Anda di halaman 1dari 2

GAGASAN DAN INOVASI UNTUK TAMAN ILMU

Oleh : Mira Rahadiani (FTIP/ 2014)

Pendidikan adalah hak dasar bagi manusia. Terbukti dengan keharusan berpendidikan
ini Pemerintah Indonesia membuat program wajib belajar 9 tahun yakni Sekolah Dasar (SD)
hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan biaya yang ditanggung Pemerintah.
Namun, tidak sampai disitu. Karena pendidikan seperti makan, dimana ia menjadi kebutuhan
yang harus dipenuhi. Program wajib belajar 9 tahun ini dinilai kurang, Karena banyak sekali
masyarakat yang sudah sadar akan pendidikan itu penting. Realitanya, kalangan masyarakat
menengah bawah banyak berharap akan pendidikan yang gratis, karena pada jenjang Sekolah
Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.
Keberadaan beasiswa dari pihak pemerintah maupun swasta tidak diimbangi dengan
informasi secara menyeluruh, sehingga dampaknya banyak anak yang kurang mengetahui
informasi dan menunda bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Taman ilmu merupakan sebuah wadah mahasiswa Unpad yang bergerak pada bidang
pendidikan dibawah naungan kementrian Pengabdian pada Masyarakat BEM KEMA
UNPAD. Taman ilmu memberikan tempat belajar bagi anak-anak yang ada di desa
Sukanegla, Sukawening Jatinangor. Disini peran Taman Ilmu sangatlah berdampak, terbukti
dengan beberapa anak yang bisa melanjutkan sekolah dan diterimanya Taman Ilmu oleh
masyarakat disana. Taman Ilmu tidak hanya bergerak dalam sisi akademik, dari sisi non
akademik Taman Ilmu sudah memfasilitasi hal tersebut.
Tapi kita lupa, bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya bisa menghitung 1+1 jadi 2,
atau bisa mengaplikasikan Hukum Kekelan Masa atau bisa menjelaskan mekanisme
penguapan menjadi hujan atau bisa menjelaskan pindah panas. Pendidikan adalah karakter,
moral dan pengetahuan. Sudah banyak problema di negeri ini yang mengaitkan globalisasi
dengan degradasi moral. Hal itu sama saja seperti globalisasi sudah melunturkan nilai-nilai
pendidikan bangsa. Tidak, globalisasi tidak tentang degradasi moral bangsa ini, tidak tentang
hal-hal yang berdampak negatif, namun globalisasi juga tentang dampak positif, dimana kita
bisa melihat jendela dunia hanya dari televise ataupun smartphone. Hal inilah yang harus
diluruskan, bahwasannya globalisasi, kemajuan iptek dan modernisasi harus diimbangi
dengan kekuatan nalar kita.
Sebagai agen perubahan dengan wadah Taman ilmu, gagasan yang saya berikan yakni
memberikan pembelajaran tentang karakter dan moral. Tidak hanya kegiatan akademik
maupun non akademik, tapi pembentukan karakter dan moral sangatlah penting. Misalnya
dalam rentan seminggu atau perdua minggu, adik-adik di Taman Ilmu diajak untuk belajar
bersama alam, menanam pohon, memungut sampah, bahkan bisa dengan belajar masak
bersama. Walaupun kegiatannya dinilai sederhana, tapi maknanya luas. Adik-adik di Taman
Ilmu bisa belajar cara mencintai alam, memelihara bahkan meningkatkan kepedulian
terhadap komponen kehidupan, yakni alam. Selain itu, inovasi yang ingin saya berikan, ada
satu waktu dimana kita bisa memanfaatkan teknologi bersama. Yakni menonton film edukasi.
Dengan diperkenalkannya penggunaan teknologi dengan baik, maka setidaknya kita telah
mencegah adik-adik kita dalam penggunaan teknologi yang negatif. Inovasi dan gagasan
lainnya yakni mengirimkan perwakilan adik-adik Taman Ilmu dalam mengikuti perlombaan-
perlombaan. Dengan adanya daya saing dan pengenalan dunia luar, diharapkan sifat dan
karakter kompetesinya berkembang. Dan gagasan dan inovasi dari saya yakni mengajak
kegiatan di luar dengan keadaaan outdoor untuk melatih karakter di dalam kegiatan Outbond.
Karena dalam permainan outbound, adik-adik dapat bermain dengan pembentukan karakter
yang ada pada setiap permainan.