Anda di halaman 1dari 77

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS RT 04 RW 13

KELURAHAN MOJOLANGU KECAMATAN LOWOKWARU

KOTA MALANG DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS MOJOLANGU

OLEH :

KELOMPOK 4

1. CLARA DESTANIA KE 16143149011007


2. FADILA A.S 16143149011015
3. MARIA IVONI 16143149011027
4. MUKHLIS 16143149011032
5. RAHMY IRIANTI 16143149011036
6. RIDWAN SOFIAN 16143149011038
7. SUKMA AYU E 16143149011043

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARANI MALANG

PROGRAM PROFESI NERS

TAHUN 2017
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Asuhak Keperawatan Komunitas di RT 04 RW 13 Kelurahan Mojolangu

Kecamatan Lowokwaru Kota Malang di Wilayah Kerja Puskesmas Mojolangu Kota

Malang Oleh Kelompok 4 Progam Studi Profesi Ners telah disetujui dan disahkan

pada:

Hari :
Tanggal :

Menyetujui,

Pembimbing Lahan Pembimbing Akademik


Puskesmas Mojolangu Malang Stikes Maharani Malang

Ahmad Syaihuddin Anwari, Amd. Kep Ns. Puguh Raharjo, S.Kep


NIP. 19660810 198803 10 11 NIK.07314312057

Stikes Maharani Malang


Program Studi Profesi Ners
Ketua,

Dra. Susilaningsih, M.Kes


NIK.07314308015
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa globalisasi menuntut adanya perkembangan dan perubahan di
segala bidang salah satu diantaranya adalah bidang kesehatan. Dengan berbagai
inovasi yang dilakukan di bidang kesehatan, perubahan bidang ilmu pengetahuan
dan tekhnologi, maka terjadi peningkatan usia harapan hidup warga Indonesia
dan ini memberikan dampak tersendiri dalam upaya peningkatan derajat atau
status kesehatan penduduk (Citra, 2104).

Penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai


peningkatan derajat hidup sehat bagi setiap penduduk adalah merupakan hakekat
pembangunan kesehatan yang termuat di dalam Sistem Kesehatan Nasional
(SKN) dengan tujuan agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Agar
tujuan tersebut dapat tercapai secara optimal, diperlukan partisipasi aktif dari
seluruh anggota masyarakat bersama petugas kesehatan. Hal ini sesuai dengan
telah diberlakukannya UU No. 23 tahun 1992 yaitu pasal 5 yang menyatakan
bahwa setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga dan lingkungan (Effendy,
2015).

Peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia di berbagai bidang


kehidupan mengakibatkan pergeseran pola kehidupan masyarakat diantaranya
bidang kesehatan. Dengan berkembangnya Paradigma Sehat-Sakit, saat ini
telah terjadi pergeseran, antara lain: perubahan upaya kuratif menjadi upaya
preventif dan promotif, dan segi kegiatan yang pasif menunggu masyarakat
berobat ke unit-unit pelayanan kesehatan menjadi kegiatan penemuan kasus yang
bersifat aktif. Hal ini akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada
masyarakat untuk ikut berperan serta secara aktif dalam upaya peningkatan status
kesehatannya (Effendy, 2015).

Masyarakat atau komunitas sebagai bagian dari subyek dan obyek


pelayanan kesehatan dan dalam seluruh proses perubahan hendaknya perlu
dilibatkan secara lebih aktif dalam usaha peningkatan status kesehatannya dan
mengikuti seluruh kegiatan kesehatan komunitas. Hal ini dimulai dari pengenalan
masalah kesehatan sampai penanggulangan masalah dengan melibatkan individu,
keluarga dan kelompok dalam masyarakat (Friedman, 2012).

Dalam upaya meningkatkan kemampuan bekerja dengan individu;


keluarga dan kelompok di tatanan pelayanan kesehatan komunitas dengan
menerapakn konsep kesehatan dan keperawatan komunitas, serta sebagai salah
satu upaya menyiapkan tenaga perawat profesional dan mempunyai potensi
keprawatan secara mandiri sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai, maka
mahasiswa Program Profesi Ners Kelompok 4 melaksanakan Praktik
Keperawatan Komunitas di RT 04 RW 13 Kelurahan Mojolangu Kecamatan
Lowokwaru Malang dengan menggunakan 3 pendekatan, yaitu pendekatan
keluarga, kelompok dan masyarakat.

Pendekatan keluarga dilakukan dengan cara setiap mahasiswa


mempunyai dua keluarga binaan dengan resiko tinggi dan tumbuh kembang
sebagai kasus keperawatan keluarga. Pendekatan secara kelompok dilakukan
dengan cara mengikuti semua kegiatan warga RT 04 RW 13. Dengan pendekatan
dari masing-masing komponen diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih
nyata kepada masyarakat.Sedangkan pendekatan masyarakat sendiri dilakukan
melalui kerjasama yang baik dengan instansi terkait, Pokjakes dan seluruh
komponen desa untuk mengikut sertakan warga dalam upaya pencegahan dan
peningkatan kesehatan.Masyarakat yang dimotori oleh Pokjakes diharapkan
dapat mengenal masalah kesehatan yang terjadi di wilayahnya, membuat
keputusan tindakan kesehatan bagi anggota keluarga/masyarakatnya, mampu
memberikan perawatan, menciptakan lingkungan yang sehat serta memanfaatkan
fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat.

Selain itu, selama proses belajar di komunitas, mahasiswa


mengidentifikasi populasi dengan resiko tinggi dan sumber yang tersedia untuk
bekerjasama dengan komunitas dalam merancang, melaksanakan dan
mengevaluasi perubahan komunitas dengan penerapan proses keperawatan
komunitas dan pengorganisasian komunitas. Harapan yang ada, masyarakat akan
mandiri dalam upaya meningkatkan status kesehatannya.

Oleh karena itu, kami sebagai bagian dari kesehatan diharapkan dapat
berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dan masyarakat, dalam
penyelenggaraaan upaya kesehatan masyarakat yang mencakup keperawatan
komunitas, keluarga, dan gerontik. Dalam praktik keperawatan komunitas ini,
kami akan melakukan kegiatan asuhan keperawatan komunitas yang bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan dan keasadaran masyarakat akan pentingnya
kesehatan di RT 04 RW 13 Kelurahan Mojolangu Kecamatan Lowokwaru
Malang.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan pengalaman praktik keperawatan
komunitas, mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan
komunitas pada setiap area pelayanan keperawatan di komunitas dengan
pendekatan proses keperawatan komunitas dan pengorganisasian
komunitas.

1.2.1 Tujuan Khusus


Setelah menyelesaikan praktik keperawatan komunitas,
mahasiswa mampu:

A. Menerapkan strategi yang tepat dalam mengkaji komunitas


B. Menentukan diagnosa kesehatan dan keperawatan komunitas untuk
komunitas yang spesifik berdasarkan analisa epidemiologi
C. Menerapkan pendidikan kesehatan yang spesifik dan strategi
organisasi komunitas dalam mengadakan perubahan serta peningkatan
kesehatan komunitas
D. Melaksanakan perawatan kesehatan komunitas berdasarkan faktor
resiko personal, sosial dan lingkungan
E. Mengkoordinasi sumber-sumber yang ada di komunitas untuk
meningkatkan kesehatan komunitas
F. Menerapkan proses penelitian dan pengetahuan penelitian untuk
mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan
G. Mendemonstrasikan karakteristik peran profesional, berfikir kritis,
belajar mandiri dengan keterapilan komunikasi yang efektif dan
kepemimpinan di dalam komunitas.
1.3 Manfaat
1.3.1 Untuk Mahasiswa
A. Dapat mengaplikasikan konsep kesehatan komunitas secara nyata
kepada masyarakat.
B. Belajar menjadi model profesional dalam menerapkan asuhan
keperawatan komunitas
C. Meningkatkan kemampuan berfikir kritis, analitis, dan bijaksana
dalam menghadapi dinamika masyarakat
D. Meningkatkan keterampilan komunikasi, kemandirian dan hubungan
interpersonal.
1.3.2 Untuk Masyarakat
A. Mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam
upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.
B. Mendapatkan kemampuan untuk mengenal, mengerti dan menyadari
masalah kesehatan dan mengetahui cara penyelesaian masalah
kesehatan yang di alami masyarakat.
C. Masyarakat mengetahui gambaran status kesehatannya dan
mempunyai upaya peningkatan status kesehatan tersebut.
1.3.3 Untuk Institusi Pendidikan
A. Salah satu tolak ukur keberhasilan Program Profesi Ners khususnya di
bidang keperawatan komunitas.
B. Sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengembangan model
praktek keperawatan komunitas selanjutnya.
1.3.4 Untuk Profesi
A. Upaya menyiapkan tenaga perawat yang profesional, berpotensi
secara mandiri sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan.
B. Memberikan suatu model baru dalam keperawatan komunitas
sehingga profesi mampu mengembangkannya.
C. Salah satu bukti profesionalisme keperawatan telah terwujudkan.
1.3.5 Untuk Puskesmas

Memberikan sumbangan atau masukan berupa informasi


tentang kondisi kesehatan masyarakat Kelurahan Tunjung Sekar
khususnya RT 04 RW 13 yang termasuk wilayah kerja Puskesmas
Mojolangu Malang guna membantu program kesehatan pada
masyarakat.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perawatan Kesehatan Komunitas

Perawatan kesehatan menurut Ruth B. Freeman (2010) adalah sebagai


suatu lapangan khusus di bidang kesehatan, keterampilan hubungan antar
manusia dan keterampilan berorganisasi diterapkan dalam hubungan yang serasi
kepada keterampilan anggota profesi kesehatan lain dan kepada tenaga sosial
demi untuk memelihara kesehatan masyarakat. Oleh karenanya perawatan
kesehatan masyarakat ditujukan kepada individu-individu, keluarga, kelompok-
kelompok yang mempengaruhi kesehatan terhadap keseluruhan penduduk,
peningkatan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, penyuluhan kesehatan,
koordinasi dan pelayanan keperawatan berkelanjutan dipergunakan dalam
pendekatan yang menyeluruh terhadap keluarga, kelompok dan masyarakat
(Effendy, 2015).

Keperawatan komunitas perlu dikembangkan di tatanan pelayanan


kesehatan dasar yang melibatkan komunitas secara aktif, sesuai keyakinan
keperawatan komunitas. Sedangkan asumsi dasar keperawatan komunitas
menurut Suprajitno (2014) didasarkan pada asumsi:

1. Sistem pelayanan kesehatan bersifat kompleks


2. Pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier merupakan komponen
pelayanan kesehatan
3. Keperawatan merupakan sub sistem pelayanan kesehatan, dimana hasil
pendidikan dan penelitian melandasi praktek.
4. Fokus utama adalah keperawatan primer sehingga keperawatan komunitas
perlu dikembangkan di tatanan kesehatan utama.
Adapun unsur-unsur perawatan kesehatan mengacu kepada asumsi-
asumsi dasar mengenai perawatan kesehatan masyarakat, yaitu:
1. Bagian integral dari pelayanan kesehatan khususnya keperawatan
2. Merupakan bidang khusus keperawatan
3. Gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu
sosial (interaksi sosial dan peran serta masyarakat)
4. Sasaran pelayanan adalah individu, keluarga, kelompok khusus dan
masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit.
5. Ruang lingkup kegiatan adalah upaya promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif dan resosialitatif dengan penekanan pada upaya preventif dan
promotif.
6. Melibatkan partisipasi masyarakat
7. Bekerja secara team (bekerjasama)
8. Menggunakan pendekatan pemecahan masalah dan perilaku
9. Menggunakan proses keperawatan sebagai pendekatan ilmiah
10. Bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat
kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Berdasarkan pada asumsi dasar dan keyakinan yang mendasar tersebut,
maka dapat dikembangkan falsafah keprawatan komunitas sebagai landasan
praktik keperawatan komunitas.Dalam falsafah keperawatan komunitas,
keperawatan komunitas merupakan pelayanan yang memberikan perhatian
terhadap pengaruh lingkungan (bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual) terhadap
kesehatan komunitas, dan memberikan prioritas pada strategi pencegahan
penyakit dan peningkatan kesehatan. Falsafah yang melandasi keperawatan
komunitas mengacu kepada paradigma keperawatan yang terdiri dari 4 hal
penting, yaitu: manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan sehingga dapat
dirumuskan sebagai berikut:

1. Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah pekerjaan yang luhur


dan manusiawi yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2. Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya berdasrkan
kemanusiaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bagi
terwujudnya manusia yang sehat khususnya dan masyarakat yang sehat
pada umumnya.
3. Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat harus terjangkau dan dapat
diterima oleh semua orang dan merupakan bagian integral dari upaya
kesehatan
4. Upaya preventif dan promotif merupakan upaya pokok tanpa mengabaikan
upaya kuratif dan rehabilitatif
5. Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat yang diberikan berlangsung
secara berkesinambungan
6. Perawatan kesehatan masyarakat sebagai provider dan klien sebagai
konsumer pelayanan keperawatan dan kesehatan, menjamin suatu
hubungan yang saling mendukung dan mempengaruhi perubahan dalam
kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan ke arah peningkatan status
kesehatan masyarakat
7. Pengembangan tenaga keperawatan kesehatan masyarakat direncanakan
secara berkesinambungan dan terus menerus
8. Individu dalam suatu masyarakat ikut bertanggung jawab atas
kesehatannya, ia harus ikut dalam upaya mendorong, mendidik dan
berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan mereka sendiri (Citra,
2014).

2.2 Tujuan Perawatan Kesehatan Komunitas


2.2.1 Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga
tercapai derajat kesehatan yang optimal agar dapat menjalankan fungsi
kehidupan sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki.
2.2.2 Tujuan Khusus
Untuk meningkatkan berbagai kemampuan individu, keluarga,
kelompok khusus dan msyarakat dalam hal:

1) Mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi


2) Menetapkan masalah kesehatan/keperawatan dan prioritas masalah
3) Merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah
kesehatan/keperawatan
4) Menanggulangi masalah kesehatan/keperawatan yang mereka hadapi
5) Penilaian hasil kegiatan dalam memecahkan masalah
kesehatan/keperawatan
6) Mendorong dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
pelayanan kesehatan/keperawatan
7) Meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara
mandiri (self care).
8) Menanamkan perilaku sehat melalui upaya pendidikan kesehatan,
dan lebih spesifik lagi adalah untuk menunjang fungsi Puskesmas
dalam menurunkan angka kematian bayi, ibu dan balita serta
diterimanya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera
9) Tertanganinya kelompok-kelompok resiko tinggi yang rawan
terhadap masalah kesehatan (Friedman, 2012).
2.3 Sasaran
Sasaran perawatan kesehatan komunitas menurut Suprajitno (2014)
adalah individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, baik yang sehat maupun
yang sakit yang mempunyai masalah kesehatan atau perawatan.

2.3.1 Individu
Individu adalah bagian dari anggota keluarga. Apabila individu
tersebut mempunyai masalah kesehatan/keperawatan karena
ketidakmampuan merawat diri sendiri oleh suatu hal dan sebab, maka
akan dapat mempengaruhi anggota keluarga lainnya baik secara fisik,
mental maupun sosial.

2.3.2 Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, terdiri atas
kepala keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal
dalam suatu rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan
atau adopsi, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila
salah satu atau beberapa anggotat keluarga mempunyai masalah
kesehatan/keperawatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota
keluarga lainnya dan keluarga-keluarga yang ada disekitarnya.

2.3.3 Kelompok Khusus


Kelompok khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai
kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi
yang sangat rawan terhadap masalah kesehatan. Termasuk diantaranya
adalah:

1) Kelompok khusus dengan kebutuhan khusus sebagai akibat


perkembangan dan petumbuhannya, seperti:
a. Ibu hamil
b. Bayi baru lahir
c. Balita
d. Anal usia sekolah
e. Lanjut Usia
2) Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan dan
bimbingan serta asuhan keperawatan, diantaranya adalah:
a. Penderita penyakit menular, seperti: TBC, Lepra, AIDS, penyekit
kelamin lainnya.
b. Penderita dengan penyakit tak menular, seperti: penyakit diabetes
mellitus, jantung koroner, cacat fisik, gangguan mental dan lain
sebagainya.
3) Kelompok yang mempunyai resiko terserang penyakit, diantaranya:
a. Wanita tuna susila
b. Kelompok penyalahgunaan obat dan narkoba
c. Kelompok-kelompok pekerja tertentu
d. Dan lain-lain
4) Lembaga sosial, perawatan dan rehabilitasi, diantaranya adalah:
a. Panti wredha
b. Panti asuhan
c. Pusat-pusat rehabilitasi (cacat fisik, mental dan sosial)
d. Penitipan balita
2.3.4 Masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dan
bekerjasama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan
menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas
yang telah ditetapkan dengan jelas.Masyarakat merupakan kelompok
individu yang saling berinteraksi, saling tergantung dan bekerjasama untuk
mencapai tujuan. Dalam berinteraksi sesama anggota masyarakat akan
muncul banyak permasalahan, baik permasalahan sosial, kebudayaan,
perekonomian, politik maupun kesehatan khususnya.

2.4 Ruang Lingkup Perawatan Kesehatan Komunitas


Ruang lingkup praktik keperawatan masyarakat menurut Citra (2014)
meliputi: upaya-upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan
(preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif), pemulihan
kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan
masyarakatnya (resosialisasi).
Dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas, kegiatan yang
ditekankan adalah upaya preventif dan promotif dengan tidak mengabaikan
upaya kuratif, rehabilitatif dan resosialitatif.

2.4.1 Upaya Promotif


Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat dengan jalan memberikan:

1) Penyuluhan kesehatan masyarakat


2) Peningkatan gizi
3) Pemeliharaan kesehatan perseorangan
4) Pemeliharaan kesehatan lingkungan
5) Olahraga secara teratur
6) Rekreasi
7) Pendidikan seks
2.4.2 Upaya Preventif
Upaya preventif ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit
dan gangguan terhadap kesehatan terhadap individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat melalui kegiatan:

1) Imunisasi massal terhadap bayi, balita serta ibu hamil


2) Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui Posyandu, Puskesmas
maupun kunjungan rumah
3) Pemberian vitamin A dan yodium melalui Posyandu, Puskesmas
ataupun di rumah
4) Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan meyusui
2.4.3 Upaya Kuratif
Upaya kuratif ditujukan untuk merawat dan mengobati anggota-
anggota keluarga, kelompok dan masyarakat yang menderita penyakit
atau masalah kesehatan, melalui kegiatan:

1) Perawatan orang sakit di rumah (home nursing)


2) Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut perawatan dari
Puskesmas dan rumah sakit.
3) Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah, ibu bersalin
dan nifas.
4) Perawatan payudara
5) Perawatan tali pusat bayi baru lahir
2.4.4 Upaya Rehabilitatif
Upaya rehabilitatif merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi
penderita-penderita yang dirawat di rumah, maupun terhadap kelompok-
kelompok tertentu yang menderita penyakit yang sama, misalnya Kusta,
TBC, cacat fisik dan lainnya, dilakukan melalui kegiatan:

1) Latihan fisik, baik yang mengalami gangguan fisik seperti penderita


Kusta, patah tulang mapun kelainan bawaan
2) Latihan-latihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit
tertentu, misalnya TBC, latihan nafas dan batuk, penderita stroke:
fisioterapi manual yang mungkin dilakukan oleh perawat
2.4.5 Upaya Resosialitatif
Upaya resosialitatif adala upaya mengembalikan individu,
keluarga dan kelompok khusus ke dalam pergaulan masyarakat,
diantaranya adalah kelompok-kelompok yang diasingkan oleh
masyarakat karena menderita suatu penyakit, misalnya kusta, AIDS,
atau kelompok-kelompok masyarakat khusus seperti Wanita Tuna
Susila (WTS), tuna wisma dan lain-lain. Disamping itu, upaya
resosialisasi meyakinkan masyarakat untuk dapat menerima kembali
kelompok yang mempunyai masalah kesehatan tersebut dan
menjelaskan secara benar masalah kesehatan yang mereka derita.Hal
ini tentunya membutuhkan penjelasan dengan pengertian atau batasan-
batasan yang jelas dan dapat dimengerti.
2.5 Kegiatan Praktik Keperawatan Komunitas
Kegiatan praktik keperawatan komunitas yang dilakukan perawat
mempunyai lahan yang luas dan tetap menyesuaikan dengan tingkat pelayanan
kesehatan wilayah kerja perawat, tetapi secara umum kegiatan praktik
keperawatan komunitas adalah sebagai berikut:

1) Memberikan asuhan keperawatan langsung kepada individu, keluarga,


kelompok khusus baik di rumah (home nursing), di sekolah (school health
nursing), di perusahaan, di Posyandu, di Polindes dan di daerah binaan
kesehatan masyarakat.
2) Penyuluhan/pendidikan kesehatan masyarakat dalam rangka merubah perilaku
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
3) Konsultasi dan pemecahan masalah kesehatan yang dihadapi
4) Bimbingan dan pembinaan sesuai dengan masalah yang mereka hadapi
5) Melaksanakan rujukan terhadap kasus-kasus yang memerlukan penanganan
lebih lanjut
6) Penemuan kasus pada tingakat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
7) Sebagai penghubung antara masyarakat dengan unit pelayanan kesehatan
8) Melaksanakan asuhan keperawatan komuniti, melalui pengenalan masalah
kesehatan masyarakat, perencanaan kesehtan, pelaksanaan dan penilaian
kegiatan dengan menggunakan proses keperawatan sebagai suatu usaha
pendekatan ilmiah keperawatan.
9) Mengadakan koordinasi di berbagai kegiatan asuhan keperawatan komuniti
10) Mengadakan kerjasama lintas program dan lintas sektoral dengan instansi
terkait.
11) Memberikan ketauladanan yang dapat dijadikan panutan oleh individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat yang berkaitan dengan keperawatan dan
kesehatan (Citra, 2014).
2.6 Model Pendekatan
pendekatan yang digunakan perawat dalam memecahkan masalah
kesehatan masyarakat yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat secara keseluruhan adalah pendekatan pemecahan masalah (problem
solving approach) yang dituangkan dalam proses keperawatan dengan
memanfaatkan pendekatan epidemiologi yang dikaitkan dengan upaya kesehatan
dasar (Friedman, 2012).

Pendekatan pemecahan masalah dimaksudkan bahwa setiap masalah


kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan masyakrakat akan
dapat diatasi oleh perawat melalui keterampilan melaksanakan intervensi
keperawatan sebagai bidang keahliannya dalam melaksanakan profesinya sebagai
perawat kesehatan masyarakat.

Bila kegiatan perawatan komunitas dan keluarga menggunakan


pendekatan terhadapat keluarga binaan disebut dengan family approach, maka
bila pembinaann keluarga berdasarkan atas seleksi kasus yang datang ke
Puskesmas yang dinilai memerlukan tindak lanjut disebut dengan case approach,
sedangkan bila pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pendekatan yang
dilakukan terhadap masyarakat daerah binaan melalui survei mawas diri dengan
melibatkan partisipasi masyarakat disebut community approach (Effendy, 2015).

2.7 Metode
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat, metode
yang digunakan menurut Friedman (2012) adalah proses keperawatan sebagai
suatu pendekatan ilmiah di dalam bidang keperawatan, melalui tahap-tahap
sebagai berikut:

2.7.1 Pengkajian
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan perawat kesehatan masyarakat
dalam mengkaji masalah kesehatan baik di tingkat individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat adalah:
1) Pengumpulan Data
Kegiatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi masalah
kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok khusus dan
masyarakat melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi dengan
menggunakan instrumen pengumpulan data dalam menghimpun
informasi.

Pengkajian yang diperlukan adalah inti komunitas beserta


faktor lingkungannya.Elemen pengkajian komunitas menurut
Anderson dan MC. Forlane (2011) terdiri dari inti komunitas, yaitu
meliputi demografi; populasi; nilai-nilai keyakinan dan riwayat
individu termasuk riwayat kesehatan.Sedangkan faktor lingkungan
adalah lingkungan fisik; pendidikan; keamanan dan transportasi;
politik dan pemerintahan; pelayanan kesehatan dan sosial; komunikasi;
ekonomi dan rekreasi.

Hal diatas perlu dikaji untuk menetapkan tindakan yang sesuai


dan efektif dalam langkah-langkah selanjutnya.

2) Analisa Data
Analisa data dilaksanakan berdasarkan data yang telah
diperoleh dan disusun dalam suatu format yang sistematis.Dalam
menganalisa data memerlukan pemikiran yang kritis.

Data yang terkumpul kemudian dianalisa seberapa besar faktor


stressor yang mengancam dan seberapa berat reaksi yang timbul di
komunitas.Selanjutnya dirumuskan masalah atau diagnosa
keperawatan. Menurut Effendy (2005) maslah tersebut terdiri dari:

a. Masalah sehat sakit


b. Karakteristik populasi
c. Karakteristik lingkungan
3) Perumusan Masalah dan Diagnosa Keperawatan/Kesehatan
Kegiatan ini dilakukan diberbagai tingkat sesuai dengan urutan
prioritasnya.Diagnosa keperawtan yang dirumuskan dapat aktual,
ancaman resiko atau wellness.

2.7.2 Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

1) Menetapkan tujuan dan sasaran pelayanan


2) Menetapkan rencana kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan dan
keperawatan
3) Menetapkan kriteria keberhasilan dari rencana tindakan yang akan
dilakukan.
2.7.3 Pelaksanaan
Pada tahap ini menurut Citra (2014) rencana yang telah disusun
dilaksanakan dengan melibatkan individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat sepenuhnya dalam mengatasi masalah kesehatan dan keperawatan
yang dihadapi. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan
kegiatan perawatan kesehatan masyarakat adalah:

1) Melaksanakan kerjasama lintas program dan lintas sektoral dengan


instansi terkait
2) Mengikutsertakan partisipasi aktif individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya
3) Memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat
Level pencegahan dalam pelaksanaan praktik keperawatan komunitas
terdiri atas:

a. Pencegahan Primer
Pencegahan yang terjadi sebelum sakit atau ketidak fungsian dan
diaplikasikannya ke dalam populasi sehat pada umumnya dan
perlindungan khusus terhadap penyakit.

b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder menekankan diagnosa diri dan intervensi
yang tepat untuk menghambat proses patologis, sehingga
memperpendek waktu sakit dan tingkat keparahan.

c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier dimulai pada saat cacat atau terjadi
ketidakmampuan sambil stabil atau menetap atau tidak dapat
diperbaiki sama sekali. Rehabilitasi sebagai pencegahan primer lebih
dari upaya menghambat proses penyakit sendiri, yaitu mengembalikan
individu kepada tingkat berfungsi yang optimal dari
ketidakmampuannya.

2.7.4 Penilaian/Evaluasi
Evaluasi dilakukan atas respon komunitas terhadap program
kesehatan. Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah masukan (input),
pelaksanaan (proses) dan hasil akhir (output).

Penilaian yang dilakukan berkaitan dengan tujuan yang akan


dicapai, sesuai dengan perencanaan yang telah disusun semula. Ada 4
dimensi yang harus dipertimbangkan dalam melaksanakan penilaian,
yaitu:

1) Daya guna
2) Hasil guna
3) Kelayakan
4) Kecukupan
Fokus evaluasi adalah:
1) Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan
pelaksanaan
2) Perkembangan atau kemajuan proses
3) Efisiensi biaya
4) Efektifitas kerja
5) Dampak: apakah status kesehatan meningkat/menurun, dalam
rangka waktu berapa?
Perubahan ini dapat diamati seperti gambar dibawah ini:

Keterangan:

: peran masyarakat

: peran perawat

Pada gambar diatas dapat dijelaskan alih peran untuk memandirikan klien
dalam menanggulangi masalah kesehatan, pada awalnya peran perawat lebih besar
daripada klien dan berangsur-angsur peran klien lebih besar daripada perawat (Citra,
2014).
BAB 3

METODOLOGI

Asuhan keperawatan komunitas yang dilaksanakan oleh mahasiswa melalui praktek


keperawatan di masyarakat mulai tanggal 9 Januari sampai 25 Februari 2017 dalam hal ini
kelompok 4 Program Studi Keperawatan Program Profesi Ners Stikes Maharani Malang
mendapat tempat praktek di RT 04 RW 13 Kelurahan Mojolangu Kecamatan Lowokwaru
Wilayah kerja Puskesmas Mojolangu Malang.

3.1 Desain Praktek Keperawatan Komunitas

Desain praktek keperawatan komunitas yang digunakan adalah Deskriptif yaitu


suatu metode yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau
deskriptif tentang suatu keadaan objek.Dalam praktek keperawatan komunitas ini,
menggunakan desain deskriptif survey yaitu suatu desain yang digunakan untuk
menyediakan informasi yang berhubungan dengan prevalensi dan distribusi penduduk.

3.2 Populasi

Populasi yang digunakan dalam asuhan keperawatan komunitas ini adalah


komunitas warga RT 04 RW 13 Kelurahan Mojolangu Kecamatan Lowokwaru Wilayah
kerja Puskesmas Mojolangu.Jumlah KK yang terdapat di Wilayah RT 04 RW 13
Kelurahan Mojolangu sebanyak 31 KK dengan jumlah penduduk 112 warga.

3.3 Sampel

Sampel adalah sebagian atau keseluran subjek yang dikaji dan dianggap mewakili
seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Sampel yang digunakan dalam asuhan
keperawatan komunitas ini yaitu menggunakan total samplingdimana seluruh populasi
dijadikan sebagai sampel.

3.4 Fokus Praktek

Fokus praktek dalam departemen komunitas ini melakukan asuhan keperawatan


komunitas melalui tahapan pengkajian yang meliputi bio-psikologi-spritual-lingkungan-
sosial-budaya, analisa data perumusan diagnosa, perencanaan tindakan, pelaksanaan
kegiatan dan evaluasi hasil untuk mengetahui masalah-masalah yang sedang dihadapi
oleh komunitas di RT 04 RW 13 Kelurahan Mojolangu Kecamatan Lowokwaru Wilayah
kerja Puskesmas Mojolangu Malang, sehingga dapat diselesaikan melalui tahapan asuhan
keperawatan komunitas.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam praktek keperawatan


komunitas ini menggunakan instrumen wawancara dan observasi.Dimana pengambilan
data mengkaji kesetiap rumah warga. Dalam pengambilan data tersebut , insrumen
berbentuk pertanyaan tertutup yang terdiri dari aspek komunitas dan lansia.

3.6 Pengelolahan dan Analisa Data

Data yang terkumpul kemudian diolah dengan tahap:

1. Editing
Merupakan kegiatan memeriksa kembali Form pengkajian asuhan keperawatan
komunitas (daftar pertanyaan) yang telah diisi pada saat pengumpulan data. Kegiatan
yang dilakukan meliputi :memeriksa apakah semua jawaban responden dapat dibaca,
memeriksa apakah semua pertanyaan yang diajukan kepada responden telah dijawab,
memeriksa apakah hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh
peneliti, memeriksa apakah masih ada kesalahan-kesalahan lain yang terdapat pada
form pengkajian.
2. Tabulasi
Tabulasi yang digunakan adalah dengan mengelompokkan data sesuai dengan aspek-
aspeknya, kemudian dari hasil pengelompokkan tersebut ditampilkan dalam grafik
distribusi frekuensi.
BAB 4

PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

DI WILAYAH RT 4KELURAHAN MOJOLANGU

MALANG

Pengkajian dilakukan tanggal 10 - 13 Januari 2017 agar didapatkan data baik data subyektif
maupun data obyektif.Pengkajian ini dilakukan di wilayah RT 4 Kelurahan Mojolangu dengan
jumlah penduduk 112 orang dan 31 KK.Data didapat dengan melakukan wawancara maupun
observasi langsung ke lapangan dan kerumah-rumah warga binaan.Data didapat dengan
melakukan wawancara dan melalui angket serta observasi langsung kelapangan.

Dari pengkajian, didapatkan data hasil wawancara dan pengamatan melalui komponen
windshield survey sebagai berikut:

Elemen Deskripsi
Perumahan dan Bangunan :
lingkungan (daerah) RT 4
Seluruh warga sudah menggunakan bangunan permanen
Arsitektur :
Sebagian besar lantai rumah warga terbuat dari tehel, juga seluruh
warga memiliki rumah yang berdekatan satu sama lain
Halaman :
Semua rumah warga RT 04 memiliki halaman atau pekarangan tetapi
ukuran halaman kecil.
Batas Batas wilayah RT 4
Barat : jalan raya
Utara : RT 6
Timur : RT 2
Selatan : RT 3
Tingkat sosial ekonomi Tingkat social
Sebagian besar masyarakat sulit bersosialisasi sesama
masyarakatsekitar tempat tinggal
Tingkat ekonomi
Sebagian besar masyarakat kelas menengah keatas
Transportasi Rata-rata warga sudah memiliki kendaraan pribadi
Kebiasaan Mayoritas warga bekerja dari pagi sampai sore hari sehingga tampak
jalan dan pemukiman tampak sepi sampai sore hari
Suku bangsa Mayoritas masyarakat dari suku Jawa
Agama Lebih dari setengah warga RT 4 beragama islam atau muslim
Media Hampir semua warga RT 4 memiliki media komunikasi
(telepon,handphone,laptop,tv dan kendaraan sendiri).

Selain pengkajian dengan windshield survey, pengkajian juga dilakukan dengan menggunakan
angket, wawancara, dan observasi dan disajikan sebagai berikut:

Warga mengatakan bahwa lansia hanya memeriksakan kesehatannya jika sakit.


Warga mengatakan bahwa ada posyandu lansia di RT 4kelurahan mojolangu.
Kader mengatakan ada program senam lansia dan posyandu lansia sekali dalam sebulan tetap
jumlah yang hadir untuk berpatisipasi <5 orang dengan total lansia 25 orang .
Warga mengatakan di wilayah mereka banyak yang menderita DM dan Hipertensi
Kader mengatakan banyak lansia yang menderita DM dan Hipertensi
Menurut warga masih ada got yang masih belum bersih
Warga mengatakan bahwa selama enam bulan belum pernah menderita penyakit yang sangat
kronis tetapi hampir semua warga mengatakan bahwa mengalami penyakit biasa seperti batuk
pilek dan demam
Warga mengatakan sebagian masyarakat RT 4 memiliki interaksi sosial kurang baik antar
sesama warga RT 4
Pak RT 4 mengatakan selama 15 tahun baru berhasil mengumpulkan warga sebanyak 2 kali
DATA DEMOGRAFI

1. Distribusi Penduduk Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

Umur
8
3,5% 7,1% 3
2,7% 0-5
25
22,3% 17 6-12
15,2% 13 - 16
13
11,6% 17 25
12 26 35
30
10,7%
26,7% 36 45
46 55
> 55

Ket:
1. Masa balita = 0 - 5 tahun,
2. Masa kanak-kanak = 6 - 11 tahun.
3. Masa remaja Awal =13 - 1 6 tahun.
4. Masa remaja Akhir =17 - 25 tahun.
5. Masa dewasa Awal =26- 35 tahun.
6. Masa dewasa Akhir =36- 45 tahun.
7. Masa Lansia Awal = 46- 55 tahun.
8. Masa Lansia Akhir = > 55 tahun.
(Depkes RI, 2009)

Sebagian besar masyarakat RT 4 berusia 26-35 tahun yaitu 30 orang (26,7%)


2. Distribusi Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Tidak
Belum sekolah Pendidikan sekolah
TK
1 0%
3
0,9%
SD 2,7%
SMP
11 9
Perguruan 9,8% 8%
tinggi
43 SMA
38,4% 45
40,2%

Distribusi penduduk berdasarkan pendidikan, dapat dilihat bahwa hampir setengah warga
Rt 4 berpendidikan SMA yaitu 45 orang (40,2%)

3. Distribusi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan

pekerjaan

10 Pelajar/belum bekerja
8,9% 29 Tidak Bekerja
25,9%
34 PNS
30,4% Ibu Rumah Tangga

12 Pensiunan
10,7% Swasta
8 12 7
7,1% 10,7%6,3% Wiraswasta

Berdasarkan pekerjaan sebagian besar bekerja sebagai karyawan swasta sebanyak 34 orang
(30,4%) dan hanya sebagian kecil saja yang bekerja sebagai PNS yang berjumlah 7 orang
(6,3%).
4. Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama

Agama

18
16,1% 52
12 Islam
10,7% 46,4%
0 Kristen
Hindu
30
Budha
26,8%
Katolik

sebagian besar warga di Rt 4 beragama Islam berjumlah 52 orang (46,4%), dan tidak
satupun yang beragama Hindu

5. Pendapatan

1
Pendapatan
3,2%

6
19,3%
< 500.000

24 500.000 1.000.000
77,5% > 1.000.000

Berdasarkan data diatas, sebagian besar pendapatan keluarga di RT 4 berkisar >1.000.000.


DATA LINGKUNGAN FISIK

1. Perumahan

a. Tipe perumahan

Tipe rumah

Permanen
31
100% Semi permanen
Tidak permanen

Tipe perumahan di wilayah RT 4 seluruhnya permanen.

b. Kepemilikan rumah

Kepemilikan Rumah
0
0

31 Milik sendiri
100%
Numpang
Sewa

Dari 31 KK di wilayah RT 4 status kepemilikan rumah seluruhnya sudah atas nama


pribadi atau milik sendiri.
c. Jenis lantai

Jenis Lantai

31 Tanah
100% Tegel
Semen

Jenis lantai untuk masing-masing rumah yaitu keseluruhan tegel.

d. Sistem ventilasi rumah

ventilasi rumah

31 Tidak Ada
100%
Ada

Dari 31 KK di wilayah Rt 4 secara keseluruhan sudah memiliki ventilasi.


e. Sistem pencahayaan rumah pada siang hari

pencahayaan
0
11
35,5
20
64,5% Terang
Remang-remang
Gelap

Sistem pencahayaan untuk masing-masing rumah pada siang hari


sebagian besar terang yaitu 20 rumah (64,5 %) dan yang remang-remang 11
rumah (35,5 %).

f. Jarak rumah dengan tetangga

Jarak rumah dengan tetangga


0

Bersatu
Dekat
Terpisah
31
100%

Jarak rumah yang satu dan lainnya secara keseluruhan saling berdekatan.
g. Halaman disekitar rumah

Halaman
0

Ada
Tidak ada
31
100%

Secara keseluruhan warga Rt 4 tidak memiliki halaman disekitar rumah yang


cukup luas

h. Pemanfaatan pekarangan rumah

Pemanfaatan pekarangan
10
8
6
4
2 0 0 0 0 Pemanfaatan pekarangan
0

Dari 31 rumah yang ada di wilayah Rt 4, semua tidak memiliki


pekarangan rumah yang cukup luas sehingga tidak dapat dimanfaatkan.
2. Sumber Air Bersih

a. Sumber air untuk masak dan minum

Sumber air
0 0

PAM
Sumur
31 Air sungai
100%

Secara keseluruhan warga di Rt 4 menggunakan PAM untuk masak dan minum.

b. Sistem pengolahan air minum

Pengolahan air

4
12,9%

Dimasak
27 Tidak dimasak (Galon)
87,1%

Dari 31 KK hampir seluruh pengolahan air minum dengan tidak dimasak (galon)
yaitu 27 KK (87,1%), dan hanya sebagian 4 KK (12,9 %) pengolahan air minum
dengan cara dimasak.
c. Sumber air untuk mandi dan mencuci

sumber air untuk mandi dan mencuci


0

PAM
Sumur
Air sungai
31
100%

Secara keseluruhan warga di wilayah Rt 4 menggunaka PAM sebagai sumber air untuk
mandi dan mencuci.

d. jarak sumber air dengan septik tank

Sumber air dengan septik tank


0
0

< 10 meter
> 10 meter
31
100%

Jarak sumber air dengan septik tank pada warga RT 4 secara keseluruhan < 10
meter
e. tempat penampungan air sementara

penampungan
0

31 Bak
100%
Ember
Gentong

Secara keseluruhan tempat penampungan air warga Rt 4 menggunakan Bak

f. Kondisi tempat penampungan air

kondisi penampungan

3
9,7%

Tertutup
28 Terbuka
90,3%

Hampir seluruh tempat penampungan air yang ada di Rt 4 sebanyak 28 KK


(90,3%) yang terbuka, dan hanya sebagian kecil yang tertutup yaitu 3 KK (9,7 %)
g. Kondisi air

Kondisi air
0 0

Berwarna
31
100% Berbau/berasa
Tidak berasa/berbau

Kondisi air dimasyarakat Rt 4 seluruhnya tidak berasa atau berbau

3. Sistem Pembuangan Sampah

a. Pembuangan sampah

pembuangan sampah
0
0 0 0
Tempat sampah
Di sungai
31
100% Ditimbun
Dibakar
Di sembarang tempat

Dari 31 KK yang ada di wiilayah Rt 4 seluruhnya menggunakan tempat sampah sebagai


tempat pembuangan sampah
b. Tempat penampungan sampah sementara

penampungan sementara
0

Ada
Tidak ada/sembarangan
31
100%

Seluruh warga Rt 4 memiliki tempat penampungan sampah sementara

c. kondisi tempat penampungan sampah sementara

kondisi penampungan

10
32,3%

Terbuka
21
Tertutup
67,7%

Dari 31 KK yang memiliki tempat penampungan sampah sementara sebagian besar


penampungan sampahnya tertutup sebanyak 21 KK (67,7% )dan hampir setengahnya atau
10 KK (32,3 %) yang penampungan sampahnya terbuka.
d. jarak tempat penampungan sampah dengan rumah

penampungan sementara
0

< 5 meter
> 5 meter
31
100%

Jarak tempat penampungan sampah dengan rumah di wilayah Rt 4 seluruhnya berjarak < 5
meter.

4. Sistem Pembuangan Kotoran Rumah Tangga

a. BAB

BAB

0 0

WC/jamban

31 Sungai
100% Sembarang tempat

Dari 31 KK di wilayah Rt 4 seluruhnya menggunkanan WC/jamban sebagai sistem


pembuangan kotoran rumah tangga.
b. Jenis jamban yang digunakan

jenis jamban
0 0

Cemplung
Plengsengan
Leher angsa

31
100%

Seluruh warga di Rt 4 menggunakan jamban leher angsa sebagai sistem pembuangan


kotoran rumah tangga/ BAB.

c. sistem pembuangan air limbah

pembuangan air limbah


3
0 9,7%

28 Resapan
90,3% Selokan
Sembarang tempat

Dari 31 KK hampir seluruh sistem pembuangan air limbah di selokan sebanyak 28 Kk


(90,3 %) dan hanya sebagian kecil saja 3 KK (9,7 %) menggunakan resapan dalam
pembuangan air limbah.
5. Hewan Peliharaan

a. Kepemilikkan hewan ternak di rumah

hewan peliharaan

2
6,5%

Ada
Tidak ada

29
93,5%

Dari 31 KK yang ada di wilayah Rt 4 hampir seluruhnya tidak memiliki hewan peliharaan
sebanyak 30 Kk (93,5%) dan sebagian kecilnya hanya 2 Kk (6,5 %) yang mempunyai
hewan peliharaan.

b. Letak kandang

Letak kandang

Luar rumah Dalam rumah


1 1
50% 50%

Dari 31 KK yang memiliki hewan ternakada 2 kk terdiri dari 1 KK (50%) kandang berada
di luar rumah, dan 1 KK (50 %) kandang berada di dalam rumah.
c. Kondisi kandang

Kondisi kandang

1
1 50%
50% Terawat
Tidak terawat

Dari 31 KK hewan ternak dapat dilihat dari 1 KK (50%) yang kondisi kandang terawat,
dan 1 KK (50%) yang tidak terawat.

KONDISI KESEHATAN UMUM

1. Pelayanan Kesehatan

a. Sarana kesehatan yang paling dekat

sarana kesehatan

0
0
0
Puskesmas
Praktek perawat/bidan
Balai pengobatan
Praktek dukun
31
100%
Dari 31 KK seluruhnya mengatakan bahwa sarana kesehatan yang paling dekat yaitu
puskesmas (100%)

b. Tempat berobat keluarga

tempat berobat keluarga

0 0
5 Puskesmas
16,1% 15
Rumah sakit
48,4%
11
Dokter praktek
35,5%
Bidan/perawat
Praktek dukun

Dari 31 KK, hampir setengah mengatakan tempat berobat keluarga di pruskesmas 15 kk


(48,4), dan hanya sebagian kecil saja 5 KK (16,1%) di dokter praktek.

c. Kebiasaan sebelum berobat

kebiasaan sebelum berobat

4
0
12,9%
Beli obat bebas
Jamu
Tidak ada

27
87,1%

Dari 31 KK, hampir seluruhnya warga rt 4 kebiasaan sebelum berobat membeli obat bebas
27 kk (87,1)
d. Sumber pendanaan kesehatan keluarga

pendanaan kesehatan

9 11
29% 35,5%
umum
askes/astek
11 BPJS
35,5%

Dari 31 KK, hampir setengahnya 11 kk (35,5%) mengatakan pendanaan kesehatan


menggunakan Askes dan pendanaan umum.

e. penyakit yang sering diderita keluarga dalam 6 bulan terakhir

0 penyakit yang sering diderita


1 2 Ispa
6,5% 4
9 12,4% Jantung
29%
Diabetes Melitus
Rematik
10
5 32,3% Hipertensi
16,1%
Lain-lain
Tidak ada

Dari 31 KK, hampir setengahnya ada 10 kk (32,3%) menderita penyakit diabetes mellitus
dan hanya sebagian kecil menderita ISPA dan penyakit lain.
2. Ibu Hamil dan Menyusui

a. Jumlah pasangan usia subur

PUS

14
45,2%
17
54,8% Ya
Tidak

Dari 31 KK, sebagian besarnya pasangan usia subur ada 17 kk (54,8%) dan hampir
setengahnya 14 kk (45,2%) yang bukan merupakan usia subur.

b. pasangan usia subur yang menggunakan KB

Akseptor KB
1
5,9%

Ya, menggunakan KB
16 Tidak, menggunakan KB
94,1%

Dari 17 KK hampir seluruhnya pasangan usia subur 16 kk (94,1%) yang menggunakan


KB dan sebagian kecil 1 KK (5,9%) yang tidak menggunakan KB.
c. Jenis kontrasepsi yang digunakan

Jenis kontrasepsi Tubektomi


0%

Susuk IUD
3 4
19% 25%

Pil Suntik
5 4
31% 25%

Dari 16 KKHampir setengahnya 5 KK (31,0%) menggunakan pil dan sebagian kecil yang
menggunakan susuk 3 KK (19%) .

d. Jumlah ibu hamil

Jumlah bumil
0

Ya (hamil)
Tidak (tidak hamil)

16
100%

Dari 31 KK yang termasuk pasangan usia subur ada 16 KK (100%) dan PUS warga rt 4
seluruhnya tidak ada yang sedang hamil.
e. Usia kehamilan

Usia kehamilan

10
8
6
Usia kehamilan
4
2 0 0 0
0
Trimester I Trimester II Trimester III

Dari 31 KK yang termasuk pasangan usia subur ada 16 KK (100%) dan PUS warga rt 4
seluruhnya tidak ada yang sedang hamil.

f. Frekuensi kehamilan

Frekuensi kehamilan
10
8
6
4 Frekuensi kehamilan

2 0 0 0 0
0
1 2 3 Lebih dari
3 kali

Dari 31 KK yang termasuk pasangan usia subur ada 16 KK (100%) dan PUS warga rt 4
seluruhnya tidak ada yang sedang hamil.
g. usia ibu hamil

Usia hamil

10

6
Usia hamil
4

2
0 0 0
0
< 25 25 35 > 35

Dari 31 KK yang termasuk pasangan usia subur ada 16 KK (100%) dan PUS warga rt 4
seluruhnya tidak ada yang sedang hamil.

h. tempat periksa kehamilan

Tempat periksa

10

6
Tempat periksa
4

2
0 0 0
0
Puskesmas Bidan Dukun beranak

Dari 31 KK yang termasuk pasangan usia subur ada 16 KK (100%) dan PUS warga rt 4
seluruhnya tidak ada yang sedang hamil.
i. frekuensi periksa kehamilan

Pemeriksaan kehamilan

10
8
6
4
0 Pemeriksaan kehamilan
2
0
0
< 3 kali
> 4 kali

Tidak ada satupun yang melakukan pemeriksaan kehamilan.

j. imunisasi toksoid (TT)

Imunisasi TT

10

6 Imunisasi TT
4

2
0 0
0
Lengkap Tidak lengkap

Tidak ada satupun ibu yang mendapat imunisasi toksoid


k. penyakit yang diderita ibu hamil

Penyakit bumil
10
9
8
7
6
5
4
3 0 0 0 0 0
2
1 Penyakit bumil
0

Tidak satupun ibu hamil yang menderita sakit

l. jumlah ibu menyusui

Jumlah buteki

10
8
6
4
2 Jumlah buteki
0

Ya, meneteki
Tidak meneteki

Tidak satupun ibu yang menyusui


m. lama ibu menyusui

Lama ibu menyusui

10
8
6
4
2 0 0
0 0 Lama ibu menyusui
0
<1 bulan
1 4 bulan 5 12
>12bulan
bulan

Tidak satupun ibu yang menyusui

3. Balita

a. jumlah balita

Balita

Ya tergolong balita
4 Tidak tergolong balita
100%

Dalam warga rt 4 dari 31 KK (112 orang) terdapat 4 balita.


b. Kebiasaan ke posyandu

Kebiasaan
0

Ya
Tidak

4
100%

Dari 4 balita di wilayah Rt 4 seluruhnya (100%) dibawa ke posyandu

c. Imunisasi balita

Imunisasi
0

Lengkap
4 Belum lengkap
100%

Dari 4 balita (100%), seluruhnya telah mendapatkan imunisasi secara lengkap.


d. kepemilikan KMS

Kepemilikan kartu

Ada
4 Tidak ada
100%

Seluruh balita memiliki KMS.

e. hasil penimbangan balita

Penimbangan KMS
1 0
0
25%
Hijau
Diatas hijau kuning
3
75% Di bawah titik-titik
Dibawah merah

Dari 4 balita, sebagian besaratau 3 balita (75%) berada pada warna hijau dan sebagian
kecil 1 balita (25%) diatas hijau kuning.
4. Remaja

a. kegiatan remaja diluar sekolah

Kegiatan diluar sekolah

6 5
30% 25%
Keagamaan
0
Karang taruna

9 Olahraga
45% Lain-lain

Dari 20 remaja yang terdapat di RT 4, hampir setengahnya 9 remaja (45%) yang


mengikuti kegiatan olahraga, dan hanya sebagian kecil 5 remaja (21,3%) mengikuti
kegiatan keagamaan.

b. penggunaan waktu luang

Keagamaan
Waktu luang
0%
Music/tv
Rekreasi 5
6 25%
30%

Olahraga
9
45%

Dari 20 remaja, hampir setengahnya 9 remaja (45%) waktu luangnya untuk olahragadan
sebagian kecilnya lagi 5 remaja (25%) untuk nonton atau mendengar musik.
c. kebiasaan remaja

Kebiasaan remaja

0
4
20%
0
Merokok
Alcohol
16 Keduanya
80%
Tidak keduanya

Dari 20 remaja, sebagian kecilnya ada 4 (20%) yang merokok dan hampir sebagian besar
16 remaja (80%) tidak merokok maupun alcohol.

5. Lansia

a. keluhan lansia

Keluhan penyakit lansia


0

Ya mengeluh

25 Tidak ada keluhan


100%

Keseluruhan lansia memiliki keluhan


b. jenis penyakit Yang diderita

Jenis penyakit
TBC
Asma 0%
Rematik
1
4
4% Hipertensi
16%
9
36%
DM
11
44%

Tidak satupun lansia yang menderita TBC

c. penanganan penyakit lansia

Penanganan penyakit

Diobati sendiri Sarana


10 kesehatan
40% 11
44%

Non-medis
4
16%

Dari 25 lansia yang ada di wilayah Rt 4 hanya sebagian kecil lansia 4 (16%) yang
melakukan perawatan Non-medis dalam penanganan lansia.
d. keberadaan posyandu lansia

Posyandu lansia
Tidak ada
0%

Ada
100%

Dari 25 lansia yang ada di RT 4 25 lansia (100%) sebagian besar ada posyandu lansia di
wilayah mereka.

e. Pemanfaatan posyandu lansia

Pemanfaatan Posyandu lansia

Ya
3
12%

Tidak
22
88%

Ada 25 lansia sebagian besar yaitu 22 lansia( 88%) tidak memanfaatkan posyandu
e. penggunaan waktu senjang

Waktu senggang
Tidak memiliki
Senam kegiatan
3 2
12% 8%
Rekreasi/jalan-
jalan Berkebun/peke
2 rjaan rumah
8% 18
72%

Dari 25 lansia, sebagian besar 18 lansia (72%) penggunaan waktu senggang dengan
berkebun/pekerjaan rumah.
DIAGNOSA KEPERAWATAN KOMUNITAS

DI WILAYAH RT 4 KELURAHAN MOJOLANGU

MALANG

Data yang didapat dari hasil pendataan yang dilakukan mulai tanggal 10-13Januari 2016,
dianalisis dan diperoleh diagnosa keperawatan komunitas, kemudian dilakukan penapisan untuk
menentukan prioritas diagnose keperawatan.

1. Analisis Data

Diagnose
No Data Subyektif Data Obyektif Keperawatan
Komunitas
1 Kader Sebanyak 25 orang lansia (<55 Resiko terjadinya
mengatakan ada thn) di wilayah RT 4 RW 13 penurunan kualitas
program senam Kelurahan Mojolangu hidup lansia di
dan posyandu Dari 25 lansia hanya 3 lansia wilayah RT 4 RW
lansia sekali (12%) yang memanfaatkan 13kelurahan
dalam sebulan posyandu lansia sisanya 22 lansia Mojolangu
tetapi jumlah (88%) tidak memanfaatkan berhubungan dengan
yang hadir untuk posyandu lansia kurangnya
berpartisipasi < Dari 25 lansia termaksud manula pengetahuan dan
5 orang dengan ada 19 (76%) yang mempunyai kesadaran lansia
total lansia 25 keluhan diantaranya 11 lansiaDM dalam usaha
orang. (44%), 9 hipertensi (36%), pemeliharaan
Kader 4rematik (16%), 1 asma (4%), 3 kesehatan serta
mengatakan Penanganan penyakit untuk lansia pemanfaatan
banyak lansia 11 menggunakan sarana kesehatan posyandu lansia.
yang menderita (44%), 10 berobat sendiri (40%)
DM dan dan 4 orang non medis (16%).
Hipertensi Penggunaan waktu senggang pada
lansia, 18 (72%)
berkebun/pekerjaan rumah, 3
(12%) senam, 2 lansia (8%)
rekreasi/jalan-jalan, 2 (8%) tidak
memiliki kegiatan.
2 Sebagian besar Dari 31 KK terdapat 10 KK Resiko terjadinya
warga RT 04 (32,3%) yang mengidap penyakit peningkatan penyakit
mengatakan di DM , 9 KK (29%) yang menderita diabetes mellitus dan
wilayah mereka hipertensi, 5 KK (16,1%) penyakit hipertensi di RT 4
banyak yang rematik, dan Jantung 4 KK RW 13 Kelurahan
menderita DM (12,9%), serta 2 KK (6,5%) ISPA. Mojolangu kurangnya
dan Hipertensi Dari 31 KK, 15 KK (48,4%) pendidikan kesehatan
berobat ke puskesmas, 11 KK terhadap penyakit
(35,5%) ke Rumah sakit, dan ke yang diderita.
dokter praktek 5 KK (16,1%).
Dari 31 KK, 27 KK (87,1%)
memiliki kebiasaan sebelum
berobat yaitu membeli obat bebas,
4 KK (12,9%) tidak melakukan
apa-apa.
Dari 31 KK, 11 KK (35,5%)
menggunakan askes/astek sebagai
sumber pendanaan kesehatan, 11
KK (35,5) menggunakan dana
pribadi/umum, 9 KK (29%)
menggunakan BPJS.
Penapisan Masalah

Kriteria
No Diagnose keperawatan Jml keterangan
A B C D E F G H I J K L
1 Resiko terjadinya 4 5 4 4 3 3 4 5 3 5 5 4 49 Keterangan kriteria
penurunan kualitas hidup A. Sesuai dengan peran perawat
lansia di wilayah RT 4 komunitas
RW 13kelurahan B. Resiko terjadi
Mojolangu berhubungan C. Resiko parah
dengan kurangnya D. Potensi untuk pendidikan
pengetahuan dan kesehatan
kesadaran lansia dalam E. Interest untuk komunitas
usaha pemeliharaan F. Kemungkinan diatasi
kesehatan serta G. Relevan dengan program
pemanfaatan posyandu H. Tersedianya tempat
lansia. I. Tersedianya waktu
2 Resiko terjadinya 4 4 3 5 3 3 3 3 2 4 3 3 40 J. Tersedianya dana
peningkatan penyakit K. Tersedianya fasilitas
diabetes mellitus dan L. Tersedianya sumber daya
hipertensi di RT 4 RW
13 Kelurahan Mojolangu
kurangnya pendidikan
kesehatan terhadap
penyakit yang diderita. Keterangan pembobotan

1. Sangat rendah
2. Rendah
3. Cukup
4. Tinggi
5. Sangat tinggi
Prioritas Diagnosa Keperawatan

No Diagnose keperawatan Jml


1 Resiko terjadinya penurunan kualitas hidup lansia di wilayah RT 4 RW 49
13kelurahan Mojolangu berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan
kesadaran lansia dalam usaha pemeliharaan kesehatan serta pemanfaatan
posyandu lansia.
2 Resiko terjadinya peningkatan penyakit diabetes mellitus dan hipertensi di RT 40
4 RW 13 Kelurahan Mojolangu kurangnya pendidikan kesehatan terhadap
penyakit yang diderita.
RENCANA DAN STRATEGI KOMUNITAS DI RT 4 RW 13 KELURAHAN MOJOLANGU

Dari hasil analisa data, maka telah didapatkan diagnosa keperawatan komunitas sesuai prioritas.Dari diagnosa tersebut, kami
melakukan perencanaan bersama dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, dan kelompok kerja kesehatan (pokjakes) yang
dilaksanakan pada tanggal 14 Januari 2017. Adapun perencanaan yang akan kami laksanakan adalah :

No Dx Tujuan Rencana Implementasi Kriteria hasil Sasaran Waktu &


keperawatan kegiatan tempat
1 Resiko Jangka pendek: Pembekalan 1. Berkoordinasi dengan 1. Seluruh kader Seluruh Sabtu, 21
terjadinya 1. Lansia kader penanggung jawab pokjakes hadir dalam lansia Januari
penurunan memahami posyandu lansia untuk menyiapkan kegiatan. 2017
kualitas tentang lansia kader posyandu lansia. 2. Kader
hidup lansia penyakit yang 2. Mengadakan pertemuan posyandu Jam
di wilayah mereka derita dengan pokjakes lansia dan mengerti 10.00
RT 4 RW 2. Lansia kader posyandu lansia. tugas dan WIB
13kelurahan memahami cara 3. Menyajikan materi tentang kewajibannya
Mojolangu mengatasi tugas dan kewajiban kader . Balai RW
berhubungan penyakit yang posyandu lansia. 3. Kader 13
dengan mereka derita 4. Melakukan demonstrasi cara posyandu
kurangnya 3. Semua lansia pengukuran BB, TD, dan dapat
pengetahuan mengetahui tekanan darah. mengukur
dan pentingnya BB, TD, dan
kesadaran menjaga tekanan darah
lansia dalam kesehatan Pelaksanaan 1. Menyiapkan tempat dan 1. Kegiatan Sabtu, 4
usaha posyandu peralatan yang diperlukan. posyandu Februari
pemeliharaan Jangka panjang: lansia 2. Mengundang lansia RT 4. berjalan 2017
kesehatan 1. Kualitas hidup 3. Mencatat data demografi lancer.
serta lansia akan dan kesehatan lansia. 2. Kegiatan Pukul
pemanfaatan meningkat 4. Pemeriksaan status posyandu 10.00
posyandu khususnya di kesehatan dan indeks massa diikuti oleh WIB
lansia. wilayah RT 4 tubuh lansia. seluruh
Kelurahan 5. Memberikan pelayanan lansia RT 4
Mojolangu kesehatan (pengobatan 3. Kegiatan
lansia dan pemeriksaan TD posyandu
dan gula darah). dapat
melaporkan
status
kesehatan
lansia.

Pelatihan 1. Mempersiapkan sarana dan 1. Pelaksanaan Kader Sabtu, 21


kader prasarana senam lansia Januari
senam SKJ 2. Meminta izin pelaksanaan berjalan 2017
lansia pelatihan kader senam SKJ dengan baik.
lansia serta izin pemakaian 2. Senam diikuti Pukul
tempat senam. oleh 11.00
3. Mengundang perwakilan perwakilan WIB
kader lansia RT 4 kader RT 4
Balai RW
13
Senam SKJ 1. Mempersiapkan tempat dan 1. Peserta hadir Kader Sabtu,4
lansia peralatan senam. ditempat kesehat Februari
2. Menyampaikan izin pelaksanaan an dan 2017
pelaksanaan senam lansia senam pada seluruh
seta izin pemakaian tempat waktu yang lansia Pukul
senam. ditentukan. 10.00
3. Mengundang semua lansia 2. Peserta WIB
di RT 4 antusias
mengikuti Balai RW
senam dari 13
awal hingga
akhir.
3. Pelaksanaan
senam
berjalan
lancer.
4. Senam diikuti
oleh seluruh
lansia
Pendidikan 1. Mempersiapkan tempat dan 1. Peserta hadir Seluruh Sabtu, 28
kesehatan peralatan yang diperlukan. ditempat lansia Januari
hipertensi 2. Menyampaikan izin yang 2017
pemakaian tempat ditentukan.
penyuluhan. 2. Kegiatan Pukul
3. Berkordinasi dengan kader berjalan 10.00
posyandu lansia. lancer. WIB
4. Mengundang seluruh lansia 3. Peserta
di RT 4 antusias Balai
mendengarka desa
n materi
penyuluhan
dan bertanya.
4. Penyuluhan
diikuti
minimal 75%
lansia di RT
4
Pendidikan 1. Mempersiapkan tempat dan 1. Peserta hadir Seluruh Sabtu, 28
kesehatan peralatan yang diperlukan. ditempat lansia Januari
Diabetes 2. Menyampaikan izin yang 2017
Mellitus pemakaian tempat ditentukan.
penyuluhan. 2. Kegiatan Pukul
3. Berkordinasi dengan kader berjalan 10.00
posyandu lansia. lancer. WIB
4. Mengundang seluruh lansia 3. Peserta
di RT 4 antusias Balai RW
mendengarka 13
n materi
penyuluhan
dan bertanya.
4. Penyuluhan
diikuti
minimal 75%
lansia di RT
4
2 Resiko Jangka pendek: 1. Pemerik 1. Mempersiapkan alat dan 1. Warga Warga Sabtu, 28
terjadinya Warga memahami saan bahan yang dibutuhkan antusias yang Januari
peningkatan tentang penyakit tekanan dalam pemeriksaan gula datang ke memili 2017
penyakit yang mereka derita darah darah dan tekanan darah basecamp ki
diabetes dan gula 2. Membuka basecamp pemeriksaan masala Tempat
mellitus dan Warga memahami darah pemeriksaan dan atau 2. Warga h DM Door to
hipertensi di cara mengatasi mengunjungi rumah warga bersedia dan Door
RT 4 RW 13 penyakit yang yang memiliki masalah DM dilakukan Hiperte Dan di
Kelurahan mereka derita dan hipertensi pemeriksaan nsi Balai RW
Mojolangu 3. Pemeriksaan 13
kurangnya Semua warga berjalan
pendidikan mengetahui lancar
kesehatan pentingnya
terhadap menjaga kesehatan
penyakit 2. Penyulu 1. Mempersiapkan tempat dan 1. Peserta hadir Warga Waktu
yang diderita. Jangka panjang: han peralatan yang diperlukan. ditempat yang Sabtu,
Kualitas hidup kesehata 2. Menyampaikan izin yang memili 10.00
warga akan tentang pemakaian tempat ditentukan. ki WIB
meningkat DM dan penyuluhan. 2. Kegiatan masala
khususnya di atau 3. Berkordinasi dengan kader berjalan h DM 28Januari
wilayah RT 4 hipertens atau RT 4. lancer. dan 2017
Kelurahan i 4. Mengundang seluruh warga 3. Peserta Hiperte
Mojolangu di RT 4 antusias nsi Tempat
mendengarka Balai RW
n materi 13
penyuluhan
dan bertanya.
4. Penyuluhan
diikuti
minimal 75%
lansia di RT
4

Waktu
3. Senam 1. Mempersiapkan tempat dan 1. Peserta hadir Sabtu,
diabetes peralatan senam. ditempat 11.00
(senam 2. Menyampaikan izin pelaksanaan WIB
kaki pelaksanaan senam diabetik senam pada 28
diabetes) 3. Mengundang semua lansia waktu yang Januari
di RT 4 ditentukan. 2017
2. Peserta
antusias Tempat
mengikuti Balai RW
senam dari 13
awal hingga
akhir.
3. Pelaksanaan
senam berjalan
lancer.
BAB 5

PEMBAHASAN

5.1 Pengkajian

Selama melakukan asuhan keperawatan pada kelompok rentan di RT 04 RW 13 Kelurahan


Mojolangu, dari hasil pengkajian ke masyarakat kami menemukan beberapa permasalahan
yang sesuai dengan materi yang kami peroleh:

5.1.1 Kesehatan lansia

Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari. Usia lanjut
terjadi ketika seseorang memiliki umur lebih dari 55 tahun (Asmadi, 2008). Tujuan
dari peningkatan kesehatan lansia adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam
kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya dalam
masyarakat.Lansia sangat rentan terhadap penyakit karena fungsi organ tubuh yang
semakin berkurang.Untuk mencegah dan mengatasi keluhan-keluhan yang dialami,
lansia harus banyak melakukan latihan fisik yang teratur.Hal ini disebabkan latihan
fisik dapat membantu mencegah keadaan atau penyakit kronis seperti osteoporosis,
diabetes, hipotensi, dan lain-lain.Latihan fisik atau diluar rumah juga merupakan
kesempatan bagi lansia untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sesama.
Apabila banyak bersosialisi dan berinteraksi dengan orang lain, akan membantu
mencegah terjadinya pikun pada lansia. Berbagai jenis musik dapat digunakan untuk
mengiringi olahraga sehingga menyenangkan dan tidak membosankan.Selain agar
tidak bosan, musik dianggap membantu memelihara dan mendorong motivasi.
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengkajian, terdapat 25 lansia di wilayah
RT 04 dan penyakit terbanyak yang diderita diantaranya 44% yang menderita
Diabetes Mellitus dan 36% menderita Hipertensi, serta 16% menderita rematik. Dari
25 lansia yang ada, hanya 3 lansia atau hanya 12% yang memanfaatkan posyandu
lansia dan sisanya 88% tidak memanfaatkan posyandu lansia.
5.1.2 Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang


berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan Sumber Daya
Manusia.Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi sistem
kesehatan suatu negara. Walaupun belum ada survei nasional, sejalan dengan
perubahan gaya hidup termasuk pola makan masyarakat Indonesia diperkirakan
penderita. DM ini semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa keatas
pada seluruh status sosial ekonomi. Saat ini upaya penanggulangan penyakit DM
belum menempati skala prioritas utama dalam pelayanan kesehatan, walaupun
diketahui dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar antara lain komplikasi
kronik pada penyakit jantung kronis, hipertensi, otak, system saraf, hati, mata dan
ginjal (Mansjoer dkk, 2007). Dari hasil pengkajian yang dilakukan pada 31 KK,
terdapat 10KK yang menderita penyakit DM atau sekitar 32,3%

5.1.3 Hipertensi

Tekanan darah adalah suatu kekuatan yang dihasilkan darah terhadap setiap
satuan luas dinding pembuluh darah.Tekanan darah maksimal (sistole) adalah
tekanan pada dinding arteri saat ventrikel memompa darah melalui katub aorta.Pada
saat ventrikel rileks, darah yang tetap dalam arteri menimbulkan tekanan minimum
(Diastolik).Tekanan diastolik adalah tekanan minimal yang mendesak dinding arteri
setiap waktu. Hipertensi adalah keadaan dimana dijumpai adanya peningkatan
tekanan darah mencapai 140 / 90 mmHg atau lebih untuk usia 13-50 tahun dan
tekanan darah mencapai 180 /95 mmHg untuk usia diatas 50 tahun.Dari 31 KK yang
dilakukan pengkajian terdapat 9 KK yang menderita penyakit Hipertensi.

5.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnose keperawatan ditegaskan untuk menunjukkan respon manusia terhadap masalah
kesehatan baik actual maupun potensial yang dapat secara legal ditangani oleh perawat.
Diagnose keperwatan komunitas berfokus pada suatu komunitas yang biasanya didefinisikan
sebagai suatu kelompok, populasi atau sekumpulan orang-orang dengan sekurang-kurangnya
memiliki suatu karakteristik tertentu. Untuk memperoleh diagnose keperawatan komunitas
data hasil pengkajian komunitas dianalisis dan dibuat simpulan pernyataan membentuk
sebuah diagnose.
Adapun diagnose yang muncul dan dapat ditegakkan selama dilakukan pengkajian di
wilayah RT 04 RW 13 Kelurahan Mojolangu yaitu:
1. Resiko terjadinya penurunan kualitas hidup lansia di wilayah RT 4 RW 13kelurahan
Mojolangu berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan kesadaran lansia dalam
usaha pemeliharaan kesehatan serta pemanfaatan posyandu lansia.
2. Resiko terjadinya peningkatan penyakit diabetes mellitus dan hipertensi di RT 4 RW 13
Kelurahan Mojolangu kurangnya pendidikan kesehatan terhadap penyakit yang diderita.

5.3 Intervensi
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau
mengoreksi masalah-masalah yang didefinisikan pada diagnose keperawatan. Tahap ini
dimulai setelah menentukan diagnose keperawatan dan menyimpulkan rencna intervensi.
Dari hasil Musyawarah Masyarakat Rukun Tetangga (MMRT 1) pada hari Sabtu, 14 Januari
2017dengan mengemukakan data saat pengkajian telahdisepakati bahwa alternatif intervensi
yang dipilih untuk memecahkan masalah adalah sebagai berikut:
1. Kesehatan lansia: Pemeriksaan asam urat, pemeriksaan kholestrol, penyuluhan kesehatan
lansia dan senam lansia serta mengajak seluruh lansia untuk berpartisipasi dalam
kegiatan posyandu lansia.
2. Diabetes Mellitus: Pemeriksaan gula darah, penyuluhan tentang diabetes, dan intervensi
senam kaki Diabetik.
3. Hipertensi: Pemeriksaan tekanan darah, dan penyuluhan hipertensi.
4. Peran serta masyarakat: mengundang masyarakat berpartisipasi dalam senam SKJ dan
kerja bakti setiap hari minggu.

5.4 Implementasi
Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.Tahap pelaksanaan dimulai setelah waktu dan rencana kegiatan atau intervensi
disusun untuk membantu klien dalam mencapai tujuan yang diharapkan.Tujuan dari
implementasi adalah untuk membantu komunitas dalam mencapai tujuan yang ditetapkan,
yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan
memfasilitasi koping.Sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati saat musyawarah
masyarakat yang pertama, maka kami telah melaksanakan beberapa kegiatan. Adapun
kegiatan yang telah kita laksanakan yaitu:
No Tanggal Kegiatan Tempat Keterangan
1 16-21 Januari Pemeriksaan gula darah dan Door to door Terlaksana
2017 tekanan darah
2 28 Januari Pemeriksaan gula, asam urat, Balai RW 13 Terlaksana
2017 kolestrol, dan tekanan darah
3 28 Januari Penyuluhan lansia, DM, Balai RW 13 Terlaksana
2017 Hipertensi
4 28 Januari Senam kaki Diabetik dan Balai RW 13 Terlaksana
2017 senam lansia
5 15 januari 17 Kerja bakti dan senam SKJ Halaman Balai Terlaksana
29 Januari 17 RW 13

5.5 Evaluasi
Merupkan tahap akhir dari proses keperawatan untuk menilai keefektifan intervensi yang
telah dilakukan. Evaluasi jangka pendek dari 2 masalah yang diangkat, sebagian masalah
teratasi sebagian.Untuk tindak lanjut dari intervensi kami merujuk pada kader dan
puskesmas Mojolangu sebagai penanggung jawab kegiatan di wilayah kerjanya.
PROPOSAL KEGIATAN

MUSYAWARAH MASYARAKAT RUKUN TETANGGA (MMRT) RW 13

KELURAHAN MOJOLANGU KECAMATAN LOWOKWARU

OLEH :

KELOMPOK 4

PROGRAM PROFESI NERS

STIKES MAHARANI MALANG

2017
PROPOSAL KEGIATAN

PENYULUHAN DAN PEMERIKSAAN KESEHATAN

A. Latar Belakang

Seiring berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan, serta


bertambahnya penduduk dan masyarakat maka, maka perlu adanya perawat kesehatan
komunitas yang dapat melayani masyarakat dalam dalam hal pencegahan, pemeliharaan,
promosi kesehatan dan pemulihan penyakit, yang bukan saja ditujukan kepada individu,
keluarga, tetapi juga dengan masyarakat dan inilah yang disebut dengan keperawatan
komunitas.
Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang
ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya
pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan
kesehatan, dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dan
melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi pelayanan
keperawatan.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan kesehatan lansia secara menyeluruh di wilayah RT 4
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tentang kesehatan lansia
b. Mengetahui tentang makanan yang baik untuk lansia
c. Mengetahui olahraga yang baik untuk lansia
d. Mengetahui masalah atau penyakit yang sering atau biasa diderita lansia
e. Mengetahui asupan gizi yang tepat untuk lansia

C. Nama Kegiatan

Musyawarah Masyarakat Rukun Tetangga (MMRT) RW 13 Kelurahan Mojolangu


Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
D. Metode

1. Ceramah

2. video dan intervensi senam DM dan lansia

3. Perlakuan (Pemeriksaan glucose, urid acid, cholesterol)

E. Macam Kegiatan

1. Penyuluhan kesehatan lansia dan penyakit DM serta Hipertensi

2. Pemeriksaan gula darah, asam urat, dan kolestrol, serta tekanan darah

3. Pelaksanaan senam kaki Diabetes

F. Hasil yang Ingin Dicapai

1. Penyuluhan berjalan lancer dan peserta aktif menanggapi materi penyuluhan

2. Peserta antusias dalam pelaksanaan senam kaki Diabetes

3. Peserta antusias dalam pemeriksaan glukosa, asam urat, dan kolestrol, serta tekanan darah.

G. Sasaran

Seluruh Masyarakat RT 04 RW 13 baik masyarakat remaja, dewasa, maupun lansia yang


berkesempatan hadir.

H. Waktu dan Tempat

Waktu dan tempat akan di selenggarakan di Balai RW 13 pada pukul 10.00 WIB
I. Acara

No Waktu Kegiatan Media


1 15 menit Pemeriksaan TD, gula, asam urat, dan Digital check dan
kolestrol tensi meter
2 5 menit Pembukaan
3. 20 menit Acara inti:
Penyuluhan dan Tanya jawab LCD
Senam kaki DM Video dan instruktur
4 5 menit Penutup
5 5 menit Doa

J. Pelaksanaan

1. Tahap persiapan

a) Penyusunan proposal dan laporan


b) Konsolidasi dan koordinasi
c) Administrasi keuangan
d) Penyiapan materi dan peralatan yang dibutuhkan

2. Tahap pelaksanaan

a) Undangan disebar pada seluruh warga di RT 04


b) Setting tempat disusun sedemikian rupa sesuai rencana
c) Acara dibuka oleh mahasiswa yang telah ditunjuk, kemudian pemateri memberikan
materi penyuluhan kepada warga
d) Pemutaran video senam sekaligus mengajak seluruh peserta untuk ikut senam
e) Acara ditutup dengn doa bersama
3. Evaluasi

a). Evaluasi terstruktur

perencanaan terlaksana 1 minggu sebelum hari pelaksanaan dan undangan disebarkan 2


hari sebelum acara dilaksanakan

b). Evaluasi proses

kegiatan terlaksana sesuai jadwal dengan persentase kehadiran yaitu diperkirakan lebih
dari 75%

c). Evaluasi hasil

(1) warga memahami tentang kesehatan lansia


(2) warga memahami tentang penyakit diabetes
(3) warga memahami tentang penyakit hipertensi
(4) warga memahami dan mau mempraktekan senam kaki diabetes
(5) seluruh peserta bersedia dilakukan pemeriksaan gula, asam urat, kolestrol, dan
tekanan darah
4. Susunan panitia
Ketua : Sukma ayu E
Sekretaris/Notulen : Fadila A S
Bendahara : Maria Ivoni Nou
Pemateri : Muklis
Moderator : Ridwan S
Sie. Dokumentasi : Rachmi I
Sie. Konsumsi : Clara D
ANGGARAN ESTIMASI DANA KEGIATAN

1. Konsumsi

1 Dos air mineral gelas (Aqua) : Rp. 30.000,-

Snack 20 orang @7.000 : Rp. 140.000,-

Jumlah : Rp. 170.000,-

2. Laporan

Print : Rp. 25.000,-

Foto Copy : Rp. 50.000,-

ATK : Rp. 15.000,-

Jumlah : Rp. 90.000,-

3. Peralatan

Stik Glucose : Rp. 85.000,-

Stik uric acid : Rp. 85.000,-

Stik cholesterol : Rp. 150.000,-

Lanset : Rp. 20.000,-

Alcohol 70% : Rp. 8.000,-

Kapas : Rp. 7.000,-

Jumlah : Rp. 355.000,-

Total pengeluaran keseluruhan : Rp. 615.000,-

Sumber dana:

Iuran mahasiswa kelompok 4 @88.000,-


DAFTAR PUSTAKA

Asmadi.(2008). Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien.Jakarta : Salemba Medika.

Brunner and Suddarth.2002.Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Citra, Agus. (2014). Tuntunan Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Bandung: Rizqi Press

Dehebra. 2015. Seputar Perubahan Fisiologis Pada Lansia. (Online).


https://www.deherba.com/seputar-perubahan-fisiologis-pada-lansia.html. Diakses tanggal
22 Januari 2017

Effendy, Nasrul. (2015). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, edisi 2. Jakarta:


EGC

Fatmah. (2010). Gizi usia lanjut. Jakarta: Erlangga.

Friedman, Marilyn M. (2012). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek, Edisi 3. Jakarta: EGC.

Martono, H & Pranarka, K. (2009).Buku Ajar Hoedhi-Darmojo geriatric: Ilmu kesehatan usia
lanjut. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Noorkasiani. (2009). Kesehatan usia lanjut dengan pendekatan asuhan keperawatan. Jakarta:
Penerbit Salemba Medika.

Smith T.2000. Tekanan Darah Tinggi. Cetakan V. Arcan.Jakarta

Sobel, B. J. M. D. and George L. Bakris, M .D .FACP.2004 .Pedoman KLinis diagnosa dan


Terapi Hipertensi. Penerbit Hipokrates.

Suprajitno. (2014). Asuhan Keperawatan Keluarga: Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta: EGC