Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Tubuh manusia terdiri dari beberapa sistem, salah satunya adalah sistem
muskuloskeletal. Sistem muskuloskeletal ini sendiri merupakan suatu penunjang bentuk
tubuh yang dapat membantu tubuh manusia untuk bergerak sehingga dapat melakukan
aktivitas sehari-hari. Selain itu, sistem muskuloskeletal juga akan melindungi organ-organ
tubuh didalamnya. Salah satu komponen dari sistem muskuloskeletal ini adalah tulang.
Seiring berjalannya waktu, selain itu dengan adanya faktor resiko dan faktor kebiasaan yang
ada maka dapat terjadi degenerasi maupun kelainan pada tulang. Salah satu dari kelainan
tersebut adalah tumor tulang. Tumor tulang ini sendiri dapat berupa tumpr jinak tulang
maupun tumor ganas tulang. dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus
tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor
tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang
sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang
ganas.

Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang, 90% kasus datang dalam stadium lanjut.
Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran
ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya
terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut
sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat
menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang
memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy

BAB II
1
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FUNGSI TULANG

Ada berbagai macam jenis tulang pada tubuh manusia, hal ini dikarenakan oleh
bervariasinya pergerakan pada manusia yang membutuhkan jenis dan ukuran tulang yang
bervariasi pula. Namun, tulang dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu tulang panjang,
tulang pendek, dan tulang pipih. Tulang panjang terbentuk dari osifikasi endokondral. Tulang
panjang terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian tengah yang disebut dengan diafisis, kedua
ujung disebut epifisis dan diantara epifisis dan diafisis disebut metafisis. Contoh dari tulang
panjang yaitu tulang femur dan phalanx.

Tulang pendek juga memiliki perkusor yang sama dengan tulang panjang, namun keduanya
didapatkan struktur yang berbeda. Contoh dari tulang pendek ini adalah tulang carpal. Tulang
pipih berasal dari osifikasi intramembranosa. Contoh dari tulang pipih yaitu tulang tengkorak,
sternum, scapula, dan costae. Pada tulang didapatkan lapisan luar yang tebal (korteks) dan
didalamnya terdapat bagian seperti jaring yang kurang padat (trabekula).

Seperti yang telah sedikit disinggung diatas, tulang memiliki beberapa fungsi yaitu
diantaranya adalah menyokong atau memberi bentuk pada tubuh, memungkinkan tubuh

2
untuk bergerak dengan bantuan dari komponen sistem muskuloskeletal yang lain seperti otot,
melindungi organ vital didalamnya, memelihara homeostasis mineral dan keseimbangan
asam-basa, sebagai reservoir faktor pertumbuhan, dan sebagai tempat hematopoiesis.(1,2)
2.2. TUMOR TULANG
2.2.1 DEFINISI
Tumor tulang terjadi ketika sel-sel dalam tulang tumbuh secara tidak terkontrol dan
membentuk suatu massa yang dapat menjadi jinak maupun ganas. Dikatakan ganas
apabila tumor tulang dapat menyebar atau bermetastase ke jaringan maupun organ lain
baik melalui aliran pembuluh darah atau melalui kelenjar getah bening. Sebaliknya tumor
jinak tidak dapat menyebar dan menyebabkan kerusakan secara langsung pada jaringan
sekitarnya.
2.2.2 ETIOLOGI
Penyebab dari tumor tulang tidak diketahui. Tumor tulang biasanya muncul pada area
yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat. Tetapi pada penelitian biomolekuler lebih
lanjut ditemukan beberapa mekanisme terjadinya neoplasma tulang, yaitu melalui identifikasi
mutasi genetik yang spesifik dan penyimpangan kromosom pada tumor. Keabnormalan dari
gen supresor tumor dan gen pencetus oncogen.
Menurut penelitian juga disebutkan bahwa terjadinya mutasi cromosom P53 dan Rb
juga dapat menjadi penyebab terjadinya tumor. Selain itu penyebabnya bisa karena adanya
trauma dan infeksi yang berulang misalnya Bone infarct, osteomyelitis chronic, paget
disease, serta gaya hidup (perokok, alkoholik, dan sering terpapar stress) juga merupakan
factor predisposisi terjadinya tumor tulang ini
Faktot lain yang dapat menyebabkan terjadinya tumor yaitu:
1. Faktor genetik atau keturunan
2. Virus
Virus dapat dianggap bisa menyatukan diri dalam sel sehingga mengganggu
generasi mendatang dari populasi sel.
3. Radiasi pengion
Pemajanan terhadap radiasi pengionisasi dapat terjadi saat prosedur radiografi
berulang atau ketika terapi radiasi digunakan untuk mengobati penyakit
tertentu.
4. hormonal
Pertumbuhan tumor mungkin dipercepat dengan adanya gangguan dalam
keseimbangan hormon baik dalam pembentukan hormon tubuh sendiri
(endogen) atau pemberian hormon eksogen.
5. Kegagalan sistem imun

3
Kegagalan sisem imun untuk berespon dengan tepat terhadap sel-sel maligna
memungkinkan tumor tumbuh sampai pada ukuran yang terlalu besar untuk
diatasi oleh mekanisme imun normal.
6. zat kimia
Kebanyakan zat kimia yang berbahaya menghasilkan efek-efek toksik dengan
menggunakan struktur DNA pada bagian-bagian tubuh (zat warna amino
aromatik, anilin, nikel, seng, polifinil chlorida).

2.2.3 MANIFESTASI KLINIS


1. Nyeri
Nyeri merupakan gejala yang paling banyak ditemukan, sekitar 75% pasien
dengan tumor tulang maligna merasakan nyeri. Gejala nyeri yang ditimbulkan
tergantung pada predileksi serta ukuran tumor. Gejala dini biasanya berupa nyeri
yang bersifat tumpul akibat pembesaran tumor yang perlahan-lahan.Nyeri
berlangsung lama dan memburuk pada malam hari. Saat istirahat nyeri tidak
menghilang, nyeri diperberat oleh adanya fraktur patologis.
2. Pembengkakan
Pembengkakan lokal biasa ditemukan.
3. Massa yang teraba
Teraba massa yang diakibatkan penonjolan tulang.
4. Penurunan berat badan
5. Keterbatasan gerak(3,4)

2.2.4 KLASIFIKASI TUMOR TULANG


Tumor tulang dapat dibedakan kedalam tumor jinak dan tumor ganas tulang. Tumor
Tulang Jinak (Benigna Bone Tumor) adalah pertumbuhan abnormal pada sel-sel di dalam
tulang yang kemungkinannya benigna (non kanker) atau tumor jinak (benigna) tidak
menyerang dan menghancurkan jaringan yang berdekatan dengannya serta tidak akan
menyebar ke jaringan lainnya, tetapi mampu tumbuh membesar secara lokal. Namun
bagaimanapun juga tumor jinak ini dapat membuat tulang menjadi lemah. Biasanya setelah
dilakukan operasi pengangkatan (tumor jinak), tumor jenis ini tidak akan muncul lagi. Yang
termasuk jenis ini adalah osteoma, osteoblastoma, kondroma, kondroblastoma, dan
osteokondroma,
Tumor ganas atau lebih dikenal dengan istilah Kanker, yang memiliki potensi untuk
menyerang dan merusak jaringan atau organ yang berdekatan dengannya , baik dengan
pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau menyebabkan terjadinya

4
metastasis (migrasi sel ke tempat yang jauh). Yang termasuk jenis ini adalah osteosarkoma
dan sarkoma ewing. (4,5)
2.3 PATOFISIOLOGI
Tumor ganas merupakan proses yang biasanya memakan waktu lama sekali. Hal ini
dapat bermula ketika sel abnormal bermutasi genetik. Sel abnormal ini kemudian membentuk
klon dan mulai berproliferasi secara abnormal, mengabaikan sinyal yang mengatur
pertumbuhan sel dalam lingkungan sekitar sel tersebut. Setelah itu terjadi perubahan pada
jaringan sekitarnya karena sel-sel tersebut menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan memperoleh
akses ke limfe dan pembuluh-pembuluh darah. Melalui pembuluih darah tersebutlah sel-sel
dapat terbawa ke area lain dalam tubuh (metastase). Penyebaran hematogen terjadi akibat sel
kanker menyusup kekapiler darah kemudian masuk ke pembuluh darah dan menyebar
mengikuti aliran darah vena sampai organ lain.Pada penyebaran limfogen terjadi karena sel
kanker menyusup ke saluran limfe kemudian ikut aliran limfe lalu menyebar dan
menimbulkan metastasis di kelenjar limfe regional. Pada umumnya kanker mula-mula
menyebar dengan cara ini baru kemudian menyebar secara hematogen. Pada permulaan
penyebaran hanya terjadi pada satu kelenjar limfe saja tetapi selanjutnya dapat terjadi pada
kelenjar limfe regional lainnya. Setelah menginfiltrasi kelenjar limfe sel kanker dapat
menembus dinding struktur sekitar menimbulkan perlengkatan kelenjar limfe satu dengan
yang lain.

2.4 DIAGNOSIS
Anamnesis
Anamnesis penting artinya untuk mengetahui riwayat kelainan atau trauma
sebelumnya. Perlu pula ditanyakan riwayat keluarga apakah ada yang menderita penyakit
yang sejenis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam anamnesis misalnya seperti usia
pasien. Umur penderita sangat penting untuk diketahui karena banyak tumor tulang yang
mempunyai kekhasan dalam umur terjadinya, misalnya osteogenik sarkoma ditemukan pada
anak sampai sebelum dewasa muda, kondrosarkoma pada umur 40 tahun, giant cell tumor
jarang ditemukan di bawah umur 20 tahun . Lama dan perkembangan (progresifitas) tumor
juga sangat penting untuk ditanyakan. Tumor jinak biasanya berkembang secara perlahan dan
bila terjadi perkembangan yang cepat dalam waktu singkat atau suatu tumor yang jinak tiba-
tiba menjadi besar maka perlu dicurigai adanya keganasan

Pemeriksaan Klinik
5
Hal-hal yang penting pada pemeriksaan klinik adalah seperti lokasi. Beberapa jenis
tumor mempunyai lokasi yang klasik dan tempat-tempat predileksi tertentu seperti di daerah
epifisis, metafisis tulang, atau menyerang tulang-tulang tertentu misalnya osteoma pada
daerah tengkorak, osteogenik sarkoma pada daerah metafisis, osteoblastoma di daerah
vertebra. Selain itu, bentuk, ukuran, dan batas tumor juga perlu ditanyakan. Tumor yang kecil
kemungkinan suatu tumor jinak, sedangkan tumor yang besar kemungkinan adalah tumor
ganas. Penting pula diperhatikan bentuk tumor apakah disertai pelebaran pembuluh darah
atau ulkus yang merupakan karakteristik suatu tumor ganas.

Pemeriksaan Radiologis
Merupakan salah satu pemeriksaan yang sangat penting dalam menegakkan
diagnosis tumor tulang. Dilakukan foto polos lokal pada lokasi lesi atau foto survei seluruh
tulang (bone survey) apabila dicurigai adanya tumor yang bersifat metastasis atau tumor
primer yang dapat mengenai beberapa bagian tulang.(5,6)
Beberapa hal yang perlu diingat kembali dalam rangka menganalisis tumor tulang
pada foto roentgen, yaitu:
- Pada anak anak, tulang panjang dibagi dalam epifisis, metafisis, dan diafisis.
Pada neonatus banyak epifisis tulang belum mengalami osifikasi sehingga belum
dapat dilihat pada foto roentgen.
- Tulang terdiri atas tiga komponen, yaitu korteks, spongiosa dan periost. Korteks
dan spongiosa dapat terlihat pada foto roentgen, tetapi periost tidak. Bila karena
suatu proses dalam tulang, misalnya radang atau neoplasma, periost mengalami
iritasi atau terangkat, maka periost akan membentuk tulang dibawahnya yang
dikenal sebagai reaksi periosteal. Gambaran reaksi periosteal dapat bermacam-
macam, seperti :
a. Berupa garis-garis yang sejajar dengan korteks, disebut lamellar.
b. Berupa garis-garis yang tegak lurus pada korteks, disebut sunray
appearance.
c. Berupa seperti renda, dan sebagainya.
Hal yang penting yang harus dilakukan dalam menilai tumor tulang adalah :
- Umur penderita
- Apakah lesi soliter atau multipel (kebanyakan tumor tulang primer soliter. Bila
multipel kemungkinan metastasis).

6
- Bagian tulang mana yang terkena (osteosarkoma biasanya didaerah metafisis.
Sarkoma ewing kebanyakan pada diafisis).
- Kelainan apa yang terlihat apakah berupa destruksi, reaksi periosteal,
pembentukan tulang baru, dan bagaimana jaringan lunak sekitarnya.
- Batas-batas lesi, umumnya tumor jinak berbatas tegas, korteks menipis, dan
tidak ada reaksi periosteal. Sedangkan tumor yang ganas batasnya tidak tegas,
korteks mengalami destruksi, dan ada reaksi periosteal.
Metastasis pada tulang
Tulang-tulang yang sering ditempati metastasis adalah pelvis, kolumna vertebra,
costae, femur bagian proksimal, humerus bagian proksimal, dan tengkorak. Distribusi ini
sesuai dengan daerah sumsum tulang merah. Metastasis jarang dijumpai pada tulang distal
dari sendi siku dan sendi lutut. Gambaran radiologik metastasis ada tiga jenis, yaitu osteolitik,
osteoblastik, dan campuran.

Osteokondroma
Biasanya mengenai tulang panjang. Terutama sekitar lutut. Tumor mulai pada
metafisis, tapi karena tulang tumbuh, makin lama makin bergeser ke diafisis. Biasanya soliter,
kadang-kadang multipel dan dikenal sebagai diaphyseal aclasia. Pada gambaran radiologik
didapatkan penonjolan tulang dengan korteks dan spongiosa yang normal. Komponen tulang
rawan sering kali tidak terlihat karena berada diluar tulang, namun masih terlihat bila
menggunakan CT-scan.

7
Tampak penonjolan tulang dengan korteks dan spongiosa yang normal
pada metafisis distal femur. Belum tampak kalsifikasi pada tumor.
Gambaran ini khas untuk osteokondroma.

Osteokondroma pada scapula. Kepala skapula tidak mengalami kalsifikasi dan tidak
dapat terlihat

8
Osteokondromatosis (diaphyseal aclasia). Osteokondroma mulai terlihat dari
metafisis distal femur. Kalsifikasi kepala skapula terlihat pada lateral
osteokondroma.

Osteoma
Biasanya ditemukan padadaerah sinus paranasal, dan bila terletak didaerah ini akan
menimbulkan gangguan drainase. Pada gambaran radiologiknya biasanya terlihat bayangan
opak yang bundar atau lonjong, berbatas tegas, dan jarang berukuran besar.

9
Osteoma pada tulang oksipital terdapat benjolan keras sudah beberapa tahun, tidak
sakit. Pada foto proyeksi towne tampak bayangan padat berbentuk lonjong, berbatas
tegas. Gambaran ini khas untuk osteoma

Osteoma pada mandibula. Tampak penonjolan tulang pada mandibula dengan basis
yang lebar dan terdiri seluruhnya atas tulang kompakta.

Giant cell tumor


Biasanya dijumpai padausia dewasa, setelah terjadi fusi tulang. Kebanyakan
dijumpai pada usia 30-40 tahun. Pada tulang panjang, tumor ini lokasinya pada tulang
(subartikuler), paling sering sekitar sendi lutut. Pada gambaran radiologiknya akan tampak
daerah radiolusen pada ujung tulang panjang dengan batas yang tidak tegas. Ada zona transisi
antara tulang normal dan patologik, biasanya kurang dari 1cm. Lesi biasanya eksentrik,
bersifat ekspansif sehingga korteks menjadi tipis. Tidak ada reaksi periosteal. Tumoryang
sudah besar dapat mengenai seluruh lebar tulang dan sering menjadi fraktur patologik.

10
Tampak lesi ekspansi pada ujung distal tibia dengan korteks yang sangat menipis.
Batas tumor dengan tulang yang normal tidak tegas, ada zona transisi. Tumor ini
sudah sangat besar dan mengenai seluruh lebar tulang.

Osteosarcoma
Merupakan tumor ganas primer tulang yang paling sering dengan prognosis yang
buruk. Kebanyakan penderita berumur 10-25 tahun. Jumlah kasus meningkat lagi setelah
umur 50 tahun yang disebabkan oleh adanya degenerasi maligna, terutama pada penyakit
paget. Paling sering ditemukan disekitar lutut, yaitu lebih dari 50%. Tulang-tulang yang
sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal, humerus proksimal, dan pelvis. Pada
tulang panjang, tumor biasanya mengenai metafisis. Garis epifiser merupakan barrier dan
tumor jarang menembusnya. Metastasis cepat terjadi secara hematogen, biasanya ke paru.
Gambaran radologiknya akan tampak tanda-tanda destruksi tulang yang berawal dari
medula dan terlihat sebagai daerah yang radiolusen dengan batas tidak tegas. Padastadium
yang masih dini terlihat reaksi periosteal yang gambarannya dapat lamelar atau seperti garis-
garis tegak lurus pada tulang (sunray appearance). Dengan membesarnya tumor, selain
korteks juga tulang subperiosteal akan dirusak oleh tumor yang meluas keluar tulang. Dari
reaksi periosteal it hanya sisanya yaitu pada tepi yang masih dapat terlihat, berbentuk segitiga
dan biasa dikenal sebagai segitiga codman. Pada kebanyakan tumor ini terjadi penulangan
(osifikasi) dalam jaringan tumor sehingga gambaran radiologiknya tergantung banyak
sedikitnya penulangan yang terjadi. Pada stadium dini gambaran sulit dibedakan dengan
osteomielitis.

11
Osteosarkoma pada tibia proksimal. Tampak tanda-tanda destruksi tulang dengan
batas yang tidak tegas. Sebagian korteks tidak tampak lagi.

A.Osteosarkoma pada proximal humerus. Tampak proses destruksi dari proximal


metafisis, reaksi periosteal pada bagian lateral, selain itu juga tampak metastasis
pada paru (ditandai dengan panah). B.Tiga bulan kemudian, meskipun dengan
pengobatan, reaksi periosteal semakin tampak

12
A & B. Osteosarkoma pada distal femur. Tampak peningkatan densitas pada lateral
metafisis dengan reaksi periosteal dan segitiga codman. Tumor tulang baru tampak
pada lateral jaringan lunak. C. Demonstrasi angiografi.

Osteosarkoma yang berkembang pada pasien dengan pagets disease pada pelvis
kiri. Tulang iliaca, ischium, dan pubis superior menunjukkan sklerosis dan
perubahan dari pagets disease. Reaksi periosteal yang agresif pada medial dari
tulang iliaca yang menandakan keganasan.

Sarcoma ewing
Tumor ganas primer ini paling sering mengnai tulang panjang. Kebanyakan pada
diafisis. Tulang yang sering terkena adalah pelvis dan tulang iga. Kira-kira 75% dari
penderita dibawah umur 20 tahun, dan paling sering antara 5-15tahun. Metastasis terjadi
13
cepat secara hematogen ke paru-paru atau tulang-tulang lainnya dimana gambaran
metastasisnya mirip dengan tumor primernya.
Tumor ini sensitif terhadap penyinaran, tetapi tidak kurabel. Sifat radiosensitif ini
penting untuk diagnosis. Gambaran radiologiknya akan tampak lesi destruktif yang bersifat
infiltratif yang berawal di medula, pada foto terlihat sebagai gambaran radiolusen. Tumor
cepat merusak krteks dan tampak reaksi periosteal. Kadang-kadang reaksi periostealnya
tampak sebagai garis-garis berlapis yang menyerupai kulit bawang dan dikenal sebagai onion
peel appearance. Gambaran ini pernah dianggap patognomonis untuk tumor ini, tetapi
ternyata bisa dijumpai pada lesi tulang lain. Tumor ini membesar dengan cepat, biasanya
dalam beberapa minggu tampak destruksi tulang yang meluas dan pembengkakan jaringan
lunak yang besar karena infiltrasi tumor ke jaringan sekitar tulang. Kadang-kadang tumor ini
ada pada metafisis tulang panjang sehingga sukardibedakan dengan osteosarkoma. Juga
tumor ini kadang-kadang memberikan gambaran radiologik yang sukar dibedakan dengan
osteomielitis.(5,7)

Tampak sedikit destruksi tulang didaerah diafisis humerus dengan reaksi periosteal.
Jaringan lunak sekitar lesi sangat membengkak menunjukkan infiltrasi tumot
kedalam jaringan lunak. Sangat sukar dibedakan dari osteomielitis.

14
Pemeriksaan Laboratorium
Darah, meliputi: pemeriksaan LED, hemoglobin, serum alkali fosfatase, serum
elektroforesis protein, serum asam fosfatase yang memberikan nilai diagnostik pada
tumor ganas tulang.
Urin, pemeriksaan yang penting adalah pemeriksaan protein Bence Jones.

2.5 TATALAKSANA
Penatalaksanaan tumor tulang benigna biasanya tidak terlalu sulitdibanding dengan
tumor tulang maligna.Pada tumor tulang benigna yang jelas. misalnya non-ossifying
fibrosa, osteokondroma yang kecil biasanya tidakdi perlukan tindakan khusus.Apabila
jenis tumor diragukan maka perludilakukan pemeriksaan biopsi.Tujuan pengambilan
biopsi adalah memperoleh material yang cukup untuk pemeriksaan histologis, untuk
membantu menetapkan diagnosis serta staging tumor.Waktu pelaksanaan biopsi
sangat penting sebab dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan radiologis yang
dipergunakan pada staging. Pasien dengan tumor tulang maligna memerlukan terapi
kombinasi dari pembedahan (surgery), kemoterapi dan radioterapi.
1. Surgery (pembedahan)
Langkah utama penatalaksanaan tumor tulang maligna pembedahan karena tumor
tulang ini kurang berespon terhadap terapi radiasi dan kemoterapi.Variasi
penatalaksanaan bedah dapat dilakukan dengan kuret intralesi untuk lesi grade
rendah, eksisi radikal, bedah beku hingga amputasi radikal untuklesi agresif grade
tinggi.Lesi besar yang rekuren penatalaksanaan palingtepat adalah amputasi.
2. Kemoterapi
Kemoterapi, meskipun bukan yang paling utama, namun ini diperlukan jika
kanker telah menyebar ke area tubuh lainnya. Terapi ini menggunakan obat anti
kanker (cytotoxic) untuk menghancurkan sel-sel kanker. Namun kemoterapi dapat
memberikan efek samping yang tidak menyenangkan bagi tubuh.
3. Radioterapi
Prinsip radioterapi adalah membunuh sel kanker menggunakan sinar berenergi
tinggi. Radioterapi diberikan apabila masih ada residu tumor, baik makro maupun
mikroskopik. Radiasi diberikan dengan dosis per fraksi 2,5Gy per hari dan total
50-55 Gy memberikan hasil bebas tumor.(8)

15
2.6 KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh tumor tulang sendiri misalkan seperti
fraktur pada tulang karena terdesak oleh massa yang semakin membesar. Selain karena
desakan massa, fraktur juga dapat terjadi akibat dari terapi tumor tulang itu sendiri. Selain
fraktur, tumor ganas paru juga dapat menyebabkan penyebaran ke jaringan dan organ lain.(9)
2.7 PROGNOSIS
Prognosis tumor tulang tergantung dari jenis tumor dan keadaan saat pertamakali
terdiagnosis. Semakin lanjut stadium tumor tulang saat pertama kali terdiagnosis maka akan
semakin sulit untuk penatalaksanaannnya. Kemudian untuk tumor jinak tulang akan
menghasilkan prognosis yang lebih baik dari pada tumor ganas tulang. Selain itu, pengobatan
yang adekuat juga dapat memberi hasil prognosis yang baik.(10)

BAB III
KESIMPULAN

Tumor tulang terjadi ketika sel-sel dalam tulang tumbuh secara tidak terkontrol dan
membentuk suatu massa yang dapat menjadi jinak maupun ganas. Faktor resiko yang dapat
menyebabkan tumor tulang adalah faktor keturunan, virus, radiasi pengion, hormonal, kegagalan
sistem imun, dan adanya paparan terus menerus dengan zat kimia. Tumor tulang sendiri dapat
16
dibedakan menjadi tumor jinak tulang yang meliputi osteoma, osteoblastoma, kondroma,
kondroblastoma, dan osteokondroma, serta tumor ganas tulang yang meliputi osteosarkoma dan
sarkoma ewing. Untuk menegakkan diagnosis tumor tulang sendiri dapat dilakukan dengan
anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan radiologi, dan pemeriksaan laboratorium.
Tatalaksananya tergantung pada keadaan dari tumor itu sendiri, pada tumor ganas biasanya
dilakukan dengan serangkaian operasi, kemoterapi, dan radiasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Petre B McVay. Osteology (bone anatomy). J bone joint surg. 2013; 1(9): 148-53.
2. Clarke B. Normal bone anatomy and physiology. Clin J Am Soc Nephro. 2008; 3(3):
131-9.
3. Heck RK Jr. Benign/aggressive tumors of bone. In: Canale ST, Beaty JH, eds. Campbell's
Operative Orthopaedics. 12th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2013:chap 26.

17
4. Dorfman HD, Czerniak B, Kotz R, Vanel D, Park YK, and Unni KK. In WHO
classifocation ofbone tumours. Available at : http://www.bodycad.com/Static/bb5-
classifbone.pdf. accessed January 8, 2017.
5. Rasad S. Radiologi diagnostik. Jakarta : badan penerbit FKUI. 2015. P. 74-84.
6. American cancer society. How is bone cancer diagnosed. Available at :
http://www.cancer.org/cancer/bonecancer/detailedguide/bone-cancer-diagnosis.
accessed January 8, 2017.
7. Hofer M, Abandor N, Kamper I, Rattunde H, & Zentai C. The chest X-ray a
systematic teaching atlas. P. 307-37.
8. American Academy of Orthpaedic Surgeon. Bone tumor. Available at :
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00074. Accessed January 8, 2017.
9. Shapeero LG, Poffyn B, De Vischere PJ, Sys G, Vanel D, & Verstrate KL.
Complication of bone tumors after multimodal therapy. Eur J Radiol. 2011; 77(1): 51-
67.
10. University of Maryland Medical Center. Bone Tumor. Available at :
http://umm.edu/health/medical/ency/articles/bone-tumor. accessed January 8, 2017.

18