Anda di halaman 1dari 21

TINJAUAN PUSTAKA

Ikan

Ikan adalah bahan pangan yang mengandung protein tinggi yang sangat
dibutuhkan oleh manusia, karena selain mudah dicerna juga mengandung asam
amino dengan pola yang hampir sama dengan asam amino yang terdapat dalam
tubuh manusia (SUHARTINI & HIDAYAT, 2005). Ikan juga dapat
menurunkan kadar kolesterol darah, menurunkan kadar trigliserida darah,
meningkatkan kecerdasan anak, menurunkan risiko kematian karena penyakit
jantung, mengurangi gejala rematik, menurunkan aktivitas pertumbuhan sel
kanker, dan juga mengandung omega 3 dan omega 6 (PANDIT, 2008). Omega 3
pada ikan dapat mencegah penyakit jantung koroner karena berasal dari sintesis
asam lemak tidak jenuh yaitu asam lemak linoleat dan linolenat.
Ikan pada umumnya dan ikan laut pada khususnya merupakan bahan
pangan yang kaya akan yodium. Zat ini diperlukan oleh tubuh untuk dapat
membentuk hormon tiroksin. Kandungan yodium yang terkandung dalam ikan
mencapai 83 g/100 g ikan, sementara daging hanya mengandung 5 g/100 g.
Dengan demikian, mengonsumsi ikan laut dalam jumlah yang tinggi dapat
mencegah penyakit gangguan akibat kurangnya konsumsi yodium. Selain
mengandung protein, ikan kaya akan mineral seperti kalsium, fosfor yang
diperlukan untuk pembentukan tulang, serta zat besi yang diperlukan untuk
pembentukan hemoglobin darah (MARSETYO & KARTASAPOETRA, 2003).

Ikan sebagai Bioindikator Pencemaran Lingkungan Perairan

Tingkat pencemaran lingkungan perairan dapat diuji menggunakan spesies


yang ada di lingkungan perairan tersebut. Salah satu spesies yang dapat dijadikan
sebagai pemantau pencemaran air adalah ikan. Kandungan logam berat dalam
ikan erat kaitannya dengan pembuangan limbah industri di sekitar tempat hidup
ikan tersebut, seperti sungai, danau, dan laut. Ikan dapat menunjukkan reaksi

3
4

terhadap perubahan fisik air maupun terhadap adanya senyawa pencemar yang
terlarut dalam batas konsentrasi tertentu. Kandungan logam berat yang tinggi dan
melebihi batas normal yang telah ditentukan pada tubuh ikan dapat digunakan
sebagai indikator terjadinya suatu pencemaran dalam lingkungan perairan.
Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh organisme perairan dengan tiga cara
yaitu melalui makanan, insang, dan difusi melalui permukaan kulit. Logam berat
yang terserap dan terdistribusi pada ikan bergantung pada bentuk senyawa dan
konsentrasi polutan, aktivitas mikroorganisme, tekstur sedimen, serta jenis dan
unsur ikan yang hidup di lingkungan tersebut.

Pencemaran Logam Berat

Logam berat adalah unsur logam yang mempunyai massa jenis lebih besar
dari 5 g/cm3 (SUBOWO, dkk., 1999). Logam berat merupakan zat pencemar
yang berbahaya karena memiliki sifat tidak dapat terdegradasi secara alami dan
cenderung terakumulasi dalam air, sedimen dasar perairan, dan tubuh organisme
(HARUN, dkk., 2008). Logam berat dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam
jumlah yang kecil, tetapi dalam jumlah besar dapat menimbulkan racun bagi
makhluk hidup. Logam berat menjadi berbahaya disebabkan sistem
bioakumulasi, yaitu peningkatan konsentrasi unsur kimia dalam tubuh makhluk
hidup. Logam berat dikatakan sebagai zat pencemar karena sifat logam berat
yang tidak terurai dan mudah diabsorbsi. Akibatnya, logam tersebut terakumulasi
ke lingkungan, terutama mengendap di dasar perairan membentuk senyawa
kompleks bersama bahan organik dan anorganik.
Logam berat dapat menimbulkan efek gangguan terhadap kesehatan
manusia, tergantung pada bagian mana dari logam berat tersebut yang terikat
dalam tubuh serta besarnya dosis paparan. Efek toksik dari logam berat mampu
menghalangi kerja enzim sehingga mengganggu metabolisme tubuh,
menyebabkan alergi, bersifat mutagen, teratogen, atau karsinogen bagi manusia
maupun hewan. Tingkat toksisitas logam berat terhadap manusia dari yang paling
toksik adalah Hg, Cd, Ag, Ni, Pb, As, Cr, Sn, dan Zn (WIDOWATI, dkk., 2008).
5

Logam berat banyak digunakan sebagai salah satu bahan baku maupun
media penolong dalam industri. Secara langsung maupun tidak langsung
toksisitas dari polutan itulah yang kemudian menjadi pemicu terjadinya
pencemaran pada lingkungan sekitarnya. Pencemaran logam berat dalam
lingkungan bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan, baik pada manusia, hewan,
tanaman, maupun lingkungan. Terdapat 80 jenis logam berat dari 109 unsur
kimia di muka bumi ini. Logam berat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Logam berat essensial
Logam yang dalam jumlah tertentu sangat diperlukan oleh tubuh
organisme, tetapi dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan efek
toksik seperti Zn, Cu, Fe, Mn, Co, dan Se.
2. Logam berat non essensial
Logam yang keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui
manfaatnya bahkan bersifat toksik seperti Hg, Cd, Pb, Sn, As, dan
Cr (VI).
Air sering tercemar oleh komponen anorganik antara lain berbagai logam
berat berbahaya. Keberadaan logam berat sebagai zat pencemar dalam perairan
akan berpengaruh terhadap kehidupan yang ada di dalam dan sekitar lingkungan
perairan tersebut, karena makhluk hidup tidak akan pernah lepas dalam
memanfaatkan air. Beberapa logam berat tersebut banyak digunakan dalam
berbagai keperluan sehari-hari dan secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemari lingkungan dan apabila sudah melebihi batas yang ditentukan
berbahaya bagi kehidupan. Logam berat tersebut diketahui dapat terakumulasi
di dalam tubuh suatu mikroorganisme dan tetap tinggal dalam jangka waktu lama
sebagai racun.
Berbagai logam dalam perairan keberadaannya dapat berasal dari sumber
alamiah maupun dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Sumber logam
alamiah yang masuk dalam badan perairan bisa berupa pengikisan batu mineral
yang banyak bersumber dari perairan, partikel-partikel yang ada di udara yang
masuk keperairan dikarenakan terbawa oleh air hujan. Adapun logam yang
berasal dari aktivitas manusia berasal dari limbah industri dan limbah rumah
tangga (PALAR, 2004). Logam berat yang masuk ke dalam perairan kemudian
6

akan terakumulasi ke dalam tubuh organisme perairan, salah satunya adalah ikan.
Sehingga ikan dapat dikatakan sebagai bioindikator untuk mengukur tingkat
pencemaran dalam lingkungan perairan. Salah satu logam berat yang terdapat
dalam organisme perairan yaitu arsen (As), kadmium (Cd), kromium (Cr), timah
(Sn), dan timbel (Pb).

Arsen (As)

Arsen (As) memiliki nomor atom 33; bobot atom 74,92; bobot jenis
5,72 g/cm3; titik leleh 817 C; titik didih 613 C; dan tekanan uap 0 Pa. Arsen
merupakan logam anorganik berwarna abu-abu dengan kelarutan dalam air sangat
rendah. Arsen pada konsentrasi rendah terdapat pada tanah, air, makanan, dan
udara. Persenyawaan arsen dengan oksigen, klorin, dan sulfur disebut arsen
anorganik, sedangkan persenyawaan arsen dengan C dan H disebut arsen organik.
Senyawa arsen digunakan dalam insektisida dan sebagai bahan pendadahan
(doping) dalam semikonduktor. Unsur ini digunakan untuk mengeraskan
beberapa aloi timbel.
Arsen merupakan salah satu elemen yang paling toksik dan merupakan
racun akumulatif. Manusia terpapar arsen melalui makanan, air, dan udara.
Arsen anorganik bersifat lebih toksik dibandingkan arsen organik. Arsen
anorganik biasa ditemukan dalam rumput laut dan pangan lain yang berasal dari
laut. Ikan dan seafood mampu mengakumulasi sejumlah arsen organik yang
berasal dari lingkungannya (BADAN STANDARDISASI NASIONAL, 2009).

Kadmium (Cd)

Kadmium (Cd) memiliki nomor atom 48; bobot atom 112,41 g; bobot jenis
8,642 g/cm3 pada 20 C; titik leleh 320,9 C; titik didih 767 C; dan tekanan uap
0,013 Pa pada 180 C. Kadmium merupakan logam yang ditemukan alami dalam
kerak bumi. Kadmium murni berupa logam lunak berwarna putih perak.
Kadmium dalam keadaan logam murni sejauh ini belum pernah ditemukan
7

di alam. Kadmium biasa ditemukan sebagai mineral yang terikat dengan unsur
lain seperti oksigen, klorin, atau sulfur. Kadmium tidak memiliki rasa maupun
aroma spesifik. Kadmium digunakan dalam industri sebagai bahan dalam
pembuatan pigmen, pelapisan logam, dan plastik. Kadmium dan senyawanya
bersifat karsinogen dan bersifat racun kumulatif. Selain saluran pencernaan dan
paru-paru, organ yang paling parah akibat mencerna kadmium adalah ginjal
(BADAN STANDARDISASI NASIONAL, 2009). Kontaminasi kadmium
dalam lingkungan berasal dari aktivitas manusia yaitu penggunaan bahan bakar,
kebakaran hutan, limbah industri, serta penggunaan pupuk dan pestisida.

Kromium (Cr)

Kromium (Cr) merupakan unsur logam transisi golongan VIB, tahan karat,
dan berwarna abu-abu. Kromium memiliki nomor atom 24 dan massa jenis
7,19 g/cm3. Kromium merupakan logam berat dengan berat atom 51,996 g/mol;
tahan terhadap oksidasi meskipun pada suhu tinggi; memiliki titik cair 1857 C
dan titik didih 2672 C; dan bersifat paramagnetik. Kromium bisa membentuk
berbagai macam ion kompleks yang berfungsi sebagai katalisator (WIDOWATI,
dkk., 2008).
Keberadaan kromium pada perairan dijumpai dalam 2 bentuk yaitu ion
kromium valensi III (Cr3+) dan ion kromium valensi VI (Cr6+). Kromium valensi
VI (Cr6+) lebih toksik daripada kromium valensi III (Cr3+) karena ion ini sukar
terurai, tidak mengendap, stabil, dan toksik. Keberadaan kromium di perairan
dapat menyebabkan penurunan kualitas air serta membahayakan lingkungan dan
organisme akuatik (SUSANTI & HENNY, 2008).
Kromium merupakan salah satu logam berat yang berpotensi sebagai
pencemar akibat kegiatan pewarnaan kain pada industri tekstil, cat, penyamakan
kulit, pelapisan logam, dan baterai. Terakumulasi kromium dalam jumlah yang
besar di tubuh manusia sangat mengganggu kesehatan karena kromium memiliki
dampak negatif terhadap organ hati, ginjal, serta bersifat racun bagi protoplasma
makhluk hidup, selain itu berdampak karsinogen (penyebab kanker), dan
teratogen (menghambat pertumbuhan janin dan mutagen).
8

Timah (Sn)

Timah (Sn) memiliki nomor atom 50; bobot atom 118,69; bobot jenis
7,29 g/cm3; titik leleh 231,97 C; dan titik didih 2270 C. Timah merupakan
unsur logam yang dapat ditempa dan berwarna keperakan. Secara kimia unsur ini
reaktif. Timah ada dalam beberapa bentuk antara lain garam +2 dan +4, oksida,
dan logam. Timah digunakan sebagai penyalut pelindung tipis pada lempeng baja
dan merupakan komponen dari sejumlah aloi. Konsumsi timah dalam pangan
yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan yang ditandai
dengan gejala muntah, diare, kelelahan, dan sakit kepala. Dosis akut timah dapat
menyebabkan anoreksia, ataxia dan kelemahan otot, serta pembengkakan usus
halus hingga kematian (BADAN STANDARDISASI NASIONAL, 2009).

Timbel (Pb)

Timbel (Pb) memiliki nomor atom 82; bobot atom 207,21 g; valensi 2-4.
Timbel merupakan logam yang sangat beracun terutama terhadap anak-anak.
Secara alami ditemukan pada tanah. Timbel tidak berbau dan tidak berasa.
Timbel dapat bereaksi dengan senyawa-senyawa lain membentuk berbagai
senyawa-senyawa timbel, baik senyawa organik seperti timbel oksida (PbO),
timbel klorida (PbCl2), dan lain-lain (SNI 7387, 2009).
Timbel (Pb) merupakan logam berat yang tersebar lebih luas di alam
dibandingkan logam toksik lain. Sumber pencemaran Pb dapat berasal dari tanah,
udara, air, hasil pertanian limbah pengolahan emas, industri rumah dan
percetakan. Sumber kontaminasi terbesar Pb di lingkungan adalah gas buangan
dari bensin beradiktif timbel untuk bahan bakar kendaraan bermotor dan limbah
industri. Logam timbel dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan,
makanan, dan minuman. Logam timbel tidak dibutuhkan oleh manusia, sehingga
apabila makanan tercemar oleh logam tersebut, tubuh akan mengeluarkannya
sebagian, sisanya akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu seperti ginjal,
hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut. Timbel dapat mengakibatkan
bermacam-macam dampak biologi pada manusia, bergantung pada tingkatan dan
9

durasi paparannya. Korban keracunan timbel terbanyak adalah bayi dan


anak-anak. Keracunan timbel menyebabkan kerusakan pada otak, penghambatan
pertumbuhan anak-anak, kerusakan ginjal, gangguan pendengaran, cacat mental,
serta ketangkasan dan kemampuan bicara berkurang (SUDARMAJI, 2006).

Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES)

Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES)


merupakan instrumen yang digunakan untuk menganalisis kadar unsur-unsur
logam dari suatu contoh dengan menggunakan metode spektrofotometri emisi.
Spektrofotometri emisi adalah metode analisis yang didasarkan pada pengukuran
intensitas emisi pada panjang gelombang yang khas untuk setiap unsur. ICP-OES
dapat mendeteksi logam dalam contoh dengan sensitifitas yang tinggi sekaligus
mempunyai limit deteksi yang baik. Ada sekitar 80 unsur yang dapat dianalisis
dengan menggunakan alat ini hingga konsentrassi ppb, bahkan untuk unsur
tertentu dapat terukur hingga konsentrasi ppt.
ICP-OES dapat digunakan untuk menganalisis contoh berwujud cair, padat,
dan gas. Contoh berwujud cair dan gas dapat disuntikkan langsung ke instrumen,
sementara contoh padat memerlukan dekstruksi dengan asam sehingga analit
dapat diuji. Pengukuran unsur dengan ICP-OES didasarkan pada sifat unsur yang
jika diberi energi berupa panas akan menyebabkan elektron valensinya tereksitasi
dari keadaan dasar ke tingkat yang lebih tinggi energinya, namun beberapa saat
kemudian elektron tersebut akan kembali ke keadaan dasar sambil melepaskan
emisi yang besar intensitasnya sebanding dengan konsentrasi unsur tersebut.
Plasma pada ICP-OES digunakan sebagai sumber atomisasi dan eksitasi. Plasma
adalah suatu gas atau campuran gas yang terdiri dari ion, atom, dan elektron.
Plasma digunakan untuk memecahkan contoh menjadi atom atau ion, lalu
membuat elektron dalam atom atau ion tersebut tereksitasi ke tingkat energi yang
lebih tinggi dan kembali keadaan dasar dengan melepaskan emisi pada panjang
gelombang tertentu (SKOOG, dkk., 1992).
10

Prinsip ICP-OES

Prinsip kerja ICP-OES dalam mengukur konsentrasi contoh dimulai dari


proses perubahan contoh larutan menjadi aerosol oleh nebulizer, kemudian
aerosol tersebut diubah menjadi spray (butiran-butiran kecil) pada spray chamber
yang kemudian bercampur dengan gas argon dan dibakar oleh plasma. Saat
pembakaran, spray tersebut akan berubah menjadi atom dan tereksitasi. Saat
atom tersebut kembali ke energi dasar, maka akan memancarkan emisi pada
panjang gelombang yang berbeda-beda untuk tiap unsur. Emisi tersebut akan
dipisahkan oleh grating dan prisma sesuai panjang gelombangnya masing-masing
yang selanjutnya diterima oleh detektor. Intensitas emisi yang diperoleh
kemudian dibandingkan dengan standar untuk mendapatkan konsentrasi unsur
yang dianalisis (BOUMANS, 1987).

Instrumentasi Alat ICP-OES

Instumentasi ICP-OES terdiri atas sistem penghisap contoh, sistem


peralatan plasma, spektrometer, dan komputer. Pada sistem penghisap contoh,
peralatan yang digunakan meliputi peralatan peristaltik pump, nebulizer, spray
chamber, dan tempat pembuangan contoh (drain), sedangkan pada sistem
peralatan plasma terdiri atas radio frequency generator dan plasma torch. Skema
instrumentasi ICP-OES dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Skema Instrumentasi ICP-OES (BOSS & FREDEEN, 1997)


11

Nebulizer

Nebulizer adalah perangkat yang mengubah cairan menjadi aerosol


(butiran-butiran cairan yang terdispersi dalam udara) yang dapat dialirkan
ke plasma. Proses nebulisasi merupakan salah satu tahap yang sangat penting
dalam ICP-OES.
Banyak tipe nebulizer yang digunakan untuk mengubah cairan menjadi
aerosol tetapi hanya dua yang digunakan pada ICP yaitu menggunakan udara
(pneumatic force) dan ultrasonik. Secara komersil yang banyak digunakan adalah
nebulizer ICP berupa pneumatic force. Nebulizer jenis ini menggunakan aliran
udara yang memiliki kecepatan tinggi untuk membuat aerosol. Penggunaan
nebulizer jenis ini dalam ICP-OES merupakan pengembangan dari Flame Atomic
Absorption Spectrometry (FAAS), yang membedakan terletak pada desainnya.
Aliran udara yang dibutuhkan pada FAAS sebesar 10 liter per menit untuk proses
nebulisasi, sedangkan dalam ICP optimalnya hanya digunakan kurang lebih satu
liter per menit. Tipe nebulizer pneumatic umumnya digunakan sebagian besar
pada nyala SSA.
Nebulizer pertama yang digunakan dalam ICP adalah nebulizer konsentris
(concentric nebulizer). Nebulizer konsentris ditunjukkan pada Gambar 2. Dalam
nebulizer ini larutan dimasukkan melewati pipa dengan tekanan yang rendah,
kemudian didorong dengan cepat oleh aliran gas dengan melewati ujung pipa.
Tekanan udara yang rendah dan tingginya kecepatan gas dikombinasikan untuk
mengubah larutan menjadi aerosol. Nebulizer konsentris yang digunakan untuk
ICP memiliki lubang udara lebih kecil daripada FAAS, dengan lubang kecil ini
nebulizer concentric pneumatic dapat memberikan sensitivitas yang baik dan
stabil. Tetapi, lubang kecil ini dapat mengalami masalah penyumbatan, bahkan
sering kali oleh larutan yang mengandung padatan terlarut terkecil 0,1%.
Kemajuan dalam desain nebulizer konsentris ini telah memberikan pemecahan
masalah terhadap pengaruh padatan terlarut sehingga dapat menebulisasi larutan
yang mengandung 20% NaCl tanpa tersumbat.
12

Gambar 2. Nebulizer Konsentris yang Digunakan pada ICP-OES (BOSS &


FREDEEN, 1997)

Jenis nebulizer konsentris lainnya yaitu nebulizer mikro-konsentris (MCN),


ditunjukkan pada Gambar 3. Nebulizer ini memiliki bodi kapiler berdiameter
kecil (polyimide atau teflon) dan polyvinylidine difluoride (PVDF). Nebulizer
konsentris konvensional memiliki tingkat pengambilan contoh 1-3 mL/menit,
MCN biasanya kurang dari 0,1 mL/menit sehingga memungkinkan analisis
volume contoh yang kecil. Selain meminimalisasi terbentuknya butiran besar,
tahan terhadap asam fluorida, tingkat pengambilan contoh yang rendah, nebulizer
ini juga menunjukkan waktu pencucian cepat yang sangat penting untuk contoh
yang mengandung unsur-unsur seperti boron dan merkuri (BOSS & FREDEEN,
1997).

Gambar 3. Nebulizer Mikro Konsentris yang Digunakan pada ICP-OES (BOSS


& FREDEEN, 1997).
13

Pump

Nebulizer membutuhkan cairan yang dipompakan ke dalamnya. Kecepatan


aliran cairan yang dipompakan ke dalam nebulizer dapat ditetapkan dan tidak
tergantung pada parameter larutan seperti viskositas dan tegangan permukaan.
Kecepatan aliran cairan yang dikontrol juga memungkinkan membuat laju
pembuangan dari nebulizer dan spray chamber tetap stabil.
Pompa digunakan untuk memompa cairan ke nebulizer. Pompa peristaltik
(peristaltic pump) merupakan pompa pilihan untuk aplikasi ICP-OES. Kecepatan
alir contoh dapat diatur mulai dari 0,2 sampai 5,0 mL per menit dengan
menggunakan pompa peristaltik (tubing 0,76 mm). Larutan yang dihisap melalui
pompa peristaltik akan bertumbukan dengan gas argon dengan kecepatan tinggi
sehingga terpecah menjadi butiran-butiran yang halus. Pembentukan aerosol
merupakan salah satu tahap kritis pada ICP-OES. Pompa peristaltik
memanfaatkan serangkaian rol yang mendorong larutan contoh melalui tubing
menggunakan proses yang dikenal sebagai peristalsis. Pompa tidak berkontak
langsung dengan contoh hanya saja pipa membawa larutan dari tempat contoh
ke dalam nebulizer. Dengan demikian, potensi kontaminasi larutan yang mungkin
ada dalam bagian pompa tidak perlu dikhawatirkan.
Pipa pompa peristaltik merupakan salah satu bagian dari ICP-OES yang
biasanya perlu diganti. Pemeriksaan harus dilakukan berkala, pengabaian untuk
mengganti pemakaian pipa pompa dapat menghasilkan performa instrumen yang
jelek (BOSS & FREDEEN, 1997). Peristaltic Pump pada ICP-OES dapat
ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Peristaltic Pump pada ICP-OES (BOSS & FREDEEN, 1997).


14

Spray Chamber

Spray chamber berfungsi untuk mengubah aerosol menjadi butiran cair


yang sangat halus, dengan diameter kurang dari 10 m agar dapat lolos menuju
plasma. Aerosol contoh yang terbentuk oleh nebulizer harus dipindahkan
ke dalam torch supaya dapat diinjeksikan ke dalam plasma, karena hanya tetesan
yang sangat kecil di dalam aerosol yang cocok untuk diinjeksikan ke dalam
plasma. Sebuah spray chamber terletak diantara nebulizer dan torch.
Pada umumnya spray chamber untuk ICP-OES didesain untuk mengalirkan
tetesan dengan diameter kurang lebih 10 m atau lebih kecil untuk
melewatkannya ke dalam plasma. Dengan nebulizer yang spesifik, rentang
tetesan ini terdapat kurang lebih (1-5)% dari contoh yang dimasukkan ke dalam
nebulizer. Sekitar (95-99)% contoh dialirkan ke wadah pembuangan. Spray
chamber dibuat dari bahan yang tidak mudah berkarat yang memungkinkan
contoh yang mengandung asam fluorida dimasukkan sehingga tidak merusak kaca
spray chamber (BOSS & FREDEEN, 1997). Bentuk Spray Chamber
ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Spray Chamber pada ICP-OES (BOSS & FREDEEN, 1997).

Drain

Meskipun terlihat seperti bagian yang sangat sederhana dalam sistem


pengantar contoh, pipa saluran pembuangan (drain) yang berfungsi membawa
15

kelebihan contoh dari spray chamber ke dalam wadah pembuangan dapat


berdampak pada performa instrumen ICP-OES. Selain membawa kelebihan
contoh, sistem pembuangan memberikan kebutuhan untuk kekuatan aerosol
contoh membawa aliran udara nebulizer melewati pipa injektor torch ke dalam
penembakan plasma. Jika sistem pembuangan tidak bekerja dengan semestinya
atau jika terdapat gelembung untuk melewatinya, injeksi contoh ke dalam plasma
maka sinyal emisi yang dihasilkan akan mengalami gangguan (BOSS &
FREDEEN, 1997).

Torch

Torch adalah kumparan tembaga dengan generator radio frekuensi yang


merupakan tempat terbentuknya plasma yang dihasilkan dari gas argon, terdiri
dari tiga pipa terpusat terbuat dari kuarsa dan memiliki daya tahan terhadap semua
jenis korosif akibat larutan-larutan asam. Torch juga dapat terhubung dengan
spray chamber dan pipa saluran gas argon. Gas argon yang digunakan selain
sebagai pembentuk plasma, digunakan juga sebagai pendingin. Skema dari torch
yang digunakan pada ICP-OES ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Skema Torch yang Digunakan pada ICP-OES (BOSS & FREDEEN,
1997).

Desain klasik torch ICP adalah one piece torch yang ditunjukkan pada
Gambar 7. Torch ini terdiri dari tiga pipa kuarsa konsentris yang disatukan.
Tetapi, proses produksi untuk menyatukan ketiga pipa tersebut sulit. Kelebihan
torch ini yaitu memberikan stabilitas plasma yang baik. Kerugian torch ini adalah
16

tidak tahan terhadap karat oleh asam fluorida dan jika torch rusak, maka semua
bagian torch harus diganti.

Gambar 7. One Piece Torch (BOSS & FREDEEN, 1997)

Torch terletak di dalam kumparan pendingin generator radio frekuensi.


Pada saat ini, torch yang paling banyak digunakan adalah jenis yang dapat dibuka
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8. Torch ini dapat dipisahkan sehinggga
pipa dapat dimodifikasi atau diganti tanpa mengganti semua bagian torch.
Keuntungan utama pada torch yang dapat dipisahkan adalah mengurangi biaya
penggantian torch dan kemampuan untuk menggunakan berbagai macam pipa
injektor. Terdapat injektor yang kuat terhadap karat, terbuat dari keramik,
narrow-bore injector untuk menyertakan analisis pelarut organik, dan wide-bore
injector untuk contoh yang memiliki padatan terlarut tinggi (BOSS &
FREDEEN, 1997).

Gambar 8. Torch ICP yang Dapat Dibuka (BOSS & FREDEEN, 1997).
17

RF Generator

Radio Frequency Generator (RF Generator) merupakan alat yang


menyediakan tenaga untuk pembangkit dan menopang penembakan plasma.
Tenaga ini biasanya berkisar 700 sampai 1500 watt, yang dipindahkan ke dalam
gas plasma melewati gulungan tembaga melalui bagian atas torch. Gulungan
tembaga seperti antena yang berfungsi untuk memindahkan tenaga frekuensi radio
ke plasma dan didinginkan oleh air atau gas selama proses pengoperasian. Ada
dua jenis generator radio frekuensi yang digunakan pada instrumen ICP yaitu
crystal-controlled generators dan free-running generators. Secara umum,
free-running generator dapat dibuat dari bagian yang sangat sederhana dan
biasanya dengan biaya lebih rendah daripada crystal-controlled generator (BOSS
& FREDEEN, 1997).

Spectrometer

Spectrometer pada ICP-OES meliputi monokromator dan detektor. Adanya


system grating dan prisma dapat memisahkan beberapa panjang gelombang yang
spesifik secara simultan yang kemudian panjang gelombang tersebut dikirimkan
ke detektor untuk dideteksi. Jenis-jenis detektor pada ICP-OES, yaitu: Photo
Diode Array (PDA), Photo Multiplier Tube (PMT), dan Charge Couple Device
(CCD).

Komputer

Komputer berfungsi sebagai pengontrol pengkalibrasian alat,


mengendalikan spektrometer, penganalisisan gas yang dipakai, serta
mengumpulkan, mengolah, dan melaporkan data analisa yang diperoleh. Selain
itu, komputer juga digunakan untuk mengatur parameter lainnya yang
dikendalikan dan diatur secara manual oleh pengguna. Penampil data merupakan
perangkat gabungan dari software dan hardware (BOSS & FREDEEN, 1997).
18

Kelebihan dan Kekurangan pada ICP-OES

Ada beberapa keuntungan yang didapat dengan menggunakan instrumen


ICP-OES diantaranya, dalam penggunaannya tidak memerlukan persiapan contoh
yang rumit; dapat mendeteksi unsur-unsur yang terdapat dalam contoh dengan
menggunakan panjang gelombang yang berbeda dengan cepat dalam waktu yang
bersamaan; memiliki ketepatan, ketelitian, dan sensitifitas yang tinggi; rentang
konsentrasi tinggi dan konsentrasi rendah dapat tereksitasi; aman dalam
pengoperasian karena gas yang digunakan merupakan gas argon yang lembam dan
relatif, tidak reaktif, tidak mudah meledak, atau terbakar; generator radio
frekuensi akan mati secara otomatis bila suhu plasma naik lebih dari 10.000 K;
bila kevakuman tidak optimum maka secara otomatis voltase akan naik dan
mengalir ke detektor dan spektrometer akan mati secara otomatis; dan sistem
komputerisasi pada ICP-OES cukup sederhana sehingga mudah dioperasikan.
Adapun kekurangan ICP-OES yaitu memerlukan biaya operasional yang
mahal, karena menggunakan gas argon, kalibrasi dan preparasi membutuhkan
biaya yang tidak sedikit dan untuk unsur tertentu menghasilkan intensitas rendah,
keseragaman data sulit diperoleh (SKOOG, dkk., 1992).

Verifikasi Metode

Verifikasi metode adalah konfirmasi, melalui penyediaan bukti objektif,


bahwa persyaratan yang ditentukan telah dipenuhi (ISO 9000, 2005). Verifikasi
metode uji merupakan konfirmasi ulang dengan cara menguji suatu metode
dengan melengkapi bukti-bukti yang obyektif, apakah metode tersebut memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan. Verifikasi dilakukan
terhadap suatu metode baku sebelum diterapkan di laboratorium ataupun metode
yang telah diterapkan di laboratorium dan akan dilakukan konfirmasi ulang.
Verifikasi sebuah metode bermaksud untuk membuktikan bahwa laboratorium
yang bersangkutan mampu melakukan pengujian dengan metode tersebut dengan
hasil yang valid. Disamping itu verifikasi juga bertujuan untuk membuktikan
bahwa laboratorium memiliki data kinerja. Hal ini dikarenakan laboratorium
19

yang berbeda memiliki kondisi dan kompetensi personil serta kemampuan


peralatan yang berbeda, sehingga kinerja antara satu laboratorium dengan
laboratorium lainnya tidaklah sama (RIYANTO, 2014).
Adapun parameter yang diujikan tidak berbeda dengan validasi, hanya
dalam verifikasi parameter yang diujikan tidak selengkap pada validasi. Beberapa
parameter yang dapat diujikan seperti linieritas, limit deteksi instrumen, limit
deteksi metode, limit kuantitasi, presisi, dan akurasi.

Linieritas

Linieritas adalah kemampuan metode analisis memberikan respon


proporsional terhadap konsentrasi analit dalam contoh. Linieritas biasanya
dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis regresi yang dihitung
berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh dari hasil uji analit dalam
contoh dengan berbagai konsentrasi analit. Perlakuan matematik dalam pengujian
linieritas adalah melalui persamaan garis lurus dengan metode kuadrat terkecil
antara hasil analisis terhadap konsentrasi analit. Linieritas ditetapkan
menggunakan konsentrasi pada rentang minimum (50-150)% dari kadar analit.
Parameter hubungan kelinieran yang digunakan yaitu koefisien korelasi (r)
dan koefisien determinasi (R) pada analisis regresi linier y = bx + a (b adalah
slope, a adalah intersep, x adalah konsentrasi analit dan y adalah respon
instrumen). Koefisien determinasi adalah rasio dari variasi yang dijelaskan
terhadap variasi keseluruhan. Nilai rasio ini selalu tidak negatif sehingga ditandai
dengan R2. Koefisien korelasi adalah suatu ukuran hubungan linier antara dua set
data dan ditandai dengan r. Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai a = 0
dan r = +1 atau -1 merupakan hubungan yang sempurna, tanda + dan - bergantung
pada arah garis. Tanda positif (+) menunjukkan korelasi positif yang ditandai
dengan arah garis yang miring ke kanan, sedangkan tanda negatif (-)
menunjukkan korelasi negatif yang ditandai dengan arah garis yang miring ke kiri
(RIYANTO, 2014).
y = bx + a
20

a : intersep (perpotongan dengan sumbu y) merupakan ukuran bias dari


metode analisis yang dicoba.
( ) ( ( ))
a=

b : slope (kemiringan garis regresi) merupakan gambaran linieritasnya.


( ) ( )

b=
( )

Selanjutnya dihitung koefisien korelasi ( r ), linieritas dinyatakan dengan


koefisien korelasi ( r ):
( ) ( )

r=
( ) ( )

(KANTASUBRATA, 2005)

Limit Deteksi

KANTASUBRATA (2008) menyatakan bahwa limit deteksi adalah


konsentrasi terendah dari analit dalam contoh yang dapat terdeteksi, akan tetapi
tidak perlu terkuantitasi, di bawah kondisi pengujian yang disepakati. Limit
deteksi dibagi dalam dua macam, yaitu limit deteksi instrumen dan limit deteksi
metode.

Limit Deteksi Instrumen

Limit deteksi instrumen adalah konsentrasi analit terendah yang dapat


terdeteksi oleh instrumen dan secara statistik berbeda dengan respon yang didapat
dengan respon dari sinyal latar belakang. Limit deteksi instrumen dihitung
dengan mengukur respon blanko contoh (matriks tanpa analit) sebanyak minimal
7 kali kemudian dihitung simpangan bakunya. Nilai limit deteksi instrumen dapat
21

dinyatakan dengan tiga kali nilai simpangan baku blanko hasil perhitungan
ditambah rata-rata pembacaan konsentrasi blanko (RIYANTO, 2014).

Limit Deteksi Metode

Limit deteksi metode adalah konsentrasi analit terendah yang dapat


ditetapkan oleh suatu metode dengan mengaplikasikan secara lengkap metode
tersebut. Nilai limit deteksi metode dapat dinyatakan dengan tiga kali nilai
simpangan baku hasil perhitungan ditambah rata-rata pembacaan konsentrasi
blanko yang dispike standar (RIYANTO, 2014).

Limit Kuantitasi

Limit kuantitasi atau biasa disebut juga limit pelaporan (limit of reporting)
adalah konsentrasi terendah dari analit dalam contoh yang dapat ditentukan
dengan tingkat presisi dan akurasi yang dapat diterima, di bawah kondisi
pengujian yang disepakati. Nilai limit kuantitasi dapat dinyatakan dengan sepuluh
kali nilai simpangan baku hasil perhitungan ditambah rata-rata pembacaan
konsentrasi blanko yang dispike standar (RIYANTO, 2014).

Presisi

Presisi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji
individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur
diterapkan secara berulang pada contoh yang diambil dari campuran yang
homogen. Presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif
(koefisien variasi).
Presisi dapat dinyatakan sebagai repeatability (keterulangan),
reproducibility (ketertiruan), dan presisi antara (intermediate precision).
Repeatability adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali oleh analis
22

yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek.
Reproducibility adalah keseksamaan metode jika dikerjakan pada kondisi yang
berbeda. Biasanya analisis dilakukan dalam laboratorium yang berbeda
menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut, dan analis yang berbeda pula. Presisi
antara (intermediate precision) merupakan bagian dari presisi yang dilakukan
dengan cara mengulang pemeriksaan terhadap contoh uji dengan alat, waktu,
analis yang berbeda, namun dalam laboratorium yang sama (RIYANTO, 2014).
Dari hasil pengujian, dihitung standard deviasi (simpangan Baku/SB) dan
relative standard deviasi (simpangan baku relatif/SBR) atau disebut juga
koefisien variasi/keragaman (CV).
( )
SB =

SBR =

Keterangan :
: nilai data pengukuran ke-i
: nilai rata-rata dari n kali pengukuran
SB : simpangan baku
Horwitz mengamati dari hasil profisiensi, untuk reproduksibilitas bahwa
ketelitian metode uji tergantung pada konsentrasi analit yang ditunjukkan dengan
persamaan :
CV Horwitz = 2 (1 - 0,5 log C)

Keterangan :
CV : coefisien of variance
C : konsentrasi analit dalam fraksi desimal

Akurasi

Akurasi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis


dengan kadar analit yang sebenarnya. Akurasi dinyatakan sebagai persen
perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Akurasi dapat ditetapkan
dengan teknik penambahan senyawa baku pembanding (spiked sample) pada
23

rentang konsentrasi yang sesuai ke dalam produk contoh yang akan dianalisis
(CHAN, 2004). Teknik ini digunakan untuk contoh yang tidak diketahui
komposisinya.
Bobot analit atau baku pembanding (acuan) yang ditambahkan, digunakan
sebagai nilai sebenarnya. Nilai terukur yang didapat, kemudian dibandingkan
dengan nilai sebenarnya (acuan), sehingga akan memberikan taksiran dari akurasi.
Akurasi dihitung dari hasil uji sebagai persentase analit yang diperoleh kembali
(%recovery).
Akurasi hasil analis sangat tergantung kepada sebaran galat sistematik
di dalam keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu, untuk mencapai
kecermatan yang tinggi hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi galat
sistematik tersebut seperti menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi,
menggunakan pereaksi dan pelarut yang baik, pengontrolan suhu, dan
pelaksanaannya yang cermat, taat asas dan sesuai prosedur (HARMITA, 2004).