Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DIRUANG 26-P DR.

SAIFUL ANWAR
MALANG DENGAN KASUS PNEUMONIA

Disusun untuk memenuhi tugas profesi


Departemen Medikal Ruang 26-P RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
CICIK KURNIAWATI

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
TAHUN 2017

BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI
1. Pneumonia ialah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi
seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing yang mengensi jaringan paru (alveoli).
(DEPKES. 2006).
2. Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. (Zuh Dahlan. 2006).
3. Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari
suatu infeksi. Istilah pneumonia mencakup setiap keadaan radang paru, dengan
beberapa alveoli terisi cairan dan sel-sel darah.
4. Pneumonia adalah penyakit infeksi akut paru yang disebabkan terutama oleh bakteri;
merupakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang paling sering
menyebabkan kematian pada anak dan anak balita (Said 2007).
5. Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal
dari suatu infeksi. (Price, 1995)
6. Pneumonia adalah suatu peradangan paru yang disebabkan oleh bermacam- macam
etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing (IKA, 2001)
Jadi, bronkopnemonia adalah infeksi atau peradangan pada jaringan paru terutama alveoli
atau parenkim yang sering menyerang pada anak anak.

B. EPIDEMIOLOGI
Pneumokokus merupakan penyebab utama pneumonia. Pneumokokus dengan
serotipl sampai 8 menyebabkan pneumonia pada orang dewasa lebih dari 80%,
sedangkan pada anak ditemukan tipe 14,1,6,dan 9. Angka kejadian tertinggi ditemukan
pada usia kurang dari 4 tahun dan berkurang dengan meningkatnya umur. Pneumonia
lobaris hampir selalu disebabkan oleh pneumokokus- ditemukan pada orang dewasa dan
anak besar, sedangkan bronchopneumonia lebih sering dijumpai pada anak kecil dan
anak.
Pneumonia sangat rentan terhadap anak berumur di bawah dua bulan, berjenis
kelamin laki-laki, tingkat sosioekonomi rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, tingkat
pelayanan kesehatan masih kurang, adanya penyakit kronis pada anak, kurang gizi, berat
badan lahir rendah, tidak mendapatkan ASI yang memadai, polusi udara, kepadatan
tempat tinggal, imunisasi yang tidak memadai, dan defisiensi vitamin A.
Pneumonia juga merupakan penyakit yang menjadi masalah di berbagai negara
terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, dan merupakan penyebab kematian
utama pada balita. Hasil penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan mendapatkan
pneumonia penyebab kejadian dan kematian tertinggi pada balita. Berbagai
mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, antara lain virus dan bakteri. Beberapa
faktor yang dapat meningkatkan resiko untuk terjadinya pneumonia antara lain adalah
defek anatomi bawaan, defisit imunologi, polusi, GE, aspirasi, dll.
Said (2007) menyatakan bahwa diperkirakan 75% pneumonia pada anak balita di
negara berkembang termasuk di Indonesia disebabkan oleh pneumokokus dan Hib. Di
seluruh dunia setiap tahun diperkirakan terjadi lebih 2 juta kematian balita karena
pneumonia. Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001
kematian balita akibat pneumonia 5 per 1000 balita per tahun. Ini berarti bahwa
pneumonia menyebabkan kematian lebih dari 100.000 balita setiap tahun, atau hampir
300 balita setiap hari, atau 1 balita setiap 5 menit. Menunjuk angka-angka di atas bisa
dimengerti para ahli menyebut pneumonia sebagai The Forgotten Pandemic atau "wabah
raya yang terlupakan" karena begitu banyak korban yang meninggal karena pneumonia
tetapi sangat sedikit perhatian yang diberikan kepada masalah pneumonia. Tidak heran
bila melihat kontribusinya yang besar terhadap kematian balita pneumonia dikenal juga
sebagai "pembunuh balita nomor satu".
Senada dengan Said, Betz dan Sowden (2002) menyatakan bahwa insidens dari
pneumonia antara lain :
1. Pneumonia virus lebih sering dijumpai daripada pneumonia bakterial
2. Pneumonia streptokokus paling sering terdapat pada 2 tahun pertama kehidupan.
Pada 30 % anak dengan pneumonia yang berusia kurang dari 3 bulan dan pada 70
% anak dengan pneumonia yang berusia kurang dari 1 tahun.
3. Pneumonia pneumokokus mencakup 90 % dari semua pneumonia
4. Mikoplasma jarang menimbulkan pneumonia pada anak yang berusia 5tahun,
mereka berhubungan dengan 20 % kasus pneumonia yang di diagnosis pada pasien
antara umur 16 dan 19 tahun.
5. Pneumonia akan terjadi lebih berat dan lebih sering pada anak dan anak-anak kecil
6. Virus sinsisium respiratori merupakan penyebab terbesar dari kasus pneumonia
virus.
7. Infeksi virus saluran nafas atas adalah penyebab kematian kedua pada anak dan
anak kecil.

C. KLASIFIKASI
Pneumonia mikoplasma mencakup 10 sampai 20 % pneumonia yang dirawat di
rumah sakit. Menurut Zul Dahlan (2007), pneumonia dapat terjadi baik sebagai penyakit
primer maupun sebagai komplikasi dari beberapa penyakit lain. Secara morfologis
pneumonia dikenal sebagai berikut:
1. Pneumonia lobaris, melibatkan seluruh atau satu bagian besar dari satu atau lebih
lobus paru. Bila kedua paru terkena, maka dikenal sebagai pneumonia bilateral atau
ganda.
2. Bronkopneumonia, terjadi pada ujung akhir bronkiolus, yang tersumbat oleh eksudat
mukopurulen untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus yang berada
didekatnya, disebut juga pneumonia loburalis.
3. Pneumonia interstisial, proses inflamasi yang terjadi di dalalm dinding alveolar
(interstisium) dan jaringan peribronkial serta interlobular.
Pneumonia lebih sering diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya, virus,
atipikal (mukoplasma), bakteri, atau aspirasi substansi asing. Pneumonia jarang terjadi
yang mingkin terjadi karena histomikosis, kokidiomikosis, dan jamur lain.
1. Pneumonia virus, lebih sering terjadi dibandingkan pneumonia bakterial. Terlihat
pada anak dari semua kelompok umur, sering dikaitkan dengan ISPA virus, dan
jumlah RSV untuk persentase terbesar. Dapat akut atau berat. Gejalanya bervariasi,
dari ringan seperti demam ringan, batuk sedikit, dan malaise. Berat dapat berupa
demam tinggi, batuk parah, prostasi. Batuk biasanya bersifat tidak produktif pada
awal penyakit. Sedikit mengi atau krekels terdengar auskultasi.
2. Pneumonia atipikal, agen etiologinya adalah mikoplasma, terjadi terutama di musim
gugur dan musim dingin, lebih menonjol di tempat dengan konsidi hidup yang padat
penduduk. Mungkin tiba-tiba atau berat. Gejala sistemik umum seperti demam,
mengigil (pada anak yang lebih besar), sakit kepala, malaise, anoreksia, mialgia. Yang
diikuti dengan rinitis, sakit tenggorokan, batuk kering, keras. Pada awalnya batuk
bersifat tidak produktif, kemudian bersputum seromukoid, sampai mukopurulen atau
bercak darah. Krekels krepitasi halus di berbagai area paru.
3. Pneumonia bakterial, meliputi pneumokokus, stafilokokus, dan pneumonia
streptokokus, manifestasi klinis berbeda dari tipe pneumonia lain, mikro-organisme
individual menghasilkan gambaran klinis yang berbeda. Awitannya tiba-tiba, biasanya
didahului dengan infeksi virus, toksik, tampilan menderita sakit yang akut , demam,
malaise, pernafasan cepat dan dangkal, batuk, nyeri dada sering diperberat dengan
nafas dalam, nyeri dapat menyebar ke abdomen, menggigil, meningismus.

D. ETIOLOGI
1. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif
seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis. Bakteri
gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
2. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan
udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah
serta kompos.
4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)
Menurut (Smeltzer, 2001) etiologi pneumonia, meliputi :

1) Pneumonia bakterial
Penyebab yang paling sering: Streptoccocus pneumonia
Jenis yan lain :
- staphiloccocus aureus menyebakan pneumonia stapilokokus
- Klebsiella pnemoniae menyebabkan pneumonia klebsiella
- Pseudomonas aerugilnosa menyebabkan pneumonia pseudomonas
- Haemophilus influenzae menyebabkan Haemophilus influenza
2) Pneumonia atipikal
Penyebab paling sering :
- Mycoplasma penumoniae menyebabkan pneumonia mikoplasma
Jenis lain :
- Legionella pneumophila menyebakan penyakit legionnaires
- Mycoplasma penumoniae menyebabkan pneumonia mikoplasma
- Virus influenza tipe A, B, C menyebakan pneumonia virus
- Penumocyctis carini menyebakan pneumonia pnemosistis carinii (PCP)
- Aspergillus fumigates menyebakan pneumonia fungi
- Cipittaci menyebabkan pneumonia klamidia (pneumonia TWAR)
- Mycobacterium tuberculosis menyebabkan tuberculosis
(Smeltzer, 2001 : 568-570).
3) Pneumonia juga disebabkan oleh terapi radiasi (terapi radisasi untuk kanker
payudara/paru) biasanya 6 minggu atau lebih setelah pengobatan selesai ini
menyebabkan pneumonia radiasi. Bahan kimia biasanya karena mencerna kerosin
atau inhalasi gas menyebabkan pneumonitis kimiawi (Smeltzer, 2001 : 572). Karena
aspirasi/inhalasi (kandungan lambung) terjadi ketika refleks jalan nafas protektif
hilang seperti yang terjadi pada pasien yang tidak sadar akibat obat-obatan, alkohol,
stroke, henti jantung atau pada keadaan selang nasogastrik tidak berfungsi yang
menyebabkan kandungan lambung mengalir di sekitar selang yang menyebabkan
aspirasi tersembunyi. ( Smeltzer, 2001 :637)
Sedangkan dari sudut pandang sosial, penyebab pneumonia menurut Depkes RI (2005)
antara lain :
1. Status gizi anak
2. Imunisasi tidak lengkap
3. Lingkungan
4. Kondisi sosial ekonomi orang tua
E. PATOFISIOLOGI
Pneumonia yang dipicu oleh bakteri bisa menyerang siapa saja, dari anak sampai
usia lanjut. Pecandu alcohol, pasien pasca operasi, orang-orang dengan gangguan
penyakit pernapasan, sedang terinfeksi virus atau menurun kekebalan tubuhnya , adalah
yang paling berisiko. Sebenarnya bakteri pneumonia itu ada dan hidup normal pada
tenggorokan yang sehat. Pada saat pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit,
usia lanjut, dan malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan
merusak organ paru-paru. Kerusakan jaringan paru setelah kolonisasi suatu
mikroorganisme paru banyak disebabkan oleh reaksi imun dan peradangan yang
dilakukan oleh pejamu. Selain itu, toksin-toksin yang dikeluarkan oleh bakteri pada
pneumonia bakterialis dapat secara langsung merusak sel-sel system pernapasan bawah.
Pneumonia bakterialis menimbulkan respon imun dan peradangan yang paling mencolok.
Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru-paru, ataupun seluruh lobus,
bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di
paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru-paru, infeksi dengan cepat
menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bakteri pneumokokus adalah
kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia (Sipahutar, 2007).
Proses pneumonia mempengaruhi ventilasi. Setelah agen penyebab mencapai
alveoli, reaksi inflamasi akan terjadi dan mengakibatkan ektravasasi cairan serosa ke
dalam alveoli. Adanya eksudat tersebut memberikan media bagi pertumbuhan bakteri.
Membran kapiler alveoli menjadi tersumbat sehingga menghambat aliran oksigen ke
dalam perialveolar kapiler di bagian paru yang terkena dan akhirnya terjadi hipoksemia
(Engram 1998).
Setelah mencapai alveoli, maka pneumokokus menimbulkan respon yang khas
terdiri dari empat tahap yang berurutan (Price, 1995 : 711) :
1. Kongesti (24 jam pertama) : Merupakan stadium pertama, eksudat yang kaya protein
keluar masuk ke dalam alveolar melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor,
disertai kongesti vena. Paru menjadi berat, edematosa dan berwarna merah.
2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : Terjadi pada stadium kedua, yang berakhir
setelah beberapa hari. Ditemukan akumulasi yang masif dalam ruang alveolar,
bersama-sama dengan limfosit dan magkrofag. Banyak sel darah merah juga
dikeluarkan dari kapiler yang meregang. Pleura yang menutupi diselimuti eksudat
fibrinosa, paru-paru tampak berwarna kemerahan, padat tanpa mengandung udara,
disertai konsistensi mirip hati yang masih segar dan bergranula (hepatisasi = seperti
hepar).
3. Hepatisasi kelabu (3-8 hari) : Pada stadium ketiga menunjukkan akumulasi fibrin
yang berlanjut disertai penghancuran sel darah putih dan sel darah merah. Paru-paru
tampak kelabu coklat dan padat karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di
dalam alveoli yang terserang.
4. Resolusi (8-11 hari) : Pada stadium keempat ini, eksudat mengalami lisis dan
direabsorbsi oleh makrofag dan pencernaan kotoran inflamasi, dengan
mempertahankan arsitektur dinding alveolus di bawahnya, sehingga jaringan kembali
pada strukturnya semula. (Underwood, 2000 : 392)

F. MANIFESTASI KLINIS
Suriadi dan Rita (2001) menyebutkan manifestasi klinis yang terdapat pada
penderita pneumonia, yaitu :
1. Serangan akut dan membahayakan 4. Reles (ronchi)
2. Demam tinggi (pneumonia virus 5. Wheezing
bagian bawah) 6. Sakit kepala, malaise
3. Batuk 7. Nyeri abdomen

Manifestasi klinis :
Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas. Suhu dapat naik secara
mendadak (38 40 C), dapat disertai kejang (karena demam tinggi).
Gejala khas :
a. Sianosis pada mulut dan hidung.
b. Sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung.
c. Gelisah, cepat lelah.

Batuk mula-mula kering produktif.


Kadang-kadang muntah dan diare, anoreksia.

Manifestasi klinis pada anak


Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi sputum,
napas cuping hidung, sesak napas, merintih dan sianosis. Anak yang lebih besar
dengan pneumonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut
tertekuk karena nyeri dada. Tanda Pneuomonia berupa retraksi atau penarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam saat bernafas bersama dengan peningkatan frekuensi
nafas, perkusi pekak, fremitrus melemah. Suara napas melemah, dan ronkhi.
(Mansjoer,2000,hal 467 )
Gejala penyakit pneumonia berupa napas cepat dan sesak napas, karena paru
meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak
50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan
40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada
anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia. Pneumonia berat
ditandai dengan adanya batuk juga disertai kesukaran bernafas, napas sesak atau
penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan sampai
kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga pneumonia sangat berat,
dengan gejala pneumonia sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas
disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum.
Menurut Muttaqin (2008) pada awalnya keluhan batuk tidak produktif, tapi
selanjutnya akan berkembang menjadi batuk produktif dengan mucus purulen
kekuningan, kehijauan, kecoklatan atau kemerahan, dan sering kali berbau busuk.
Klien biasanya mengeluh mengalami demam tinggi dan menggigil (onset mungkin
tiba tiba dan berbahaya ). Adanya keluhan nyeri dada pleuritis, sesak napas,
peningkatan frekuensi pernapasan, lemas dan nyeri kepala.

G. PEMERIKSAAN FISIK

Pemerikasaan Fisik pada anak


1. Inspeksi
Perlu diperhatikan adanya takipnea dispne, sianosis sirkumoral, pernapasan cuping
hidung, distensi abdomen, batuk semula nonproduktif menjadi produktif, serta nyeri
dada pada waktu menarik napas. Batasan takipnea pada anak berusia 12 bulan 5
tahun adalah 40 kali / menit atau lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding
dada ke dalam pada fase inspirasi. Pada pneumonia berat, tarikan dinding dada
kedalam akan tampak jelas.
2. Palpasi
Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar, fremitus raba mungkin
meningkat pada sisi yang sakit, dan nadi mungkin mengalami peningkatan atau
tachycardia.
3. Perkusi
Suara redup pada sisi yang sakit.
4. Auskultasi
Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara mendekatkan telinga ke hidung /
mulut anak. Pada anak yang pneumonia akan terdengar stridor. Sementara dengan
stetoskop, akan terdengar suara napas berkurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit,
dan ronkhi basah pada masa resolusi. Pernapasan bronchial, egotomi, bronkofoni,
kadang terdengar bising gesek pleura (Mansjoer,2000).

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan penunjang menurut Betz dan Sowden (2002) dapat dilakukan antara lain :
1. Kajian foto thorak diagnostic, digunakan untuk melihat adanya infeksi di paru dan
status pulmoner (untuk mengkaji perubahan pada paru)
2. Nilai analisa gas darah, untuk mengevaluasi status kardiopulmoner sehubungan
dengan oksigenasi
3. Hitung darah lengkap dengan hitung jenis untuk menetapkan adanya anemia, infeksi
dan proses inflamasi
4. Pewarnaan gram (darah) untuk seleksi awal antimikroba
5. Tes kulit untuk tuberkulin mengesampingkan kemungkinan TB jika anak tidak
berespons terhadap pengobatan
6. Jumlah leukosit leukositosis pada pneumonia bakterial
7. Tes fungsi paru, digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas dan
beratnya penyakit dan membantu mendiagnosis keadaan
8. Spirometri statik, digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi
9. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agens penyebabnya seperti virus
dan bakteri
10. Kultur cairan pleura spesimen cairan dari rongga pleura untuk menetapkan agens
penyebab seperti bakteri dan virus
11. Bronkoskopi, digunakan untuk melihat dan memanipulasi cabang-cabang utama dari
pohon trakeobronkhial; jaringan yang diambil untuk diuji diagnostik, secara
terapeutik digunakan untuk menetapkan dan mengangkat benda asing.
12. Biopsi paru selama torakotomi, jaringan paru dieksisi untuk melakukan kajian
diagnostik.

Sedangkan menurut Engram (1998) pemeriksaan penunjang meliputi


1. Leukosit, umumnya pneumonia bakteri didapatkan leukositosis dengan predominan
polimorfonuklear. Leukopenia menunjukkan prognosis yang buruk.
2. Cairan pleura, eksudat dengan sel polimorfonuklear 300-100.000/mm. Protein di
atas 2,5 g/dl dan glukosa relatif lebih rendah dari glukosa darah.
3. Titer antistreptolisin serum, pada infeksi streptokokus meningkat dan dapat
menyokong diagnosa.
4. Kadang ditemukan anemia ringan atau berat.
Pemeriksaan mikrobiologik
1. Spesimen: usap tenggorok, sekresi nasofaring, bilasan bronkus atau sputum darah,
aspirasi trachea fungsi pleura, aspirasi paru.
2. Diagnosa definitif jika kuman ditemukan dari darah, cairan pleura atau aspirasi paru.
Pemeriksaan imunologis
1. Sebagai upaya untuk mendiagnosis dengan cepa
2. Mendeteksi baik antigen maupun antigen spesifik terhadap kuman penyebab.
3. Spesimen: darah atau urin.
4. Tekniknya antara lain: Conunter Immunoe Lectrophorosis, ELISA, latex
agglutination, atau latex coagulation.
Pemeriksaan radiologis, gambaran radiologis berbeda-beda untuk tiap mikroorganisme
penyebab pneumonia.
a. Pneumonia pneumokokus: gambaran radiologiknya bervariasi dari infiltrasi ringan
sampai bercak-bercak konsolidasi merata (bronkopneumonia) kedua lapangan paru
atau konsolidasi pada satu lobus (pneumonia lobaris). Anak dan anak-anak
gambaran konsolidasi lobus jarang ditemukan.
b. Pneumonia streptokokus, gambagan radiologik menunjukkan bronkopneumonia
difus atau infiltrate interstisialis. Sering disertai efudi pleura yang berat, kadang
terdapat adenopati hilus.
c. Pneumonia stapilokokus, gambaran radiologiknya tidak khas pada permulaan
penyakit. Infiltrat mula=mula berupa bercak-bercak, kemudian memadat dan
mengenai keseluruhan lobus atau hemithoraks. Perpadatan hemithoraks umumhya
penekanan (65%), < 20% mengenai kedua paru.

I. PENATALAKSANAAN
Pengobatan umum pasien pasien pneumonia biasanya berupa pemberian antibiotik
yang efektif terhadap organism tertentu, terapi oksigen untuk menanggulangi hipoksemia
dan pengobatan komplikasi seperti pada efusi pleura yang ringan, obat pilihan untuk
penyakit ini adalah penisilin G. (patofisiologi page 806).
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu
waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya:
Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus
Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi menunjukkan tanda-tanda
Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia.
Bila terjadi gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup.

Terapi suportif yang bisa dilakukan, antara lain:


Berikan oksigen
Lakukan fisioterapi dada (lakukan hanya pada daerah yang terdapat sekret )
Tahapan fisioterapi
1. INHALASI
Inhalasi adalah pengobatan dengan cara memberikan obat dalam bentuk uap
kepada pasien langsung melalui alat pernapasannya (hidung ke paru-paru). Alat
terapi inhalasi bermacam-macam. Salah satunya yang efektif bagi anak adalah alat
terapi dengan kompresor (jet nebulizer). Cara penggunaannya cukup praktis yaitu
anak diminta menghirup uap yang dikeluarkan nebulizer dengan menggunakan
masker. Obat-obatan yang dimasukkan ke dalam nebulizer bertujuan melegakan
pernapasan atau menghancurkan lendir. Semua penggunaan obat harus selalu
dalam pengawasan dokter. Dosis obat pada terapi inhalasi jelas lebih sedikit tapi
lebih efektif ketimbang obat oral/obat minum seperti tablet atau sirup, karena
dengan inhalasi obat langsung mencapai sasaran. Bila tujuannya untuk
mengencerkan lendir/sekret di paru-paru, obat itu akan langsung menuju ke sana.

2. PENGATURAN POSISI TUBUH


Tahapan ini disebut juga dengan postural drainage, yakni pengaturan posisi
tubuh untuk membantu mengalirkan lendir yang terkumpul di suatu area ke arah
cabang bronkhus utama (saluran napas utama) sehingga lendir bisa dikeluarkan
dengan cara dibatukkan. Untuk itu, orang tua mesti mengetahui di mana letak
lendir berkumpul.
Caranya:
* Setelah letak lendir berhasil ditemukan (dengan melihat hasil rontgen atau
dengan penjelasan dari dokter mengenai letak dari sekret di paru-paru), atur
posisi anak.
- Bila lendir berada di paru-paru bawah maka letak kepala harus lebih rendah
dari dada agar lendir mengalir ke arah bronkhus utama. Posisi anak dalam
keadaan tengkurap.
- Kalau posisi lendir di paru-paru bagian atas maka kepala harus lebih tinggi
agar lendir mengalir ke cabang utama. Posisi anak dalam keadaan telentang.
- Kalau lendir di bagian paru-paru samping/lateral, maka posisikan anak dengan
miring ke samping, tangan lurus ke atas kepala dan kaki seperti memeluk
guling.

3. PEMUKULAN/PERKUSI
Teknik pemukulan ritmik dilakukan dengan telapak tangan yang melekuk pada
dinding dada atau punggung. Tujuannya melepaskan lendir atau sekret-sekret
yang menempel pada dinding pernapasan dan memudahkannya mengalir ke
tenggorok. Hal ini akan lebih mempermudah anak mengeluarkan lendirnya.
Caranya:
* Lakukan postural drainage. Bila posisinya telentang, tepuk-tepuk (dengan
posisi
tangan melekuk) bagian dada sekitar 3-5 menit. Menepuk anak cukup dilakukan
dengan menggunakan 3 jari.
* Dalam posisi tengkurap, tepuk-tepuk daerah punggungnya sekitar 3-5 menit.
* Dalam posisi miring, tepuk-tepuk daerah tubuh bagian sampingnya. Setelah
itu lakukan vibrasi (memberikan getaran) pada rongga dada dengan
menggunakan tangan (gerakannya seperti mengguncang lembut saat
membangunkan anak dari tidur). Lakukan sekitar 4-5 kali.
Observasi tanda vital
Kaji dan catat pengetahuan serta partisipasi keluarga dalam perawatan, misalnya,
pemberian obat serta pengenalan tanda dan gejala inefektivitas pola napas.
Ciptakan lingkungan yang nyaman

J. KOMPLIKASI
a. Demam menetap / kambuhan akibat alergi obat
b. Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna) terjadi karena obstruksi
bronkus oleh penumukan sekresi
c. Efusi pleura (terjadi pengumpulan cairan di rongga pleura)
d. Empiema (efusi pleura yang berisi nanah)
e. Delirium terjadi karena hipoksia
f. Super infeksi terjadi karena pemberian dosis antibiotic yang besar. Ex: penisilin
g. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
h. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
i. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.

K. PROGNOSIS
Dengan pengobatan sebagian tipe dari pneumoni karena bakteri dapat diobati
dalam 1-2 minggu. Pneumoni karena virus mungkin berakhir lama, pneumonia karena
mikoplasma memerlukan 4-5 minggu. Hasil akhir dari episode pneumoni tergantung
dari bagaimana seseorang sakit, kapan dia didiagnosis pertama kali. (fransisca S. 2000)
Dengan pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat
diturunkan sampai kurang dari 1%. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan
yang datang terlambat menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi.
BAB II
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

1. PENGKAJIAN
DS :
Pasien mengeluh sesak nafas
Ibu pasien mengatakan pasien mengalami diare dan muntah sebanyak 3x selama
dirawat di rumah sakit
Ibu pasien mengatakan pasien lahir dengan BB 2300gr, dan pasien lahir prematur
Ibu pasien mengatakan ayah pasien merokok dan pasien tinggal di pemukiman padat
penduduk
Ibu pasien mengatakan anaknya mengalami batuk kering kemudian menjadi batuk
berdahak.
Ibu pasien mengatakan pasien tidak eksklusif karena dia sibuk bekerja
DO :
RR : 55X/ menit
PCH (pernafasan cuping hidung) positif
Pasien tampak rewel
Pasien tampak lesu
Pernafasan pasien tampak dangkal dan cepat
Retraksi intercosta (IC) positif
Tax : 390 C
Pasien tampak tidak menyusu
Tampak sianosis di sekitar area hidung dan mulut pasien
Sekret (+), berwarna kuning kehijauan dan kental
Mukosa bibir pasien tampak kering
Turgor kulit pasien lambat
Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Perlu diperhatikan adanya takipnea dispne, sianosis sirkumoral, pernapasan cuping
hidung, distensi abdomen, batuk semula nonproduktif menjadi produktif, serta nyeri
dada pada waktu menarik napas. Batasan takipnea pada anak berusia 12 bulan 5
tahun adalah 40 kali / menit atau lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding
dada ke dalam pada fase inspirasi. Pada pneumonia berat, tarikan dinding dada
kedalam akan tampak jelas.
2. Palpasi
Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar, fremitus raba mungkin
meningkat pada sisi yang sakit, dan nadi mungkin mengalami peningkatan atau
tachycardia.
3. Perkusi
Suara redup pada sisi yang sakit.
4. Auskultasi
Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara mendekatkan telinga ke hidung /
mulut anak. Pada anak yang pneumonia akan terdengar stridor. Sementara dengan
stetoskop, akan terdengar suara napas berkurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit,
dan ronkhi basah pada masa resolusi. Pernapasan bronchial, egotomi, bronkofoni,
kadang terdengar bising gesek pleura (Mansjoer,2000).

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


a. Gangguan pertukaran gas b.d. perubahan membran aveolar-kapiler ditandai dengan
Gas Darah Arteri abnormal, PH artery abnormal,sianosis,nafas cuping hidung,dan
gelisah (rewel)
b. Hipertermia b.d. dehidrasi dan penyakit ditandai dengan peningkatan suhu tubuh
diatas normal, dan kulit terasa hangat.
c. Kekurangan volume cairan b.d. kehilangan cairan keluarga aktif ditandai dengan
penurunan turgor kulit, memebran mukosa kering, dan peningkatan suhu tubuh.
d. Ketidakefektifan regimen terapeutik keluarga b.d. konflik keputusan ditandai dengan
ketidakefektifan aktifitas kluaraga untuk memenuhi tujuan kesehatan.
e. Resiko keterlambatan perkembangan b.d nutrisi yang tidak adekuat, dan prematuritas
3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan dan kreteria Intervensi Rasional Evaluasi


hasil
1. Gangguan pertukaran Setelah dilakukan NIC label
gas b.d. perubahan tindakan keperawatan Respiratory Monitoring
membran aveolar- selama 4x 24 jam 1. Monitor laju ritme dari nafas 1. Untuk mengetahui status S:-
kapiler ditandai dengan diharapkan pertukaran 2. Monitor suara nafas tambahan pernapasan pasien O : hasil nilai AGD
Gas Darah Arteri gas adekuat dengan seperti snoring 2. Untuk mengetahui apabila dalam batas normal :
abnormal, PH artery kreteria hasil : 3. Monitor peningkatan kelelahan adanya kelainan pada Ph dalam batas
abnormal,sianosis,nafas NOC label 4. Monitor peningatan saluran pernapasan normal (7,35-
cuping hidung,dan Respiratory status kegelisahan, dan kekurangan 3. Utuk memantau keadaan 7,35)
gelisah (rewel) RR normal (skla 5) oksigen fisik pasien PCO2 dalam
Ritme respiratory 5. Monitor sekresi dari sistem 4. Untuk memantau dan batas normal
normal (skala 5) pernafasan pasien mengurangi kecemasan dari (35-45)
Kedalaman nafas 6. Berikan terapi perawatan pasien HCO3 dalam
normal (skala 5) nebulizer sesuai kebutuhan 5. Untuk memantau adanya batas normal
Akumulasi sputum Oxigen therapy sekret pada saluran napas (22-26)
tidak ada (skala 5) 7. Bersihkan skresi mulut hidung klien SaO2 dalam
Respiratory status :Gas dan trakea sesuai kebutuhan 6. Untuk mengencerkan dan batas normal
exchange 8. Memeberikan terapi oksigen mempermudah sekret 95 %
Tekanan parsial sesuai kebutuhan keluar dari saluran PO2 dalam
karbondioksida 9. Monitor aliran oksigen pernapasan batas normal
10. Monitor kerusakan kulit dari
pada darah arteri gesekan dengan selang oksigen 7. Untuk mempermudah jalan (80-100 %)
normal (skala 5) napas
pH arteri normal 8. Mengatasi terjadinya defisit A : Tujuan tercapai
(skala 5) O2 sebagian
Tidak terjadi 9. memastikan kebutuhan
sianosis (skala 5) oksigen yang sesuai untuk P : Lanjutkan
klien intervensi
10. mencegah terjadinya iritasi
pada kulit

2. Hipertermia b.d. Setelah dilakukan NIC : Vital Signs Monitoring S : pasien


dehidrasi dan penyakit tindakan keperawatan 1. Monitor TTV pasien (tekanan 1. Untuk mengetahui kondisi mengatakan
ditandai dengan selama 4x 24 jam darah, nadi, suhu, dan umum pasien. tubuhnya tidak
peningkatan suhu tubuh diharapkan suhu tubuh pernapasan). 2. Untuk memantau adanya terasa panas lagi.
diatas normal, dan kulit pasien dalam batas 2. Monitor dan laporkan tanda dan peningkatan suhu tubuh O : tubuh pasien
terasa hangat. normal dengan kriteria gejala hipertermi. pasien. tidak teraba panas.
hasil : 3. Kaji warna kulit, suhu, 3. Untuk mengetahui adanya A : tujuan tercapai.
NOC : Vital Signs kelembapan. tanda dan gejala P : pertahankan
- Suhu tubuh dalam 4. Identifikasi kemungkinan hipertermi. kondisi
batas normal (36- penyebab perubahan tanda vital. 4. Agar dapat mengontrol
37,50C) dengan NIC : Temperatur Regulation perubahan TTV pasien.
skala 5. 5. Anjurkan penggunaan selimut 5. Untuk membuat tubuh
TTV dalam rentang hangat untuk menyesuaikan merasa nyaman.
normal (tekanan darah, perubahan suhu tubuh. 6. Untuk menghindari
nadi, pernapasan) 6. Anjurkan asupan nutrisi dan terjadinya dehidrasi.
dengan skala 5. cairan adekuat. 7. Untuk menurunkan panas
NIC : Fever Treatment badan.
7. Anjurkan pemberian kompres
hangat.
3. Kekurangan volume Setelah dilakukan NIC label: Fluid management
cairan b.d. kehilangan tindakan keperawatan 1.Monitoring status hidrasi 1. Untuk mengetahui status S: ibu mengatakan
cairan keluarga aktif selama 4x 24 jam (kelembaban membrane mukosa, hidrasi pasien bahwa anaknya
ditandai dengan diharapkan kebutuhan nadi yang adekuat) secara tepat 2. Untuk memastikan jumlah sudah tidak rewel
penurunan turgor kulit, volume cairan pasien 2.Atur catatan intake dan output cairan yang masuk dan lagi, tidak demam
memebran mukosa terpenuhi dengan cairan secara akurat keluar lagi, masih ada diare
kering, dan kriteria hasil : 3.Beri cairan yang sesuai 3. Untuk memenuhi kebutuhan
peningkatan suhu Noc label: Fluid monitoring: cairan pasien O: turgor kulit
tubuh. Hydrasi: 4.Identifikasi factor risiko 4. Untuk mengetahui factor pasien sudah
- Turgor kulit ketidakseimbangan cairan risiko ketidakseimbangan membaik, intake dan
kembali normal (hipertermi, infeksi, muntah dan cairan dan mencegah secara output cairan px
(skala 5) diare) dini factor tersebut seimbang
- Membrane mukosa 5.Monitoring tekanan darah, nadi 5. Komplikasi letal dapat
tampak lembab dan RR terjadi selama awal periode A: tujuan tercapai
(skala 5) IV teraphy: pengobatan antimikroba. sebagian
- Intake cairan yang 6.Lakukan 5 benar pemberian Kurva suhu tubuh
adekuat (skala 5) terapi infuse (benar obat, dosis, memberikan indeks respon P: lanjutkan
- Tidak terdapat pasien, rute, frekuensi) pasien terhadap terapi. intervensi
diare (skala 5) 7.Monitoring tetesan dan tempat Hipotensi yang terjadi dini
Fluid balance: IV selama pemberian pada perjalanan penyakit
- Nadi normal (skala Diarrhea managemenet: dapat mengindikasikan
5) 8. Monitoring tanda dan gejala hipoksia atau bakterimia.
- Intake dan output diare Antipiretik diberikan dengan
cairan seimbang 9. Ketahui penyebab diare kewaspadaan, karena
dalam sehari(skala 10. Evaluasi mengenai pengobatan antipiretik dapat
5) terhadap efek gastrointestinal mengakibatkan penurunan
11. Instruksikan keluarga untuk suhu dan dengan demikian
memantau warna, volume, mengganggu evalusasi kurva
frekuensi dan konsistensi feses suhu
12. Monitoring kulit dan perianal 6. Untuk memastikan terapi
pasien untuk mengethui adanya diberikan secara benar
iritasi dan ulserasi 7. Untuk memastikan
pemberian terapi diberikan
secara tepat
8. Untuk mengetahui tanda dan
gejala diare
9. Untuk mengetahui apa factor
penyebab dari diare
10. Untuk mengetahui efek
obat terhadap
gastrointestinal
11. Untuk mengetahui
perubahan penyakit pasien
12. Untuk mengetahui
adanya iritasi dan perlukaan
pada kulit pasien
4. Ketidakefektifan Setelah dilakukan NIC label :
regimen terapeutik tindakan keperawatan Family Involvement Promotion S : keluarga
keluarga b.d. konflik selama 4x 24 jam 1. Indentifikasi kemampuan 1. untuk mengetahui seberapa mengatakan mau
keputusan ditandai diharapkan regimen keterlibatan keluarga dalam jauh tingkat pengetahuan ikut berpartisipasi
dengan terapeutik keluarga perawatan pasien keluarga klien dalam penyediaan
ketidakefektifan efektif 2. Identifikasi harapan keluarga 2. untuk mengetahui tingkat keperawatan
aktifitas kluaraga untuk NOC label : terhadap pasien kepedulian keluarga
memenuhi tujuan Family participation in 3. Ajak anggota keluarga dan terhadap pasien O : keluarga tampak
kesehatan professtional care pasien untuk ikut dalam 3. keterlibatan keluarga dalam mampu mengikuti
Partisipasi pada perencanaan perawatan perawatan akan menambah dan mendukung
rencana perawatan mencakup hasil yang motifasi klien. proses keperawatan
(skala 5) diharapkan dan tindakan dari 4. mengetahui mekanisme pasien
Partisipasi pada rencana keperawatann koping keluarga berkaitan
penyediaan 4. Identifikasi mekanisme koping dengan pemberian asuhan A : Tujuan tercapai
perawatan yang digunakan oleh keluarga keperawatan sebagian
Evaluasi dari 5. berikan informasi krusial pada 5. pemberian informasi yang
efektifitas dari keluarga pasien tentang kondisi benar kepada keluarga P : Lanjutkan
perawatan pasien bertujuan untuk mengurangi intervensi
kecemasan keluarga
terhadap pasien

Resiko keterlambatan Child development : 2 NIC Label : S: -


perkembangan b.d nutrisi month Developmental Care
yang tidak adekuat, dan - anak tersenyum 1. Ciptakan hubungan terapeutik 1. teciptanya hubungan yang O: terlihat
prematuritas (skala 5) dan mendukung dengan terapeutik dan ssaling perkembangan anak
- refleks menggenggam keluarga mendukung dengan keluarga yang semakin
(skala 5) 2. Sediakan keluarga dengan bertujuan untuk membaik dan sesuai
- menampilkan akurat, informasi yang actual mempermudah perawat dengan umur anak
ketertarikan dalam berkenaan dengan kondisi, dalam pemberian intervensi
rangsang suara (skala 5) pengobatan dan kebutuhan anak. 2. agar keluarga mengetahui A: tujuan tercapai
- menampilkan 3. Iinformasikan keluarga tentang apa saja yang perlu
ketertarikan dalam pentingnya perkembangan dan dilakukan untuk mendukung P: pertahankan
rangsangan visual persoalan anaknya pemenuhan kebutuhan dan kondisi pasien
(skala 5) 4. Monitor stimulus (contohnya kelancaran tumbuh kembang
- Berinteraksi dengan cahaya, kegaduhan), lingkungan anak
gembira terutama anak dan kurani sebagaimana 3. agar keluarga mengetahui
dengan tenaga (skala 5) mestinya tentang pentingnya menjaga
- Family functioning 5. Sediakan tempat duduk yang perkembangan anak
(kekuatan dari system nyaman di area yang tenang 4.stimulus yang berlebihan
keluarga untuk untuk menyusui akan dapat mengganggu
mencapai kebutuhan 6. Gunakan gerakan yang lambat, perkembangan anak
anggota keluarga lemah lembut ketika 5.menyediakan tempat yang
selama transisi menggendong, menyusui dan nyaman untuk ibu menyusui
perkembangan mental) merawat anak 6.Memberikan sentuhan yang
- Meregulasi kebiasaan 7. Pertimbangkan partisipasi lembut untuk mnciptakan
anggota keluarga (skala keluarga dalam menyusui kenyaman bagi anak
5) 8. Dukung keinginan ibu untuk 7.Partisipasi keluarga penting
menyusui dalam menyusui
9. Sediakan stimulasi 8.Pemberian ASI sangan
menggunakan rekaman music penting dalam pembentukan
instrumental dan lain-lainnya anti body anak
sebagaimana mestinya 9.Meningkatkan stimulasi
perkembangan si anak
DAFTAR PUSTAKA

Price, S. A 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 4 : Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Smeltzer,Suzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &Suddarth


volume 1.Jakarta:EGC

Carpenito, Lynda Juall.1995.Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis.Jakarta :


EGC

Nanda. 2011. Diagnostik keperawatan. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC

Dochterman, Joanne McCloskey et al.2004.Nursing Interventions Classification


(NIC).Missouri : Mosby

Moorhead, Sue et al. 2008.Nursing Outcome Classification (NOC).Missouri : Mosby