Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Tulang femur merupakan tulang terbesar dari tubuh manusia dan membentuk sistem
muskuloskeletal dari daerah paha.(Netter,2006),(Carolla,1990) Regio femur terletak diantara
pinggul (hip) dan lutut (knee). Daerah ini merupakan struktur yang penting karena merupakan
struktur utama penyangga tubuh serta berperanan penting dalam pergerakan melalui sendi
pinggul (hip joint) dan sendi lutut (knee joint). Tulang femur dapat menahan beban tekanan
sebesar 3500 kg/cm2. Tekanan sebesar ini mampu menahan tekanan yang didapatkan pada saat
berjalan, berlari, atau melompat. Tulang femur merupakan tulang yang terkuat, terberat, dan
terpanjang dari tulang manusia. Tinggi badan manusia biasanya sekitar empat kali dari panjang
tulang femur.

Daerah femur mempunyai dua persendian yang utama, yaitu hip joint di proximal dan knee
joint di distal. Hip joint adalah jenis persendian yang multi axial, tipenya ball and socket, dan
merupakan jenis persendian synovial (diarthrosis).(Carolla,1990) Pada saat ini implantasi dari
hip joint adalah salah satu prosedur operasi yang paling berhasil dan jamak dilakukan di bidang
ortopedi sebagai operasi penggantian sendi. Knee joint adalah jenis persendian yang paling
kompleks dari tubuh manusia. Persendian ini juga merupakan salah satu persendian yang paling
lemah dan paling mudah terjadi trauma. Knee joint merupakan jenis persendian synovial
(diarthrosis) dengan beberapa modifikasi pada struktur engselnya. Persendian pada lutut mampu
melakukan beberapa pergerakan rotasi.

Otot otot pada daerah femur dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu kelompok
otot anterior, kelompok otot posterior, dan kelompok otot medial.(Shuler,2008) Kelompok otot
anterior mempunyai fungsi utama untuk fleksi pada hip joint dan ekstensi pada knee joint,
kelompok otot posterior mempunyai fungsi utama untuk ekstensi pada hip joint dan fleksi pada
knee joint, sedangkan kelompok otot medial mempunyai fungsi utama adduksi pada hip joint.

Persarafan utama pada daerah femur berasal dari nervus femoralis dan nervus ischiadicus
yang merupakan cabang dari pleksus lumbosakralis yang keluar dari medulla spinalis setinggi

Halaman | 1
Vertebra torakalis 12 sampai dengan Vertebra sakralis 5, sedangkan pembuluh darah utama pada
daerah femur berasal dari arteri femoralis yang merupakan cabang dari arteri iliaka eksterna.

1.2.Tujuan

Tujuan pembuatan referrat ini adalah untuk mengetahui struktur anatomi dari femur,
termasuk di dalamnya adalah tulang, persendian, otot, serta pembuluh darah dan persarafan di
daerah femur.

Halaman | 2
BAB 2

OSTEOLOGI FEMUR

Gambar 2.1. Tulang Femur

Dikutip dari: R.Putz dan R. Pabst, Sobotta Atlas Anatomi Manusia

Tulang femur terletak diantara pinggul dan lutut. Tulang femur adalah tulang terbesar
pada tubuh manusia dan merupakan tulang utama yang menyangga daerah paha. Bagian ujung
proksimal dari tulang femur terdiri dari caput femoris, collum femoris, serta trochanter mayor

Halaman | 3
dan trochanter minor yang menghubungkan antara collum femur dengan corpus
femoris.(Netter,2006),(Carolla,1990) Caput femoris berbentuk hampir lebih dari setengah
lingkaran, berartikulasi dengan asetabulum pada tulang panggul. Pada bagian tengah caput
femoris terdapat cekungan kecil yang disebut sebagai fovea capitis. Pada bagian ini terdapat
ligamen dan pembuluh darah yang berhubungan dengan caput femoris. Apabila pembuluh darah
pada caput femoris ruptur oleh karena trauma maka dapat terjadi kerusakan yang berat dari caput
femoris.

Gambar 2.2. Caput Femoris

Dikutip dari: Netter, Frank H., Netters Orthopaedic

Leher dari tulang femur, atau yang biasa disebut sebagai collum femoris,
menghubungkan antara caput femoris dengan corpus femoris. Pada daerah ini sering didapatkan
fraktur femur, terutama pada penderita usia lanjut. Lateral dari collum femoris terdapat
trochanter mayor, sedangkan medial dari collum femoris terdapat trochanter minor. Struktur ini
penting karena merupakan tempat melekatnya beberapa otot utama pada paha dan
pantat.(Carolla,1990)

Daerah antara collum femoris dan korpus femoris membentuk sudut yang disebut sebagai
sudut collum femoris. Sudut collum femoris disebut juga sebagai sudut kolodifisis. Sudut ini
besarnya bervariasi. Pada bayi baru lahir besarnya kira-kira 150 dan pada orang dewasa

Halaman | 4
besarnya kira-kira 126.(R. Putz; R.Pabst,2000) Coxa valga adalah terminologi yang dipakai
untuk menunjukkan sudut collum femoris yang lebih besar dari 135, sedangkan coxa vara
adalah terminologi yang dipakai untuk menunjukkan sudut collum femoris yang kurang dari
115. Pada keadaaan coxa valga caput femoris terletak lebih tinggi daripada trochanter mayor
sehingga merupakan salah satu predisposisi terjadinya subluksasi, sedangkan pada coxa vara
terdapat penurunan fungsi dari otot abduktor sehingga dapat menyebabkan terjadinya
pemendekan dari paha.(Netter,2006) Ujung proksimal tulang femur juga membentuk sudut
anteversi terhadap bidang coronal dengan variasi sekitar 1 sampai dengan 40 dengan sudut
rata-rata 14.(Shuler,2008) Aliran pembuluh darah pada caput femoris berasal dari arteri
sirkumfleksa femoralis medialis melalui pembuluh darah retinakuler yang terletak
subsinovial.(Netter,2006)

Badan dari tulang femur, atau biasa disebut sebagai corpus femoris berbentuk sedikit
melengkung ke anterior.(Carolla,1990),(Shuler,2008) Corpus femoris mempunyai struktur yang
lembut kecuali pada garis longitudinal yang kasar pada bagian posterior yang disebut sebagai
linea aspera. Struktur ini juga merupakan tempat melekatnya beberapa otot.

Pada bagian distal dari tulang femur, di atas dari lutut terdapat condylus lateralis dan
condylus medialis. Condylus berartikulasi dengan tulang tibia. Proximal dari condylus terdapat
epicondylus lateralis dan epicondylus medialis.(Carolla,1990) Epicondylus merupakan tempat
melekatnya beberapa otot, sedangkan condylus berperan dalam pergerakan dari persendian.
Condylus medialis mempunyai ukuran yang lebih besar daripada condylus lateralis. Struktur ini
bermanfaat pada saat lutut atau patella bergerak saat berjalan, maka tulang femur melakukan
rotasi ke medial sehingga mengunci sendi lutut.

Halaman | 5
BAB 3

MUSKULUS FEMUR

Hampir seluruh permukaan dari pinggul dan paha dilapisi oleh struktur otot. Kondisi ini
menyebabkan daerah pelvis dan femur mendapatkan aliran pembuluh darah yang sangat baik,
sehingga penyembuhan fraktur pada daerah ini sangat baik., kecuali pada daerah collum femoris.
Otot-otot pada daerah paha dibagi menjadi tiga kompartemen yaitu kompartemen anterior
(quadriceps), medial (adductor), dan posterior (hamstring). Beberapa otot di daerah paha juga
melewati persendian lutut.(Netter,2006)

Otot-otot yang termasuk kelompok kompartemen anterior adalah m. rectus femoris, m.


vastus lateralis, m. vastus medialis, m. vastus intermedius, m. sartorius, dan m. tensor fasciae
latae. Otot-otot yang termasuk kelompok kompartemen posterior adalah m. biceps caput longum,
m. biceps caput brevis, m. semitendinosus, dan m. semimembranosus. Otot-otot ini disebut juga
sebagai hamstring muscles.(R. Putz; R.Pabst,2000) Otot-otot yang termasuk kelompok
kompartemen medial adalah m. gracilis, m. pectineus, m. adductor brevis, m. adductor longus,
m. adductor magnus, dan m. obturatorius eksternus.

3.1. Otot-otot Anterior Paha

a. M. rectus femoris mempunyai origo pada spina iliaka anterior superior serta tepi kranial
asetabulum, sedangkan insersionya pada tepi proksimal dan tepi samping patella,
tuberositas tibia tepatnya di atas ligamentum patella, dan proksimal dari dari ujung tibia
(daerah di samping tuberositas tibia di atas retinacula patella). Otot ini diinervasi oleh n.
femoralis. Fungsi utamanya adalah fleksi dari sendi panggul dan ekstensi sendi lutut.
b. M. vastus lateralis mempunyai origo pada trochanter mayor (daerah distal) dan labium
lateral linea aspera, sedangkan insersionya pada tuberositas tibia tepatnya di atas
ligamentum patella dan bagian lateral dari patella. Otot ini diinervasi oleh n. femoralis.
Fungsi utamanya adalah ekstensi pada sendi lutut.
c. M. vastus intermedius mempunyai origo pada facies anterior tulang femur ( bagian
atas), sedangkan insersionya pada tuberositas tibia tepatnya di atas ligamentum patella.
Otot ini diinervasi oleh n. femoralis. Fungsi utamanya adalah ekstensi pada sendi lutut.

Halaman | 6
d. M. vastus medialis mempunyai origo pada labium medial linea aspera ( bagian bawah),
sedangkan insersionya pada tuberositas tibia tepatnya di atas ligamentum patella. Otot ini
diinervasi oleh n. femoralis. Fungsi utamanya adalah ekstensi pada sendi lutut.
e. M. sartorius mempunyai origo pada spina iliaka anterior superior, sedangkan insersionya
pada sisi medial dari tuberositas tibia. Otot ini diinervasi oleh n. femoralis bagian cabang
dari pleksus lumbalis. Fungsi utamanya adalah fleksi, rotasi ke luar, dan abduksi pada
sendi panggul serta fleksi, rotasi ke dalam pada sendi lutut.
f. M. tensor fascia lata mempunyai origo pada spina iliaka anterior superior, sedangkan
insersionya pada bagian lateral dari ujung tibia (di atas traktus iliotibialis, di bawah
condylus lateralis tibia). Otot ini diinervasi oleh n. femoralis bagian cabang dari pleksus
lumbalis. Fungsi utamanya adalah fleksi, abduksi, rotasi ke dalam pada sendi panggul
serta stabilisasi dalam posisi lurus pada sendi lutut.(R. Putz; R.Pabst,2000)

Gambar 3.1. Otot-otot Anterior Femur

Dikutip dari: Netter, Frank H., Netters Orthopaedic

Halaman | 7
3.2. Otot-otot Posterior Paha

a. M. biceps caput longum mempunyai origo pada tuberischiadicum (bersatu dengan m.


semitendinosus), sedangkan insersionya pada caput fibula, menyebar ke dalam fascia
cruris. Otot ini diinervasi oleh n. ischiadicus bagian tibial yang merupakan bagian cabang
pleksus sakralis. Fungsi utamanya adalah ekstensi, adduksi, rotasi ke luar pada sendi
panggul serta fleksi, rotasi ke luar pada sendi lutut.
b. M. biceps caput brevis mempunyai origo pada labium lateral dari linea aspera ( bagian
tengah), sedangkan insersionya pada caput fibula, menyebar ke dalam fascia cruris. Otot
ini diinervasi oleh n. ischiadicus bagian fibula yang merupakan bagian cabang pleksus
sakralis. Fungsi utamanya adalah ekstensi, adduksi, rotasi ke luar pada sendi panggul
serta fleksi, rotasi ke luar pada sendi lutut.
c. M. semitendinosus mempunyai origo pada tuberischiadicum (bersatu dengan origo m.
biceps caput longum), sedangkan insersionya pada permukaan medial tuberositas tibia.
Otot ini diinervasi oleh n. ischiadicus bagian tibial yang merupakan bagian cabang
pleksus sakralis. Fungsi utamanya adalah ekstensi, adduksi, rotasi ke dalam pada sendi
panggul serta fleksi, rotasi ke dalam pada sendi lutut.
d. M. semimembranosus mempunyai origo pada tuberischiadicum, sedangkan insersionya
pada sebelah bawah condylus medialis tibia, kapsul belakang sendi lutut, fascia m.
popliteus. Insersio bercabang tiga dari muskulus ini dahulu dikenal sebagai pes anserinus
profundus. Otot ini diinervasi oleh n. ischiadicus bagian tibial yang merupakan bagian
cabang pleksus sakralis. Fungsi utamanya adalah ekstensi, adduksi, rotasi ke dalam pada
sendi panggul serta fleksi, rotasi ke dalam pada sendi lutut. (R. Putz; R.Pabst,2000)

Halaman | 8
Gambar 3.2. Otot-otot Posterior Paha

Dikutip dari: Netter, Frank H., Netters Orthopaedic

3.3. Otot-otot Medial Paha

a. M. gracilis mempunyai origo pada ramus inferior os pubis (pinggir medila sepanjang
simfisis pubis), sedangkan insersionya pada bagian medial dari tuberositas tibia. Otot ini
diinervasi oleh n. obturatorius yang merupakan bagian cabang dari pleksus lumbalis.
Fiungsi utamanya adalah adduksi, fleksi, rotasi pada sendi panggul serta fleksi, rotasi ke
dalam pada sendi lutut.
b. M. pectineus mempunyai origo pada pecten os pubis, sedangkan insersionya pada linea
pectinea femur. Otot ini diinervasi oleh n. femoralis dan n. obturatorius. Fungsi utamanya
adalah adduksi, rotasi ke luar, fleksi pada sendi panggul.

Halaman | 9
c. M. adductor brevis mempunyai origo ramus inferior os pubis, sedangkan insersionya
pada labium medial linea aspera. Otot ini diinervasi oleh n. obturatorius. Fungsi
utamanya adalah adduksi, fleksi, rotasi ke luar pada sendi panggul.
d. M. adductor longus mempunyai origo pada os pubis, tepatnya di bawah crista pubis
sampai dengan simfisis pubis, sedangkan insersionya pada labium medial linea aspera.
Fungsi utamanya adalah adduksi, fleksi, dan rotasi ke luar pada sendi panggul.
e. M. adductor magnus mempunyai origo pada ramus inferior os pubis serta ramus dan
tuber os ischii, sedangkan insersionya pada labium medial linea aspera ( bagian
proksimal), tuberositas dan tuberkulum adduktorium. Otot ini diinervasi oleh n.
obturatorius dan n. ischiadicus. Fungsi utamanya adalah adduksi, rotasi ke luar, fleksi
(bagian depan), serta ekstensi (bagian belakang) pada sendi panggul. M adductor
minimus menunjukkan adanya pembelahan yang tidak sempurna di bagian proksimal dari
m. adductor magnus.
f. M. obturatorius eksternus mempunyai origo seluas foramen obturatorium, sedangkan
insersionya berupa tendon di dalam fossa trochanterica. Otot ini diinervasi oleh n.
obturatorius. Fungsi utamanya adalah rotasi ke luar, adduksi, fleksi pada sendi panggul.
(R. Putz; R.Pabst,2000)

Halaman | 10
Gambar 3.3. Otot Medial Paha

Dikutip dari: R.Putz dan R. Pabst, Sobotta Atlas Anatomi Manusia

Halaman | 11
Gambar 3.4. Origo dan Insersio Otot Femur

Dikutip dari: Netter, Frank H., Netters Orthopaedic

Halaman | 12
BAB 4

INERVASI DAN VASKULARISASI

4.1. Inervasi Daerah Paha

Inervasi regio femur terutama berasal dari nervus femoralis, nervus ischiadicus, dan
nervus obturatorius. Ketiga cabang persyarafan ini berasal dari pleksus lumbosakralis. Pleksus
lumbalis dibentuk oleh ramus ventral L1 L4.(Netter,2006) N. femoralis adalah cabang terbesar
dari pleksus lumbalis (cabang posterior setinggi L2 L4). N. femoralis masuk dalam regio
femoris di sebelah lateral dari arteri femoralis. Saraf ini menginervasi cabang motorik m.
sartorius, quadriceos femoris, dan cabang sensoris pada bagian anterior paha. Saraf ini kemudian
melanjutkan diri menjadi n. saphenus. N. saphenus merupakan cabang terbesar dari n. femoralis.
Cabang infra patella dari n. saphenus menginervasi sensorik pada sisi medial lutut bagian depan
dan ligamnetum patella. Saraf ini kadang-kadang dapat rusak pada saat dialkukan operasi total
knee replacement. N. obturatorius juga berasal dari pleksus lumbalis (cabang anterior setinggi L2
L4). Saraf ini menginervasi cabang motorik otot-otot adductor dan memberikan inervsi cabang
sensorik terhadap bagian medial dari paha.(Netter,2006) N. obturatorius dapat rusak pada
beberapa operasi yang berhubungan dengan daerah panggul dan acetabulum, yang berakibat
pada hilangnya sensai pada daerah medial paha dan gangguan adduksi paha.

Gambar 4.1. Pleksus Lumbalis

Dikutip dari: Netter, Frank H., Netters Orthopaedic

Halaman | 13
Pleksus sakralis dibentuk oleh ramus ventral L4 S4.(Netter,2006) Saraf yang berasal
dari pleksus sakralis keluar melalui bagian posterior panggul menuju hip joint. N. ischiadicus
berasal dari pleksus ini setinggi L4 S3. N. ischiadicus terbentuk oleh n. tibialis dan n. peroneus
communis. Segmen tibia dari n. ischiadicus menginervasi otot-otot paha bagian posterior, kecuali
m. biceps femoris caput brevis yang diinervasi oleh n. peroneus communis.(Netter,2006) N.
ischiadicus keluar pada daerah femur anterior dari m. piriformis dan terletak posterior dari otot
eksternal rotator yang lain. N. ischiadicus turun di bawah m. gluteus maksimus dan berjalan ke
posterior dari m. adductor magnus dan diantara m.biceps femoris caput longum dan m.
semimembranosus. Sebelum keluar melalui fossa poplitea, n. ischiadicus dibagi menjadi n.
tibialis dan n. peroneus communis.

Gambar 4.2. Pleksus Sakralis

Dikutip dari: Netter, Frank H., Netters Orthopaedic

4.2. Vaskularisasi Daerah Paha

Vaskularisasi daerah femur terutama berasal dari arteria femoralis yang merupakan
cabang dari arteri iliaka eksterna. Posterior dari femur juga mendapatkan vaskularisasi dari
cabang arteri iliaka interna yaitu arteri gluteus superior dan inferior. Pembuluh darah keluar dari

Halaman | 14
cavum pelvis di sebelah anterior dan posterior dari hip joint. Arteri iliaka eksterna berjalan di
bawah ligamentum inguinale dan keluar sebagai arteria femoralis. Arteri femoralis memasuki
trigonum femorale dan dan memberikan cabang arteri profunda femoris. Arteri ini memberikan
vaskularisasi pada bagian anteromedial dari regio femur. Arteri profunda femoris mempunyai
dua cabang utama, yaitu arteri circumfleksa femoris medialis dan lateralis. Arteri circumfleksa
femoris lateralis berjalan oblique dan di bawah m. sartorius dan m. rectus femoris. Arteri ini
memberikan cabang asenden menuju daerah trochanter mayor dan cabang desenden yang
berjalan di lateral dari m. rectus femoris. Arteri circumfleksa femoris medialis memberikan
vaskularisasi pada sebagian besar caput femoris. Arteri ini berjalan diantara m. pectineus dan m.
iliopsoas.(Shuler,2008)

Gambar 4.3. Arteriae Regio Femur

Dikutip dari: R.Putz dan R. Pabst, Sobotta Atlas Anatomi Manusia

Halaman | 15
Setelah memberikan vaskularisasi dari cabang arteri profunda femoris, arteri femoralis
turun di bawah m. sartorius dan terletak antara kelompok otot adductor dan dan m. vastus
medialis menuju canalis adductorius. Arteri ini di bagian distal, medial dari condylus medialis
femoris memberikan cabang desenden yang disebut ramus geniculatum, kemudian arteri ini
meneruskan diri sebagai arteri poplitea.(Shuler,2008)

Arteri obturatoria adalah cabang dari arteri iliaka interna dan cabangnya ke arah posterior
memberikan vaskularisasi pada ligamentum teres dan asetabulum. Arteri ini merupakan arteri
yang penting sebagai vaskularisasi pada caput femoris pada bayi baru lahir sampai berusia
sekitar 4 tahun.

Gambar 4.4. Arteri, Vena, dan Nervus Femoralis

Dikutip dari: Netter, Frank H., Netters Orthopaedic

Halaman | 16
Gambar 4.5. Arteri dan Nervus Femur Posterior

Dikutip dari: R.Putz dan R. Pabst, Sobotta Atlas Anatomi Manusia

Halaman | 17