Anda di halaman 1dari 16

BAB II

Tinjauan Teoritis
2.1 Pengertian Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar glukosa dalam darah dibawah
normal (<70 mg/DL). (ADA. 2016)
Hipoglikemia merupakan penyakit kegawatdaruratan yang membutuhkan
pertolongan segera, karena hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan
kerusakan otak yang permanen, hipoglikemia juga dapat menyebabkan koma sampai
dengan kematian (Kedia, 2011)
Hipoglikemia adalah suatu keadaan abnormal, dimana kadar glukosa dalam darah
<50/60 mg/dl (Standards of Medical Care in Diabetes, 2009; Cryer, 2005; Smeltzer&
Bare,2003)
Menurut McNaughton (2011), Hipoglikemia merupakan suatu kegagalan dalam
mencapai batas normal kadar glukosa darah dibawah normal yaitu <60 mg/dl.
Jadi kesimpulannya, Hipoglikemia didefinisikan sebagai keadaan di mana kadar
glukosa plasma lebih rendah dari 45 mg/dl 50 mg/dl.
Pasien diabetes yang tidak terkontrol dapat mengalami gejala hipoglikemia pada
kadar gula darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang normal, sedangkan pada
pasien diabetes dengan pengendalian gula darah yang ketat (sering mengalami
hipoglikemia) dapat mentoleransi kadar gula darah yang rendah tanpa mengalami
gejala hipoglikemia.
Menurut Cryer (2005) & Soemadji (2006), pendekatan diagnosis kejadian
hipoglikemia juga dilakukan dengan bantuan Whipples Triad yang meliputi:
Keluhan yang berhubungan dengan hipoglikemia
Kadar glukosa plasma yang rendah (<50mg/dl
Perbaikan kondisi setelah perbaikan kadar gula darah (paska koreksi)

2.2 Prevalensi Hipoglikemia


Hipoglikemia lebih sering terjadi pada DM tipe 1 dengan angka kejadian 10-30%
psien per tahun dengan angka kematian 3-4% (Goldman and Shcafer 2012).
Sedangkan DM tipe 2 angka kejadiannya 1,2% pasien per tahun.(Berber et al 2013).
Rata-rata kejadian hipoglikemia meningkat dari 3,2 per 100 orang pertahun menjadi
7,7 per 100 orang pertahun pada penggunaan insulin (Cutll et al 2001). Sebagai
penyakit akut pada DM tipe 2, Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan
insulin Dan sulfonilurea (PERKENI 2011).

2.3 Etiologi Hipoglikemia


Dosis pemberian insulin yang kurang tepat, kurangnya asupan karbohidrat karena
menunda atau melewatkan makan, konsumsi alkohol, peningkatan pemanfaatan
karbohidrat karena latihan atau penurunan berat badan (Kedia, 2011).
Menurut Sabatine (2006),Hipoglikemia dapat terjadi pada penderita Diabetes dan
Non Diabetes dengan etiologi sebagai berikut :

1. Pada Diabetes
Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada penderita
diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya (Overdose insulin)
Asupan makan yang lebih dari kurang (tertunda atau lupa, terlalu sedikit, output yang
berlebihan seperti adanya gejala muntah dan diare, serta diet yang berlebih).
Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal (mis. Hipotiroid)
Aktivitas berlebih
Gagal ginjal

2. Pada Non Diabetes


Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati
Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pankreas
Paska aktivitas
Konsumsi makanan yang sedikit kalori
Konsumsi alcohol
Paska melahirkan
Post gastrectomy
Penggunaan obat dalam jumlah yang berlebih (mis. Salisilat, sulfonamide)

2.4 Faktor Resiko Hipoglikemia


Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko hipoglikemia pada penderita
diabetes (kedia 2011), yaitu
1. Gangguan kesadaran hipoglikemi, merupakan faktor resiko utama,
ketidaksadarantersebut berarti ada ketidakmampuan untuk mendeteksi
terjadinya hipoglikemia dan akibatnya, indivdu cenderung kurang untuk memulai
tindakan korektif cepat dan lebih cenderung menderita episode parah.
2. Usia muda, karena kesadaran tentang tanda-tanda dan gejala yang lebih
rendah

Faktor predisposisi terjadinya hipoglikemia pada pasien yang mendapat


pengobatan insulin atau sulfonylure (Mansjoer A, 1999), yaitu :
a. Pengurangan/keterlambatan makan
b. Kesalalahan dosis obat
c. Latihan jasmani yang berlebihan
d. Penurunan kebutuhan insulin
e. Penyembuhan dari penyakit
f. Nefropati diabetic
g. Hipotiroidisme
h. Penyakit Addison
i. Hipopituitarisme
j. Hari-hari pertama persalinan
k. Penyakit hati berat

2.5 Klasifikasi Hipoglikemia


Hipoglikemia menurut Setyohadi (2012) dan Thompson (2011) diklasifikasikan
sebagai berikut :
1. Ringan (glukosa darah 50-60 mg/Terjadi jika kadar glukosa darah
menurun dan sistem saraf simpatik akan terangsang, pelimpahan adrenalin ke
darah menyebabkan gejala : tumor, kegelisahan, rasa lapar, dll.

2. Sedang (glukosa darah <50 mg/dL


Penurunan kadar glukosa dapat menyebakan sel2 otak tidak memperoleh bahan bakar
untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda gangguan fungsi sistem saraf pusat mencakup
ketidakmampuan berkonsentrasi, penurunan daya ingat, penglihatan ganda, peasaan
ingin pingsan.

3. Berat (glukosa darah < 35 mg/dL)


Terjadi gangguan pada sistem saraf pusat, sehingga pasien memerlukan pertolongan
orang lain untuk mengatasi hipoglikemia. Gejalanya : serangan kejang, sulit
dibangunkan bahkan kehilangan kesadaran.

Hipoglikemia spontan pada orang dewasa dibedakan atas dua tipe, yaitu :

1. Hipoglikemia puasa
Hipoglikemia puasa biasanya timbul menyertai penyakit endokrin tertentu, seperti
hipopituitarisme, penyakit Addison, atau mixedema; terkait dengan malfungsi hepar,
seperti alkoholisme akut dan gagal hati; pada orang dengan penyakit ginjal, terutama
pada pasien yang memerlukan dialisis. Pada keadaan ini hipoglikemia nyata tampilan
sekunder. Jika hipoglikemia puasa ini merupakan manifestasi primer, maka
penyebabnya mungkin a) hiperinsulinemia akibat tumor sel b pankreas atau karena
pemberian insulin atau pobat sulfonilurea dosis berlebihan; b) akibat sekresi insulin
tumor ekstra-pankreatik.

2. Hipoglikemia pasca-sarapan (postprandial)


Hipoglikemia reaktif dapat dibagi menjadi awal (2-3 jam sesudah makan) dan lambat
(35 jam pasca-sarapan). Hipoglikemia awal (alimentary) timbul jika ada pengeluaran KH
yang cepat dari lambung kedalam usus halus, diikuti dengan peninggian absorpsi
glukosa dan hiperinsulinemia. Hal ini terlihat pada pasien pasca-gastrektomi (sindroma
dumping). Ada pula yang bersifat fungsional sebagai tanda adanya overaktivitas saraf
parasimpatik yang dimediasi saraf vagus. Pada beberapa keadaan yang jarang
dijumpai adanya defek pada hormon kontra-regulasi, seperti pada defisiensi growth
hormone, glukagon, kortisol, atau respon autonomik.

2.6 Manifestasi Klinis Hipoglikemia


Gejala dan tanda dari hipoglikemia merupakan akibat dari aktivasi sistem saraf otonom
dan neuroglikopenia. Pada pasien dengan usia lajut dan pasien yang mengalami
hipoglikemia berulang, respon sistem saraf otonom dapat berkurang sehingga pasien
yang mengalami hipoglikemia tidak menyadari kalau kadar gula darahnya rendah
(hypoglycemia unawareness). Kejadian ini dapat memperberat akibat dari hipoglikemia
karena penderita terlambat untuk mengkonsumsi glukosa untuk meningkatkan kadar
gula darahnya.

Gejala umum penderita Hipoglikemia :


1. Keringat dingin
2. Letih
3. Sakit kepala
4. Lapar
5. Iritabilitas
6. Tidak enak badan
7. Denyut nadi cepat
8. Menggigil
9. Mual-muntah
10. Hipotensi
11. Pucat dan kulit dingin
12. Pandangan kabur
13. Keluar banyak keringat
14. Tremor

2.7 Patofisiologi Hipoglikemia


Dalam diabetes, hipoglikemia terjadi akibat kelebihan insulin relative ataupun absolute
dan juga gangguan pertahanan fisiologis yaitu penurunan plasma glukosa. Mekanisme
pertahanan fisiologis dapat menjaga keseimbangan kadar glukosa darah, baik pada
penderita diabetes tipe I ataupun pada penderita diabetes tipe II. Glukosa sendiri
merupakan bahan bakar metabolisme yang harus ada untuk otak. Efek hipoglikemia
terutama berkaitan dengan sistem saraf pusat, sistem pencernaan dan sistem
peredaran darah (Kedia, 2011).
Glukosa merupakan bahan bakar metabolisme yang utama untuk otak. Selain itu otak
tidak dapat mensintesis glukosa dan hanyamenyimpan cadangan glukosa (dalam
bentuk glikogen) dalam jumlah yang sangat sedikit. Oleh karena itu, fungsi otak yang
normal sangat tergantung pada konsentrasi asupan glukosa dan sirkulasi. Gangguan
pasokan glukosa dapat menimbulkan disfungsi sistem saraf pusat sehingga terjadi
penurunan suplai glukosa ke otak. Karena terjadi penurunan suplay glukosa ke otak
dapat menyebabkan terjadinya penurunan suplay oksigen ke otak sehingga akan
menyebabkan pusing,bingung, lemah (Kedia, 2011).
Konsentrasi glukosa darah normal, sekitar 70 110 mg/dL. Penurunan kosentrasi
glukosa darah akan memicu respon tubuh, yaitu penurunan kosentrasi insulin secara
fisiologis seiring dengan turunnya kosentrasi glukosa darah, peningkatan kosentrasi
glucagon dan epineprin sebagai respon neuroendokrin pada kosentrasi glukosa darah
di bawah batas normal, dan timbulnya gejala gejala neurologic (autonom) dan
penurunan kesadaran pada kosentrasi glukosa darah di bawah batas
normal(Setyohadi, 2012). Penurunan kesadaran akan mengakibatkan depresan pusat
pernapasan sehingga akan mengakibatkan pola nafas tidak efektif(Carpenito, 2007)
Kosentrasi glukosa darah, peningkatan kosentrasi glucagon dan epineprinsebagai
respon neuroendokrin pada kosentrasi glukosa darah di bawahbatas normal, dan
timbulnya gejala gejala neurologic (autonom) danpenurunan kesadaran pada kosentrasi
glukosa darah di bawah batas normal(Setyohadi, 2012).
Penurunan kesadaran akan mengakibatkan depresan pusat pernapasan
sehingga akan mengakibatkan pola nafas tidak efektif (Carpenito, 2007).Batas
kosentrasi glukosa darah berkaitan erat dengan system hormonal, persyarafan dan
pengaturan produksi glukosa endogen serta penggunaan glukosa oleh organ
perifer. Insulin memegang peranan utama dalam pengaturan kosentrasi glukosa darah.
Apabila konsentrasi glukosa darah menurun melewati batas bawah konsentrasi normal,
hormon-hormonkonstraregulasi akan melepaskan. Dalam hal ini, glucagon yang
diproduksioleh sel pankreas berperan penting sebagai pertahanan utama
terhadaphipoglikemia. Selanjutnya epinefrin, kortisol dan hormon pertumbuhan
jugaberperan meningkatkan produksi dan mengurangi penggunaan glukosa.Glukagon
dan epinefrin merupakan dua hormon yang disekresi pada kejadian hipoglikemia akut.
Glukagon hanya bekerja dalam hati. Glukagon mula-mula meningkatkan glikogenolisis
dan kemudian glukoneogenesis, sehingga terjadi penurunan energi akan menyebabkan
ketidakstabilan kadar glukosa darah (Herdman, 2010),
Penurunan kadar glukosa darah juga menyebabkan terjadi penurunan perfusi jaringan
perifer, sehingga epineprin juga merangsang lipolisis di jaringan lemak serta proteolisis
di otot yang biasanya ditandai dengan berkeringat, gemetaran, akral dingin, klien
pingsan dan lemah (Setyohadi, 2012).
Pelepasan epinefrin, yang cenderung menyebabkan rasa lapar karena rendahnya
kadar glukosa darah akan menyebabkan suplai glukosa ke jaringan menurun sehingga
masalah keperawatan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat muncul (Carpenito,
2007).
2.8 Pemeriksaan Penunjang Hipoglikemia
1. Gula darah puasa
Diperiksa untuk mengetahui kadar gula darah puasa (sebelum diberi glukosa 75 gram
oral) dan nilai normalnya antara 70- 110 mg/dl.

2. Gula darah 2 jam post pradial


Diperiksa 2 jam setelah diberi glukosa dengan nilai normal < 140 mg/dl/2 jam

3. Pemeriksaan HBA1c
Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah untuk memperoleh kadar gula darah
yang sesungguhnya karena pasien tidak dapat mengontrol hasil tes dalam waktu 2- 3
bulan. HBA1c menunjukkan kadar hemoglobin terglikosilasi yang pada orang normal
antara 4- 6%. Semakin tinggi maka akan menunjukkan bahwa orang tersebut menderita
DM dan beresiko terjadinya komplikasi.

4. Pemeriksaan elektrolit, Terjadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah


terganggu

1. Pemeriksaan Leukosit, terjadi peningkatan jika sampai terjadi infeksi

1.8 Penatalaksanaan Hipoglikemia


Tujuan dilakukan tatalaksana Hipoglikemia yaitu :
1. Memenuhi kadar gula darah dalam otak agar tidak ter
jadi kerusakan irreversibel.
2. Tidak mengganggu regulasi DM.

Pedoman tatalaksana Hipoglikemia menurut PERKENI (2006) pedoman sebagai


berikut :
1. Glukosa diarahkan pada kadar glukosa puasa yaitu 120 mg/dl.
2. Bila diperlukan pemberian glukosa cepat (IV) satu flakon (25 cc) Dex 40% (10 gr
Dex) dapat menaikkan kadar glukosa kurang lebih 25-30 mg/dl.

Manajemen Hipoglikemi menurut Soemadji (2006); Rush & Louise (2004) ; Smeltzer
& Bare (2003) sebagai berikut:

Tergantung derajat hipoglikemi:


Hipoglikemi ringan:
i. Diberikan 150-200 ml teh manis atau jus buah atau 6 -10 butir permen atau 2-3
sendok teh sirup atau madu.
ii. Bila gejala tidak berkurang dalam 15 menitulangi pemberiannya
iii. Tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori coklat, kue, donat,
ice cream, cake
Hipoglikemi berat:
i. Tergantung pada tingkat kesadaran pasien.
ii. Bila klien dalam keadaan tidak sadar, Jangan memberikan makanan atau
minuman

Pada hipoglikemia berat, membutuhkan bantuan eksternal (obat) :

1. Dekstrosa
Untuk pasien yang tidak mampu menelan glukosaoral karena pingsan, kejang, atau
perubahan status mental. Pada keadaan darurat dapat pemberian dekstorsa dalam air
pada konsentrasi 50% adalah dosis biasanya diberikan kepada orang dewasa,
sedangkan konsentrasi 25% biasanya diberikan kepada anak anak.
2. Glukagon
Sebagai hormon kontra regulasi utama terhadap insulin, glukagon adalah
pengobatan pertama yang dapat dilakukan untuk hipoglikemia berat. Tidak seperti
dekstrosa, yang harus diberikan secara IV dengan perawatan kesehatan yang
berkualitas profesional, glukagon dapat diberikan oleh subcutan atau intramuskular.

2.10 Komplikasi Hipoglikemia


Komplikasi dari hipoglikemia pada gangguan tingkat kesadaran yang berubah selalu
dapat menyebabkan gangguan pernafasan. Selain itu hipoglikemia juga dapat
mengakibatkan kerusakan otak akut. Hipoglikemia berkepanjangan parah bahkan dapat
menyebabkan gangguan neuropsikologis sedang sampai dengan gangguan
neuropsikologis berat karena efek hipoglikemia berkaitan dengan system saraf pusat
yang biasanya ditandai oleh perilaku dan pola bicara yang abnormal (Jevon, 2010) .
Menurut Kedia (2011), hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan
kerusakan otak yang permanen, hipoglikemia juga dapat menyebabkan koma sampai
kematian.

BAB III
TINJAUAN KASUS DAN ASKEP

3.1 Gambaran kasus


Seorang klien dirawat diruang perawatan umum rumah sakit swasta, klien dirawat
dengan keluhan tubuhnya lemas nyaris pingsan. Akhir akhir ini klien sering mengeluh
haus, sering BAK , sering merasa lapar , berat badan turun 4 kg dalam satu bulan ini
dan BB klien sekarang 68 kg. Keluhan yang dirasakannya klien adalah mudah lelah,
suka terasa kesemutan pada jari-jari tangan atau kaki, serta merasa nyeri saat
beraktivitas dan terasa senat senut pada kepala bagian tengah dengan skala nyeri yang
diperoleh yaitu 6. Keluarga mengatakan bahwa Tn.T memiliki riwayat penyakit DM 4
tahun yang lalu. Akral klien dingin, klien tampak pucat, mukosa klien tampak kering,
dank klien tampak tremor. Hasil pemeriksaan Gula darah 41mg/dl. Sebelumnya klien
diberikan insulin dan metformin. Diagnosa medis klien : Hipoglikemia, perawat dan
dokter serta paramedic lainnya yang terkait melakukan perawatan secara integrasi
untuk menghindari /mengurangi resiko komplikasi lebih lanjut.

3.2 Askep Hipoglikemia

1. DATA FOKUS

Data Subjektif Data Objektif


1. Klien mengatakan tubuhnya 1. Hasil pemeriksaan
lemas GDS : 41 mg/dl
2. Klien mengatakan merasa letih 2. Sebelumnya klien
3. Klien merasa tidak enak badan meminum metformin dalam
dosis yang berlebih
4. Klien mengatakan pusing
3. TTV :
5. Klien mengatakan nyeri kepala
TD : 140/80 mmHg
P: Saat beraktivitas
N : 102x/menit
Q: Terasa senat senut
RR : 20x/menit
R: Nyeri di Kepala bagian tengah (ubun-
ubun) S : 35S
S : Skala 6 4. Akral dingin
T : <20 menit 5. Klien tampak pucat
6. Klien mengatakan sering 6. Klien terbaring lemas
merasa lapar 7. Mukosa klien kering
7. Klien mengatakan BB turun 4 8. Klien tampak tremor
kg dalam satu bulan ini
9. BB klien sekarang : 68
8. Klien mengatakan mudah lelah kg
9. Klien mengatakan suka terasa BB sebelum : 72 kg
kesemutan pada jari-jari tangan atau 10. Diagnosa medis :
kaki Hipoglikemia
10. Klien mengatakan memiliki
riwayat DM 4 tahun lalu

2. ANALISA DATA
NO. DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI
1 DATA SUBJEKTIF: Ketidakseimbangan Ketidakmampuan
1. Klien mengatakan nutrisi kurang dari mengabsorpsi
sering merasa lapar kebutuhan tubuh nutrien
2. Klien mengatakan
BB turun 4 kg dalam satu
bulan ini

DATA OBJEKTIF :
1. Hasil pemeriksaan
GDS : 41 mg/dl
2. Sebelumnya klien
meminum metformin
dalam dosis yang berlebih
dari anjuran dokter
3. BB klien sekarang :
68 kg
BB sebelum : 72 kg
2 DATA SUBJEKTIF: Nyeri akut Agens cedera
1. Klien mengatakan biologis
pusing
2. Klien mengatakan
nyeri kepala
P: Saat beraktivitas
Q: Terasa senat senut
R: Nyeri di Kepala
S : Skala 6
T : <20 menit

DATA OBJEKTIF :
1. Klien tampak pucat
3 DATA SUBJEKTIF: Ketidakefektifan Diabetes Militus
1. Klien mengatakan perfusi jaringan
suka terasa kesemutan perifer
pada jari-jari tangan atau
kaki
2. Klien mengatakan
memiliki riwayat DM 4
tahun lalu

DATA OBJEKTIF:
1. TTV klien :
S :35C
2. Akral klien dingin
3. Klien tampak tremor
4 DATA SUBJEKTIF : Keletihan Kelesuan fisiologis
1. Klien mengatakan : Hipoglikemia
tubuhnya lemas
2. Klien mengatakan
merasa letih
3. Klien merasa tidak
enak badan
4. Klien mengatakan
mudah lelah

DATA OBJEKTIF :
1. Klien terbaring
lemas

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN
1 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mengabsorpsi nutrien
2 Nyeri akut b.d agens cedera biologis
3 Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d Diabetes militus
4 Keletihan b.d kelesuan fisiologis : hipoglikemia

4. INTERVENSI
DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Mandiri :
nutrisi kurang dari keperawatan selama 2x24 jam, 1. Monitor
kebutuhan tubuh diharapkan masalah asupan makanan
b.d ketidakseimbangan nutrisi kalori harian
ketidakmampuan kurang dari kebutuhan pada 2. Monitor berat
mengabsorpsi klien dapat teratasi, dengan badan klien secara
nutrien kriteria hasil : rutin
1. BB klien normal 3. Kaji GDS
kembali klien sebelum dan
2. Hasil GDS normal sesudah 1 jam
: <200 mg/dl pemberian makan
3. Klien tidak 4. Timbang
mengonsumsi obat anti pasien pada jam
diabetes dalam dosis yang sama setiap
berlebih hari
5. Kaji makanan
kesukaan pasien,
baik itu kesukaan
pribadi atau yang
dianjurkan budaya
dan agamanya
6. Bantu pasien
untuk makan atau
suapi pasien
7. Ciptakan
lingkungan yang
menyenangkan dan
menenangkan
8. Sajikan
makanan dengan
menarik
9. Beri
penjelasan kepada
klien/keluarga klien
dalam mengonsumsi
obat anti diabetes
sesuai dosis yang
dianjurkan
Kolaborasi :
1. Kolaborasi
dengan tim dokter
dalam menentukan
dosis obat
antidiabetes pada
klien
2. Kolaborasi
dengan ahli gizi
dalam menentukan
asupan kalori harian
yang diperlukan
untuk
mempertahankan
berat badan yang
sudah ditentukan
Nyeri akut b.d Setelah dilakukan tindakan Mandiri :
agens cedera keperawatan selama 2x24 jam,1. Kaji skala nyeri klien
biologis diharapkan masalah nyeri akut 2. Berikan lingkungan yang
pada klien dapat teratasi, tenang
dengan kriteria hasil :
1. Klien tidak 3. Atur posisi tidur klien :
merasakan nyeri di fowler
kepala saat beraktivitas 4. Ajarkan teknik relaksasi
2. Klien tidak merasa nafas dalam
pusing 5. Lakukan pengkajian nyeri
3. Klien tidak merasa secara komprehensif
sakit kepala meliputi : P,Q,R,S dan T
4. Skala nyeri klien 0 Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan tim
dokter dalam pemberian
obat analgesic
Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Mandiri:
perfusi jaringan keperawatan selama 1x24 jam, 1. Kaji tingkat
perifer b.d Diabetes diharapakan masalah kesadaran klien
militus ketidakefektifan perfusi jaringan (GCS)
perifer klien dapat teratasi, 2. Kaji TTV klien
dengan kriteria hasil : 3. Kaji kadar
1. TTV dalam batas GDS sebelum dan 1
normal : jam sesudah
TD:120/80 mmHg pemberian terapi
N:60-100 x/menit 4. Pertahankan
S: 36,5-37,5C keefektifan jalan
RR:16-24x/menit nafas klien
2. Akral klien tidak
teraba dingin 5. Berikan posisi
supinasi
3. Klien tidak
merasakan kesemutan Pada klien
lagi 6. Berikan
informasi pada
4. Klien tidak tremor keluarga klien
tentang penyakit dan
penanganannya
7. Ajarkan klien
senam diabetes
Kolaborasi:
1. Kolaborasi
dengan tim dokter
dalam pemberian
obat vitamin
neurotropik

Keletihan b.d Setelah dilakukan tindakan Mandiri :


kelesuan fisiologis keperawatan selama 1x24 jam, 1. Kaji status
(Hipoglikemia) diharapkan masalah keletihan fisiologis pasien
pada klien dapat teratasi, yang menyebabkan
dengan kriteri hasil : kelelahan sesuai
1. Klien tidak merasa dengan konteks usia
lemas dan perkembangan
2. Klien tidak merasa letih 2. Kaji TTV klien
3. Klien merasa enak 3. Batasi
badan aktivitas secara
adekuat
4. Anjurkan klien
untuk beraktivitas
ringan terlebih
dahulu
5. Beri edukasi
kepada
klien/keluarga klien
dengan menjelaskan
hubungan antara
keletihan dan
proses/kondisi
penyakit

Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan ahli
gizi dalam pemberian
asupan makanan yang
berenergi ti

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hipoglikemia didefinisikan sebagai keadaan di mana kadar glukosa plasma lebih
rendah dari 45 mg/dl 50 mg/dl. Dosis pemberian insulin yang kurang tepat, kurangnya
asupan karbohidrat karena menunda atau melewatkan makan, konsumsi alkohol,
peningkatan pemanfaatan karbohidrat karena latihan atau penurunan berat
badan merupakan penyebab terjadinya hipoglikemia (Kedia, 2011). Beberapa faktor
resiko penyebab hipoglikemia seperti Pengurangan/keterlambatan makan, Kesalalahan
dosis obat, Latihan jasmani yang berlebihan, Penurunan kebutuhan insulin, dsb.
Klasifikasi hipoglikemia dibagi dalam tingkatan ringan, sedang, dan berat. Manisfestasi
klinis yang sering kita jumpai pada penderita hipoglikemia ini yaitu sering lemas, lesuh,
letih, tidak fokus terhadap sesuatu, dan mengalami penurunan berat badan.
Pemeriksaan penunjang yang utama yatiu pemeriksaan gula darah yang apabila
didapatkan hasil kurang dari normal yaitu <50 mg/dl. Tujuan dilakukan tatalaksana
Hipoglikemia yaitu untuk memenuhi kadar gula darah dalam otak agar tidak terjadi
kerusakan irreversibel, serta tidak mengganggu regulasi DM dan mengarahkan agar
kadar glukosa plasma berada dalam batas normal orang puasa yaitu 120mg/dl.
Komplikasi yang dapat terjadi yakni kerusakan pada otak, kematian , koma, dsb.
Pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan hipoglikemia yang tertera, sudah
sesuai dengan tinjauan teori, begitu juga dengan pelaksanaannya tidak ada
kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus.

4.2 SARAN
Saran yang dapat disampaikan dari isi makalah ini yakni diharapkan dapat
meningkatkankinerja perawat dandapat memberikan asuhankeperawatan
kegawatdaruratan khususnya pada pasien hipoglikemia secara cepat dan tepat. Dan
diharapkan bagi mahasiswa untukdapat menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin
untuk serius mencari pengetahuan dalam perawatan penderita hipoglikemia

DAFTAR PUSTAKA
Hadiatma, Mega. 2012. NURSING CARE IN HYPOGLYCEMIA IN
PATIENTS
WITH DIABETES MELLITUS IN THE INSTALLATION EMERGENCY
HOSPITAL. Naskah publikasi UMS.pdf