Anda di halaman 1dari 15

INJEKSI PROPANOLOL HCL

I. KEKUATAN SEDIAAN

Tiap ampul mengandung Propranolol HCl 1 mg/mL

Volume tiap ampul adalah 5 mL

1
Propanolol HCl = 5 = 5

II. PREFORMULASI ZAT AKTIF

Propranololi Hydrochloridium (Propranolol Hidroklorida)

(Dirjen POM, 1979: 532 dan Lund, 1994: 1026)

C16H21NO2,HCl BM 295,81

Pemerian : Serbuk; putih atau hampir putih; tidak berbau;


rasa pahit

Polimorfisme : -

Ukuran Partikel : -

Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air dan dalam 20 bagian


etanol (95%) P; sukar larut dalam kloroform P

Titik Leleh : 163C - 166C

pKa/pKb : pKa 9.5 (24C)

Bobot Jenis : -
pH Injeksi : 2,8-4

Stabilitas : Propranolol hidroklorida dipengaruhi oleh


cahaya. Dalam larutan, terurai dengan oksidasi
rantai samping isopropilamina, disertai dengan
penurunan pH dan perubahan warna dari larutan.
Stabil pada pH 3 dan terurai dengan cepat pada
kondisi basa.
Inkompatibilitas : Dapat bercampur dengan injeksi NaCl 0.9%

injeksi glukosa 5%

III. PENGEMBANGAN FORMULA

Injeksi Propanolol Hidroklorida adalah larutan steril Propanolol


Hidroklorida dalam air untuk injeksi, mengandung Propanolol Hidroklorida
C16H21NO2 HCl, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari
jumlah yang tertera pada etiket (Depkes RI, 1995 : 711).

1. Propanolol HCl

Propanolol HCl dalam formulasi berperan sebagai zat aktif yang


akan dibuat dalam bentuk sediaan berupa injeksi. Kegunaan Propanol HCl
yaitu sebagai obat antiadrenergikum (Dirjen POM, 1979 : 532). Propanolol
HCl dalam injeksi stabil dalam pH 2,8-4 (Dirjen POM, 2014: 1068). Zat
pembawa yang digunakan dalam injekasi propanolol HCL adalah adalah
air karena zat tersebut larut dalam air.

2. Asam Sitrat

Asam Sitrat berfungsi sebagai pendapar atau penyangga pH dan


pengawet. Asam sitrat dalam formula sediaan farmasi sering digunakan
untuk adjust pH larutan. Dalam injeksi Propanolol HCl, digunakan asam
sitrat agar larutan injeksi Propanolol HCl mencapai pH tertentu (2,8-4) dan
menjaga agar pH sediaan tidak berubah. (Rowe et al, 2006 : 1026).
3. NaCl

NaCl digunakan sebagai penghistonis karena mempunyai tekanan osmosis


yang sama dengan cairan tubuh yang lain. NaCl merupakan zat tambahan
yang digunakan untuk membuat larutan isotonis.

4. Aqua pro injeksi

Aqua pro injeksi pada injeksi propanol HCl digunakan sebagai


pembawa/pelarut. Propanol HCl mudah larut dalam air dan dalam etanol,
sukar larut dalam kloroform dan praktis tidak larut dalam eter (Dirjen
POM, 1995 : 709).

Aqua pro injeksi digunakan karena aqua pro injeksi adalah air untuk injeksi
yang disterilkan dan dikemas dengan cara yang sesuai. Tidak mengandung
bahan antimikroba atau bahan tambahan lainnya (Dirjen POM, 1995 : 112-
113)

IV. PERHITUNGAN TONISITAS

5.1 Metode ekivalen

Propanolol HCl = 1 / = 5 /5 = 0,005 /5

0,005
= 100% = 0,1%
5

Asam Sitrat = 0,1%

Kesetaraan NaCl
Zat E W (%)
(E x W)
Propanolol HCl 0,20 0,1 0,02%
Asam Sitrat 0,18 0,1 0,018%
0,038%
Jumlah
(Hipotonis)
NaCl yang ditambahkan:

0,9% 0,038% = 0,862 % 0,862gram/100mL

0,862
= 5 = 0,0043 /5 = 4,3 /5
100

5.2 Metode Penurunan Titik Beku

Kesetaraan NaCl
Zat TF W(%)
(EW)
Propranolol HCl 0,060o 0,1% 0,006o
Asam Sitrat 0,050o 0,1% 0,005o
Jumlah 0,011o
(Hipotonis)
NaCl yang ditambahkan:

0,52 0,011
= = 0,877
0,58

0,877
5 = 0,044 /5 = 44 /5
100

V. FORMULA AKHIR

Tiap mL mengandung

R/ Propanolol HCl 1 mg/mL

Asam Sitrat 0,1%

NaCl 8,62

Aqua Pro Injeksi ad 5 mL


VI. PREFORMULASI EKSIPIEN
6.1 Asam Sitrat (Rowe et al, 2009: 181)

Pemerian : Hablur bening, tidak berwarna atau serbuk


hablur granul sampai halus, putih, tidak berbau,
atau praktis tidak berbau, rasa sangat asam.
Bentuk hidrat mekar dalam udara kering.

Polimorfisme : -

Ukuran Partikel : -

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut


dalam etanol, agak sukar larut dalam eter.

Titik Leleh : -

pKa/pKb : -

Bobot Jenis : 1.542 g/cm3

pH Larutan : dalam air 2.2

Stabilitas : Disimpan dalam wadah kedap udara

Inkompatibilitas : Asam sitrat tidak kompatibel dengan kalium


tartrat, alkali dan karbonat alkali tanah, dan
bikarbonat, asetat dan sulfide.

6.2 Natrium Klorida (Rowe, 2009: 637-639 dan Depkes, 1979: 403)

Pemerian : Hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk


hablur putih; tidak berbau; rasa asin.
Polimorfisme : -
Ukuran Partikel : -
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air
mendidih, dan dalam lebih kurang 10 bagian
gliserol; sukar larut dalam etanol (95%).
Titik Leleh : 804oC
Pka/Pkb : -
Bobot Jenis : 0,93 gram/mol
pH Larutan : -
Stabilitas : Larutan NaCl stabil tetapi dapat menyebabkan
pemisahan partikel aca dari jenis tertentu wadah
kaca, dapat dosterilkan dengan autoklaf atau
filtrasi. Stabil jika disimpan di wadah tertutup,
tempat sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : Larutan NaCl bersifat korosif untuk besi. Dapat
bereaksi membentuk endapan dengan garam
perak, timbal, dan merkuri. Oksidator kuat
membebaskan klorin dari larutan yang diasamkan
NaCl. Kelarutan Methylparaben menurun dalam
larutan NaCl. Viskositas gel karbomer dan larutan
dari hidroksietilselulosa menurun dengan
penambahan NaCl.
6.3 Aqua Pro Injeksi (Rowe et al, 2009: 766)

Pemerian : Cairan, jernih, tidak berwarna, tidak berbau


Polimorfisme : -
Ukuran Partikel : -
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam
etanol, agak sukar larut dalam eter
Titik Leleh : 100 oC
Pka/Pkb : pKa 3.128 (250C)
Bobot Jenis : 1.542 g/cm3
pH Larutan : Dalam air 2.2
Stabilitas : Disimpan dalam wadah sekali pakai, tidak lebih
dari 1000 ml
Inkompatibilitas : Dapat bereaksi dengan obat-obat yang rentan
hidrolisis, dapat bereaksi dengan logam alkali
VII. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN
7.1 Perhitungan Bahan
Volume dalam 1 ampul = Volume ampul + kelebihan
Volume dalam 1 ampul = 5 mL + 0,3 mL
= 5,3 mL
1
- Propanolol HCl = 5 = 5

5,3
= 5 = 5,3 / 5 mL
5
0,1
- Asam Sitrat 0,1% = 100 5 = 0,05 = 50
5,3
= 50 = 53 / 5 mL
5
5,3
- NaCl = 4,3 = 4,558 / 5
5

- Aqua Pro Injeksi = 5,3

7.2 Penimbangan Bahan


Nama Bahan 1 Ampul 10 Ampul
Propanolol HCl 5,3 mg 53 mg
Asam Sitrat 0,1% 53 mg 530 mg
NaCl 4,558 mg 45,58 mg
Aqua Pro Injeksi ad 5,3 mL ad 53 mL

VIII. PENENTUAN METODE STERILISASI


ALAT DAN BAHAN METODE STERILISASI
Injeksi Propanolol Metode panas lembab (Autoklaf)
Pipet volume Metode panas lembab (Autoklaf)
Pipet tetes + karet Metode panas lembab (Autoklaf)
Ampul Metode panas kering (Oven)
Kaca arloji Metode panas kering (Oven)
Erlenmeyer Metode panas kering (Oven)
Gelas ukur Metode panas lembab (Autoklaf)
Gelas kimia Metode panas lembab (Autoklaf)
Corong Metode panas kering (Oven)
Batang pengaduk Metode panas kering (Oven)

IX. PROSEDUR PEMBUATAN


Zat (NaCl, Asam sitrat dan Propanolol) ditimbang dengan menggunakan
kaca arloji.

Zat dilarutkan dalam gelas piala dilengkapi batang pengaduk dengan API
secukupnya.

Kaca arloji yang dipakai sebagai alat menimbang dibilas dengan aqua pro
injeksi.

Setelah semua zat dilarutkan, larutan dituang ke dalam gelas ukur hingga
volume 53 mL dan dilakukan pengukuran pH

Larutan disaring dengan filter bakteri kemudian langsung dimasukkan ke


dalam ampul

Tutup ampul dengan dilas

dilakukan proses sterilisasi akhir menggunakan autoklaf (121 C, 15


menit) dengan posisi wadah terbalik (dalam gelas kimia yang dialasi
kapas).
X. EVALUASI
Evaluasi injeksi meliputi evaluasi fisika, kimia dan biologi.
1. Penetapan pH
Alat : pH meter
Tujuan : Mengetahui pH sediaan dengan persyartan yang telah
ditentukan
Prinsip : Pengukuran pH cairan uji menggunakan pH meter yang
telah di kalibrasi
Prosedur : Digunakan alat potensiometer (pH meter) yang dikalibrasi
Pengukuran : Dilakukan pada suhu 25o 2o, kecuali dinyatakan lain
dalam masing-masing monografi. Skala pH ditetapkan
dengan persamaan berikut :
()
= +

Penafsiran hasil : Harga pH dilihat dari yang tertera pada potensiometer


(Dirjen POM, 1995:1039-1040 ).
2. Bahan Partikulat dalam Injeksi
Tujuan : Memastikan larutan injeksi, termasuk larutan yang
dikonstitusi dari zat padat steril untuk penggunaan
parenteral, bebas dari partikel yang dapat diamati secara
pemeriksaan visual.
Prinsip : Sejumlah tertentu sediaan uji di filtrasi menggunakan
membran, lalu membran tersebut diamati dibawah
mikroskop dengan pembesaran 100 kali. Jumlah partiel
dengan dimensi linier selektif 10 atau lebih dan sama
atau lebih besar dari 25 dihitung.
Prosedur : Larutan disaring dengan penyaring membrane lalu diamati
dibawah mikroskop micrometer dan hitung partikel pada
penyaring untuk melihat jumlah partikel dengan ukuran
lebih dari 10.000/wadah (Dirjen POM, 1995 : 981-985).
3. Uji Keseragaman Bobot Dan Keseragaman Volume
Tujuan : Untuk mengetahui volume larutan injeksi, apakah tetap
atau berubah antara sebelum dan sesudah proses sterilisasi
dan apakah ada penyusutan.
Prinsip : Mengevaluasi keseragaman sediaan yang meliputi
keseragaman bobot dan keseragaman volume.
Prosedur : Sediaan diletakan pada permukaan yang rata secara sejajar
lalu dilihat kesragaman bobot dan volume secara visual
(Dirjen POM, 1995:1044).
4. Uji Kejernihan Larutan
Tujuan : Untuk mengetahui kejernihan dari sediaan injeksi yang
dibuat
Prinsip : Mengevaluasi kejernihan dari sediaan
Prosedur : Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan
oleh seseorang yang memeriksa wadah bersih dari luar
dibawah penerangan cahaya yang baik, terhalang terhadap
refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang hitam dan
putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi
memutar, harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang
dapat dilihat dengan mata.
Penafsiran Hasil: Suatu cairan dinyatakan jernih jika kejernihannya sama
dengan air atau pelarut yang digunakan (Dirjen POM,
1995:998)
5. Uji Kebocoran
Tujuan : Memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilisasi
dan volume serta kestabilan sediaan
Prosedur : Pada pembuatan secara kecilkecilan hal ini dapat dilakukan
dengan mata tetapi dalam jumlah besar hal ini tidak mungkin
bisa dikerjakan. Wadah-wadah takaran tunggal yang masih
panas, setelah selesai disterilkan dimasukan kedalam larutan
biru metilena 0.1%. jika ada wadah-wadah yang bocor maka
larutan metilena akan masuk ke dalamnya karena perbedaan
tekanan di luar dan di dalam. Sehingga cara ini tidak
digunakan/dipakai untuk larutan-larutan yang sudah
berwarna. Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik
yaitu dengan cara ujungnya dibawah. Ini digunakan pada
pembuatan dalam skala kecil. Jika terjadi kebocoran maka
larutan ini akan keluar dari dalam wadah dan wadah menjadi
kosong. Wadah-wadah yang tidak disterilkan, kebocorannya
harus diperiksa dengan memasukan wadah-wadah tersebut
ke eksikator yang kemudian divakumkan. Jika terjadi
kebocoran larutan akan diserap keluar. Oleh karena itu, harus
dijaga agar jangan sampai larutan yang keluar diisap kembali
jika divakum dihilangkan (Dirjen POM, 1995 : 1055).
6. Penetapan Volume Injeksi dalam Wadah
Uji berikut dirancang sebagai jaminan bahwa larutan oral dan
suspensi yang dikemas dalam wadah dosis ganda, dengan volume yang
tertera pada etiket tidak lebih dari 250 ml, yang tersedia dalam bentuk
sediaan cair yang dikonstitusi dari bentuk padat dengan penambahan bahan
pembawa tertentu dengan volume yang ditentukan, jika dipindahkan dari
wadah asli akan memberikan volume sediaan seperti yang tertera pada
etiket. Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang 30 wadah,
dan selanjutnya ikuti prosedur berikut untuk sediaan tersebut (Dirjen POM,
1995:1089).
Larutan oral, suspensi oral, dan sirup dalam wadah dosis ganda
kocok isi 10 wadah satu persatu. Serbuk dalam wadah dosis ganda yang
mencantumkan penandaan volume untuk larutan oral atau suspensi oral
yang dihasilkan bila serbuk di konstitusi dengan sejumlah pembawa seperti
tertera pada etiket, konstitusi 10 wadah dengan volume pembawa seperti
tertera pada etiket diukur secara dan seksama (Dirjen POM, 1995:1089).
Prinsip : Uji berikut dirancang sebagai jaminan bahwa sampel yang
dikemas dalam wadah dosis ganda dengan volume yang
tertera pada etiket tidak lebih dari 250ml.
Tujuan : Untuk menguji volume sampel
Prosedur : Tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas
ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak boleh
lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah
dikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindarkan
pembentukan gelembung udara pada waktu penuangan dan
diamkan selama tidak lebih dari 30 menit. Jika telah bebas
dari gelembung udara, ukur volume tiap campuran ; volume
rata-rata larutan, suspensi, atau sirup yang diperoleh dari 10
wadah tidak kurang dari 100%, dan tidak satupun volume
wadah yang kurang dari 95% dari volume yang dinyatakan
pada etiket. Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100%
dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak ada satu wadah
pun volumenya kurang dari 95% dari volume yang tertera
pada etiket, atau B tidak lebih dari satu wadah volume
kurang dari 95%, tetapi tidak kurang dari 90% dari volume
yang tertera pada etiket, lakukan pengujian terhadap 20
wadah tambahan. Volume rata-rata larutan, suspensi atau
sirup yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100%
dari volume yang tertera pada etiket, dan tidak lebih dari satu
dari 30 wadah volume kurang dari 95% seperti yang tertera
pada etiket (Dirjen POM,1995:1089)
7. Uji sterilisasi
Tujuan : Untuk menetapkan apakah bahan Farmakope yang harus
steril memenuhi persyaratan yang berhubungan dengan uji
sterilisasi yang tertera pada masing-masing monografi.
Prosedur
Uji Fertilitas : Tetapkan sterilisasi setiap lot media dengan
menginkubasi sejumlah wadah yang mewakili pada suhu dan selama
waktu yang tertera pada uji.
Uji Sterilisasi : Prosedur pengujian terdiri dari inokulasi langsung
kedalam media uji dan teknik penyaringan membran.
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jendal Pengawas Makanan dan Obat. 1979. Farmakope Indonesia Edisi
III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Direktorat Jendal Pengawas Makanan dan Obat. 1995. Farmakope Indonesia
Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Lund, W. 1994. The Pharmaceutical Codex 12th edition. London : The
Pharmaceutical Press.
Rowe, R.C. et. al. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed. London:
The Pharmaceutical Press.

Anda mungkin juga menyukai