Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH CT - SCAN PETROSUM BONE

Tugas Mata Kuliah CT Scan Lanjut I

Dosen Pengampu : Sigit Wijokongko, S.Si, S.ST, M.Kes

Disusun Oleh :

Kelompok 3 / 3C

1. Hengky Saefulloh (P1337430214054)


2. Maizza Nadia Putri (P1337430214057)
3. Agi Febrian Trihadijaya (P1337430214062)
4. Siti Istiqomah (P1337430214087)
5. Siti Wahyuni (P1337430214047)
6. Eunike Rivena Natalia (P1337430214085)
7. Dina Ria Lestari (P1337430214091)
8. Ni MadeJatasya D (P1337430214026)
9. Evita Ayu Suryaningtyas (P1337430214024)
10. Didik Dwi Darmawan (P1337430214037)
11. Bayu Dwi Septian (P1337430214019)

PRODI DIV TEKNIK RADIOLOGI


JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2017

KATA PENGANTAR

Page | 1
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,yang telah
melimpahkan segala rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyusun makalah yang
berjudul CT SCAN PETROSUM BONE , ini tanpa ada suatu halangan apapun.

Terima kasih kami sampaikan kepada:

1. Bapak ,Sigit Wijokongko, S.Si, S.ST, M.Kes selaku dosen pengampu mata kulian CT-
Scan Lanjut 1.
2. Kedua orangtua yang senantiasa memberikan doa dan restunya
3. Teman-teman Prodi D-IV Teknik Radiologi Semarang
4. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak


kekurangan. Untuk itu kami mohon kritik dan saran yang dapat membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Sekian dan terima kasih.

Semarang, 3 Oktober 2017

Penyusun

DAFTAR ISI

Page | 2
Kata Pengantar.................................................................................................................. 2

Daftar Isi............................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................

A. Latar Belakang.................................................................................................... 4

B. Rumusan Masalah............................................................................................... 5

C. Tujuan................................................................................................................... 5

BAB II DASAR TEORI

A. Anatomi Os Petrosum dan Mastoid................................................................... 6

B. Teknik Pemeriksaan Mastoid............................................................................. 9

BAB III ISI


A. Teknik Pemeriksaan............................................................................................ 12
B. Anatomi Petrosum .............................................................................................. 15
BAB IV PENUTUP
A.Kesimpulan......................................................................................................... 23
Daftar Pustaka................................................................................................................... 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Page | 3
Computed Tomography (CT) adalah proses penggambaran anatomi crossectional
tubuh manusia dengan menggunakan pesawat tomografi. Pada CT tubuh pasien dipindai
oleh tabung sinar-X yang berputar saat pemeriksaan dan diterima oleh sebuah perakitan
detector yang digunakan untuk menerima radiasi yang keluar dari tubuh pasien sebagai
data primer dan disambungkan dengan komputer host untuk mendapatkan informasi
(Ballinger,2003).

Salah satu pemeriksaan CT-Scan khusus yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan CT-
Scan Os Petrosum yang masuk dalam salah satu organ pendengaran. Telinga adalah organ
penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Indera
pendengaran berperan penting, pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-
hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan
berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.

Indra pengindraan dan keseimbangan serta penghantar suara terletak dalam tulang
temporal, yang ikut membentuk kubah tengkorak dan tulang pipi. Tulang temporal terdiri
dari bagian skuamosa, bagian timpani, bagian mastoid, dan pars petrosa. Bagian skuamosa
os temporal sebagian besar tipis dan cembung kearah luar sebagai tempat perlengketan
muskulus temporalis. Bagian timpani berbentuk suatu silinder yang tidak sempurna,
bersama-sama dengan bagian skuama membentuk liang telinga luar bagian tulang. Bagian
terbesar os temporal dibentuk oleh bagian mastoid. Bagian mastoid mengalami pneumatisasi
yang luas. Pars petrosa yang disebut sebagai pyramid petrosa yang berisi labirin telinga.
Bagian superior tulang ini membentuk permukaan inferior fossa kranii media.
(http://kamisah-misae.blogspot.co.id/2009/10/manfaat-pemeriksaan-radiologi-pada.html).

Teknik CT-Scan yang sering dipakai pada pemeriksaan Os petrosum adalah High
Resolusi CT / kondisi tulang. Untuk kasus non-tumor/trauma basis cranii biasanya
menggunakan potongan axial dan coronal 2 mm sejajar dengan axis os.petrosum. mencakup
seluruh tulang os.petrosum, tanpa kontras, kondisi tulang (WW dan WL yang tinggi).
Sedangkan untuk kasus tumor / infeksi (abses ) potongan axial 2-5 mm mencakup seluruh
Os petrosum tanpa dan dengan kontras, kondisi tulang dan soft tissue. Potongan coronal 2-5
mm sebagai tambahan, dalam kondisi tulang dan soft tissue. Mencakup seluruh Os petrosum

Page | 4
dan proses abnormalnya (http://yudhaaueo.blogspot.co.id/2012/09/protokol-pemeriksaan-ct-
scan.html).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Anatomi Os Petrosum dalam indra pendengaran ?
2. Bagaimana teknik pemeriksaan Ct-Scan Os petrosum ?
3. Apa saja indikasi dilakukannya pemeriksaan CT-Scan Os Petrosum dan hasil
radiografnya?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Anatomi lengkap Os petrosum.
2. Untuk memahami teknik pemeriksaan CT-Scan Os Petrosum.
3. Untuk mengetahui indikasi pemeriksaan CT-Scan Os Petrosum.

BAB II

DASAR TEORI

A. Anatomi Petrosum dan Mastoid

Merupakan tulang padat di cranium, berbentuk kerucut atau piramida dan


tebal. Bagian dari tulang temporal ini berisi organ pendengaran dan
keseimbangan.Mastoid merupakan rongga berisi udara yang terdapat di dalam tulang

Page | 5
temporal yang berhubungan dengan nasofaring melalui tuba eustachius dan berhubungan
dengan mastoid air cell (rongga mastoid) melalui antrum timpanic (aditus ad antrum).
Rongga timpanik dan mastoid merupakan kelanjutan dari saluran pernafasan dan menjadi
tempat yang mengalami infeksi yang berasal dari saluran pernafasan melalui tuba
eustachius (Zarra, 2010).

Gambar Anatomi Cranium Lateral (Bontrager, 2001)

Keterangan gambar :

1. Tulang Frontal 7. Tulang Occipital

2. Tulang Sphenoid 8. Tulang Temporal

3. Tulang Zygomatikum 9. Prosesus Mastoideus

4. Sutura Coronal 10. External acousticus meatus

5. Tulang Parietal 11. Prosesus Styloideus

6. Sutura Lambdoidal 12. Ramus Mandibula

Menurut Ballinger (2003), petrosum dan mastoid bersama-sama membentuk bagian


petromastoid (petromastoid portion). Bagian petromastoid ini terdiri dari :

a. Bagian Mastoid (mastoid portion)

Mastoid membentuk bagian bawah dan bagian belakang tulang temporal yang
memanjang menuju prosesus mastoideus yang berbentuk kerucut. Mastoid
berartikulasi dengan tulang parietal di batas atas sutura parietomastoid dan dengan
tulang oksipital di batas belakang sutura occipitomastoid, yang berdekatan

Page | 6
dengan sutura lambdoidal. Prosesus mastoideus memiliki ukuran yang bervariasi,
tergantung pada pneumatisasi, namun ukuran pada laki-laki lebih besar daripada
perempuan.

b. Sel udara mastoid (mastoid air cells)

Sel udara mastoid terletak di bagian atas di depan prosesus


mastoideus yang disebut antrum mastoid. Sel udara ini memiliki ukuran yang cukup
besar dan berhubungan dengan rongga timpanik. Sesaat sebelum atau setelah lahir,
sel-sel udara yang kecil mulai berkembang di sekitar antrum mastoid dan terus
meningkat dalam jumlah maupun ukuran sampai sekitar usia pubertas. Jumlah dan
ukuran dari sel udara sangat bervariasi.

c. Petrosum (petrous portion)

Bagian petrosum atau sering disebut petrous pyramid, merupakan tulang


padat di cranium, berbentuk kerucut atau piramida dan tebal. Bagian dari tulang
temporal ini berisi organ pendengaran dan keseimbangan. Dari dasar squama dan
mastoid, petrosum terlihat di bagian medial dan bagian depan antara greater
wing dari tulang sphenoid dan tulang oksipital ke badan tulang sphenoid yang
terdapat di puncak artikulasi. Arteri karotis interna di karotis kanalis
memasuki bagian bawah petrosum, melewati atas koklea, kemudian melewat
ibagian medial untuk keluar menuju petrous apex. Dekat petrous
apex adalah foramen kasar yang disebut foramen lacerum. Saluran karotis
membuka foramen ini, dan di dalamnya berisi arteri karotis interna.
Di tengah bagian belakang petrosum terdapat internalacoustic meatus (IAM), yang
menyebarkan vestibulocochlear dan saraf wajah. Batas atas dari petrosum sering
disebut sebagai petrous ridge. Bagian atas ridge disebut top of ear
attachment (TEA).

Page | 7
Gambar Permukaan Internal Tulang Temporal (Arthur, 2009)

Gambar Permukaan Bawah Tulang Temporal (Arthur, 2009)

Keterangan gambar :

1. Prosesus Zygomatikum 5. Prosesus mastoideus

2. Artikulasi Fossa dengan 6. Fossa Jugularis

Kondilus Mandibula 7. Karotis Kanalis

3. Prosesus Styloideus 8. Petrosum

4. EAM 9. Tuba Eustachius

B. Teknik pemeriksaan CT Scan Mastoid

1. Pengertian

Page | 8
CT Mastoid merupakan pemeriksaan radiologi guna mendapatkan gambaran
cross sectional anatomi bagian mastoid.

2. Persiapan alat dan bahan


a. Pesawat CT Scan
b. Head holder
c. Head clem
d. Selimut
e. Body strep

3. Indikasi pemeriksaan
a. Otitis media
b. Mastoiditis
c. Otosklerosis
d. Kanker
e. Trauma

4. Persiapan pasien
Tidak ada persiapan khusus bagi pasien,hanya saja assesoris di daerah kepala (gigi
palsu, anting, penjepit rambut dan lain-lain) yang menempel pada obyek disingkirkan
agar tidak menimbulkan bayangan artefact. Kemudian pasien dan atau keluarga
pasien diberi penerangan mengenai tujuan dan prosedur pemeriksaan sampai dengan
memahami manfaat dan resiko pemeriksaan yang akan dilakukan. Apabila
memungkinkan pasien diingatkan tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama
pemeriksaan berlangsung (bergerak).

5. Teknik Pemeriksaan
a. Potongan Axial
1) Posisi pasien : Pasien tidur supine diatas meja pemeriksaan dengan kepala
diatur sedemikian rupa sehingga simetris berada pada pertengahan gantry.
2) Posisi objek : Kepala hiper extensi dan diletakkan pada head holder. Kepala
diposisikan sehingga mid sagital plane tubuh sejajar dengan lampu indicator
longitudinal dan interpapillary line sejajar dengan lampu indicator horisontal.
Lengan pasien diletakan diatas perut atau di samping tubuh. Untuk

Page | 9
mengurangi pergerakan dahi dan tubuh pasien sebaiknya difiksasi bengan
sabuk khusus pada head holder dan meja pemeriksaan. (Nesseth,2000)
3) Masukkan data-data pasien dengan memilih protocol pemeriksaan mastoid.
Orientasi posisi pasien adalah Head First pada registrasi pasien di komputer
kemudian dilanjutkan dengan membuat topogram cranium AP dan lateral.
4) Batas scanning adalah seluruh bagian objek mastoid tercover dalam lapangan.
5) Garis potongan axial parallel dengan objek mastoid.

Gambar Gambar Potongan Axial


b. Potongan Coronal
1) Posisi pasien : Pasien tidur prone diatas meja pemeriksaan dengan kepala
diatur sedemikian rupa sehingga simetris berada pada pertengahan gantry.

2) Posisi objek : Kepala hiper extensi dan diletakkan pada head holder. Kepala
diposisikan sehingga mid sagital plane tubuh sejajar dengan lampu indicator
longitudinal. Lengan pasien diletakan di samping tubuh. Untuk mengurangi
pergerakan dahi dan tubuh pasien sebaiknya difiksasi bengan sabuk khusus
pada head holder dan meja pemeriksaan. (Nesseth,2000)

3) Buat garis potongan scanning coronal dengan garis potongan tersebut tegak
lurus pada potongan axial atau tegak lurus dengan objek.

4) Penyudutan gantry diatur menyesuaikan objek mastoid.

Page | 10
BAB III

PEMBAHASAN

A. Teknik Pemeriksaan

a. Slice thickness : 2mm


b. FOV disesuaikan
c. Menggunakan window tulang dan soft tissue

1. Potongan Axial
Posisi pasien supine pada meja pemeriksaan
Start scan pada basis cranii
End scan pada margin superior petrosum
Page | 11
Sudut gantry 30o cranial terhadap infraorbital meatal line

2. Potongan coronal

Page | 12
Posisi pasien prone dengan kepala full ekstensi
Start scan pada margin anterior tulang petrosum temporal
End scan pada margin posterior tulang petrosum temporal
Sudut gantry 90o terhadap pertengahan basis cranii dari pertengahan fossa
cranial

Page | 13
B. Anatomi Tulang Petrosum

a. External ear
Pada bagian telinga luar terdapat :

1. Aurikula/pinna (daun telinga): terbentuk oleh susunan tulang rawan dengan


bentuk khas yang berperan untuk menyokong fungsinya, yaitu memusatkan
gelombang suara yang diterima dan kemudian menyalurkannya masuk ke
dalam liang telinga.
2. Meatus Akustikus Eksterna (liang telinga): memiliki banyak kelenjar
sudorifera yaitu kelenjar yang menghasilkan serumen (kotoran telinga)
yang menyerupai lilin dan dapat mengeras. Serumen bermanfaat dalam
menjaga agar kotoran dari luar tidak banyak yang masuk ke dalam telinga,
dan dengan baunya yang tidak sedap serumen juga menjaga agar serangga
tidak masuk ke dalam telinga.
3. Membran Timpani (gendang telinga): merupakan bagian telinga luar yang
membatasi telinga luar dengan telinga tengah dan berfungsi untuk
menangkap gelombang suara dan mengubahnya menjadi getaran.

Page | 14
Bagian jaringan kartilago dan tulang
Diakhiri oleh membrane tympani yang terhubung dengan annulus tympani
Bagian anterior dan superior annulus tympani adalah scutum

b. Middle ear

Telinga tengah merupakan rongga berisi udara yang memiliki fungsi utama
untuk meneruskan suara yang diterima dari bagian telinga luar ke bagian telinga
dalam. Pada bagian telinga tengah terdapat:

1. Tulang-tulang pendengaran : terdiri dari tulang Maleus (Martil), Incus


(Landasan), dan Stapes (sanggurdi), yang saling terhubungkan satu sama

Page | 15
lain oleh semacam persendian antar tulang, yang memungkinkan tulang-
tulang ini untuk dapat bergerak meneruskan getaran yang berasal dari
membran timpani di bagian telinga luar menuju jendela oval di bagian
telinga dalam.
2. Tuba Eustachius : merupakan saluran yang menghubungkan bagian telinga
tengah dengan faring (tenggorokan). Saluran ini memiliki fungsi untuk
mengatur keseimbangan antara tekanan udara pada bagian telinga luar
dengan tekanan udara pada bagian telinga tengah. Tuba Eustachius ini selalu
menutup, dan dapat membuka pada saat menelan dan menganga. Oleh
karena itu pada saat terjadi perubahan tekanan, seperti berada di tempat
ketinggian yang dapat menyebabkan telinga menjadi berdengung,
dianjurkan untuk melakukan gerakan menelan, karena pada saat menelan
tuba eustachius dapat membuka dan menyeimbangkan kembali tekanan
udara. Dinding tuba Eutachius juga dilengkapi dengan silia (rambut kecil)
yang berfungsi untuk mencegah masuknya kuman yang terdapat di rongga
hidung, rongga mulut dan saluran pernapasan atas ke telinga tengah,
sehingga bagian telinga tengah tetap dalam keadaan steril.

Page | 16
Page | 17
c. Inner ear

Telinga dalam disebut juga sebagai labirin karena struktur anatomi nya
yang menyerupai labirin. Bagian telinga dalam terdiri atas bagian tulang yang
keras dan bagian membran yang lunak. Pada bagian telinga dalam terdapat :

1. Koklea (Rumah Siput) : berbentuk seperti tabung yang membengkok ke


arah belakang lalu melingkar ke dalam sejauh 2,5 lingkaran dengan
bentuk seperti kerucut di ujungnya, sehingga menyerupai rumah siput.
Koklea memiliki sekat-sekat (membran Reissner dan membran basilaris)
yang memisahkan Koklea menjadi tiga skala (ruangan) yaitu : skala
Vestibuli di bagian atas, skala Media di bagian tengah, dan skala

Page | 18
Timpani di bagian bawah. Skala Vestibuli dan skala Timpani berisi
cairan yang disebut dengan cairan perilimfe, sedangkan skala media
berisi cairan yang disebut dengan endolimfe. Pada bagian atas membran
basilaris terdapat suatu struktur khusus yang merupakan reseptor
pendengaran yang disebut organ Korti yang berfungsi mengubah getaran
suara menjadi impuls saraf. Organ Korti ini tersusun atas sel-sel rambut
dan sel penyokong, sel rambut pada organ korti ini berhubungan dengan
bagian auditori (pendengaran) dari saraf otak VIII.
2. Vestibuli : merupakan bagian sentral dari labirin tulang yang
menghubungkan koklea dengan saluran semisirkular. Vestibuli terdiri
dari sakula dan utrikula. Sakula dan Utrikula disusun oleh sel rambut
yang memiliki struktur khusus yang disebut macula acustika. Sel rambut
pada sakula tersusun secara vertikal, sedangkan sel rambut pada utrikula
tersusun secara horizontal. Pada sel rambut tersebar partikel serbuk
protein kalsium karbonat (CaCO3) yang disebut otolith. Macula
berfungsi mengatur keseimbangan statis, yang menentukan kesadaran
akan posisi kepala terhadap gaya gravitasi pada saat tubuh dalam
keadaan diam, dan kesadaran akan posisi kepala pada saat terjadi
percepatan linear seperti kecepatan dengan arah pergerakan kepala dan
garis tubuh dalam suatu garis lurus. Aktivitas Macula ini ditransmisikan
ke bagian vestibular (keseimbangan) dari saraf otak VIII.
3. Kanalis Semisirkularis : merupakan saluran setengah lingkaran yang
terdiri dari 3 saluran yang tersusun menjadi satu kesatuan dengan posisi
yang berbeda, yaitu : Kanalis Semisirkularis Horizontal, Kanalis
Semisirkularis Vertikal Atas dan Kanalis Semirikularis Vertikal
Belakang. Di dalam masing-masing kanalis semisirkularis terdapat
ampula, yang berisi krista yang terdiri dari sel penunjang dan sel rambut
yang menonjol membentuk lapisan gelatin yang disebut kupula. Ampula
berfungsi mengatur keseimbangan dinamis, yaitu menentukan kesadaran
akan posisi kepala pada saat terjadi gerakan angular atau gerakan rotasi.
Aktivitas Ampula ini ditransmisikan ke bagian vestibular
(keseimbangan) dari saraf otak VIII.

Page | 19
Page | 20
(garis merah) Geniculate ganglion

(garis orange) tegmen tympan, (garis merah) oval window, (garis biru) facial nerve

Page | 21
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada teknik pemeriksaan Ct-Scan tulang petrosum potongan atau irisan yang

digunakan yaitu potongan axial dan potongan coronal. Pada pengambilan potongan axial

posisi pasien sama halnya dalam pemeriksaan Ct-Scan kepala biasa, namun Start scan

pada basis crania End scan pada margin superior petrosum Sudut gantry 30 o cranial

terhadap infra orbital meatal line. Sedangkan untuk pengambilan potongan coronalnya

posisi pasien prone dengan kepala full ekstensi, start scan pada margin anterior tulang

petrosum temporal dan end scan pada margin posterior tulang petrosum temporal Sudut

gantry 90o terhadap pertengahan basis crania dari pertengahan fossa cranial. Slice

thickness yang digunakan 2 mm karena tulang petrosum kecil dan berbentuk seperti

sarang lebah dengan FOV disesuaikan dengan obyeknya dan mengatur window tulang

dan soft tissue.

Page | 22
DAFTAR PUSTAKA

Ballinger, P.W., 2003, Atlas of Radiographic Positioning and Radiologic Prosedures, Volume
three, Tenth Edition, The VC Mosby co London.

http://kamisah-misae.blogspot.co.id/2009/10/manfaat-pemeriksaan-radiologi-pada.html. (diakses
pada Sabtu, 04 Maret 2017 pukul 22.15 WIB)

http://yudhaaueo.blogspot.co.id/2012/09/protokol-pemeriksaan-ct-scan.html. (diakses pada


Sabtu, 04 Maret 2017 pukul 22.15 WIB)

Henwood,Suzanne.2008.Clinical CT Techniquea and Practise

Moeller.2007.Pocket Atlas of Sectional Anatomy Computed Tomography and Magetic


Resonance Imaging

Moeller.2000.Normal Findings in CT and MRI

Hofer, Mathias.CT Teaching Manual

Page | 23

Anda mungkin juga menyukai