Anda di halaman 1dari 2

PENILAIAN DERAJAT NYERI PASIEN DEWASA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman


1 dari 2
372/PM&AK/II/2016

Tanggal Terbit :
Ditetapkan
STANDAR Direktur Utama :
PROSEDUR 5 Februari 2016
OPERASIONAL
(SPO)
dr. Nasaruddin Nawir. Sp.OG
NIP : 19711125 200012 1 002
Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosi yang tidak
PENGERTIAN menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial, atau yang dijelaskan bila ada suatu kerusakan.
1. Menilai derajat nyeri pasien secara tepat untuk pencatatan di
status nyeri
2. Sebagai dasar penatalaksanaan nyeri
3. Setiap petugas kesehatan wajib mengetahui cara menilai nyeri
TUJUAN
4. Cara menilai derajat nyeri harus disosialisasikan kepada pasien
dan keluarganya agar terjadi kesamaan persepsi
5. Penanganan nyeri harus ditangani secara komprehensif.

Keputusan Direktur Utama RSUD. Sawerigading Kota Palopo, Nomor :


KEBIJAKAN 220 /SK/RSUD SWG/PLP/XII/2015 tentang Pemberlakuan Pedomandan
SPO ManajemenNyeri

1. Memperkenalkan diri dan menerangkan pada pasien dan


keluarga pasien penilaian yang akan dilakukan
2. Menanyakan kepada pasien apakah merasakan nyeri / tidak.
3. Meminta pasien untuk menentukan lokasi nyeri, dan menandai
lokasi nyeri pada dokumen status penilaian derajat nyeri pasien.
PROSEDUR
PENILAIAN DERAJAT NYERI PASIEN DEWASA

No. Dokumen : NO. REVISI Halaman


2 dari 2
372/PM&AK/II/2016

4. Meminta pasien memilih sesuai derajat nyerinya dalam bentuk


angka 0 -10 (Numerical Rating Scale), di mana 0 adalah tidak
nyeri dan 10 adalah nyeri teramat sangat yang tidak
tertahankan. Atau meminta pasien memilih dari gambar yang
ada, gambar yang menggambarkan derajat nyeri yang
dirasakannya (Faces Scale / Skala Nyeri Berdasarkan Ekspresi
Wajah)

PROSEDUR

5. Menentukan derajat nyeri dengan Numerical Rating Scale atau


dengan melihat angka yang sesuai dengan gambar yang dipilih
pasien
6. Mencatat pada status derajat nyeri pasien.
7. Pada pasien rawat inap, penilaian berikutnya dilakukan 8 jam
kemudian dan dicatat pada status.

1. Instalasi Instalasi Gawat Darurat


UNIT TERKAIT 2. Instalasi Rawat Jalan

3. Unit terkait lainnya