Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH BAHASA INDONESIA

Kata dan Frase Berdasarkan Jenisnya

Dosen Pengajar:
Rusmah, S.Pd,M.Pd.

Disusun oleh:
Kelompok 2
Apriyanti Rahayu 1505115167
Ismia Dita 1505115168
Urai Luat 1505115169
Rizky Hermawan 1505115170
Resia Dwi Mulyani 1505115171
Monica 1505115202

Kelas : E
Prodi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan
Universitas Mulauwarman
Samarinda
2015
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb.

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT karena berkah dan rahmat-Nya kami dapat

menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Bahasa Indonesia ini tentang Satuan bentuk yang

benar untuk makna yang benar. Makalah ini dibuat sehubungan dengan tugas yang diberikan

dosen kami Ibu Rusmah,S.Pd.M.Pd. untuk memenuhi nilai mata kuliah Bahasa Indonesia.

Dengan diselesaikannya tugas makalah ini, kami harapkan dapat memenuhi syarat penilaian

tugas dan berguna untuk para pembacanya.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami

mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan pembuatan makalah di

kemudian hari. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca. Amin

Wassalamualaikum wr.wb

Samarinda, 8 Oktober 2015


DAFTAR ISI

Halaman sampul..

Kata Pengantar....

Daftar Isi.

Bab I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang..

I.2. Rumusan Masalah.

I.3. Tujuan.

Bab II PEMBAHASAN

II.1. Bentuk dan Makna ..

II.2. Kata

II.3. Frase ..

Bab III PENUTUP

III.1. Kesimpulan

III.2. Saran..

Daftar Pustaka.
BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang
Pada zaman sekarang, sedikit sekali masyarakat atau remaja yang mengenal bahasa Indonesia
secara benar. Kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa komunikasi.
Sebenarnya itu adalah kesalahan besar masyarakat kita. Masyarakat tidak bangga dengan bahasa
resminya. Mereka lebih bangga dengan bahasa yang dari luar dari pada bahasa sendiri.
Seharusnya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik lebih bangga dengan bahasa resmi
kita, tidak dengan bahasa gaul yang telah kita ciptakan sendiri tanpa menggunakan kaidah EYD yang
berlaku. Masalah ini telah menjadi masalah yang serius bagi kita. Dan sudah seharusnya kita sebagai
warga negara yang baik, mau mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Rumusan Masalah
1. Apakah bentuk dan makna itu?
2. Apa yang dimaksud dengan Kata dan Frase?
3. Apa saja jenis-jenis Kata dan Prase?

Tujuan
Makalah ini berisi penjelasan tentang Kata dan Frase berdasarkan jenisnya, agar bisa membantu
para pembaca dan pendengar dalam memahami bentuk Kata dan Frase sesuai Bahasa Indonesia yang
benar.
BAB II
PEMBAHASAN
Bentuk dan Makna
Satuan bentuk terkecil dalam bahasa adalah fonem dan yang terbesar adalah karangan. Di
antara satuan bentuk terkecil dan terbesar itu terdapat deretan bentuk , kata dan frase. kedua
satuan bentuk bahasa itu diakui eksistensinya. Jika mempunyai makna atau dapat mempengaruhi
makna. Dapat mempengaruhi makna maksudnya kehadirannya dapat mengubah makna atau
menciptakan makna baru. Hubungan antara bentuk dan makna dapat diibaratkan sebagai dua sisi
mata uang yang saling melengakapi. Karena bentuk yang tidak bermakna atau tidak dapat
mempengaruhi makna tidak terdapat dalam tata satuan bentuk bahasa.

A. Kata
Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan
mempunyai makna. Kata yang terbentuk dari gabungan huruf atau gabungan morfem; atau
gabungan huruf dengan morfem, baru diakui sebagai kata bila bentuknya mempunyai makna.

Dari segi bentuk, kata dibagi atas dua macam:


- Kata penuh
Kata penuh adalah kata yang memiliki makna dan dapat berdiri sendiri sebagai ujaran kata
misalnya kata manusia, air, merah.
- Kata tugas
Kata tugas yaitu kata yang tidak memiliki makna dan tidak dapt berdiri sendiri. Misalnya:
dan, di, ke, dari, diatas, dll.

Pembagian kelas atau jenis kata:


1) kata benda (nomina)
kata benda (nomina) Adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret maupun
abstrak). Kata benda berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap, dan keterangan dalam
kalimat. Ciri kata benda:
1. Dapat diingkari dengan kata bukan. Contoh: gula (bukan gula).
2. Dapat diikuti setelah gabungan kata yang + kata sifat atau yang sangat + kata sifat.
Contoh: buku + yang mahal (KS).
2) Kata kerja (verba)
Kata kerja (verba) Adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses, dan
keadaan yang bukan merupakan sifat. Umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.
Ciri-ciri kata kerja:
1) Dapat diberi aspek waktu, seperti akan,sedang, dan telah. Contoh: (akan) mandi
2) Dapat diingkari dengan kata tidak Contoh: (tidak) makan
3) Dapat diikuti oleh gabungan kata (frase) dengan + kata benda /kata sifat. Contoh: tulis +
dengan pena (KB) menulis + dengan cepat (KS)
3) Kata sifat (adjektiva)
Kata sifat (adjektiva) Adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak, tabiat
orang/binatang/suatu benda. Umumnya berfungsi sebagai predikat, objek ,dan penjelas dalam
kalimat. Dibedakan atas dua macam, yaitu:
1. Kata sifat berbentuk tunggal, dengan ciri-ciri:
a. Dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan paling: misalnya
lebih baik.
b. Dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, sekali; misalnya sangat senang,
sedikit sekali.
c. Dapat diingkari dengan kata ingkar tidak, misalnya tidak benar.
2. kata sifat berimbuhan. Contoh: abadi, manusiawi, kekanak-kanakan.
4) Kata keterangan (adverbia)
Kata keterangan (adverbia) Adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva,
nomina predikatif, atau kalimat. Contoh: Saya ingin segera melukis, kata segera adalah
adverbia yang menerangkan verba melukis.
5) Kata sambung (konjungsi)
Kata sambung (konjungsi) Adalah kata tugas yang berfungsi menghubungkan dua kata
atau dua kalimat. Contoh: antara hidup dan mati (dalam kalimat) Situasi memang sudah
membaik. Akan tetapi, kita harus selalu siaga.
6) Kata sandang (artikel)
Kata sandang (artikel) Adalah kata tugas yang membatasi makna jumlah orang atau kata
benda. Artikel ada tiga, yaitu: yang bermakna tunggal: sang putri yang bermakna jamak:
para hakim yang bermakna netral: si hitam manis.
7) Kata seru (interjeksi)
Kata seru (interjeksi) Adalah kata tugas yang dipakai untuk mengungkapkan seruan hati
seperti rasa kagum, sedih, heran, dan jijik. Kata seru dipakai di dalam kalimat seruan atau
kalimat perintah (imperatif). Contoh: Aduh, gigiku sakit sekali! Ayo, maju terus, pantang
mundur!
8) Kata depan (preposisi)
Kata depan (preposisi) Adalah kata tugas yang selalu berada di depan kata benda, kata
sifat atau kata kerja untuk membentuk gabungan kata depan (frasa preposional). Contoh: di
kantor, sejak kecil.
9) Kata bilangan (Numeralia)
Kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang,
atau barang. Contoh: tiga, puluhan.
10) Kata ganti (Pronomina)
Kata ganti (Pronomina) adalah kata yang berfungsi menggantikan orang, benda, atau
sesuatu yang dibendakan. Contoh: kamu harus melepas sepatumu di sana.

B. Frase
Frase menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gabungan dua kata atau lebih yang
bersifat nonpredikatif. Frase adalah satuan konstruksi yang terdiri atas dua kata atau lebih yang
membentuk satu kesatuan (Keraf, 1984:138). Frase juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal
yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang
mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222). Menurut ( Rusyana dan
Samsuri, 1976: 50 77 ), Frase merupakan suatu unit yang lebih tinggi tingkatannya daripada
Kata, tetapi lebih reendah dari Klausa dan Kalimat.
Contoh:
1. rumah bersalin itu
2. yang akan datang
3. sedang memasak
4. cantik sekali
5. minggu depan
6. di depan

Jika contoh itu diletakkan dalam kalimat, kedudukannya tetap pada satu jabatan saja.
1. Rumah bersalin itu(S) luas(P).
2. Beliau (S) yang akan datang (P) besok(Ket).
3. Bapak(S) sedang memasak (P) nasi goreng (O).
4. Gadis itu(S) cantik sekali(P).
5. Minggu depan (Ket) aku(S) kembali(P).
6. Bu Camat(S) berdiri(P) di depan(Ket).
Jadi, walau terdiri atas dua kata atau lebih tetap tidak melebihi batas fungsi. Pendapat lain
mengatakan bahwa frase adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat.
Contoh:
1. Mereka(S) sering terlambat(P).
2. Mereka(S) terlambat(P).

Frase memiliki dua sifat diantaranya yaitu:


a. Frase merupakan satuan gramatikal yang berdiri dari dua kata atau lebih, contoh Imah
menangis.
b. Frase selalu terdapat dalam satu fungsi unsure klausa atau kalimat, yaitu S,P,O, dan K. Contoh.
Intan menyiram bunga melati itu setiap pagi.

Ciri ciri Frase:


1) Tidak membentuk kata baru
2) Dapat disisipi kata lain
3) Tidak melebihi batas fungsi unsur klausa.

Jenis Frase
Jenis frase dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya
(pemadunya) dan berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya. Berdasarkan
Persamaan Distribusi dengan Unsurnya (Pemadunya). Berdasarkan persamaan distribusi dengan
unsurnya (pemadunya, frase dibagi menjadi dua, yaitu Frase Endosentris dan Fraea Eksosentris.
1.) Frase Endosentris
Frase Endosentris kedudukan frase ini dalam fungsi tertentu, dapat digantikan oleh unsurnya.
Unsur frase yang dapat menggantikan frase itu dalam fungsi tertentu yang disebut unsur pusat
(UP). Dengan kata lain, frase endosentris adalah frase yang memiliki unsur pusat. Contoh:
Beberapa warga (S) di lapangan(P). Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya Beberapa di
lapangan (salah) karena kata warga adalah unsur pusat dari subjek. Jadi, beberapa warga
adalah frase endosentris.

Frase endosentris sendiri masih dibagi menjadi tiga.


A. Frase Endosentris Koordinatif, yaitu frase endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat
dan mengacu pada hal yang berbeda, di antara unsurnya terdapat (dapat diberi) dan atau atau.
Contoh:
1) rumah pekarangan
2) suami istri
3) ayah ibu
4) pembinaan dan pembangunan
5) pembangunan dan pembaharuan
6) belajar atau bekerja.

B. Frase Endosentris Atributif, yaitu frase endosentris yang di samping mempunyai unsur pusat
juga mempunyai unsur yang termasuk atribut. Atribut adalah bagian frase yang bukan unsur
pusat, tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang bersangkutan.
Contoh:
1) pembangunan lima tahun
2) sekolah Inpres
3) buku baru
4) orang itu
5) malam ini
6) sedang belajar

C. Frase Endosentris Apositif, yaitu frase endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan
mengacu pada hal yang sama. Unsur pusat yang satu sebagai aposisi bagi unsur pusat yang lain.
Contoh :
1) Yogya, kota pelajar
2) Indonesia, tanah airku
3) Bapak SBY, Presiden RI
4) Mamad, temanku.

Frase yang hanya terdiri atas satu kata tidak dapat dimasukkan ke dalalm frase endosentris
koordinatif, atributif, dan apositif, karena dasar pemilahan ketiganya adalah hubungan gramatik
antara unsur yang satu dengan unsur yang lain. Jika diberi aposisi, menjadi frase endosentris
apositif. Jika diberi atribut, menjadi frasa endosentris atributif. Jika diberi unsur frase yang
kedudukannya sama, menjadi frasa endosentris koordinatif

2. Frase Eksosentris
Frase Eksosentris adalah frase yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya.
Frase ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frase eksosentris adalah frase yang tidak
mempunyai UP. Contoh: Sejumlah mahasiswa di teras.

Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya, frase dibagi menjadi enam.
a) Frase nominal, frase yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina.
Contoh Nomina: pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan
Contoh Pronomina: dia itu musuh saya
b) Frase Verba, frase yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori verba. Secara
morfologis, UP frase verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frase verba
terdapat kata sedang untuk verba aktif, dan kata sudah untuk verba keadaan. Frase verba
tidak dapat diberi kata sangat, dan biasanya menduduki fungsi predikat.
Contoh: Dia berlari. Secara morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis
dapat diberi kata sedang yang menunjukkan verba aktif.
c) Frase Ajektifa, frase yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori ajektifa. UP-nya dapat
diberi afiks ter- (paling), sangat, paling agak, alangkah-nya, se-nya. Frasa ajektiva biasanya
menduduki fungsi predikat.
Contoh: Rumahnya besar. Ada pertindian kelas antara verba dan ajektifa untuk beberapa kata
tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus memiliki ciri ajektifa. Jika hal ini yang terjadi,
maka yang digunakan sebagai dasar pengelolaan adalah ciri dominan. Contoh: menakutkan
(memiliki afiks verba, tidak bisa diberi kata sedang atau sudah. Tetapi bisa diberi kata
sangat).
d) Frase Numeralia, frase yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori numeralia. Yaitu
kata-kata yang secara semantis mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. Dalam frase
numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor, buah, dan lain-lain.
Contoh: dua buah tiga ekor lima biji duapuluh lima orang.
e) Frase Preposisi, frase yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan
diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda.
Contoh: Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata) di teras ke rumah teman
dari sekolah untuk saya.
f) Frase Konjungsi, frase yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda
dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat, maka petanda
dalam frase konjungsi selalu mempunyai predikat.
Contoh: Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa, mempunyai P) Sejak kemarin dia terus
diam(P) di situ. Dalam buku Ilmu Bahasa Insonesia, Sintaksis, ramlan menyebut frase
tersebut sebagai frase keterangan, karena keterangan menggunakan kata yang termasuk
dalam kategori konjungsi.
BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan
Dari pembahasan makalah diatas maka kami dapat menyimpulkan bahwa, Kata adalah
satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Kata
yang terbentuk dari gabungan huruf atau gabungan morfem; atau gabungan huruf dengan
morfem, baru diakui sebagai kata bila bentuknya mempunyai makna. Frase menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif. Frase
adalah satuan konstruksi yang terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan
(Keraf, 1984:138). Frase juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan
kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu
fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222).

Saran
Menurut Kami, dengan adanya makalah yang kami buat bisa membuat yang membaca
makalah ini menjadi bangga karna belajar bahasa Indonesia itu tidak gampang seperti yang kita
kira selama ini. Dalam makalah ini juga masih banyak terdapat kekuranganya, oleh karna itu
kami mohon kritikanya yang membangun supaya ketika kami diberi Tugas membuat makalah
bahasa inonesia bisa lebih baik lagi.
Daftar pustaka
Finoza, Lamuddin. 2006. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta : Insan Media.

Keraf, Gorys.1996. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : PT Gramedia


Kadir, Abdul Mulya.Dkk. 1990. Morfologi dan Sintaksis Bahasa. Jakarta : Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.