Anda di halaman 1dari 15

BAB 2

PEMBAHASAN

1. KONSTITUSI DI SAUDI ARABIA


Asal usul Saudi Arabia kembali ke tahun 1750 ketika Muhammad bin Saud, seorang
penguasa lokal di jantung Arabia, menggabungkan pasukan dengan Muhammad Abd al-
Wahab, sebagai seorang pembaharu agama, untuk membentuk sebuah negara. Sedangkan
Kerajaan Saudi Arabia modern muncul ketika Abd al-Aziz ibn Saud berhasil menguasai
wilayah Hijaz (wilayah Barat Saudi Arabia sekarang) pada tahun 1924. Sebagai pendiri
kerajaan dan raja pertama, ia menerapkan ajaran Islam dalam kebijakan publik, sistem
peradilan dan lapangan kehidupan yang lain. Kerajaan tidak mengenal partai-partai politik.
Kebijakan negara tergantung kepada Raja dan Raja harus berjalan sesuai dengan ketentuan
Syariat dan tradisi kerajaan. Kekuasaan Raja bukan tidak terbatas. Kebijakannya harus
memperolah konsensus dari keluarga kerajaan, para ulama dan unsur-unsur lain dalam
masyarakat. Anggota keluarga kerajaan memilih raja dari kalangan mereka sendiri, tetapi
harus mendapat dukungan dari para ulama. Karena itu, Raja, Syariat Islam, para ulama dan
tradisi Saudi adalah bagian yang tidak terpisah dalam sistem Kerajaan Saudi Arabia.
Pada bulan Agustus 1926, Raja Abd al-Aziz mengesahkan sebuah konstitusi yang
disebut at-Talimat al-Asasiyyah (Pengaturan Dasar) untuk wilayah Hijaz. Pengaturan Dasar
yang mirip dengan konstitusi negara modern ini terdiri dari sembilan bab dan tujuh puluh
sembilan pasal. Semuanya berhubungan dengan masalah-masalah konstitusional seperti
sistem pemerintahan, tanggungjawab administrasi, urusan Kerajaan Hijaz, departemen
akutansi, inspektur jenderal, kepegawaian kerajaan, dewan jenderal balai kota, dan komite
administrasi balai kota. Pasal empat dokumen ini berbicara tentang Majelis Syura, Majelis
Administrasi, Majelis Wilayah dan Majelis Desa dan Suku (kabilah). Pada tahun 1927
dibentuk Komisi Inspeksi dan Reformasi dengan tujuan untuk mereformasi sistem
pemerintahan. Komisi ini mengusulkan kepada Raja Abd al-Aziz pembentukan Majelis
Syura yang disetujui oleh Raja pada bulan Juli 1927. Atas usul komisi ini, maka pada bulan
Januari 1932 dibentuk Majelis Perwakilan (Majlis al-Wukala). Pada bulan September 1932
seluruh wilayah Saudi Arabia berhasil disatukan. Majelis ini berfungsi selama 23 tahun
sebagai kabinet kecil wilayah Hijaz sampai terbentuknya Dewan Menteri sesungguhnya yang
mencakup semua wilayah Saudi Arabia sekarang pada bulan September 1953.
Dewan Menteri dipilih oleh Raja dan bertanggungjawab kepada Raja. Dewan Menteri
terdiri dari Perdana Menteri, Deputi I Perdana Menteri, Deputi II Perdana Menteri dan

pg. 5
beberapa Menteri. Menteri Pertahanan merangkat sebagai Deputi I Perdana Menteri. Dalam
Dewan ada beberapa menteri negara, sejumlah penasehat dan beberapa kepala organisasi
otonom. Kerajaan terbagi kepada 13 propinsi, masing-masing dipimpin oleh seorang
gubernur yang ditunjuk oleh Raja dari kalangan keluarga kerajaan atau kerabat Raja. Pada
tahun 1958, Faisal ibn Abd al-Aziz sebagai Putera Mahkota dan Perdana Menteri merubah
Dewan Menteri menjadi badan legislatif, eksekutif dan administratif. Legislasi dibuat
berdasarkan resolusi Dewan Menteri dan diterbitkan berdasarkan al-Marsum al-
Malaki (Royal Degree atau Titah Raja). Legislasi Saudi biasanya tidak disebut Undang-
Undang (Qanun), tetapi Nizham, dimaksudkan untuk menunjukan pengaturan yang tidak
bertentangan dengan Syariat dan tidak seperti Qanun di negara-negara muslim yang lain
yang dapat bertentangan dengan Syariat.
Kebanyakan dasar-dasar konstitusional Kerajaan terhimpun dalam Nizham Majlis al-
Wuzara (Undang-Undang Dewan Menteri). Undang-Undang Dewan Menteri ini telah
direvisi beberapa kali untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Raja Faisal dari
tahun 1959 sampai 1960 berusaha serius untuk menciptakan sebuah konstitusi baru Saudi
Arabia, tetapi belum berhasil. Dalam masa pemerintahannya (1964-1975), Faisal banyak
melakukan perubahan, antara lain mendirikan Kementerian Kehakiman (Wizarah al-
Adl) pada tahun 1970 sebagai induk kekuasaan yudikatif. Dalam masa pemerintahan Raja
Khalid ibn Abd al-Aziz (1975-1982), pengganti Faisal, juga ada upaya untuk membuat
sebuah konstitusi baru. Melalui berbagai musyawarah, Raja Fahd ibn Abd al-Aziz (1982-
2005)melanjutkan upaya pembaharuan konstitusi. Fahd pada tanggal 27 Syaban 1412 H
menerbitkan al-Marsum al-Malaki (Titah Raja) No. A/90 Tentang Basic Law of
Government yang terdiri dari sembilan bab dan 83 pasal. Kedelapan Bab tersebut adalah
mengenai (1) Prinsip-Prinsip Umum, (2) Sistem Pemerintahan, (3) Nilai-Nilai Masyarakat
Saudi, (4) Prinsip-Prinsip Ekonomi, (5) Hak dan Kewajiban, (6) Kekuasaan Negara, (7)
Urusan Keuangan, (8) Lembaga Audit, dan (9) Penutup. Basic Law of Government tak
ubahnya sebuah konstitusi. Pasal 1 Bab I menyatakan: Kerajaan Saudi Arabia adalah sebuah
Negara Islam berdaulat. Agamanya Islam. Konstitusinya adalah Kitab Allah, al-Quran al-
Karim, dan Sunnah Nabi Muhammad s.a.w. Bahasa Arab adalah bahasa Kerajaan. Kota
Riyadh menjadi ibu kota negara.
Pasal 6 Bab II menyatakan: Didukung oleh Kitab Allah dan Sunnah Rasul s.a.w.,
warga negara melakukan bayah (sumpah setia) kepada Raja mengaku loyal sepanjang masa
dalam suka dan duka.

pg. 6
Pasal 7 Bab II: Pemerintah Saudi Arabia mendasarkan kekuasaannya atas Kitab
Allah dan Sunnah Nabi, yang merupakan sumber tertinggi rujukan hukum dari Hukum Dasar
Pemerintahan ini dan hukum-hukum yang lain.
Pasal 8 Bab II: Pemerintahan Saudi Arabia berdasarkan keadilan, syura (konsultasi)
dan persamaan sesuai Syariat Islam.
Bab VI Tentang Kekuasaan Negara antara lain menyatakan, Pasal 44: Kekuasaan
Negara terdiri dari Kekuasaan Kehakiman, Kekuasaan Eksekutif dan Kekuasaan Regulatif.
Tiga kekuasaan ini akan bekerjasama dalam menjalankan fungsi masing-masing sesuai
dengan Hukum Dasar Pemerintahan ini dan hukum-hukum yanglain.
Pasal 45: Al-Quran al Karim dan Sunnah Rasulullah s.a.w. menjadi sumber fatwa.
Undang-Undang akan merinci hirarki administrasi komposisi Majelis Ulama Senior,
Administrasi Penelitian, dan Kantor Mufti beserta fungsi-fungsinya.
Pasal 46: Peradilan adalah sebuah kekuasan independen. Putusan para hakim tidak
akan tunduk kepada kekuasaan lain selain kekuasaan Syariat Islam.
Pasal 48: Pengadilan-pengadilan menerapkan Syariat Islam terhadap perkara-
perkara yang dibawa kepadanya sesuai al-Quran al-Karim dan Sunnah, dan undang-undang
yang didekritkan oleh dekrit pemerintah yang sejalan dengan al-Quran al-Karim dan
Sunnah.

2. SISTEM POLITIK DI ARAB SAUDI


Sebelum membahas secara jauh, sebenarnya nama resmi negara bangsa Arab Saudi
berasal dari bahasa Arab, yaitu al-Mamlakah al-Arabiyah as-Saudiyah. Selanjutnya bagian ini
akan menjelaskan berbagai pengalaman negara ini dalam menjalankan sistem politik untuk
melangsungkan mekanisme pemerintahan. Sejak kekuasaan dilaksanakan oleh dua basis
besar, yaitu Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab, praktis kekuasaan
sebagai kepala negara, kepala pemerintahan dilaksanakan secara langsung oleh raja dalam
suatu dinasti, yang kemudian disebut sebagai monarki feodal Arab. Begitu juga jabatan-
jabatan penting lainnya dikelola oleh keluarga raja, bahkan Komisi Pengawasan Pengadilan
diangkat dan ditunjuk oleh raja, demikian pula dalam hal pemerintahan daerah, serta
gubernur dari semua provinsi ditentukan dan dipilih oleh raja. Dalam hal pemisahan
kekuasaan di Arab Saudi, maka akan dibahas beberapa hal mengenai pemisahan kekuasaan di
dalam sistem yang diterapkan di kerajan ini, pertama dalam hal eksekutif yaitu kepala negara
dipegang oleh seorang raja yang telah ditetapkan oleh mekanisme Dewan Keluarga Saud
sehingga tidak ada partai politik di Arab Saudi, setelah itu ketika semakin maju proses

pg. 7
pemerintahan, maka dibentuk berbagai departemen yang pejabatnya dipegang oleh keluarga
Saud.
Dalam bidang legislatif menjelang tahun 2000, untuk menghadapi era globalisasi dan
tekanan demokratisasi, maka terbentuk suatu badan musyawarah atau majelis syura dalam
merespon berbagai tekanan, bahkan dianggap berbagai kalangan pengamat sebagai upaya
menghindar dari pembentukan partai politik. Yudikatif yaitu sistem peradilan yang terdiri
dari pengadilan-pengadilan biasa, pengadilan tinggi agama Islam dan sebuah mahkamah
banding. Sistem hukum ini bersumber dari al-Quran yang bersumber dari hadis periwayatan
sunni mazhab Wahabi. Adapun, disana berlaku pula hukum adat dan hukum suku yang
diawasi oleh Komisi Pengawas Pengadilan. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Arab
Saudi mempunyai bentuk pemerintahan Monarki Konstitusional, yaitu kerajaan yang harus
tunduk dan taat kepada konstitusi, yakni al-Quran dan syariat Islam, hal tersebut berdasarkan
pengamatan Jhon L. Esposito. Jadi, ketika seorang raja menyimpang dari konstitusi tersebut,
maka boleh disingkirkan dan hal itu dilakukan oleh Dewan Keluarga Saud. Dalam sistem
politik ini memang tidak demokratis, namun seiring dengan perkembangan dan munculnya
tuntutan berbagai kelompok, maka terdapat nilai-nilai demokrasi, walaupun sangat kecil
sekali, bahkan sebagian pengamat menyebut sama sekali tidak ada.

3. SISTEM PERADILAN DI ARAB SAUDI


Sebelum berdirinya Kerajaan Saudi Arabia, di wilayah ini terdapat tiga jenis
peradilan. Pertama di wilayah Hijaz yang mempunyai sistem yang lebih baik dibanding
dengan wilayah-wilayah lain. Ini antara lain karena pembaharuan yang pernah dilakukan oleh
Kerajaan Turki Usmani pada tahun 1830, 1856 dan 1876, tetapi sayang sekali penguasa Hijaz
Syarif Husain membatalkan pembaharuan ini pada awal abad keduapuluh. Kedua, di wilayah
Nejed (sekitar Riyadh) mengikuti sistem tradisional turun temurun berdasarkan tradisi yang
berlaku dan hukum agama. Sistem ini tidak pernah mengalami pembaharuan. Penyelesaian
sengketa dilakukan oleh hakim dan amir (raja atau keturunannya yang menjadi penguasa)
untuk kepentingan pihak-pihak yang bersengketa. Biasanya eksekusi putusan hakim
dimintakan kepada amir. Ketiga, di luar dua wilayah di atas, penyelesaian sengketa dilakukan
berdasarkan kebiasan di kabilah-kabilah tertentu yang lebih bersifat arbitrase(tahkm). Setelah
Kerajaan Saudi Arabia berdiri, ketiga sistem di atas dihapuskan. Berdasarkan Titah Raja (al-
Marsum al-Malaki) tanggal 4 Shafar 1346H/1927M maka semua peradilan dirombak menjadi
satu sistem. Pasal 24 titah ini menyatakan bahwa peradilan di Saudi Arabia terbagi kepada
tiga tingkatan, yaitu Peradilan Segera (al-mahakim al-mustajilah), Peradilan Syariyah (al-

pg. 8
mahakim asy-syariyyah) dan Badan Pengawas Peradilan (Hayah al-Muraqabah al-
Qadhaiyyah). Sesuai dengan peraturan baru ini, maka dibentuk tiga peradilan di Jeddah,
Makkah dan Madinah. Sedangkan kota-kota yang lain mempunyai sistem tersendiri yang juga
diatur dengan peraturan tersendiri.
Peradilan Segera mempunyai kewenangan dalam bidang perdata dan pidana.
Kewenangan pidana menyangkut kejahatan yang menimbulkan luka, qishash,
pelanggaran tazir tertentu dan hudud. Kewenangan perdata menyangkut masalah keuangan
yang tidak lebih dari 300 riyal dan putusannya tidak bisa dibanding kecuali putusan yang
menyalahi nushush (teks agama) dan ijma (kensensus ahli hukum Islam). Sedangkan
Pengadilan Syariyyah menangani selain wewenang Peradilan Segera dalam berbagai bidang
sesuai kompetensinya. Putusan diberikan berdasarkanijma atau suara terbanyak. Perkara
pidana berat hukuman potong dan mati mengharuskan sidang pleno peradilan. Sementara itu
Badan Pengawas Peradilan berpusat di Makkah dan juga dinamakan Peradilan Syariat
Agung (al-mahkamah asy-syariiyyah al-kubra) yang terdiri dari tiga hakim. Ini merupakan
peradilan banding untuk peradilan yang ada di bawahnya dan sekaligus mengendalikan
administrasi dan pengawasan peradilan. Selain itu, Peradilan Syariat Agung juga
menerbitkan fatwa-fatwa yang dimintakan kepadanya, mengawasi pendidikan dan kurikulum
pendidikan serta supervisi terhadap lembaga-lembaga Amar Maruf Nahi Mungkar. Peraturan
perundang-undangan lain yang mengatur masalah peradilan antara lain adalah:
1) Undang-Undang Konsentrasi Pertanggungjawaban Peradilan Syariyyah(Nizham
Tarkiz Masliyat al-Qadha asy-Syari) tanggal 4 Muharram 1357H/1938M.
2) Undang-Undang Masalah Keadilan (Nizham Kitab al-Adl) 19.8.1364H/1945M.
3) Undang-Undang Konsentrasi Pertanggungjawaban Peradilan Syariyyah(Nizham
Tarkiz Masuliyat al-Qadha asy-Syari) tahun 1732H/1952M.
4) Undang-Undang Peradilan (Nizham al-Qadha) 1395H/1975M.
5) Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman (Nizham as-Sulthah al-Qadhaiyyah)No. 64
tanggal 14.7.1395H/1975.
6) Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman (Nizham as-Sulthah al-Qadhaiyyah)Tahun
2007.
Pada masa awal berdirinya Kerajaan Saudi Arabia, peradilan berhubungan langsung
dengan Raja. Rajalah yang mensupervisi peradilan dan putusan-putusan penting diserahkan
kepadanya, tetapi kemudian ia mendelegasikan kewenangan ini secara bertahap kepada
hakim-hakim khusus serta membentuk badan-badan yang dibutuhkan di bawah supervisi
Raja. Pengaturan peradilan menjadi semakin rapih, khususnya ketika Raja Faisal mendirikan

pg. 9
Kementerian Kehakiman pada tahun 1962 dan mengangkat Menteri Kehakiman pada tahun
1970. Sebelum ini, urusan peradilan berada di bawah kantor Mufti Agung atau Dewan Mufti,
tetapi setelah berdirinya Kementerian Kehakiman, peradilan langsung berada di bawah
kementerian ini, dan jabatan Mufti digabungkan ke dalam Dewan Tertinggi Peradilan (al-
Majlis al-Ala li al-Qadha) atau Mahkamah Agung Saudi, yang berdiri kemudian.[12] Dari
sini, maka peradilan terbagi kepada dua bagian besar. Pertama adalah beberapa lembaga
peradilan berdiri sendiri yang bersifat peradilan administratif. Kedua adalah peradilan syari
atau syariyyah (Peradilan Syariat Islam) yang langsung berada di bawah Kementerian
Kehakiman.

A. PERADILAN BERDIRI SENDIRI


1) Diwan al-Mazhalim (literal: Dewan Ketidakadilan).
2) Haiah Muhakamah al-Wuzara (Lembaga Peradilan Kabinet).
3) Al-Haiat al-Mukhtashshah bi Tadib al-Muwazhzhafin (Lembaga Khusus
Pendisiplinan Pegawai).
4) Lajnah Qadhaya at-Tazwir (Komite Perkara-Perkara Pemalsuan).
5) Haiah Hasm an-Nizaat at-Tijariyyah (Lembaga Penyelesaian Sengketa Dagang).
6) Al-Lujan al-Markaziyyah liqadhaya al-Ghisy at-Tijari (Komite Pusat Perkara-
Perkara Penipuan Dagang).
7) Al-Ghuraf at-Tijariyyah wa ash-Shinaiyyah (Kamar Dagang dan Industri).
8) Al-Mahkamah at-Tijariyyah (Peradilan Perdagangan).
9) Lajnah Taswiyah Qadhaya al-Ummal (Komite Penyelesaian Perkara Buruh),
10) Al-Majalis at-Tadibiyyah al-Askariyyah (Majelis Pendisiplinan Militer).
11) Al-Majalis at-Tadibiyyah li al-Amn ad-Dakhili (Majelis Pendisiplinan Keamanan
Dalam Negeri).
Lembaga peradilan berdiri sendiri yang disebut di atas adalah semacam
peradilan ad.hoc yang tidak berketerusan. Ia ada bila diperlukan yang mengadili perkara-
perkara tertentu dan tidak mempunyai hakim dan aparat peradilan yang tetap. Bagaimanapun
jenis pertama, yaitu Peradilan Syariyah, atau kedua, yaitu Peradilan Berdiri Sendiri masih
termasuk dalam empat jenis peradilan yang disebutkan oleh para fuqaha yaitu Peradilan
Biasa (al-Qadha al-Adiyah), Peradilan Diwan al-Mazhalim (Qadha al-
Mazhalim), Peradilan Perhitungan (Qadha al-Hisbiyyah), dan Peradilan Militer (al-Qadha
al-Askari). Kecuali Peradilan Syariyah, maka semua Peradilan Berdiri Sendiri, termasuk
jenis kedua, ketiga dan keempat. Dalam perkembangan selanjutnya, maka peradilan utama

pg. 10
adalah Peradilan Syariyyah sebagai peradilan umum yang berada di bawah Kementerain
Kehakiman dan Peradilan Diwan al-Mazhalim sebagai peradilan administrasi yang berada di
bawah Raja.

B. DIWAN AL-MAZHALIM
Pengadilan Mazhalim pada mulanya di zaman Raja Abd al-Aziz merupakan tanggapan
terhadap keluhan masyarakat tentang ketidakadilan yang diterima rakyat. Raja menyediakan
waktu tertentu dalam sebulan untuk mendengarkan keluhan masyarakat, lalu ia mencarikan
jalan keluarnya. Ketika keluhan masyarakat semakin banyak dan jenisnya juga semakin
beragam, akhirnya pada tanggal 12.6.1373H/1954M dibentuk sebuah badan resmi negara
dengan nama Diwan al-Mazhalim langsung di bawah Kantor Perdana Menteri. Badan inilah
yang menangani keluhan masyarakat secara profesional. Keluhan yang ditangani termasuk
kesalahan yang dilakukan oleh para hakim, pejabat pemerintah dan kontrak-kontrak yang
dilakukan warga negara yang melibatkan pihak asing atau lembaga pemerintah. Lembaga ini
juga menangani keluhan masalah distribusi barang-barang, perwakilan-perwakilan
perdagangan, sengketa maritim dan semua sengketa perdagangan selain bank. Kewenangan
lembaga ini semakin berkembang menjadi tiga divisi, yaitu administratif, perdagangan dan
pidana. Di sini juga terdapat sebuah Panel Audit(Audit Panels) berfungsi sebagai peradilan
banding. Keluhan disampaikan kepada Ketua Dewan yang selanjutnya akan membentuk
sebuah tim panel yang akan membicarakan kasus tersebut dan salah seorang anggotanya
harus pengacara atau ahli hukum. Putusan biasanya diambil dengan suara terbanyak beberapa
minggu setelah keluhan disampaikan. Tim dapat menolak keluhan tersebut atau
mengabulkannya. Bila putusan telah diambil, keberatan hanya dapat diajukan ke Kabinet atau
Dewan Menteri. Pemohon mengajukan keberatannya ke Kantor Raja atau Kantor Putera
Mahkota, yang kemudian meneruskannya ke Kantor Hukum Raja atau Putera Mahkota.
Selanjutnya jawaban akan diberikan kepada Diwan al-Mazhalim. Bila putusan telah
ditandatangani oleh Raja, maka putusan tersebut bersifat final. Berbeda dengan putusan
Peradilan Syariyyah, maka putusan Panel Audit dalam bidang hukum administrasi dapat
menjadi preseden bagi Diwan al-Mazhalim.
Salah satu fungsi penting Diwan al-Mazhalim adalah melaksanakan putusan lembaga
luar negeri baik peradilan maupun arbitrase. Permohonan dengan melampirkan putusan yang
sudah dilegalisasi disampaikan melalui Kantor Hukum Menteri Luar Negeri yang selanjutnya
menyampaikan kepada Diwan. Putusan yang dimohonkan harus telah bersifat final dan
negara dari pengadilan tempat perkara itu diputus mempunyai perjanjian eksekusi dengan

pg. 11
Saudi Arabia. Dalam kasus-kasus tertentu, perkaranya kadang-kadang diperiksa lagi oleh
peradilan Saudi. Dari segi hukum materil dan hukum acara, maka Peradilan Syariyyah
sepenuhnya menerapkan hukum Syariat dan Peradilan Berdiri Sendiri, tidak secara khusus
berdasarkan hukum Syariat, tetapi tidak bertentangan dengan Syariat atau mengambil jiwa
Syariat secara umum. Sebuah situs kedutaan Saudi Arabia menyatakan:
Di samping sistem hukum Syariat, yang dilaksanakan oleh Kementerian
Kehakiman, pemerintah Saudi juga menerapkan regulasi-regulasi dan membangun
lembaga-lembaga untuk menangani kasus-kasus yang tidak dicakup oleh Syariat. Ini
dirancang supaya sesuai dengan prinsip-prinsip Syariat dan melengkapinya dan
bukan menggantinya. Hasilnya adalah sebuah sistem hukum ganda, yang satu
seluruhnya berdasarkan Syariat dan yang lain bersifat otonomi, tetapi tidak terlepas
dari Syariat. . .

C. PERADILAN SYARIYYAH
Sesuai Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman Tahun 1975, maka peradilan negara
tertinggi adalah al-Majlis al-Ala li al-Qadha (Majelis Tertinggi Peradilan/MA). Di
bawahnya terdapat dua peradilan banding di Makkah dan peradilan banding di Riyadh. Di
bawah peradilan banding adalah beberapa peradilan tingkat pertama yang terdiri dari
peradilan biasa atau umum dan peradilan segera.

4. REFORMASI BIDANG SISTEM PERADILAN DI ARAB SAUDI


Raja Abdullah bin Abd al-Aziz pada tanggal 1 Oktober 2007 menerbitkan Royal
Order (Titah Raja) tentang pembaharuan peradilan. Pelaksanaannya diperkirakan berjalan
dalam dua sampai tiga tahun. Khususnya berkaitan dengan peradila syariyyah dan diwan al-
mazhalim. Untuk pembaharuan ini, Pemerintah menyiapkan dana sebesar tujuh miliar riyal
atau sekitar 1,8 milyar dolar AS yang digunakan untuk pembangunan sarana, prasarana,
termasuk pelatihan hakim dan aparat peradilan yang baru, dan lain-lain. Intinya adalah
pembaharuan Peradilan Syariat yang telah berjalan lebih kurang 30 tahun dan Peradilan
Diwan al-Mazhalim.yang telah berjalan lebih kurang 25 tahun. Berdasarkan aturan baru ini,
maka hirarki Pengadilan Syariat menjadi tiga tingkat :
1. Pengadilan Tinggi sebagai Mahkamah Agung.
2. Pengadilan Tingkat Banding yang terdiri dari:
a. Pengadilan Perdata,
b. Pengadilan Pidana,

pg. 12
c. Pengadilan Hukum Keluarga,
d. Pengadilan Perdagangan, dan
e. Pengadilan Perburuhan.
3. Ketiga adalah Pengadilan Tingkat Pertama yang terdiri dari:
a. Pengadilan Umum,
b. Pengadilan Pidana,
c. Pengadilan Hukum Keluarga,
d. Pengadilan Perdagangan, dan
e. Pengadilan Perburuhan.
Sementara itu, sesuai aturan baru Pengadilan Diwan al-Mazhalim berubah menjadi
Badan Peradilan Administratif yang mempunyai hirarki mirip dengan hirarki Pengadilan
Syariat yang terdiri dari :
1. Pengadilan Tinggi Administratif,
2. Pengadilan Banding Administrasi, terdiri dari :
a. Bidang Pendisiplinan,
b. Bidang Administratif,
c. Bidang Subsider, dan
d. Bidang Spesialisasi yang lain.
3. Pengadilan Tingkat Pertama Administratif, terdiri dari :
a. Bidang Pendisiplinan,
b. Bidang Administratif,
c. Bidang Subsider, dan
d. Bidang Spesialisasi yang lain.
Berdasarkan Undang-Undang Peradilan 2007 ini, maka Majelis Tertinggi Peradilan tidak
lagi berperan sebagai Mahkamah Agung, tetapi sebagai pusat administrasi peradilan. Di
antara tugasnya adalah :
Menerbitkan regulasi berhubungan dengan tugas-tugas para hakim dengan
persetujuan Raja.
Menerbitkan regulasi-regulasi pengawasan peradilan, pendirian peradilan baru,
penggabungan dan penghapusan peradilan.
Menetapkan wilayah yurisdiksi dan pembentukan tim majlis.
Menetapkan ketua-ketua peradilan banding.

pg. 13
Menerbitkan aturan-aturan tentang fungsi dan kekuasan ketua-ketua pengadilan dan
wakil-wakilnya.
Menerbitkan aturan-aturan tentang metode pemilihan hakim.
Mengatur tugas para pembantu hakim, dan lain-lain.
Berdasarkan aturan baru ini, maka hirarki Pengadilan Syariatmenjadi tiga tingkat.
Pertama adalah Pengadilan Tinggi sebagai Mahkamah Agung. Kedua adalah Pengadilan
Tingkat Bandlng yang terdiri dari 1. Pengadilan Perdata, 2. Pengadilan Pidana, 3. Pengadilan
Hukum Keluarga, 4. Pengadilan Perdagangan, dan 5. Pengadilan Perburuhan. Ketiga adalah
Pengadilan Tingkat Pertama yang terdiri dari 1. Pengadilan Umum, 2. Pengadilan Pidana, 3.
Pengadilan Hukum Keluarga, 4. Pengadilan Perdagangan, dan 5. Pengadilan Perburuhan.
Sementara itu, sesuai aturan baru Pengadilan Diwan al-Mazhalim berubah menjadi Badan
Peradilan Administratif (Board of Administrative Court) yang mempunyai hirarki mirip
dengan hirarki Pengadilan Syariat yang terdiri dari Pengadilan Tinggi Administratif,
Pengadilan Bamding Administrasi, dan Pengadilan Tingkat Pertama Administratif.
Pengadilan Tingkat Pertama dan Banding Administratif terdiri dari 1. Bidang Pendisiplinan,
2. Bidang Administratif, 3. Bidang Subsider, dan 4. Bidang Spesialisasi yang lain.

5. KONSTITUSI DI INDONESIA
Sebagai Negara yang berdasarkan hukum, tentu saja Indonesia memiliki konstitusi yang
dikenal dengan undang-undang dasar 1945. Eksistensi Undang-Undang Dasar 1945 sebagai
konstitusi di Indonesia mengalami sejarah yang sangat panjang hingga akhirnya diterima
sebagai landasan hukum bagi pelaksanaan ketatanegaraan di Indonesia. Dalam sejarahnya,
Undang-Undang Dasar 1945 dirancing sejak 29 Mei 1945 sampai 16 Juni 1945 oleh badan
penyelidik usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa
jepang dikenal dengan dokuritsu zyunbi tyoosakai yang beranggotakan 21 orang, diketuai Ir.
Soekarno dan Drs. Moh, Hatta sebagai wakil ketua dengan 19 orang anggota yang terdiri dari
11 orang wakil dari Jawa, 3 orang dari Sumatra dan masing-masing 1 wakil dari Kalimantan,
Maluku, dan Sunda kecil. Badan tersebut (BPUPKI) ditetapkan berdasarkan maklumat
gunseikan nomor 23 bersamaan dengan ulang tahun Tenno Heika pada 29 April 1945. Latar
belakang terbentuknya konstitusi (UUD45) bermula dari janji Jepang untuk memberikan
kemerdekaan bagi bangsa Indonesia dikemudian hari. Janji tersebut antara lain berisi sejak
dari dahulu, sebelum pecahnya peperangan asia timur raya, Dai Nippon sudah mulai berusaha
membebaskan bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintah hindia belanda. Tentara Dai

pg. 14
Nippon serentak menggerakkan angkatan perangnya, baik di darat, laut, maupun udara, untuk
mengakhiri kekuasaan penjajahan Belanda. Sejak saat itu Dai Nippon Teikoku memandang
bangsa Indonesia sebagai saudara muda serta membimbing bangsa Indonesia dengan giat dan
tulus ikhlas di semua bidang, sehingga diharapkan kelak bangsa Indonesia siap untuk berdiri
sendiri sebagai bangsa Asia Timur Raya. Namun janji hanyalah janji, penjajah tetaplah
penjajah yang selalu ingin lebih lama menindas dan menguras kekayaan bangsa Indonesia.
Setelah Jepang dipukul mundur oleh sekutu, Jepang tak lagi ingat akan janjinya. Setelah
menyerah tanpa syarat kepada sekutu, rakyat Indonesia lebih bebas dan leluasa untuk berbuat
dan tidak bergantung pada Jepang sampai saat kemerdekaan tiba. Dengan terpilihnya
presiden dan wakilnya atas dasar Undang-Undang Dasar 1945 itu, maka secara formal
Indonesia sempurna sebagai sebuah Negara, sebab syarat yang lazim diperlukan oleh setiap
Negara telah ada yaitu adanya:
a. Rakyat, yaitu bangsa Indonesia.
b. Wilayah, yaitu tanah air Indonesia yang terbentang dari sabang hingga ke merauke
yang terdiri dari 13.500 buah pulau besar dan kecil.
c. Kedaulatan yaitu sejak mengucap proklamasi kemerdekaan Indonesia; Pemerintah
yaitu sejak terpilihnya presiden dan wakilnya sebagai pucuk pimpinan pemerintahan
Negara.
Tujuan Negara yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan
pancasila; dan Bentuk Negara yaitu Negara kesatuan.

6. SISTEM POLITIK INDONESIA


Sistem adalah suatu keutuhan, keseluruhan, kebulatan suatu bagian menjadi himpunan
yang komplek dan terorganisir. Sebuah sistem bekerja secara bersama dan menyeluruh agar
dapat berfungsi optimal. Jika salah satu bagian tidak bisa bekerja sama maka keseluruhan
sistem akan terganggu. Politik merupakan interaksi pemerintah dengan takyat dalam rangka
membuat kebijakan terbaik untuk kepentingan seluruh rakyatnya. Dari pengertian sistem dan
politik tersebut maka, Sistem Politik Indonesia adalah keseluruhan kegiatan(termasuk
pendapat, prinsip, penentuan tujuan, upaya mewujudkan tujuan, pengambilan keputusan,
skala prioritas, dll) yang terorganisir dalan negara Indonesia untuk mengatur pemerintahan
dan mempertahankan kekuasaan demi kepentingan umum dan kemaslahatan rakyat.
Kemudian untuk mewujudkan semua sistem politik di Indonesia membutuhkan
suprastruktur dan infrastruktur yang baik. Mereka adalah lembaga negara (Presiden dan
Wakil Presiden, MPR, DPR, DPD, MA, MK, KY dan lembaga lainnya) sebagai kekuatan

pg. 15
utama dan didukung oleh partai politik, organisasi masyarakat, media komunikasi politik,
pers, untuk menyalurkan aspirasi masyarakat agar kebijakan pemerintah sesuai dengan hati
rakyat. Sistem Politik Demokrasi Pancasila merupakan sistem politik yang diterapkan di
Indonesia saat ini. Sistem ini mengambil nilai-nilai luhur dari pancasila. Semua kegiatan yang
telah dijelaskan diatas berpedoman pada pancasila dan dilaksanakan dengan demokratis.
Prinsip Sistem Politik Demokrasi Pancasila :
1) Pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif berdasarkan hukum
2) Pemerintah berdasarkan konstitusi
3) Jaminan kebebasan individu dalam batas-batas tertentu
4) Pemerintahan yang bertanggung jawab
5) Pemilu langsung dan multipartai

6. SUSUNAN SISTEM PERADILAN INDONESIA

1. Mahkamah Agung ( UU No. 5 tahun 2004 )


Mahkamah Agung adalah pengadilan negara tertinggi dari semua lingkungan peradilan,
yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pemerintah, Mahkamah Agung (disingkat
MA) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan
pemegang kekuasaan kehakiman bersama-sama dengan Mahkamah Konstitusi. Susunan MA

pg. 16
terdirin dari Pimpinan, Hakim Anggota, dan Sekretaris MA. Pimpinan MA terdiri dari
seorang Ketua, dua Wakil Ketua, dan beberapa orang Ketua Muda, yang kesemuanya dalah
Hakim Agung dan jumlahnya paling banyak 60 orang. Sedangkan beberapa direktur jendral
dan kepala badan. Mahkamah Agung mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan yang
diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan di semua lingkungan peradilan yang berada
dibawah Mahkamah Agung, yaitu :
a. Peradilan umum ( UU No 2 Tahun1986)
Peradilan Umum adalah lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung yang
menjalankan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya. Adapun
kekuasaan kehakiman di lingkungan peradilan umum dilaksanakan oleh lembaga-lembaga
berikut ini.
1) Pengadilan Tinggi. Pengadilan Tinggi merupakan pengadilan tingkat banding yang
berkedudukan di ibukota provinsi, dengan daerah hukum meliputi wilayah provinsi.
2) Pengadilan Negeri. Pengadilan Negeri adalah suatu pengadilan yang sehari-hari
memeriksa dan memutuskan perkaratingkat pertama dari segala perkara perdata dan
pidana untuk semua golongan yang berkedudukan di ibukota kabupaten/kota, dengan
daerah hukum meliputi wilayah kabupaten/kota.
b. Peradilan agama ( UU No 7 Tahun1989)
Peradilan Agama adalah lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung bagi rakyat
pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam
Undang-Undang. Dalam lingkungan Peradilan Agama, kekuasaan kehakiman dilaksanakan
oleh :
1) Pengadilan Tinggi Agama. Pengadilan Tinggi Agama merupakan sebuah lembaga
peradilan di lingkungan Peradilan Agama sebagai pengadilan tingkat banding yang
berkedudukan di ibu kota Provinsi.
2) Pengadilan Negeri Agama. Pengadilan Negeri Agama atau yang biasa disebut
Pengadilan Agama merupakan sebuah lembaga peradilan di lingkungan Peradilan
Agama yang berkedudukan di ibu kota kabupaten atau kota.
c. Peradilan Militer (UU No 5 Tahun1950 UU No 7 Tahun1989 )
Peradilan Militer adalah lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung yang
melaksanakan kekuasaan kehakiman mengenai kejahatan-kejahatan yang berkaitan dengan
tindak pidana militer. Pengadilan dalam lingkungan militer terdiri dari :
1) Pengadilan Militer Utama. Pengadilan Militer Utama merupakan badan pelaksana
kekuasaan peradilan di bawah Mahkamah Agung di lingkungan militer yang bertugas

pg. 17
untuk memeriksa dan memutus pada tingkat banding perkara pidana dan sengketa
Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang telah diputus pada tingkat pertama oleh
Pengadilan Militer Tinggi yang dimintakan banding. Susunan persidangan Pengadilan
Militer Utama untuk memeriksa dan memutus perkara sengketa Tata Usaha Angkatan
Bersenjata pada tingkat banding adalah 1 orang Hakim Ketua dan 2 orang Hakim
Anggota dan dibantu 1 orang Panitera.
2) Pengadilan Militer Tinggi. Pengadilan Militer Tinggi merupakan badan pelaksana
kekuasaan peradilan di bawah Mahkamah Agung di lingkungan militer yang bertugas
untuk memeriksa dan memutus pada tingkat pertama perkara pidana yang
terdakwanya adalah prajurit yang berpangkat Mayor ke atas. Susunan persidangan
adalah 1 orang Hakim Ketua dan 2 orang Hakim Anggota yang dihadiri 1 orang
Oditur Militer/ Oditur Militer Tinggi dan dibantu 1orang Panitera.
3) Pengadilan Militer. Pengadilan Militer merupakan badan pelaksana kekuasaan
peradilan di bawah Mahkamah Agung di lingkungan militer yang bertugas untuk
memeriksa dan memutus pada tingkat pertama perkara pidana yang terdakwanya
adalah prajurit yang berpangkat Kapten ke bawah. Susunan persidangan adalah
1orang Hakim Ketua dan 2 orang Hakim Anggota yang dihadiri 1orang Oditur
Militer/ Oditur Militer Tinggi dan dibantu 1 orang Panitera
4) Pengadilan Militer Pertempuran. Pengadilan Militer Pertempuran merupakan badan
pelaksana kekuasaan kehakiman di lingkungan militer untuk memeriksa dan
memutuskan perkara pidana yang dilakukan oleh prajurit di medan
pertempuran. Susunan persidangan adalah 1 orang Hakim Ketua dengan beberapa
Hakim Anggota yang keseluruhannya selalu berjumlah ganjil, yang dihadiri 1 orang
Oditur Militer/ Oditur Militer Tinggi dan dibantu 1 orang Panitera.
d. Peradilan Tata Usaha Negara ( UU No 5 Tahun1986)
Peradilan Tata Usaha Negara adalah lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung
yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa
Tata Usaha Negara. Kekuasaan Kehakiman pada Peradilan Tata Usaha Negara dilaksanakan
oleh :
1) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
merupakan sebuah lembaga peradilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara
pada tingkat banding yang berkedudukan di ibu kota Provinsi. Susunan pengadilan
terdiri atas Pimpinan, Hakim Anggota, Panitera, dan Sekretaris; dan pemimpin
pengadilan terdiri atas seorang Ketua dan seoirang Wakil Ketua.

pg. 18
2) Pengadilan Tata Usaha Negara. Pengadilan Tata Usaha Negara merupakan sebuah
lembaga peradilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara pada tingkat pertama
yang berkedudukan di ibu kota kabupaten atau kota. Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara bertugas dan berwenang:(a) meemeriksa dan memutuskan sengketa Tata
Usaha Negaradi tingkat banding; (b) memeriksa dan memutuskan mengadili antara
pengadilan Tata Usaha Negara di dalam daerah hukumnya; (c) memeriksa, memutus,
dan menyelesaikan ditingkat pertama sengketa Tata Usaha Negara.

2. Mahkamah Konstitusi (UU No. 24 tahun 2003)


Salah satu lembaga tinggi negara yang melakukan kekuasaan kehakiman (bersama
Mahkamah Agung) yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan
hukum dan keadilan. Susunan MK terdiri dari seorang Ketua merangkap anggota, seorang
Wakil Ketua merangkap anggota, serta 7 orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan
dengan Keputusan Presiden. Hakim konstitusi harus memiliki syarat: memiliki intergritas dan
kepribadian yand tidak tercela; adil; dan negarawan yang menguasai konstitusi
ketatanegaraan.

3. Komisi Yudisial (UU Nomor 22 Tahun 2004)


Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim
agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan,
keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Anggota komisi yudisial harus memiliki
pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian
yang tidak tercela. Komisi Yudisial terdiri dari pimpinan dan anggota. Pimpinan Komisi
Yudisial terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang merangkap anggota.
Komisi Yudisial mempunyai 7 orang anggota, yang merupakan pejabat negara yang direkrut
dari mantan hakim, praktis hukum, akademis hukum, dan anggota masyarakat.

pg. 19

Anda mungkin juga menyukai