Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHALUAN

I.1 Latar Belakang


Usaha peternakan ayam broiler merupakan usaha komersial yang terus dikembangkan
untuk mencukupi kebutuhan gizi masyarakat di Indonesia. Adapun faktor yang menentukan
tingkat keberhasilan di dalam usaha peternakan ayam broiler adalah pemilihan bibit, pemberian
ransum, dan manajemen pemeliharaan. Ransum merupakan faktor yang paling dominan,
karena biaya yang dikeluarkan untuk ransum bisa mencapai 70% dari total biaya produksi.
Ransum unggas adalah bahan pakan yang bagian-bagiannya dapat dicerna dan diserap
oleh unggas. Ransum yang baik adalah ransum yang memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sesuai
dengan fase fisiologis serta tidak menggangu kesehatan ternak. Ransum merupakan campuran
dari berbagai macam bahan pakan yang diberikan pada ternak untuk memenuhi kebutuhan
nutrien selama 24 jam. Untuk mendapatkan pertumbuhan ayam broiler yang baik, maka perlu
diperhatikan zat nutrisi pada ransumnya sebab komposisi ransum yang baik mempengaruhi
pertumbuhan ayam tersebut.
Ayam dan jenis unggas lainnya membutuhkan sejumlah nutrisi yang lengkap untuk
menunjang hidupnya, untuk pertumbuhan dan untuk berproduksi. Pemberian pakan pada ayam
ras broiler dibagi atas 2 fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6
minggu). Hal inilah yang kemudian menarik untuk dikaji mengenai bagaimana kebutuhan
nutrisi pada ayam broiler baik pada fase starter maupun finisher.
Selain itu, manajemen pemeliharaan terutama manajemen pemberian pakan yang baik
sangat perlu diperhatikan untuk menghasilkan produksi yang optimal. Untuk itu maka perlu
diperhatikan bagaimana proses dan tata cara pemberian pakan yang tepat untuk ayam broiler
fase starter dan fase finisher. Pakan merupakan campuran berbagai macam bahan pakan yang
diberikan pada ayam guna memenuhi kebutuhan zat makanan yang dibutuhkan bagi
pertumbuhan, produksi dan reproduksi. Pemberian pakan tidak terbatas (ad-libitum) sering
mengakibatkan konsumsi pakan menjadi berlebih, konsumsi pakan yang berlebih dapat
mengurangi daya cerna saluran pencernaan sehingga mengakibatkan konversi pakan menjadi
meningkat, selain itu pemberian pakan tidak terbatas (ad libitum) juga akan mengakibatkan
kelebihan energi, yang seterusnya akan disimpan dalam bentuk lemak yang terakumulasi dalam
lemak abdominal

1
I.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diambil rumusan permasalahan yaitu
1. Bagaimana tinjauan umum ayam broiler?
2. Bagaimana kebutuhan nutrisi ayam broiler?
3. Bagaimana ransum ayam broiler fase starter dan finisher?
4. Bagaimana manajemen pemberian pakan pada ayam broiler?

I.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui tinjauan umum ayam broiler.
2. Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi ayam broiler.
3. Untuk mengetahui ransum ayam broiler fase starter dan finisher
4. Untuk mengetahui manajemen pemberian pakan pada ayam broiler.

I.4 Manfaat Makalah


Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu :
a) Dapat dijadikan sebagai sumber informasi terkait pemahaman mengenai bagaimana
kebutuhan nutrisi pada ayam broiler baik pada fase starter maupun finisher.
b) Dapat dijadikan sebagai proses pembelajaran di dalam penulisan makalah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Umum Ayam Broiler


Broiler adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu
dengan tujuan sebagai penghasil daging (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Broiler telah
dikenal masyarakat dengan berbagai kelebihannya, antara lain hanya 5-6 minggu sudah siap
dipanen.
Broiler merupakan hasil rekayasa genetika dihasilkan dengan cara menyilangkan bangsa-
bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging
ayam. Kebanyakan induknya diambil dari Amerika, prosesnya sendiri diawali dengan
mengawinkan sekelompok ayam dalam satu keluarga, kemudian dipilihlah turunannya yang
tumbuh paling cepat. Diantara mereka disilangkan kembali. Keturunannya diseleksi lagi,
yang cepat tumbuh kemudian dikawinkan dengan sesamanya. Demikian seterusnya hingga
diperoleh ayam yang paling cepat tumbuh disebut ayam broiler. Ayam ini mampu membentuk
1 kg daging atau lebih dalam tempo 30 hari, dan bisa mencapai 1,5 kg dalam waktu 40 hari.
Ayam broiler berasal dari persilangan dengan nenek moyang yang sama, tetapi hasilnya
berbeda. Dari berbagai bibit ayam broiler memberikan konversi pakan yang berbeda.Ini
menunjukkan bahwa kemampuan bibit ayam itu dalam mengolah makanan menjadi ransum
beragam. Hal ini yang membedakan adalah seleksi yang dilakukan oleh pembibit asal.
(Rasyaf, 2003)

Performance Ayam broiler


Strain Usia (hari)

42 56 63 70

Cobb 500 1,70 1,90 1,90 2,30 2,10 2,40 2,40 2,60
Konversi
Pakan

Euribrid 1,89 2,10 2,21 2,32


Hybro
Konversi
Pakan

H & N Meat 1,75 1,90 1,90 2, 10 2,10 2,30 -


Nick

3
Konversi
Pakan

Hubbard 1,72 2,11 2,46 -


Konversi
pakan

Shaver 1,80 1,90 2,00 2,30 2,20 2,30 2,30 2,40


Starbo
Konversi
pakan

Sumber : rasyaf, 2003

Setiap bibit ayam broiler itu mempunyai kelebihan tertentu yang diarahkan oleh pakar
genetika pembentuk strain ybs. Macam-macam kelebihan yang dibentuk dari setiap bibit,
tetapi setiap satu kelebihan yang menonjol akan menyebabkan kelemahan di segi lain.
Sudarmono (2003) menambahkan masalah bibit merupakan unsur yang menentukan
pertumbuhan serta produksi, kondisi bibit yang baik merupakan modal awal yang sangat
penting.Untuk memilih ayam yang berkualitas baik haruslah dilakukan seleksi atau culling.
Ciri-ciri fisik bibit yang baik memilik berat badan standart tidak kurang dari 32 gram,
perilaku gesit, aktif, lincah, mata bulat dan cerah, rongga perut elastis, kotoran tidak lengket
di dubur dan posisi dalam kelompok selalu tersebar.

Broiler memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah dagingnya empuk,


ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi, efisiensi terhadap pakan cukup tinggi,
sebagian besar dari pakan diubah menjadi daging dan pertambahan bobot badan sangat cepat.
Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif
lebih peka terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi. Pertumbuhan yang paling
cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan dan
terhenti sampai mencapai dewasa (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).

Broiler merupakan ternak yang paling ekonomis bila dibandingkan dengan ternak lain,
kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam waktu yang
relatif cepat dan singkat atau sekitar 4 - 5 minggu produksi daging sudah dapat dipasarkan
atau dikonsumsi.
Keunggulan ayam ras pedaging antara lain pertumbuhannya yang sangat cepat dengan
bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong
pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Perkembangan yang pesat

4
dari ayam ras pedaging ini juga merupakan upaya penanganan untuk mengimbangi kebutuhan
masyarakat terhadap daging ayam. Perkembangan tersebut didukung oleh semakin kuatnya
industri hilir seperti perusahaan pembibitan (Breeding Farm), perusahaan pakan ternak (Feed
Mill), perusahaan obat hewan dan peralatan peternakan (Saragih B, 2000).
Ayam pedaging atau yang lebih dikenal dengan ayam potong menempati posisi teratas
sebagai ayam yang ketersediaannya cukup banyak, disusul ayam kampung, kemudian petelur
afkir. Namun, karena permintaan daging ayam yang cukup tinggi, terutama pada saat tertentu
yaitu menjelang puasa, menjelang lebaran, serta tahun baru, menyebabkan pasokan daging
dari ketiga jenis ayam penghasil daging tersebut tidak dipenuhi (Nuroso, 2009).

5
2.2 Kebutuhan Nutrisi Ayam Broiler
Ransum diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, mengganti jaringan yang
rusak dan untuk pertumbuhan. Konsumsi ransum ayam pedaging tergantung pada kandungan
energi ransum, strain, umur, aktivitas, serta temperatur lingkungan. Nutrisi yang harus ada
dalam ransum adalah energi, protein, lemak, kalsium, fosfor, dan air.

2.2.1 Energi
Energi adalah sumber tenaga untuk aktivitas dan proses produksi dalam tubuh ternak.
Ayam tidak mampu mencerna selulosa, hemiselulosa atau lignin. Oleh karena itu kebutuhan
energi harus dipenuhi dari polisakarida yang dapat dicerna (pati), disakarida (sukrosa dan
maltosa), monosakarida (glukosa, galaktosa, fruktosa), lemak dan protein. Suprijatna et al.
(2005) menyatakan penentuan kebutuhan energi pada ternak unggas menggunakan nilai energi
metabolis. Nilai energi metabolis ini sudah memenuhi kebutuhan energi untuk hidup pokok,
pertumbuhan dan produksi.
Standart energi ransum ayam pedaging untuk periode starter adalah 2800-3200 kkal/kg
dan untuk periode akhir atau finisher energi metabolisme sebesar 2800-3300 kkal/kg.
Kandungan energi dalam ransum harus sesuai dengan kebutuhan. Kelebihan energi dalam
ransum akan menurunkan konsumsi, sehingga timbul defisiensi protein, asam-asam amino,
mineral dan vitamin. Apabila ternak kekurangan energi, maka cadangan energi dalam tubuh
akan digunakan. Pertama glikogen yang disimpan dalam tubuh akan dibongkar, selanjutnya
6
cadangan lemak akan dihabiskan. Apabila masih kurang maka protein digunakan untuk
mempertahankan kadar gula darah dan untuk membantu fungsi-fungsi vital lainnya.

2.2.2 Protein
Protein merupakan persenyawaan organik yang mengandung unsur-unsur karbon,
hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Fungsi dari protein adalah untuk memproduksi enzim-enzim
tertentu, hormon, dan antibodi. Standart protein untuk periode starter adalah 18-23 % dan
periode finisher adalah 18-22%. Ayam yang lebih tua membutuhkan protein yang lebih rendah
dibandingkan dengan ayam yang muda. Masa awal ransum harus mengandung protein yang
lebih tinggi dibandingkan dengan ransum masa pertumbuhan dan masa akhir (Amrullah, 2003).
Protein dipasok terutama dari biji-bijian, tepung minyak dan makanan makanan sampingan
hewan. Ini dipecah menjadi asam amino sebagai hasil proses pencernaan. Kualitas protein
ditentukan dengan keseimbangan asam amino esensial.

2.2.3 Serat Kasar


Berdasarkan analisis proksimat, karbohidrat dibagi menjadi dua komponen yaitu serat
kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Penggunaan serat kasar dalam ransum ayam perlu
dibatasi karena makin tinggi kandungan serat kasar maka makin rendah daya cernanya
Penggunaan serat kasar dalam ransum ayam adalah sebesar 5%. Selain itu, kesanggupan ternak
dalam mencerna serat kasar tergantung dari jenis alat pencernaan yang dimiliki oleh ternak
tersebut dan tergantung pula dari mikroorganisme yang terdapat dalam alat pencernaan.

2.2.4 Mineral
Ransum ternak unggas perlu mengandung kalsium dan fosfor. Ransum ternak unggas
perlu mengandung mineral dalam jumlah yang cukup terutama kalsium dan fosfor, karena
70%-80% mineral tubuh terdiri dari kalsium dan fosfor. Kalsium dan fosfor berfungsi di dalam
pembentukan tulang, komponen asam nukleat, keseimbangan asam-basa, koordinasi otot,
metabolisme jaringan syaraf, dan terlibat dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein
(Rizal, 2006). Dijelaskan lebih lanjut bahwa kebutuhan anak ayam (starter) akan kalsium (Ca)
adalah 1% dan ayam sedang tumbuh adalah 0,6%, sedangkan kebutuhan ayam akan fosfor (P)
bervariasi dari 0,2-0,45%.

2.3 Ransum Ayam Broiler Fase Starter dan Finisher


Bahan makanan memang sumber pertama kebutuhan nutrisi broiler untuk keperluan

7
hidup pokok dan produksinya. Sayang tidak ada bahan makanan yang sempurna, satu bahan
mengandung semua nutrisi. Disinilah dasar penggunaan bahan makanan dengan sistem
kombinasi bahan makanan dengan memanfaatkan kelebihan setiap bahan dan menekan
kekurangan bahan-bahan yang dikehendaki.
Tujuan pemberian ransum pada ayam adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok
dan berproduksi. Untuk produksi maksimum dilakukan dalam jumlah cukup, baik kualitas
maupun kuantitas. Ransum broiler harus seimbang antara kandungan protein dengan energi
dalam ransum. Disamping itu kebutuhan vitamin dan mineral juga harus diperhatikan. Sesuai
dengan tujuan pemeliharannya yaitu memproduksi daging sebanyak-banyaknya dalam waktu
singkat, maka jumlah pemberian pakan tidak dibatasi (ad-libitum).
Ransum untuk ayam broiler dibedakan menjadi dua yaitu ransum untuk periode starter
dan ransum untuk periode finisher. Pemberian ransum pada ternak yang masih berumur sehari
atau DOC diletakkan dikertas atau tempat pakan dari nampan yang kecil. Setelah ayam berumur
diatas 1 minggu, tempat pakan harus diganti dengan tempat pakan khusus yang digantung.
Jenis Pemberian Ransum Jenis pemberian ransum dibedakan atas ransum tunggal
(single-phase ration) dan ransum ganda yang terdiri atas dua atau lebih jenis ransum (multi-
phase rations) (Noy dan Skanlan 1997; Iskandar et al. 1998b; Dozier et al. 2006). Pada ransum
ganda, setiap jenis ransum mengandung protein yang berbeda untuk diberikan pada dua atau
lebih periode umur, yaitu ransum starter untuk ayam umur 0-4 minggu dan ransum finisher
untuk ayam umur 5-12 minggu. Kedua sistem pemberian ransum tersebut mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan ransum tunggal adalah dari aspek penyediaan, karena
selama kurun waktu pemeliharaan, peternak hanya menyiapkan satu jenis ransum. Hal ini
berkaitan dengan sedikitnya populasi ayam yang seumur, sehingga apabila diterapkan ransum
ganda akan merepotkan manajemen pemberian dan penyediaan ransum. Kekurangan ransum
tunggal adalah kurang sesuai dengan perkembangan fisiologis ternak. Ayam yang berumur
muda, membutuhkan gizi yang lebih tinggi daripada yang berumur tua sehingga apabila
diberikan ransum tunggal, efisiensi penggunaan ransum akan berkurang. Ransum ganda
mempunyai kelebihan, dapat menyediakan zat gizi sesuai dengan kebutuhan ternak. Penerapan
ransum tunggal dapat dilakukan dengan memanfaatkan kemampuan ternak dalam
mengompensasi rendahnya pertumbuhan pada umur muda dengan bertambahnya pertumbuhan
pada umur berikutnya (compensatory growth).
Fadilah (2004) menyatakan bahwa pemberian ransum dilakukan secara adlibitum dengan
pemberian ransum berbentuk: tepung pada periode starter, butiran pecah pada periode finisher
dan terkadang diberikan ransum yang berbentuk pellet. Pemberian ransum bertujuan menjamin

8
pertambahan bobot badan dan produksi daging. Jenis bahan ransum dan kandungan gizinya harus
diketahui untuk mendapatkan formula ransum yang tepat (Sudaro dan Siriwa, 2007).
Alamsyah (2005) menyatakan bahwa pemberian ransum pada ternak disesuaikan dengan
umur, kesukaan terhadap ransum, dan jenis ransum. Ransum untuk ayam yang belum berumur
atau DOC diberikan dalam bentuk all mash. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pencernaan
ransum di dalam saluran pencernaan DOC.
Pemberian air minum dilakukan secara terus-menerus atau adlibitum dengan tujuan agar
ayam tidak mengalami dehidrasi sehingga produksi daging dapat optimal. Air harus selalu
tersedia dan sangat baik disediakan dari kran-kran otomatis. Konsumsi air pada ayam biasanya
dua kali lebih banyak dibanding dengan konsumsi makanannya. Ayam akan mampu hidup lebih
lama tanpa makanan dibanding tanpa air (Rizal, 2006).

Kebutuhan zat makanan broiler fase starer dan fase finisher


Zat Nutrisi Starter Finisher
Protein Kasar (%) 23 20
Lemak Kasar (%) 4-5 3-4
Serat Kasar (%) 3-5 3-5
Kalsium (%) 1 0,9
Pospor (%) 0,45 0,4
EM (Kkal/kg) 3200 3200
Lisin (%) 1.2 1.0
Metionin (%) 0.50 0.38
Sumber : NRC (1984)

Ransum adalah campuran bahan-bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan akan zat-zat
pakan yang seimbang dan tepat. Seimbang dan tepat berarti zat makanan itu tidak berlebihan dan
tidak kurang. Ransum yang diberikan haruslah mengandung protein, lemak, karbohidrat,
vitamin dan mineral. Tujuan utama pemberian ransum kepada ayam untuk menjamin
pertambahan berat badan yang paling ekonomis selama pertumbuhan.
Bahan-bahan makanan yang biasa dipergunakan dalam ransum unggas di Indonesia
adalah: (1) jagung kuning; (2) dedak halus; (3) bungkil kelapa; (4) bungkil kacang tanah; (5)
bungkil kacang kedelai; (6) tepung ikan; (7) bahan-bahan makanan berupa butir-butiran atau
kacang-kacangan dan hasil ikutan pabrik hasil pertanian lainnya, dan daun-daunan sebangsa

9
leguminosa.
Protein merupakan salah satu unsur yang penting bagi pertumbuhan anak broiler.
Kebutuhan protein masa awal untuk anak ayam broiler di daerah tropis sebesar 23%, sedangkan
untuk masa akhir sebesar 20-21% (Rayaf, 2000). Sintesis protein jaringan tubuh dan telur
memerlukan asam amino esensial. Defisiensi asam amino esensial di dalam pakan menyebabkan
pembentukan protein jaringan dan tubuh terhambat atau tidak terbentuk. Asam amino esensial
yang sulit terpenuhi kandungannya di dalam pakan seperti Sistin, Lisin dan Triptofan disebut
sebagai asam amino kritis (Suprijatna et al., 2005).

2.4 Manajemen pemberian pakan pada ayam broiler


Menurut Rasyaf (2003) pemberian pakan diawali dengan perencanaan dan diakhiri
dengan evaluasi akhir.Buruk atau baiknya hasil merupakan cermin dari makanan yang kita
berikan, asalkan unsur-unsur lain dapat kita atasi. Hal- hal yang mempengaruhi konsumsi
ransum agar mengetahui apa saja yang mempengaruhi konsumsi ransum. Faktor-faktor yang
mempengaruhi konsumsi ransum ayam ini adalah:

a. Temperatur lingkungan
b. Kesehatan ayam. Ayam yang sakit apapun atau pada tingkat gejala awal akan
memperlihatkan penurunan konsumsi ransum.
c. Tingkat energi ransum yang diberikan. Semakin tinggi energi ransum yang diberikan
maka akan semakin rendah konsumsi ransum secara kuantitatif.
d. Sistem pemberian pakan. Bertalian erat dengan ini adalah bentuk fisik tempat ransum
dan kepadatan kandang.
e. Jenis kelamin ayam. Jantan akan lebih banyak dan makan lebih dahulu daripada betina.
Akibatnya betina terdesak dan kadang kala harus menunggu hingga jantan selesai
makan. Dalam kondisi ini konsumsi ransum pada betina kurang dan tubuhnya kurus
daripada ayam jantan yang begitu gemuk dan cepat pertumbuhannya.
f. Genetik ayam. Ada beberapa ayam broiler yang diarahkan pada pertumbuhan yang
tinggi, da nada yang diarahkan pada konsumsi yang ekonomis da nada pula yang
diarahkan pada daya tahan yang baik.

Pakan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dalam manajemen pemeliharaan


ternak karena pakan mempunyai peranan sangat penting sebagai sumber energi untuk
pemeliharaan tubuh, pertumbuhan dan perkembangbiakan. Jumlah dan kandungan zat gizi
pakan yang diperlukan harus memadai dan mencapai pertumbuhan dan produksi telur yang

10
optimal, tetapi apabila ditinjau dari aspek ekonomis, biaya pakan pada umumnya sangat
tinggi. Dalam hal ini diperlukan manajemen yang baik untuk mengelola pemberian pakan.
Pemberian pakan di salah satu petrnakan di jawa barat menggunakan pakan jadi berbentuk
crumble dari suatu industri pakan dengan kandungan nutrisi meliputi kadar air, protein
kasar, lemak kasar, serat kasar, abu, fosfor dan enramycin.
Pakan yang baru datang ditimbang di gudang pakan sesuai dengan kebutuhan pada
setiap kandang, setelah itu diberi tanda untuk membedakan pakan yang akan di
distribusikan. Jumlah pakan yang perlu dikonsumsi ayam di dasari oleh berat badan rata-
rata ayam pada setiap pen dan usia ayam. Apabila berat badan ayam berat badan ayam pada
usia tertentu telah terpenuhi sesuai target (point feed) maka jumlah pakan sebelumnya akan
dipertahankan, apabila berat badan belum mencapai target atau melebihi target maka jumlah
pakan sebelumnya akan dinaikan atau diturunkan sesuai dengan kebutuhan ayam.
Pencapaian point feed ayam dipengaruhi oleh 2 hal, yaitu berat badan ayam secara genetic
(jantan / betina) dan kualitas jenis pakan. Pada hari pertama DOC datang diberikan pakan
17 gram per ekor lalu tiap hari nya ditambahkan secara bertahap selama seminggu sehingga
rata-rata pemberian pakan nya 25 gram per ekor untuk berina dan 27 gram per ekor untuk
jantan. Mulai umur 4 minggu pakan diberikan 37-40 gram per ekor untuk ayam betina dan
pakan 70 gram per ekor untuk ayam jantan. Anak ayam yang diberi makan dengan pakan
berbentuk crumbled kenaikan berat badan yang lebih besar dan konversi pakan yang lebih
baik dari pada anak ayam yang diberi pakan yang diberi makan dengan mash, meski efek
ini tidak selalu diamati sampai berumur 42 hari. Dianjurkan agar pakan pra-starter
disediakan dengan bentukan crumble, karena ini meningkatkan manfaat nutrisi ke minggu
pertama pemeliharaan dengan biaya yang dapat diterima produksi (Silva et al., 2004).
Air minum juga merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam manajemen
pemeliharaan ternak ayam. Ketersediaan air minum disesuaikan dengan umur pemeliharaan
ayam dan diberikan tiga kali dari jumlah pakan. Kurangnya air minum dapat mengakibatkan
stress pada ayam sehingga dapat menyebabkan ayam mudah terserang penyakit.
Penambahan supplement dan vitamin pada air minum dilakukan pada saat ayam sedang
terserang stress, yaitu ketika akan dilakukan kegiatan vaksinasi atau penggantian sekam
yang basah atau kegiatan lainnya yang menggagnggu ketentraman ayam.

11
12
BAB III

KESIMPULAN

Konsumsi ransum ayam pedaging tergantung pada kandungan energi ransum, strain,
umur, aktivitas, serta temperatur lingkungan. Nutrien yang harus ada dalam ransum adalah
energi, protein, lemak, kalsium, fosfor, dan air. Pemberian ransum dilakukan secara
adlibitum dengan pemberian ransum berbentuk tepung pada periode starter, butiran pecah
pada periode finisher dan terkadang diberikan ransum yang berbentuk pellet. Pemberian
ransum bertujuan menjamin pertambahan bobot badan dan produksi daging. Manajemen
pemberian pakan pada ayam broiler yang tepat juga sangat berdampak pada pertumbuhan
bobot badan ayam dan produksi ayam pedaging.

13
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad & Elfawati. 2008. Performans ayam broiler yang diberi sari buah mengkudu (Morinda
Citryfolia). J. Pet. 05: 10-13.
Fadillah, R., A. Polana., S. Alam., & E. Parwanto. 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler.
Agromedia Pustaka, Jakarta.

Iskandar, Sofjan. 2012. Optimalisasi protein dan energi ransum untuk meningkatkan produksi
daging ayam lokal. Pengembangan Inovasi Pertanian 5(2) : 96-107.
Lacy, M. & L. R. Vest. 2000. Improving Feed Convertion in Broiler : A Guide for Growers.
Springer Science and Business Media Inc, New York.

Lesson, S. & J. D. Summers. 2001. Nutrition of the chickens. 4th Edition. University Books,
Guelph, Ontario.

Muharlien, Achmanu, Kurniawan, A. 2010. Efek lama waktu pembatasan pemberian pakan
terhadap performans ayam pedaging finisher. J. Ternak Tropika Vol. 11, No.2:-88-94.

Neves, DPI, Banhazi TMII, and Ns IAI. 2014. Feeding Behaviour of Broiler Chickens: a
Review on the Biomechanical Characteristics. Brazilian Journal of Poultry Science.

New life mills. 2015. Broiler chicken management guide. Western Canada.
Proskina, Liga., Ceria, Sallija., and Zeverte-Rivza, Sandija. 2016. Faba Beans as an
Alternative protein source for broiler chicken feed. Economic science for rural
development pp. 265-265.

PT. Charoen Pokphand Indonesia. 2006. Manajemen broiler modern. Kiat-kiat memperbaiki
FCR. Technical Service dan Development Departement, Jakarta

Rasyaf. M., 2002. Berternak Ayam Pedaging. Edisi Revisi. PT. Penebar Swadaya. Jakarta

14