Anda di halaman 1dari 16

BAB I

BAHASA INDONESIA DAN MASALAHNYA

A. Problematika Bahasa Indonesia

Ada beberapa sikap negatif pada sebagian masyarakat pemakai bahasa Indonesia terhadap bahasanya. Sikap
negatif itu adalah:

1. Masyarakat pemakai bahasa menganggap mudah bahasa Indonesia

2. Masyarakat pemakai bahasa lebih menghargai bahasa asing daripada bahasa Indonesia

3. Masyarakat pemakai bahasa menganggap bahwa membina dan mengarahkan cara berbahasa anak didik
adalah kewajiban guru bahasa Indonesia saja.

Sikap di atas pada akhirnya sangat mempengaruhi cara dan produk bahasa orang itu sendiri. Di tambah lagi
dengan adanya latar bahasa yang berbeda pada umumnya penutur bahasa Indonesia, serta pengaruh bahasa
asing, maka produk bahasa yang terwujud pun tidak sepenuhnya memperlihatkan kenyataan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Kekacauan itu terdapat dalam lafal, ejaan, kosakata, istilah, dan tata bahasa.

Untuk mengatasi hal itu selain memotivasi masyarakat pemakai bahasa Indonesia untuk memperhatikan dan
menghargai bahasanya, juga dilakukan dengan pembakuan bahasa. Maksudnya, penetapan norma atau aturan
bahasa yang dapat dijadikan patokan oleh masyarakat pemakai bahasa Indonesia dalam mengekspresikan
bahasa mereka.

B. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Bahasa Indonesia

Yang dimaksud dengan bahasa nasional adalah bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. Ada
beberapa pertimbangan yang mendasari pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional , yaitu:

1. Alasan Historis
Bahasa itu sudah lama dipergunakan dan dikenal sebagai lingua franca atau bahasa perhubungan di
wilayah Nusantara.
2. Alasan Praktis
Bahasa Melayu mempunyai sistem dan aturan bahasa yang lebih mudah dan sederhana dipelajari
daripada bahasa daerah lainnya.
3. Alasan Politis
Bahasa Melayu mampu menjembatani kesenjangan komunikasi antarpenutur yang berasal dari sejumlah
daerah dengan bahasa yang berbeda-beda.

Beberapa fase/masa penting dalam perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia hingga dalam
bentuknya sekarang ini:

1. Masa prakolonial, yaitu pemakaian bahasa Melayu sejak masa jauh sebelum orang-orang Barat datang ke
Nusantara.
2. Masa kolonial, yaitu pemakaian bahasa melayu ketika orang-orang Barat menjajah Indonesia.
3. Masa pergerakan sampai kemerdekaan, yaitu perkembangan bahasa Melayu, menjadi bahasa Indonesia
sejak peristiwa Sumpah Pemuda, kemerdekaan hingga dalam bentuknya yang sekarang ini.
C. Peranan dan Kedudukan Bahasa Indonesia

Sesuai dengan Sumpah Pemuda 1928 dan UUD 1945 (Bab XV, Pasal 36), bahasa Indonesia berkedudukan
sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.

Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1)lambang kebanggaan
nasional, (2)lambang identitas nasional, (3)alat pemersatu berbagai suku bangsa yang berbeda bahasa dan
sosial budayanya ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia, (4)alat perhubungan antardaerah dan
antarbudaya.

Dalam peranannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1)bahasa resmi kenegaraan,
(2)bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, (3)alat perhubungan pada tingkat nasional kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, (4)alat pengembangan kebudayaan, ilmu
pengetahuan dan teknologi.

BAB II

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA INDONESIA

A. Alat Ucap dan Sistem Bunyi

Pembahasan dan hasil kerja Anda dapat disederhanakan seperti berikut:

Menurut struktur fonologis bahasa Indonesia , morfem terdiri atas suku-sukunya, dan suku terdiri atas fonem-
fonemnya. Karena itu, dalam buku-buku pelajaran bahasa Indonesia bahasan tentang fonem dikaitkan dengan
bahasan kata dasar sebagai satuan gramatisnya.

Sebagai satuan kebahasaan yang terkecil, fonem diidentifikasi dengan perangkat bentuk dan fungsinya. Bentuk
fonem dapat diamati melalui segi organis, akustis, dan auditoris. Bidang studi yang berisi bahasan tentang
bentuk fonem adalah fonetik. Fungsi fonem adalah membedakan makna. Untuk membedakan fonem dari
huruf digunakanlah tanda-tanda fonetis dan fonemis.

Menurut fonetik organisnya, sebuah fonem dihasilkan oleh satu peristiwa ucapan atau artikulasinya. Peristiwa
ini melibatkan gerakan-gerakan organ bicara. Atas dasar ini diadakan klasifikasi fonem.

Klasifikasi pertama ditentukan berdasarkan ada tidaknya hambatan organ bicara sewaktu fonem-fonem
diucapkan. Hasilnya adalah pembagian fonem atas vokal dan konsonan. Vokal adalah fonem yang dihasilkan
tanpa adanya hambatan aliran udara dari paru-paru sewaktu fonem itu diucapkan. Fonem-fonem lainnya
diklasifikasikan sebagai konsonan. Dalam bahasa Indonesia terdapat enam buah vokal: /a/, /e/, / /, /i/, /o/,
dan/u/. Perbedaan di antara sesamanya ditentukan oleh gerak lidah ke muka dan ke belakang, gerak lidah ke
atas dan ke bawah, bentuk bibir, dan ruang antara lidah dengan langit-langit sewaktu fonem tersebut
diucapkan. Atas dasar itu dikenal istilah: vokal depan, vokal tengah, dan vokal belakang; vokal tinggi, vokal
madya, dan vokal rendah; vokal bundar dan vokal tak bundar ; vokal sempit dan vokal lapang. Vokal yang
memiliki perubahan kualitas diklasifikasikan sebagai diftong,; misalnya au, ai, oi pada kata pulau, pantai, dan
sepoi.

Konsonan diklasifikasikan menurut dasar ucapannya, peristiwa hambatan udara, dan bergetar tidaknya selaput
suara sewaktu fonem-fonem itu diucapkan. Berdasarkan hal ini, dikenal istilah: konsonan bibir (bilabial),
konsonan gigi (dental), konsonan bibir gigi (labiodental), konsonan langit-langit (palatal), konsonan langit-
langit lembut (velar), dan konsonan pangkal tenggorok (laringal); konsonan letupan, konsonan geseran, nasal,
lateral, dan gear; konsonan bersuara dan tak bersuara. Sebuah fonem bisa memiliki lebih dari satu bentuk
ucapan.

Walaupun demikian, bentuk-bentuk tersebut tidak mengubah fungsi fonem. Karena itu, perbedaan bentuk
semacam itu hanya merupakan variasi fonem atau alofon.

Sesuai dengan strukturnya, setiap fonem berkonstruksi dengan fonem lainnya dalam membentuk suku sebagai
satuan fonologis atasannya.

B. Persukuan

Suku merupakan satuan fonologis dan juga sebagai unsur morfem. Sebagai satuan, suku berunsurkan fonem.
Sebuah suku dalam struktur bahasa Indonesia ditandai oleh adanya sebuah vokal. Dalam bahasa Indonesia
vokal berfungsi sebagai puncak suku. Adapun konsonan berfungsi sebagai tumpu atau kodanya.

Tumpu dan koda ada yang ditempati oleh sebuah konsonan, dan ada pula yang berupa kluster. Hubungan
antara tumpu dengan puncak, atau koda dengan puncak merupakan petunjuk adanya batas suku.

Berdasarkan urutan fonem dalam sebuah buku, diadakan klasifikasi struktur suku. Dalam klasifikasi ini fonem-
fonem hanya digolongkan atas vokal dan konsonan. Telaah yang lebih mendalam tentang struktur persukuan
adalah berkonstruksinya fonem-fonem dalam sebuah suku atau morfem. Akibat konstruksi tersebut terjadi
variasi bentuk fonem menurut ucapannya.

Ucapan setiap suku pun ditentukan oleh ucapan kata atau morfem secara keseluruhan. Karena itu, selain
terjadi variasi bentuk fonem, terjadi pula penambahan bunyi yang berfungsi sebagai pelancar dan pembatas
ucapan suku.

Menurut fonem akhir suku, dibedakan antara suku terbuka dan suku tertutup. Fonem akhir dan fonem awal
suku menentukan batas suku.

C. Pengajaran Fonetik Fonologi

Berhasil tidaknya mengajarkan struktur fonologis bahasa Indonesia diukur oleh tercapai tidaknya tujuan
pengajarannya. Tujuan mengajarkan struktur fonologis bahasa indonesia di sekolah dasar ditentukan oleh
tujuan pengajaran bahasa Indonesia di lembaga pendidikan tersebut. Ditinjau dari fungsi bahasa pada
umumnya, tujuan pengajaran bahasa Indonesia ditekankan pada segi keterampilan berbahasa. Oleh karena
itu, tujuan pengajaran struktur fonologisnya pun ditekankan pada keterampilan menggunakan struktur
fonologis bahasa Indonesia secara tepat.

Bahan pengajaran struktur fonologis di sekolah dasar disesuaikan dengan tingkat pemakaian bahasa Indonesia
yang selayaknya dikuasai murid-murid SD. Semuanya ini diatur dalam GBPP Bahasa Indonesia menurut
kurikulum yang berlaku di sekolah dasar.

Dalam GBPP itu istilah struktur tidak dinyatakan secara tegas sebagai pokok bahasan pengajaran bahasa
Indonesia di kelas I dan II. Tetapi dalam uraiannya tersirat bahan pengajaran yang menyangkut struktur
fonologis bahasa Indonesia. Bahan pengajaran itu tercakup dalam pengajaran membaca dan menulis
permulaan. Karena itu, penyajiannya pun mengikuti metode membaca dan menulis permulaan yang dianut.
Bahan pengajarannya mencakup struktur fonem dan suku dalam satuan kata dasar. Pokok-pokok bahan
pengajaran itu disusun sedemikian rupa sehingga tidak menyulitkan guru untuk memilih dan menyusun materi
yang harus diajarkan. Walaupun demikian, diperlukan adanya kecakapan guru untuk merealisasikannya dalam
menunjang tercapainya tujuan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.

Dalam hal ini guru diharapkan dapat memilih bahan pengajaran struktur fonologis yang bermanfaat bagi
keperluan komunikasi. Bahan itu sebaiknya disusun menurut tingkatan pengenalan dan kesulitan murid.
Karena itu, guru dituntut untuk mengenali kondisi murid, baik dalam segi sosialnya maupun individunya.

Dengan pengajaran yang berpusat pada murid, guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang
memungkinkan murid-murid dapat belajar secara aktif. Untuk itu, diperlukan adanya alat bantu dan buku
pelajaran yang mendorong murid untuk belajar.

Dalam penyajiannya, baik fonem maupun suku kata, didahulukan oleh pengenalan murid tentang kata.
Pengenalan tentang kata didahului dengan pengenalan kalimat. Dan, pengenalan kalimat didahului dengan
pengenalan wacana. Pemahaman tentang suku dan fonem dimanfaatkan untuk pemakaian kata dalam
kalimat.

Sehubungan dengan beragamnya bahasa murid-murid , kesalahan ucapan yang dilakukan murid-murid
terutama disebabkan oleh pengaruh struktur fonologis bahasa daerah. Dalam hal ini guru dituntut untuk
menguasai teknik pengajaran remedialnya.

BAB III

MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

A. Morfem dan Kata

Struktur kata bahasa Indonesia secara morfologis ditinjau berdasarkan hubungan diantaranya unsur-unsur
gramatisnya yang terkecil. Unsur-unsur tersebut disebut morfem. Menurut bentuknya, morfem-morfem itu
secara berulang-ulang ditemukan dalam peristiwa pemakaian bahasa. Menurut maknanya, morfem itu ada
yang bermakna leksis dan bermakna struktural. Menurut fungsinya, morfem itu ada yang berfungsi sebagai
dasar kata, dan ada pula yang berfungsi sebagai pembentuk kata.

Morfem yang berfungsi sebagai dasar kata disebut morfem dasar. Morfem dasar memiliki makna leksis. Kata
yang hanya terdiri dari atas satu morfem dasar disebut kata dasar. Morfem dasar ada yang bersifat bebas,
dan ada pula yang bersifat terikat. Morfem dasar yang bebas tanpa morfem lainnya dapat menjadi kata, yaitu
kata dasar, misalnya: duduk, ambil, tidur, naik, sudah, pandai, pada, yang, dan sebagainya. Morfem ini
termasuk morfem bebas. Morfem dasar yang terikat misalnya: juang, inap, lomba, sandar, netra, temu, kibar,
dan sebagainya.

Imbuhan termasuk morfem terikat. Maknanya adalah makna struktural. Fungsinya sebagai pembentuk kata.
Kata yang memiliki imbuhan adalah kata berimbuhan. Imbuhan yang menduduki posisi awal kata disebut
awalan atau prefiks. Imbuhan yang berposisi di tengah sehingga memenggal morfem dasar disebut
sisipan atau infiks. Imbuhan yang menduduki posisi akhir kata adalah akhiran atau sufiks. Dalam
pemakaiannya terjadi juga kombinasi imbuhan. Kombinasi tersebut ada yang terpisahkan, dan ada pula yang
tak terpisahkan. Yang terpisahkan misalnya me-kan, me-i, di-kan, di-i, per-kan, per-i, dan sebagainya. Yang tak
terpisahkan disebut konfiks, simulfiks, atau ambifiks; misalnya: pe-an, ke-an, per-an.
Istilah imbuhan dibedakan dengan klitik dan partikel. Klitik ada yang bersifat bebas dan ada pula yang terikat.
Yang bersifat bebas yaitu klitik belakang atau enklitik. Klitik yang terikat yaitu klitik depan atau proklitik. Dalam
hal ini mesti dibedakan nya sebagai klitik dengan nya sebagai akhiran. Fungsi partikel sama dengan fungsi
imbuhan. Perbedaannya terletak dalam segi makna dan kebebasannya.

B. Afiksasi

Pemakaian kata-kata berimbuhan dalam kalimat bukan semata-mata karena segi leksisnya, tetapi juga dalam
segi strukturnya. Karena itu, menguasai struktur kata berimbuhan merupakan salah satu syarat untuk
menggunakan kalimat dengan tepat. Sesuai dengan hakikat kata sebagai satuan morfologis, struktur kata
berimbuhan mencakup struktur bentuk, struktur fungsi, dan struktur maknanya.

Struktur bentuk kata berimbuhan ditentukan oleh hubungan fonologis antara imbuhan dengan unsur
morfologis yang dibentuknya. Struktur tersebut dibahas dalam bidang morfofonologi. Karena itu, bahasan
tentang struktur bentuk kata berimbuhan dikemukakan menurut proses morfofonologisnya.

Menurut proses morfofonologisnya, imbuhan-imbuhan bahasa Indonesia ada yang mengalami perubahan
ucapan, dan ada pula tetap. Imbuhan yang mengalami perubahan bentuk, menyebabkan adanya variasi bentuk
imbuhan atau alomorf. Walaupun demikian perubahan tersebut tidak mengubah fungsi dan makna imbuhan
itu.

Awalan yang beralomorf yaitu me-, ber-, ter-, dan pe-. Bentuk awalan me- ditentukan oleh fonem awal
morfem dasar yang dihadapinya, baik fonem tunggal maupun kluster, dan jumlah suku morfem dasar. Dalam
hal ini dikenal adanya bentuk / / dan / /. Dengan kata lain, proses morfofonologis awalan me- ada yang
mengalami peristiwa nasalisasi dan ada pula yang tidak. Bentuk awalan ber- adalah / /, / /, dan / /. Bentuk
awalan ter- adalah / /, / /, dan / /. Bentuk awalan pe- ada yang sejalan dengan bentuk awalan me- dan ada
pula yang tidak sejalan dengan itu.

Akhiran yang mengalami perubahan bentuk yaitu akhiran an dan i. Bentuk akhiran ini ditentukan oleh fonem
akhir morfem dasar yang dilekatinya. Akhiran serapan yang tidak mengalami perubahan morfofonologis adalah
akhiran wan, -man, dan wati.

Perubahan bentuk semacam ini terjadi juga pada imbuhan pe-an dan per-an. Struktur fungsional kata
berimbuhan ditentukan menurut proses perubahan jenis morfem dasar hingga jenis kata berimbuhan yang
terbentuk. Struktur fungsional ini dinyatakan oleh fungsi imbuhan dalam membentuk jenis kata berimbuhan.
Dalam bidang morfologi jenis kata berimbuhan dapat diidentifikasi oleh imbuhan pembentuknya. Dalam hal ini
sebuah imbuhan bisa menandai lebih dari satu jenis kata. Sehubungan dengan itu, pembagian jenis kata juga
melibatkan segi maknanya.

Struktur makna kata berimbuhan ditentukan oleh makna, imbuhan dengan unsur atau satuan dasarnya. Dalam
hal ini terjadi peristiwa penurunan makna morfem dasar atau satuan dasar kepada makna kata berimbuhan
itu. Penurunan makna ini ada yang langsung dari morfem dasarnya, dan ada pula yang melalui makna satuan
dasarnya.

C. Perulangan
Menurut strukturnya, kata ulang termasuk kata bentukan. Unsur pembentuk kata ulang adalah morfem, ulang.
Menurut bentuknya, morfem ulang itu ada yang sama dengan morfem dasarnya, ada yang sama dengan unsur
dasarnya yang berfungsi sebagai unsur langsung, ada yang sama dengan sebagian morfem dasar atau unsur
dasarnya, ada yang disertai imbuhan, ada yang mengalami perubahan bunyi, dan ada pula yang tidak dapat
ditentukan morfem dasarnya maupun morfem ulangnya. Atas dasar ini kata ulang diklasifikasikan atas kata
ulang utuh, kata ulang sebagian, kata ulang berimbuhan, kata ulang berubah bunyi, dan kata ulang semu.

Jenis kata ulang, umumnya sama dengan jenis unsur dasarnya. Karena itu, fungsi perulangan tidak mengubah
jenis kata. Unsur dasar kata ulang biasa terdapat dalam pemakaian bahasa yang dinyatakan sebagai kata.
Karena itu, untuk mengetahui struktur kata ulang diperlukan adanya pengenalan tentang unsur dasarnya.
Dalam hal ini kata ulang diklasifikasikan menurut jenisnya: kata ulang kata benda, kata ulang kata sifat, kata
ulang kata kerja, kata ulang kata bilangan, kata ulang kata ganti, kata ulang kata keterangan.

Makna struktural kata ulang menunjukkan intensitas, baik intensitas kuantitatifnya, kualitatifnya,
frekuentatifnya, maupun gabungan dari ketiga macam intensitas itu. Di dalam klasifikasi makna ini terdapat
juga perbedaan-perbedaan makna strukturalnya sesuai dengan hubungan makna di antara unsur-unsur kata
ulang.

Menurut pemakaiannya dalam kalimat, tidak setiap makna perulangan harus dinyatakan dalam bentuk
ulangnya. Untuk mempergunakan kata ulang dalam kalimat, diperlukan adanya pemahaman tentang struktur
kata ulang. Struktur kata ulang ditentukan oleh segi bentuknya, fungsinya, dan makna perulangannya.

D. Pemajemukan

Kata majemuk merupakan istilah kebahasaan yang digunakan dalam bidang morfologi. Istilah ini mengacu
pada satuan morfologis yang termasuk kata bentukan. Sebagai satuan morfologis, kata majemuk mempunyai
unsur terkecilnya yaitu morfem. Dalam kata majemuk setidak-tidaknya terdapat dua morfem dasar, baik
morfem bebas maupun morfem terikat.

Unsur langsung kata majemuk bisa berupa morfem dasar dengan morfem dasar, morfem dasar dengan unsur
polimorfemik, ataupun unsur polimorfemik dengan unsur polimorfemik. Menurut hubungan fungsionalnya,
unsur langsung kata majemuk ada yang berfungsi sebagai unsur dasar, dan ada pula yang berfungsi sebagai
unsur pembentuk. Kata majemuk yang fungsi unsur-unsurnya sama digolongkan sebagai kata majemuk setara.
Kata majemuk yang fungsi unsur langsungnya berbeda termasuk kata majemuk bertingkat.

Menurut struktur penjenisannya, terdapat jenis kata majemuk yang sama dengan jenis salah satu atau semua
unsur langsungnya. Menurut segi kesamaan dan perbedaannya dengan jenis unsur dasarnya, dikenal adanya
kata majemuk yang berkonstruksi endosentrik dan eksosentrik. Kata majemuk berkonstruksi endosentrik
berdistribusi paralel dengan unsur dasarnya. Dengan demikian baik dalam kata majemuk setara maupun kata
majemuk bertingkat terdapat konstruksi endosentrik maupun eksosentrik, atau sebaliknya.

Ketepatan pemakaian kata majemuk di dalam kalimat ditentukan oleh ketepatan dalam segi bentuk, fungsi,
dan makna. Penggunaan bentuk kata majemuk dalam bahasa tulis berdasar pada ketentuan yang diatur dalam
pedoman EYD.
BAB IV

SINTAKSIS BAHASA INDONESIA

A. Frase Bahasa Indonesia Struktur Fungsi

Frase adalah satuan sintaktik yang terdapat sebuah gatra kalimat. Menurut struktur fungsionalnya, frase dapat
digolongkan atas frase endosentrik dan frase eksosentrik.

Frase endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi dan fungsi yang sama dengan salah satu atau semua
unsur langsungnya. Frase yang mempunyai distribusi dan fungsi yang sama dengan salah satu unsurnya
termasuk frase bertingkat.

Salah satu unsur frase bertingkat berfungsi sebagai unsur yang diterangkan (D), dan unsur lainnya berfungsi
sebagai unsur yang menerangkan. Berdasarkan urutannya, struktur frase bertingkat ada yang berpola DM, dan
ada pula yang berpola MD.

Frase yang mempunyai distribusi dan fungsi yang sama dengan semua unsur langsungnya termasuk frase
endosentrik yang setara. Dalam hal ini unsur-unsur langsung frase tersebut mempunyai tugas yang sama.

B. Struktur Kategori dan Makna Frase

Kategori frase ditentukan berdasarkan kategori atau jenis kata yang memiliki distribusi yang sama dengan frase
yang bersangkutan. Kategori frase benda (FB), misalnya, mempunyai distribusi yang sama dengan kategori
atau jenis kata benda (KB). Kesamaan distribusi ini dijelaskan menurut kemungkinan gatra kalimat yang
ditempati frase atau kata tersebut.

Sesuai dengan pola dasar kalimat, ada enam kategori frase yang digunakan untuk mengisi gatra-gatra kalimat.
Masing-masing adalah frase benda (FB), frase kerja (FK), frase sifat (FS), frase bilangan (FB 1), frase keterangan
(FKt), dan frase depan (FD).

Struktur kategori frase dijelaskan oleh hubungan di antara kategori unsur-unsurnya. Pola dasar struktur
kategorinya ditentukan oleh kategori unsur-unsur langsung frase yang dimaksud. Unsur langsung sebuah frase
bisa berupa kata dan bisa pula berupa frase. Frase yang menjadi unsur sebuah frase yang melengkapinya
merupakan frase bawahan. Untuk membedakan kedudukan kedua macam frase itu, digunakan istilah frase
atasan dan frase bawahan. Sehubungan dengan itu, dalam pola dasar struktur kategori frase, unsur
langsung frase hanya disebutkan kategorinya, tanpa disebutkan satuan gramatisnya. Contoh: FB = b + b.

Struktur makna sebuah frase menunjukkan makna frase berdasarkan hubungan struktural di antara unsur
langsung frase tersebut. Frase kepala desa dan kepala manusia mempunyai struktur fungsional yang sama
(DM) dan struktur kategori yang sama pula (FB = b + b ). Walaupun demikian, kedua frase itu dibedakan oleh
makna strukturalnya. Makna struktural frase kepala desa menunjukkan hubungan pelaku dengan
penderita, sedangkan frase kepala manusia menunjukkan hubungan bagian dengan keseluruhan. Frase
sawah ladang dan makan minum, misalnya, merupakan frase setara. Perbedaannya terletak pada struktur
kategorinya. Frase makan minum berstruktur kategori FB = b + b, sedangkan frase makan minum berstruktur
kategori FK = k + k. Makna struktural kedua frase itu menunjukkan hubungan penjumlahan atau pemilihan.
Kejelasan makna struktural frase tersebut dapat ditegaskan melalui pemakaian kata penghubungan dan,
atau.
C. Struktur Klausa dalam Kalimat Tunggal

Struktur kalimat sederhana ditentukan oleh adanya gatra wajib dengan unsur-unsurnya yang wajib pula.
Dalam pemakaian kalimat struktur kalimat sederhana dapat diperluas dengan dua macam cara:

1. Memperluas unsur gatra dengan menambahkan unsur-unsur pilihan yang sesuai dengan kategori dan
makna strukturalnya.
2. Memperluas struktur kalimat sederhana dengan gatra tambahan yang bersifat mana suka atau fakultatif.

Ketidakpahaman dalam menggunakan cara pertama menyebabkan timbulnya kalimat-kalimat yang kacau
strukturnya. Kekacauan ini biasanya terjadi pada pemakaian kata adalah dan perluasan GB yang
berpasangan dengan K transitif. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan adanya pengetahuan tentang kesesuaian
unsur fungsional dengan kategori dan makna strukturalnya.

Ketidakpahaman dalam menggunakan cara kedua menyebabkan adanya kekacauan dalam pemakaian kategori
S dengan K. Kekacauan ini berpangkal pada adanya kesamaan intonasi S dengan K yang menduduki posisi awal
kalimat. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan adanya pemahaman dalam membedakan kategori S dengan K.

MODUL 5 (SELUK BELUK KALIMAT)

KEGIATAN BELAJAR 1 (KALIMAT TUNGGAL)

RANGKUMAN

Kalimat sederhana merupakan kalimat yang strukturnya menjadi dasar struktur kalimat suatu bahasa. Kalimat
ini ditandai oleh faktor kesesuaian bentuk makna, fungsi, kesederhanaan unsur dan posisi atau urutan unsur.
Menurut kesesuaian bentuk maknanya, kalimat sederhana memiliki bentuk yang utuh atau lengkap. Menurut
fungsinya, kalimat sederhana adalah kalimat berita. Ditinjau dari segi kesederhanaannya, kalimat sederhana
memiliki unsur-unsur yang minimal. Berdasarkan urutan unsur-unsurnya , posisi gatra-gatra kalimat sederhana
berurutan menurut segi ketergantungan di antara sesamanya. Sifat ketergantungan ini ditentukan oleh
struktur fungsionalnya: SP, SPO, SPK, SPOK.

Kalimat luas adalah kalimat yang merupakan bentuk perluasan dari kalimat sederhana. Perluasan ini ada yang
mencapai batas struktur kalimat tunggal, dan ada pula yang mencapai batas struktur kalimat majemuk.
Pengertian istilah kalimat tunggal lebih luas daripada istilah kalimat sederhana. Kedua-duanya merupakan
satuan sintaktik yang hanya terdiri atas sebuah satuan gatra. Karena itu, pengertian kalimat sederhana
dipertentangkan dengan pengertian kalimat luas, sedangkan pengertian kalimat tunggal dipertentangkan
dengan kalimat majemuk.

KEGIATAN BELAJAR 2 (KALIMAT MAJEMUK)

RANGKUMAN

Berdasarkan hasil kerja anda, bahasan di muka dapat disederhanakan sebagai berikut. Perbedaan struktural
antara kalimat tunggal dengan kalimat majemuk ditentukan oleh jumlah klause yang menjadi unsurnya.
Kalimat tunggal hanya memiliki sebuah klause, sedangkan kalimat majemuk setidak-tidaknya memiliki dua
klause.
Menurut hubungan fungsional klausenya, kalimat majemuk dibagi atas kalimat majemuk setara kalimat
majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran. Kalimat majemuk setara memiliki klause-klause
fungsinya setara atau sederajat.

Kalimat majemuk bertingkat memiliki klause yang bertata tingkat. Dalam hal ini sebuah klause merupakan
unsur klause yang lebih tinggi. Karena itu, dalam kalimat majemuk bertingkat dikenal adanya klause atasan dan
klause bawahan. Pada kalimat majemuk campuran selain terdapat klause setara, terdapat pula klause
bertingkat.

Dalam kalimat majemuk bertingkat klause bawahan beserta kata penghubung membentuk sebuah satuan
sintaktik yang biasa disebut anak kalimat. Anak kalimat ini ada yang berfungsi S, P, O, K.

Baik dalam kalimat majemuk setara, bertingkat, maupun campuran, dapat terjadi peristiwa rapatan unsur-
unsur yang sama dengan fungsi yang sama dalam setiap klausenya. Kalimat majemuk semacam ini disebut
kalimat majemuk rapatan.

Makna struktural kalimat majemuk ditentukan oleh hubungan makna di antara klause-klausenya.

KEGIATAN BELAJAR 3 (BAHAN PENGAJARAN KALIMAT TUNGGAL DAN MAJEMUK)

RANGKUMAN

Dalam rangka mempersiapkan bahan pengajaran struktur kalimat majemuk di sekolah dasar, langkah pertama
bagi seorang guru adalah menelaah rumusan-rumusan atau pedoman pengajarannya yang tersurat dalam
GBPP Bahasa Indonesia SD yang sedang berlaku. Telaah ini dimaksudkan untuk mencari keselarasan antara
bahan pengajaran dengan tujuan pangajaran.

Luasnya bahan yang dipersiapkan ditentukan oleh kriteria struktur kalimat majemuk yang diharapkan oleh
kurikulum SD.Analisis dapat dilakukan dari segi bentuk, makna, dan pemakaian kata penghubung. Setiap
kriteria dapat dijabarkan lagi atas bagian-bagiannya yang lebih terurai dan terarah.

Tujuan pengajaran diuraikan sesuai dengan hasil analisis bahan pengajaran. Bahan pengajaran diurutkan
sesuai dengan urutan tujuan pengajaran. Bahan pengajaran ini sebaiknya disertai dengan bahan latihannya.

Banyaknya bahan latihan disesuaikan dengan kemungkinan tercapainya tujuan pengajaran secara efektif dan
efisien. Dalam segi pemahaman struktur dapat dilakukan latihan-latihan analisis kalimat majemuk menjadi
klause-klausenya. Dalam segi penggunaannya latihan dapat dilakukan dalam bentuk sintesis klause menjadi
kalimat. Bahan latihan disusun sesuai dengan tingkat kesulitan dan kemampuan belajar para siswa.

Dalam segi komunikasinya penguasaan struktur kalimat majemuk dapat dimanfaatkan untuk menunjang
kemampuan berbahasa secara reseptif dan produktif. Semuanya ini tergantung pada kreativitas dan
kemampuan guru dalam menyusun dan menyajikan bahan pengajaran.

MODUL 6 (WACANA)

KEGIATAN BELAJAR 1 (MAKNA WACANA DAN KRITERIA WACANA YANG BAIK)

RANGKUMAN

1.Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan terbesar, tersusun dengan rapi (koherensi), mengandung
hubungan yang padu (kohesi), disampaikan secara lisan atau tertulis.

2.Yang termasuk satuan bahasa adalah morfem, kata frase, klause, kalimat dan wacana.
3.Unsur-unsur wacana yaitu kalimat, frase, morfem, fonem, situasi, ruang dan waktu pemakaian.

4.Wacana dapat dikatakan baik apabila memiliki kriteria: topik dan tujuan; kohesi dan koherensi; pembuka dan
penutup.

KEGIATAN BELAJAR 2 (MACAM-MACAM WACANA)

RANGKUMAN

1. Wacana dapat ditinjau dari dua segi , yaitu: dari segi bentuk fisiknya dan dari segi sifat isinya.
2. Ditinjau dari segi bentuk fisiknya wacana dapat dibedakan dalam dua bentuk,yaitu:
1) Wacana monolog: bentuk bahasa /tuturan lisan atau tertulis yang tidak termasuk, percakapan,
tanya jawab, wawancara, teks drama.
2) Wacana dialog atau percakapan:
a. Dialog sebenarnya
b. Dialog teks
3. Ditinjau dari segi sifat isinya wacana dapat dibedakan dalam lima jenis, yaitu:
1) Wacana Naratif adalah rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal kejadian
melalui tokoh pelaku dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca.
2) Wacana Deskriptif adalah rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu
baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya.
3) Wacana Eksposisi adalah rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran
4) Wacana Argumentasi adalah tuturan yang memberikan alasan dengan contoh dan bukti yang
kuat serta meyakinkan, sehingga orang akan terpengaruh dan membenarkan pendapat, gagasan,
sikap dan keyakinan serta, akhirnya orang lain akan berbuat sesuai dengan kehendak kita.
5) Wacana Persuasif adalah wacana yang disusun dengan tujuan mengajak, mendorong, membujuk,
mempengaruhi para pembaca agar mau mengikuti kemauan si penulis.

KEGIATAN BELAJAR 3 (ANALISIS WACANA)

RANGKUMAN

1. Analisis Wacana adalah menguraikan kegiatan-kegiatan wacana dan bagian wacana serta
hubungannya untuk memperoleh pengertian yang tepat .
2. Analisis wacana terdiri dari aspek:
1) Kohesi dan Koherensi
2) Topik
3) Pengacuan dan Perujukan
4) Konteks
3. Sarana kohesif antara lain:
1) Pronomina (kata ganti)
2) Substitusi (penggantian)
3) Elipsis (pelepasan)
4) Leksikal (kosakata)
5) Konjungsi (kata-kata penghubung).
4. Konteks wacana terdiri dari berbagai unsur seperti: situasi, pembicara, pendengar, tempat, waktu dan
peristiwa.
KEGIATAN BELAJAR 4 (PERMASALAHAN DI SEKITAR WACANA)

RANGKUMAN

1. Tujuan mempelajari wacana adalah agar mereka memahami isi wacana dan terampil berwacana
secara lisan maupun secara tertulis.
2. Usaha untuk mengetahui permasalahan dalam pelajaran wacana, yaitu:
A. mengklasifikasikan penyebabnya.
1. kurang menguasai kebahasaan
2. kurang menguasai keterampilan mendengar dan membaca
3. intelegensinya kurang
4. keadaan fisik yang diderita.
B. Usaha untuk mengatasinya .
1. menganalisis kelemahan
2. memberi bimbingan
3. latihan-latihan.

MODUL 7 (PENGERTIAN DAN MANFAAT APRESIASI SASTRA)

KEGIATAN BELAJAR 1 (PENGERTIAN APRESIASI SASTRA)

RANGKUMAN

1. Apresiasi adalah pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap suatu karya (biasanya seni).
2. Apresiasi sastra adalah pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan
kepadanya, serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat semua itu. Dalam mengapresiasi sastra,
seseorang mengalami (dari hasil sastra itu) pengalaman yang telah disusun oleh pengarangnya. Hal ini
dapat terjadi oleh adanya daya empati yang memungkinkan pembaca terbawa ke dalam suasana dan
gerak hati dalam karya itu.

KEGIATAN BELAJAR 2 (KEGIATAN-KEGIATAN APRESIASI SASTRA)

RANGKUMAN

Kegiatan apresiasi sastra adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan untuk mengenal dan
memahami dengan tepat nilai sastra, untuk menumbuhkan kegairahan kepadanya dan memperoleh
kenikmatan daripadanya.

Kegiatan apresiasi sastra dapat dibagi dua kelompok yaitu:

a) kegiatan apresiasi langsung,


b) kegiatan apresiasi tidak langsung atau penunjang.
Kegiatan apresiasi langsung merupakan kegiatan utama. Disebut demikian karena dalam kegiatan ini,
pembaca, pendengar atau penonton berkomunikasi langsung dengan karya sastra.

Kegiatan apresiasi tidak langsung merupakan kegiatan penunjang yang berfungsi mengefektifkan apresiasi
sastra.

KEGIATAN BELAJAR 3 (TINGKAT-TINGKAT APRESIASI)

RANGKUMAN

1. Apresiasi sastra keadaannya bertingkat-tingkat, karena itu dapat ditingkatkan ke tingkat yang lebih
baik.
2. Tingkatan Apresiasi ada tiga, yaitu:
1) bila pembaca/pendengar/penonton mengalami pengalaman yang ada dalam karya sastra. Ia
terlibat secara emosional, intelektual dan imajinatif;
2) tingkat kedua, bila daya intelektual pembaca sudah bekerja lebih giat;
3) tingkat ketiga, apabila pembaca sudah menyadari hubungan karya sastra dengan dunia di luar
sastra, sehingga pemahaman dan penikmatannyapun lebih luas dan mendalam.
3. Jika seseorang telah sampai pada tingkat ketiga apresiasi, ia dapat memetik manfaat dan bersikap
lebih baik dalam menghadapi hidup. Ia pun kagum akan karya dan pengarang yang baik. Ia pun dapat
mengetahui karya yang kurang baik. Dengan demikian penghargaan dan penilaian yang tepat
terhadap karya sastra terjadi.

KEGIATAN BELAJAR 4 (MANFAAT APRESIASI SASTRA)

RANGKUMAN

1. Mengapresiasi banyak memberikan manfaat, di antaranya:


a. manfaat estetik.
b. manfaat pendidikan.
c. manfaat menambah wawasan.
d. manfaat psikologis.
2. Manfaat estetik, ialah manfaat yang diperoleh apresiator karena karya sastra yang diapresiasinya
memuaskan, menikmatkan dan membuka kepekaan pikiran dan perasaan akan keindahan.
3. Manfaat pendidikan, ialah manfaat yang diperoleh apresiator karena isi karya sastra yang
diapresiasinya memberi pelajaran yang berarti kepadanya, sehingga ia mampu menghadapi hidup
dengan lebih baik.
4. Manfaat menambah wawasan, ialah manfaat yang diperoleh apresiator karena isi karya sastra yang
diapresiasinya memberi pengetahuan baru, sehingga ia sadar akan kehidupan sekelilingnya.
5. Manfaat psikologis, ialah manfaat yang diperoleh apresiator karena isi karya yang diapresiasinya
dapat membantu menyelesaikan atau meringankan masalah yang dihadapinya.
6. Keempat manfaat itu, dapat tercapai sekaligus, dapat juga satu-persatu, tergantung puisi yang
dibacanya dan kemampuan apresiator mengorek manfaat tersebut.
7. Manfaat-manfaat apresiasi itu, akan diperoleh dengan cepat berlatih terus mengapresiasi.

MODUL 8 (PERKEMBANGAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA)


KEGIATAN BELAJAR 1 (PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA SELAYANG PANDANG)

RANGKUMAN

1. Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, adalah hari pengukuhan pertama Bahasa Indonesia. Bahasa
yang semula bernama Bahasa Melayu, pada saat itu menjadi Bahasa Indonesia.
2. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Bahasa Indonesia dikukuhkan oleh UUD 1945, menjadi bahasa negara.
3. Pada tahun 1972, diresmikan Ejaan Yang Disempurnakan bagi seluruh Indonesia . Penyempurnaan
ejaan merupakan salah satu upaya pembakuan bahasa.
4. Pada tahun 1975, dikeluarkan buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang disempurnakan
dan buku Pedoman Istilah.
5. Pada tanggal 28 Oktober 1988, dikeluarkan buku Tata Bahasa baku bahasa Indonesia dan Kamus
Besar Bahasa Indonesia.
6. Bahasa Indonesia sekarang, sudah tidak sama dengan Bahasa Indonesia yang dipakai tahun 1928. Hal
ini menunjukkan adanya perkembangan Bahasa indonesia.
7. Perkembangan itu terjadi karena :
a. evolusi bahasa (internal forses)
b. peminjaman bahasa (external forses)
8. Ada dua kelompok bahasa yang mempengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia, yaitu:
a. bahasa-bahasa yang tidak mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Bahasa Melayu.
b. bahasa-bahasa yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Bahasa Melayu.
9. Proses masuknya pengaruh terhadap Bahasa Indonesia, adalah dengan:
a. proses akulturasi
b. proses peminjaman dialek
c. proses peminjaman intim
10. Cara-cara peminjaman bahasa adalah sebagai berikut:
a. transliterasi
b. deskripsi
c. menirukan bunyi
d. menyalin istilah asing.
11. Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai:
a. pemersatu
b. penanda kepribadian
c. penambah kewibawaan
d. kerangka acuan.
12. Bahasa Indonesia dipelajari dan dipergunakan oleh beberapa Negara di dunia. Di Amerika, Belanda,
Australia, dan negara-negara Asia Tenggara. Di Australia bahkan ada negara bagian yang menganggap
Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar kedua. Kenyataan yang membanggakan ini, perlu kita
pelihara dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perlu dipupuk rasa bangga
menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang bergengsi tinggi.

KEGIATAN BELAJAR 2 (PERKEMBANGAN PUISI INDONESIA)

RANGKUMAN

1. Puisi lama Indonesia dapat dicontohkan dengan pantun, syair dan gurindam.
2. Pantun terdiri dari 4 baris dalam satu bait, terdiri dari 2 baris sampiran dan 2 baris isi, bersajak ab ab,
untuk bertanya jawab.
3. Syair terdiri dari 4 baris dalam satu bait, tidak terdiri dari sampiran dan isi, bersajak a a a a, untuk
berkisah.
4. Gurindam terdiri dari 2 baris dalam satu bait, baris pertama berisi perjanjian, baris kedua akibat.
Isinya nasihat atau kebenaran.
5. Di dalam puisi lama ada pola-pola yang teratur.
6. Puisi baru Indonesia lahir sebagai wujud pemberontakan terhadap sastra lama yang terkungkung
aturan-aturan.
7. Bentuk puisi baru berbeda dengan puisi lama, dalam hal:
a. jumlah baris dalam satu bait boleh berapa saja.
b. tidak terkait pola persajakan.
c. puisi untuk menyatakan perasaan dan pikiran, bukan untuk berkisah atau bertanya jawab.
8. Perkembangan ke arah soneta, merupakan perkembangan yang aneh, karena soneta mempunyai
unsur pantun.
9. Soneta terdiri dari 14 baris. Bagian pertama 8 baris yang dibagi dua bait, menjadi 4 baris tiap
bait.Bagian kedua 6 baris, menjadi 2 bait yang terdiri dari 3 baris setiap bait.
10. Perkembangan berikut dilakukan Amir Hamzah dengan Menghilangkan konsep sajak. Pada masa ini
sudah mengarah ke sajak bebas.
11. Puisi baru masa awal masih berupa puisi kata.
12. Puisi Chairil Anwar,merupakan tonggak puisi modern yang sebenarnya. Disebut puisi kalimat.
13. Perkembangan puisi setelah Chairil Anwar mengarah ke puisi naratif.
14. Pada tahun 1966 terjadi babak baru di dalam puisi Indonesia, yaitu lahirnya puisi yang bercirikan
protes sosial dan protes politik.
15. Tahun 70-an ditandai gejala eksperimentasi. Sutarji membuat puisi yang bersifat mantra.
16. Tahun 80-an puisi Indonesia kembali berbait-beraturan.

KEGIATAN BELAJAR 3 (PERKEMBANGAN CERITA REKAAN DAN DRAMA)

RANGKUMAN

1. Cerita rekaan lama Indonesia yang terkenal adalah dongeng.


2. Dongeng itu ada yang berupa: mite, sage, legenda, fabel.
3. Cerita rekaan modern, terdiri dari roman, novel, cerpen.
4. Roman dan novel cenderung disamakan.
5. Cerita rekaan modern diawali oleh pengarang-pengarang Sumatera Barat tahun 1920-an.
6. Cerita pendek adalah cerita yang tidak mengizinkan adanya degresi.
7. Cerita rekaan Indonesia modern, diketahui pengarangnya.
8. Isi cerita rekaan Indonesia modern tahun 1920-an adalah pertentangan adat dan kawin paksa.
9. Cerita rekaan Indonesia modern tahun 1920-an berlatar Minangkabau (berwarna lokal Minangkabau).
10. Karena pengarang cerita rekaan bergeser ke Jawa, maka warna lokal cerita rekaan pun menjadi
berwarna lokal Jawa.
11. Perkembangan drama Indonesia, dimulai oleh lahirnya lakon Bebasari karya Rustam Efendi.
12. Perkembangan drama dibagi menjadi: Periode Kebangkitan, Periode Pembangunan, Periode awal
Perkembangan, dan Periode Perkembangan.
13. Periode awal bersifat romantis-idealis.
14. Periode Pembangunan bersifat romantis-realistis.
MODUL 9 (UNSUR-UNSUR INTRINSIK SASTRA)

KEGIATAN BELAJAR 1 (UNSUR-UNSUR INTRINSIK PUISI)

RANGKUMAN

1. Puisi mempunyai unsur intrinsik


2. Unsur intrinsik adalah unsur pembentuk sastra dari dalam
3. Unsur-unsur intrinsik puisi, adalah:
a. Tema
b. Rasa
c. Nada
d. Amanat
e. Diksi
f. Imajeri
g. Kata-kata konkret
h. Gaya bahasa
i. Ritme
j. Rima.
4. Setiap satu puisi, mengandung satu tema
5. Satu puisi dapat mengandung beberapa amanat
6. Tema puisi adalah pokok persoalan yang menduduki tempat utama di dalam puisi. Rasa disebut juga
arti emosional.Nada merupakan cerminan sikap penyair terhadap pokok persoalan. Amanat
merupakan pesan-pesan yang ingin disampaikan pengarang.
7. Diksi disebut juga pilihan kata. Imajeri dapat dikelompokkan menjadi: imajeri pandang, imajeri
dengar, imajeri rasa dan imajeri kecap.
8. Kata-kata konkret adalah kata-kata yang secara denotatif sama, tetapi secara konotatif berbeda.
9. Gaya bahasa adalah salah satu cara mengungkapkan pikiran dengan bahasa yang khas, sehingga
memperjelas makna.
10. Ritme sama dengan irama adalah keseluruhan totalitas tinggi rendah dan keras lembutnya suara
waktu membaca puisi.
11. Rima adalah persamaan bunyi.

C. Unsur-unsur Intrinsik Cerita Rekaan


1. Cerita rekaan adalah cerita dalam prosa, hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran,
dan penilaiannya tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, ataupun yang hanya berlangsung
dalam khayalnya saja.
2. Unsur intrinsik cerita rekaan adalah: a. tema, b. amanat, c. alur, d. perwatakan, e. latar, dan f. pusat
pengisahan.
3. Tema adalah pokok persoalan yang menduduki tempat utama di dalam cerita.
4. Alur adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat.
5. Perwatakan adalah unsur intrinsik yang bertugas menyiapkan alasan bagi tindakan-tindakan tertentu,
watak dan sifat-sifat tokoh cerita.
6. Latar adalah arena tempat tokoh-tokoh beraksi, atau tempat peristiwa itu terjadi.
7. Pusat pengisahan adalah unsur intrinsik yang menjelaskan hubungan pengarang dengan karyanya.

D. Unsur-unsur Intrinsik Drama


1. Drama adalah naskah untuk dipertunjukkan.
2. Unsur penting yang membedakan drama dengan karya lain, adalah dialog dan petunjuk untuk
melakukan perbuatan atau gerakan. Japi Tambayong menyebutkan dengan: wawancang (dialog) dan
kramagung (petunjuk untuk berbuat).
3. Perbedaan lain adalah dalam penyajian alur, alur drama disajikan dalam penggalan-penggalan adegan
dan babak, di dalam cerita rekaan bab.
4. Tokoh protagonis, adalah tokoh utama yang biasanya mengusung ide-ide kebaikan.
5. Tokoh antagonis, adalah tokoh yang menentang cita-cita tokoh protagonis.
6. Tokoh tritagonis, adalah tokoh ketiga yang biasa menjadi pendamai, dia tidak memiliki sifat-sifat
protagonis maupun antagonis.
7. Dialog berfungsi untuk:
a. mengemukakan persoalan langsung
b. menggambarkan watak tokoh
c. mengembangkan alur
d. membukakan fakta.
8. Konflik merupakan unsur penting di dalam drama, bahkan ada yang menyebut sebagai hakikat drama.