Anda di halaman 1dari 13

JAWABAN:

1. Rekahan merupakan suatu bentuk diskontinuitas. Ada dua mekanisme berdasarkan kurva
stress-strain yaitu brittle fracture dan ductile fracture. Pembentukan rekahan akan selalu
diawali oleh peningkatan kompresif stress atau peningkatan efektif stress dalam hal ini ialah
tekanan pori seperti hadirnya batuan dalam pori batuan. Pembentukan rekahan pada batuan
dapat terjadi dengan tiga cara, yang intinya berkaitan dengan diagram mohr, yaitu
compressive, tensile, dan effective stress.

Hubungan antara kondisi stress dan pembentukan rekahan

Gambar 1. Seluruh analisis pembentukan rekahan dapat dianalisis melalui Diagram Mohr

Compressive: stress kompresif terjadi dengan cara meningkatkan sigma 1 (S1) dengan kata
lain gaya tekan batuan diperbesar, dengan cara demikian maka diagram mohr dari batuan
akan menyentuh coulomb failure dan terbentuklah sesar (Gambar 1 dan Gambar 2).

Tensile: Stress tensile dapat terjadi dengan cara mengecilkan sigma 3 (S3) dengan kata lain
batuan ditarik, dengan cara demikian maka digram mohr dari batuan akan menyentuh
coulomb failure dan terbentuklah joint (Gambar 1 dan Gambar 2 ).

Effective stress: merupakan cara yang paling mudah untuk menghasilkan rekahan, yaitu
dengan cara memperbesar tekanan pori sehingga kekuatan batuan mengecil atau dengan
kata lain menarik diagram mohr ke kiri mendekati coulomb failure (Gambar 1 dan Gambar
2).

1
Gambar 2. Mekanisme pembentukan rekahan pada Diagram Mohr

Terdapat beberapa variable yang harus diketahui dalam melakukan analisis pecahnya batuan
melalui diagram Mohr, antara lain n ialah normal stress, 1 ialah stress utama, 2 ialah stress
medium, 3 ialah stress minimum dan c ialah uniaxial kompresif stress.

Stress Kritis

Stress kritis adalah titik/kondisi dimana batuan tersebut mulai akan break membentuk
rekahan/sesar. Biasanya stress kritis tergantung pula pada koefisien friksi batuan yaitu antara
0.6-1.0.
Tekanan Hidrostatik
Adalah kondisi saat (s1=s2=s3=s0), yaitu saat batuan diberikan tekanan dari seluruh sisi
dengan besaran yang sama. Dengan cara demikian kita dapat mengetahui besaran
kompresibilitas batuan dan tekanan pori runtuh.

Kasus Reaktivasi Sesar atau Rekahan

2
Berdasarkan mekanisme pembentukan pada diagram Mohr, akan lebih mudah mereaktifasi
rekahan yang sudah ada dibandingkan dengan membentuk rekahan yang baru. Jika pada
batuan sudah terdapat fracture sebelumnya, patahnya batuan tidak dikontrol oleh harga kohesi
maupun kekuatan batuan (sehingga fungsi kohesi dihilangkan), namun oleh daya tahan geser
(frictional resistence) dari rekahan-rekahan yang telah ada tersebut.

Hukum Byerlee menyatakan bahwa stress kritis yang menyebabkan reaktifasi rekahan yang
telah ada sama dengan koefisien dari gaya geser dikalikan dengan normal stress yang bekerja
pada permukaan fracture, dimana fungsi kohesinya dihilangkan. Hukum ini merupakan
modifikasi dari hukum Coulomb. Ketika akumulasi gaya melampaui gaya friksi batuan, maka
sesar/rekahan yang telah ada teraktifasi kembali.

Hydraulic Fractures

Hydraulic fractures adalah sebuah metoda yang digunakan untuk membuat fracture atau
rekahan yang memanjang dari lubang bor ke dalam formasi batuan. Teknik ini digunakan
untuk meningkatkan atau meperbaiki jumlah fluida seperti minyak, gas, atau air yang terdapat
dalam formasi.

Tujuan dari hydraulic fracturing adalah untuk meningkatkan jumlah sumur produksi di
sekeliling formasi dan untuk memberikan conductive channel yang dapat mengalirkan fluida
ke dalam sumur. Hal ini dapat dilakukan pada sumur yang diinjeksikan oleh air atau sumur
minyak/gas.

Hydraulic fractures terbentuk oleh memompakan fluida rekahan ke dalam sumur untuk
meningkatkan tekanan di bawah sumur yang dapat menyebabkan kelebihan gradien rekahan
dari formasi batuan. Tekanan tersebut menyebabkan formasi batuan mengalami retakan yang
menyebabkan fluida dapat masuk dan memperluas retakan sampai ke dalam formasi batuan.
Contoh-contoh fluida rekahan adalah berkisar dari air sampai gels, busa, nitrogen,
karbondioksida, atau udara.

Hubungan fluida dan kondisi stress

Saat kondisi stress meningkat pada suatu batuan, maka tekanan fluida dalam batuan tersebut
sangat tinggi. Apabila kondisi stress tersebut membentuk rekahan, maka fluida yang
sebelumnya mendapatkan tekanan yang besar tersebut akan memindahkan tekanannya pada
rekahan yang terbentuk dan menjadikannya jalan untuk meloloskan fluida ke tekanan yang
lebih rendah yaitu ke permukaan bumi.

3
2. Geomekanika reservoir merupakan studi integrasi dari beberapa kondisi, yaitu :
stress
rekahan alami
tekanan pori
formasi-formasi pada overburden
sifat fisik reservoir
batuan tudung (cap rock)

Dalam industri perminyakan, konsep ini sangat berkembang sekali seperti dalam hal:

Pemboran untuk mereduksi biaya dan kerusakan dari formasi.


Hydrofracture Propagation.
Penempatan lubang bor (azimuth dan deviasi, sidetrack).
Stabilitas lubang bor selama pemboran (mud weight, arah pemboran).
Stabilitas reservoar jangka panjang (sand production).
Fault seal analysis.
Pembagian reservoar (reservoir compartmentalization).
Drainase optimum dari reservoir rekahan.
Migrasi Hidrokarbon.

Model geomekanika adalah gabungan dari hasil studi tekanan insitu, tekanan pori dan karakter
fisik pada batuan reservoir, rekahan dan sesar yang ada pada formasi di bawah permukaan
(Cherdasa, 2009). Parameter utama yang mengontrol interaksi kondisi geologi dan praktek
teknik dan produksi yaitu:

Kondisi stress in situ: dari data image lubang bor (FMI,ARI,UBI) (Gambar 3)

Gambar 3. Penentuan stress insitu

4
Kekuatan batuan + SHmax: dari tensor stress hasil pengamatan failure + data teknis dan
data tekanan

Gambar 4. Skema Borehole Breakout dan arah gaya

Tekanan pori: dari data RFT,DST, flow test,atau model kecepatan seismic,log
resistivity atau log akustik.
Stress vertical (Sv): dari berat batuan di atasnya + log densitas atau data empiris
density-depth (Sv = x g x z).
Gaya utama terkecil (S3): dari data minifracs, hasil tes extended leak-off atau leak-off.
Sifat dan arah perlapisan,
Distribusi patahan,
Arah pemboran,
Berat lumpur.

Ilustrasi kondisi geomekanika reservoir bawah permukaan yang menunjukan sebuah


kondisi kritis.

State of stress pada reservoir hidrokarbon dapat didefenisikan sebagai Sv yaitu stress vertikal
dan SHmax dan Shmin yaitu stress horizontal. Pada beberapa kasus di seluruh dunia, stress
horizontal tidak sama dan yang biasa ditemukan maksimum stress horizontal lebih besar
daripada stress vertikal. Pada regim stress tinggi, minimum stress horizontal lebih besar dari
vertikal stress.

Konsentrasi tekanan elastis disekitar sumur yang dibor sepanjang sumbu principal stress
dideskripsikan oleh persamaan Kirsch. Metode komprehensif secara geomekanika dalam
pendekatan terhadap deformasi batuan yang berdasarkan kepada observasi detail untuk
mendeterminasi nilai maksimum dari stress horizontal dan memberikan batasan pada batuan in-
situ, terdapat 2 jenis metode yaitu wellbore failure in vertical wells dan wellbore failure in
inclined wells.
5
Wellbore Failure in Vertical Wells: Kegagalan pada tipe pemboran ini utamanya dikontrol
oleh 3 besaran principal stress (2 horizontal dan 1 vertikal), juga berkaitan dengan
temperatur, kekuatan batuan dan tekanan hidrostatik, sehingga bila terdapat
ketidakseimbangan yang besar antara komponen tersebut akan meningkatkan prosentasi
kegagalan.
Wellbore Failure in Inclined Wells: Orientasi dan karakteristik dari kegagalan pada lubang
pemboran yang inclined (bersudut) memiliki hubungan yang lebih kompleks antara besaran
stress, orientasi stress dan orientasi dari pemboran, bila tidak hati-hati dalam analisis 3D
mengenai arah orientasi dari stress maka akan meningkatkan persentasi kegagalan.

Pemodelan stress melalui pendekatan geomekanik memiliki beberapa metode, yaitu:

Memodelkan pengamatan failure pemboran

Tujuan utama metode ini yakni mengetahui kondisi insitu stress dalam reservoir. Secara
khusus, penting untuk menentukan besar dan arah stress horizontal maksimum (SHmax) dengan
menggabungkan analisis pengukuran pemboran secara rutin dan langsung.

Analisis lebar failure-breakout kompresional:


Perlu diingat bahwa breakout akibat stress akan simetri di sekitar lubang bor. Syarat failure
yakni stress lubang bor melampaui kekuatan batuan kompresif efektif, dengan lebar
minimum breakout sebagai fungsi dari failure- awal dinding lubang bor terhadap
pembentukan breakout (Zoback et al. 1998). Besar SHmax dapat dimodelkan pada batas
lubang bor menggunakan nilai Shmin, tekanan pori, berat lumpur, lebar breakout, dan nilai
kuat batuan efektif (Zoback et al. 1998).

Tensile failure-inclined tensile wall crack:


Rekahan tensile akibat pemboran membentuk pola chevron telah diinterpretasi Brudy dan
Zoback (1993) untuk menunjukkan bahwa lubang bor dibor dengan kemiringan terhadap
sumbu stress utama. Didapati bahwa rekahan tensile pada sumur miring bermula pada titik
dimana stress kompresif circumferential paling kecil sepanjang lubang bor kebanyakan
berupa tensile. Karena karakteristik crack tensile dipengaruhi arah relatif sumur dan lokasi
stress, maka suatu observasi tunggal crack tensile miring pun dapat dipakai untuk
mengetahui besar dan arah stress in situ. Untuk suatu kondisi stress tertentu, kecenderungan
failure tensile dan arah crack dapat dihitung sebagai fungsi temperature, stress utama, arah
pemboran, berat lumpur, kekuatan batuan. Dalam hal ini, temperature in situ, stress
minimum, stress vertical, dan tekanan lubang bor serta fluida pori diketahui.

6
Gambar 5. Ilustrasi pembentukan rekahan pada lubang bor.

Anisotropi permeabilitas

Sesar dan rekahan dalam massa batuan bertindak sebagai saluran utama aliran fluida
menunjukkan pengaruh kuat dalam hal permeabilitas keseluruhan. Alasan yang dapat diterima
mengenai sifat permeabilitas rekahan yang lebih besar adalah karena rekahan-rekahan
konduktif secara hidraulik akan meregang pada arah stress utama terkecil. Dalam reservoir-
fracture, pengetahuan detail mengenai lokasi stress in situ atau pemetaan anisotropi kecepatan
akibat stress (yang dianggap berkaitan dengan microcracks yang tegak lurus S3 (Crampin et al.
1980)) dapat dipakai untuk menyimpulkan apakah rekahan konduktif memiliki orientasi yang
seusai. Dengan mengasumsikan rekahan-rekahan konduktif hampir tegak lurus S3, maka
pengetahuan arah stress in situ dapat digunakan dalam mendesain arah pemboran yang parallel
Shmin dan memotong daerah dengan jumlah rekahan banyak.

7
3. Apakah wellbore breakouts dan tensile fracture terjadi jika sumur dibor vertical? Berikan
evaluasi jika dilakukan horizontal well ? berikan penjelasan.
Diketahui:
Shmin = 42 MPa
SHmax = 88 MPa
Pp = 27 MPa
P = 0, (selisih antara nilai mud weight dan porepressure)
Asumsi :
Borehole breakout terjadi bila >
Ditanyakan :
Prediksi wellbore breakout untuk (Co) =150 MPa
Bandingkan untuk kasus (Co) = 90 MPa

Prediksi wellbore breakout untuk (Co) =150 MPa


Pengembangan wellbore breakout terjadi ketika konsentrasi maximum stress ( ) melebihi
rock strength. Adapun rumus memperoleh nilai konsentrasi maximum stress ;
=
= 3 88 MPa 42 MPa 2 27 0 0 =
Nilai = 168 MPa , > , dapat disimpulkan bahwa breakout dan
tensile fracture terjadi jika sumur dibor vertikal.
Sudut Breakout width nya dapat diperoleh dengan rumus effective compressive strength (Ceff):
= + ( )
= + ( )
=
= .
=
= .
Untuk (Co)=150 MPa, diperoleh sudut breakout width () = 71.5o.

Prediksi wellbore breakout untuk kasus (Co) =90 MPa


Untuk kasus rock strength (Co)=90 MPa, maka > , saat sumur dibor
vertical akan terjadi breakout dan tensile fracture.
Sudut Breakout width nya dapat diperoleh dengan rumus effective compressive strength (Ceff):
= + ( )
8
= + ( )
=
= .
=
=
Untuk (Co)=150 MPa, diperoleh sudut breakout width () = 49o.

Evaluasi jika dilakukan horizontal well


Kondisi daerah penelitian dengan jenis sesar strike-slip yang telah mengalami failure dilihat
berdasarkan gambar 3.1, yang artinya SHmax > Sv > Shmin.
Dengan nilai SHmax 88 MPa, Shmin 42 MPa, dan Sv = (88+42)/2 = 65 MPa, terjadi breakout dan
tensile pada vertical well.
Tujuan pemboran horizontal untuk melakukan pemboran pada sasaran pemboran yang tidak bisa
dilakukan dengan pemboran vertikal, hal tersebut merupakan pertimbangan dilakukannya
pemboran horizontal pada suatu formasi. Pemboran yang selalu diinginkan adalah pemboran
lubang yang vertikal, karena dengan lubang yang vertikal operasinya lebih mudah, dan umumnya
biaya lebih murah dibandingkan dengan pemboran horizontal.
Evaluasi yang dilakukan pada pemboran horizontal ini menggunakan metode yang
membandingkan perencanaan lintasan dengan hasil aktual lintasan. Data yang digunakan dalam
penelitian ini didapat dari data lapangan seperti jenis formasi yang ditembus oleh bit, bottom hole
assembly yang digunakan, serta drilling mode. Dari hasil perhitungan survey lintasan, kemudian
dibandingkan keadaan sebenarnya dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya.
Jika akan dilakukan pemboran dengan metode horizontal well, maka ada beberapa kondisi dan
parameter yang perlu diperhatikan, diantaranya: analisis arah (direction) pada pemboran horizontal
dengan memperhatikan stabilitas dinding sumur dan gaya-gaya yang berlaku pada horizontal well,
perlakuan saat proses pemboran horizontal dengan pengontrolan kemampuan mud weight nya.

9
170

160

150
RF
140

130

120
SHmax

110

100 SS
90

80

70

60 NF
50

40
40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170

Shmin

Gambar 3.1. Polygon stress pada kondisi hydrostatic, nilai magnitude dari Shmin dan SHmax
daerah penelitian.

4. Konsep mengenai basement fracture reservoir serta contohnya.

Reservoir Rekahan

Reservoar rekahan membentuk kelas khusus dari reservoir yang memiliki struktur geologi
kompleks dimana rekahan hidraulik ataupun patahan memiliki kontribusi yang signifikan
terhadap aliran fluida. Interaksi antara kapasitas penyimpanan yang didominasi oleh litologi
yang memiliki porositas tinggi disertai dengan permeabilitas yang rendah dan kapasitas
mengalirkan fluida yang didominasi oleh rekahan yang memiliki ciri porositas rendah dan
permeabilitas tinggi dalam reservoar ini membuat reservoar ini sulit diprediksi

Konsep reservoir konvensional yaitu batuan reservoir adalah batuan sediment yang memiliki
porositas primer yang cukup besar yang menyimpan kandungan oil/gas yang berada dalam
perangkap hidrokarbon. Namun saat ini, semua orang telah menyadari bahwa yang dapat
menjadi reservoir bukan batuan sedimen saja seperti batupasir, tetapi batuan beku dan batuan
metamorf pun dapat menjadi batuan reservoir jika batuan tersebut memiliki porositas sekunder
akibat terbentuknya rekahan. Sebenarnya keberadaan reservoar rekahan tersebut hanya bersifat
sebagai jalur perpindahan saja dari sumber utama hidrokarbon (source rocks) menuju batuan
reservoar. Akibat dari kompleksnya sistem rekahan maka pada suatu bagian terdapat rekahan
yang dimungkinkan tidak bisa mengalirkan terus hidrokarbonnya sehingga hidrokarbon pun
terperangkap dalam rekahan tersebut, dan apabila kejadian ini banyak terjadi pada rekahan-

10
rekahan lain di bagian yang berbeda dari tubuh batuan maka batuan tersebut dapat memiliki
kemungkinan baik sebagai batuan reservoar rekahan.

Contohnya, yaitu:

Selatan pulau Sumatra, terindikasi adanya basement reservoir karena ditemukan adanya
indikasi hidrokarbon batuan reservoir pada batuan basement (disertasi alfian bahar),
Lapangan Jatibarang dimana batuan reservoarnya merupakan batuan beku yang
terekahkan,
Basement Fracture dan potensinya sebagai reservoir migas di Blok Malacca Strait
Cekungan Sumatera Tengah.

Metode Eksplorasi dan Produksi berdasarkan Penelitian Geologi dan Geofisika

Penelitian karakteristik rekahan pada batuan dasar ini terdiri dari penelitian langsung dan
penelitian tidak langsung. Penelitian langsung diantaranya adalah berupa pengamatan
singkapan dipermukaan, penyelidikan cutting pemboran dan inti pemboran. Menurut Sausse
dalam Harvey dkk. (2005) secara visual geometri rekahan dapat teramati dari core atau inti
pemboran. Selain itu dari inti pemboran juga dapat diketahui sifat mekanika batuan dengan
melalui proses tes di laboratorium. Sedangkan penelitian tidak langsung adalah pengamatan
dengan mengunakan metode-metode geofisika (Gambar 6), yaitu seperti:

1. Metode Seismik Refleksi


2. Penyelidikan sifat keelektrikan batuan dapat dilakuakan dengan image log seperti dengan
FMI (Fullbore Formation Micro Imager), FMS (Formation Micro Scanner), dan ARI
(Azimuthal Resistivity Imager).
3. Penyelidikan sifat reflekstivitas dapat dilakuakan dengan mengunakan acoustic image log.
Yaitu seperti UBI (Ultrasonic Borehole Imager), BHT (Bore Hole Tele Viewer).
4. Penyelidikan hidraulik diperoleh dari data tekanan formasi dan dapat diperoleh dari log
aliran dan temperatur.

11
Gambar 6. (a) Pengamatan Geofisika untuk mengetahui karakteristik reservoir batuan yang
terekahkan, (b) Modular Dynamic Formation Tester untuk menentukan tekanan fluida,
permeabilitas rekahan, dan untuk mengambil conto fluida (Harvey dkk., 2005)

12
REFERENSI

Brehm, Andrew, D.K and Ward, Chris, D. Geomechanical International Inc. Hart Energy
Publishing: Houston

Barton, C.A., Castillo, D.A., Moos, Peska and Zoback, M.D. 1998. Characterising The Full Stress
Tensor Based on Observations of Drilling-Induced Wellbore Failures In Vertical And
Inclined Boreholes Leading To Improved wellbore Stability and Permeability Prediction.
APPEA JOURNAL; p 29-53. Australia.

Davis, GH. Structural Geology of Rock and Region. Second edition, John Wiley & Sons :
Singapore.

Harvey, P. K., Brewer, T. S., Pezard, P. A. & Petrov, V. A. (eds) 2005. Petrophysical Properties
of Crystalline Rocks. Geological Society, London, Special Publications, 240.

Wiprut, D and Zoback, M. D. 2000. Fault reactivation And Fluid Flow Along A Previously
Dormant Normal Fault In The Northern North Sea. Stanford University.: California

Zoback, Mark D., .2007. Reservoir Geomechanics. Cambridge University: New York.

13