Anda di halaman 1dari 70

PENGARUH METODE MASASE TERHADAP NYERI

PERSALINAN KALA I FASE AKTIF PADA IBU


INPARTU DI KLINIK BERSALIN SALLY MEDAN

PLORA N.F SINAGA


NIM : 105102066

KARYA TULIS ILMIAH


PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Karya Tulis Ilmiah , Mei 2011


Plora N.F Sinaga
Pengaruh Metode Masase Terhadap Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif pada
Ibu Inpartu di Klinik Bersalin Sally Medan Tahun 2011

viii + 40 hal + 6 tabel + 2 skema + 1 grafik + 10 lampiran


Abstrak
Persalinan suatu proses membuka dan menipisnya serviks serta terjadi kontraksi
uterus sehingga menyebabkan nyeri pada proses persalinan. Manajemen nyeri persalinan
dapat diterapkan secara nonfarmakologis, salah satunya adalah masase yang bertujuan
melepaskan senyawa endorphin sehingga mengurangi nyeri, mengurangi kecemasan dan
waktu persalinan lebih pendek secara bermakna. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi pengaruh metode masase terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy-eksperimen yang
bersifat two group pretest-postest. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 38 orang
dimana 19 kelompok intervensi dan 19 kelompok kontrol, dengan teknik pengambilan
sampel simple random sampling. Analisa data yang digunakan adalah uji t-dependen dan
t-independen. Hasil penelitian diperoleh karakteristik responden kelompok intervensi
sebagian besar responden berusia 24-29 tahun sebanyak 8 orang (42,1%), paritas >2
anak) sebanyak 8 orang (42,1%), dan tingkat pendidikan adalah SMA sebanyak 14
orang (73,7%). Sedangkan pada kelompok kontrol sebagian besar responden berusia 24-
29 tahun sebanyak 7 orang (36,8%), paritas >2 anak sebanyak 9 orang (47,4%), dan
tingkat pendidikan SMA sebanyak 18 orang (94,7%). Intensitas nyeri pada kelompok
intervensi sebelum dilakukan masase rata-rata 7,26 dan sesudah rata-rata 4,74 sedangkan
pada kelompok kontrol sebelum dilakukan masase rata-rata 7,00 dan sesudah rata-rata
6,16. Hasil uji t-dependen intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan masase pada
kelompok intervensi diperoleh nilai P=0,000 dan pada kelompok kontrol sebelum dan
sesudah dilakukan masase diperoleh nilai P=0,007. Hasil uji t-independen dapat
disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan sesudah dilakukan metode masase
pada kelompok intervensi yaitu nilai P=0,001. Dari hasi penelitian ini diketahui bahwa
adanya pengaruh metode masase terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I
fase aktif pada ibu inpartu. Sehingga disarankan supaya bidan menerapkan metode
masase sebagai intervensi mengurangi nyeri dalam asuhan ibu bersalin normal.

Daftar Pustaka : 21 (1997 2010)


Kata Kunci : Metode masase , nyeri persalinan kala I fase aktif

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan

rahmatNya peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Pengaruh

Metode Masase Terhadap Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Pada Ibu Inpartu di

Klinik Bersalin Sally Medan Tahun 2011.

Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, peneliti banyak menerima bantuan moril

maupun materil dari berbagai pihak, untuk itu peneliti ingin mengucapkan terima kasih

kepada :

1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes, Selaku Dekan Fakultas Keperawatan USU.

2. Nur Asnah Sitohang, S,Kep, Ns, M.Kep. selaku ketua program studi D-IV Bidan

Pendidik Fakultas Keperawatan USU dan dosen pembimbing dalam penulisan

Karya Tulis Ilmiah yang telah memberi arahan dan bimbingan.

3. dr. Juliandi Harahap, MA selaku dosen pembimbing Akademik peneliti.

4. Seluruh dosen, staf dan pegawai administrasi program D-IV Bidan Pendidik

Fakultas Keperawatan USU.

5. Bidan R.Sianturi, AMKeb., selaku pimpinan klinik bersalin Sally yang telah

memberikan izin penelitian.

6. Ayahanda dan Ibunda yang telah memberikan dukungan, motivasi dan doa.

Universitas Sumatera Utara


7. Teman- teman satu bimbingan yang selalu bersama dalam suka dan duka selama

menyelesaikan karya tulis ilmiah.

8. Teman- teman D-IV Bidan Pendidik yang telah memberikan dukungan, dan

semua pihak yang telah mendukung dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari

kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat

membangun untuk kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini sehingga bermanfaat bagi

pembaca untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Medan, Mei 2011

Penulis

Plora N.F Sinaga

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK
KATA PENGANTAR .............................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................ iii
DAFTAR TABEL .................................................................................... v
DAFTAR SKEMA ................................................................................... vi
DAFTAR GRAFIK .................................................................................. vii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ viii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah.............................................................................. 5
C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 6
1. Tujuan Umum .............................................................................. 6
2. Tujuan Khusus ............................................................................. 6
D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 7
1. Bagi Praktek Kebidanan.......................................................... 7
2. Bagi Pendidikan Kebidanan .................................................... 7
3. Bagi Penelitian Kebidanan ...................................................... 7
4. Bagi Responden ...................................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Persalinan .......................................................................................... 8
B. Nyeri Persalinan ................................................................................ 10
C. Masase .............................................................................................. 19
1. Pengertian Masase .................................................................. 19
2. Metode Masase ...................................................................... 20

Universitas Sumatera Utara


3. Prosedur Penatalaksanaan Masase .......................................... 21
BAB III KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep .............................................................................. 23


B. Hipotesis............................................................................................ 23
C. Defenisi Operasiosional ..................................................................... 24
BAB IV METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian ............................................................................... 26


B. Populasi dan Sampel .......................................................................... 27
C. Tempat Penelitian .............................................................................. 28
D. Waktu Penelitian ............................................................................... 28
E. Etika Penelitian.................................................................................. 29
F. Alat Pengumpulan Data ..................................................................... 29
G. Validitas dan Realibilitas ................................................................... 30
H. Prosedur Pengumpulan Data .............................................................. 30
I. Analisis Data ..................................................................................... 32
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil ............................................................................................... 34

B. Pembahasan .................................................................................... 42

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan...................................................................................... 45
B. Saran................................................................................................ 46

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 : Distribusi responden berdasarkan karakteristik data demografi ibu inpartu
pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Klinik Bersalin Sally
Medan Februari-April 2011 35
Tabel 5.2 : Distribusi responden berdasarkan intensitas nyeri ibu inpartu sebelum dan
sesudah dilakukan intervensi pada kelompok intervensi di Klinik Bersalin
Sally Medan Februari-April 2011. 36
Tabel 5.3 : Distribusi responden berdasarkan intensitas nyeri ibu inpartu sebelum dan
sesudah dilakukan intervensi pada kelompok kontrol di Klinik Bersalin
Sally Medan Februari-April 2011. 37
Tabel 5.4 : Perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pada
kelompok intervensi di Klinik Bersalin Sally Medan Februari-April
2011. 40
Tabel 5.5 : Perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pada
kelompok kontrol di Klinik Bersalin Sally Medan Februari-April
2011.. 41
Tabel 5.6 : Perbandingan intensitas nyeri sesudah dilakukan masase pada kelompok
intervensi dan kelompok kontrol di Klinik Bersalin Sally Medan Februari-
April 2011. 42

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR SKEMA

Skema 1 : Kerangka Konsep. 20

Skema 2 : Desain Penelitian.. 23

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR GRAFIK

Grafik 1 : Intensitas nyeri pretest dan posttest pada kelompok intervensi dan kelompok

kontrol setiap kontraksi pada ibu inpartu kala I fase aktif di Klinik Bersalin

Sally Medan... 38

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 2 : Kuisioner

Lampiran 3 : Prosedur Pelaksanaan Masase

Lampiran 4 : Protap Penelitian

Lampiran 5 : Surat Izin Survei Pendahuluan

Lampiran 6 : Surat Izin Data Penelitian

Lampiran 7 : Balasan Surat Izin Pelaksanaan Penelitian

Lampiran 8 : Balasan Surat Selesai Melaksanakan Penelitian

Lampiran 8 : Master Tabel Penelitian

Lampiran 10 : Hasil Output Data Penelitian

Lampiran 11 : Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah

Universitas Sumatera Utara


PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Karya Tulis Ilmiah , Mei 2011


Plora N.F Sinaga
Pengaruh Metode Masase Terhadap Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif pada
Ibu Inpartu di Klinik Bersalin Sally Medan Tahun 2011

viii + 40 hal + 6 tabel + 2 skema + 1 grafik + 10 lampiran


Abstrak
Persalinan suatu proses membuka dan menipisnya serviks serta terjadi kontraksi
uterus sehingga menyebabkan nyeri pada proses persalinan. Manajemen nyeri persalinan
dapat diterapkan secara nonfarmakologis, salah satunya adalah masase yang bertujuan
melepaskan senyawa endorphin sehingga mengurangi nyeri, mengurangi kecemasan dan
waktu persalinan lebih pendek secara bermakna. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi pengaruh metode masase terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy-eksperimen yang
bersifat two group pretest-postest. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 38 orang
dimana 19 kelompok intervensi dan 19 kelompok kontrol, dengan teknik pengambilan
sampel simple random sampling. Analisa data yang digunakan adalah uji t-dependen dan
t-independen. Hasil penelitian diperoleh karakteristik responden kelompok intervensi
sebagian besar responden berusia 24-29 tahun sebanyak 8 orang (42,1%), paritas >2
anak) sebanyak 8 orang (42,1%), dan tingkat pendidikan adalah SMA sebanyak 14
orang (73,7%). Sedangkan pada kelompok kontrol sebagian besar responden berusia 24-
29 tahun sebanyak 7 orang (36,8%), paritas >2 anak sebanyak 9 orang (47,4%), dan
tingkat pendidikan SMA sebanyak 18 orang (94,7%). Intensitas nyeri pada kelompok
intervensi sebelum dilakukan masase rata-rata 7,26 dan sesudah rata-rata 4,74 sedangkan
pada kelompok kontrol sebelum dilakukan masase rata-rata 7,00 dan sesudah rata-rata
6,16. Hasil uji t-dependen intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan masase pada
kelompok intervensi diperoleh nilai P=0,000 dan pada kelompok kontrol sebelum dan
sesudah dilakukan masase diperoleh nilai P=0,007. Hasil uji t-independen dapat
disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan sesudah dilakukan metode masase
pada kelompok intervensi yaitu nilai P=0,001. Dari hasi penelitian ini diketahui bahwa
adanya pengaruh metode masase terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I
fase aktif pada ibu inpartu. Sehingga disarankan supaya bidan menerapkan metode
masase sebagai intervensi mengurangi nyeri dalam asuhan ibu bersalin normal.

Daftar Pustaka : 21 (1997 2010)


Kata Kunci : Metode masase , nyeri persalinan kala I fase aktif

Universitas Sumatera Utara


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia sehat adalah suatu gambaran kondisi Indonesia di masa depan, yakni

masyarakat, bangsa, dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam

lingkungan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan menjangkau pelayanan

kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta mencapai derajat kesehatan yang

setinggi-tingginya di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Visi Depkes

2010-2014 adalah masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan (Depkes, 2009, 2).

Meningkatkan derajat kesehatan yang adil dan merata diperlukan sikap respontif

dan efektif dalam melakukan suatu tindakan untuk memberi kenyamanan dan

menghindari resiko yang akan terjadi seperti resiko kehamilan dan persalinan. Persalinan

merupakan suatu hal yang fisiologis bagi seluruh wanita di dunia, walaupun sebagian

besar ibu inpartu merasa tegang, takut dan menyakitkan menghadapi proses persalinan.

Persalinan suatu proses membuka dan menipisnya serviks serta terjadi kontraksi

uterus sehingga menyebabkan nyeri pada proses persalinan. Penelitian yang dilakukan

oleh Niven dan Gijsbers (1984) bertujuan untuk melihat perbandingan intensitas nyeri

persalinan dengan nyeri lain diperoleh hasil bahwa nyeri persalinan melebihi sindrom

Universitas Sumatera Utara


nyeri lain seperti, 88% dari 73 penderita nyeri tungkai menerima intervensi

farmakologis, 76% dari sampel (n=200) mengalami nyeri punggung selama kehamilan

dengan insiden puncak pada usia kehamilan 24-28 minggu yang mengganggu aktivitas

normal ibu, maka nyeri harus diberi intervensi metode pengendali nyeri demi

kenyamanan dan keringanan si penderita (Mander R., 2003, hal. 140).

Nyeri adalah proses alamiah dalam persalinan. Apabila tidak diatasi dengan baik

akan menimbulkan masalah lain yaitu meningkatnya kecemasan karena kurangnya

pengetahuan dan belum ada pengalaman pada ibu primigravida saat menghadapi

persalinan sehingga produksi hormon adrenalin meningkat dan mengakibatkan

vasokonstriksi yang menyebabkan aliran darah ibu ke janin menurun. Janin akan

mengalami hipoksia sedangkan ibu akan mengalami persalinan lama dan dapat

meningkatkan tekanan sistolik dan diastolik.

Departemen WHO Membuat Kehamilan Lebih Aman (MPS) yang pada dasarnya

menekankan pada penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang terampil

untuk mengurangi angka kematian bayi dan kematian ibu secara signifikan pada tahun

2015 dengan diteksi dini, antenatal care, penatalaksanaan persalinan dan nifas yang baik

(WHO, 2010, 1). Pada masyarakat primitif, persalinan lebih lama dan nyeri, sedangkan

masyarakat yang telah maju 7-14% bersalin tanpa rasa nyeri dan sebagian besar (90%)

persalinan disertai rasa nyeri (Prawirohardjo, S., 2005).

Manajemen nyeri persalinan dapat diterapkan secara non farmakologis dan

farmakologis. Pendekatan secara non farmakologis tanpa penggunaan obat-obatan

Universitas Sumatera Utara


seperti relaksasi, masase, akupresur, akupunktur, kompres panas atau dingin dan

aromaterapi, sedangkan secara farmakologis melalui penggunaan obat-obatan.

Manajemen nyeri non farmakologis lebih aman, sederhana dan tidak menimbulkan efek

merugikan serta mengacu kepada asuhan sayang ibu, dibandingkan dengan metode

farmakologi yang berpotensi mempunyai efek yang merugikan.

Penelitian Sylvia T Brown (2001) yang bertujuan untuk melihat pengaruh metode

nonfarmakologi terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan dengan 10 metode

nonfarmakologi yang dilakukan pada 46 orang sampel diperolah hasil bahwa teknik

pernapasan, relaksasi, akupresur, masase merupakan teknik paling efektif menurunkan

nyeri saat persalinan (Arifin, L., 2008, 2).

Tubuh memiliki pereda nyeri alamiah yaitu endorphin. Endorpin bisa diperoleh

dengan masase (Nolan, 2003). Masase adalah melakukan tekanan tangan pada jaringan

lunak tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi untuk meredakan nyeri.

Hanya 19,3% wanita mendapat masase untuk meredakan nyeri dan hanya 5% bidan

dilaporkan menggunakan metode ini bagi wanita secara individu. Ketidaksesuaian ini

berlawanan dengan pemberian obat seperti petidin, yang dilaporkan 37,8 % oleh bidan

(Mander, R., 2003, hal. 163).

Dalam persalinan, masase membantu ibu lebih rileks dan nyaman selama

persalinan. Ibu yang yang di masase 20 menit setiap jam selama tahapan persalinan yang

dilakukan oleh petugas kesehatan, keluarga pasien ataupun pasien itu sendiri akan lebih

bebas dari rasa sakit, karena masase meransang tubuh melepaskan senyawa endorphin.

Universitas Sumatera Utara


Banyak bagian tubuh ibu bersalin yang dapat di masase, seperti kepala, leher, punggung

dan tungkai. Saat memijat, pemijat harus memperhatikan respon ibu apakah tekanan

yang diberikan sudah tepat (Meiliasari, M., dan Danuatmaja, B., 2004, hal. 67).

Penelitian Rahmadani (2009) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat

punggung terhadap nyeri persalinan yang dilakukan pada 9 orangibu primipara

kelompok intervensi dan 9 orang kelompok kontrol selama 30 menit dengan

menggunakan desain quasy eksperimen diperoleh hasil bahwa sebelum dilakukan pijat,

intensitas nyeri rata-rata 7,33 dan setelah dilakukan pijat punggung intensitas nyeri rata-

rata 4,56. Hal ini menunjukkan bahwa pijat punggung dapat menurunkan intensitas nyeri

persalinan pada ibu primipara kala I.

Penelitian Gadysa (2006) yang bertujuan untuk melihat pengaruh Massage

Abdominal Lifting dengan menggunakan desain kualitatif pada 3 ibu inpartu diperoleh

hasil bahwa 2 orang setuju dilakukan masase karena dapat mengurangi nyeri persalinan

sedangkan 1 orang tidak nyaman dengan tindakan tersebut, sehingga disimpulkan bahwa

Massage Abdominal Lifting dapat digunakan sebagai pertolongan pertama untuk

mengurangi nyeri persalinan.

Penelitian Ratih (2010) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode masase

yaitu Massage effleurage terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan dengan

menggunakan desain quasi eksperimen memberi hasil yang signifikan antara intensitas

nyeri sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pada kala I persalinan, sehingga

disimpulkan bahwa masase ini efektif mengurangi intensitas nyeri persalinan.

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti tanggal 22 September

2010 dengan metode wawancara pada 7 orang ibu bersalin, menyatakan bahwa mereka

belum pernah mendengar tentang metode masase untuk mengurangi intensitas nyeri

persalinan. Dari pengalaman 7 orang ibu bersalin tersebut, 5 orang mengatakan bahwa

selama kontraksi ibu memperoleh tindakan pijat di punggung dan di pinggang yang

dilakukan bidan dan pendamping persalinan, dan bidan menyuruh ibu untuk mencari

posisi yang nyaman dan menarik nafas selama kontraksi, sedangkan 2 orang ibu hanya

dianjurkan mengatur posisi yang nyaman dan menarik napas saat kontraksi. Hasil

wawancara 13 orang bidan, 10 orang melakukan pijat pada punggung, pinggang ataupun

sentuhan pada perut sedangkan 3 orang hanya menganjurkan pendamping persalinan

untuk melakukan tindakan tersebut. Berdasarkan data di atas peneliti tertarik untuk

melanjutkan penelitian sebelumnya tentang pengaruh metode masase terhadap nyeri

persalinan pada ibu inpartu kala I fase aktif dengan teknik deep back massage.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil penelitian di atas dan hasil survei pendahuluan peneliti, maka

peneliti merumuskan masalah penelitian bagaimana pengaruh metode masase terhadap

nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I fase aktif di Klinik Bersalin Sally Medan.

Universitas Sumatera Utara


C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengidentifikasi pengaruh metode masase terhadap nyeri persalinan pada ibu

inpartu kala I fase aktif.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi karakteristik responden

b. Mengidentifikasi skala nyeri sebelum dilakukan masase pada ibu inpartu kala I

fase aktif pada kelompok intervensi

c. Mengidentifikasi skala nyeri sesudah dilakukan masase pada ibu inpartu kala I

fase aktif pada kelompok intervensi

d. Mengidentifikasi skala nyeri sebelum dilakukan masase pada ibu inpartu kala I

fase aktif pada kelompok kontrol

e. Mengidentifikasi skala nyeri sesudah dilakukan masase pada ibu inpartu kala I

fase aktif pada kelompok kontrol

f. Membandingkan skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan masase pada ibu

inpartu kala I fase aktif pada kelompok intervensi

g. Membandingkan skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan masase pada ibu

inpartu kala I fase aktif pada kelompok kontrol

h. Membandingkan skala nyeri setelah dilakukan masase pada ibu inpartu kala I fase

aktif pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.

i.

Universitas Sumatera Utara


D. Manfaat Penelitian

1. Bagi praktek kebidanan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu intervensi asuhan saying

ibu pada persalinan kala I dalam penerapan asuhan kebidanan.

2. Bagi pendidikan kebidanan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pengembangan ilmu pada mata kuliah

asuhan kebidanan khususnya ASKEB II (persalinan).

3. Bagi penelitian kebidanan

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memberi data bagi penelitian

selanjutnya yang sejenis.

4. Bagi responden

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu intervensi untuk

mengurangi intensitas nyeri ibu selama proses persalinan kala I fase aktif.

Universitas Sumatera Utara


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Persalinan

1. Pengertian Persalinan

Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Persalinan

adalah pelepasan dan pengeluaran produk konsepsi (janin, air ketuban, plasenta dan

selaput ketuban) dari uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan normal adalah

proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-40 minggu), lahir

spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung kurang dari 24 jam tanpa

komplikasi baik bagi ibu maupun bagi janin (Prawirohardjo, S., 2005, hal. 180)

2. Proses Terjadinya Persalinan

Persalinan terjadi karena adanya : (a) penurunan kadar estrogen dan progesteron,

dimana progesteron merupakan penenang otot-otot rahim dan estrogen meningkatkan

kontraksi otot. Selama kehamilan kadar progesteron dan estrogen seimbang di dalam

darah tetapi di akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his,

menurunnya kadar kedua hormon ini terjadi kira-kira 1-2 minggu sebelum persalinan

dimulai, (b) oksitosin meningkat sehingga timbul kontraksi rahim, (c) dengan majunya

kehamilan maka otot-otot rahim semakin menegang dan timbul kontraksi untuk

Universitas Sumatera Utara


mengeluarkan janin, (d) hipofise dan kadar suprarenal janin memegang peranan penting

sehingga pada ancephalus kelahiran sering lebih lama, (e) kadar prostaglandin dalam

kehamilan dari minggu ke-15 hingga aterm terutama saat persalinan menyebabkan

kontraksi miometrium (Prawirohardjo, S., 2005, hal. 181).

3. Persalinan Kala I

Secara klinis persalinan diawali bila adanya kontraksi dan mengeluarkan lendir

yang bersemu darah (bloody show). Lendir yang bersemu darah ini berasal dari lendir

kanalis servikalis karena serviks mulai membuka, sedangkan darahnya berasal dari

pembuluh-pembuluh kapiler yang berada disekitar kanalis servikalis yang pecah karena

pergeseran karena serviks membuka. Proses membukanya serviks sebagai akibat his

dibagi dalam 2 fase, yaitu : (a) fase laten yaitu dari awal kontraksi hingga pembukaan 3

cm, durasi 20-30 detik, tidak terlalu mules, berlangsung 7-8 jam, (b) fase aktif yaitu

pembukaan dari 4 cm hingga lengkap, penurunan bagian terbawah janin, durasi 40 detik

atau lebih dengan frekuensi 3x10 menit atau lebih dan sangat mules, berlangsung 6 jam

dengan 3 sub fase yaitu : (1) periode akselerasi berlangsung 2 jam dan pembukaan

menjadi 4 cm, (2) dilatasi maksimal berlangsung 2 jam danpembukaan menjadi 9 cm, (c)

periode deselerasi berlangsung 2 jam dan pembukaan menjadi 10 cm. Fase-fase tersebut

dijumpai pada primigravida dan multigravida, hanya pada multigravida fase laten, fase

aktif, dan fase deselerasi terjadi lebih pendek. Ketuban akan pecah dengan sendirinya

ketika pembukaan hampir atau telah lengkap. Bila ketuban telah pecah sebelum

Universitas Sumatera Utara


mencapai pembukaan 5 cm, disebut ketuban pecah dini. Pada primigravida kala I

berlangsung kira-kira 13 jam dan pada multipara kira-kira 7 jam ( Prawirohardjo, S.,

2005, hal. 182).

4. Asuhan Persalinan Kala I

Merupakan asuhan yang dibutuhkan ibu saat proses persalinan. Asuhan ini

bertujuan untuk mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan

yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap

serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga

pada tingkat yang optimal. Asuhan sayang ibu antara lain memberi dukungan emosional,

mengatur posisi yang nyaman bagi ibu, cukup asuhan cairan dan nutrisi, keleluasaan

untuk mobilisasi, termasuk ke kamar kecil, penerapan prinsip pencegahan infeksi yang

sesuai.

B. Nyeri Persalinan

1. Pengertian Nyeri

Nyeri merupakan kondisi perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat

subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau

tingkatannya. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibanding

suatu penyakit manapun. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial (Bare dan

Universitas Sumatera Utara


Smeltzer, 2001, hal. 212). Menurut Telfer (1997), nyeri merupakan fenomena

multifaktorial, yang subjektif, personal, dan kompleks yang dipengaruhi oleh faktor

psikologis, biologis, sosial budaya, dan ekonomi (Fraser, D. M., dan Cooper, M. A.,

2009, hal. 461).

2. Teori Nyeri

Terdapat beberapa teori tentang terjadinya ransangan nyeri, diantaranya :

a. Transmisi nyeri, impuls nyeri berjalan sepanjang saraf sensorik ke ganglion akar

dorsal dari saraf spinal terkait dan masuk ke dalam kornu posterior medula spinalis.

Hal ini disebut neuron pertama. Neuron kedua muncul di kornu posterior, melintang

di dalam medula spinalis (persimpangan sensorik) dan mengantarkan impuls melalui

medula oblongata, pons varolli dan otak tengah ke talamus. Dari sini impuls berjalan

sepanjang neuron ketiga menuju korteks sensorik.

Teori Pengendalian Gerbang (gate control theory),mekanisme hambatan neurol

atau spinal terjadi dalam substansi gelatinosa yang terdapat di kornu dorsal medula

spinalis. Impuls saraf yang diterima oleh nosiseptor, reseptor nyeri pada kulit dan

jaringan tubuh dipengaruhi oleh mekanisme tersebut. Posisi hambatan menentukan

apakah impuls saraf berjalan bebas atau tidak ke medula dan talamus sehingga dapat

mentransmisikan impuls atau pesan sensori ke korteks sensorik. Jika hambatan tersebut

tertutup, hanya terdapat sedikit konduksi atau bahkan tidak sama sekali. Jika hambatan

Universitas Sumatera Utara


terbuka, impuls dan pesan dapat melewatinya dan ditransmisikan secara bebas (Fraser,

D. M., dan Cooper, M. A., 2009, hal. 464).

3. Penyebab Nyeri Persalinan

Selama persalinan kala-satu, nyeri terutama dialami karena rangsangan nosiseptor

dalam adneksa,uterus, dan ligamen pelvis. Nyeri persalinan kala-satu adalah akibat

dilatasi seviks dan sagmen uterus bawah dengan distensi lanjut, peregangan, dan trauma

pada serat otot dan ligamen. Faktor penyebab nyeri persalinan adalah : a) berkurangnya

pasokan oksigen ke otot rahim (nyeri persalinan menjadi lebih hebat jika interval antara

kontraksi singkat, sehingga pasokan oksigen ke otot rahim belum sepenuhnya pulih), b)

meregangnya leher rahim (effacement dan pelebaran), c) tekanan bayi pada saraf di dan

dekat leher rahim dan vagina, d) ketegangan dan meregangnya jaringan ikat pendukung

rahim dan sendi panggul selama kontraksi dan turunnya bayi, e) Tekanan pada saluran

kemih, kandung kemih, dan anus, f) Meregangnya otot-otot dasar panggul dan jaringan

vagina, g) ketakutan dan kecemasan yang dapat menyebabkan dikeluarkannya hormon

stress dalam jumlah besar (epinefrin, norepinefrin, dan lain-lain) yang mengakibatkan

timbulnya nyeri persalinan yang lama dan lebih berat (Simkin, P., Whalley, J., dan

Keppler, A., 2007, hal. 150).

Universitas Sumatera Utara


4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rasa Nyeri Persalinan

Faktor- faktor yang mempengaruhi nyeri persalinan yaitu : a) usia wanita yang

sangat muda dan ibu yang tua mengeluh tingkat nyeri persalinan yang lebih tinggi, b)

primipara mengalami nyeri yang lebih besar pada awal persalinan, sedangkan multipara

mengalami peningkatan tingkat nyeri setelah proses persalinan dengan penurunan cepat

pada persalinan kala II, c) wanita yang mempunyai pelvis kecil, bayi besar, bayi dengan

presentasi abnormal, d) wanita yang mempunyai riwayat dismenorea dapat mengalami

peningkatan persepsi nyeri, kemungkinan karena produksi kelebihan prostaglandin,

e)kecemasan akan meningkatkan respon individual terhadap rasa sakit, ketidaksiapan

menjalani proses melahirkan, dukungan dan pendamping persalinan, takut terhadap hal

yang tidak diketahui, pengalaman buruk persalinan yang lalu juga akan menambah

kecemasan, sehingga menimbulkan peningkatan ransang nosiseptif pada tingkat korteks

serebral dan peningkatan sekresi katekolamin yang juga meningkatkan ransang

nosiseptif pada pelvis karena penurunan aliran darah dan terjadi ketegangan otot, f)

faktor sosial dan budayadimana beberapa budaya mengharapkan stoicisme (sabar dan

membiarkannya) sedang budaya yang lainnya mendorong keterbukaan untuk

menyatakan perasaan (Walsh, L. V., 2007, hal. 261).

Universitas Sumatera Utara


5. Fisiologi Nyeri Persalinan kala I

Rasa nyeri pada kala I disebabkan oleh munculnya kontraksi otot-otot uterus,

peregangan serviks pada waktu membuka, iskemia rahim (penurunan aliran darah

sehingga oksigen lokal mengalami defisit) akibat kontraksi arteri miometrium. Impuls

nyeri ditransmisikan oleh segmen saraf spinalis T11-12 dan saraf-saraf asesori torakal

bawah serta saraf simpatik lumbar atas. Saraf-saraf ini berasal dari korpus uterus dan

serviks. Ketidaknyamanan dari perubahan serviks dan iskemia uterus adalah nyeri

viseral yang berlokasi di bawah abdomen menyebar ke daerah lumbar punggung dan

menurun ke paha. Biasanya nyeri dirasakan pada saat kontraksi saja dan hilang pada saat

relaksasi. Nyeri bersifat lokal seperti kram, sensasi sobek dan sensasi panas yang

disebabkan karena distensi dan laserasi serviks, vagina dan jaringan perineum.

Nyeri persalinan menghasilkan respon psikis dan refleks fisik. Nyeri persalinan

memberikan gejala yang dapat diidentifikasi seperti pada sistem saraf simpatis yang

dapat terjadi mengakibatkan perubahan tekanan darah, nadi, respirasi, dan warna kulit.

Ekspresi sikap juga berubah meliputi peningkatan kecemasan, mengerang, menangis,

gerakan tangan (yang menandakan rasa nyeri) dan ketegangan otot yang sangat di

seluruh tubuh (Bobak I. M., at all. 2004, hal. 253).

Teori gate control atau pengendalian nyeri yang dikemukakan oleh Melzack dan

Well (1965) mengemukakan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh

Universitas Sumatera Utara


mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat.Mekanisme pertahanan dapat

ditemukan pada medulla spinalis, talamus, dan sistem limbik yang mengandung

enkefalin yang menghambat transmisi nyeri (Potter, P. A., dan Perry, A. G., 2005, hal.

1507).

6. Klasifikasi Nyeri

Nyeri secara umum terdiri dari nyeri akut dan nyeri kronis. (a) Nyeri akut

merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang, tidak melebihi 6

bulan, dan ditandai adanya peningkatan tegangan otot dan cemas, (b) Nyeri kronis

merupakan nyeri yang timbul secara perlahan lahan biasanya berlangsung dalam

waktu cukup lama, yaitu lebih dari 6 bulan meliputi nyeri terminal, sindrom nyeri kronis

dan psikosomatik.

Selain klasifikasi nyeri di atas, terdapat jenis nyeri yang spesifik, di antaranya (a)

Nyeri somatic dan visceral yaitu bersumber dari kulit dan jaringan di bawah kulit

(supervisial) pada otot dan tulang. Nyeri somatic dan visceral berbeda karakteristiknya

terutama kualitas nyeri, lokalisasi, sebab-sebabnya, dan gejala yang menyertainya, (b)

Nyeri menjalar (Referrent pain) dimana nyeri terasa pada daerah lain daripada yang

mendapat ransang, misalnya pada serangan jantung akan mengeluh nyeri yang menjalar

kebawah lengan kiri sedangkan jaringan yang rusak terjadi pada miokardium, (c) Nyeri

psikogenik yaitu nyeri yang tidak diketahui secara fisik, biasanya timbul dari pikiran

Universitas Sumatera Utara


pasien atau psikologis, (d) Nyeri phantom dari ektremitas yaitu nyeri pada salah satu

ekstremitas yang telah diamputasi, (e) Nyeri neurologis yang timbul dalam berbagai

bentuk, dimana neuralgia adalah nyeri yang tajam (Bare, B. G., dan Smeltzer, S. C.,

2001, hal. 213).

7. Pengukuran Intensitas Nyeri

Mendeskripsikan nyeri berbeda antara bidan dan pasien. Skala deskriptif

merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih objektif. Skala

pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang

terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di

sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari tidak terasa nyeri sampai nyeri yang

tidak tertahankan.

Skala penilaian numerik (Numerical Rating Scales, NRS) lebih digunakan

sebagai pengganti alat pendeskripsi kata dengan menggunakan skala 1-10. Skala analog

visual (Visual Analog Scale, VAS) merupakan suatu garis lurus yang mewakili intensitas

nyeri. Skala nyeri digunakan yaitu :

Universitas Sumatera Utara


a. Numerik ( 0-10 )

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tidak Nyeri sedang Nyeri


Nyeri sangat hebat
b. Deskriptif

Tidak Nyeri Nyeri Nyeri Nyeri


nyeri ringan sedang hebat sangat hebat

c. Skala Analog visual (VAS)

Tidak Nyeri Nyeri sangat hebat

(Bare, B. G., dan Smeltzer, S.C., 2001, hal. 218).

8. Penatalaksanaan Nyeri

Rasa sakit yang dialami ibu selama proses persalinan sangat bervariasi

tingkatannya. Untuk itu perlu dukungan selama persalinan untuk mengurangi rasa nyeri

selama proses persalinan. Penny simpkin (2007) mengatakan cara untuk mengurangi

rasa sakit ini ialah : mengurangi sakit langsung dari sumbernya, memberikan ransangan

Universitas Sumatera Utara


alternatif yang kuat, mengurangi reaksi mental negatif, emosional dan fisik ibu terhadap

rasa sakit. Pendekatan pengurangan rasa nyeri persalinan dapat dilakukan dengan

pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis.

Manajemen secara farmakologis adalah dengan pemberian obat-obatan

sedangkan nonfarmakogis tanpa obat-obatan. Cara farmakologis adalah dengan

pemberian obat-obatan analgesia yang bisa disuntikan melalui infus intravena yaitu saraf

yang mengantar nyeri selama persalinan. Tindakan farmakologis masih menimbulkan

pertentangan karena pemberian obat selama persalinan dapat menembus sawar plasenta,

sehingga dapat berefek pada aktifitas rahim. Efek obat yang diberikan kepada ibu

terhadap bayi dapat secara langsung maupun tidak langsung.

Manajemen secara nonfarmakologis sangat penting karena tidak membahayakan

bagi ibu maupun janin, tidak memperlambat persalinan jika diberikan kontrol nyeri yang

kuat, dan tidak mempunyai efek alergi maupun efek obat. Banyak teknik

nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri selama kala I meliputi, relaksasi, akupresur,

kompres dingin atau hangat, terapi musik, hidroterapi dan masase. Masase sangat efektif

mengurangi nyeri dan ketegangan otot, seperti deep back massage dan firm counter

pressure.

Universitas Sumatera Utara


C. Masase

1. Pengertian Masase

Masase adalah melakukan tekanan tangan pada jaringan lunak, biasanya otot,

tendon atau ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi untuk

meredakan nyeri, menghasilkan relaksasi, dan/atau memperbaiki sirkulasi. Malkin

(1994) merincikan enam gerakan dasar yang dilakukan yaitu : effleurage (gerakan

tangan mengurut), petrissage (gerakan tangan mencubit), tapotement (gerakan tangan

melakukan perkusi), hacking (gerakan tangan mencincang), kneading (gerakan tangan

meremas), dan cupping (tangan membentuk seperti mangkuk) (Mander, R., 2003, hal.

164).

Masase dan sentuhan membantu ibu lebih rileks dan nyaman selama persalinan.

Sebuah penelitian menyebutkan ibu yang dipijat selama 20 menit setiap jam selama

tahapan persalinan akan lebih bebas dari rasa sakit, karena masase (pijat) meransang

tubuh melepaskan senyawa endhorpin yang merupakan pereda sakit alami dan

menciptakan perasaan nyaman. Bagian tubuh ibu yang dapat dimasase adalah kepala,

bahu, perut, kaki, tangan dan punggung (tetapi bukan masase tubuh yang penuh). Saat

memijat, pemijat harus memperhatikan respon ibu apakah tekanan yang diberikan sudah

tepat (Meiliasari, M., dan Danuatmaja, B., 2004, hal. 67).

Universitas Sumatera Utara


2. Metode Masase

Masase merupakan salah satu metode nonfarmakologi yang dilakukan untuk

mengurangi nyeri persalinan. Dasar teori masase adalah teori gate control yang

dikemukakan oleh Melzak dan Wall, dalam Depkes RI (1997) yang menjelaskan bahwa

ada dua macam serabut saraf yaitu serabut saraf berdiameter kecil dan serabut saraf

berdiameter besar yang mempunyai fungsi yang berbeda.

Impuls rasa sakit yang dibawa oleh saraf berdiameter kecil menyebabkan gate

control di spinal cord membuka dan impuls diteruskan ke korteks serebral sehingga akan

menimbulkan rasa sakit. Tetapi impuls rasa sakit ini dapat diblok yaitu dengan

memberikan ransangan pada saraf berdiameter besar yang menyebabkan gate control

akan tertutup dan ransangan sakit tidak dapat diteruskan ke korteks serebral. Pada

prinsipnya ransangan berupa usapan pada saraf berdiameter besar yang banyak pada

kulit harus dilakukan awal rasa sakit atau sebelum impuls rasa sakit yang dibawa oleh

saraf berdiameter kecil mencapai korteks serebral.

Beberapa macam masase yang dapat dilakukan untuk meransang saraf

berdiameter besar yaitu :

a. Effluerage, yaitu pasien dalam posisi atau setengah duduk, lalu letakkan kedua

telapak tangan pada perut dan secara bersamaan digerakkan melingkar dari arah

Universitas Sumatera Utara


pusat ke simpisis atau dapat juga menggunakan satu telapak tangan dengan gerakkan

melingkar atau satu arah. Cara ini dapat dilakukan sendiri oleh pasien.

b. Deep Back Massage, yaitu pasien berbaring miring, kemudian bidan atau keluarga

pasien menekan daerah sakrum secara mantap dengan telapak tangan, lepaskan dan

tekan lagi, begitu seterusnya.

c. Firm Counter Pressure, yaitu pasien dalam posisi duduk kemudian bidan atau

keluarga pasien menekan sakrum secara bergantian dengan tangan yang dikepalkan

secara mantap dan beraturan.

d. Abdominal Lifting, yaitu dengan cara membaringkan pasien pada posisi terlentang

dengan posisi kepala agak tinggi. Letakkan kedua telapak tangan pada pinggang

belakang pasien, kemudian secara bersamaan lakukan usapan yang berlawanan ke

arah puncak perut tanpa menekan ke arah dalam, kemudian ulang lagi. Begitu

seterusnya (Gadysa, G., 2009, hal. 6).

3. Prosedur Penatalaksanaan Masase

Masase merupakan tindakan melakukan tekanan tangan pada jaringan lunak,

biasanya otot, tendon atau ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan

posisi sendi untuk meredakan nyeri, menghasilkan relaksasi, dan/atau memperbaiki

sirkulasi.

Manfaatnya adalah sebagai berikut : mengurangi ketegangan bahu, leher dan

nyeri punggung, memperbaiki sirkulasi darah pada otot sehingga mengurangi nyeri,

Universitas Sumatera Utara


kram dan inflamasi, memperlambat frekuensi nadi dan menurunkan tekanan darah,

menimbulkan relaksasi pikiran (Price, 1997, hal. 120).

Persiapan yang dibutuhkan meliputi persiapan alat yaitu tempat tidur pasien,

kursi dan bantal, persiapan pasien yaitu membuka sedikit pakaian yang menutupi

daerah sakrum dan yang tidak sedang mendapat terapi obat-obatan seperti induksi

dan persiapan bidannya yaitu mencuci tangan supaya bersih dan posisi bidan di

sebelah kanan ibu. Masase dilakukan setiap kontraksi selama 20 menit. Indikasi

pelaksanaan masase adalah ibu inpartu kala I fase aktif dengan nyeri persalinan

sedangkan kontraindikasinya adalah memar, luka bakar, bisul, sayatan, penyakit

jantung berat dan terdapat infeksi. Tahap pelaksanaan masase meliputi : (a)

memberitahu ibu langkah yang akan dilakukan dan fungsinya, (b) menganjurkan ibu

mencari posisi yang nyaman seperti posisi berbaring miring ke kiri ataupun duduk,

(c) jika ibu sedang berbaring miring di tempat tidur maka lakukan deep back

massage saat terjadi kontraksi, menekan daerah sakrum secara mantap dengan

telapak tangan setiap kontraksi selama 20 menit, lepaskan dan tekan lagi, begitu

seterusnya selama kontraksi, (d) mengajarkan kepada suami atau keluarga teknik

masase tersebut untuk melanjutkan intervensi, (e) mengevaluasi metode masase

tersebut.

Universitas Sumatera Utara


BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antar variabel yang

ingin diamati dan diukur melalui penelitian yang telah dilakukan. Variabel independen

dalam penelitian ini adalah metode masase dan variabel dependen adalah nyeri

persalinan kala I fase aktif. Penelitian ini terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok 1

disebut sebagai kelompok intervensi yaitu kelompok yang mendapat perlakuan metode

masase, dan kelompok 2 disebut kelompok kontrol yaitu kelompok yang tidak mendapat

perlakuan apapun.

Variabel Independen Variabel Dependen

Metode Nyeri persalinan

masase kala I fase aktif

Skema 1. Kerangka Konsep

B. Hipotesis

Hipotesa dalam penelitian ini adalah hipotesa alternatif (Ha) yaitu ada pengaruh

metode masase terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif.

Universitas Sumatera Utara


C. Defenisi Operasional

No Variabel Defenisi Operasional Alat Cara Ukur Hasil Ukur Skala


Ukur
Variabel Masase yang dilakukan - - 1= Dilakukan Nominal
1 Independen : pada ibu inpartu kala I fase
0=Tidak
Metode aktif dengan teknik deep
dilakukan
masase back massage setiap
kontraksi selama 20 menit
untuk mengurangi
intensitas nyeri pada
persalinan kala I fase aktif
Variabel Ketidaknyamanan karena Kuisioner Wawancara Skala nyeri Rasio
2 Dependen : rasa sakit yang dialami ibu Lembar yang dirasakan
Observasi
Nyeri inpartu kala I fase aktif observasi ibu inpartu
persalinan dengan adanya kontraksi
kala I fase uterus dan dilatasi serviks
aktif mulai dari pembukaan 4-9
cm
Usia Umur yang dihitung sejak Kuisioner Wawancara 1=18 23 Interval
3 ibu lahir hingga penelitian
2=24 - 29
dilakukan
3=30 35

4=36 40

Universitas Sumatera Utara


Paritas Jumlah persalinan yang Kuisioner Wawancara 1=1 Ratio
4 pernah dialami ibu
2=2

3=>2
Pendidikan Tingkat pendidikan formal Kuisioner Wawancara 1=SD Ordinal
5 terakhir ibu sampai dengan
2=SMP
penelitian dilakukan

3=SMA

4=PT

Universitas Sumatera Utara


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Dalam penelitian ini, menggunakan desain penelitian quasi- eksperimen yang

bersifat two group pretest-postest yaitu kelompok kontrol dan intervensi untuk

mengidentifikasi pengaruh metode masase terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif

pada ibu inpartu sebelum dan sesudah dilakukan masase. Desain ini digambarkan :

Pretest Perlakuan Postest

01 X 02

01 - 02

Skema 2.Desain Penelitian

Keterangan :

01 : Pretest dilakukan pada kelompok intervensi dan kontrol pada ibu inpartu

yang mengalami nyeri persalinan sebelum dilakukan masase

02 : Postest dilakukan pada kelompok intervensi dan kontrol pada ibu inpartu

yang mengalami nyeri persalinan sesudah dilakukan masase

X : Intervensi (perlakuan masase)

- : kontrol (tidak ada perlakuan masase).

Universitas Sumatera Utara


B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu inpartu kala I fase aktif yang

fisiologis yang mempunyai keluhan nyeri persalinan dengan partus pervaginam di klinik

bersalin Sally Medan. Dari survei pendahuluan, data ibu yang melahirkan di klinik

bersalin Sally Medan dari Januari sampai Maret tahun 2010 sebanyak 64 orang.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili populasi. Menentukan

sampel dengan menggunakan ketetapan absolut dan menggunakan rumus :

Keterangan :

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

d = Ketetapan relatif yang ditetapkan oleh peneliti (0,05)

Jadi sampel dalam penelitian ini adalah :

Diketahui : N = 64

Universitas Sumatera Utara


n = 55

Sampel dalam penelitian ini dengan kriteria inklusi: ibu inpartu yang mengalami

nyeri pada proses persalinan kala I fase aktif tanpa pengaruh analgesik atau obat anti

nyeri ataupun obat-obatan untuk induksi persalinan, ibu inpartu dengan presentasi

kepala, tanpa penyulit dan komplikasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan

pendekatan secara simple random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak

sederhana. Sampel yang ditetapkan sebanyak 55 responden yang dibagi dalam 2

kelompok yaitu kelompok kontrol dan intervensi. Akan tetapi, setelah dilaksanakan

penelitian Februari-April 2011 diperoleh responden 38 orang yang sesuai dengan kriteria

yaitu 19 orang kelompok kontrol dan 19 orang kelompok intervensi. Hal tersebut

dikarenakan ada responden yang mendapat obat-obatan selama fase aktif, bukan

presentasi kepala dan ada responden yang menolak menjadi sampel dalam penelitian.

C. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Klinik Bersalin Sally Jln. Tempuling no. 83 Medan,

dengan pertimbangan banyaknya ibu bersalin yang dapat dijumpai untuk dijadikan

sampel dalam penelitian.

D. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai dengan April 2011.

Universitas Sumatera Utara


E. Etika Penelitian

Penelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dari insitusi pendidikan

yaitu Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan USU dan izin

pimpinan klinik bersalin Sally Medan. Dalam penelitian ini terdapat beberapa hal yang

berkaitan dengan permasalahan etik, yaitu :memberikan penjelasan kepada responden

penelitian tentang tujuan dan prosedur penelitian. Responden yang bersedia

dipersilahkan untuk menandatangani informed consent. Tetapi responden yang tidak

bersedia berhak untuk menolak dan mengundurkan diri. Responden juga berhak

mengundurkan diri selama proses pengumpulan data berlangsung, kebebasan dari

tindakan yang merugikan atau resiko dan mendapat keadilan tanpa adanya diskriminasi

saat responden tidak bersedia atau dikeluarkan dari penelitian. Kerahasian catatan

mengenai data responden dijaga dengan cara tidak menuliskan nama responden pada

instrumen, tetapi mengunakan inisial. Data-data yang diperoleh dari responden juga

hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.

F. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data berupa kuesioner yang terdiri dari dua bagian berisi data

demografi dan skala pengukuran intensitas nyeri yang dibuat oleh peneliti berdasarkan

literatur yang ada. Data demografi meliputi usia, paritas dan pendidikan sedangkan

bagian kedua adalah skala nyeri (0-10).

Universitas Sumatera Utara


G. Validitas dan Realibilitas

Alat ukur harus diuji validitas dan realibilitasnya. Dalam penelitian ini alat ukur

yang digunakan adalah alat ukur yang sudah baku berdasarkan literatur sehingga tidak

perlu lagi di ujivaliditas dan realibilitasnya. Alat akur skala nyeri yang digunakan adalah

Numerical Rating Scales (NRS) yaitu alat pendeskripsi dengan skala 0-10 (Bare, B. G.,

dan Smeltzer, S. C., 2002)

H. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data yang dilakukan adalah :mengajukan surat

permohonan izin penelitian pada institusi pendidikan Program Studi D-IV Bidan

Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, dan mengajukan surat

permohonan izin melaksanakan penelitian di klinik bersalin Sally Medan. Setelah

mendapat izin, peneliti melaksanakan pengumpulan data pada ibu inpartu kala I fase

aktif sesuai kriteria penelitian. Peneliti menemui responden di tempat penelitian, dengan

cara peneliti meninggalkan nomor handphone dan menyimpan nomor handphone asisten

klinik untuk memperlancar proses pengumpulan data. Saat peneliti bertemu dengan

responden, peneliti menjelaskan kepada responden tentang tujuan dan manfaat

penelitian.

Peneliti meminta persetujuan responden untuk menjadi responden dengan

menandatangani informed consent. Setelah responden bersedia, peneliti kemudian

mengisi lembar kuisioner data demografi yaitu nama (inisial), umur, paritas, dan

Universitas Sumatera Utara


pendidikan responden melalui wawancara. Lalu, peneliti menjelaskan prosedur metode

masase yang dilakukan oleh peneliti atau tenaga medis yang ada di dalam ruangan,

dimana masase dilakukan selama durasi kontraksi dengan hitungan kontraksi selama 20

menit. Pada kelompok intervensi, kontraksi I peneliti mengkaji skala nyeri responden

dengan meletakkan tangan ke atas perut ibu sambil menghitung durasi kontraksi dan

mengobservasi respon responden terhadap nyeri yang dirasakan. Kontraksi II peneliti

melakukan masase pada daerah pinggang selama durasi kontraksi. Selanjutnya

Kontraksi III mengkaji skala nyeri responden, kontraksi IV dilakukan masase dan

seterusnya sampai hitungan kontraksi 20 menit dilakukan intervensi. Kemudian peneliti

menilai derajat nyeri ibu dengan bertanya kepada ibu bagaimana tingkat nyeri yang ibu

rasakan sebelum dan sesudah dilakukan masase, sambil menunjukkan skala nyeri kepada

ibu supaya ibu memberi tanda skala nyeri berupa angka 0-10 sebelum dan sesudah

dilakukan masase.

Peneliti juga mengobservasi skala nyeri yang ibu rasakan sebelum dan sesudah

pada kelompok kontrol. Pada pelaksanaan penelitian, peneliti dibantu oleh asisten yaitu

seorang bidan yang bekerja diklinik bersalin sally. Pendidikan terakhir bidan tersebut

adalah D-III kebidanan dan telah mengetahui dan melakukan metode masase untuk

mengurangi intensitas nyeri dalam persalinan.

Stelelah data terkumpul lalu dilakukan pengolahan data dengan bantuan program

SPSS dengan uji statistik uji t-dependen Paired sample t-test untuk mengukur skala

nyeri sebelum dan sesudah dilakukan masase pada kelompok intervensi dan kontrol dan

Universitas Sumatera Utara


diperoleh mean perbedaan sebelum dengan sesudah pada kelompok intervensi dan

kontrol. Sedangkan t-independen membandingkan skala nyeri setelah dilakukan masase

pada kelompok intervensi dan kontrol.

I. Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, dilakukan analisa data kembali dengan

memeriksa semua kuesioner apakah data dan jawaban sudah lengkap dan benar

(editing). Kemudian data diberi kode (coding) untuk memudahkan peneliti dalam

melakukan analisa data dan pengolahan data serta pengambilan kesimpulan data yang

dimasukkan ke dalam bentuk tabel. Entry data dilakukan dengan menggunakan teknik

komputerisasi. Tahap terakhir dilakukan cleaning dan entry yakni pemeriksaan semua

data yang telah dimasukkan ke dalam program komputer guna menghindari terjadinya

kesalahan.

Analisis data dilakukan menggunakan bantuan program SPSS yang disesuaikan,

dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Univariat

Data yang bersifat kategori dicari frekuensi dan proporsinya yakni data

demografi ibu inpartu meliputi usia, paritas dan pendidikan. Sedangkan data

yang bersifat numerik dicari mean, dan standar deviasinya yakni skala nyeri

persalinan melalui statistik deskriptif. Hasil data dibuat dalam bentuk tabel.

Universitas Sumatera Utara


2. Bivariat

Analisis ini digunakan untuk menguji pengaruh metode masase dalam

mengurangi intensitas nyeri ibu inpartu kala I fase aktif. Dalam menganalisis

data secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan uji statistik uji t-dependen

yaitu uji statistik Paired sample t-test untuk mengukur skala nyeri sebelum dan

sesudah dilakukan masase pada kelompok intervensi dan kontrol, dan diperoleh

mean perbedaan sebelum dengan sesudah pada kelompok intervensi dan kontrol.

Sedangkan t-independen membandingkan skala nyeri setelah dilakukan masase

pada kelompok intervensi dan kontrol. Taraf signifikan ( = 0.05), pedoman

dalam menerima hipotesis : jika data probabilitas (p) < 0.05 maka H0 ditolak dan

apabila nilai (p) > 0,05 maka H0 gagal ditolak.

Universitas Sumatera Utara


BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian tentang pengaruh metode masase

dalam menurunkan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif pada ibu inpartu di klinik

bersalin Sally pada bulan Februari-April 2011. Jumlah responden adalah 55 orang.

Namun, ada keterbatasan sampel pada saat dilakukan penelitian responden, sehingga

yang memenuhi kriteria adalah 38 orang. Responden dibagi 2 kelompok yaitu 19 orang

kelompok kontrol dan 19 orang kelompok intervensi.

1. Analisis Univariat

Analisis univariat ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik masing-masing

variabel yang diteliti yakni data demografi ibu inpartu meliputi umur, paritas,

pendidikan dan mencari mean, dan standar deviasi skala nyeri persalinan.

1.1 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Data Demografi Ibu Inpartu

Pada Kelompok Intervensi dan Kontrol

Hasil penelitian diperoleh data bahwa dari 19 orang kelompok intervensi

sebagian besar responden berada pada rentang usia 24-29 tahun sebanyak 8 orang

(42,1%), paritas responden sebagian besar adalah multipara (>2 anak) sebanyak 8 orang

(42,1%), dan sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah SMA sebanyak 14

orang (73,7%). Sedangkan pada 19 orang kelompok kontrol sebagian besar responden

Universitas Sumatera Utara


berada pada rentang usia 24-29 tahun juga sebanyak 7 orang (36,8%), paritas responden

sebagian besar adalah multipara (>2 anak) sebanyak 9 orang (47,4%), dan sebagian

besar tingkat pendidikan responden adalah SMA sebanyak 18 orang (94,7%). Hasil

tersebut dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut ini.

Tabel 5.1
Distribusi Responden Berdasarkan karakteristik Data Demografi Ibu
Inpartu pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Karakteristik Ibu Jumlah Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol


Inpartu F % F % F %
1. Usia

18 - 23 5 13,2% 15,8% 10,5%

24 - 29 15 39,5% 42,1% 36,8%

30 - 35 12 31,6% 31,6% 31,6%

36 - 40 6 15,8% 10,5% 21,1%


2. Paritas

1 (Primipara) 9 23,7% 26,3% 21,1%

2 (Scundipara) 12 31,6% 31,6% 31,6%

>2 (Multipara) 17 44,7% 42,1% 47,4%


3. Pendidikan

SD 1 2,6% 5,3% -
SMP
3 7,9% 10,5% 5,3%
SMA
32 84,2% 73,7% 94,7%
PT
2 5,3% 10,5% -

Universitas Sumatera Utara


1.2 Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas Nyeri Ibu Inpartu Sebelum dan

Sesudah dilakukan Intervensi Pada Kelompok Intervensi

Hasil penelitian pada kelompok intervensi diperoleh intensitas nyeri sebelum

dilakukan masase rata-rata 7,26 dengan standar deviasi 1,195, min-max 5-9 dan 95%

CI nya adalah 6,69-7,84. Sesudah dilakukan masase rata-rata 4,74 dengan standar

deviasi 1,147, min-max 3-7 dan 95% CI nya adalah 4,18-5,29. Hasil tersebut dapat

dilihat pada tabel 5.2 berikut ini.

Tabel 5.2
Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas Nyeri Ibu Inpartu Sebelum
dan Sesudah Dilakukan Intervensi Pada Kelompok Intervensi di
Klinik Bersalin Sally Medan Februari-April 2011

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI

Intensitas Nyeri 7,26 1,195 5-9 6,69 7,84


Sebelum dilakukan
Intervensi

Intensitas Nyeri 4,74 1,147 37 4,18 5,29


Sesudah dilakukan
Intervensi

Universitas Sumatera Utara


1.3 Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas Nyeri Ibu Inpartu Sebelum dan

Sesudah dilakukan Intervensi Pada Kelompok Kontrol

Hasil penelitian pada kelompok kontrol diperoleh intensitas nyeri sebelum

dilakukan masase rata-rata 7,00 dengan standar deviasi 0,816, min-max 6-8 dan 95%

CI nya adalah 6,61-7,39. Sesudah dilakukan masase rata-rata 6,16 dengan standar

deviasi 1,259 min-max 4-8 dan 95% CI nya adalah 5,55 6,76. Hasil tersebut dapat

dilihat pada tabel 5.3 berikut ini.

Tabel 5.3
Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas Nyeri Ibu Inpartu Sebelum
dan Sesudah Dilakukan Intervensi Pada Kelompok Kontrol di
Klinik Bersalin Sally Medan Februari-April 2011

Variabel Mean SD Min-Max 95% CI

Intensitas Nyeri 7,00 0,816 6-8 6,61 7,39


Sebelum dilakukan
Intervensi

Intensitas Nyeri 6,16 1,259 4-8 5,55 6,76


Sesudah dilakukan
Intervensi

Universitas Sumatera Utara


1.4 Intensitas Nyeri Pretest dan Postest Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok

Kontrol Setiap Kontraksi Pada Ibu Inpartu

Hasil penelitian pada setiap kontraksi diperoleh pada kelompok intervensi rata-

rata intensitas nyeri yang dirasakan ibu inpartu pada kontraksi pertama 7,26 (SD=1,195),

kontraksi ketiga 6,95 (SD=1,129), kontraksi kelima 6,42 (SD=1,017), kontraksi keenam

4,74 (SD=1,147). Pada kelompok kontrol rata-rata intensitas nyeri yang dirasakan ibu

inpartu pada kontraksi pertama 7,00 (SD=0,816), kontraksi ketiga 7,26 (SD=1,046),

kontraksi kelima 7,89 (SD=1,049), kontraksi keenam 6,16 (SD=1,259. Hasil tersebut

dapat dilihat pada grafik 1 berikut ini.

Grafik 1.

Intensitas Nyeri Pretest dan Postest Pada Kelompok Intervensi dan


Kelompok Kontrol Setiap Kontraksi Pada Ibu Inpartu Kala I Fase Aktif
di Klinik Bersalin Sally Medan

9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
kontraksi 1 kontraksi 3 kontraksi 5 kontraksi 6

kelompok intervensi kelompok kontrol

Universitas Sumatera Utara


2. Analisis Bivariat

Dalam menganalisis data secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan uji

statistik uji t-dependen Paired T-Test yaitu mengukur skala nyeri sebelum dan sesudah

dilakukan masase pada kelompok intervensi dan kontrol sedangkan t-independen

membandingkan skala nyeri setelah dilakukan masase pada kelompok intervensi dan

kontrol.

2.1 Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah di Lakukan Intervensi

Pada Kelompok Intervensi

Hasil penelitian diperoleh rata-rata skala nyeri sebelum dilakukan metode masase

pada kelompok intervensi adalah 7,26 dengan standar deviasi 1,195. Rata-rata skala

nyeri sesudah dilakukan metode masase 4,74 dengan standar deviasi 1,147. Beda mean

2,526 diperoleh Pvalue 0,000. Maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan

skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan metode masase pada kelompok intervensi.

Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut ini.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 5.4
Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah di Lakukan Intervensi
Pada Kelompok Intervensi di Klinik Bersalin Sally

Variabel Mean SD Beda Mean Pvalue N

Intensitas Nyeri 7,26 1,195 19


Sebelum dilakukan
Intervensi 2,526 0,000

Intensitas Nyeri 4,74 1,147 19


Sesudah dilakukan
Intervensi

2.2 Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah di Lakukan Intervensi

Pada Kelompok Kontrol

Hasil penelitian diperoleh rata-rata skala nyeri sebelum dilakukan metode masase

pada kelompok kontrol 7,00 dengan standar deviasi 0,816. Rata-rata skala nyeri sesudah

dilakukan metode masase pada kelompok kontrol 6,16 dengan standar deviasi 1,259.

Beda mean 0,842 diperoleh Pvalue 0,007. Maka dapat disimpulkan bahwa ada

perbedaan signifikan skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan metode masase pada

kelompok kontrol. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 5.5 berikut ini.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 5.5
Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum dan Sesudah di Lakukan Intervensi
Pada Kelompok Kontrol di Klinik Bersalin Sally
Medan Februari-April 2011

Variabel Mean SD Beda Mean Pvalue n

Intensitas Nyeri 7,00 0,816 19


Sebelum dilakukan
Intervensi 0,842 0,007

Intensitas Nyeri 6,16 1,259 19


Sesudah dilakukan
Intervensi

2.3 Perbandingan Intensitas Nyeri Sesudah di Lakukan Masase Pada


Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Hasil penelitian intensitas nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol

sesudah dilakukan masase diperoleh rata-rata skala nyeri 4,74 dengan standar deviasi

1,147 dan standar error 0,263. Rata-rata skala nyeri sesudah dilakukan metode masase

pada kelompok kontrol 6,16 dengan standar deviasi 1,259 dan standar error 0,289. Hasil

uji statistik didapatkan nilai p adalah 0,001 maka dapat disimpulkan bahwa ada

Universitas Sumatera Utara


perbedaan signifikan dari skala nyeri sesudah dilakukan metode masase pada kelompok

intervensi dan kontrol. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut ini.

Tabel 5.6
Perbandingan Intensitas Nyeri Sesudah di Lakukan Masase Pada
Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol di Klinik Bersalin Sally
Medan Februari-April 2011

Variabel Mean SD SE P value n

Kelompok 4,74 1,147 0,263


Intervensi
38
0,001
Kelompok 6,16 1,259 0,289
Kontrol

B. Pembahasan

1. Interpretasi dan diskusi hasil

Dari hasil uji statistik t-dependent dan t-independent diperoleh kesimpulan

bahwa ada pengaruh yang signifikan pada pengurangan nyeri persalinan kala I fase aktif

sebelum dan sesudah dilakukan metode masase pada kelompok intervensi dan kelompok

kontrol.

Universitas Sumatera Utara


Sebuah penelitian menyebutkan, ibu yang di masase 20 menit setiap jam selama

tahapan persalinan akan lebih bebas dari rasa sakit. Hal ini dikarenakan masase

meransang tubuh melepaskan senyawa endorphin yang dapat menghilangkan sakit

secara alamiah sehingga lebih nyaman (Meiliasari, M., & Danuatmaja, B., 2004).

Menurut Simkin (1989), dianjurkan selama persalinan agar masase dilakukan terus-

menerus, karena rasa nyeri cenderung akan meningkat jika masase dihentikan. Hal

tersebut terjadi karena sistem saraf menjadi terbiasa terhadap stimulus dan organ-organ

indra berhenti merespons nyeri tersebut (Jones, K., & Henderson, C., 2005).

Dari uraian di atas, maka hipotesa penelitian dapat dijawab bahwa metode

masase berpengaruh terhadap pengurangan intensitas nyeri pada persalinan kala I fase

aktif dan ada perbedaan pengurangan intensitas nyeri yang dirasakan sebelum dan

sesudah dilakukan masase pada kelompok intervensi dan kontrol serta perbedaan

signifikan sesudah dilakukan masase pada kedua kelompok tersebut.

2. Keterbatasan penelitian

Keterbatasan yang dialami peneliti saat penelitian Februari-April 2011 dengan

jumlah responden 38 orang ibu inpartu fisiologis adalah responden yang dijumpai tidak

sama pada pembukaan serviksnya dan paritas yang tidak homogeny sehingga intensitas

nyeri yang dirasakan berbeda-beda.

Universitas Sumatera Utara


3. Implikasi untuk asuhan kebidanan/pendidikan kebidanan

Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa metode masase sebagai salah satu

metode pengendalian nyeri secara non-farmakologi yang berpengaruh terhadap

pengurangan nyeri persalinan kala I fase aktif. Oleh sebab itu, metode masase dapat

digunakan sebagai intervensi dalam asuhan kebidanan pada ibu inpartu kala I fase aktif

yang mempunyai keluhan nyeri dalam persalinan tanpa efek samping pada ibu dan bayi.

Universitas Sumatera Utara


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh metode masase terhadap

nyeri persalinan kala I fase aktif di Klinik Bersalin Sally Medan tahun 2011 dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. Karakteristik demografi responden di Klinik Bersalin Sally Medan bulan

Februari-April 2011) diperoleh bahwa dari 19 orang kelompok intervensi sebagian

besar responden berada pada rentang usia 24-29 tahun sebanyak 8 orang (42,1%).

Berdasarkan paritas responden sebagian besar adalah multipara (>2 anak) sebanyak 8

orang (42,1%), dan sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah SMA

sebanyak 14 orang (73,7%). Sedangkan pada 19 orang kelompok kontrol sebagian

besar responden berada pada rentang usia 24-29 tahun juga sebanyak 7 orang (36,8%).

Berdasarkan paritas responden sebagian besar adalah multipara (>2 anak) sebanyak 9

orang (47,4%), dan sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah SMA

sebanyak 18 orang (94,7%).

2. Intensitas nyeri responden pada kelompok intervensi rata-rata skala nyeri sebelum

dilakukan metode masase adalah 7,26 dan sesudah dilakukan metode masase adalah

4,74 diperoleh nilai p=0,000. Pada kelompok kontrol rata-rata skala nyeri sebelum

dilakukan metode masase adalah 7,00 dan sesudah dilakukan metode masase pada

Universitas Sumatera Utara


kelompok kontrol 6,16 diperoleh nilai p=0,007. Sehingga perbandingan sesudah

dilakukan metode masase pada kelompok intervensi dan kontrol diperoleh nilai

p=0,001.

3. Hasil uji statistik t-dependen kelompok intervensi nilai p=0,000 dan kelompok

kontrol nilai p=0,007, sedangkan t-independen didapatkan nilai p adalah 0,001, maka

dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan metode masase terhadap

pengurangan nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I fase aktif.

B. Saran

1. Bagi Praktek Kebidanan

Untuk bidan di klinik maupun rumah sakit supaya menggunakan metode masase

sebagai salah satu intervensi dalam mengurangi nyeri persalinan kala I fase aktif.

2. Bagi Pendidikan Kebidanan

Hasil penelitian ini perlu di integrasikan dalam mata kuliah asuhan kebidanan ibu

bersalin (ASKEB II) sebagai pengembangan ilmu.

3. Bagi Penelitian Kebidanan

Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan batasan paritas dan pembukaan serviks yaitu

sama-sama primigravida dengan pembukaan yang sama.

4. Bagi Responden

Untuk dapat melakukan masase ataupun pendamping persalinan yang melakukannya

sebagai salah satu intervensi untuk mengurangi intensitas nyeri ibu selama proses

persalinan kala I fase aktif.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, L. (2008). Teknik Akupresur pada Persalinan. Diambil 22 September 2010, dari
http://keperawatan maternitas.blogspot.com

Bare, B. G., dan Smeltzer, S. C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner dan Suddarth. Jakarta : EGC

Bobak, I. M., at all. (2004). Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC

Brockopp, D. Y., dan Hastings, M. T. (2000). Dasar-Dasar Riset Keperawatan. Jakarta :


EGC

Depkes RI. (2010). Visi Misi Indonesia Sehat. Diambil 22 September 2010, dari
http://www.depkes.go.id

Fraser, D. M., dan Cooper, M. A. (2009). Buku Ajar Bidan Myles. Ed-14. Jakarta : EGC

Gadysa, G. (2009). Persepsi Ibu Tentang Metode Masase. Diambil 27 September 2010,
dari http://luluvikar.wordpress.com

Jones, K., dan Henderson, C. (2005). Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC

Leveno, K., J. (2009). Obstetri Williams. Ed-21. Jakarta : EGC

Mander, R. (2003). Nyeri Persalinan. Jakarta : EGC

Meiliasari, M., dan Danuatmaja, B. (2004). Persalinan Normal Tanpa Rasa Sakit.
Jakarta : Puspa Swara

Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.


Jakarta : SalembaMedika

Potter, P. A., dan Perry, A. G. (2005). Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

Universitas Sumatera Utara


Prawirohardjo, S. (2005). Ilmu Kebidanan. Yogyakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirihardjo

Price, S., dan Price, L. (1997). Aromaterapi. Jakarta : EGC

Rahmadani, F. (2009). Pengaruh Pijat Punggung Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri


Persalinan Kala I Fase Aktif Pada Ibu Primipara. Medan : tidak dipublikasikan

Ratih, R. H. (2010). Pengaruh Metode Masase Terhadap Pengurangan Intensitas Nyeri


Pada Persalinan Kala I. Medan : tidak dipublikasikan

Simkin, P., Whalley, J., dan Keppler, A. (2007). Panduan Lengkap Kehamilan,
Melahirkan dan Bayi. Jakarta : Arcan

Tim Penyusun Program D-IV USU. (2010). Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah.
Medan : tidak dipublikasikan

Walsh, L. V. (2007). Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bernama Plora N.F Sinaga/105102066 adalah mahasiswa Program

Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Saat ini

sedang melakukan penelitian tentang pengaruh metode masase terhadap nyeri persalinan

kala I fase aktif. Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan

tugas akhir di Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara. Untuk keperluan tersebut saya mohon kesediaan ibu untuk menjadi

responden dalam penelitian ini, dalam memberikan jawaban atas wawancara sesuai

dengan pendapat ibu tanpa di pengaruhi oleh orang lain. Jika bersedia, silahkan

menandatangani lembar persetujuan ini sebagai bukti kesukarelaan ibu. Partisipasi ibu

dalam penelitian ini bersifat sukrela, sehingga bebas mengundurkan diri setiap saat tanpa

sanksi apa pun. Identitas pribadi ibu dan semua informasi yang ibu berikan akan

dirahasiakan dan hanyadi gunakan untuk keperluan ini saja. Terima kasih atas partisipasi

ibu dalam penelitian ini.

Peneliti Medan, Februari 2011

Responden

Plora NF Sinaga (..)

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 2

LEMBARAN KUISIONER

Pengaruh Metode Masase Terhadap Nyeri Persalinan Kala I FaseAktif

I. Data Demografi

1. Usia :

2. Paritas :

3. Pendidikan :

II. Pengkajian Skala Nyeri

Petunjuk : angka 0 tidak ada nyeri, angka 1-3 nyeri ringan, angka 4-6

nyeri sedang, angka 7-8 nyeri berat, angka 9-10 nyeri sangat berat. Silakan ibu

menunjukkan salah satu angka yang sesuai tingkat nyeri yang ibu rasakan.

Visual Numerical Rating Scale (VNRS)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 3

PROSEDUR PENATALAKSANAAN MASASE

1. Defenisi

Masase adalah melakukan tekanan tangan pada jaringan lunak, biasanya otot,

tendon atau ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi

untuk meredakan nyeri, menghasilkan relaksasi, dan/atau memperbaiki sirkulasi.

2. Tujuan

Mengurangi ketegangan bahu, leher dan nyeri punggung, memperbaiki sirkulasi

darah pada otot sehingga mengurangi nyeri, kram dan inflamasi, memperlambat

frekuensi nadi dan menurunkan tekanan darah, menimbulkan relaksasi pikiran.

3. Indikasi : Ibu inpartu kala I fase aktif dengan nyeri persalinan

4. Kontraindikasi : Ibu yang tidak bersedia menjadi responden

5. Persiapan :

a. Alat : Tempat tidur pasien, bantal

b. Pasien :

1) Membuka sedikit pakaian yang menutupi daerah sakrum

2) Tidak sedang mendapat terapi obat-obatan seperti induksi

c. Bidan : Mencuci tangan supaya bersih dan posisi bidan di

sebelah kanan ibu

6. Waktu dan frekuensi : Masase dilakukan setiap kontraksi selama 20 menit

Universitas Sumatera Utara


7. Tahap Pelaksanaan :

a. memberitahu ibu manfaat dan prosedur pelaksanaannya

b. menganjurkan ibu mencari posisi yang nyaman yaitu berbaring miring ke kiri

c. melakukan deep back massage saat terjadi kontraksi pada kontraksi genap (2,

4, 6, dst) dengan menekan daerah sakrum secara mantap dengan telapak

tangan setiap kontraksi selama 20 menit

d. Mengevaluasi metode masase tersebut.

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 4

PROTAP PENELITIAN

1. Memberikan informed concent kepada responden

2. Peneliti mengkaji derajat nyeri yang dialami responden sebelum dilakukan

intervensi

3. Melakukan masase setiap kontraksi selama 20 menit

4. Peneliti mengkaji derajat nyeri yang dialami responden sesudah dilakukan

intervensi

5. Menganalisis data yang sudah terkumpul.

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Plora Novita Febrina Sinaga

TTL : Ujung Batu, Rokan / 17 Februari 1989

Agama : Kristen Protestan

Nama Ayah : Bertianus Sinaga

Nama Ibu : Mindo Simanjuntak

Anak Ke : 1 dari 6 bersaudara

Alamat : Jln. Cahaya Gg. Sepakat No. 9C Kel. Durian Medan Timur

Pendidikan Formal :

Tahun 1994 - 2000 : SD N 036 Sei Keranji Inhu Riau

Tahun 2000 - 2003 : SMP N I Pahae Jae Taput Sumut

Tahun 2003 - 2006 : SMA N 7 Medan

Tahun 2006 - 2009 : Akademi Kebidanan Mitra Husada Medan

Tahun 2010 - 2011 : D-IV Bidan Pendidik Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara