Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH

PNEUMOKONIOSIS AKIBAT DEBU MINERAL

Oleh Kelompok 1:

1. Rico Naza Putra 209 121 0052


2. Baddian Boelgis 210 121 0065
3. Jauharotun Nafisah 211 121 0014
4. Agus Nashir M. 211 121 0016
5. M. Taufiqurrahman S. 211 121 0021
6. Karina Winda B. 211 121 0024
7. Wisnu Satrio W. 211 121 0038
8. Angga Wahyu P. 211 121 0040
9. Ahmad Baihaki 211 121 0041
10. Kholifatul H. 211 121 0043
11. Ardiraz Fides K. 211 121 0048
12. Sofi Choirunnisa 211 121 0059
13. Irna Sasmita P. 211 121 0062

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM MALANG

2015
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
limpahan rahmat dan karunia-Nya, akhirnya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
yang berjudulkan PNEUMOKONIOSIS AKIBAT DEBU MINERAL ini dengan baik dan
lancar sesuai dengan rencana. Tujuan kami membuat makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas pada Blok Ilmu Kedokteran Komunitas dan sekaligus guna menambah wawasan
pengetahuan.

Di dalam makalah ini, berisikan berbagai pengetahuan mengenai pneumonikosis


akibat debu mineral. Mulai dari epidemiologi, etiologi, patofisiologi, gejala, diagnosa,
pemeriksaan penunjang, serta penatalaksanaan pada kasus.

Kami mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada dosen dan teman-teman


yang telah saling membantu dalam proses penyusunan makalah ini. Tiada gading yang tak
retak, kami menyadari dalam penyusunan makalah, masih jauh dari kesempurnaan. Namun
demikian kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan
usul guna penyempurnaan makalah ini.

Kami berharap makalah yang kami susun ini dapat berguna bagi kami dalam belajar
dan juga seluruh pembaca.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Malang, 13 Januari 2015

Penyusun,

Kelompok 1
EPIDEMIOLOGI

Dewasa ini, terjadi peningkatan yang signifikan dalam sektor industri dan tekhnologi.
Proses perkembangan yang pesat ini juga dapat berpengaruh besar terhadap kesehatan.
Alasanya adalah industri merupakan salah satu sumber polutan. Sisa-sisa pembuangan bahan
industri dapat menjadi polusi udara yang menganggu sistem respirasi pada manusia baik
secara langsung maupun tak langsung. Polutan ini dapat menimbulkan berbagai kelainan
saluran pernafasan dan paru, terutama pada pekerja industri. Kelianan yang terjadi dapat
diakibatkan oleh debu, gas, maupun asap yang dihasilkan dari proses industri.1

Salah satu penyakit utama dan masalah yang mengancam para pekerja dihampir
seluruh dunia adalah pneumokoniosis. Data yang ditunjukkan oleh World Health
Organization (WHO) pada tahun 1999 menyatakan bahwa terdapat 1,1 juta kematian oleh
penyakit akibat kerja diseluruh dunia, 5% dari angka tersebut adalah pneumokoniosis.
Sedangkan hasil survei di Inggris yang dilakukan oleh Surveillance of Workrelated and
Occupational Respiratory Disease (SWORD) menunjukkan pneumokoniosis hampir selalu
menduduki peringkat 3 hingga 4 setiap tahun.2

Setiap negara di dunia, memili data prevalensi pneumokoniosis yang berbeda. Data
SWORD di Inggris pada tahun 1990-1998 menyatakan terdapat 10% kasus pneumokoniosis.
Di Kanada pada tahun 1992-1993, kasus pneumokoniosis sebesar 10% juga. Sedangkan data
di Afrika Selatan pada tahun 1996-1999 sebesar 61%.3 Jumlah kasus kumulatif
pneumokoniosis di Cina dari tahun 1949-2001 mencapai 569 129 dan sampai tahun 2008
mencapai 10 963 kasus.4 Di Amerika Serikat, kematian akibat pneumokoniosis tahun 1968-
2004 mengalami penurunan, pada tahun 2004 ditemukan sebanyak 2.531 kasus kematian.5

Data prevalensi pneumokoniosis nasional di Indonesia belum ada. Data yang ada
adalah penelitian-penelitian berskala kecil pada berbagai industri yang berisiko terjadi
pneumokoniosis. Dari beberapa penelitian tersebut ditemukan prevalensi pneumokoniosis
bervariasi 0,5-9,8% (gambar 1). Penelitian Darmanto et al. di tambang batubara tahun 1989
menemukan prevalensi pneumokoniosis batubara sebesar 1,15%.6 Data penelitian di Bandung
tahun 1990 pada pekerja tambang batu menemukan kasus pneu-mokoniosis sebesar 3,1%.
Penelitian oleh Bangun et al. tahun 1998 pada pertambangan batu di Bandung menemukan
kasus pneumokoniosis sebesar 9,8%.7 Kasmara (1998) pada pekerja semen menemukan
kecurigaan pneumokoniosis 1,7%. Penelitian OSH center tahun 2000 pada pekerja keramik
menemukan silikosis sebesar 1,5%.8 Penelitian Pandu et al. di pabrik pisau baja tahun 2002
menemukan 5% gambaran radiologis yang diduga pneumokoniosis. Damayanti et al. pada
pabrik semen menemukan kecurigaan pneumokoniosis secara radiologis sebesar 0,5%.6

DAFTAR PUSTAKA:

1. Mangunnegoro H, Yunus F. Diagnosis penyakit paru kerja. In:Yunus F, Rasmin M,


Hudoyo A, Mulawarman A, Swidarmoko B, editor. Pulmonologi klinik. 1st Ed. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI;1992. p. 05-42.

2. Ngurah Rai IB. Pneumokoniosis. Patogenesis dan gangguan fungsi. In: Abdullah A, Patau
J, Susilo HJ, Saleh K, Tabri NA, Mappangara, et al. Naskah lengkap pertemuan ilmiah khusus
(PIK) X Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Makassar: Sub-bagian paru Bagian Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin; 2003. p. 183-216

3. Meredith S, Blanc PD. Surveillance: clinical and epidemiological perspectives. In:


Hendrick DJ, Burge PS, Beckett WS, Churg A. Occupational disorders of the lung;
Recognition, management, and prevention. London: WB Saunders; 2002. p. 7-24.

4. Liang ZX, Wong O, Fu H, Hu TX, Xue SZ. The economic burden of pneumoconiosis in
Cina. [Cited 2009 Feb. 8]. Available from: www.ocenvmed.com.

5. Center for Disease Control and Prevention (CDC). Changing patterns of pneumoconiosis
mortality-United States, 1968-2000. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2004;53:627-32

6. Menaldi Rasmin. Kedokteran respirasi, pemahaman sebuah perjalanan. Pidato pada upacara
pengukuhan sebagai guru besar tetap dalam bidang Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran
Respirasi FKUI. FKUI: Jakarta: 2008.
7. Bangun U, Widjaya M. Analisis epidemiologis pneumokoniosis berdasarkan X ray paru
klasifikasi standar international labour organization (ILO) pada pekerja tambang batu P.T. A
di Bandung Jawa Barat [Thesis]. Jakarta: Universitas Indonesia; 1998.

8. National and Occupational Safety and Health Center. Pneumoconiosis in Indonesia.


Presented at: The ILO/OSH Center national training workshop. Prevention of
pneumoconiosis. Using the ILO International Classification of radiographs of
pneumoconiosis, 2000. Jakarta, 19-22 November 2007.