Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KEPERAWATAN DEWASA II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS SPONDILITIS

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK V

Imelda Indriani 1611316007


Azi Serandi 1611316012
Mardiatul Muharami 1611316022
Rizki Widmah Putra 1611316037
Busrini Hartati 1611316052

Program B

Dosen Pembimbing :
.

UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEPERAWATAN
2017

0
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala kebesaran dan
limpahan nikmat yang diberikan-Nya, sehingga kami sebagai penulis dapat menyelesaikan
makalah keperawatan dewasa II ini tanpa adanya halangan dan hambatan yang berarti.
Shalawat serta salam tidak lupa pula penulis kirimkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW.
Penulis berharap makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan menjadi
gambaran bagi pembaca mengenai Asuhan Keperawatan Dewasa II pada Spondilitis.
Adapun penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan mengenai Asuhan
Keperawatan Dewasa II pada kasus Spondilitis. Dalam penulisan makalah ini, penulis
menyadari pengetahuan dan pengalaman penulis masih sangat terbatas. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari berbagai pihak agar makalah ini
lebih baik dan bermanfaaat.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam pembuatan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Padang , Agustus 2017

Tim Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 2
C. Tujuan ................................................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN ............................................................................. 3
A. Pengertian .......................................................................................................... 3
B. Etiologi .............................................................................................................. 3
C. Patofisiologi ....................................................................................................... 4
D. Stadium .............................................................................................................. 4
E. Pemeriksaan Diagnostik .................................................................................... 4
F. Penatalaksanaan .................................................................................................
G. Asuhan Keperawatan .........................................................................................
BAB III PENUTUP ............................................................................................................ 6
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 6
B. Saran .................................................................................................................. 6
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Spondilitis merupakan penyakit peradangan pada tulang belakang. Keadaan ini
dapat terjadi akibat adanya infeksi dari bakteri. Spondylitis ada dua macam yaitu
spondylitis tuberculosa dan spondylitis ankilosa.
Spondilitis ankilosis (SA) merupakan penyakit inflamasi kronik, bersifat sistemik,
ditandai dengan kekakuan progresif, terutama menyerang sendi tulang belakang
(vertebra) dengan penyebab yang tidak diketahui. Penyakit ini dapat melibatkan sendi-
sendi perifer, sinovia, dan terjadi osifikasitendon dan ligamen yang akan mengakibatkan
fibrosis dan ankilosis tulang. Terserangnya sendi sakroiliakamerupakan tanda khas
penyakit ini. Ankilosis vertebra biasanya terjadi pada stadium lanjut dan jarangterjadi
pada penderita yang gejalanya ringan. Nama lain SA adalah Marie Strumpell disease atau
Bechterew's disease.
Spondylitis tuberculosis pertama kali dideskripsikan oleh Percival Pott pada tahun
1779 yangmenemukan adanya hubungan antara kelemahan alat gerak bawah dengan
kurvatura tulangbelakang, tetapi hal tersebut tidak dihubungkan dengan basil tuberkulosa
hingga ditemukannyabasil tersebut oleh Koch tahun 1882, sehingga etiologi untuk
kejadian tersebut menjadi jelas.Dahulu, spondilitis tuberkulosa merupakan istilah yang
dipergunakanuntuk penyakit pada masa anak-anak, yang terutama berusia 3 5 tahun.
Saat ini dengan adanyaperbaikan pelayanan kesehatan, maka insidensi usia ini mengalami
perubahan sehingga golonganumur dewasa menjadi lebih sering terkena dibandingkan
anak-anak.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian spondilitis?
2. Apa etiologi spondilitis?
3. Bagaimana patofisiologi spondilitis?
4. Apa saja manifestasi klinik spondilitis?
5. Apa saja pemeriksaan diagnosa spondilitis?
6. Apa saja terapi spondilitis?

1
C. TUJUAN
Tujuan Umum
Mengetahui konsep kasus Sphondilitis dan asuhan keperawatan pada pasien dengan
sphondilitis

Tujuan Khusus :
1. Untuk mengetahui pengertian spondilitis
2. Untuk mengetahui etiologi spondilitis
3. Untuk mengetahui patofisiologi spondilitis
4. Untuk mengetahui manifestasi klinik spondilitis
5. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnosa spondilitis
6. Untuk mengetahui terapi spondilitis

2
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. PENGERTIAN
Spondilitis tuberkulosa adalah infeksi tuberkulosis ekstra pulmonal yang bersifat
kronis berupa infeksi granulomatosis disebabkan oleh kuman spesifik yaitu
Mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra sehingga dapat menyebabkan
destruksi tulang, deformitas dan paraplegia (Tandiyo, 2010).
Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitas tuberkulosa
merupakan peradangan granulotoma yang bersifat kronis destruktif oleh Mycrobacterium
Tuberculosis. Tuberkulosis tulang belakang selalu merupakan infeksi sekunder dari fokus
ditempat lain dalam tubuh (Percivall Pott, 1973).

B. ETIOLOGI
Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di
tempat lain dalam tubuh,90-95% disebabkan oleh Mycrobakterium tuberculosis tipik(2/3
dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovine), 5-10% oleh Mycrobacterium tuberculosis
atipik.
Lokasi spondilitis tuberculosis terutama pada daerah vertebra torakalis bawah dan
vertebra lumbalis atas.

C. PATOFISIOLOGI
Infeksi berawal dari bagian sentral, bagian depan atau daerah epifisial korpus
vertebra. Kemudian terjadi hiperemia dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan
pelunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan pada korteks epifisis, diskus
intervertebralis, dan vertebra sekitarnya.
Basil TB masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus respiratorius.
Penyebaran terjadi secara hematogen, bakteri berkembang biak umumnya di tempat
aliran darah yg menyebabkan bakteri berkumpul banyak (ujung pembuluh). Terutama di
tulang belakang. Infeksi berawal dari bagian sentral, bagian depan, atau daerah epifisial
korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang menyebabkan
osteoporosis dan perlunakan korpus.

3
WOC Infeksi secara hematogen tuberkulosis paru kedalam korpus
vertebra dekat diskus intervertebralis

Perusakan tulang dan penjalaran infeksi keruang diskus dan ke


vertebra yang berdekatan

Perusakan tulang dan penjalaran infeksi keruang diskus dan ke


vertebra yang berdekatan

Perubahan pada vertebra servikalis Perubahan pada vertebra torakalis Perubahan pada vertebra lubalis

Kerusakan korpus vertebra dan terjadi angulasi Kerusakan korpus vertebra dan terjadi angulasi Penekanan korda dan radik saraf oleh
vertebra kedepan vertebra kedepan pembesaran abses/tulang yang bergeser

Perubahan diskus intervertebralis servikal Perubahan vertebra Kompresi Radiks saraf pada vertebra Paraplegia, stimulus nyeri pada pinggang, G3
torakalis dalammengkomunikasikan proses eliminasi
urin
Perubahan vertebra menjadi kifosis
Stimulus Nyeri
1. Hambatan
mobilitas fisik
G3 mobilitas leher, leher menjadi kaku Penurunan kemampuan maksimal dlm 8. Nyeri 2. Gangguan
dan pembentukan absess pada faring respirasi dan batuk efektif eliminasi urin

G3 dlm proses menelan


Akumulasi sekret meningkat Respon perubahan Penekanan lokal
psikologis Paraplegia
Asupan nutrisi tdk adekuat

4. Ketidakefektifan
3. Ketidakseimbanga Bersihan Jalan 5. Ansietas 7. Resiko tinggi
n Nutrisi Kurang Nafas 6. Ketidakefektifan keerusakan
Dari Kebutuhan
koping individu integritas kulit
Tubuh

4
D. STADIUM SPONDILITIS
1. Stadium Implantasi
Setelah bakteri berada dalam tulang, bila daya tahan tubuh klien menurun, bakteri
akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama 6-8 minggu.
2. Stadium Destruksi Awal
Setelah stadium implentasi, terjadi destruksi korpus vertebra serta penyempitan yang
ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3-6 minggu.
3. Stadium Destruksi Lanjut
Pada stadium ini terjadi destruksi yang masif, kolaps vertebra, dan terbentuk massa
kaseosa serta pus yang terbentuk cold abscess, terjadi 2-3 bulan setelah stadium
destruksi awal.
4. Stadium Gangguan Neurologis
Ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Gangguan ini ditemukan 10% dari
seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosis.
5. Stadium Deformitas Residual
Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah timbulnya stadium implantasi.
Kifosis atau gibus bersifat permanen karena kerusakan vertebra yang masif disebelah
depan.

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan Radiologi
a. Pemeriksaan Rontgen
Pemeriksaan foto toraks : untuk melihat adanya tuberkulosis paru.
Foto polos Vertebra : ditemukan osteoporosis, osteolitik dan destruksi korpus
vertebra
Foto AP : Abses Paravertebral di daerah servikal berbentuk sarang burung
b. Pemeriksaan CT-scan dengan mielografi
c. Pemeriksaan MRI, terutama untuk melihat jaringan lunak yaitu diskus
intervertebralis dan ligamentum flavum.
2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Peningkatan LED
b. Uji Mantoux positif
c. Pemeriksaan biakan kuman : ditemukan Mycobacterium
d. Biopsi jaringan granulasi / kelenjar limfe regional

5
e. Pemeriksaan Histopatologis ditemukan tuberkel.

F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin untuk
menghentikan progesivitas penyakit serta mencegah paraplegia. Penatalaksanaannya
terdiri atas :
1. Terapi Konservatif
Tirah baring, memperbaiki keadaan umum klien, pemasangan brace pada klien yang
dioperasi ataupun yang tidak dioperasi dan pemberian obat antituberkulosis.
INH dengan dosis oral 5 mg / KgBB / Hari
Asam Para-amino salisilat, dosis oral 8-12 mg / KgBB / Hari
Etambutol dosis oral 15-25 mg / KgBB / Hari
Rifampisin dosis oral 300-400 mg per Hari
Atau berdasarkan standart pengobatan TB di Indonesia yaitu Obat Kategori I dan
Kategori II.
Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum klien bertambah baik,
LED menurun, gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang, dan gambaran
radiologis ditemukan adanya union pada vertebra.

2. Terapi Operatif
Indikasi penatalaksanaan operasi yang perlu diketahui perawat sebagai bahan untuk
melakukan tindakan kolaborasi adalah :
Bila dengan terapi konservatif tidak ada perbaikan paraplegia atau kondisi
tersebut bertambah berat.
Adanya abses yang besar sehingga diperlukan sistem drainase abses secara
terbuka, penatalaksanaan debridemen dan bone graft.
Pada pemeriksaan radiologi didapat adanya penekanan langsung pada medula
spinalis.
Koreksi deformitas pada spondilitis tuberkulosa yang telah mengalami
penyembuhan.

6
G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan spondilitis tuberkulosa meliputi :
a) Anamnesis
1) Identitas klien
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien mencari pertolongan
kesehatan adalah paraparesis, gejala paraplegia, keluhan gangguan
pergerakan tulang belakang dan adanya nyeri tulang belakang.
2) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan yang didapat hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada
umumnya yaitu badan lemas, nafsu makan berkurang dan BB menurun.
3) Riwayat penyakit dahulu
Ada keluhan riwayat TB paru dan penggunaan obat antituberculosis.
4) Pengkajian psikososiospiritual
Kaji mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respon emosi
klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat.
b) Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan klien, pemeriksaan
fisik sangat berguna untuk mendukung data pengkajian anamnesis. Pemeriksaan
fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1 B6) dengan fokus pemeriksaan B6
(Bone) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan klien.
B1 (Breathing) B4 (Bladder)
B2 (Blood) B5 (Bowel)
B3 (Brain) B6 (Bone)
2. Diagnosa Keperawatan
Masalah keperawatan yang muncul pada klien spondilitis tuberkulosa meliputi :
a) Hambatan Mobilitas Fisik b.d paralisis ekstremitas bawah, paraplegia
b) Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas b.d peningkatan sekresi sekret, penurunan
kemampuan batuk
c) Nyeri b.d agen cidera fisik
d) Ketidak Seimbangan Nutrisi : Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b.d gangguan
kemampuan menelan, peningkatan kemampuan metabolisme
e) Gangguan Eliminasi Urin b.dperubahan dalam eliminasi urine

7
f) Ansietas b.dperubahan status kesehatan
g) Resiko Kerusakan Integritas Kulit b.d paraplegia, tidak adekuatnya sirkulasi
perifer

8
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN SPONDILITHIS

KASUS
Tn. I (21 Tahun) beragama islam, lahir pada tanggal 11 Juni 1992 dan belum
menikah masuk ruang rawat pada tanggal 24 April 2013 dengan diagnosa medis spondilitis
tuberculosis pada vertebra torakal IV hingga lumbal I. selama pengkajian sumber informasi
berasal dari klien, keluarga klien (Ayah dan ibu klien) serta rekam medis klien.
Klien memiliki riwayat tuberculosis paru pada tahun 2007 dan menjalani
pengobatan dengan OAT 9 bulan namun tidak tuntas (putus obat sekitar 7 atau 8 bulan).
Kemudian sekitar 3 tahun lalu sudah muncul pembengkakkan kelenjar getah bening hingga
mengeluarkan nanah (disekitar leher). Sejak itu klien sakit-sakitan namun tidak pernah
berobat ke RS. Kemudian sekitar 3 tahun lalu klien jatuh disekolah, dan langsung tidak
dapat berjalan selama 1 tahun. Selama itu klien hanya beraktivitas dirumah dengan bantuan
keluarga. Setelah itu lama kelamaan terjadi pembesaran skrotum/orchitis (infeksi sekunder
TB yang metastase hingga ke saluran reproduksi).
Pembesaran sempat pecah dan mengeluarkan darah, namun kembali membesar dan
lama kelamaan terasa nyeri. Jarak kurang lebih 3 bulan kemudian mulai muncul benjolan
di tulang belakang. Pada mulanya kecil dan tidak terlalu mengganggu sehingga klien dan
keluarga tidak melakukan apa-apa. Tapi berangsur-angsur tonjolan semakin besar hingga
membuat tubuh klien melengkung. Meski begitu klien dan keluarga
belum memeriksakannya ke dokter/RS, namun hanya meminum obat ramuan cina. Hingga
akhirnya klien merasa sangat nyeri dibagian tonjolan tersebut saat digerakkan maupun
hanya disentuh, sakit bertambah ketika dibawa berjalan. Sekarang rasa nyeri hampir
dirasakan setiap waktu dengan skala 4-6 dan masih bisa ditahan. Klien memiliki riwayat
merokok sejak kelas 2 SMP hingga 2 SMA. Klien tinggal dipesantren (Santri) sejak SMP.
Saat dilakukan pengkajian klien menunjukkan status mental/tingkat kesadaran
composmentis (CM). reaksi pupil baik, klien tidak memakai alat bantu pendengaran dan
penglihatan. Klien mampu makan sendiri sesuai dengan porsi yang diberikan
diruangan,klien tidak ada gangguan muntah dan mual, klien tidak memiliki alergi terhadap
makanan tertentu, klien makan 3x per hari, berat badan klien 47 kg dengan tinggi badan
167 cm. klien mampu dalam beradaptasi dan sangat menerima kondisinya, Klien
mengatakan memikirkan penyakit yang dideritanya namun cukup mampu mengatasi
emosinya, klien mengatakan cemas dengan tindakan operasi yang akan dilakukan karena

9
merupakan pertama kali bagi klien. Klien cukup mandiri dalam beraktivitas dengan
keadaan tulang yang mengalami skoliosis dan kifosis, namun aktivitas klien lebih banyak
dihabiskan dengan duduk di kursi atau tempat tidur karena klien tidak terlalu kuat untuk
berdiri lama, klien sering merasa kesemutaan pada kedua ekstremitas bawah.
Klien tidak mengalami masalah kesulitan tidur, namun posisi tidur tidak mampu
telentang sepenuhnya, biasanya punggung harus disangga oleh bantal atau klien tidur
dengan posisi miring atau duduk. Berdasarkan pemeriksaan langsung, kekuatan otot klien
normal dan mampu bergerak maksimal. klien mengatakan pergerakan tulang belakang
sangat terbatas (terdapat gibbus di tulang belakang sekitar torakolumbar).
Klien mengatakan defekasi 1x sehari,klien mengatakan tidak sakit, tidak berdarah
saat defekasi, klien hanya sesekali mengeluhkan nyeri saat buang air kecil karena klien
mengalami pembesaran testis akibat infeksi sekunder dari TB, klien mengatakan biasanya
BAK >5x sehari. Klien tidak melanjutkan pendidikan semenjak sakit. Klien anak pertama
dari empat bersaudara. Klien berhubungan baik dengan orang tua dan saudara nya terlihat
dari setiap keluarga menjaga klien dengan cara bergantian. Klien cukup kooperatif dengan
perawat, klien saling mengenal dan bercengkrama dengan sesama pasien satu ruangan. ibu
klien mengatakan klien adalah seorang yang taat beribadah.

1. Pengkajian
A. Daftar Riwayat Hidup
Nama : Tn. I
Masuk ke RS : 24 April 2017
Usia : 21 tahun
Tanggal lahir : 11 Juni 1992
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaaan : pelajar
Status : belum menikah
Anak ke- : satu dari empat bersaudara
Diagnosa Medis : Spondilitis TB

B. Daftar Riwayat Kesehatan


1. Riwayat kesehatan dahulu

10
Klien memiliki riwayat tuberculosis paru pada tahun 2007 dan menjalani
pengobatan dengan OAT 9 bulan namun tidak tuntas (putus obat sekitar 7 atau
8 bulan). Tahun lalu sudah muncul pembengkakkan kelenjar getah bening
hingga mengeluarkan nanah (disekitar leher). Sejak itu klien sakit-sakitan
namun tidak pernah berobat ke RS.
Sekitar 3 tahun lalu klien jatuh disekolah, dan langsung tidak dapat berjalan
selama 1 tahun. Selama itu klien hanya beraktivitas dirumah dengan bantuan
keluarga. Setelah itu lama kelamaan terjadi pembesaran skrotum/orchitis.
Pembesaran sempat pecah dan mengeluarkan darah, namun kembali membesar
dan lama kelamaan terasa nyeri. Jarak kurang lebih 3 bulan kemudian mulai
muncul benjolan di tulang belakang. Pada mulanya kecil dan tidak terlalu
mengganggu sehingga klien dan keluarga tidak melakukan apa-apa. berangsur-
angsur tonjolan semakin besar hingga membuat tubuh klien melengkung. Meski
begitu klien dan keluarga belum memeriksakannya ke dokter/RS, namun hanya
meminum obat ramuan cina.
2. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengatakan kadang merasa sangat nyeri dibagian tonjolan tersebut saat
digerakkan maupun hanya disentuh, sakit bertambah ketika dibawa berjalan,
Klien mengatakan rasa nyeri hampir dirasakan setiap waktu dengan skala 4-6
dan masih bisa ditahan. Pergerakan tulang belakang sangat terbatas karena
terdapat gibbus di tulang belakang sekitar torakolumbar. Klien mengatakan
memikirkan penyakit yang dideritanya namun cukup mampu mengatasi
emosinya, klien mengatakan cemas dengan tindakan operasi yang akan
dilakukan karena merupakan pertama kali bagi klien.
Berat badan klien 47 kg dengan tinggi badan 167 cm (Klien mengalami
kekurangan berat badan)

3. Riwayat kesehatan keluarga : Tidak terkaji

C. Pengkajian Pola Gordon


1. persepsi kesehatan dan manajemen kesehatan
Kesadaran klien akan kesehatan sangat rendah Klien memiliki riwayat
tuberculosis paru pada tahun 2007 dan menjalani pengobatan dengan OAT 9
bulan namun tidak tuntas (putus obat sekitar 7 atau 8 bulan). sekitar 3 tahun lalu

11
sudah muncul pembengkakkan kelenjar getah bening hingga mengeluarkan
nanah (disekitar leher). Sejak itu klien sakit-sakitan namun tidak pernah berobat
ke RS.
Jarak kurang lebih 3 bulan kemudian mulai muncul benjolan di tulang belakang.
Pada mulanya kecil dan tidak terlalu mengganggu sehingga klien dan keluarga
tidak melakukan apa-apa. berangsur-angsur tonjolan semakin besar hingga
membuat tubuh klien melengkung. Meski begitu klien dan keluarga
belum memeriksakannya ke dokter/RS, namun hanya meminum obat ramuan
cina.

2. Nutrisi dan Metabolic


Klien mampu makan sendiri sesuai dengan porsi yang diberikan diruangan. klien
tidak ada gangguan muntah dan mual serta tidak memiliki alergi terhadap
makanan tertentu, klien makan 3x per hari, dan berat badan klien 47 kg dengan
tinggi badan 167 cm. (termasuk golongan berat badan kurang)

3. Eliminasi
Klien mengatakan defekasi 1x sehari, dan klien mengatakan tidak sakit, tidak
berdarah saat defekasi.
Klien hanya sesekali mengeluhkan nyeri saat buang air kecil karena klien
mengalami pembesaran testis akibat infeksi sekunder dari TB, klien mengatakan
biasanya BAK >5x sehari

4. Aktivitas dan latihan


Klien cukup mandiri dalam beraktivitas dengan keadaan tulang yang mengalami
skoliosis dan kifosis, namun aktivitas klien lebih banyak dihabiskan dengan
duduk di kursi atau tempat tidur karena klien tidak terlalu kuat untuk berdiri
lama
Klien sering merasa kesemutaan pada kedua ekstremitas bawah. Pergerakan
tulang belakang sangat terbatas karena terdapat gibbus di tulang belakang sekitar
torakolumbal
Berdasarkan pemeriksaan langsung, kekuatan otot klien normal dan mampu
bergerak maksimal, klien mampu berjalan-jalan dan tidak menggunakan alat

12
bantu. klien mengatakan merasakan nyeri hampir setiap waktu dengan skala 4-6
dan kadang masih bisa ditahan.

5. Istirahat dan tidur


Klien tidak mengalami masalah kesulitan tidur, posisi tidur tidak mampu
telentang sepenuhnya, biasanya punggung harus disangga oleh bantal, dan klien
tidur dengan posisi miring atau duduk

6. Kognitif dan Perseptual


Klien menunjukkan status mental/tingkat kesadaran composmentis (CM), reaksi
pupil baik, dan klien tidak memakai alat bantu pendengaran ataupun penglihatan

7. Persepsi diri dan Konsep diri


Klien mampu dalam beradaptasi dan sangat menerima kondisinya. Klien
mengatakan memikirkan penyakit yang dideritanya namun cukup mampu
mengatasi emosinya. klien mengatakan cemas dengan tindakan operasi yang
akan dilakukan karena merupakan pertama kali bagi klien

8. Peran dan hubungan


Klien tidak melanjutkan pendidikan semenjak sakit. Klien anak pertama dari
empat bersaudara. Klien berhubungan baik dengan orang tua dan saudara nya
terlihat dari setiap keluarga menjaga klien dengan cara bergantian. Klien cukup
kooperatif dengan perawat, klien saling mengenal dan bercengkrama dengan
sesama pasien satu ruangan.

9. seksual dan reproduksi


Klien seorang laki laki dan belum menikah dan klien mengalami pembesaran
skrotum/orchitis (infeksi sekunder TB yang metastase hingga ke saluran
reproduksi).

10. Koping dan toleransi stress


Klien mampu dalam beradaptasi dan sangat menerima kondisinya. Klien
mengatakan memikirkan penyakit yang dideritanya namun cukup mampu
mengatasi emosinya

13
11. Nilai dan kepercayaan
Klien beragama islam. ibu klien mengatakan klien adalah seorang yang taat
beribadah

D. Pemeriksaan Fisik
a. Tingkat kesadaran : compos metis
Berat badan : 47 kg
Tinggi badan : 167 cm
TTD : 100/70 mmHg
RR : 23x/i
Nadi : 106x/i
Suhu : 370C
b. Rambut
keadaan kulit kepala bersih, tidak ada ketombe, rambutnya rontok, tidak ada
lesi,warna rambut hitam, tidak bau dan tidak ada edema
c. Wajah
Tidak ada edema/hematome, tidak ada bekas luka dan tidak ada lesi
d. Mata
Mata simetris kiri dan kanan, reflek cahaya normal yaitu pupil mengecil,
konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik
e. Hidung
Simetris kiri dan kanan, tidak menggunakan cupping hidung, tidak ada polip,
dan tidak ada lesi
f. Telinga
simetris kiri dan kanan, fungsi pendengaran baik.
g. Mulut
Bibirnya terlihat berwarna pucat, tidak terjadi stomatitis, tidak terdapat
pembesaran tongsil, lidah putih.
h. Leher
Adanaya pembesaran pada kelenjer getah bening, tidak ada gangguan fungsi
menelan, tidak ada pembesaran JVP
i. Dada dan Thorax :
Inspeksi : dada simetris kiri dan kanan, pergerakan dada simetris,
terdapat pembengkakan pada tulang belakang
Palpasi : getaran dada kiri dan kanan sama (vocal premitus). Nyeri
pada pembengkakan (skala nyeri: 4-6)
Perkusi : Biasanya bunyi suaranya sonor.
Auskultasi : Bunyi pernapasnya vesikuler.

14
j. Kardiovaskuler :
Inspeksi : ictus cordis terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba 1 jari
Perkusi : di intercosta V media klavikularis sinistra bunyinya pekak
Auskultasi : irama denyut jantung normal tidak ada bunyi tambahan

k. Abdomen
Inspeksi :bentuk perut tidak membuncit dan dinding perut sirkulasi
kolateral.
Auskultasi : tidak ada bising usus.
Palpasi :tidak ada pembesaran pada abdomen,tidak kram pada
abdomen.
Perkusi : Biasanya tympani

l. Genitaurinaria :
Adanya terdapat pembengkakan pada testis, feses kadang-kadang berwarna
kehijauan.

m. Lengan-Lengan Tungkai :
Ekstemitas atas dan bawah : kekuatan otot mulai berkurang. Rentang gerak pada
ekstremitas pasien menjadi terbatas karena adanya masa.

E. Pemeriksaan penunjang
Berdasarkan hasil laboratorium, pemeriksaan darah lengkap
didapatkan leukositosis dan LED meningkat hingga 100mm dan globulin mencapai
4,10gr/dl, albumin cenderung rendah (nilai albumin 3,30 gr/dl), klien mengalami
anemia karena Hb hanya berkisar 9-10g/dl. Berdasarkan pemeriksaan hematologi
klien didiagnosis mengalami anemia mikrositik hipokrom. Pada pemeriksaan MRI di
tunjukkan gibbus sudah sampai menekan sumsum tulang belakang, dimana salah satu
fungsi nya adalah produksi sel darah merah

Analisa data:
Data Penyebab Masalah
DS : Agen cidera fisik Nyeri akut
1. Tn. I mengatakan nyeri
pada bagian punggung, dan
bagian kelaminnya
DO :
1. Lokasi nyeri tulang
15
belakang (toraklumbal) ,
skala nyeri 4-6 (0-10)
2. TD : 100/70 mmhg
3. Nadi : 106 x/menit
4. Tn. Z tampak meringis

DS : Perubahan status Ansietas


- Kien mengatakan cemas kesehatan
dengan perubahan
kesehatannya
- Klien mengatakan takut
dengan prosedur pembedahan
DO :
- Klien tampak bingung
- Klien banyak bertanya- Tanya
tentang penyakit yang
dialaminya
- Klien tampak mukanya pucat

DS : Hambatan fisik dan Resiko cidera


1. Klien mengatakan karena anemia
pembengkakan dipunggung
susah bergerak dan harus
berhati-hati

DO :
1. Tn. I tampak berhati hati
saat tidur, tidak bisa
telentang
2. Saat berjalan klien pelan-
pelan karna nyeri di testis
3. Hb : 9g/dL

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dngan agen cidera fisik
b. Ansietas b.d perubahan status kesehatan
c. Resiko cidera berhubungan dengan hambatan fisik dan anemia

16
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
1 Nyeri akut NOC: NIC :
a. Kenyamanan Fisik Menajemen Nyeri.
Indikator Tindakan keperawtan
1) Melaporkan kenyamanan a. Lakukan pengkajian nyeri secara
2) Melaporkan kenyamanan dengan komprehensif termasuk lokasi,
terkontrol nyeri karakteristik, lokasi, frekuensi, dan factor
3) Melaporkan kenyamanan akan presipitasi.
lingkungan dan hub sosial b. Observasi reaksi non verbal dari
ketidaknyamanan
b. Kontrol nyeri c. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
Indikator dan menemukan dukungan.
1) Menggunakan analgesik yang tepat d. Kontrol lingkungan yang dapat
2) Melaporkan tanda / gejala nyeri pada mempengaruhi nyeri.
tenaga kesehatan e. Kurangi factor presipitasi nyeri.
3) Menggunakan teknik kontrol nyeri f. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
4) Mengetahui gejala nyeri menentukan intervensi.
5) Melaporkan bila nyeri terkontrol g. Ajarkan tentang teknik non farmakologi
:nafas dalam, relaksasi
c. Level nyeri h. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
Indiktor i. Tingkatkan istirahat.
1) Melaporkan nyeri j. Berikan informasi tentang nyeri seperti
2) Frekuensi nyeri penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
3) Menyatakan lamanya nyeri berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan
4) Mengekspresikan nyeri dari prosedur.
k. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesic pertama kali.

17
2 Ansietas NOC NIC
a. Anxiety Control. Anxiety Reduction
b. Pain Level Tindakan keperawatan
c. Rest : Extent and Pattern 1) Gunakan pendekatan yang menenangkan
2) Jelaskan semua prosedur dan apa yang akan
dirasakan selama prosedur
3) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
pelaku pasien
4) Temani pasien untuk memberikan keamana
dan mengurangi rasa takut
5) Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
6) Intruksi pasien menggunakan teknik
relaksasi
7) Dengarkan dengan penuh perhatian
8) Pahami prespektif pasien terhadap situasi
stres
9) Identifikasi tingkat kecemasan
10) Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi
11) Anjurkan kepada keluarga untuk
memberikan motivasi kepada klien.

3 Resiko cidera NOC: Environment Management


Risk Kontrol a) Sediakan lingkungan yang aman untuk
pasien
Indikator b) Identifikasi kebutuhan keamanan pasien
a) Klien terbebas dari cidera sesuai dengan kondisi fisik
b) Klien mampu menjelaskan cara atau c) Dan fungsi kognitif pasien dan riwayat
metode untuk mencegah cidera penyakir dahulu pasien
c) Klien mampu menjelaskan faktor resiko d) Memasang side rail tempat tidur
dari lingkungan e) Menyediakan tempat tidur yang aman dan

18
d) Menggunakan fasilitas kesehatan yang bersih
ada f) Membatasi pengunjunng
e) Mampu mengenali perubahan status g) Memberikan penerangan yang cukup
kesehatan h) Berikan penjelasan pada pasien dan
keluarga atau pengunjung adanya
perubahan status kesehatan dan penyebab
penyakit

19
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Walaupun insidensi spinal tuberkulosa secara umum di dunia telahberkurang
pada beberapa dekade belakangan ini dengan adanya perbaikandistribusi pelayanan
kesehatan dan perkembangan regimen kemoterapi yangefektif, penyakit ini akan terus
menjadi suatu masalah kesehatan di negara-negarayang belum dan sedang
berkembang dimana diagnosis dan terapi tuberkulosasistemik mungkin dapat
tertunda.Kemoterapi yang tepat dengan obat antibuberkulosa biasanya bersifatkuratif,
akan tetapi morbiditas yang berhubungan dengan deformitas spinal, nyeridan gejala
sisa neurologis dapat dikurangi secara agresif dengan intervensioperasi, program
rehabilitasi serta kerja sama yang baik antara pasien, keluargadan tim kesehatan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Muttaqin. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal:


Buku Ajar. Jakarta : EGC
Isnaini, Uswatun., dan Risnanto. 2014. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah : Sistem
Muskuluskeletal. Yogyakarta: Deepublish.
NANDA International. 2015. NANDA International Inc. Diagnosa Keperawatan: Definisi
& Klasifikasi 2015-2017 (Budi Anna Keliat, et al, Penerjemah). Jakarta: EGC

Paramarta, I Gede Epi., dkk. 2008. Spondilitis Tuberkulosis. Vol 10 No 3. Sari Pediatri
Prasetya, Damar. 2011. Ankilosis Spondilitis. Dalam buku Vitriana. 2002. Bagian Ilmu
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSUP dr. Ciptomangunkusumo.
Wulandari, Maya. Kamus Keperawatan. Gama Press.
Yatim, Faisal. 2006. Penyakit Tulang dan Persendian (Arthritis dan Arthralgia). Jakarta:
Pustaka Popule

iii