Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

REAKSI SUBSTITUSI ELEKTROFILIK PADA SENYAWA ORGANIK


BROMOBENZENA

OLEH :

NI PUTU NITA PUSPA DEWI 1513031001


PUTU TANSA MAHARANI 1513031004
A.A. ISTRI PUTRI PUSPADEWI 1513031008
IDA AYU PUTU SURYA EKA PRATIWI 1513031010
RATRI WULANSARI 1513031021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
20 NOVEMBER 2017
I. Judul Percobaan
Reaksi Substitusi Elektrofilik Pada Senyawa Organik Bromobenzena

II. Dasar Teori


Benzena tidak mengalami reaksi adisi, tetapi mudah mengalami reaksi
Substitusi Elektrofilik (SE). Reaksi tersebut melibatkan penyerangan oleh elektrofil
(E+) terhadap cincin benzena dengan mengeliminasi H+. Secara umum, reaksi
substitusi elektrofilik dapat digambarkan sebagai berikut.

Cincin benzena dengan awan elektron sangat kaya elektron, sehingga mudah
membentuk ikatan baru dengan elektrofil. Reaksi substituasi elektrofilik terhadap
benzena berlangsung dalam tiga tahap yaitu pembentukan elektrofil, serangan
elektrofil pada inti dan pelepasan proton menghasilkan produk benzena tersubstitusi
(Fessenden & Fessenden, 1989 dalam Suja, 2016).
Tahap 1. Pembentukan E+ (elektrofil) secara spontan atau dengan bantuan asam Lewis
(A)

Tahap 2. Pembentukan kompleks (ion benzenonium) antara elektrofil dengan cincin


benzena. Elektrofil tak langsung terikat pada salah satu posisi pada cincin kompleks
karena terjadi penataan.

Komples distabilkan oleh resonansi.

Tahap 3. H+ dieliminasi dari komplek oleh basa (:B-) menghasilkan bezena


tersubstitusi.

2
Mekanisme reaksi substitusi untuk tahap kedua dan ketiga umumnya sama,
perbedaanya hanya pada tahap pertama. Reaksi substitusi elektrofilik bisa dilakuakan
dengan beberapa elektrofil. Berikut ini dipaparkan jenis reaksi monosubstitusi
elektrofilik benzena yaitu reaksi Nitrasi.
Benzena mengalami nitrasi jika direaksikan dengan HNO 3 pekat dan katalis
H2SO4 pekat. Mekanisme reaksinya diawali dengan pembentukan elektrofil +NO2
melalui reaksi asam nitrat pekat dengan asam sulfat pekat. Penggunaan asam sulfat
pekat sebagai katalis, disamping menghasilkan ion H+, juga berperan sebagai zat
higroskopis yang mampu menarik molekul-molekul air yang dihasilkan pada proses
tersebut. Tahap berikutnya sama dengan tahap dua dan tiga dari reaksi substtusi
elektrofilik benzena secara umum (Morrison & Boyd, 1989 dalam Suja, 2016).
Persamaan reaksi dan mekanisme reaksi nitrasi sebagai berikut.

Mekanisme reaksinya:

Tanpa mengikutsertakan katalis, persamaan reaksi nitrasi benzena dapat dituliskan


sebagai berikut (Suja, 2016).

Produk yang dihasilkan dari substitusi elektrofilik bromobenzena dapat


diidentifikasi dengan menggunakan kromatografi. Kromatografi yang dapat digunakan
yaitu Kromatografi Lapis Tipis atau Thin Layer Chromatography (TLC). TLC adalah
satu metode pemisahan komponen menggunakan fasa diam berupa plat dengan lapisan

3
bahan adsorben inert (Fessenden, 2003). Prinsip TLC adalah absorbsi dan partisi
dimana adsorbs adalah penyerapan pada permukaan, sedangkan partisi adalah
penyebaran atau kemampuan satu zat yang ada dalam larutan untuk berpisah ke dalam
pelarut yang digunakan (Soebagio, 2002).

III. Tujuan Percobaan


Melakukan reaksi substitusi elektrofilik pada senyawa organik bromobenzena dan
mengidentifikasi senyawa hasil reaksinya

IV. Alat dan Bahan


Tabel 1. Alat Praktikum
No. Alat Jumlah No. Alat Jumlah
1 Gelas ukur 5 mL 1 buah 12 Adapter Claisen 1 buah
2 Gelas ukur 50 mL 1 buah 13 Termometer 1 buah
3 Gelas ukur 100 1 buah 14 Pemanas (heater) 1 buah
mL
4 Gelas kimia 50 4 buah 15 Pipa plastik 4 buah
mL
5 Gelas kimia 100 4 buah 16 Statif dan klem 1 set
mL
6 Labu buchner 1 buah 17 Corong 2 buah
7 Labu ukur 100 1 buah 18 Corong Buchner 1 buah
mL
8 Labu Erlenmeyer 2 buah 19 Generator 1 buah
100 mL
9 Batang pengaduk 2 buah 20 Kertas saring secukup
nya
10 Kondensor 1 buah 21 Magnetic stirrer 1 buah
11 Pipa kapiler 2 buah 22 Plat TLC 2 buah

Tabel 2. Bahan Praktikum


No. Alat Jumlah No. Alat Jumlah
1 Asam nitrat 5 mL 6 Es secukup

4
(HNO3) pekat nya
2 Asam sulfat 5 mL 7 n-heksana 5 mL
(H2SO4) pekat
3 Bromobenzena 2 mL 8 Etil asetat 1 mL
4 Etanol 95% 20 mL
5 Aquades secukupn
ya

5
V. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan
No. Prosedur Kerja Hasil Pengamatan
1 Campuran 5 mL asam Semula asam nitrat tidak berwarna dan panas. Asam
nitrat pekat dan 5 mL sulfat pekat semula berwarna kekuningan.Setelah kedua
asam sulfat pekat larutan tersebut dicampurkan terbentuk larutan tidak
dibuat dalam labu berwarna dan larutan tersebut panas.
bulat dan didinginkan
dalam penangas air
dicampur es.

Gambar 1. Larutan asam nitrat dan asam sulfat tidak


berwarna
2 Set alat praktikum
subtitusi elektrofilik.

Gambar 2. Set Alat Praktikum


Alat praktikum di set sedemikian rupa sesuai pada
gambar.
3 Melalui mulut bagian Bromobenzen 0,025 mol sebanyak 2 mL ditambahkan
atas pendingin, sedikit demi sedikit selama 15 menit. Penambahan
tambahkan 0,025 mol pertama tidak mengalami perubahan pada larutan
bromobenzen, tersebut.

6
penambahan
dilakukan sedikit
demi sedikit (1-2 mL)
selama kurun waktu
15 menit sambil
diaduk.

Gambar 3. Penambahan bromobenzen sambil mengaduk


dengan magnetic stirrer
4 Selama penambahan Suhu dijaga sampai 55C. Setelah bromobenzen habis
bromobenzen suhu ditambahkan pada larutan tersebut terjadi reaksi adisi
reaksi dijaga antara sempurna dan terbentuk padatan kuning
50-55C.

Gambar 4. Terbentuk padatan kuning setelah proses


pengadukan
5 Setelah adisi Campuran didiamkan selama 10 menit
sempurna, biarkan
campuran pada suhu
di bawah 50C
selama 30 menit.
6 Dinginkan labu pada Setelah didinginkan pada suhu 30C, campuran
suhu kamar, tuangkan dituangkan pada gelas kimia 100 mL yang berisi 50 mL
campuran tersebut ke air es. Pada campuran tersebut kemudian terbentuk

7
dalam gelas kimia larutan kuning keruh.
100 mL yang berisi
50 mL air es.

Gambar 5. Campuran dituangkan dalam gelas kimia


yang berisi air es
7 Nitro-bromobenzen Nitro-bromobenzen disaring pada corong buchner,
disaring, cuci padatan sebelum disaring kertas saring terlebih dahulu dibasahi
kuning dengan air dengan air es. Setelah disaring padatan kuning berwarna
dingin dan biarkan kuning. Padatan kuning yang didapat sebanyak 4,3241 g.
padatan kuning
sampai kering berada
pada kertas saring.

Gambar 6. Nitro-bromobenzen disaring dengan corong


Buchner

8
Gambar 7. jumlah padatan kuning yang telah disaring
8 Masukan etanol95% Etanol95% sebanyak 20 mL dipanaskan kemudian
sebanyak 20 mL padatan kuning ditambahkan sedikit demi sedikit.
kedalam labu
Erlenmeyer 100 mL
kemudian
dipanaskan. Masukan
sedikit demi sedikit
padatan kuning pada
larutan tersebut.

Gambar 8. Etanol 95%

Gambar 9. Penambahan padatan kuning ke dalam etanol


95% sedikit demi sedikit

9
9 Panaskan campuran Setelah dipanaskan terbentuk larutan berwarna kuning
sampai semua dan padatan kuning larut.
mendidih dan padatan
kuning tersebut larut.

Gambar 10. Padatan kuning larut setelah dipanaskan


10 Larutan disaring Etanol panas digunakan untuk membilas larutan. Setelah
dengan etanol panas. dibilas dengan etanol panas, pada filtrate tersebut
terbentuk 10kristal.

Gambar 11. Kristal yang terbentuk dari filtrat


11 Filtrat yang beirisi Setelah didiamkan satu minggu Kristal disaring
kristal didiamkan mengunakan corong Buchner. Kristal diangin-anginkan
selama satu minggu. diruang asam.
Selanjutnya Kristal
disaring mengunakan
corong Buchner.

10
Gambar 12. Kristal yang terbentuk setelah filtrate
didiamkan selama satu minggu.

Gambar 13. Set alat penyaringan dengan corong


Buchner
12 Kristal ditimbang Kristal yang didapatsebanyak 1,8786 gram Kristal
kemudian dilarutkan dilarutkan pada etanol dingin.
pada etanol dingin.

Gambar 14. Jumlah Kristal yang terbentuk. (jumlah di


atas belum dikurangi dengan massa kertas saring sebesar
0,2029 gram dan kaca arloji sebesar 29,5794 gram
sehingga didapatkan massa Kristal sebesar 1,8786 gram)

11
13 Kristal diuji dengan Kristal diuji dengan uji TLC
uji TLC untuk
mengetahui produk
yang dihasilkan.
14 Dibuat larutan 1 mL Semula etil asetat tidak berwarna, setelah ditambahkan n-
etil asetat dan 5 mL heksana tidak terjadi perubahan warna.
n-heksana sebagai
fase diam.
Bromobenzena
digunakan sebagai
starting material.

Gambar 15. Larutan etil asetat dan n-heksana 1:5 mL


15 Kritasl yang Setelah Kristal dilarutkan dengan etanol terbentuk larutan
dihasilkan diambil yang tidak berwarna.
seujung spatula
kemudian dilarutkan
dengan etanol.
16 Siapkan plat TLC Plat TLC disiapkan dan diberi tanda.
yang sudah diberi
tanda S (starting
material) dan P
(produk) pada garis
awal. Selanjutnya
beri garis akhir.

Gambar 16. Plat TLC yang telah diberi tanda awal dan
akhir
17 Diambil dan Diambil dan diteteskan bromobenzena pada titik S dan
diteteskan produk pada titik P menggunakan pipa kapiler.

12
bromobenzena pada
titik S dan produk
pada titik P
menggunakan pipa
kapiler.

Gambar 17. Penetesan bromobenzena pada titik S dan


produk pada titik P menggunakan pipa kapiler
18 Plat TLC yang sudah Plat TLC dicelupkan ke dalam gelas kimia yang berisi 6
diteteskan mL campuran etil asetat dan n-heksana.
bromobenzena dan
produk tersebut
dicelupkan kedalam
gelas kimia yang
berisi 6 mL campuran
etil asetat dan n-
heksana.

Gambar 18. Plat TLC dicelupkan dalam larutan etil


asetat dan n-heksana.
19 Tunggu hingga Plat TLC diangkat
pelarut mencapai
garis akhir kemudian
plat TLC diangkat
dan diangin-
anginkan.

Gambar 19. Plat TLC diangkat dan diangin-anginkan

13
20 Plat TLC yang sudah Setelah plat TLC dimasukan pada sinar UV, pada titik S
kering dicek dengan tidak dapat teridentifikasi dengan sinar UV sedangkan
sinar UV. Beri tanda pada titik P terdapat titik senyawa yang teridentifikasi
pada titik yang pada sinar UV.
terlihat

Gambar 20. Plat TLC yang sudah disinari UV dan


sudah diberi tanda pada titik senyawa.

14
VI. Pembahasan
Pada percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hasil substitusi
elektrofilik bromobenzene yaitu menghasilkan produk 4-Bromo-nitrobenzena, 2-
Bromo-nitrobenzena, dan 3-Bromo-nitrobenzena. Senyawa ini diperoleh dengan cara
bromobenzena direaksikan dengan gugus elektrofil NO2+ yang dihasilkan dari reaksi
antara HNO3 pekat dan H2SO4 pekat. Konsentrasi H2SO4 pekat yang dipakai 17,84 M
agar mampu mengoksidasi HNO3 14,44 M sehingga terprotonkan dan membentuk
+
NO2. Pencampuran H2SO4 pekat dan HNO3 pekat ini harus didinginkan agar tetap
dalam fase cairan karena sifatnya yang mudah menguap. Adapun mekanisme reaksi
yang terjadi dalam proses pembentukan gugus elektrofil NO2+ (ion nitronium) sebagai
berikut.

Atom oksigen yang mengandung pasangan bebas dari HNO 3 menyerang H+


yang berasal dari H2SO4 sehingga HNO3 terprotonkan. Selanjutnya terjadi pelepasan
molekul H2O sehingga dihasilkan ion nitronium atau elektrofil (+NO2). Selanjutnya
gugus elektrofil ini akan diserang bromobenzena sehingga menghasilkan tiga produk
yaitu 4-Bromo-nitrobenzena (substitusi para), 2-Bromo-nitrobenzena (substitusi orto),
dan 3-Bromo-nitrobenzena (substitusi meta).
Major product Minor product Trace Amount
Br Br Br Br Br

HNO3
O2N CH3
H2SO4
O 2N NO2 NO2
NO2

3-Bromo-nitrobenzene Multiple reaction


4-Bromo-nitrobenzene 2-Bromo-nitrobenzene (meta subtitution)
(para subtitution) (ortho subtitution)

Gugus halogen (Br) merupakan gugus penarik elektron, dimana secara umum
gugus penarik elektron adalah pengarah meta. Namun gugus halogen mengalami
penyimpangan karena gugus halogen memiliki pasangan elektron bebas sehingga
kecenderungan berubah menjadi pengarah orto dan para. Hal ini diperjalas dengan
mekanisme reaksi elektrofilik yang disertai dengan terjadinya resonansi.

15
Br Br O Br O
O Br
O
N N N
N
+ + O O Posisi orto
+ O
+
+
O

Br Br
Br Br
O
+
+ N O
+ O +
+ N
O Posisi meta
O N N
O
O O

Br Br Br Br
O
+
+ +
+ N
+ Posisi para
O
N N N
O O O O O O

Pada mekanisme di atas terlihat resonansi yang terjadi pada posisi orto dan
para, ion nitronium atau elektrofil yang terbentuk dapat terstabilkan ketika ion
nitronium mengikat gugus Br. Sedangkan pada posisi meta, ion nitronium tidak pernah
mengikat gugus Br selama terjadi resonansi sehingga kurang dapat distabilkan.
Berdasarkan hal ini, maka penyimpangan pengarah gugus oleh gugus Br dapat
menjadi pengarah orto dan para. Penambahan bromobenzena dilakukan sedikit demi
sedikit agar tumbukan partikel antara bromobenzena dengan gugus +NO2 lebih efektif,
sehingga lebih cepat bereaksi. Suhu dijaga konstan 300C agar terbentuk padatan
bromonitrobenzena yang berwarna kekuningan. Kemudian dilakukan penyaringan
menggunakan corong Buchner yang dihubungkan dengan generator dan didapatkan
padatan kuning sebanyak 4,3241 gram.
Selanjutnya dilakukan penambahan etanol 95% sebanyak 20 mL yang
dipanaskan, penambahan etanol panas ini bertujuan untuk melarutkan padatan kuning
secara merata. Kemudian padatan kuning ditambahkan sedikit demi sedikit hingga
semua padatan kuning larut dan terbentuk larutan yang berwarna kuning. Larutan
tersebut disaring menggunakan kertas saring, dibilas mengunakan etanol panas
sehingga mulai terbentuk kristal. Filtrat yang beirisi kristal didiamkan selama satu
minggu, agar kristal terbentuk dengan sempurna. Setelah mendapatkan kristal yang
diinginkan, kristal disaring menggunakan corong Buchner dan diangin-anginkan
sebentar hingga kering. Kristal yang sudah kering ditimbang dan didapatkan hasil
sebanyak 1,8786 gram. Berikut merupakan gambar dari kristal Bromo-nitrobenzena.

16
Gambar 21. Kristal Bromo-nitrobenzena

Untuk mengetahui produk yang terbentuk dari substitusi elektrofilik dari


bromobenzena, dilakukan uji Thin Layer Chromatography (TLC) atau Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) menggunakan n-heksana dan etil asetat sebagai pelarut, dengan
bromobenzena sebagai starting material dan produk (secara teori produk mayor yang
terbentuk yaitu 4-Bromo-nitrobenzena sedangkan produk minor yaitu 2-Bromo-
nitrobenzena dan produk sampingan yaitu 3-Bromo-nitrobenzena). Uji TLC bertujuan
untuk mengidentifikasi senyawa dominan yang terbentuk dari substitusi elektrofilik
bromobenzena. Prinsip TLC adalah absorpsi dan partisi dimana absorpsi adalah
penyerapan pada permukaan, sedangkan partisi adalah penyebaran atau kemampuan
suatu zat yang ada dalam larutan untuk berpisah ke dalam pelarut yang digunakan.
Dihitung nilai retensi (Rf) zat yang dicari dan didapatkan nilai Rf sebesar 0,79. Hal ini
menunjukkan produk mayor yang dihasilkan dari substitusi elektrofilik dari
bromobenzena yaitu 4-Bromo-nitrobenzena. Berikut perhitukan Rf (faktor retensi) dan
gambar TLC bromobenzena:


=
3,5
= = 0,79
4,4

17
Gambar 22. Plat TLC yang sudah disinari UV

Perhitungan secara teoritis, produk yang dihasilkan dari reaksi substitusi elektrofilik
dari senyawa bromobenzena sebagai berikut.
10 x x %
[H2SO4] pekat =
Mr H2 SO4
10 x 1,84 x 95
=
98
= 17,84 M
Volume H2SO4 yang dipakai = 5 mL = 0,005 L
mol H2SO4 = [H2SO4] x Vol. H2SO4
= 17,84 M x 0,005 L
= 0,0892 mol

10 x x %
[HNO3] pekat =
Mr HNO3
10 x 1,40 x 65
=
63,01
= 14,44 M
Volume HNO3 yang dipakai = 5 mL = 0,005 L
mol HNO3 = [HNO3] x Vol. HNO3
= 14,44 M x 0,005 L
= 0,0722 mol

18
Br
Br Br

+ HNO3 + H2SO4 +
O 2N NO2

Mula-mula 0,0250 mol 0,0722 mol 0,0892 mol - -

Reaksi 0,0250 mol 0,0250 mol 0,0250 mol 0,0250 mol 0,0250 mol

Setimbang - 0,0472 mol 0,0642 mol 0,0250 mol 0,0250 mol

Massa rendemen secara teori = mol x Mr


= 0,025 mol x 202,007 gr/mol
= 5,0502 gram

,
% Rendemen = %
,

= 37,20 %
Rendemen yang didapatkan yaitu 37,20 %, sangat kurang dari 100%
dikarenakan adanya faktor-faktor yang memengaruhi pada saat praktikum dilakukan,
seperti kurang optimalnya pengocokan yang dilakukan sehingga tidak semua
bromobenzena bereaksi membentuk bromo-nitrobenzena, kurang telitinya menjaga
rentang suhu saat penambahan bromobenzena sehingga tumbukan antara elektrofil (ion
nitronium) dengan bromobenzena kurang optimal, dan kemungkinan tidak semua
produk minor (3-Bromo-nitrobenzena dan 2-Bromo-nitrobenzena) dapat berubah
menjadi produk mayor (4-Bromo-nitrobenzena) melalui penambahan etanol panas.

VII. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari substitusi elektrofilik pada senyawa bromobenzena
sebagai berikut.
1) Produk yang dihasilkan dari reaksi elektrofilik pada senyawa bromobenzena yaitu
4-Bromo-nitrobenzena (substitusi para), 2-Bromo-nitrobenzena (substitusi orto),
dan 3-Bromo-nitrobenzena (substitusi meta).
2) Rendemen yang dihasilkan yaitu 1,8786 gram dengan persentase 37,20 %.

19
VIII. Daftar Pustaka
Diemoz, Kayla dan Valerie Burke. 2010. Nitration of Substituted Arommatic Rings
and Rate Analysis. https://www.stmarys-
ca.edu/sites/default/files/attachments/files/Diemozsummerreport.pdf. Diakses
pada 19 November 2017.
Fessenden R.J dan J.S Fessenden. 2003. Dasar-dasar Kimia Organik. Jakarta:
Erlangga.
Nurlita, Frieda dan I Wayan Suja. 2004. Buku Ajar Praktikum Kimia Organik.
Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.
Soebagio. 2002. Kimia Analitik. Makassar: Universitas Negeri Makassar Fakultas
MIPA.
Suja, I Wayan. 2016. Buku Ajar Kimia Organik I. Singaraja: Universitas Pendidikan
Ganesha.

20