiner, L. Neise, H. Stocker. 1995. Thermodynamics and Statistical


Mechanics. Berlin: Springer.

Wihantoro, T. S. dan Sunardi. 2001. Fisika Dasar Universitas. Percetakan


Universitas Jenderal Soedirman: Purwokerto.

Willey, J., Suns. 1978. Fisika Jilid 1 edisi ketiga. Erlangga: Jakarta.

Young and Freedman. 1999. Fisika Universitas (edisi 10), (alih bahasa oleh
Pantur Silaban). ITB: Erlangga.
LAMPIRAN