Anda di halaman 1dari 10

DAFTAR ISI

Daftar Isi
Kata Pengantar 1
Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang 2
B. Rumusan Masalah... 2
C. Tujuan. 2
Bab II Pembahasan

A. Perkembangan model-model Bimbingan .. 3


B. Pola Pelaksanaan Bimbingan di Sekolah .. 5
Bab III
A. Kesimpulan. 8
Daftar Pustaka. 9
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa yang telah
memberikan berkat, anugerah dan karunia yang melimpah, sehingga kami dapat
menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun guna melengkapi
tugas dalam mata kuliah Manajemen BK yang diberikan oleh dosen kami Bapak
Nico, adapun judul penulisan makalah ini adalah "Model-model Bimbingan dan
Pola Konseling di Sekolah, yang referensinya dapat dilihat di daftar pustaka.

Semoga pembuatan makalah ini dapat membantu mahasiswa-mahasiswa


Bimbingan Konseling dalam mempelajari mengenai model-model bimbingan dan
pola-pola BK.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
dengan segala kerendahan hati ,kepada para pembaca kami mohon dapat
menyampaikan saran dan kritik untuk perbaikan makalah selanjutnya.

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bimbingan dan Konseling merupakan segala macam usaha dan layanan
dalam memahami, mengembangkan, dan membantu siswa dalam usaha
penyelesaian masalah untuk mencapai kemandirian dalam hal Pribadi, Sosial,
Belajar dan Karirnya. Dengan memberikan layanan-layanan yang mencakup
Orientasi, Informasi, Pembelajaran, Penempatan/Penyaluran, Bimbingan
Kelompok, Konseling Kelompok, Konseling Perorangan, Konseling
Kelompok, Konsultasi, dan Mediasi.

Dalam menempuh usaha itu, banyak bentuk-bentuk layanan yang bisa


digunakan, kembali kepada kita ingin dan butuh model yang mana yang ingin
digunakan. Dan untuk mendalami penerapannya diperlukan juga pemahaman
pola-pola BK yang menentukan bagaiamana dan seperti apa layanan itu akan
dijalanakan.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah Perkembangan model-model Bimbingan?


2. Bagaimana Pola pelaksanaan Bimbingan di Sekolah?

C. Tujuan

Untuk mengetahui:
1. Perkembangan model-model Bimbingan
2. Pola Dasar Pelaksanaan Bimbingan di Sekolah

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Model Bimbingan

Model bimbingan berimplikasi pada beberapa hal

1. Jenis pelayanan BK yg mana yg ditekankan


2. Siapa yang lebih dahulu dilayani
3. Siapa saja yang berkompeten memberikan layanan bimbingan dan
konseling
4. Bagaimana bimbingan di selenggarakan

Adapun perkembangan model bimbingan dan konseling dari generasi ke generasi


adalah

1. Frank Parson (1908-1909)

Pada masa Frank banyak orang yang mengalami masalah dalam karir.
Dalam situasi tersebut Frank mengembangkan pandangan masyarakat mendapat
keuntungan mendapat kecocokan antara ciri kepribadian dan tuntutan pekerjaan.
Faktor penentuan karir menurut frank adalah : 1) analisis diri, 2) analisis pekerjaan,
3) perbandingan hasil dan analisis, menghubungkan hasil analisis diri dan analisis
pekerjaan.

2. John M.Brewer (sekitar tahun 1932)

John memandang tugas pendidikan adalah mempersiapkan siswa/siswi


memasuki berbagai bidang kehidupan kepuasan dalam hidup. Pandangan ini
berimplikasi pada dua hal berikut . Pertama, focus pelayanan bimbingan adalah
pemberian informasi dan konseling. Kedua, ragam bimbingan yang dilakukan
berdasarkan pandangan ini adalah bimbingan belajar , pelayanan untuk memelihara
kesehatan mental dan bimbingan pengisian waktu luang, bentuk luang

3
3. William M. Proctor

William memandang bahwa bimbingan memiliki dua fungsi pokok.


Pertama, fungsi penyaluran dan distributif yaitu membantu siswa-siswi memilih
berbagai bidang belajar. Kedua, fungsi penyesuaian yaitu pemberian bantuan siswa
konsisten menjalani pilihan dan membantu siswa dalam menghadapi masalah
penyesuaian diri.

4. Model Klinis

Model klinis muncul akibat adanya pengaruh pengembangan alat-alat tes


psikologis standart. Model ini memberi penekanan pada tekhnik ilmiah
pengumpulan data dalam mengenalim koonseli untuk membantu mengatasi
masalah konseli dan bimbingan individual.

5. Arthur Jones (1963 1970 ) dan Mrtin Kaltz

Tokoh ini memandang bahwa bimbingan adalah bantuan bagi siswa untuk
membuat pilihan dan penyesuaian diri dalam rumpun masalah akademik dan
pekerjaan . Bimbingan adalaha intervensi professional, yaitu tindakan yang
dilakukan dengan cara cara berkelahian.

6. Ruth Strang (1964-1965) dan Arthur E.Traxler

Mereka mengembangkan pengertian bimbingan sebagai suatu tindakan


ekletis , yaitu menggabungkan dan memilih sebagai teori, metode , teknik yang
cocok dengan kebutuhan (permaslahan individu ). Bentuk pelayanan bimbingan
adalah pelayanan bimbingan individual dan bimbingan kelompok

7. Kenneth B.Hoyt

Bimbingan dipandang sebagai kontelasi sejumlah kegiatan bimbingan


(constelillation) dalam rangka melayani kebutuhan siswa di jenjangn pendiidikan
dasar menengah. Dengan demikian , seharusnya semua tenaga kependidikan di
sekolah berpatisipasi dalam pelayanan bimbingan.

4
8. Chris D. Kehas, dkk

Model bimbingan ini dituntut mendukung atau meningkatkan efektifitas


bellajar. Fakta tersebut mendorong munculnya mengembangkan konsep bahwa
pendidikan bukan hanya untuk pengembangan intelektual saja. Model bimbingan
ini tidak menakankan bentuuk bimbingan tertentu.

9. Julius Menacher (1976)

Tokoh ini megembangkan paham Activist Guidance, yaitu bimbingan harus


menanggulangi permasalahan dengan mengadakan perubahan pada lingkungan
hidup. Fokus pelayanan BK adalah mengadakan perubahan pada lingkungan hidup
siswa, memanipulasi lingkungan agar kondusif untuk perkembangan siswa.

B. Pola Dasar Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling

Pola dasar dalam hal ini berarti asas pokok yang bersifat praktis, langsung
berkaitan dengan penyusunan program bimbingan. Pola dasar pelaksanaan
bimbingan mengatur beberapa hal. Pertama, penyebaran pelayanan bimbingan di
sekolah tanggung jawab pelayanan Bimbingan di sekolah (Pada siapa saja). Kedua,
apa focus kegiatan apa saja yang dilakukan dalam memberikan pelayanan
bimbingan. Ketiga, oleh siapa (pelaksanaan) dan kepada siapa (penerimaan
layanan) bimbingan dan konseling diberikan. Dengan kata lain pola dasar
pelayanan bimbingan adalah wujud konkret, praktis, aplikasi dari model-model
bimbingan.

1. Pola Pendidikan Generalis

Menurut pola ini pelayanan BK tersebar secara luas dan melibatkan banyak
tenaga ahli BK (guru mata pelajaran, wali kelas, guru kelas). Pola generalis
memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah pendidikan menjadi
lebih utuh sebab melibatkan semua tenaga kependidikan yang potensial dapat
bekerja secara sinergis. Kekurangannya adalah profesionalitas pelayanan BK

5
berkurang sebab para praktisi BK di sekolah bukan orang yang memiliki
kompetensi professional dalam bidang BK secara sungguh-sungguh.

Usaha mengatasi kelemahan tersebut yaitu pertamana, supervisi bagi


praktisi BK yang bukan orang berlatar belakang ilmu Bimbingan dan Konseling.
Supervising dilakuakan oleh staf ahli BK. Kedua, meningkatkan kapasitas praktis
BK (semua tenaga kependidikan) dengan konsultasi, penerapan, seminar, dll.

2. Pola Spesialis

Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dengan pola spesialis


ditangani oleh tenaga ahli bimbingan dengan kemampuan khusus. Pola ini
membawa implikasi praktis berupa unit-unit pelayanan BK yang ditangani secara
khusus oleh tenaga ahli (seperti Unit Testing, Unit Konseling, Unit Bimbingan
Karir, dsb). MAsing-masing unit ditangani oleh tenaga ahli seperti psikologi,
psikiater, pekerja social, dokter dan perawat sekolah, dll.

Pelayanan Bimbingan dan Konseling individual lebih diutBK kelomopok.


Pola spesialis memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungan pola dasar spesialis
antara lain pertama, kualitas pelayanan BK menjadi semakin tinggi sebab
dilaksanakan oleh orang yang memiliki spesialisasi sehingga muncul kepercayaan
public (Public trust). Kedua, pola spesialis dapat berdampak pada muncuknya
penghargaan masyarakat terhadap profesi konselor. Segi negatif pola ini adalah ada
kecendrungan sentrifugal, yaitu semua tenaga ahli berkerja sendiri-sendiri, parsial,
dan terpisah.

3. Pola Kurikuler.

Menurut pola kulikuler kegiatan bimbingan di institusi pendidikan harus


dimasukkan kurikulum dalam bentuk pelajaran khusus, semacam kursus
bimbingan, yang terbentuk seperti mata pelajaran. Terdapat materi-materi, buku-
buku paket dan ada ujian pelayanan konseling, dan tesing. Tenaga pelaksana
bimbingan adalah guru pembimbing/konselor sekolah. Koordinator bimbingan
tidak dibutuhkan sebab program bimbingan dan materi khusus sudah ditentukan.

6
Pola kulikular memiliki positf dan negatif. Segi positif nya yaitu hubungan antara
konselor dan staf mengajar menjadi dekat, segi negatif yaitu hasil pengajaran tidak
dapat diukur dan evaluasi untuk BK cenderung dapat mereduksi hasil pelayanan
BK menjadi hanya sekedar kemapuan kognitif belaka.

4. Pola Relasi-relasi Manusia

Menurut pola relasi-relasi manusia, BK berkerja dengan menciptakan relasi


antar-manusia sebab manusia diyakini akan hidup bahagia dan mentalnya menjadi
sehat dengan relasi antar pribadi. Bentuk konkret pelayanan ini adalah membentuk
kelompok-kelompok perkembangan untuk belajar, memahami diri, berpikir-
pemahaman diri, merasa-bersikap-berperilaku dewasa, berpikir-merasa-bersikap
dewasa, lika-liku pergaulan, dll. Personal pelaksanaan BK menurut pola ini adalah
Guru BK dan guru matapelajaran mereka menjadi promotor dan pendamping
kelompok-kelompok bimbingan.

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Model bimbingan berubah-ubah mengikuti perkembangan teori yang sudah


ada. Adapun setiap teori bersifat klasik yang bisa diterima secara luas dan dapat
diyakini kebenarannya.

Pola-pola BK juga bermacam-macam, Pola dasar dalam hal ini berarti asas
pokok yang bersifat praktis, langsung berkaitan dengan penyusunan program
bimbingan. Pola dasar pelaksanaan bimbingan mengatur beberapa hal.

8
DAFTAR PUSTAKA

Nawawi, Hadari. (1983). Administrasi dan Organisasi Bimbingan dan


Penyuluhan. Jakarta : Galia-Indonesia. (HN)

Winkel,W.S dan M.M.Sri Hastuti (2004) Bimbingan dan Konseling di Institusi


Pendidikan. Yogyakarta : Media Abadi. (WSW)